Jump to ratings and reviews
Rate this book

Burung Terbang di Kelam Malam

Rate this book
Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.

Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.

Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan yang begitu kental terpadu tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.

374 pages, Paperback

First published February 1, 2014

12 people are currently reading
123 people want to read

About the author

Arafat Nur

21 books80 followers
ARAFAT NUR adalah penulis penting Indonesia yang riwayat kehidupannya sendiri mirip kisah fiksi. Dia tumbuh dan besar di tengah gejolak politik, perang (konflik) panjang yang melanda Aceh yang menyebabkannya beberapa kali hampir terbunuh. Tahun 1999, saat kecamuk perang meningkat, Arafat yang masih remaja diculik sebuah kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata karena menulis puisi dan cerpen. Dua orang meringkus ke tengah hutan, dan di pinggir sebuah sungai dia hendak dibunuh. Jika saja tidak ada pertolongan dari organisasi kemanusiaan yang mengetahui hal itu, mungkin dia tidak sempat menulis novel dan namanya tidak pernah dikenal orang.

Tidak lama setelah terbebas dari penculikan, rumahnya dibakar habis berserta seluruh isinya, menyebabkan dia, ayah, ibu, dan empat adiknya tidak punya lagi tempat tinggal. Ayahnya yang sejak lama jatuh sakit, mengasingkan diri ke kampung asalnya di Ulee Gle. Sedangkan ibunya meninggal dunia dalam keadaan sakit dan kelelahan akibat menghindari perang yang tak ada habisnya. Dalam situasi kacau seperti itu, Arafat bertahan menamatkan SMA, lalu bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri. Beberapa kali dia pernah terperangkap dalam perang terbuka yang hampir membunuhnya. Pada peristiwa lain, dia diancam komandan militer di tengah enam ratusan prajurit bersenjata lengkap akibat tulisannya yang muncul di surat, dan di lain waktu dia dipukuli oknum polisi yang lagi mabuk di Pajak Impres Lhokseumawe.

Seusai perang, tidak lama setelah pemberontak berjabat tangan dengan pemerintah, dalam kehidupan tidak menentu, miskin, dan kurang makan, dia bersikeras menyelesaikan novel Lampuki (Serambi, 2011) yang tiga tahun kemudian selesai. Novel itu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, lalu meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Terbitnya Lampuki menyulut kemarahan pihak tertentu yang menghujat dan mencaci-makinya, mereka melempari rumahnya dengan batu, dan beberapa kali peneror sempat mendobrak pintu rumahnya. Namun, Arafat berhasil melarikan diri sampai kemudian penjahat yang hendak memukulnya itu tidak muncul lagi.

Empat tahun berselang, novelnya Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) terbit, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Berselang setahun, dia menerbitkan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) yang semakin melonjakkan namanya sebagai novelis penting di Tanah Air. Tahun 2016, Arafat kembali memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta melalui novel Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang mendapatkan tanggapan baik dari pembaca, termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai karya-karyanya. Novel terbarunya, Bayang Suram Pelangi direncanakan langsung terbit dalam edisi bahasa Inggris di Amerika.

Pembaca dapat berintereaksi langsung dengannya melaui twetter di @arafat_nur.
Kunjunganilah lampukinovel.blogspot.com/

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
23 (17%)
4 stars
40 (30%)
3 stars
46 (35%)
2 stars
14 (10%)
1 star
7 (5%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 18, 2014
Koyo nglungguhi kloso gumelar, seperti mendapati kasur empuk sedang tergelar kalau mendapatkan hadiah buku yang bagus, macam BURUNG TERBANG DI KELAM MALAM (kita singkat BTdKM) by Arafat Nur. Jujur saya belum baca LAMPUKI (sedih nan menyesal),tetapi novel ini tidak menjadi soal sebagai awalan membaca karya Arafat Nur. Saya termasuk orang yang cerewet dengan sampul, maka sampul BTdKM manis nan lembut dengan dominan warna ungu muda dengan ilustrasi burung-burung yang tidak belebihan tapi asyek.

Aku percaya apa pun pekerjaan yang dilakukan seseorang tertentu pasti mendatangkan manfaat, bentuknya bermcam-macam dan tidak nyata. Tidak mungkin orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan kalau bukan orang tersebut salah urat (h.8)

Fais seorang wartawan dan sedang menyambi menulis novel. Kerja jurnalistiknya terbentur dengan pencalonan Tuan Beransyah menjadi calon kuat walikota. Dan Fais tahu Tuan Beransyah bukan lelaki yang baik, sebagaimana pesona Tuan Beransyah di masyarakat pada umumnya. Tuan Beransyah hobi bermain perempuan. Fais bertemu dengan Kak Aida yang ternyata adalah gundik dari Tuan Beransyah. Entah gundik keberapa? Pada bagian awal, novel ini sangat feminis. Karena mengkritik dengan sadis tentang kekeuasaan laki-laki yang diwakili oleh Tuan Beransyah yang pongah dan arogan terhadap perempuan, macam Kak Aida.

"Baginya, aku inilah hanyalah umpan telurnya. Tapi bagiku, landok (red:lelaki tua lapuk) tua itu tidak lebih dari telur busuk. Cuiih!" (h.12), demikian Kak Aida yang mengata-ngatai suami sirinya, Tuan Beransyah yang sudah bertahun-tahun tidak pulang, kepada Fais.

Feminis juga ditampakkan dari bagaimana penokohan perempuan yang mendahului perkataan laki-laki. Kak Aida yang dikisahkan baru bertemu sekali dengan Fais, justru menerima Fais sebagai tamu dan bercakap-cakap akrab. Apalagi Kak Aida bertanya demikian. Apakah menurutmu aku ini masih cantik?(h.5). (Mungkin ini budaya daerah penulis, kalau di Jawa sangat tidak sopan apabila melakukan demikian). Kalau boleh saya sebut keagresifan seorang perempuan, juga dikisahkan oleh tokoh Safira, kenalan Fais yang baru selama dua bulan (noted: 2 bulan), tetapi saat baru dikunjungi oleh Fais, dia malah bertanya demikian: tentu saja karena aku memikirkanmu! Apakah kamu tidak memikirkanku? Kenapa, sih, pertanyaanmu itu sungguh tidak berperasaan sekali?(h.23)

Apakah sudah sedemikian perempuan punya hak sama dalam mengungkapkan perasaan tanpa malu-malu? Mungkin demikian perempuan yang selalu dibatasi oleh "layak-tidak layak" apabila perempuan mendahului laki-laki dalam berkisah perihal hati.

Rasa pemberontakan akan kungkungan juga dilakukan "perempuan kota itu" terhadap pemakaian hijab. Kebanyakan perempuan tidak benar-benar ingin mengenakan kain tutup kepala, selain hanya oleh rasa terpaksa, terutama gadis-gadis belia yang hanya memakainya waktu bepergian saat mendatangi tempat keramaian, semacam pasar dan kota.(h.22) Safira memakai jins dan kemeja ketat.

Ceritera Fais yang berpetualang hingga bertemu banyak perempuan menjadi catatan tersendiri dalam novel ini. Ternyata Fais juga laki-laki yang bisa dikategorikan sejenis dengan Tuan Beransyah, karena Fais juga suka mempermainkan "telur"-nya di beberapa perempuan di perjalannya. Kak Aida, Nana, Laila, Safira, Diana, yang menaruh rasa pada Fais. Beberapa wanita bahkan sempat ditanami benih Fais.

Sikap agresif yang ditampakkan oleh Aida, Nana, dan beberapa wanita di novel BTdKM ini dijawab oleh penulis dengan klausa yang sangat lucu (bukan dalam arti jelek, tapi lucu satire): Kenapa gadis-gadis yang kugolongkan mudah laku malah terlalu sulit mendapatkan jodoh? Apakah salah satu penyebabnya jumlah laki-laki telah menjadi sedikit akibat terlalu banyak yang mati di pertempuran?(h.108). Jadi perempuan-perempuan yang manis ketika perang berkecamuk di Aceh, ditiduri tentara, dan saat tentara di tarik menyisakan bindam kepada para wanita manis yang menjanda dengan fakta jumlah laki-laki makin menipis. (Sebentar saya tertawa dahulu...)

Mungkin juga secara halus ini adalah sindiran kepada wanita Aceh dan wanita pada umumnya, meski belum bertemu jodoh tetap saja Keep calm and be positive thinking, karena kata Afghan Jodoh Pasti bertemu. (ngelantur)

Lalu bagaimana kelanjutan Fais menulis novel demi membongkar keboborkan Tuan Beransyah yang hendak maju sebagai walikota?

Menggelitik adalah kiritk Arafat Nur terhadap dunia literasi, bahwa banyak orang-orang tidak mengenal novel secara utuh. Kebanyakan mereka menganggap novel sekadar menuliskan cerita cabul yang menghibur. Tetapi Arafat Nur lantas membenturkan kepada fakta bahwa banyak novel yang justru menggugah dunia, Banyak orang terpelajar beranggapan bahwa novel lebih berbahaya daripada senjata. Benda itu dianggap merusak akhlak, meracuni pikiran, dan menjerumuskan anak-anak pada perbuatan maksiat.(h.118) Jedeer! Tentu ingat beberapa novel yang dijadikan rujukan bahkan bahan ajar di berbagai universitas, sekadar menyebut judul Para Priyayi by Umar Kayam, Tetralogi Pulau Buru by Pramoedya Ananta Toer, Atheis by Achdiat K Mihardja, dll. Sooo tetap ada bacaan sampah dan ada bacaan menggugah, termasuk itu jenis novel.

Pertanyaan besar tentang kisah Tuan Beransyah yang hendak ditulis Fais dan perjalanan Fais adalah; sebenarnya siapa yang suka memamerkan "telur"-nya kepada kaum hawa? Tuan Beransyah atau Fais? Karena semakin ke depan Fais juga menunjukkan perangai bahwa dialah "Tuan Beransyah" dalam novel BTdKM ini. Fais juga lelaki muda 28 tahun yang suka bermain kelamin dengan wanita-wanita, istri dan gundik Tuan Beransyah, Diana tetangganya... So apa bedanya?

Nasib Fais, yang hampir mengubah fokus cerita, hanya mengupas kehidupan Fais dan asmara yang rumit. Banyak gadis terpesona pada Fais dan ditidurinya. Ini melenakan atas kisah Tuan Beransyah yang menjadi titik mula novel BTdKM ini. Tetapi justru ini menjadi belokan yang disimpulkan di akhir.

Aku kurang suka novel BTdKM ini mengupas banyak masalah politik. Jadi bisa kusimpulkans ecara kasar kisah Tuan Beransyah hanya simbolik untuk kisah Fais yang tidak jauh-jauh dari "menjatuhkan telur" di tubuh banyak wanita.

Ekpektasi saya di awal novel BTdKM ini akan diakhiri dengan kehadiran Arafat Nur, atas novel yang sudah rampung ditulis Fais. Jadi dalam benakku endingny bakal novel BTdKM adalah hasil tulisan Fais. Jadi garis semu akan sirna. Ternyata endingnya adalah twist! Meski agak kasar. Kusangka Safira adalah gundik Tuan Beransyah, ternyata....??? (Baca sendiri!)

Secara keseluruhan novel ini sangat asyik dibaca, seperti sedang mendengar seorang pencerita berkisah dengan teratur dan runut. Ada beberapa hal yang unik dari novel ini, selain cover yang patut diacungi jempol:
1. Saya tertarik dari judul-judul bab dari novel ini. Berupa kalimat yang merdu dilafazkan dan sangat mirip dengan peribahasa. Coba tengok:
2. Aku Ingin Kamu Menuliskan Ciumanku Ini Dalam Novelmu Itu.
10. Sebelum Berpisah, Bolehkah Aku Menciummu?
18. Nanti, Sesudahnya, Kamu Bisa Mandi Sekalian!
dll... seru abis
2. POV "aku" menjadi sangat hidup bahkan terkesan jangan-jangan ini tulisan adalah pendapat Arafat Nur, bukan pendapat tokoh Fais.
3. Meski tokoh utama Fais, tetapi bejibun nama-nama perempuan justru menjadi cerita dari b>BTdKM.
4. Twist endingnya agak kasar, tapi bikin bilang "wow!"
5. Yang patut diacungi jempol adalah cara tutur Arafat Nur yang mengalir saja. Tidak butuh liukan-liukan dalam berbahasa. Mengalir tenang sampai selesai. Benar-benar bercerita.

Hormat grak!
Profile Image for Leni.
31 reviews2 followers
July 28, 2016
selain mengandung satir di setiap kalimatnya, saya juga menyukai jalan ceritanya yang tak tertebak. meski di sisi lain saya pun bertanya-tanya, apa pasal yang dimilili Fais sehingga dia 'menang banyak' atas setiap perempuan yang ditemuinya?
Profile Image for Linda Satibi.
38 reviews39 followers
April 21, 2014
Kiriman buku tiba dari Bentang. Taraa.. sebuah novel fiksi berjudul Burung Terbang di Kelam Malam karya Arafat Nur. Mata saya berbinar dengan reward kali ini. Karena saya kira, nama Arafat Nur sudah merupakan jaminan karya yang bagus. Padahal saya belum pernah baca novelnya sih.. hanya yang saya tahu, dia itu yang menang di DKJ dan menyabet KLA juga.

Saya buka halaman awal, oh.. lembar endors. Halaman berikut, oh masih lembar endors. Halaman berikutnya, masih lembar endors juga! Total ada 26 orang yang memberikan testimoni untuk novel ini. Mereka orang-orang ternama di dunia sastra. Hadeuh.. agak berkurang antusias saya jadinya. Maaf saja, saya tidak begitu suka dengan novel yang ramai endors.

Tapi sudahlah, saya pun mulai membuka halaman berikut, yang berisi daftar isi. Saya baca, judulnya panjang-panjang. Ini mengingatkan pada kawan baik saya, seorang penulis bernama Arul Chandrana yang imajinasinya meledak-ledak. Dia juga gemar menulis judul dengan kalimat panjang dan aneh. Eh, tapi kok.. Arafat Nur ini pilihan bahasanya begitu ya? pikir saya. Engh.. saya agak risih membacanya. Ah, sudahlah (lagi).. mungkin ini hanya sensasi judul. Saya pun lanjut membaca isi novel ini.

Lembar demi lembar saya nikmati... hmm.. ini bukan jenis novel yang biasa, dengan gaya populer atau romantis yang manis. Kalimat-kalimat dalam novel ini terasa kaku, tapi bukan kaku yang tidak menyenangkan. Terkadang saya merasa seperti sedang membaca karya sastra lama, jaman pujangga baru.. :) Alih-alih merasa bosan dengan gaya bahasa begitu, saya malah terseret untuk terus melanjutkan membaca kisah ini.

Jadi kisahnya tentang apa? Tokoh utamanya seorang pemuda tampan rupawan bernama Fais. Dia wartawan dan sedang mencoba untuk menulis novel. Karena wajahnya itu, gadis-gadis cantik jelita demikian mudahnya bertekuk lutut. Namun Fais ini bukan tipe play boy juga, malah dia cuek dan nggak pernah tebar pesona.

Novel yang akan ditulisnya adalah tentang Tuan Beransyah, seorang tokoh pengusaha sukses yang licik, dan sedang mencoba peruntungan di dunia politik. Ia mencalonkan diri menjadi walikota. Pencitraan dirinya boleh dibilang gemilang. Dia seakan seorang yang alim dan dermawan. Fais benci bukan kepalang kepada Tuan Beransyah. Ia bertekad untuk mengurai kebusukannya melalui novel yang akan ditulisnya itu. Kesukaan Tuan Beransyah menambah istri, akan dibongkarnya. Sebab Tuan Beransyah selalu pandai berkelit dari dugaan bahwa dirinya tukang kawin.

Fais pun memulai petualangannya dengan menelusuri alamat-alamat tempat tinggal bini-bini simpanan Tuan Beransyah. Dalam perjalanan itulah, aneka rupa masalah dijumpainya. Bini-bini Tuan Beransyah itu beragam. Ada yang muda belia, ada yang usia pertengahan, ada yang menuju paruh baya, ada pula yang memang sudah tua. Untuk yang muda dan jenjang 30-an, mereka semua cantik-cantik. Dan dengan daya pikat yang dimilikinya, Fais dengan mudah mendapatkan bahan catatan untuk keperluan novelnya.

Interaksinya dengan beraneka perempuan itu, membuat Fais gamang pada perasaannya sendiri. Sesungguhnya ia sudah punya teman dekat yang serupa kekasih, bernama Safira. Tapi ia bingung dengan kondisi dirinya yang masih merasa belum bisa untuk terikat dalam satu hubungan. Dan kelanjutan kisahnya, bisa kalian baca sendiri nanti, bila sudah membeli novel ini.

Lalu, apakah novel ini menarik? Bagi saya, iya. Tokoh utamanya, meski saya sedikit sebal dengan tampangnya yang menawan, tapi ia benar-benar merefleksikan burung terbang di kelam malam. Ia melayang tak paham arah, sekelilingnya gelap sekelam malam. Meski sesungguhnya ia punya sayap yang kuat. Hanya saja ia tak berinduk tak bersemang. Seringkali langkahnya oleng. Namun di kali lain ia khusyuk menegakkan sholat.

Karakter Fais cukup ajeg sepanjang cerita. Ia seorang peragu, acuh tak acuh pada lingkungan tetangganya, dan hasratnya mudah tergoda. Deskripsi karakter tersampaikan lewat gerak-gerik, keputusan yang diambil, dialog, serta penuturannya sendiri. Untuk bagian terakhir itu, saya kadang merasa bosan karena beberapa kali Fais mengulangnya.

Tuan Beransyah sendiri muncul hanya sedikit sekali. Padahal boleh dibilang ia tokoh yang menghidupi kisah ini. Karakternya bisa ditangkap pembaca melalui dialog tokoh-tokoh lain, konflik yang dialami tokoh pendukung, dan melalui deskripsi suasana yang terjadi.
Penulis kisah ini mahir menggambarkan pribadi Tuan Beransyah tanpa harus memunculkannya sering-sering.

Karakter tokoh-tokoh lain tidak terlalu rumit. Mereka seputar istri-istri simpanan Tuan Beransyah dan orang-orang di sekitar Fais yang tidak banyak, mengingat interaksi sosial Fais yang minim.

Sekarang tentang bahasa yang mengalun di sekujur kisah. Ini bukan bahasa Melayu ala Andrea Hirata yang mendayu, merdu merayu. Ternyata begini rupa orang Aceh bila menyulam kata. Sedehana, tegas, dan lugas. Kesederhanaannya itu terkadang menerbitkan senyum. Di lain waktu ia menggiriskan hati.

Namun entah merupakan balas dendam atas Jawa yang bahasanya kerap digunakan bak bahasa nasional, yang dipahami seluruh warga negara, dalam novel ini Arafat Nur menyisipkan beberapa bahasa Aceh yang seolah bahasa tersebut sudah selayaknya kami pahami. Pada kenyataannya, kami yang bukan orang Aceh harus menerka-nerka maksud kata-kata itu, semisal: pesong dan kereta.

Membaca novel ini, jangan berharap ada diksi yang memukau dengan sulaman kata-kata indah. Jangan pula mencari quote-quote yang cetar menggelegar. Tidak akan ketemu. Kalimat-kalimat dalam novel ini sungguh sederhana, apa adanya. Penulisnya tidak berusaha menarik-narik perhatian pembaca dengan meliuk-liukkan kata. Tapi dalam kepolosannya itu, kesan yang tercipta sungguh mendalam.

Lalu tentang setting tempat. Aceh. Pembaca diajak menyelami Aceh pasca perang. Deskripsi mengurai detil. Membuat hati pilu mengingat saudara sebangsa yang mengalami penderitaan begitu rupa, akibat konflik berkepanjangan.

Di luar sana, masih tampak jelas gambaran suram masa lalu yang terus membayangi sampai sekarang, yang entah berakhir sampai kapan. Terlihat puing-puing sejumlah bangunan yang rusak dan dibakar semasa perang dulu. Kendaraan-kendaraan rusak parah akibat kena hantam pelontar roket pemberontak yang dulu kerap mengadang pasukan-pasukan kecil pemerintah di jalan-jalan sepi sewaktu perang tengah gencar-gencarnya melanda. (halaman 46).

Tidak hanya gambaran kerusakan fisik, namun kondisi psikologis masyarakat yang kemudian banyak mengalami perubahan. Gadis-gadis kecil yang kehilangan kakak-kakak lelakinya, para pemuda yang tewas. Tak terhitung juga perempuan-perempuan yang menjadi janda mendadak tersebab suaminya hilang lalu ditemukan terbujur berkalang tanah. Para orangtua yang ditinggal pergi anak-anaknya. Dan rupa-rupa kehilangan lainnya. Perubahan ini mengakibatkan pergeseran perilaku.

Aceh yang terkenal sebagai serambi Mekah, ternyata memiliki banyak borok. Pergaulan bebas anak muda tidak kalah mengerikan dengan yang terjadi di ibukota. Demikian pun tingkat kriminal lainnya.

Aroma kritik sosial memang menguar tajam dari novel ini. Pemerintahan yang korup, politik yang kotor, penyedotan sumber kekayaan daerah, dan kondisi sosial masyarakat yang carut marut, mendapat sorotan tajam.

Kota kecil ini memang menyedihkan. Semakin hari tambah terpuruk ditinggalkan para penghuni yang pergi dan mati. Semasa perang dulu, terlalu banyak orang mati dan dibantai. Orang-orang Jawi yang terkenal rajin menggarap ladang di wilayah-wilayah pedalaman terpaksa meninggalkan rumah dan kebunnya karena terusir oleh pemberontak yang muak terhadap raut wajah mereka yang berhidung pesek. (halaman 163)

Bahkan tanpa tedeng aling-aling, dinyatakan kegeramannya kepada salah seorang presiden negeri ini.

Dia memerhatikan aku lagi, sikapnya seperti seorang penguasa besar. Aku jadi ingat presiden perempuan negeri ini yang memerintahkan membunuh orang Aceh kali kedua, setelah presiden sebelumnya yang bermata sipit dijatuhkan. Kira-kira begitulah lagak perempuan ini ketika berhadapan denganku. (halaman 170)

Meski novel ini mengungkap sisi gelap hiruk-pikuk politik, namun bukan berarti ia novel yang membuat kening berkerut. Bahasanya cukup ringan mengalir, dengan dibumbui gaya jenaka pada beberapa bagiannya.

Dibeberkan juga kehidupan seorang wartawan dengan dunia pers yang tidak jauh dari cipratan lumpur politik. Pers yang dimanfaatkan oleh tokoh politik merupakan kerjasama kemunafikan yang serasi. Sungguh memuakkan. Namun para kuli tinta itu tak berdaya, rupiah memang memiliki daya magis yang manis.

Lalu, bagaimana dengan kisah romansa dalam novel ini? Saya merasakan hanyut pada bagian menjelang akhir. Karena memang alur sejak awal terasa lambat, kejutan-kejutan menghentak lebih terasa saat mendekati ending. Saya betul-betul merasakan merindunya Fais kepada Shafira, situasi yang rumit di antara mereka, rasa takut kehilangan yang mencekam, hingga genangan di pelupuk meluruh membasahi pipi saya.

Lantas adakah yang mengganjal dari novel ini? Yup! Seperti yang saya sebutkan di awal, tentang risihnya saya membaca judul-judul bab, demikian pula rasa risih itu terus berlanjut saat saya tenggelam dalam isi kisah ini. Penulis tidak sungkan mengungkapkan hal-hal yang mengarah ke adegan dewasa. Sepintas terkesan vulgar. Kalaupun ada yang tersirat halus, pembaca dewasa tentu bisa menangkap jelas maksudnya. Maka, meski sejujurnya saya merasa tidak nyaman, saya menikmati saja sisi lain dari kisah ini. Konon dalam karya sastra, memang disediakan ruang untuk bereksplorasi di wilayah aktivitas ‘begituan’. Dan, dalam hal Fais ini, mungkin penulis ingin menyampaikan bahwa Fais memang doyan ‘begituan’, namun pada satu titik kemudian, cinta sejati lah yang menempati seluruh ruang hati. Maka kontradiksi tersebut diperlukan untuk dramatisasi kisah, dan semacam pelajaran kepada pembaca, betapa cinta terlarang tidak akan membuat jiwa menjadi tenang.

Oh ya, yang menarik juga dari novel ini adalah endingnya. Saya membaca novel ini benar-benar menikmatinya dengan menyerahkan diri ke dalam cerita, tanpa mereka-reka apakah si ini akan menjadi begitu atau si itu ternyata begini. Saya hanyutkan diri begitu saja. Sehingga tiba pada ending, saya benar-benar merasakan asyiknya terbelalak, menahan napas sejenak, dan bergumam ‘wow’...

http://perpustakaan-linda.blogspot.co...
Profile Image for Haditha.
Author 13 books21 followers
January 19, 2017
jiah..... petualangan Fais dalam menggali cerita dari narasumber (para istri simpanan) Tuan Beransyah, yang kadang banyak membuatnya terlibat dalam percintaan terlarang, ena-ena tapi bikin mikir dosa, berakhir dengan ending yang mengejutkan..... dari sial lalu lega lalu syok!
baca aja... haha

penulisannya rapih, luwes, sopan, teratur, enak dibaca.
Profile Image for Dyah Atmaningrum.
5 reviews1 follower
September 10, 2014
awalnya membosankan karena datar saja dan terdapat repetisi tapi begitu di tengah cerita menjadi menarik karena bisa mengetahui sudut pandang seorang pria dalam menjalani kemelut hidup
Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
April 23, 2018
Bercerita tentang Fais, wartawan Warta di Aceh pasca perang. Menggunakan sudut pandang aku (Fais) dengan berlembar-lembar testimoni berisi pujian yang justru mengganggu mood di awal.

Selera saya rupanya berbanding terbalik dengan para pemberi testimoni. Cara bertutur penulis membosankan. Datar. Jangankan 'gelombang', 'riak-riak kecil' saja tak terasa. Bahkan sampai ending yang dibuat tak terduga, sama sekali tak mengejutkan. Saya seperti membaca diary yang berisi pikiran negatif tokoh aku terhadap segala hal. Bukan sindiran halus, tapi justru blak-blakan. Belum lagi detail-detail yang tidak perlu. Seperti bangun tidur, kumur-kumur, gosok gigi, mandi, nyapu dan tetek bengek tak penting lainnya.

Yang paling tidak saya sukai adalah begitu mudahnya para tokoh wanita (kecuali yang tidak cantik, sudah tua, atau kurang waras) jatuh hati pada tokoh Fais. Dan sebagian besar tak segan-segan membuka selangkangannya meski baru kenal. Walaupun digambarkan sebagai lelaki tampan, saya sama sekali tak merasakan aura itu. Menurut saya dia tak lebih dari lelaki lembek, plin plan, munafik, dan pengecut.
Profile Image for Shelin.
69 reviews
August 9, 2021
Tidak sebagus buku Arafat Nur yang lain. Ceritanya terasa datar, dan lebih banyak berkutat pada hubungan terlarang Fais dengan para wanita. Terlalu banyak pengulangan dan beberapa penjelasan yang panjang terasa membosankan, mungkin karena saya sudah mengetahui penjelasan tersebut dari buku-buki Arafat Nur yang lain. Tokoh Fais ini punya karakter yang sebetulnya menjengkelkan. Selalu berusaha di bingkai sebagai tokoh baik walau banyak kelakuan buruk yg dia lakukan. Konflik yang muncul di akhir sepertinya tidak bisa membayar kebosanan dari awal.
Profile Image for Sarah Reza.
235 reviews3 followers
September 7, 2022
Ceritanya datar dan mungkin bagi sebagian orang terkesan membosankan. Makin ke tengah cerita, malah saya dibuat kaget. Sosok Fais tak ada bedanya dengan sosok Tuan Beransyah. Awalnya saya bingung dengan burung terbang di kelam malam itu apa. Tetapi, akhirnya saya tau. Sedikit ada kejutan (mungkin) di akhir cerita.
Profile Image for Putri Sipayung.
34 reviews
January 24, 2021
Yaa, akhirnya selesai ya 😁
Awalnya aku kira "burung" di sini adalah sosok Tuan Beransyah yang mempunyai simpanan di mana-mana, tetapi. Itu di luar dugaanku, bahkan endingnya juga but terkejut batin 🤭
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
December 21, 2015
Novel yang menyuguhkan cerita dari sudut pandang orang pertama—aku, yang adalah Fais, seorang wartawan yang tinggal di kota Lamlhok—ini bercerita tentang petualangan si “aku”, bertolak dari kota Panton, hingga Langsa. Untuk apa? Tak lain adalah untuk menemui para “perempuan peliharaan” Tuan Beransyah, kandidat kuat walikota Lamlhok yang dielu-elukan semua orang. Di balik citra kelakuan alim dan murah-hatinya, Fais tahu bahwa lelaki tua itu tak lebih daripada seorang landok[1] yang kaya raya dan punya banyak istri, hingga mencapai belasan. Bahkan, ada desas desus bahwa kekayaannya diperoleh dari berdagang ganja, yang memang tumbuh subur di tanah Aceh.

Sebagai seorang wartawan yang tidak benar-benar bersih—seperti para wartawan lain di Aceh—Fais selalu merasa berdosa ketika diminta Tuan Beransyah menuliskan hal-hal yang baik tentangnya. Mau tidak mau, Fais melakukannya karena sedang dalam kondisi ekonomi yang gersang. Di balik tulisannya yang memuja Tuan Beransyah, Fais memulai sebuah proyek penulisan novel yang berdasarkan kisah nyata tentang perjalanannya menemui para istri Tuan Beransyah.

Kebanyakan wanita yang ia temui itu mengungkapkan kekesalannya akan Tuan Beransyah, lantaran tidak merasa diperlakukan sebagai istri yang selayaknya. Lelaki tua itu jarang sekali menemui mereka, sekalinya mampir ke rumah hanya untuk memuaskan nafsunya. Anehnya, ada seorang istrinya yang malah mendukung kelakuan Tuan Beransyah. Beragam sifat dan latar belakang wanita ditemui Fais, mulai dari yang cara bicaranya kasar, seorang pelacur, yang masih muda dan cantik, hingga yang sudah tua. Selama perjalanan itu, Fais tidak luput menuliskan semua pengalamannya pada sebuah buku catatan, untuk bahan menulis novel nanti.

Awalnya, Fais murni melakukan perjalanan itu untuk mencari tahu tentang keberadaan istri-istri Tuan Beransyah. Untuk mengungkap segala borok pria itu. Namun, petualangannya berubah menjadi petualangan liar yang berakhir di ranjang para wanita itu.

Selanjutnya, baca di sini: http://kimfricung.blogspot.co.id/2014...
Profile Image for Dini Maulidya.
18 reviews1 follower
October 15, 2016
Dari segi cerita, jujur kurang menarik menurutku. Di awal cerita oke lah menceritakan kebusukan seorang calon penjabat, banyak kalimat satir yang menyatakan soal kepribadian orang-orang pada jaman itu yang masih diimplementasikan pada masa sekarang. Mulai pertengahan di mana konflik mulai muncul dan akhirnya sampai pada peredaan konflik, saat itu aku nggak merasakan ada sesuatu yang impressive. Walaupun begitu, bagaimana cara penulis menceritakan novel ini membuat kesan seolah-olah kisah tersebut benar-benar terjadi. Itu point menarik untuk segi cerita buatku.

Selain itu dari segi bahasa nyaman sekali untuk dibaca. Sangat kompleks, memakai tata bahasa yang baik, kosakatanya luas, banyak kalimat dan istilah-istilah yang bisa menjadi referensi untuk memperbaiki tulisanku yang masih terlalu ‘naif’. Alur cerita digambarkan dengan rinci sehingga aku dapat menggambarkannya dengan jelas di kepalaku. Memang tipe penulis yang gemar membaca sastra asing. Karna rata-rata sastra asing lah yang menjelaskan alur cerita dengan sangat rinci dan pemakaian katanya pas.

Berkat novel ini, aku jadi merasakan membaca sebuah sastra yang bernilai tinggi karna biasanya untuk sastra Indo aku selalu memilih genre khusus teen atau young adult yang sampai sekarang tidak pernah kusentuh lagi.
Profile Image for Rusyda  Fauzana.
20 reviews6 followers
May 9, 2014
Saya berharap novelnya bagus. Menurut saya membaca buku ini agak membosankan. Saya nggak melihat kebaruan. Ini terlihat dari cara penyajian alur dan cerita yang nggak terlalu berkembang.

Berkali-kali si tokoh utama menegaskan bahwa novel itu bukan bacaan cabul pada banyak informannya. Tetapi, yang disajikan oleh penulis justru bacaan yang mengarah ke sana. Ini bisa dilihat dari judul di tiap bab-nya. Tampaknya, masih percaya dan sepertinya mempertahakan imej seks itu menjual. Ironis sekali bukan?

Walaupu demikian, saya melihat novel ini memberikan realitas yang tak terbantahkan, walaupun pahit, seperti wartawan bodrex yang menjadi ciri kemiskinan sebuah perusahaan media. Ataupun fakta-fakta sosial yang membuat orang jadi tak berdaya hingga hilang prinsip hidup. Kesimpulan saya, kemiskinan dan kurang iman itu bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

Banyak yang bilang, novel Lampuki karangan Arafat Nur yg sebelumnya bagus. Saya jadi ingin tahu seperti apa, mudah-mudahan lebih bagus daripada novel yang ini.
Profile Image for Reza N Sanusi.
73 reviews19 followers
April 27, 2014
Definisi bagus setiap orang mungkin memang tak pernah sama. Novel ini masuk kategori pemenang lomba Novel.. tapi untuk memasukkannya bagus berdasarkan definisi saya, terasa berat... Menurut saya Novel yg bagus dimulai dengan membangun karakter utama yang kuat... dengan begitu ketika saya mengakhiri membaca novelnya saya masih bisa mengingat si tokoh. Novel ini cuma bisa membuat saya mengingat bahwa si tokoh utama tampan... dan (sepertinya) sadar kalau dirinya tampan, sangat mengganggu. Alurnya datar, saya menanti konflik, menanti klimaks, kemudian antiklimaks tapi ibarat sedang berjalan. Saya seperti sedang berjalan di jalan beraspal mulus lurus... tiba-tiba sampai di ujung jalan. Tak perlu takut ada lubang yang akan mengejutkan saya atau persimpangan yg membuat saya kebingungan. Yah! semoga saya keliru menilai.. tapi buku soal selera kan yah :)
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
September 21, 2015
Membaca buku ini bagi saya menjadi sedikit membosankan di awal karena alur cerita yang lambat dan hampir tidak tahu kapan konfliknya akan dimulai, barulah di 5 bab terakhir mulai terasa konflik yang akan dijelang meski endingnya tidak terlalu mengejutkan saya. Tetapi dengan cara bercerita penulis yang seperti ini saya rasa memang menjadi ciri khas yang perlu untuk dipertahankan dalam karya-karya berikutnya mengingat ini adalah karya beliau pertama yang saya baca. Lampuki sendiri sudah menunggu untuk dibaca. Saya tidak tahu dengan Lampuki yang menjadi pemenang dalam sayembara novel DKJ itu akan bagaimana, tetapi saya selalu berharap yang terbaik. Petualangan membaca setiap orang tentu berbeda-beda. Dalam halnya dengan buku ini, saya pikir tiga bintang sudah cukup. Sebuah usaha untuk mengukuhkan cara bercerita dari seorang penulis dari negeri yang jauh di ujung Indonesia. Selamat!
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
January 20, 2017
Aku kasih 3.5 bintang.
Ini buku #JumatKePerpustakaan jilid 9.
Sebenernya udah lama mau pinjem buku ini, tapi baru ketemu jumat lalu.
Kayaknya ada yang pindahin buku ini di perpus karena udah berminggu-minggu aku cari di rak awal aku liat buku ini, nggak pernah ada.
Lepas dari perjuanganku menemukan kembali buku ini, ini bacaan yang "worth waiting and reading" alias bagus.

Ceritanya ditulis detail banget menurutku sampai seringnya bikin aku bosen saking tebelnya ahahaha.
Mungkin bisa dipangkas beberapa halaman karena menurutku kisah Fais ini kok lama banget dan kesannya jadi bertele-tele.
Yaaa anggap aja aku orangnya nggak cukup sabaran dan gampang bosen hehe.

Deskripsi soal profesi wartawan dan pemerintahan di Indonesia jleb banget :))
Dan sebagai mantan wartawan, aku setuju :p
Profile Image for Nurul Inayah.
118 reviews12 followers
November 12, 2014
Soal selera sih,,,dan ini bukan selera saya. Susah payah ngeberesin baca. Cuma 1 bintang saya beri, itu untuk setting dan tema yang berbeda...Aceh pasca perang. Lainnya,,,hhmmm...biasa banget. Cara penuturan bahasanya seperti orang nulis diary tapi datar. Penulis cerita sendiri, tanpa peduli pembaca menyelami apa enggak. Flat...tak ada yang mengejutkan dari awal hingga akhir.
4 reviews1 follower
January 25, 2017
Ini novel ringan kelas dinggi. Yg gak kebuka pikirannya jangan baca deh. Novel yg punya makna ganda dari berbagai segi filosofi, politik, sosial, agama, yg dimuat begitu enteng. Kalau salah paham bisa menganggap nonel ini buruk. Tapi bagi yg mau bacaan segar baru dan beda, bgi mereka yg pikiran maju, cocoklah santap novel ini. Novel ini aku banget. Dan, satirnya, Man, khas Arafat Nur banget!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Marissa SF.
172 reviews4 followers
April 13, 2016
Baca novel ini tapi pikirannya malah berkelana ke seri ketiga Beyonders Brandon Mull. Karena memang dari awal random ngambil dari rak buku, saya pikir baca genre lain ah buat selingan sebentar dan ternyata gagal menikmati cerita.
Profile Image for Aqyas Dini.
27 reviews
July 21, 2016
Bahasanya cukup ringan. Agaknya tokoh utama adalah sosok yang over-thinking, karena buku ini berisi lebih banyak isi pikirannya daripada dialognya dengan orang lain atau kejadian yang dialaminya.

Seperti membaca kritik sosial yang penuh bumbu cinta.
Profile Image for Bai Ruindra.
42 reviews1 follower
Read
June 11, 2014
Banyak penulis hebat lahir bukan dari tulisan "cabul". Saya rasa, buku ini tidak baik untuk emosi saya saat ini.
Profile Image for Nina Savitri.
88 reviews2 followers
April 1, 2017
arafat menyajikan dengan apik bagaimana potret kehidupan orang orang aceh pasca tsunami dan segala problemnya yg terjadi di pemerintah kotanya. tak lupa dibalut dengan cinta segi banyak yg makin menyeret fais, tokoh utama buku ini memahami bahwa dunia ini tak seindah dan tak selebar kelihatannya.
Displaying 1 - 27 of 27 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.