Mel atlet renang cemerlang. Suatu hari ia jatuh cinta pada cowok yang salah. Satu fotonya yang “tak pantas” tersebar, menghancurkan segalanya dalam semalam; prestasi, nama baik, keluarga, persahabatan. Mel dikeluarkan dari sekolah, dipecat dari klub, disingkirkan oleh teman-temannya.
Mel depresi. Pertemuannya kembali dengan Ega mengguncang dunia murungnya. Ega juga punya catatan kelam. Ia memaksa Mel keluar dari cangkang gelap, meski Mel takut. Namun, akankah reputasi Mel yang sudah tercabik bakal utuh kembali? Apakah Ega bisa menerima Mel yang pernah tercela? Mungkinkan Mel melompat dan berenang lagi untuk menemukan cinta yang sempat pergi?
Ken Terate jadi salah satu penulis yang karyanya harus kubaca. Dan, novel ini pun juga nggak mengecewakan. Menceritakan Mel, atlet renang yang terjerembap kepicikan cowok yang jadi pacarnya bernama Alex. Padahal, Tantri (sahabatnya) udah mewanti-wanti akan hal ini.
Sampai akhirnya foto (yang terkesan) telanjang Mel disebar oleh Alex. Dari situ, kariernya sebagai atlet pun runtuh. Bukan cuma itu, Mel juga mesti berhadapan dengan bundanya yang "otoriter". Sampai akhirnya Mel bertemu Ega, yang memintanya jadi pelatih renang sang adik.
Lagi dan lagi, novel remaja dengan isu perempuan diangkat oleh penulis. Dan tentu saja aku masih suka menyimak kisah-kisahnya.
Namun, dalam novel ini, proporsi Mel-Alex terlalu panjang. Terlalu berbelit. Yang mana pada akhirnya bikin penyelesaian konflik maupun subkonflik terasa datar. Rasanya ada beberapa adegan yang dipangkas, lalu ruang yang tersisa bisa dieksplor untuk perjalanan Mel dalam menghadapi subkonflik di cerita ini.
Dari segi penceritaan, aku suka dengan novelnya. Khas Ken Terate. Pokoknya masih menunggu karya-karya beliau selanjutnya. Sayangnya, yang menangani naskah ini terkesan pemalas.
Cerita tentang keterpurukan dan kebangkitan. Aku senang karena para korban revenge porn di sini digambarkan berani lapor ke polisi untuk membawa pelakunya ke pengadilan. Membaca buku ini di bagian ketika "bom dijatuhkan" begitu berat. Tapi bagian akhirnya sungguh melegakan. Sekali lagi Mbak Ken Terate berhasil membawa isu yang penting dalam novelnya. Buku ini terasa begitu komplit karena mengulas banyak sisi hingga tuntas. Membaca ceritanya yang padat membuatku teringat dengan sensasi membaca young adult books terbitan barat yang sering mengangkat isu yang serius dan tak ringan.
Seperti Dark Love, buku ini penting untuk dijadikan bahan diskusi dengan para remaja.
Amel adalah seorang atlet renang. Sejak kecil orang tuanya sudah mempersiapkan Amel agar bisa menjadi atlet, terutama Bundanya yang cukup ketat dalam mengatur jadwal latihan dan keseharian Amel. Amel sebenarnya menerima semua kondisinya itu, tapi ada kalanya dia merasa lelah dan bosan. Ketika Axel mendekati Amel, Amel mulai membuka diri. Bukan pertama kali sebenarnya Amel memiliki hubungan dekat dengan lelaki. Tantri, sahabat Amel tidak menyukai Axel. Karena menurut Tantri Axel bukan cowok baik-baik. Axel memang sering bolos, tapi Amel menganggap hal itu biasa saja.
Semakin hari Amel mulai menyadari hubungannya dengan Axel tidak mengarah ke hal yang baik. Amel memutuskan Axel. Ketika Amel mulai fokus dalam mempersiapkan diri menjelang PON, dia dikejutkan dengan beredarnya foto tak senonoh dirinya. Akibatnya sungguh fatal. Amel dikeluarkan dari sekolah dan juga tim PON. Amel menjadi depresi dengan segala pemberitaan tentang dirinya.
Tema kekerasan dalam berpacaran mungkin bukan hal baru di dunia novel remaja. Namun saya menyukai tokoh Amel di dalam novel ini. Dia jatuh, terpuruk, dan berusaha untuk bangkit. Selain itu konflik keluarga juga mewarnai kehidupan Amel. Memiliki bunda yang sangat menaruh harapan tinggi pada anak-anaknya menambah "kekacauan" dalam hidup Amel. Kehadiran Ega dan Serena dalam usaha Amel memulihkan jalan hidupnya digambarkan dengan baik. meski endingnya seperti dipercepat, namun saya suka dengan akhir yang ditawarkan penulis.
“Hei, nggak seburuk itu kok. Mungkin aku melebih-lebihkan. Aku tahu mereka bukan orangtua ideal, tetapi semua orang punya karung masing-masing yang mesti mereka pikul. Aku sudah bisa menerima kenyataan aku nggak mendapat orangtua yang mengecek keberadaanku atau menghadiri pentasku. Mereka masih ingat untuk membayar sekolahku dan makan malam bersama kadang-kadang sudah cukup. Ada anak-anak yang lebih celaka daripada aku.” (Hal 317). . Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Selalu suka sama tulisan Kak Ken Terate. Suka cara berceritanya, lucu, manis, hangat, bikin gregetan. Sejujurnya aku bingung mau tulis apa, karena bacanya kurang santai. Tapi cewek bolehlah baca novel ini. Karena di luar sana pasti ada Axel dan nggak terlalu banyak Ega. Tadinya aku kirain novel ini sama kayak Minoel atau Pengantin Remaja gitu. Tapi sepertinya aku salah. Mel ini beda menurutku tokoh Mel sendiri, dia ini pintar, atlet terus dia bukan yang nggak pernah pacaran gitu tapi dia bisa juga terjebak sama cowok macam Axel. Itulah kenapa aku bilang cewek bolehlah baca. Selain itu novel ini juga bercerita tentang hubungan antara orangtua dan anak. Tentang seorang anak yang selalu dituntut sehingga dia ingin membuktikannya tapi dengan cara yang kurang tepat. Tentang sebuah pandangan nggak akan menyakiti kita selama kita nggak mengizinkannya. Tentang orang-orang yang suka bergosip itu nggak akan pergi, tapi kita harus semakin kuat hingga serangan-serangan seperti itu nggak akan berarti. Tentang keberanian, mau bangkit kembali, dan memaafkan diri sendiri dahulu. . Dari kisah Mel, Melatiku, seperti kutipan yang pernah aku baca dimana gitu aku lupa 😣 kurang lebih begini, orang-orang akan selalu silih berganti mampir dalam hidup kita, terkadang ada yang memilih menetap atau hanya lewat entah memberikan kita pelajaran, pengalaman baru atau bahkan luka. Masukkan novel ini dalam list bacaan kalian ya 😊. . ‘Aku seperti meniti jembatan tali. Sewaktu-waktu tali itu akan putus atau aku yang akan kehilangan keseimbangan dan bum! Aku bakal terjun bebas. Untuk berjalan selangkah saja, aku perlu berpikir seribu kali dan belum-belum sudah lelah’. (Hal 82). . ”Aku nggak suka dipaksa. Sorry to say. Bukannya aku nggak suka kamu, tapi suka berarti suka dan rela. Kalau salah satu nggak rela, itu namanya pemaksaan, pelecehan, apalah. Aku nggak mau dilecehkan.” (Hal 156). . “Semua akan baik-baik saja. Jangan pernah berpikir hidupmu sudah berakhir karena hidupmu sangat berarti. Kamu berarti, minimal untuk keluargamu. Dan Serena. Dan aku.” (Hal 295).
Hidup Mel, sang atlet renang calon anggota pelatnas, hancur dalam semalam gara-gara foto syur-nya disebarkan oleh si mantan pacar kurang ajar.
Premis utamanya aja udah bikin emosi mengingat ada banyak banget kasus revenge porn di dunia nyata 😭😭 kasus yang selalu bikin aku bertanya-tanya, kenapa sih manusia bisa sebrengsek itu?
Seperti biasa, tulisan Ken Terate selalu page turner dan menguncang emosiku. Kadang bikin senyum, habis itu marah, terua senyum lagi, terua nyesek, kesal, makin marah, terus ngamuk. Pokoknya habis baca tuh berasa capek banget, tapi dalam makna yang positif.
Apa yang aku suka dari buku ini, masalah yang dibahas bukan cuma soal percintaan Mel aja, tapi juga masalah keluarga. Masalah-masalah yang terjadi di keluarga Mel itu terasa sangat nyata. Bikin nyesek dan kesal, tapi sedih dan haru di saat yang sama. Lalu tindakan setiap tokohnya, baik yang paling nyebelun atau paling terasa "tolol" sekalipun selalu terasa reasonable, jadi mau nggak mau aku tetap dibikin paham kenapa si A begini, si B begitu. Keren sih pokoknya.
Hanya sajaaa, aku merasa sedikit bosan karena dari dua buku terakhir penulis yang kubaca sebelumnya (Minoel dan Pengantin Remaja)) masalah yang disuguhkan mirip-mirip: soal pasangan dan hubungan toksik. Jadi rasanya perjalanan para tokoh ini ya mirip-mirip gitu. Tapi mungkin ini salahku juga sih, karena memilih membaca yang topiknya mirip secara berurutan, padahal buku-buku itu terbitnya nggak berurutan. Mungkin aku harusnya baca yang 30 Hari Mencari Cinta dulu kali ya.
Tapi di luar itu, buku ini tetap seru dibaca, dan bahkan sangat penting dan perlu banget dibaca oleh banyak remaja (maupun orang dewasa).
Intinya sih, Ken Terate sudah menjadi penulis autobuy-ku sekarang. Jadi aku akan terus menunggu karya-karya Mbak Ken Terate berikutnya.
Satu lagi novel karya Ken Terate yang aku baca dan begitu menikmatinya! Nama Ken Terate jelas gak asing buatku, karena aku tumbuh besar dengan novel-novel teenlit-nya. Well, meski gak semua novelnya udah aku baca sih~😅
Aku selalu suka ide cerita yang diangkat Kak Ken. Gak melulu yang tentang cinta remaja, tapi juga konsekuensi yang mengikuti. Realistis banget deh!🙌🏼
Seperti Mel di novel ini. Dia begitu terlena dan buta setelah mengenal Axel, dan akhirnya berpacaran dengan cowok itu. Padahal Tantri, sahabat dekat dan juga ibunya telah mewanti-wanti untuk tidak terlalu dekat dengan Axel. Nyata? Mel mengesampingkan semua pendapat orang-orang terdekatnya untuk bisa bersama Axel.
And BOOM!💥🤯
Hidup Mel berantakan ketika Axel menyebar luaskan foto 'tak pantas' Mel ke sosial media! Tragedi itu pun menghancurkan semua yang telah Mel bangun selama ini—nama baik, prestasinya sebagai atlet renang, persahabatan, hingga hubungan keluarganya. Mel juga kehilangan kepercayaan diri dan masa depannya yang cerah. Mampukah Mel bangkit dari keterpurukannya? Dan apakah ia bisa menerima dirinya yang sudah jatuh begitu dalam?
As always, aku suka gaya penulisan Ken Terate yang ngalir, ringan, dan enak dibaca. Meski alur ceritanya cukup lambat, tapi masih lumayan page-turner! Aku juga suka gimana Kak Ken mengangkat isu-isu yang begitu relevan bagi remaja: bullying, tekanan sosial, pencarian jati diri, dan pentingnya peran dan dukungan dari orang-orang terdekat serta keluarga.
Jujur, dari awal aku kurang suka karakter Mel yang terkesan rebel dan mencari kebebasan. Kelakuan Axel yang toxic tuh udah kelihatan banget. Dengan banyaknya tanda dan warning, Mel harusnya bisa melihat itu semua dan tau konsekuensinya. Then again, the idiom "Love is Blind" is real, right?
Mungkin aku terkesan nyalahin Mel, tapi ya emang dia turut andil juga kok. Soal revenge porn Axel ke Mel sih jelas salahnya Axel ya! Asli, masih SMA kok ya bisa sejahat itu!🤬 Tapi Mel yang dengan sadar memilih Axel, menjauhi Tantri, dan bohong sama Bunda kan?
Nevertheless, aku suka penggambaran di novel ini yang begitu realistis. Mulai dari Mel dengan kegagalannya, rasa takutnya, hingga upayanya untuk bangkit. Lalu, dinamika konflik keluarga Mel, Axel, dan Ega yang begitu dekat dengan keadaan di masyarakat. Aku rasa banyak pembaca yang bisa relate dengan permasalahan di novel ini.
All in all, this is the one for you: klo kalian lagi cari novel tentang self-discovery dan overcoming struggles!❤️🔥 Bener-bener worth it untuk dibaca, apalagi untuk kalian para remaja, khususnya perempuan! Jangan sampe deh terperdaya sama laki-laki! Banyak pelajaran juga yang bisa kita ambil dari novel ini.
P.S. Aku ngerasa, porsi cerita Mel-Axel terlalu panjang dan bikin jengkel! Aku lebih prefer porsi Mel-Ega atau porsi self-discovery Mel yang diperpanjang~ Terus endingnya juga agak terburu-buru gitu, meski aku tetep puas sih~
buku ini beneran berasa roller coaster banget. jadi saat baca, aku ikutan merasa "capek" aku bersimpati dengan apa yang dialami mel, ikut menyesali keputusan yang dibuat mel.
mel, namanya bukan melati, tapi amelie. mel, yang seorang atlet renang, punya masa depan cerah. mel akan mengikuti pon! tapi, sebuah foto tak pantas yang disebarkan seketika menghancurkan mel dalam semalam.
mel terpuruk, dia merasa hidupnya hancur dan dirinya amoral. mel dilanda depresi. suatu hari, ada tangan yang terulur. itu tangan ega, yang ternyata paham dengan apa yang dirasakan mel. nah, apakah mel akan berenang lagi?
jujur aku agak menyayangkan porsi mel dan axel yang cukup banyak di sini. apalagi ketikan axel bikin sakit mata 😭 aku kira porsi mel dan ega akan banyak, tapi ternyata nggak. tapi gapapa, karena aku cukup menikmati cerita ini.
kayaknya memang karena penjabaran axel oleh penulis, tapi aku jadi merasa axel tuh nggak banget. pacar yang baik itu gak bakal mengadu domba kamu dan sahabatmu. dia gak akan merasa kesepian hanya karena kamu sibuk dengan keseharianmu.
dari sini aku akhirnya paham bahwa memang ada orang yang se toxic itu. semanipulatif itu. dia bisa lho, menggunakan kelemahan kamu untuk mengancam kamu. aku senang dengan gimana cerita ini berakhir. mel bisa melewati semuanya.
"Hidup terus berjalan dan kamu harus melakukan apa yg harus kamu lakukan, meski berat."
Baca novel ini tuh lumayan menguras energiku ya, mulai dari Mel yg bebal sama nasihat dan arahan dari sahabat dan mamanya, Axel yg pengen ditimpuk, mamanya Mel yg terlalu memaksakan kehendak pada anak-anaknya.
Apalagi porsi cerita Mel dan Axel disini lumayan banyak ya, jadi emosiku pun baca ini kayak terus-terusan gitu.
Dengan alur yg maju mundur kita akan dikasih liat awal mula Mel dan Axel berkenalan sampai akhirnya pacaran, lalu tragedi yg menimpa Mel. Mel yg terpuruk, dikeluarkan dari sekolah, dikeluarkan dari klub, tidak bisa mengikuti kejuaran renang lagi, akhirnya menjauh dari dunia luar, ketakutan akan cemoohan orang. Sulit bagi Mel untuk bisa muncul di depan orang banyak dan berinteraksi dengan mereka. Hingga muncul Ega, teman sekolahnya yg membantu dan membuat Mel kembali mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.
Dan memang isu yg diangkat di novel ini lumayan berat ya, ada toxic relationship, sexual harrasment, dan bullying. Permasalahan tentang keluarga juga ga luput dibahas disini. Kadang orangtua terlalu memaksakan kehendak pada anak tanpa menanyakan apakah mereka benar-benar enjoy menjalaninya.
Dari novel ini kita bisa belajar, jangan sepelekan tanda redflag sekecil apapun, karena dari yg kecil tsb bisa muncul hal besar yg bisa merugikan kita nantinya. Lalu novel ini juga mengajarkan kita untuk berani menghadapi ketakutan yg menghantui kita, serta bangkit dari keterpurukan dan membantu orang lain yg bernasib hampir sama untuk sama-sama bangkit dan lebih percaya diri.
Overall aku menikmati baca novel ini, walaupun topik yg diangkat cukup berat, tapi buat para remaja terutama perempuan bisa banget belajar dari apa yg dialami Mel di novel ini. Tidak harus sampai mengalami kejadian buruk seperti yg dialami oleh Mel. Recommended 👍👍
Mixed feelings. Mengangkat isu penting dan terkini dengan treatment yang sangat khas Ken Terate, tapi detailnya seperti kurang digarap dengan serius—sampulnya, copyediting-nya, cara bertuturnya, sudut pandang tokohnya, babak terakhirnya. It has so much to say, which is good, but it could be delivered in a much better way.
ADUHHHH pokoknya ini jadi PRku sih buat mastiin adekku, adek-adek sepupuku, adik iparku pokoknya gadis-gadis yang kusayang, buat baca buku ini!! Karena plis aku gamau mereka jadi bucin tolol yang harus kehilangan apapun untuk cowok. NAUDZUBILLAHI MINDZALIK.
Novel ini menceritakan Mel, seorang atlet renang yang sangat berprestasi. Suatu waktu, doi mesti ikut ulangan susulan karena mesti ikut lomba renang kan. Nah di saat itu Mel ketemu Axel. Dih, namanya doang yang keren tapi perilakunya jamett abisss wkwkwk. How I wish Mel never met him :((( Dari pertemuan pertamanya ini kemudian akan berlanjut jadi pdkt lalu pacaran dan sampai kemudian DENGAN SENGAJA Axel ini motoin Mel pas lagi gak berpakaian lengkap. Iya mereka abis ngapa2in di rumahnya Axel. DI SINI AKU TEGANG BANGET SIH kek mo bilang yaampun MELLLL PULAAANG GAAAKKKKKKK :((( Waktu itu disuruh hapus sih sama Mel, dan Axel ngakunya udah hapus, ternyata doi punya backup-annya yang di kemudian hari disebarin ke seantero sekolah dan menyebabkan Mel si gadis berprestasi mestiii terjun bebas ke dasar keputusasaan :(( oiya ini ga spoiler karena emang udah dijelasin juga di blurbnya.
Novel ini memang bukan fokus di plot cerita yang twisty ya guys, jadi dari awal kita tuh udah dikasi tau duluan tentang apa yang terjadi. TAPIIII itulah yang kusuka dari novel2 Ken Terate. Bisa dibilang character driven. Di sini kita bisa liat gimana ibunya Mel yang sangat mengekang dan super menuntut ditambah dengan Ayah Mel yang cuek bebek menghasilkan Mel dan Tiara yang seperti ini. Kita tuh kayak bs berempati gitulo sama tokoh2nya. Termasuk sama Axel si anak broken home.
Ibu Mel yang mengekang dan ambisius mengenai anak2nya ternyata juga hasil dari kehidupan dia yang punya saudara super sempurna, ditambah waktu punya anak harus ngerelain lepasin karirnya yang udah dibangun sedemikian rupa demi bs ngasuh anak2 full time :( Terus absennya peran ayah membuat Mel mudah termakan bujuk rayu laki-laki kayak Axel. Dimanisin dikit langsung jatuh.
Btw statusku saat ini yang sudah nikah dan punya anak ternyata sangat mengubah sudut pandangku ketika membaca buku. Kalau dulu waktu masih single, mungkin aku hanya bisa liat dari POV si anak. Tapiiii sekarang jadi bisa lebih memaklumi sifat2 dari ortu tokoh yang of korz ga sempurna karena yaa itu kan kali pertama mereka jadi ortu. PLUSSS skrg aku jg jadi takut dan ovt gimana cara membesarkan anak biar gak terjerumus kayak Mel dan jangan jadi cowok toxic kayak Axel :)))))
Baca novel ini pas lagi reading slump berbulan2 wkwk dan alhamdulillah bisa namatin ini seminggu doang. Ini tuh tipikal buku yang kalo lagi gak dibaca bikin kepikiran jadi mo lanjuut baca lagi dan lagi wkwkw
Ini beberapa kutipan yang entah relate atau murni karena ku suka ajaaa SPOILER ALERT "Malam itu aku mengerti betapa seseoramg bisa berada di suatu tempat, tetapi tak benar-benar ada di situ" -p.32
"Dia hanya bodoh, dan bodoh bukan kesalahan" -p.33
"Ok, aku memang payah kali ini, tapi apakah aku tak boleh payah kadang-kadang?" -p.48
"Kita tak selalu bisa berterus terang pada orangtua kita. Orangtua, sebaik apapun, tetap saja orangtua" -p.51
"Mel, kita memang lahir dari orangtua kita, tetapi pada dasarnya kita manusia yang merdeka. Bukan milik siapa-siapa. Mereka nmggak berhak mengatur-atur kita" -p.60
--to be continued--
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pergulatan batin saat Mel mengalami insiden tak menyenangkan itu sangat keren dilukiskan di sepanjang buku ini. Antara emosi, jiwa yang terpukul dan kemampuan memaafkan untuk si pelaku serta penerimaan diri yang hancur lebur saling berkelindan menbentuk pribadi Mel yang seolah terlahir kembali.
Ditulis dengan alur masa kini dan kilas balik yang mulus, menghasilkan rangka cerita yang ditampilkan utuh membentuk bayangan citra remaja berprestasi namun lengah dalam membangun persahabatan, keluarga dan percintaan. Novel yang menggugah hati dengan eksekusi cerita yang cukup melegakan.
KBGO bukan hal yang asing lagi. Maraknya media sosial membuat interaksi dengan orang yang dikenal maupun orang asing bisa dilakukan dengan mudah. Dampak positifnya menambah jejaring, tetapi dampak buruknya juga banyak. Tidak semua orang yang kita temui bisa berbuat baik dan sopan. Angka KS meningkat tajam seiring kemajuan teknologi. Mau tidak mau, kita harus berlaku super hati-hati agar tidak menjadi korban (atau amit-amit pelaku).
Sayangnya, kehati-hatian saja tidak cukup. Ketika sedang sial, nasib buruk yang seharusnya bisa dihindari jadi tidak bisa ditampik. Sama dengan apa yang dialami Mel. Dia nggak pernah aneh-aneh. Hanya sekolah dan berenang. Kegiatannya sebagai atlet sudah cukup menyita fokus, nyatanya masih bisa disabet oleh orang jahat yang tega-teganya menyebar gambar tidak senonohnya. Rasanya ikut sakit dan bingung.
Isu yang diangkat di buku ini bukan hanya soal KBGO saja, masalah internal yang melatari Mel juga ikut "memeriahkan" konflik dalam hidupnya. How dealing with her trauma, ibunya yang dominan dan suka mengatur hidupnya, serta ketidakpercayaan diri setelah insiden terjadi. Gara-gara satu kasus semua goyah.
Buku ini less konflik yang bikin darting menurutku. Memang nggak seperti Minoel dan Pengantin Remaja, tapi pelajarannya tetap tersampaikan. Hopefully, para Mel di luar sana bisa bangkit dan punya keberanian buat mengangkat kepalanya lagi karena mereka berharga.
Ken Terate kembali mengangkat kekerasan terhadap remaja perempuan dalam novel young adult karyanya. Kali ini, isu yang diangkat adalah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), tepatnya Non-Consensual dissemination of Intimate Images (NCII) atau yang lebih dikenal oleh orang banyak sebagai revenge porn.
Dalam novel ini, Ken menggambarkan bagaimana pelaku NCII membuat ancaman pada korbannya, cara pelaku mendekati korban, dan bagaimana dampak NCII pada korbannya.
Mel adalah seorang siswi SMA yang juga atlet renang berprestasi. Dunianya terasa runtuh ketika Axel, pacarnya yang brengsek, menyebarkan foto-foto tak pantasnya dalam WAG, tanpa consent.
Di sini, pembaca diajak untuk mengikuti proses jatuh bangun Mel. Mel mengalami depresi dan kecemasan berada di tempat umum setelah kejadian itu, bahkan sampai tidak dapat berenang lagi.
Pelan tapi pasti, Mel bangkit untuk melawan ketakutan dan menghadapi kasus yang membuatnya terperosok. Korban Axel tidak hanya Mel, tetapi juga Davina.
Bersama Davina dan dengan bantuan sahabatnya, Tantri serta pengacara bernama Ayu, Mel menuntut Axel secara hukum agar dapat dijebloskan ke penjara.
Selain perkembangan karakter Mel, aku suka penggambaran solidaritas Mel, Tantri, dan Davina sebagai sesama perempuan. Bagaimana mereka saling menguatkan dan menghadapi kasus bersama-sama.
Sayangnya, proses penanganan kasus porsi penceritaannya terlalu sedikit dan terlalu cepat. Namun, adegan sidangnya digambarkan dengan apik, rapi, dan juga emosional.
Oh iya, nama panjang Mel bukan melati, tetapi Amelie. Melati adalah nama yang digunakan media untuk merujuk Mel sebagai korban dalam pemberitaan.
Hal itu adalah sebuah komentar dari Ken Terate, kenapa korban kekerasan seksual selalu disebut sebagai 'mawar' atau 'melati'. Seolah mereka bukan seseorang yang punya kehidupan dan hanya menjadi korban yang diframing kotor oleh media.
Padahal bunga mawar dan melati seharusnya jadi lambang keindahan. Namun, pada akhirnya Mel menjadi melati yang merupakan lambang dari kelahiran kembali untuk menjadi pribadi yang kuat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Entah kenapa cerita di buku ini terasa sangat nyata, mungkin karena karakternya yang realistis dan saya sangat paham akan semua tingkah lakunya. Walaupun novel ini tentang remaja SMA, saya justru merasakan kedewasaan yang belum tentu dimiliki oleh orang2 yang lebih tua dari karakter utama novel ini. Walaupun kilas balik dari novel ini jujur sangat lama, tapi itu justru menekan adrenalin pembacanya. Pembaca menjadi bisa mengira-ngira kapan kejadian 'itu' akan terungkap. Deskripsi ketegangan, kekacauan, serta kemarahan sosok mel disini dapat saya rasakan di novel ini. Namun, terkadang saya kesal dengan sikapnya yang cenderung keras kepala. Tapi benar kata dia, oramg yang jatuh cinta terkadang tidak bisa berpikir menggunakan logika apalagi ia masih remaja. Beberapa kalimat jujur sulit saya pahami, entahlah karena terlalu tanda baca yang membuat saya bingung. Saya juga merasa agak kecewa karakter utama di novel ini harus bangkit hanya karena ada cowok ganteng, kaya, bisa nyanyi yang menemani dia. Ini malah akan menghilangkan amanat di cerita ini yang dari awal sudah digembor-gemborkan mengenai emansipasi wanita. Tapi sepertinya memang ini pola yang disukai penulis, dan sepertinya tidak menjadi pengaruh buruk untuk jalannya cerita. Saya merekomendasikan buku ini untuk para pembaca terutama remaja yang rawan dibutakan oleh cinta.
This entire review has been hidden because of spoilers.
⚠️ TW: image-based sexual abuse, bullying, mentioning suicide, body shaming
Judul: Mel, Melatiku Penulis: Ken Terate Rate: 4.4/5
Satu kesalahan mampu menjungkirbalikkan kehidupan Mel, seorang gadis SMA yang hari-harinya dipenuhi kesibukan sebagai atlet renang. Mampukah dia menata kembali semuanya dan bangkit dari keterpurukan?
Novel dengan target pembaca dewasa muda ini memiliki beberapa konflik, yaitu hubungan tak sehat, perundungan, dan tekanan orang tua. Ceritanya sangat menarik meskipun alur maju-mundurnya tidak dibatasi dengan jelas. Halaman demi halaman menguras emosi pembaca, terutama karena tokoh antagonisnya sangat menyebalkan. Pesan yang terkandung di dalam buku ini dapat dengan mudah diterima oleh pembaca, tanpa merasa digurui.
Penjabaran masalah mengambil bagian terlalu banyak dibandingkan penyelesaiannya sehingga akhir cerita terasa terburu-buru. Meskipun demikian, saya menyukai akhir kisahnya yang rasional.
Mengangkat isu terkini tentang "foto" yang biasa dimiliki pasangan. Mengajarkan kita tentang bahaya dan dampak yang terjadi jika memiliki "foto" semacam itu.
Nama Ameli dipeleset menjadi Melati akibat "foto"-nya tersebar. Di awal kita diperkenalkan dengan Ameli secara perlahan-lahan hingga mengapa peristiwa itu terjadi. Ameli gadis yang kuat bisa terpeleset hingga jatuh terpuruk. Klimaks novel ini ada di bagian pertengahan. Pertengahan hingga akhir kita akan menyaksikan perjuangan Ameli untuk bangkit dari keterpurukan.
Alurnya pas. Tidak terlalu cepat atau lambat. Tetapi bagian Ameli terpuruk masih kurang feelnya karena kurang panjang dan detail. Bukan bacaan ringan, mungkin masuk bacaan kelas menengah karena cukup menguras emosi saat membacanya. Novel yang sangat worth it untuk dibaca.
Pertama kali baca karya penulis dan aku suka sama gaya berceritanya, meskipun gak dipungkiri agak jenuh juga karena setengah buku alurnya tergolong lambat. Tapi, aku suka banget sama isu-isu yang dibahas karena terasa relate dengan kehidupan.
Jujur ya, dari awal sampai pertengahan baca buku ini, aku tuh kesel banget sama si Mel😭 Semenjak kenal Axel dia jadi naif banget, bahkan lebih condong ke Axel dan gak percaya sama sahabatnya sendiri. Padahal sejak awal, si Axel ini keliatan banget toxic-nya. Tapi makin mendekati akhir cerita, aku malah salut sama si Mel karena meski terpuruk dia tetap mau bangkit. Oh iya, meski endingnya terkesan terburu-buru, aku tetap suka sih karena terasa manis, semanis Ega😆
Ini adalah salah satu novel yg menurutku ceritanya mudah ditebak tapi tetap bikin gemas pembacanya. Alih-alih fokus dengan jalan cerita, penulis seakan mengajak pembaca untuk mendalami perasaan karakter Mel yg mengalami pergolakan batin hebat. Aku suka banget sama pengembangan ceritanya dan betapa plot di novel ini ditulis dengan sangat rapi. Suka banget sama penempatan turning point si tokoh utama dan gimana akhirnya the whole story walaupun bisa ketebak jalannya tapi gak yg 100% bener sesuai kesotoyanku sebagai pembaca. Tetep ada elemen surprisenya.
Berharap banget ada lanjutan novel ini dengan porsi tokoh Ega yg lebih dibanyakin tolong bgt aku butuh Ega 🙏🏻
Ken Terate dan bukunya yang selalu mengangkat isu2 yang sering dianggap sensitif dan penting khususnya bagi kaum perempuan remaja 🫶🏻🙌🏻💕
Di buku Mel, Melatiku ini mengangkat isu tentang penyebaran foto pribadi dimana Melati yang adalah atlet renang menjadi korban. Dan semua prestasinya selama ini hancur, pada kasus seperti ini publik sering kali lebih menghakimi korban, bahkan pelaku juga tidak mendapatkan "hukuman" yang setimpal.
Gimana kok bisa foto Mel tersebar? Siapa yang nyebarin? Lalu setelah tersebar apa yang terjadi dengan Mel? Semua hal itu bisa dicari tahu di buku ini :)
Sedikit kekurangan dari buku ini adalah kadang agak terlalu lambat plotnya :(
Bercerita tentang Mel, Amelie (yang bukan Melati), seorang atlet renang berusia SMA. Sebagai anak muda, ia mencoba banyak hal baru selama sekolah. Termasuk berpacaran. Tanpa disangka, hubungan itu membawa bencana bagi karir Mel dan juga keluarga.
Aku sangat menikmati ceritanya yang mengalir, tapi sayang banget ada beberapa salah ketik yang meski kecil, tapi ternyata cukup 'mengganggu' pas baca. Ada satu kata juga yang membuatku melek setelah nyaris tertidur: cerita yang biasanya menggunakan kata Bunda, eh pas baca ada kata Mama, kaget dikit sampe baca ulang :")
Dibandingkan dengan tokoh laki-laki brengsek di Pengantin Remaja dan Minoel, tokoh disini, alias si Axel, maksudnya yeah, dia tetep nyebelin, tapi keselnya nggak sampe akhir, karena puas banget dia dapet yang setimpal.
Untuk ceritanya oke banget, cocok untuk teenlit. Ada konflik pertemanan, keluarga, pasangan, sama diri sendiri. Kisah bundanya juga menarik banget.
Kali ini soal NCII, penyebaran konten intim non-konsensual atau tanpa izin. Mel lah yang kena. Suka dengan cara Ken Terate mengemas cerita terkait kekerasan berbasis gender online ini, karena memang marak dan banyak anak sekolah yang jadi korbannya.
Awal-awal kisahnya ngeselin banget. Oke, bukan kisahnya tapi si Axel yang pengen banget kugebuk bolak-balik. Udah hobi gaslight, selalu ngerasa dia yg korban karena nggak diprioritasin Mel, dia juga sok penting. Lah, dikira hidupnya Mel cuma ngurusin dia gitu? Dia kan cuma pacar *pembaca esmosi
Mbak Ken makin ke sini makin jago bikin karakter cowo ngeselin yang bikin pembaca nggak simpati dan pengen dia musnah saja. Aku sabar-sabarin meski gedek banget baca halaman demi halaman tiap si Axel nongol.
Pun ada Bunda yang hobi menyetir anak-anaknya. Niatnya memang baik, agar mereka bisa menyongsong masa depan yang cerah.. tapi anak juga punya hak untuk menjalani kehidupannya. Meski ternyata dibalik Bunda yang begitu hobi mendorong sambil memaksa anak-anaknya melakukan beragam kegiatan dan berprestasi,
Tentu saja, gongnya pas si Axel kurang ajar itu nyebarin foto kurang pantasnya Mel. Di situ dunia Mel dan masa depannya yangg secerah sinar matahari macem diterjang angin ribut, semuanya porak-poranda rusak tak bersisa
Kita mungkin pernah terperosok ke lubang gelap dan menarik diri dari kehidupan sosial. Semua butuh waktu hingga akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri dan kembali ke pelukan orang-orang terdekat—yang ternyata tidak pernah pergi. Mereka selalu ada dan menanti kita kembali. Kita hanya perlu membuka mata untuk melihat itu semua. Kisah Mel, kurang lebihnya seperti itu..
Aku paling suka dinamisnya hubungan kakak-beradik Mel dan Tiara. Siblings relation memang seperti itu, ada saatnya kita merasa hubungan yg sudah merenggang, tapi.. saat komunikasi dimulai kembali, kerenggangan itu langsung hilang. Hubungan itu selalu ada, cuma ya.. kitanya aja yang nggak liat
Ada saatnya perhatian Tiara membuat Mel terharu, beberapa waktu kemudian Tiara yang lagi tantrum dengan kurang ajarnya menyebut dia mesum. Mel emang sadar diri, udah sadar sesadar-sadarnya malah. Tapi ya nggak perlu juga disebut begitu sama adek sendiri, kan?
Aku juga suka dengan karakter Tantri yang nyentrik tapi nggak pernah memaksakan prinsip hidupnya ke orang lain. Cuma perihal si Axel aja yang sejak awal nggak bisa dia tolerir, tapi Si Mel yang lagi kasmaran emang jadi buta. Terharu banget saat akhirnya dua sobat itu ketemu, berpelukan, dan menangis bareng setelah Mel yang menarik diri dari semua kehidupan sosial mulai membuka diri lagi
Untuk Ega, dia baik tentu saja.
Intinya, jangan pernah berfoto atau difoto dalam keadaan tidak baik. Itu bisa jadi bumerang di masa depan..