Jump to ratings and reviews
Rate this book

Selaput Biru

Rate this book
Selaput Biru adalah semacam otofiksi yang mengisahkan kehidupan seorang penulis perempuan dalam banyak kesempatan dan fragmen, bersinggungan dengan ketubuhan perempuan, keluarga, seni, dan sastra itu sendiri. Mengulik banyak hal yang selama ini kerap disembunyikan oleh banyak orang, rahasia yang ingin dibenamkan seumur hidup. Namun, ketika kesempatan untuk menyibak itu hadir, makna hidup akan mengalir.

Dari balik selaput biru kita akan memaknai setiap fragmen dengan keakuan yang menyeluruh, sekaligus parsial. Namun tetap mengutuhkan apa arti hidup.

268 pages, Paperback

Published February 28, 2024

14 people are currently reading
70 people want to read

About the author

Laksmi Pamuntjak

20 books253 followers
Laksmi Pamuntjak is a bilingual Indonesian novelist, poet, food writer, journalist and co-founder of Aksara Bookstore. She works as an art and food consultant and writes for numerous local and international publications including opinion articles for the Guardian.

She is the author of two collections of poetry (one of which, Ellipsis, appeared in the 2005 Herald UK Books of the Year pages); a treatise on the relationship between man and violence based on the Iliad; a collection of short stories based on paintings; five editions of the best-selling and award-winning Jakarta Good Food Guide; two translations of the works of Indonesian poet and essayist Goenawan Mohamad; and two bestselling novels.

Amba/The Question of Red, Pamuntjak’s first novel, won Germany’s LiBeraturpreis in 2016, was short-listed for the 2012 Khatulistiwa Literary Award, appeared on the Frankfurter Allgemeine Zeitung’s Top 8 list of the best books of the Frankfurt Book Fair 2015, and was named best work of fiction from Asia, America, Latin America, and the Caribbean translated into German on the Weltempfaenger (Receivers of the World) list. The novel is a modern take on the Hindu epic Mahabharata set against the backdrop of the Indonesian mass killings of 1965 and the Buru penal colony, and has been translated into English, German (Alle Farben Rot, 2015) and Dutch (Amba of De Kleur Van Rood, 2015). It also appeared in De Bild's Top 10 Books of the Frankfurt Book Fair 2015, and the ORF Kultur Top 10 List for November 2015.

Pamuntjak was selected as the Indonesian representative for Poetry Parnassus at the 2012 London Olympics. Her prose and poetry have been published in many international literary journals. She currently divides her time between Berlin and Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (31%)
4 stars
26 (45%)
3 stars
11 (19%)
2 stars
2 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Sekar Ayu.
8 reviews4 followers
April 9, 2024
Laksmi Pamuntjak adalah salah satu penulis yang karyanya selalu saya nantikan. Dalam buku ini Laksmi bercerita banyak tentang dirinya. Ia membuka dirinya - yang buat saya selalu terasa misterius - kepada pembaca dengan kejujuran yang terasa tulus. Ia bertutur tentang kecintaannya pada musik, seni rupa, film, buku-buku, dan puisi-puisi.

Ia juga bercerita tentang hubungannya dengan orang tuanya, kekhawatirannya sebagai orang tua, percintaan-percintaannya di masa lalu, dan cinta terakhirnya pada suaminya.

Cerita-cerita ini ditulis dalam bentuk esai-esai pendek maupun panjang. Gaya penulisannya selalu terasa mellow dan liris, gaya Laksmi yang sangat saya suka. Sambil membaca ini saya merasa iri sekaligus kagum pada keberaniannya membuka hal-hal personal seperti hubungan pernikahannya, hubungan gelapnya di masa lalu, dan hubungannya dengan orang tuanya yang terasa rumit.
Profile Image for Heireina.
80 reviews40 followers
January 8, 2025
Saya membutuhkan sedikit keberanian untuk membaca memoar penulis yang karyanya saya gemari. Satu, karena saya harus siap mengonfirmasi praduga cap-cip-cup tentang dari episode manakah ia terinspirasi untuk menulis kisah-kisahnya sambil menyongsong kesadaran 'oh, jadi begitu', menyaksikan titik demi titik mulai tersambung. Dua, saya tahu betul ini akan jadi pengalaman membaca yang intim.

Selaput biru sendiri merujuk pada kondisi medis dimana mata seseorang yang katarak, membayang kabut tipis karena berkurangnya melanin pada selaput pelangi. Menjadikannya biru urania. Dari sana Laksmi Pamuntjak memulai, menyusun, dan menuturkan memoarnya sebagai sebuah perayaan menerima usia baya.

Berisi 46 esai dengan panjang variatif, cerita dalam Selaput Biru berpusar pada lingkungan tempat ia tumbuh dan pengalamannya menjadi anak, istri, ibu, pembaca, penulis, musikus, kritikus. Bagi saya ini adalah buku yang reflektif dan lebih menyenangkan dibaca pelan-pelan ketimbang diselesaikan dalam sekali duduk. Saya memulai membacanya tahun lalu dan baru menamatkannya awal tahun ini.

Banyak esai yang lebih dari sekadar menarik, terutama esai-esai yang merupakan penopang dari ruh novel-novelnya. Seperti kondisi Siri yang berayah dua (Kekasih Musim Gugur), hubungan Amba yang rumit dengan ibunya (Amba), juga terang bagaimana pengetahuan Laksmi Pamuntjak yang mendalam tentang seni rupa, musik, dan cuisine, ia dapat dan ia kembangkan. Selain esai menyoal kehidupan personal yang menginspirasi tulisan-tulisannya, ada juga yang menggugah saya seperti dalam 'Dua Meditasi tentang Cinta', esai tentang peliharaannya yang membuat saya menitikkan air mata, kehidupan diasporanya yang menarik untuk diulik, dan yang paling menancap bagi saya pribadi adalah ketika ia mencurahkan duka-rindunya terhadap mendiang bapaknya (yang bisa saya amini sebab berada pada sekoci yang sama, sama-sama tak lagi berayah dan memiliki hubungan yang kompleks).

Mengenal Laksmi Pamuntjak melalui novelnya adalah satu hal, membaca kehidupan pribadinya adalah hal lain. Bagi saya, ia adalah seorang melankolis yang gigih untuk maju sambil rutin melihat kepada sejarah hidupnya.
Profile Image for Aulia Esa.
64 reviews4 followers
November 19, 2025
Setelah mengenal karya beliau sekarang aku sedikit mengenal kehidupan personal beliau. Disampaikan dengan gaya bahasa liris dan sastrawi.

Setiap bab punya pembahasan berbeda. Dari membahas keluarga beliau, perjalanan karier, penulis yang dibaca karyanya, residensi di berbagai negara, kuliner, hubungan penulis dengan piano, dll

Bahwa setiap perjalanan hidup ada perjuangan.
Perjuangan internal maupun eksternal.

Aku membacanya santai, kunikmati setiap kalimatnya.

"Studiku humaniora. Kita selalu harus berada di pihak yang lemah. Sementara suamiku orang finance. Baginya waktu adalah uang." Aku suka bagian ini, dimana seorang yang punya latar pendidikan berbeda bisa saling melengkapi dan memahami.
Profile Image for Anggi.
134 reviews3 followers
June 11, 2025
Saya tidak sengaja menemukan buku ini ketika sedang mengunjungi salah satu toko buku independen favorit saya di Jogja yaitu Buku Akik. Kalau boleh jujur saya pertama tertarik dengan desain cover bukunya yang menyerupai pigura foto berwarna biru hitam dan di tengahnya terdapat foto kecil pengarangnya.

Saya rasa nama pengarangnya sedikit familiar karena saya teringat dulu pernah membeli kumpulan puisi beliau. Namun, sayangnya belum sempat membacanya hingga saat ini.

Saya pikir ah bagaimana jika saya beli memoar ini dulu dan mulai membacanya siapa tahu karena memoar adalah genre kesukaan, saya akan lebih bisa menikmatinya lalu terdorong untuk membaca karya-karya novel pengarang ini termasuk buku puisi yang sudah tersimpan di rak buku saya selama bertahun-tahun.

Ternyata benar firasat saya terhadap buku ini. Saya sangat menggandrunginya karena di dalamnya berisi esai-esai pribadi yang begitu menarik dan menyentuh hati. Beberapa tema yang diusung dalam esainya adalah hubungan dengan orangtua, cinta dan romansa, duka kehilangan seorang ayah, dll.

Saya sangat menghargai cara Laksmi bercerita dengan penuh perasaan. Ia menggunakan diksi yang sungguh beragam dan cantik. Selain itu, ia juga kerap kali mengutip buku dan karya penulis-penulis luar favoritnya yang membuat saya juga ingin membaca karya mereka. Saya bahkan sudah menambahkan karya-karya dari penulis seperti Louise Glück dan Zora Neale Hurston dalam daftar buku yang ingin saya baca selanjutnya.

Saya juga jadi menambah pengetahuan tentang musik klasik dan tenis karena Laksmi juga bercerita tentang perjalanan kariernya sebagai pianis serta rasa senangnya bisa belajar bermain tenis. Terutama karena selama bertahun-tahun ia hanya bisa menonton dari jauh karena dilarang untuk bermain olahraga ini oleh kedua oranguanya. Mereka begitu khawatir tenis bisa mencederai tangan putri tunggal mereka yang lihai bermain piano. Menurut saya Laksmi merupakan salah satu penulis yang tumbuh besar dengan banyak privilese. Oleh karena itu saya senang karena dia mau mengakuinya dan sedikit membahasnya dalam beberapa esainya di buku ini.

Laksmi juga tidak segan untuk berbagi tentang manis dan pahit dari hubungannya dengan ibunya. Bagaimana selama ini ia telah bergulat dengan identitasnya karena dia baru mengetahui hal mendasar tentang identitas tersebut di usianya yang ke 22. Kamu bisa cari tahu sendiri apa itu dengan membaca buku ini juga ya. Hal ini membuat saya ingin membaca bukunya Fall Baby karena menurut Laksmi ini adalah salah satu novelnya yang paling personal.

Ia mengatakan salah satu tema cerita yang paling ia sukai adalah bagaimana hubungan keluarga akan selalu berdampak terhadap bagaimana seseorang bertindak atau membuat keputusan di masa depan. Saya rasa ini tema yang begitu universal dan bagus untuk ditelusuri lebih lanjut. Saya agak sedih ketika telah mencapai halaman terakhir karena harus mengucap tabik meskipun saya berharap bisa membaca lebih banyak esai dari Laksmi. Jadi sudah pasti saya akan membaca lebih banyak novel dan kumpulan puisi karyanya di lain kesempatan.
Profile Image for Lana.
81 reviews6 followers
April 2, 2025
4.25/5.


And identity is funny being yourself is funny
as you are never yourself to yoourself except
as you remember yourself and then of course
you do not believe yourself
— Gertrude Stein
(kutipan ini juga dikutip di Selaput Biru)


Aku pernah mendengar seorang penikmat sastra berkata, rak bukumu harus mengerami bukumu terlebih dahulu. Dan di saat yang sama, kamu sedang mengerami hatimu, dunia dan pengalaman sedang mengerami pikiranmu. Lalu bukumu itu akan menemukanmu di saat yang tepat. Tepat di saat kamu tidak menduganya.

Tidak lama setelah buku ini rilis, aku langsung memesannya. Sebelumnya, aku hanya pernah membaca satu buku dari Ibu Laksmi, Kitab Kawin, sekitar 3 tahun yang lalu. Melihat otofiksi ini, aku penasaran dan ingin melihat Ibu Laksmi lebih dekat. Namun setelah buku ini sampai di kos-kosanku, aku tidak pernah sempat membacanya dengan sungguh-sungguh. Satu tahun kemudian, aku baru merampungkannya dari awal sampai akhir.

Ibu Laksmi menceritakan tentang banyak hal di Selaput Biru. Namun motif utama dari semua tulisannya di buku ini adalah cinta. Cinta terhadap orang-orangnya, musik, seni, buku, menulis, makanan, pengalaman, alam, dan kota. Otofiksi ini juga penuh dengan melankoli. Melankoli yang sangat aku suka, yang kutemukan juga dalam hidupku dan dalam tulisanku.

Sejujurnya aku sangat bersyukur buku ini menemukanku. Sebagai mahasiswi sains yang setiap harinya mendekam di depan laptop untuk menghitung, aku semakin menyadari bahwa yang bisa menyegarkanku hanyalah seni dan kata-kata. Dan kisah-kisah dan perenungan Ibu Laksmi sangat menyegarkanku.
1 review
December 20, 2025
Beruntung bisa bercakap-cakap melalui teks dengan penulis yang ku kenal sejak novel pertamanya, lalu tidak mengupdate karyanya hingga berjumpa buku ini dalam satu pandangan mata dua bulan lalu.
Kejujuran dan kelugasan serta rendah hati dan humor. Itulah kesan setelah membaca buku non-fiksi ini. Memang ciamik cara penulisannya. Pantas saja karena dia penulis profesional.
Pelajaran setelah membacanya: mungkin menjadi model baru menulis semacam memoar tanpa menyebutkan begitu banyak nama dan subjek dalam tulisan. Kata ganti orang ketiga banyak digunakan. Di akhir buku dia sebutkan banyak nama, tanpa kita tahu nama mana yang dia maksud dalam tulisan.
Memang tidak sepenuhnya sepakat dengan cara pandangnya menjalani kehidupan personal. Sekadar cukup tahu bahwa ada dunia unik dalam ceritanya.
Singkatnya ini buku enak dan ringan dibaca saat perjalanan. Buku berisi catatan personal tentang dia dengan orang tua, dengan kisah perjalanan pribadi, dan obsesi pada makanan enak, musik, lukisan, dan dunia menulis profesional.
Profile Image for Sandra Frans.
236 reviews3 followers
January 6, 2026
One week at home i read Selaput Biru by Laksmi Pamuntjak. ordered the book, without searching what this is about. I love Amba and Kitab Kawin, so no excuses needed to buy this one.

It’s a collection of life reflection made by Pamuntjak when she reached 50s. All pieces are personal, soft, full of life. It’s about her, the past, the current, the bloodlines, dreams, places, memories. Things that made her, her.

Reading this life diary, undoubtedly i am looking back to mine. When she described the last days she spent with her dad, i imagined how mine would be. When she repeatedly mentioned how fierce and cultured her mom is, my thoughts went to mine.

When i was at home, Agil, Joce’s daughter returned Na Willa, a book by Reda Gaudiamo. She said, she loved it so much. She read Na Willa’ stories many times.
I think, Selaput Biru is Na Willa for adult women (or maybe just acknowledge it to any privileged women) It’s so close to us, women who can claim their spaces will love this book.
Profile Image for 中微子⚛️.
25 reviews
January 5, 2025
Sebagai penyuka karya laksmi pamuntjak aku pasti ingin sekali mengetahui perspektif beliau sebagai penulis dalam menjalani hidup. Melalui selaput biru kak Laksmi mencari dan menjalani kehidupan yang ia tulis dan bentuk sendiri untuk dirinya.

Its a very great book, menggambarkan sekali bagaimana seorang Laksmi Pamuntjak, asal usulnya, bagaimana ia menjalani hidup, hubungan personal dengan kedua orang tua, suaminya, dan anaknya, juga her soul sisters. Bagaimana ia striving to be a pianist back then, i enjoyed it too much!

Tapi bagian pertengahan hingga ending sepertinya dirancang dengan sangat personal, sehingga aku terkadang kesulitan untuk menyeimbangkan pacenya! But its okayy, i love this book overall
Profile Image for Eche K..
12 reviews
January 6, 2026
Agak pribadi, tapi sejak pertama kali suka baca, saya nggak pernah tahan membaca karya-karya perempuan. Makanya, selain Rintik Sedu, Laksmi Pamuntjak bisa dibilang jadi gerbang buat saya membaca karya “perempuan”. Bahkan memang baru dua penulis itu yang karyanya saya baca.

Sebelum lanjut, saya mau jujur kalau ini akan jadi review paling penuh emosi setelah Tokyo dan Perayaan Kesedihan. Sangat nggak objektif. Hehe.

Kalau kalian punya mommy issues, jangan baca. Yakin seribu persen, rasanya kayak dicekek. Bukan fiksi, buku ini adalah autobiografi Laksmi sendiri. Sama kayak saya, mbak ini juga anak tunggal. Perempuan. Hidup didominasi musik, dalam kurung piano, dan punya percintaan super rumit. Bahasanya puitis, cantik. Punya khas sendiri dan jadi senang bacanya.

Bentuknya tuh cerpen yang temanya nggak menentu. Favorit saya ada di cerita ke-3, judulnya: “Mama Berkunjung ke Apartemenku”. Busyet, kayak digebuk. Katanya, “Mama, manusia tak didesain untuk itu. Tapi percayalah, aku berjuang. Selamanya berjuang. Dan selalu kalah di matamu. Kecuali dalam hal satu itu: obsesiku beberes.”

Ada juga tentang hubungan Laksmi dengan Tuhan, di mana dia lebih beriman kepada pengalaman ketimbang agama. Menarik. Mungkin karena studinya humaniora. Kiri begitulah. Dan baru kali ini baca buku, satu pendapat dan nggak sependapatnya sama besar. Pola pikir dan gaya hidupnya patut diacungi... 👍🏽

Apresiasi besar buat Laksmi karena bisa menulis ini. Butuh berapa lama untuk bisa sejujur ini? Dan inilah masalah saya. Kadang, sesama perempuan, bisa aja banyak samanya. Mau lebih besar logika kayak apa juga, bakal besar pula emosinya. Saya takut banget baca ini. Buku yang cukup saya baca sekali karena sangat personal. Agak bosan dan capek di pertengahan, tapi bagus banget.

Masih membahas ibu, “Namun, sebagaimana kau tak paham bagaimana aku bisa begitu berbeda darimu, kau juga tak tahu bagaimana dan seperti apa persisnya, aku semakin menyerupaimu.”

Gile... 😭😭😭😭😭😭😭😭
Makasih dah.
Profile Image for itsmelulutiii.
19 reviews
April 9, 2025
Untuk buka dengan genre autobiography versi fiksi ini buku bagus banget. Apalagi bagian bab-bab pertama, bagaimana laksmi menyampaikan rasa sayangnya terhadap ibunya. Bagaimana penulis mengungkapkan perasaan-perasaannya mengenai keluarga, makanan, hobby hingga lingkungan tempatnya tumbuh atau lingkungan tempatnya sekedar berkembang membuat hati pembaca mengangkat ✨🌅
Profile Image for ann.
84 reviews8 followers
May 30, 2025
Intriguing descriptions, especially whenever a relationship with her family member comes up, or whenever she dives deep into her passions. Yet, that part of her life, the intimate and emotional ones, slightly against my own personal morality, so it’s kind of a rollercoaster reading this book.
Profile Image for ici.
1 review
January 7, 2025
what can i say .. i’m in love with her and her writing style …
Profile Image for oliviasther.
15 reviews1 follower
October 12, 2025
I’m absolutely in love with her writing style and the way mba Laksmi sees life feels so deeply relatable to me. I kept falling in love over and over again with her thoughts and her beautifully crafted words while reading. Everyone needs to read this. 🫂💙
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.