Jump to ratings and reviews
Rate this book

Left Unsaid

Rate this book
SATU SEKOLAH BODOH SEMUA!

Namanya itu Bening, bukan Butek! Bercak merah besar di muka kanannya itu port-wine stain birthmark, alias tanda lahir . Bukan koreng, panu, atau kurap. Dia bukan wabah menjijikkan yang harus dijauhi!

Bening juga nggak kalah bodoh. Gelarnya doang langganan juara olimpiade sains. Hobi nyumbang piala buat sekolah. Sumber sontekan satu kelas. Masih mau-maunya dia noleh setiap dipanggil Butek! Aku kira karena badannya mini, makanya dia nggak berani melawan, tapi pas aku mau hajar anak-anak bodoh itu, dia menghentikanku. Sepanjang jalan pulang, dia marah-marah atas tindakanku yang menurutnya nggak berfaedah dan sok heroik.

Lah, kenapa jadi aku yang salah?!

272 pages, Paperback

Published January 1, 2024

2 people are currently reading
22 people want to read

About the author

Hanifa Vidya

2 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (26%)
4 stars
5 (26%)
3 stars
5 (26%)
2 stars
3 (15%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books463 followers
December 18, 2024
Bening Embun adalah seorang remaja yang terlahir dengan birthmark di wajahnya bagian kanan. Tanda lahirnya cukup besar sehingga Bening sering diejek oleh teman-temannya. Bahkan namanya diganti dengan "Butek". Lalu Bening ketemu Fikar, si playboy yang pake motor besar dengan stiker boboiboy dan hobinya pacaran seminggu putus. Kepada cowok yang selalu marah-marah ke orang yang memanggil " Butek" ini Bening mengalami perasaan yant rumit.

Actual rating 2,5.

Sebelumnya, aku mohon maaf ke kakak penulis 🙏

Setelah buku pertamanya yaitu Mereka Bilang Aku Kemlinthi, aku merasa penulis punya gaya penceritaan yang kuat dan nyaman dibaca. Ngalir gitu, nggak menimbulkan ganjalan-ganjalan selama baca. Buku ini juga sama. Narasinya renyah dan enak dibaca. Aku juga suka penggambaran interaksi Bening dengan keluarganya, dan aku cukup ngakak bagian Fikar ngapel bawa bawang merah. Yang bikin aku kurang menikmati adalah, alur dan juga karakternya.

Aku nggak masalah dengan Bening (walaupun dia ini aneh dan plinplan tapi kuanggap itu karena dia masih remaja). Tapi aku bermasalah dengan Fikar. Aku nggak bisa menerima guyonan Fikar yang menjurus ke mesum itu. Tidak, itu bukan bercandaan yang bisa dilakukan ke lawan jenis (sama jenis juga nggak bisa sih). Ini ada beberapa kali ya Fikar bercanda mesum begini, mulai dari ngajak bobo bareng, minta dibukain celana karena mau pipis, ngajak bikin anak. Serius, bukan ketawa, aku malah agak jijik bacanya 😭 Kenapa aku nggak bisa memaklumi ini sebagai bagian dari dunia remaja? Maaf, enggak bisa. Kurasa dari bercandaan-bercandaan semacam inilah pelecehan seksual terjadi, yang ketika korbannya protes, akan dibilang baper. Yang lebih aneh lagi, Fikar punya kakak yang baru saja mengalami pelecehan seksual tingkat berat sundul langit. Kok bisa dia bercanda kayak gitu ke temen ceweknya? 😰😰

Pokoknya karakter Fikar ini nggak bisa kuterima, dan itulah alasan terbesar kenapa ratingku hanya 2,5 (maaf lagi ya Kak 🙏)

Kedua, alurnya terasa membosankan karena kalo ditarik garis besar, konfliknya itu nggak bergerak. Mbulet di situ-situ aja, soal Bening yang salah paham, lalu Fikar salah paham, Bening salah paham lagi, gitu terus sampai halaman akhir. Aku sampai gemes karena, masa sih ada dua orang yang sama-sama sepolos itu? Dua orang lho ini. Awalnya Bening yang digambarkan polos banget sehingga digombali pun nggak mudeng. Tapi ke sana-sana Fikar juga jadi polos, dan itu bikin aku ngerasa "Lah? 🙄"

Ada satu hal yang sangat kusayangkan di sini yaitu gambaran perjalanan Bening menerima kondisinya dengan tanda lahir di wajah itu nggak ada. Ada sih, tapi cuma dikit dan telling gitu doang. Di sini tuh kayak si Bening itu udah terima-terima aja. Dipanggil "Butek" ya udah gapapa. Padahal ini menurutku adalah salah satu poin yang sangat potensial untuk dibahas di sini. Maksudku, remaja mungkin adalah fase di mana kondisi fisik sangat berpengaruh dalam keseharian. Dan tanda lahir besar di wajah rasanya bukan hal yang mudah diterima, terutama oleh remaja. Cewek pula.

Aku senang karena Bening terlihat bisa menerima itu dan mencintai dirinya sendiri di sini, tapi aku lebih ingin melihat perjalanan Bening bisa sampai di tahap ini, daripada cuma lihat kegalauan Bening soal perasaannya yang digantungin sama Fikar.

Overall, aku tetap menunggu tulisan-tulisan lain dari Kak Haniva Vidya, meski buku ini bukan untukku. Dan kalo kamu nggak punya concern khusus yang sama sepertiku, serta menyukai trope romance friendzone yang gemes-gemes geregetan, mungkin akan menyukai kisah Bening dan Fikar ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,468 reviews73 followers
July 14, 2025
Ini pertama kalinya aku baca novel yang tokohnya punya port-wine stain birthmark di wajahnya. Keunikan fisik tokohnya itu sudah tergambar jelas di kover bukunya. Ada noda merah besar di wajah tokohnya, kan? Ya, itulah port-wine stain birthmark, tanda lahir kemerahan yang bentuknya seperti bekas tumpahan wine di kulit. Bisa terdapat di bagian tubuh mana pun, tapi paling banyak di wajah; di sekitar mata, hidung, dan pipi; juga leher. Penyebab utamanya adalah pembuluh darah abnormal di area tersebut. Biasanya pembuluh darah kapiler atau pembuluh darah kecil ini ukurannya sempit. Namun, pada orang-orang yang memiliki port-wine stain, pembuluh darah kapiler itu terlalu melebar sehingga darah dapat terkumpul di dalamnya. Kumpulan darah ini yang memberi kesan warna khas. Warnanya bisa merah muda atau merah, tapi seiring waktu bisa menggelap menjadi ungu atau cokelat. Hal ini tidak bisa dicegah karena tidak disebabkan oleh apa yang dilakukan ibu di masa kehamilannya.

Bening Embun, sang tokoh utama, sudah diperiksakan ke dokter kulit. Sang dokter mengatakan bahwa kelainannya tidak berbahaya. Tanda lahir ini sebenarnya bisa dikurangi atau dihilangkan dengan bedah laser. Namun, biayanya tentu saja sangat mahal, dan karena alasannya adalah estetik, bukan medis, biayanya tidak dikover asuransi. Dalam beberapa kasus, ada juga laser treatment yang sama sekali tidak membawa hasil, seperti yang dialami oleh Celina Leroy. Dalam kasus Celine, perawatan yang diterimanya malah membuat bibir bawahnya jadi membengkak, lebih besar dari bibir atas. Dia memiliki port-wine stain di area bawah bibir hingga dagunya. Akhirnya malah dia harus menjalani bedah plastik untuk memperbaiki kondisi bibirnya.

Membaca kisah Bening Embun ini mengingatkanku pada kanal Born Different di Facebook. Kanal itu banyak mengunggah video tentang orang-orang yang kondisi fisiknya sangat berbeda dari standar fisik "normal" pada umumnya. Banyak di antara mereka yang memiliki tumor atau anggota badan yang terdistorsi. Sejujurnya tak banyak video dari kanal itu yang sanggup kutonton. Kebanyakan biasanya langsung kulewati saat menggulir linimasa, saking nggak teganya aku melihat kondisi tubuh orang-orang itu. Bersikap biasa dan sewajarnya dalam menghadapi perbedaan itu rupanya tidak mudah. Kanal itu bisa diakses di sini:

https://www.facebook.com/BornDifferen...

Aku membaca di situs web Majalah Glamour di Inggris bahwa seiring dengan makin maraknya narasi body positivity, orang-orang yang memiliki tanda lahir jenis ini mulai banyak memosting foto dan kisah dirinya ke publik lewat Instagram. Di situs kecantikan Allure, ada kisah tentang Sarah Taylor yang jadi viral karena mempromosikan narasi body positivity di sosmed. Sarah masih menjadi mahasiswi Jurusan Sains di Universitas New York saat profilnya dimuat oleh Allure. Dan jujur saja dia memang sudah terlihat cantik dari sananya (mungkin juga semakin cantik karena sentuhan make up, pencahayaan, dan editing foto), sehingga tanda lahir merah itu tak terlihat menodai kecantikannya sama sekali. Foto-fotonya bisa dilihat di sini.

https://www.allure.com/story/woman-ra...

Namun, jika meng-googling tentang tanda lahir ini, kita akan disuguhi gambar berbagai kondisi yang memperlihatkan wajah beberapa pemiliknya menjadi terdistorsi karena pembengkakan. Ada juga yang tanda lahirnya memenuhi hampir seluruh wajahnya, atau berwarna sangat gelap.

Beberapa fotonya bisa dilihat di liputan Majalah Glamour di sini: https://www.glamourmagazine.co.uk/art...

Jelas tak mudah memiliki kondisi seperti itu, apalagi jika di wajah. Pemilik port-wine stain rentan dirundung. Dalam cerita ini, Bening sendiri digambarkan cantik, mungkin seperti Sarah Taylor. Hal ini bisa diketahui karena ada bagian dalam cerita ketika dia di-make over oleh teman-temannya untuk pesta prom yang menutupi tanda lahirnya memakai teknik riasan tertentu. Efeknya? Semua teman sekolahnya terpesona padanya. Bahkan mereka yang tadinya suka merundungnya.

Seperti lazimnya orang-orang dengan crab mentality, banyak orang di sekolah Bening yang hanya fokus pada kekurangan Bening saja meskipun gadis itu sebenarnya cantik. Dengan tega mereka memanggilnya sebagai "Butek", tetapi dengan tak tahu malunya mereka juga menjadikan Bening sebagai sumber sontekan untuk PR. Ya, Bening adalah salah satu siswa tercerdas di sekolahnya. Dia langganan juara Olimpiade Sains. Kelebihannya itu dimanfaatkan dengan semena-mena oleh teman-temannya yang tidak tahu diri. Yang bikin geregetan, Bening pasrah saja diperlakukan demikian. Dia sudah terbiasa dipanggil "Butek" sejak SD. Beberapa teman SD-nya itu menjadi teman SMA-nya. Bening biasa menutupi tanda lahirnya dengan anak rambut.

Hanya sedikit teman Bening yang masih mau memanggilnya dengan nama asli. Yang pertama Adam, cowok yang naksir dia. Satunya lagi Syafikar atau Fikar, si playboy sekolah yang sering memaksa minta bimbingan belajar padanya.

Di awal novel, Fikar sudah mencetus drama dengan memutuskan pacarnya, Cika, di depan semua orang di kantin. Cika ini sendiri lumayan dekat dengan Bening. Rupanya penyebabnya sepele. Fikar tak suka Cika memanggil Bening dengan sebutan "Butek" di kantin. Fikar yang jagoan klub karate ini memang sudah terkenal sebagai playboy yang suka mutusin cewek kira-kira seminggu setelah pacaran. Alasan yang dia kemukakan di depan publik biasanya bosan. Namun, sebenarnya dia selalu punya alasan yang masuk akal. Misalnya karena pacarnya terlalu posesif, ngambek hanya karena chat-nya tidak dibalas saat Fikar sedang latihan di dojo. Atau ya seperti tadi, karena memanggil Bening dengan sebutan "Butek". Sayangnya, Fikar terlalu malas untuk menjelaskan hal itu atau bicara baik-baik dengan para mantannya. Alasannya, dia males berurusan dengan hal yang ribet. Menyebalkan. Karena ketampanannya, meskipun korbannya sudah sebanyak itu, para cewek masih saja ingin jadi pacarnya. Barangkali mereka terkena sindrom heroine dan I can fix him, dan berharap diri mereka menjadi satu-satunya gadis yang bisa mengakhiri petualangan si playboy. Halah.

Setelah memutuskan Cika, bisa-bisanya Fikar kemudian ngalem alias bermanja-manja dengan Bening. Biasanya mereka bertemu di hutan belakang sekolah. Aslinya Bening yang pertama kali menemukan tempat itu dan menjadikannya tempat untuk menyendiri. Bening bahkan menyimpan alas terpal agar dia bisa bebas rebahan di sana. Namun, Fikar kemudian ikut nimbrung ke sana entah untuk memaksa Bening mengajarinya pelajaran sekolah atau mengganggunya dengan meminta bekal. Pokoknya di depan Bening, Fikar yang gagah perkasa itu berubah jadi anak kecil kolokan, deh. Astaga.

"Ning, laper... mau makan...."

Kutelan kunyahan sebelum berkata, "Beli di kantin."

"Kan tadi baru putus." Ketika kulirik, bibirnya mengerucut. "Pasti masih rame. Biasa, Ning. Orang famous."

Kepercayaan diri Fikar memang di atas rata-rata.

"Siapa suruh putus di kantin?"

"Yah... bosennya pas di kantin tadi. Gimana, dong?"

"Bosen?" Aku menoleh cepat, menyipitkan mata. "Paling nggak, kamu pikirkan perasaan Cika sebagai perempuan yang diputusin di depan umum."

"Kenapa aku harus mikirin perasaannya? Dia sendiri nggak memikirkan perasaanmu sebagai perempuan."

(...)

"Karena Cika manggil aku 'Butek' di kantin tadi?" tembakku.

(halaman 4-5)


Bening sebenarnya ingin sekali bisa menjalani operasi laser dengan uangnya sendiri kelak. Dia menyimpan mimpi menjadi dokter. Tak tega dia membebani ibu dan bapak angkatnya yang sudah memilih untuk mengadopsinya dari panti asuhan. Ya, sejak kecil Bening tinggal di panti asuhan tanpa tahu siapa ayah dan ibu aslinya. Namun, mengetahui hal itu tidak mengubah rasa cinta Bening pada kedua orangtua angkatnya. Baginya, keduanya adalah orangtuanya yang asli.

*

Tak lama setelah kejadian Fikar memutuskan Cika di kantin, terjadi insiden lain. Kakak Fikar yang kuliah di Malang, Melati, dikabarkan diperkosa oleh lima lelaki. Berita itu viral di internet. Seorang teman sekolah mereka yang bernama Aldo mengungkit soal kejadian itu di depan Fikar. Aldo bertengkar dengan Fikar karena dia membela Cika. Karena Aldo mengata-ngatai Kak Melati dan mengatakan bahwa apa yang terjadi padanya adalah karma bagi Fikar yang seorang playboy, Fikar marah besar dan nyaris meremukkan anak itu. Untung saja Bening mencegahnya. Fikar benar-benar hancur akibat insiden yang menimpa kakaknya. Beninglah yang terus menemani Fikar melewati masa-masa itu.

Karena kedekatan Fikar dengan Bening, anak lelaki yang menyukai Bening yang bernama Adam, mengira Bening menyukai Fikar. Bening mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai cowok berisik dan kolokan macam Fikar yang suka menyakiti hati para perempuan. Lucunya, dia sendiri tidak ngeh dengan perasaan Adam. Bening digambarkan begitu polos sampai-sampai dia tidak bisa memahami kode-kode dari Adam dan yang sebenarnya tidak serumit itu. Misalnya saat Adam bilang dia ingin main ke rumah Bening untuk mengobrol tentang masa depan, Bening mengira Adam ingin mendiskusikan time travel. Tidak hanya terhadap Adam, kepolosannya saat menghadapi Fikar pun bikin geregetan. Fikar pernah berkata bahwa perhatian Bening terhadapnya membuatnya wafer (baper). Bening malah mengira Fikar minta dibelikan wafer beneran. Pokoknya polosnya Bening itu otherworldly banget, deh. Rasanya susah untuk percaya bahwa anak SMA perkotaan masa kini seperti dia bisa sepolos itu. Apa dia ini tidak pernah baca komik dan novel romansa remaja atau nonton film roman ya? Sampai nggak ngeh dengan gombalan receh semacam itu? Beneran belajar thok? Sungguh, kalau memang yang sepolos Bening ini ada, aku mau ketemu satu untuk membuktikannya.

Konflik novel ini diwarnai dengan Fikar yang kesulitan untuk benar-benar mengungkapkan perasaannya secara jelas pada Bening (karena Beningnya juga polosnya sudah stadium akhir) dan Bening yang terus menyangkal bahwa dirinya sebenarnya mulai menyukai Fikar. Sebenarnya interaksi mereka sangat lucu dan menyenangkan untuk dibaca. Hanifa Vidya, penulis buku ini, benar-benar lihai memainkan dinamika cerita. Sayangnya, interaksi Fikar dengan Bening begitu sering diwarnai dengan pelecehan seksual secara verbal. Dan dalam menghadapi pelecehan itu, Bening digambarkan begitu polos (atau bodoh?).

Misalnya, simak contoh-contoh dialog berikut ini:

Fikar mengirim pesan WhatsApp pada Bening.

Fikar: "Aku mau ke suatu tempat. Aku butuh kamu."

Bening: "Ke mana? Ngapain?"

Fikar: "Ke hotel, check in yuk?"

Bening: "Buat apa ke hotel yang masih sekota sama rumah? Mubazir."

Fikar: "Bobo. Aku bayarin."

Bening: "Jangan boros. Fikar. Ditabung. Katanya mau laptop Alienware terbaru? Udah tidur di rumah aja."

Fikar: "Beniiing :( Nggak seru ah. Ngamuk kek, marah kek. Sedih aku, kamu terlalu polos :("

Bening: "Kalau aku marah, nanti kamu tambah sedih."

Fikar: "..... Ning, tanggung jawab. Aku wafer lho."

Bening: "Wafer rasa apa? Tapi ntar ganti, ya, uang jajanku habis."

(halaman 24-25)


Can you believe it?! Parah gak tuh pelecehan seksualnya? Lebih parahnya lagi, pesan itu dikirim Fikar setelah Bening selesai menemaninya menangis di rumah akibat mengetahui kakaknya baru diperkosa. Bisa-bisanya dia melecehkan perempuan lain setelah tahu kakaknya sendiri baru mengalami insiden separah itu.

Contoh lagi:

Fikar memperlihatkan foto keponakannya yang lucu di ponselnya. Anak dari Kak Melati. Bening menjerit senang karena gemas.

"Fik, aku mau punya anak kayak gini!"

Fikar merampas ponselnya dari tanganku, menyeringai, menampakkan taringnya. "Ayo. Mau bikin di mana, Ning? Kita sewa cottage gimana?"


Tanggapan Bening?

"Sama suamiku, bukan kamu." Kucubit malas lengannya. "Nanti, bukan sekarang."

(halaman 30-31)


Kalau ada teman lelaki mengatakan itu padaku, pasti dia bakal kutampar, tidak cuma kucubit. Lalu jelas aku akan mencoretnya dari daftar pertemanan.

Contoh lagi.

"Ning," bisiknya merapat begitu dekat di telingaku. "Aku gemes sama kamu."

Aku memicing sebal. "Terus?!"

"Cium dikit boleh?"

Otomatis kutabok pipinya. "Makan tuh cium!"

(halaman 94-95)


Lalu bagiku, ini yang paling keterlaluan. Jadi Bening ceritanya marah besar karena Fikar membocorkan berita diterimanya Bening di Fakultas Kedokteran, kampus yang sama dengan Fikar. Bening merahasiakan ini dari ibunya karena dia mau batal masuk FK. Alasannya? Bikin hati remuk. Setelah ayah angkat Bening meninggal karena gagal ginjal, Bening jadi tidak tega meninggalkan ibu angkatnya seorang diri. Dia akhirnya memilih untuk mengambil beasiswa penuh yang ditawarkan padanya saat menang Olimpiade di kelas 2. Beasiswa itu berasal dari Jurusan Pendidikan Keguruan di universitas di kota itu. Fikar yang tak rela Bening mengorbankan impiannya dan tak jadi sekampus dengannya, membocorkan hal itu pada ibu Bening meski sudah dilarang sebelumnya. Bening marah besar. Fikar kemudian berusaha membujuknya untuk berbaikan.

Biasanya Bening berangkat dan pulang sekolah dibonceng Fikar dengan motor besar berstiker Boboboinya. Karena lagi marah, tentu dia tak lagi mau dibonceng. Fikar malah membantu Bening menyetop angkot, kemudian mengikutinya dengan motor. Ketika angkot itu mengetem, Fikar ikut berhenti di samping angkot sampai jadi bahan guyonan si sopir angkot dan para penumpang. Sesungguhnya adegan ini begitu lucu dan menyenangkan. Namun, sayang atmosfer fun ini dirusak oleh guyonan pelecehan seksual Fikar.

Sudah berapa lama pedekatenya, Dek?!"

Aku menepuk dahi. Kenapa pula Pak Sopir bertanya begitu kepada Fikar.

"Dari dulu, tapi dia nggak peka, Pak! Bayangin gimana sakitnya saya selama ini!"

"Dari dulunya itu kapan?"

"Dari pertama kenal, Pak. Hampir setahun! Coba dari awal saya hamilin, sekarang sudah lahir bayi seumur sebulan!"

(halaman 130)


When I read this, I was like WTF?! Mungkin penulis menambahkan elemen ini untuk memperkuat karakter Fikar sebagai playboy selengekan. Namun, apa yang namanya playboy itu guyonannya harus menjurus pada pelecehan seksual? Sayang sekali hal seperti ini malah dinormalisasi menjadi sekadar bahan candaan, apalagi korbannya tidak melawan dengan tegas. Sungguh ironis, mengingat isu pemerkosaan yang juga dimasukkan ke dalam novel ini. Kulihat beberapa reviewer di Goodreads juga mengurangi bintang novel ini begitu drastis akibat konten guyonan pelecehan seksualnya, meskipun mereka menyukai keluwesan teknik menulis penulis. Jadi, bukan aku saja yang merasa bagian ini tidak beres.

Sesungguhnya, membaca usaha Fikar yang aneh-aneh dalam mendekati dan menggombali Bening mengingatkanku pada tokoh Dilan dari karya Pidi Baiq yang fenomenal itu. Malah mungkin Fikar lebih gila lagi. Bayangkan, ketika anggur yang biasa dibelinya untuk ibu Bening habis di toko langganannya, dia malah membeli bawang merah sekilo dengan alasan bentuknya sama-sama bulat dan berwarna merah. Lalu di lain hari, dia nitip dibelikan bawang goreng pada ibunya untuk diberikan pada ibu Bening. Alasannya, dia nggak tega ibu Bening mengupas semua bawang merah itu dan menggorengnya secara manual. Jadi lebih baik langsung dibelikan bawang goreng yang sudah jadi saja. Luar biasa. Idenya benar-benar seperti berasal dari dunia lain. Kreatif sekali, kan? Makanya, sungguh sayang jika semua hal unik yang menyenangkan itu dinodai oleh guyonan berbau pelecehen seksual itu. Ah....

*

Konflik antara Bening dan Fikar juga dipicu dengan adanya Adam sebagai pihak ketiga yang lebih tegas mengutarakan perasaannya pada Bening. Awalnya Bening tersanjung, tak menyangka bahwa ada lelaki yang bisa menyukai perempuan dengan tanda lahir seperti noda di wajahnya. Polosnya, dia malah konsultasi pada Fikar. Astaga. Jelas Fikar bete luar biasa. Simak adegan kocak ini.

"Oke. Coba aku dengerin, apa pendapatmu tentang Adam?"

"Adam itu...," bola mataku berputar naik, "baik."

"Aku juga baik."

Aku mencelus.

"Adam itu...," makin mengingat sosok Adam, detak jantungku mengalami kenaikan. Begitu juga kedua sudut bibirku yang mengangkat senyum. "Ganteng."

"Aku jauh lebih ganteng."

Istighfar, Bening, istighfar.

Aku nggak tahan untuk nggak berbalik. "Karepmu, Fik. Karepmu!"

"Lah, faktanya, Ning. Mantanku lebih banyak dari buku kakinya Adam."

(halaman 50)


HAHAHAHAHA! Luar biasa. Astaga. Ya begitulah, Butuh waktu lama bagi Bening sebelum menyadari bahwa dia menyukai Fikar dan menyadari bahwa Fikar benar-benar suka padanya. Proses tarik-ulurnya begitu alot. Keduanya sering salah paham. Bening tak yakin Fikar menyukainya. Dan itu wajar saja karena track record Fikar dalam mematahkan hati perempuan memang tidak main-main.

Sejujurnya aku lebih setuju dia sama Adam yang lebih normal. Sayang sekali, dalam cerita semacam ini, cowok baik-baik biasanya memang malah kalah dari cowok playboy seperti Fikar. Masalahnya adalah kedekatan emosi. Momen Bening yang berkesan bersama Fikar lebih banyak daripada dengan Adam. Cinta memang tak pakai logika. Sungguh kata benda yang sangat berbahaya.

Segala sesuatu memang bisa dipoles begitu indah dalam fiksi, bahkan soal jatuh cinta pada playboy dan dijatuhcintai oleh playboy. Ah... pengarang dengan segala keinginan polosnya untuk menciptakan ending yang bahagia bagi para tokohnya. Sayang realitanya manusia tidak sepolos tokoh fiksi. Realitanya, manusia itu banyak yang brengsek. Apakah orang seperti Fikar bisa tobat? Bisa saja. Tapi biasanya prosesnya sangat panjang dan menyakitkan. Orang semacam dia untuk bisa sadar biasanya harus kehilangan banyak hal yang pernah dia banggakan dulu. Makanya aku tidak percaya kalau dalam dunia nyata kisah seperti Bening dan Fikar ini bakal berakhir manis semudah itu. Para pembaca seharusnya diedukasi untuk menghindari orang-orang seperti Fikar.

Namun, ya karena ini cerita fiksi, Fikar pada akhirnya berubah menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab terhadap masa depannya. Dia menepati kata-katanya bahwa yang ia inginkan dari Bening bukan hanya sekadar jadi pacar. Dan dalam linimasa cerita ini, memang butuh waktu yang tak sebentar bagi Fikar untuk membuktikan kata-katanya. Setidaknya untuk bagian ini penulis bisa menceritakannya dengan lumayan baik.

Meskipun dalam review ini aku banyak mengkritik penulis, aku mengakui bahwa teknik penulisannya sudah begitu prima. Aku akan membaca karyanya yang lain yang menjadi pemenang The Writer's Show di Gramedia Writing Project tahun 2021: Mereka Bilang Aku Kemlinthi. Novel yang itu bercerita tentang seorang gadis miskin dari kampung yang ingin kuliah. Sepertinya isinya lebih empowering.

Aku benci ribet, tapi sialan hidup itu ribet, dan hidup bukan pacar yang bisa diputuskan begitu saja.

(Fikar, Epilog halaman 258)
Profile Image for nasya.
845 reviews
June 24, 2024
Kurang suka sama buku ini, jokes-jokesnya nggak masuk di aku, jadi bacanya berasa garing aja gitu. Terus dialog-dialognya juga menurutku muter-muter, dan kalau ada adegan Bening sama Fikar yang mengarah ke romance nggak tau kenapa narasinya jadi puitis, padahal sebelum-sebelumnya narasinya biasa aja, bukan yang puitis-puitis banget. Tapi pas moment romance ini bener-bener berubah banget, jadi ya jujur agak aneh pas bacanya. Apalagi kan Fikar digambarkan tokoh yang selengekan, ketika ada adegan chat WA (di halaman 125) aku agak merinding, karena itu beda aja dengan penggambaran Fikar. Terus ada juga adegan dimana Bening sama Fikar berantem, kemudian Bening naik angkot dan diikuti sama Fikar, terus Fikar bercandaan sama sopirnya, terus tiba-tiba sopirnya cerita tentang keluarganya dan tiba-tiba si Bening merenung, adegan ini menurutku sedikit aneh.

Bingung juga pas di awal-awal cerita disuguhin kasusnya Melati, kasus besar ditaroh di awal cerita, jadi kayak bingung nih tujuan si bukunya mau kemana. Kemudian, nyambung ke kasus ini, karena Melati diceritain jadi korban pemerkosaan massal, agak aneh pas baca adegan dimana Fikar bercanda ke Bening tapi mengarah ke seks, kayak aneh, kakak lu kan korban pemerkosaan, tapi lu kok bisa bercanda kayak gitu ke cewek lain (adegan chat WA ketika Fikar ngajak Bening ke hotel dan waktu Fikar nunjukin foto Bumi, kemudian si Melati bilang mau punya anak kayak Bumi). Dan menurutku kasusnya Melati ini parah banget, jadi setiap dia muncul, dan nggak ada tanda-tanda traumatis tuh agak heran, ya paham sih ini bukan ceritanya Melati, karena itu, toh kasus Melati ini juga enggak ngaruh besar ke cerita, jadi nggak perlu dikasih kasus yang besar (atau mungkin ini diceritain di buku lain aku kurang tau).

Kemudian ada di halaman 114, dimana Bening nolak Adam. Itu aku bingung banget karena nggak ada dialognya, tapi tiba-tiba udah ada kesimpulan: Aku menolaknya. Walaupun memang dijelaskan dalam bentuk narasi, tapi adegan penolakan ini aku merasa baiknya emang langsung digambarkan melalui dialog, bukan dengan narasi, apalagi sebelumnya Bening bilang ke Adam, "Bisa aku ngomong sebentar?" Tapi justru kemudian dialog utamanya nggak dijelaskan.

Satu lagi, penting nggak penting sih ini sebetulnya, di setiap pergantian latar, penulis selalu menandai dengan huruf kapital, tapi itu juga aku perhatikan kadang nggak konsisten, kadang cuma satu kata aja, kadang beberapa kata bahkan hampir satu kalimat, dan ngebaca kalimat dengan huruf kapital semua tu menurutku feel-nya jadi kayak yang aku teriak-teriak, padahal enggak. Mungkin kalau mau pergantian latar bisa satu kata di depan aja yang semuanya huruf kapital, atau tanda lainnya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Farajour.
15 reviews1 follower
March 3, 2024
"Some things are better left unsaid"
(Gramedig)
Profile Image for Rayen_Grey.
17 reviews
January 15, 2026
"Aku mau ke suatu tempat. Aku butuh kamu."

"Ke mana? Ngapain?"

"Ke hotel, check in. Yuk?"

Ini beneran cerita buat anak remaja, kan??

Tutup buku. Dan berencana bakal balikin buku ini ke perpus sekolahku. Aku berhenti baca sampai halaman 32 aja. Gak kuat lagi baca ini.

Aku memang gak baca label belakang bukunya yang ternyata bertuliskan "Romance Novels". Karena dibikin kaget sama blurb dan prolognya yang bertuliskan "SATU SEKOLAH BODOH SEMUA!" dan "SATU SEKOLAH GOBLOK SEMUA!". Aku langsung terpikirkan cerita anak sekolah yang seru dan menantang sebagaimana kalimat pembuka pada buku ini, terutama, aku menulis novel yang juga berbeda dari sebagaimana novel anak-anak sekolah, sepertinya aku bisa menemukan inspirasi dari novel ini.

Yang ternyata di 30 halaman pertama saja aku udah gak kuat baca. Karakternya—maaf banget—gak bisa aku sukai. Bening dan Fikar ini, aduh. Bener2 aku heran deh mereka ini bisa temenan gimana ya?

Selain masalah jokes yg mengarah ke pelecehan seksual (yg aku tulis di awal), terutama dilakuin oleh ANAK SEKOLAH. Aku ngerasa janggal karena gak adanya awalan cerita atau penjelasan kenapa Bening ini mau temenan sama Fikar, apalagi sampai bantu dia. Aku tau Fikar ini orang yang berbeda bagi Bening karena gak manggil Bening itu dengan panggilan butek sebagaimana anak-anak di sekolah memanggilnya. Tapi, itu gak cukup sebagai sebuah alasan, terutama Fikar ini playboy parah. Oke, aku tau Fikar ini sebelumnya belajar bareng sama si Bening. Tapi itu sama sekali gak ada diceritain?? Gak ada gitu SATU CERITA YANG SINGKAATTT AJA, yg bikin aku paham kenapa Bening ini biarin Fikar bareng ama dia terus yg padahal Fikar ini sikapnya nyebelin betul. Ya misal mereka dulu temen masa kecil. Nah, gitu aja aku dah paham, kok. Sampai saat ini aku bingung deh.

Lalu ceritanya tiba-tiba langsung menuju konflik, yakni dari kakaknya Fikar. Tanpa aku benar-benar mengerti dengan karakter utamanya. (Mungkin menghindari perkenalan yg terlalu panjang sehingga lgsg konflik saja?). Lagi-lagi ini yang bikin aku gak nyaman baca

Untungnya ada sisi bagus di buku ini yg bikin aku kasih bintang 3. Yakni penulisannya. Bener-bener ngalir dan sebagai calon penulis, aku iri banget deh. POV Bening enjoyable buat dibaca walaupun aku gak suka sama karakter dia yang polos banget pas dibecandain sama Fikar.

Yah, segitu aja. Ini pertama kalinya aku DNF pada buku yg penulisannya bagus begini. Maaf sekali. Tapi dari dua hal aja aku udah gak enjoy, yaitu cerita dan karakternya.
Profile Image for ansa. .
27 reviews
July 10, 2025
boleh gasih ngereview tapi belum kelar baca? soalnya UGHHHH I CAN NOT TAKE THIS SHIT ANYMORE😭😭 awal-awal aku masih maksain buat baca karena mungkin bakal ada pengembangan cerita dan character development. tapi setelah baru halaman 60+ aku udah menjerit FUCK STOPPP ITTTTTT. BETULAN GABISA MENERIMA SOAL BAGAIMANA MEREKA MEMANDANG PEREMPUAN. cukup kaget waktu fikar ngeluarin candaan seksis ke bening padahal dia baru aja berantem karena ada cowo yang ngehina kakak perempuannya. masalah kakak perempuan fikar ini sensitif banget. ada trigger traumanya. kok bisa dia begitu sih anjir???
Profile Image for sasa .
75 reviews1 follower
August 8, 2025
2,5/5
Sebenernya bagus kok, interaksi Fikar sama Bening, lawakan Fikar, interaksi teman-temannya, bagus.

Tapi, nggak ngerti sama maksud penulis ngangkat isu kakaknya Fikar yang diperkosa, tapi Fikar masih bercandaan pake kata-kata perkosa at the same time, aneh dan ngga sopan aja menurutku.
Permasalahan Kakaknya Fikar juga ngga dijelasin lebih lanjut, aku bacanya hahehoh🥲
Profile Image for Icha.
5 reviews
April 18, 2025
Suka sama makna "Left Unsaid" antara Fikar dan Bening🥺🤍
Uh, aku juga amaze sama bagaimana penulis dengan smooth menyambungkan makna judul dengan ceritanya.
Bening ke Fikar tuh definisi cewek hopeless romantic ketemu cowo playboy cap badak😭
Profile Image for Pia.
16 reviews
March 15, 2024
Sukaaaa, karena ceritanya ringan dan mudah dipahami juga. Tapi bingung banget kenapa bisa bening sesabar itu tetap di zona HTS dan terima-terima aja digantungin sama Fikar lebih dari 4 tahun
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.