Buku yang berjudul Dunia Paralel ini mengajak kita untuk lebih sering mengintrospeksi diri akan keegoan kita dalam melihat suatu masalah.
Dikisahkan Prilla seorang gadis yang hidup di tahun 2047 berpikir untuk membatalkan pernikahannya dengan Bara. Karena Bara telah beberapa kali terlambat menjemputnya dengan alasan sibuk dengan urusan kantor, Prilla kemudian berpikir bahwa Bara terlalu egois.
Sang nenek kemudian menceritakan suatu kisah yang pernah terjadi. Berharap cucu kesayangannya dapat menenangkan diri dan berpikir lebih jernih. Kisahnya tentang sang Nenek, Vian, ketika masih muda.
Suatu saat di tahun 2004 Vian muda tanpa sengaja bertemu dengan seorang lelaki. Medi nama lelaki itu. Mereka bertemu di bandara ketika pemberangkatan pesawat mereka sama-sama di-delay karena cuaca buruk. Saat itu Medi tanpa sengaja menabrak Vian yang sedang berjalan. Inilah awal pertemuan mereka.
Di suatu malam, mereka menghabiskan waktu selama tiga jam. Hanya berdua. Malam tersebut merupakan malam terakhir mereka bersama. Andai masih diberi waktu selama tiga hari, mereka berharap mengahabiskannya hanya berdua. Tanpa ada siapapun yang mengganggu. Tetapi tidak, malam tersebut mereka harus memilih. Apakah mereka akan mengikuti ego untuk tetap bersama dengan mengorbankan orang-orang yang telah mencintainya ataukah memilih untuk berpisah dan menyimpan rasa.
Tentu kita pernah dihadapkan pada situasi yang tak mungkin kita lupakan. Membekas sangat dalam dan bisa jadi menggelembungkan harapan-harapan. Bagaimana jika situasi itu adalah bertemu dengan seseorang yang memiliki kepribadian yang cocok dengan kita. Orang yang bisa jadi membuat kita tenang dan lengkap.
Novel ini berkisah tentang dua orang yang dipaksa bertemu oleh tangan-tangan nasib. Delay penerbangan yang seharusnya membawa Vian ke Bangkok dan Medi ke Belanda memaksa mereka bertemu, berbagi nasib, dan saling mengenal satu sama lain. Tak lama pertemuan mereka, namun kesan pertemuan pertama itu terus terkenang hingga tahun-tahun ke depan. Pekerjaanlah yang mempertemukan mereka kembali. Kesempatan saling mengenal lebih jauh terbuka lebar. Komunikasi dijalin, bibit asmara disemai, dan putaran nasib memaksa mereka saling merelakan.
Dengan menceritakan kejadian dari sudut pandang ketiga, penulis mampu memberikan gambaran utuh kejadian dari masing-masing tokoh. Namun itu juga berarti tidak banyak kejutan yang dihadirkan dalam novel setebal 188 halaman ini. Kisah mengalir sangat mulus, tak ada aral melintang dan tak ada jurang menghadang.
Sangat sayang, sitasuasi dan suasana tidak terdeskripsi sempurna. Ketika tokoh dihadapkan pada masalah pelik, deskripsi konflik psikologis yang ditampilkan tidak sanggup mewakili keruwetan permasalahannya. Seting diambil sekian tahun di masa depan. Walaupun flash back, namun tetap saja agak mengganggu, seperti apa rupa bumi, sosial, politik, hukum, budaya, mode, dsb., tidak diceritakan lebih jauh.
Akh, sayang sekali, matahari sudah terlalu lama tergelincir di ujung barat. Langit sudah kelam, dan mendung membayang di ibu kota. Daripada terjebak hujan, lebih baik saya sudahi sedikit summary ini. Selamat membaca.
Dunia paralel, adalah dunia di mana terdapat sosok yang sama namun berada di dunia dan kondisi yang berbeda. Awalnya aku sempat berharap buku ini akan bercerita tentang satu tokoh yang hidup di dua atau beberapa dunia yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ternyata….
Silakan baca. Bagi yang penasaran tentang "dunia paralel" itu seperti apa. Si penulis sangat cerdas menarik ulur cerita yang kadang terlihat kendur. Di dalamnya, alurnya maju mundur. Ini keren. Dijamin. Ini bukan teenlit. Jadi mungkin agak "berat" ceritanya buat readers yang kadar diksinya masih standar. Hehehe... Selamat membaca.