Kerja di start-up. Langsung muncul bayangan bisa nabung beberapa tahun auto bisa beli rumah, even ambil KPR. Tapi, nggak pernah tebersit kehidupan macam Safira yang gajinya hampir nggak bisa ditabung karena punya tanggungan besar.
Begitu gajian, lima juta melayang buat bayar utang almarhum ayahnya yang gagal mengembangkan bisnis dan terpaksa pinjam ke bank. Dua juta lagi melayang buat uang saku adiknya yang masih kuliah. Sisanya buat nyambung hidup di ibu kota yang serba mahal. Belum lagi kalau mendadak ada keadaan darurat. Ini yang membuat Safira happy-nggak-happy kerja di start-up. Rasanya nggak bisa menikmati hasil kerja keras karena harus menanggung ini dan itu.
Itu pula yang akhirnya bikin dia menelan mentah-mentah omongan Marla, sahabatnya, buat cari calon suami kaya yang bisa berbagi beban. Waktu ketemu calon yang dirasa pas, Safira senang-senang saja. Tapi, niat yang nggak lurus bakal berbuah pahit juga. Kenyataan tetap menghimpitnya. Safira harus berjuang menuntaskan apa yang dia rasa perlu dituntaskan.
Baca ini tuh rasanya relate-nggak relate, tapi ikutan kesel banget. Apalagi pas berita bahagia itu langsung ditumpas sama so called "kebutuhan", kayak, "What's this???" kebayang banget jengkel kayak apaan itu. Yah, namanya juga manusia, berkeluarga, pasti ada lah ya, masa-masa mesti bantu. Lagi pula, keluarga Safira bukannya jenis keluarga aneh yang suka banget bikin tekanan darah naik.
I can't explain more karena bakal spoiler abis, tapi pesan ceritanya tersampaikan dengan baik. Even masih ada gerundelan "tapi, kan", tetap nggak bisa mengubah kenyataan kalau kita dibesarin orang tua pakai uang. Bukan salah siapa-siapa juga misal ada kebutuhan keluarga mendesak dan posisi kita yang ada biaya buat membantu. Yah, intinya, all fair, lah, ya. Perbanyak istigfar sama ikhlas aja. Loh, jadi kajian mendadak wkwk
Aku suka karakter Safira yang nggak terkesan "pick me". Lately, nemu beberapa karakter cewek mandiri or independent woman bisa sat-set ngurus segala hal sendiri dan posisinya "aman", meski ada masalah tetap bisa diatasi, tapi terkesan "aku yang paling oke". Safira punya kekurangan dan kesalahannya itu hal yang wajar kurasa. Manusiawilah, mana pikirannya waktu itu cuma "bebas tanggungan" gitu aja, kan, jadi nggak sempat berpikir panjang. Eh, tapi si cowok asem itu masih pegang porsi kesalahan terbanyak, yah. Oh, nggak, sih, yang salah ya tetap cowok asem. Titik.
Yang lagi cari bacaan realistic fiction nggak berat bisa baca ini. Meskipun judulnya kayak berat banget gitu, ya, tapi nggak seperti dugaan, kok. Every could has a silver lining, right?