Buku ini berkisah tentang seorang nelayan yang tidak pernah sungguh-sungguh melaut. Nelayan yang lebih menyukai mop ketimbang cap tikus, nelayan yang tak pernah benar-benar memiliki perahu dan ketinting, nelayan yang berkelahi untuk pertama kali saat ia dewasa melawan kawan masa kecilnya, nelayan yang payah dalam urusan cinta dan akhirnya berani memulai bahtera keluarga, nelayan yang tak bisa membedakan boneka seks dan putri duyung, nelayan yang bernama Marlin Darisebrang.
Kalo kata Titah AW “Jika Indonesia adalah buku, maka genrenya adalah realisme magis". Waktu aku baca kalimat itu aku jadi bertanya-tanya, emang iya? Emang yang menarik adalah karya yang kayak gitu? Novel Safar ngebuktiin kalo gak harus kayak gitu.
Baca karya fiksi indonesia, kita bakal nemu yg bikin seru kalo ada ilmu hitamnya (misal: Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga - Erni Aladjai, Tango Sadimin - Ramayda Akmal), ada kemiskinan (misal: Merahnya Merah - Iwan Simatupang, O - Eka Kurniawan), ada perangnya (misal: Dari Hari ke Hari - Mahbub Djunaedi, Jalan Tak Ada Ujung - Mochtar Lubis).
Gimana kalau kita tinggal di daerah yang gak ada ilmu hitamnya, jauh dari masa perang, masih bisa hidup normal-normal aja bosan-bosan aja. Bisa jadi cerita gak ya? Ternyata bisa!
Ada bagian novel ini nunjukin gimana masyarakatnya dihadapi sama ketidakpedulian pemerintah, ngingetin sama novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga. Masyarakatnya yang jauh dari peran pemerintah tapi tetep kena dampak lalu harus inisiatif. Sayangnya Haniyah dan Ala masih harus ngasih kisah hantu-hantuan biar seru, Safar gak perlu itu.
Apa harus nunggu peristiwa “besar” baru novelnya bisa seru? Novel ini realistis dengan cara nunjukin orang-orang punya kecenderungan untuk mengindari konflik. Serta apa yang Titah AW lihat mungkin baru sebagian dari Indonesia (Sapa bilang Indonesia genrenya realisme magis?)
Rispek untuk Anagram yang berani nerbitin novel ini. Apakah Anagram masih punya keberanian yang sama setelah ini?
“Sapa Bilang Pelaut Mata Keranjang” bercerita tentang manusia dan segenap masalahnya di desa kecil bernama Masoni. Mulai dari masalah pelaut malas, kepala desa genit, perampokan warga, keamanan yang selalu dipertanyakan, pengintipan mesum, hingga warga yang ngambek. Novel ini cukup menghibur, meski jahitan beberapa konflik dengan tokoh masih kurang rapi. Ini novel realis yang punya daya kejut aneh.
Oiya. Ada beberapa kesalahan tata letak. Kecil saja, tapi cukup mengganggu.
Novel yang menyenangkan terutama karena ia segar dan tanpa tendensi tetapi bukan berarti tanpa isi. Dalam lakuan-lakuan para karakternya terselip kritik terhadap banyak hal, dari ketidakmerataan pembangunan sampai ketidakdisiplinan aparat.
Hasil bacaan saya yang lebih lengkap tentang novel ini bisa dibaca di cepsubhankmdotcom
"ia memancing ikan tidak untuk dijual, tetapi hanya memenuhi keperluan yang habis di dapur"
Singkatnya novel ini menyajikan cerita dari peristiwa-peristiwa yang dialami warga desa kecil dekat Laut Maluku, Desa Masoni. Mulai dari Mahlin yang malas berlaut, perampokan menghebohkan, curhatan Roni, dan cerita absurd lainnya.
Review ini dimulai dari mengkritisi bagaimana kondisi tanpa alur dan tanpa klimaks dari novel. Kebingungan dirasakan sejak awal yang berpindah-pindah dari satu tokoh dan tokoh lain dan beberapa cerita tidak begitu nyambung sehingga membuat pertanyaan "ini cerita mau di bawa kemana?" Terus juga ada beberapa cerita tokoh yang terlalu mengobjektifikasikan perempuan sehingga dirasa sedikit tidak nyaman dibaca, salah satunya di cerita pesta Roni.
Tapi, di satu sisi keragaman tokoh dengan karakteristik yang khas melahirkan kesan positif. Humoriknya cukup banyak, salah satunya tentang boneka seks itu... wkwkkkk Dengan membawa cerita dari desa kecil dan masyarakat kecil seperti para nelayan ini juga menjadi hal unik mengapa novel SBPMK boleh dicoba baca dan kaji.
This entire review has been hidden because of spoilers.
sebuah bacaan yang beneran asli bisa selesai dalam sekali baca. rating gue ke buku ini bukannya berarti buku ini jelek, cuma memang aliran kisahnya antiklimaks bukan dari segi open ending, lebih ke tipe yg berputar-putar, apakah ini ujungnya. mau ceritain tentang apakah ini kira-kira. oke asik dibaca, tapi sepertinya belum terlalu ‘matang’ untuk jadi 1 buku sendiri, pun dari bab ke bab agak membingungkan konsistensinya
Cerita-cerita sederhana dari kehidupan yang biasa-biasa saja di sebuah desa nelayan kecil di Pulau Masoni yang terletak di antara Laut Banda dan Laut Maluku. Beberapa cerita cukup memancing tawa, misalnya saat kepala sekolah yang tak punya keahlian pengobatan tapi dianggap berilmu diminta mengobati seorang ibu yang kerasukan.
Buku ini bercerita tentang kehidupan masyarakat pesisir dengan segala persoalannnya; rumah tangga keluarga nelayan, kemiskinan dan kemalasan yang saling berkelindan, serta kesewenangan negara yang tidak berpihak terhadap nelayan kecil seperti Marlin dan Roni. Aku suka dengan kelisanan yang kentara dalam gaya penulisannya, dialog-dialog tokohnya yang cair dan bumbu humornya yang jayus tapi cukup lucu.