Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seruak

Rate this book
Mau tidak mau, Bonie harus berurusan dengan teman-teman barunya di Desa Angsawengi. Macam-macam pribadi, dari anak yang sangat menyenangkan sampai yang selalu menyebalkan, berinteraksi di rumah yang sama, karena kelompok mahasiswa ini sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Di kelompok anak muda ini hadir Arbil Radeagati—seorang aktor muda yang bermaksud melarikan diri dari tekanan keluarganya, penyakit yang menggerogoti jiwanya. Dan ada pula Mada Giorafsan, sahabat masa kecilnya yang mengetahui betapa Bonie tumbuh dari masa lalu yang gelap dan menjijikkan.

Pada awalnya, hubungan di antara kesebelas pribadi ini hanya seputar program kerja di desa serta perkembangan chemistry yang bercabang jadi persahabatan dan permusuhan. Namun, nyatanya Desa Angsawengi terlalu terkonsep. Ada orang-orang yang sengaja menakut-nakuti mereka, sistem kehidupan di sana lama-lama jadi mencekam jiwa Bonie dan kawan-kawan. Tidak ada remaja yang tinggal di sana, malah ada kawanan anjing besar yang sering kali muncul bersama anak kecil berkepala botak, ada pula pria misterius yang selalu mengganggu dengan mesin pemotong rumputnya. Anak-anak ini terus diteror oleh penguakan rahasia yang menggiring mereka ke misteri yang nyatanya melibatkan pribadi Bonie.

440 pages, Paperback

First published February 24, 2014

23 people are currently reading
105 people want to read

About the author

Vinca Callista

14 books52 followers
Published Novels:

1. Sang Panglima Laskar Onyx (fantasylit, GagasMedia 2007)

2. Semburat Senyum Sore (teenlit, Grasindo 2011)

3. Lima Mata Manusia (short stories, nulisbuku.com 2011)

4. Dunsa (fantasylit, Atria 2011)

5. SERUAK (psychothriller novel, Grasindo 2014)

6. Nyawa (psychothriller novel, Bentang Pustaka 2015)

7. Kilah (psychothriller novel, Grasindo 2015)

8. Daddy's Little Girl (psychothriller novel, coming soon)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
21 (15%)
4 stars
47 (35%)
3 stars
41 (31%)
2 stars
17 (12%)
1 star
6 (4%)
Displaying 1 - 30 of 43 reviews
Profile Image for Utha.
824 reviews401 followers
December 8, 2015
Untuk novel thriller rasanya nggak page turner dan "kegendutan". Berbelit, sayap di mana-mana. Biasanya novel dengan balutan kampus selalu appealing buat gue, tapi ini nay.

Belum lagi narasinya yang panjang-panjang. Eh, tadi udah bilang sih ya kalau berbelit...

Sampai di tengah cerita, gue nggak dapet ketegangannya. Melempem. Tapi ya di akhir cukup menyenangkan. Karakter novel ini juga konsisten dan terjaga.

Semoga penulis terus berkarya.

Makasih iJak udah boleh pinjem buku ini. Penasaran dari dulu sebenernya... :))
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 17 books93 followers
August 3, 2016
Well, akhirnya saya menyelesaikan novel setebal 440 halaman ini dalam jangka waktu satu minggu. Ini bisa dibilang waktu tercepat, dibandingkan dengan Amba yang saya baca dua minggu lebih dan Cantik Itu Luka, yang bahkan sampai sekarang belum sempat saya selesaikan. Lagipula, Seruak ini dipastikan bisa selesai lebih cepat jika saya tidak terlalu mengantuk pada bab awal buku, yang begitu banyak cerita berliku dan narasi njelimet. Saya agak tidak begitu suka pada novel yang terlalu banyak narasi, apalagi menggurui. Tapi, keseluruhan novel ini berhasil membuat saya berdecak gembira, dan berteriak, AWESOME! Nah, kalau se-awesome ini, pasti kalian bertanya-tanya kan, mengapa saya hanya memberi novel ini empat bintang saja?

Mari kita mulai dari sini...

Novel ini bercerita tentang kegiatan KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), yang dilakukan oleh sepuluh orang mahasiswa dari Universitas Palagan. Mereka kedapatan giliran untuk memberikan kontribusi pada sebuah desa yang jauuuuh sekali dari Bandung, bernama Desa Angsawengi dengan tiga dusun yang ada di dalamnya. Desa ini bisa dibilang tidak cukup populer, apalagi di kalangan mahasiswa. Maka, informasi yang ada tentang desa ini, sangatlah minim. Hal inilah yang membuat Faye--salah satu mahasiswa di dalam kelompok--banyak mempertanyakan tentang desa yang makin lama makin aneh ini.

Percayakan kalian pada teori the butterfly effect? Dewi Lestari alias Dee, sering mengulasnya di beberapa bukunya. Ia berpendapat bahwa, "Kepak sayap kupu-kupu pun kemungkinan akan menyebabkan badai di belahan bumi yang lain." Dan hal inilah yang berulang kali ingin ditunjukkan Vinca Callista dalam novel ini. Setiap manusia melakukan kegiatan alam sadar mereka dengan teratur. Meski begitu, alam bawah sadar mereka pun dapat mengontrol diri manusia, menjadi manusia lain yang membentuk pribadi baru. Hal ini juga dikarenakan, setiap manusia menjadi diri mereka sekarang karena pengaruh masa lalu. Ada orang yang jadi pembunuh dan psikopat, karena masa lalu mereka yang menyebabkan hal itu. Ada pula orang yang menjadi pendiam, karena rasa trauma masa lalu. Dan hal inilah yang benar-benar ditunjukkan oleh penulis, dari bab ke bab. Semua mahasiswa yang berada di dalam kelompok KKNM ini, rupanya saling terkait. Ada Mada, Arbil, Nina, Jiana, Faye, Chamae, India, Yanto, Fabyan dan Lula. Bukan kebetulan, kalau mereka ditempatkan dalam satu kelompok yang sama. Rupanya, ada satu hal yang membuat keterikatan mereka menjadi baik, atau menjadi buruk. Masing-masing orang memiliki masa lalu, dan masa lalu itu terkait dengan masa lalu orang lainnya, sehingga membentuk pribadi mereka saat ini.

Uniknya, mengapa novel ini disebut psychothriller? Dari awal cerita, saya tidak menangkap perilaku menyimpang dari orang-orang di dalam cerita. Namun, menuju ke bagian tengah novel, saya mulai menemukan penyimpangan dari masing-masing tokoh. Selain masa lalu yang terkait, rupanya masing-masing tokoh memiliki perilaku menyimpang mereka masing-masing. Perilaku inilah yang merenggut psikis mereka dan membentuk diri mereka seperti sekarang. Dan saya beberapa kali berdecak kagum, ketika mendapati kebetulan yang bukan benar-benar kebetulan. Saya sampai berpikir, sepertinya Vinca telah membuat peta khusus mengenai tokoh-tokoh jelmaannya. Dan Vinca sukses membuat sepuluh orang ini saling terkait seperti film Identity. Pernah nonton kan? Bedanya, film Identity ini semua tokohnya adalah satu tokoh yang memiliki kepribadian ganda. Sedangkan, di dalam novel ini, hanya satu orang yang mengidap MPD alias multiple personality disorder . Saya tidak akan kasih tahu siapa yang mengidap MPD, karena nanti jadi spoiler. Haha. :p

Dan dari semua bab yang terkait, saya harus menjura pada Vinca, karena berhasil membuat saya betah duduk di sofa empuk sambil makan cemilan yang membuat saya gemuk, dan membuka lembar demi lembar novel ini tanpa lelah (kecuali kalau saya lapar, ngantuk, dan dipanggil bos, karena saya baca juga di kantor). Vinca juga sukses menjejali kepala saya dengan berbagai istilah psikologi yang menurut saya tidak rugi kalau ditelan bulat-bulat. Di samping mengalihkan tokoh fiksi buatannya untuk kita cintai, kita juga bisa mendapatkan pelajaran mengenai istilah psikologi. Beberapa istilah yang dikemukakan Sigmund Freud sebagai Bapak Psikologi pun berhasil saya cerna.

Lantas, apa yang membuat empat bintang bertengger di novel ini, Ayu?

Empat bintang saya berikan bukan karena kesalahan Vinca. Sebab, tidak ada yang salah darinya. Yang salah mungkin hanya kejelian editor yang kurang mantap, karena dia membiarkan novel ini terombang-ambing di antara dua bahasa. Ketika sampai pada beberapa narasi, saya mendapati kata-kata tak baku bersarang pada kata-kata yang justru baku sekali, banget malah. Seolah-olah, kata-kata tak baku ini tertangkap oleh prajurit kata baku, dan tak membiarkannya keluar. Mungkin, ini hanya luputnya editor saja, karena mungkin ia terlalu terpana menyaksikan berbagai kebetulan yang bukan kebetulan, di dalam novel Vinca. Mengapa kebetulan ini bukan kebetulan? Karena, kalau kalian membacanya pun, kalian akan menganggap kebetulan, padahal sebetulnya bukan. Novel ini sudah terkonsep, begitu pun dengan tokohnya yang sudah terpetakan dengan baik. Maka, saya tidak bisa berteriak, "Wah, ternyata si ini tuh dulunya itunya si anu yah? Oh gitu yah! Kebetulan banget!" Ini bukan kebetulan, dan ini terkonsep. Seperti Desa Angsawengi yang terkonsep.

Lalu, apalagi Yu, yang mengecoh dirimu?

Kalian mau tahu? Sungguh???

Ada hal yang benar-benar mengecoh saya, sampai saya berkata, "Sialan! Gue ditipu!" Hal ini adalah teknis penulisan sudut pandang. Sudut pandang ini adalah sudut pandang pertama, namun di lain pihak, si 'saya' dalam novel ini, menceritakan tokoh-tokoh seperti ia bisa melihat segalanya dan menjelma jadi sudut pandang orang ketiga. Sialan! Saya benar-benar tertipu. Saya luput dari seorang tokoh dalam novel yang mengidap MPD. Dia bisa saja bercerita dengan 'dia', dan 'saya'. Maka, sekali lagi, saya tidak akan menceritakan siapakah 'dia' yang 'saya' itu. :)))) *ketawa setan*

Dan satu hal yang membuat saya pusing, ada beberapa narasi yang mengantar cerita lewat bundaran HI. Seperti supir busway yang masuk bundaran HI lalu berputar-putar mempermainkan penumpang dengan sengaja, seperti seorang psikopat. Narasi ini semacam itulah! Pemikiran psikopat yang njelimet mencoba memasuki alam bawah sadar saya, sehingga saya cepat mengantuk ketika membaca narasi tersebut. Dan oke, saya harus minta maaf pada Vinca, karena saya melewatkan banyak sekali narasi untuk sampai pada bagian yang benar-benar ingin saya baca.

Dan kalau dibilang thriller, adegan bunuh-bunuhan masih kurang mantap di sini. Tidak seperti thriller lainnya yang cukup mempertontonkan disturbing content, saya rasa Vinca masih harus masuk jadi psikopat yang sebenar-benarnya. Hehe.

Akhir kata, saya cuma bisa bilang, kalau saya senang membaca ini seharian, karena kavernya manis dan isinya pun manis meski mencekam! Ingatlah, bahwa masa lalu akan membentuk pribadi anda sekarang! Haha. *ketawa setan lagi*

P.S. Untuk penerbit dan mas layout, tolong lain kali hurufnya diperbesar. Jangan merasa bakalan hambur kertas dan jangan pelit kertas, karena novel ini layak untuk dikoleksi! Tapi, pembaca kan tidak semuanya senang baca novel berhuruf kecil-kecil! Maka, kalau tidak ingin dihantui pembaca, buatlah novel ini lebih nyaman dibaca, salah satunya dengan menambah point huruf agar tidak kecil-kecil. Hahahaha. *lalu pembaca pun jadi psikopat*

Untuk pembaca lainnya, selamat membaca! Selamat tertawa gila! \m/

[ayu]
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
October 27, 2015
"Baru identik dengan kesan menarik. Tempat baru. Teman baru. Tebakan baru. Menarik untuk dicari tahu, atau menarik untuk dibiarkan begitu saja karena cukup tahu." – halaman 22

Bonie pergi melakukan Kuliah Kerja Nyata ke Desa Angsawengi bersama sepuluh mahasiswa dari berbagai jurusan dan mempunyai macam-macam kepribadian. Ada Jiana Aryon yang juga presenter acara musik dan tak segan mengeluarkan pendapat, Natanina dengan ciri khas bibir merah dan setipe dengan Jiana, Fabryan Sadamelik yang kocak dan menyenangkan, India Catur yang disebut-sebut mempunyai indera keenam, Arbil Radeagati yang muak dengan efek kepopulerannya sebagai aktor, Chamae Trileon yang jago memasak, Dwi Dwayanto si ketua koordinator yang suka seenaknya, Firsta Lula yang manja dan tak henti menyombongkan kekayaan keluarga, Mada Giorafsan yang lekat dengan kamera, dan pacar Mada, Kalima Faye, yang cermat mengamati kegiatan dan teman-teman barunya dengan ilmu Psilokog.

Hari-hari awal mereka di Desa Angsawengi menjadi ajang saling beradaptasi dengan orang-orang baru yang ternyata punya sejarah panjang. Pertemanan lama Bonie dan Mada membuat Faye cemburu. Apalagi saat Nina menanyakan kesetiaan Mada padanya. Lalu ada Fabryan yang sudah punya pacar tapi sangat tertarik dengan Nina. Sedangkan India dan Lula yang diam-diam menyukai Fabryan dan membenci keakraban cowok itu dengan Jiana. Arbi lebih sering menyendiri tapi tak luput dari perhatian Chamea dan Bonie. Banyak masalah lain yang menghambat perumusan program kerja mereka dan membuat suasana mencekam. Kunjungan mendadak ke acara Kenduri Sang Kepala Desa, bertemu nenek bergolok yang tinggal di pinggir hutan, diserang kawanan anjing ganas yang dipimpin seorang bocah, dan muncul informasi-informasi membingungkan yang berpotensi mengancam mereka sendiri.

--

Aku mempunyai hubungan benci tapi cinta dengan Seruak ini. Banyak banget hal yang menurutku menyebalkan, baik gaya bahasanya maupun alur ceritanya sendiri. Asalnya sih asyik mengikuti kegiatan KKM ini. Aku kurang lebih punya pengalaman yang sama, jadi gampang masuk ke drama yang terjadi dalam kelompok Bonie. Dari beradaptasi dengan lingkungan yang lebih sederhana, adu pendapat soal program kerja sampai diam-diam naksir teman kelompok. Namun, cerita jadi melebar ke masa lalu beberapa tokoh. Tak jarang isinya kelam dan menyedihkan. Setiap salah satu tokoh selesai dikupas, ada semacam kesimpulan dan pemahaman dari sisi psikologi. Itu tidak hanya berlaku pada pembahasan lengkap kehidupan sang tokoh, tapi juga pada reaksi yang dia berikan pada beberapa situasi. Beberapa malah menyangkut masalah sosial yang kecil tapi berefek besar, seperti pertanyaan ‘kapan nikah?’, cara berpakaian, dan lainnya. Semuanya pemikiran itu ada benarnya juga. Tapi entah aku bacanya terlalu berapi-api, beberapa terasa terlalu menggurui dan mengabaikan budaya. Capek dan kesal sendiri bacanya.

Sempat ingin menyerah rasanya. Peduli amat aku sudah sampai halaman sekian. Aku hanya ingin semua kekesalan dan rasa sakit di kepalaku berakhir. Tapi aku juga sadar berhenti bukan solusinya. Aku terus maju, maju, mengeleng-geleng untuk setiap pengulangan, maju terus sampai menemukan kata ‘eksekusi’ dan mataku pun tak terasa berat lagi.

Satu kata itu membuatku merinding sekaligus memberikan semangat untuk terus mengikuti ceritanya. Dari sana aku sadar banyak hal yang menarik dan menghibur. Para tokoh punya suara yang kuat. Karakter mereka sudah tergambar jelas di pikiranku – thanks to pengulangan yang tak berujung itu – sehingga tidak sulit menebak siapa yang berbicara apa. Lalu panggilan ‘boy’ sebagai pengganti ‘bro’ itu unik banget. Aku menikmati setiap percakapan mereka, bahkan untuk bagian yang tidak pentingnya atau berasal dari tokoh menyebalkan seperti Lula.

Baca review selengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.co.id/201...
Profile Image for Dhia Citrahayi.
Author 3 books21 followers
September 4, 2015
Seharusnya ini bisa menjadi novel thriller yang bagus, tapi entah kenapa, kok ada bagian-bagian tertentu yang nanggung. >.<

Selama membaca buku ini, sejujurnya, saya dibuat bertanya-tanya, 'siapa sih, narator dalam cerita ini?'. Dia menggunakan kata 'saya' untuk menceritakan kisah di dalam novel ini. Namun, yang bikin saya heran, walau pake kata saya, kenapa kisahnya sendiri jadi seperti arahan orang ketiga serba tahu? Cukup sulit saya memahami siapa pencerita di novel ini, bahkan sampe akhir pun saya masih susah nerima kalau penceritanya adalah Nina.

Di awal-awal tiap chapter, biasanya dimulai dengan suatu potongan apa ya istilah enaknya... semacam komentar atau paragraf-paragraf berisi perenungan mengenai sosok kepribadian manusia secara umum. Di cerita-cerita pertama, saya menyimak pargraf renungan ini dengan seksama, tetapi makin ke belakang saya makin capek karena perenungan ini semakin banyak dan melelahkan untuk dicerna. Jujur aja, makin ke belakang saya malah merasa semua pandangan Nina atau Jiana (yang disampaikan sebagai penjelasan mengenai sikap mereka) hanyalah suatu pembenaran akan keegoisan mereka. Ya, mereka benar karena mereka memang selalu benar dan yang lain salah. Pake tank top dan hot pants itu bener kok, gak salah, yang penting isi otak dan keberanian, iya kan? Yang lainnya, kalau bersikap pura-pura, pake baju tertutup, atau bersungkan-sungkan ria itu salah kok. Beneran? Serius?

Tapi memang bener kok, setiap manusia itu merasa paling benar dan ingin dianggap benar. Jadi cara apa pun bisa dilakukan supaya ada pembenaran pada sikap atau perilaku mereka di masyarakat. Siapa yang bisa jadi dominan, dialah yang memegang kebenaran (dalam versinya).

Begitulah..., untuk lebih lengkapnya seharusnya ditulis di blog sih. Tapi nyicil tulisan dulu di sini deh...

======== edit ===============

Kesan saya setelah membaca novel ini adalah lama, berat, dan semua numplek jadi satu. Dengan sudut pandang penceritaan yang nyampur antara sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga serba tahu sukses bikin saya kadang-kadang bingung.

Sebenarnya, novel ini ingin menggambarkan tentang apa sih?

>>> http://imajinasi-takberbatas.blogspot...
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
April 3, 2016
Rumit dan penuh filosofi tentang psikologi manusia, jadinya terasa agak melebar kemana-mana. Di sisi lain, seru juga mencoba menyatukan puzzle yg bertebaran di dalam kisah mencengangkan para mahasiswa Universitas Palagan yg sedang KKN di Desa Sukamekar ini.

Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,029 reviews64 followers
January 1, 2016
"The Butterfly Effect. Hidup kita sekarang ini dipengaruhi sama setiap kejadian yang ada di Bumi, enggak tahu kejadiannya kapan, di mana, atau gara-gara siapa ngelakuin hal sepele apa, tapi efeknya ngaruh banget di hari-hari kita. Tanpa kita sadari." [Seruak ~ h.186]


Sejak awal sampai ke Desa SukaMekar, kesebelas mahasiswa ini telah dihadapkan pada keterbatasan transportasi dan komunikasi, layaknya tempat terpencil yang belum terjamah teknologi. Pertama kali kemisteriusan dan kejanggalan-kejanggalan Desa Sukamekar dirasakan oleh Faye tetapi feeling-nya harus tersisihkan oleh rasa cemburu pada Nina yang memiliki kenangan masa kecil dengan pacarnya, Mada. Sebenarnya sebagian besar konflik berkisar pada Faye, Mada, Nina, dan Arbil, sedangkan tokoh-tokoh selain mereka, lebih banyak digunakan penulis untuk menganalisa beragam kepribadian/karakter dari latar belakang masing-masing pemain.

Perseteruan-perseteruan yang sudah terjadi sejak awal, menjadi 'sayatan-sayatan' kecil yang semakin banyak melukai perasaan dan berujung pada pembunuhan. Rentetan kematian tokoh-tokohnya tampak tak sengaja tetapi jika dirunut, sebenarnya ketidaksengajaan itu muncul dari kesengajaan yang tercipta dari masa silam. Sisi psikologi masing-masing tokoh dianalisa secara mendalam oleh penulis, tapi sayangnya beliau seperti "melupakan" sisi mencekam (baca: thriller) yang harusnya disuguhkan novel yang menyandang genre a psychothriller. Penulis seperti terlalu disibukkan dengan masalah psikologi dan masa lalu tokoh.

Kejutan-kejutan yang seharusnya bisa menjadi salah satu poin dalam novel thriller juga tidak terlalu mengena bagi saya. Jika pembaca mau mengingat-ingat detail cerita, kemungkinan dapat menebak, sebelum habis membaca setengah buku, siapa tokoh penyebab kejadian-kejadian aneh dalam kelompok dan juga fakta penting kejiwaan salah seorang tokoh. Tetapi meski sudah dapat ditebak, rasa penasaran akan tetap mengendap sepanjang alur karena pertanyaan-pertanyaan yang melayang di pikiran selama membaca butuh untuk dituntaskan.

Bagian yang membingungkan adalah sudut pandang 'saya' yang menjadi narator pada sebagian besar cerita. Sempat menebak pada "dua" tokoh sentral yang melakukannya tapi pada beberapa bagian narator 'saya' tidak cocok jika dilekatkan pada tokoh yang saya tebak. Sungguh, point of view yang rumit, serumit istilah-istilah psikologi yang layak untuk dijadikan tambahan pengetahuan dan membuat novel ini menjadi berbobot

"Setiap menit, bahkan detik, kejadian yang terjadi dalam kehidupan seseorang, akan memberi pengaruh besar pada terbentuknya karakter dan psikologinya. Begitupun bagaimana tingkahlaku dan pendidikan keluarga di sekitar anak pasti akan memiliki pengaruhi dalam pembentukan pribadinya. "
Profile Image for Dyah Rinni.
Author 11 books75 followers
May 18, 2014
kayaknya IQ saya terlalu rendah untuk memahami isi buku ini, bahkan sejak halaman 1.
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
April 26, 2024
From the moment I cracked open the first 10 pages, I knew I was in for a wild ride. This book is like a rollercoaster that drops straight into the abyss—heart-pounding, spine-tingling, and utterly gripping. It's so good that I immediately crowned it as the best book of 2024 for me, even though it was published a decade ago.

The story is told through the eyes of Bonie, who I first assumed was a guy. Turns out, she's a sweet and vintage-loving girl with a knack for deep philosophical musings. The plot kicks off as Bonie heads to Sukamekar village for a KKN project, but things quickly take a dark turn. Between a menacing dog, a creepy lullaby, and some downright unsettling villagers, the tension ramps up fast. What unfolds is a mix of psychological terror and mysterious happenings that draw Bonie into a twisted journey. And at the center of it all is Arbil Radeagati, a young actor looking to escape his own family drama by joining the KKN.

This book is a crazy ride! Didn't I tell you? It's a perfect blend of smart storytelling and complex characters that keep you glued to the pages. I've read dozens of books this year, but this one reignited my passion for reading and reviewing. Each character is unforgettable. There's Yanto, who craves respect from his friends; Mada and Faye, the wise couple; Jiana, the cheerful one; Chamae, the chef of the team; India, with her supposed sixth sense; Fabyan, the hilarious playboy, Lula, the attention-seeker, and Nina, who exudes mystery with her dove-colored red lipstick and unyielding attitude. These characters are as diverse as they come, yet they all fit seamlessly in this story.

The pacing is on the slower side, which is unusual for me since I'm a fast reader, but it felt just right for this book. I took my time—two whole weeks—to really soak in the suspense and philosophical layers. It's the kind of book that makes you think, with so many beautiful quotes that stick with you. By the end, I had my suspicions about one character's multiple personalities, but I wasn't sure if I was right until the big reveal. And that ending? It was like fireworks—terrifying, heartbreaking, and impossible to put down.

Overall, this is a true psychothriller. It doesn't rely on gore or violence; instead, it gets under your skin with psychological tension and complex characters. If you're into slow-burn suspense with a philosophical twist, you won't want to miss this one!
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
June 26, 2014
Alasan utama saya membeli buku ini adalah keterangan di bawah judul: "a psychothriller novel". Setelah sekian eksemplar buku drama-romance yang saya baca (sebagian karena tuntutan pekerjaan), saya merindukan membaca novel thriller atau misteri. Kebetulan juga, saya mau KKN (Kuliah Kerja Nyata), sehingga membaca novel yang berkisah tentang petualangan KKN sebelas orang mahasiswa Universitas Palagan ini mungkin akan memberikan gambaran bagaimana nanti kelak ketika saya sendiri menjalani KKN (saya berdoa agar tidak ada peristiwa-peristiwa maut seperti yang terjadi di novel ini hehehe).

Bonie, tokoh utama novel ini, bersama sepuluh orang temannya awalnya akan KKN ke Desa Suteramega. Adalah Arbil, seorang aktor muda yang sedang naik daun, juga KKN dalam kelompok itu. Namun, karena suatu alasan, lokasi KKN mereka dipindahkan ke Desa Angsawengi. Berbagai pribadi mahasiswa bercampur jadi satu di sini, dengan tujuan pribadi masing-masing dan juga trauma masa lalu yang membayangi. Bonie, adalah salah satu yang memiliki masa lalu kelam, hingga membuatnya menjadi pribadi yang pendiam, pengecut, dan kaku. Arbil Radeagati, ingin memanfaatkan momen KKN ini untuk melarikan diri dari dunia selebriti yang sangat dibencinya, yang merusak ketenangan jiwanya. Ternyata, Bonie memiliki hubungan di masa lalu dengan teman KKN-nya: Mada Giorafsan. Dan Mada ini pun ternyata masa lalunya terkoneksi dengan keluarga Firsta Alula, si gadis manja-angkuh nan menyebalkan, juga dengan masa lalu Arbil.

Lantas, muncul juga Nina, sosok gadis pemberani dan cool, yang sanggup menaklukkan siapa saja, terutama Fabyan Sadamelik. Kecuali India Catur, yang membencinya setelah suatu peristiwa adu pendapat. Serta Kalima Faye, yang membencinya karena cemburu, cemas Nina akan merebut pacarnya, Mada. Nina yang frontal dan blak-blakan ini ternyata memiliki teman yang sealiran cara pikirnya, Jiana Aryon.

Beda pendapat, hingga menimbulkan perkelahian, adalah hal yang biasa terjadi. Namun, yang tidak biasa adalah kondisi desa tempat mereka KKN. Banyak keanehan muncul satu persatu. Mulai dari penghuninya yang didominasi para orang tua dan anak-anak kecil (tidak ada orang muda, kecuali tim KKN itu). Munculnya sekawanan anjing besar yang seolah ingin menyerang mereka, yang dikepalai oleh seorang anak laki-laki kecil. Keberadaan seorang nenek yang membawa golok untuk memotong batang pohon, tapi bisa melemparkan golok itu sekuat tenaga. Lalu ada seorang laki-laki bertutup kepala yang menakut-nakuti, berkeliaran di halaman rumah sewaan mereka dengan membawa mesin pemotong rumput yang berdesing-desing. Hingga Faye yang otaknya paling tajam seperti detektif, menemukan berbagai hal mencurigakan, yang bermuara pada satu orang di antara mereka sendiri.
***

Membaca novel ini, yang jelas akan pembaca alami adalah KEBINGUNGAN. Well, mungkin ada pembaca yang tidak bingung. Hehe. Tapi, saya dibuat bingung dengan sudut pandang penceritaan yang aneh, terkesan tidak konsisten dan seperti kesalahan penulis. Penulis menggunakan sudut pandang "saya", tapi di waktu yang sama, ia berperan seperti "orang ketiga serba tahu". Usut punya usut, akhirnya saya memahami bahwa penulis sengaja menulis seperti ini karena si tokoh "saya"-lah biang keladinya.

Belum lagi, kegemaran penulis menggunakan kalimat-kalimat panjang yang bisa mencapai dua-tiga baris per kalimat (padahal margin halamannya tidak terlalu besar, tulisannya kecil-kecil, WAH!). Tapi, perlahan, saya memakluminya--bahkan menyukainya! Penulis mampu menuliskan hal-hal tentang psikologi, tentang nilai-nilai kehidupan, lewat kalimat yang panjang sarat pengetahuan dan berbobot. Tapi, tetap dalam konteks novel. Hingga saya merenungi diri sendiri sembari membaca, "Apakah saya juga manusia seperti itu?" Saya setuju dengan paradigma Nina tentang kehidupan. Memang, ia frontal dan tak seperti gadis kebanyakan, tapi justru itulah yang membuat saya menyukainya. Pribadi Nina yang mencintai alam juga mengingatkan saya akan tokoh Zarah dalam novel Partikel karya Dee.

"Capek, jika harus memenuhi semua keinginan orang-orang demi kepuasan nafsu estetika mereka. Memangnya saya mikirin selera orang lain waktu pilih baju yang saya pakai..." (hal.2) --> saya setuju sekali, nih. Setiap orang berhak punya gaya berpakaiannya sendiri, dong. Kalau saya suka pakai hot pants ke mana-mana, ya, situ tidak berhak menghakimi saya. Pakai hot pants itu nyaman, sih, apalagi di negara tropis nan panas seperti Indonesia ini.

"Sebuah masalah enggak akan jadi masalah kalau kita enggak mempermasalahkannya." - Nina (hal. 287)

Juga filosofi tentang "dunia ini tidak sempit" (halaman 169-170), tentang "orang-orang yang suka sembarangan memberi label untuk orang lain" (halaman 182), tentang bumi (halaman 234), tentang perkara bahwa sebenarnya tidak ada "tokoh jahat dan tidak"--yang ada hanyalah "setuju atau enggak setuju" dengan seseorang (halaman 428). Penulis selalu menjelaskan secara filosofis dan psikologis kondisi mental tokoh-tokohnya sebagai akibat dari lingkungan sekitar.

Tenang saja, ini bukan novel "murni" filsafat seperti "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder. Penulis bahkan menunjukkan kehumorisannya yang kebanyakan ditampilkan lewat tokoh Fabyan. Juga tingkah polah para anak muda ini terasa sangat riil. Dan, nama-nama tokoh yang "nyeleneh aneh-aneh" itu juga cukup menarik mata saya lama-lama.

Ada hal-hal kecil yang terkesan "lebay" awalnya, tapi lama-lama saya bisa menerimanya, karena hal-hal kecil itu mampu memengaruhi kondisi mental para mahasiswa tersebut. Yah, namanya saja psychothriller, jadilah cuma melihat orang bertudung kepala sedang membawa mesin pemotong rumput yang sedang menyala pun mampu membuat Arbil ketakutan. Beradu pandang dengan seorang gadis sinden pun mampu membuat Faye gemetaran karena aura si gadis itu sangat kuat. Dibentak Arbil sekali saja (karena masalah sepele) mampu membuat Chamae Trileon menangis hingga terbawa ke alam bawah sadar.

Misteri yang terkuak selapis demi selapis membuat saya tidak bisa tenang. Saya selalu tidak sabar melanjutkan membaca (ketika saya harus belajar untuk UAS juga) dan terngiang-ngiang tiap adegan dalam cerita. Inilah akibat gaya bercerita penulis yang visual dan deskripsi tempat yang bagus. Bahkan, saya melonjak puas ketika berhasil menguak misteri yang ditawarkan oleh penulis. Puas sekali rasanya mengetahui apa maksud penulis.

Namun, sayang, adegan-adegan di akhir novel ini terasa dipaksakan. Mendadak ada tsunami, lah. Kejadian-kejadian tragis yang menurut saya agak nggak logis, lah. Tapi, saya puas dengan terkuaknya misteri-misteri tersebut (kebingungan saya terbayar lunas!), meskipun ending-nya absurd. Hahaha.
Yang jelas, saya sangat menyukai buku ini!

"Siapa dirimu adalah apa yang temanmu ceritakan tentangmu kepada temannya." (hal. 31)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rizki Wulandari.
125 reviews3 followers
February 12, 2022
Seruak bercerita tentang sebelas mahasiswa dari Universitas Palagan. Mereka datang ke desa Angsawengi dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kesebelas mahasiswa tersebut memiliki kepribadian dan latar belakang keluarga serta kehidupan yang berbeda-beda.

Kehidupan KKN dimana masing-masing berkumpul dan tinggal seatap dengan orang lain awalnya berlangsung baik-baik saja. Menjelang pertengahan novel susana berubah. Teror demi teror membuat suasana KKN mereka menjadi tidak nyaman hingga akhirnya berujung pada kematian.

Membaca buku ini menurutku tidak mudah. Sedari awal, pembaca akan disajikan oleh rangkaian paragraf berisi deskripsi yang cenderung sulit dipahami.

Penulis juga sering menggunakan kalimat yang panjang-panjang. Kalimat ini tidak dijeda oleh titik atau dipecah menjadi beberapa kalimat. Ditambah lagi ukuran huruf yang kecil. Haha, membacanya jadi membuat lelah dan bingung. Namun sebenarnya kisah yang disajikan menarik. Begitu pula dengan isi dari kalimat-kalimat tersebut, berkualitas, jika mau ikut merenungkannya.

Dua hal yang boleh jadi merupakan koentji untuk menikmati novel ini yaitu perihal kepribadian dan nama tokoh.

Ada beberapa plot twist di akhir cerita menambah nilai positif untuk Seruak. Pada akhirnya ada perasaan puas saat berbagai misterinya terungkap setelah sempat bingung dan perlu ekstra adaptasi di awal mula menikmati novel ini.
Profile Image for Racun Buku.
5 reviews2 followers
June 18, 2018
Well, bosan membaca romance, butuh 'keluar' dari cinta-cintaan yang rumit akhirnya saya menemukan novel ini.

Butuh perjuangan menyelesaikan novel setebal ini, dengan bahasa yang njelimet dan fokus saya yang suka hilang tiba-tiba. Halaman pertama hingga pertengahan saya hampir menyerah. Tapi berusaha tetap fokus dan akhirnya menemukan ketegangan mulai pertengahan novel hingga akhir.

Cukup sulit menerka dari sudut pandang siapa novel ini diceritakan, ada beberapa logika yang menurut saya bolong dan terlalu dipaksakan, tapi over all masih bisa dinikmati (bab pertengahan hingga akhir).

Dan saya berdecak dengan endingnya, kenapaaa??? kenapaaaa begini???? haha
Yang saya suka adalah masing-masing tokoh mempunyai karakter yang kuat.

Tapi saya salut dengan authornya, berani membuat novel indonesia semacam ini ditengah gencetan genre romance, fantasy dan metropop yang menjamur. :))
Profile Image for vira.
11 reviews
June 30, 2020
Tamatin buku ini dalam 3 hari, walaupun memang kerasa perjuangannya buat tetap lanjut baca dan sampai ke halaman terakhir. Dari segi alur cerita sebenernya bagus, dengan banyak plot twist yang gak terduga sebelumnya. Tapi dari segi narasi dan pilihan kata, narasinya terlalu panjang dan pilihan katanya cukup berat. Jujur, saya sempat beberapa kali skip halaman karena nggak kuat bacanya, terlebih saya membaca via online dari ipusnas. Karakter-karakter di cerita ini sebenarnya cukup relatable dengan masyarakat kini, apalagi setting waktu dan tempat saat KKNM yang membuat mahasiswa cenderung nunjukin sisi 'sebenarnya' dari diri mereka dibanding saat kuliah. Istilah-istilah psikologi yang diselipkan juga menarik untuk dibahas. Thank you author, for making this book.
1 review
December 31, 2025
Untuk penulisan di awal bab kadang masih membuat bingung karena permainan karakternya lumayan banyak, perannya apa dan lain sebagainya, tapi masuk ke dalam bab-bab selanjutnya sudah diperkenalkan secara jelas dan objektif dari cerita yang disampaikan. Secara keseluruhan bisa memainkan emosi dan sangat membuat penasaran sebenarnya apa yang terjadi, ada apa dengan karakter ini, kenapa suasananya begitu histeria. Di akhir, masih kurang puas dan belum make sense saja kenapa bisa begitu. Secara keseluruhan bisa dinikmati bagi pencinta genre psychological thriller
Profile Image for Indira Iljas.
206 reviews10 followers
December 25, 2017
mungkin krn sy nya lagi gak konek, jd brasa ni buku ngebingungin.


Yah bginilah target membaca saya di tahun 2017 ini. Sy pribadi merasa kecewa jg krn di thn ini mood membaca sy benar2 menukik kebawah dengan drastis. Semoga thn dpn bisa lebih baik lg... :(
Profile Image for Edwina Agustin.
22 reviews
January 10, 2018
Membutuhkan waktu seminggu untuk membaca novel ini dengan genre psychological thriller. Sisi psikologisnya dapat tetapi sisi thriller kurang saya dapatkan dibandingkan dengan novel "Nyawa". Jika dibandingkan dengan novel Nyawa-Kilah-Seruak, saya lebih menyukai Seruak.
Profile Image for Reffi Dhinar.
Author 8 books4 followers
April 15, 2019
Mungkin harusnya ratingnya 1.5
di satu sisi aku penasaran sama rahasia desa Angsawengi dan pusing banget sama gaya bahasa dan POV yang dipilih. Oke, mungkin otakku yang nggak nyampe. Padahal aku berekspektasi tinggi setelah baca 'Kilah'.
1 review
December 28, 2021
Daftar isinya lebih mengesankan dibanding isi novel itu sendiri. Dialog dan beberapa adegan yang agak maksa dan terlalu banyak informasi. Buku ini bikin saya pengin cepat-cepat menyelesaikannya. Sorry to say, bukan jenis buku yang akan saya rekomendasikan.
Profile Image for place hllcutes.
42 reviews
January 1, 2023
Premis menarik, diksi cukup bagus, penjabaran yang kadang membosankan terkesan TMI karena narasi yang mengarah kecerita keseluruhan(bagian pengenalan yang mencapai klimaks di akhir). Psycho thiller yang lumayan mempengaruhi pemikiran pembaca, salah satu karya Vinca yang masterpiece!
Profile Image for Lin Ulfah Minnati.
33 reviews4 followers
October 10, 2014
Kata pertama yang saya ucapin setelah selesai baca novel ini adalah “Wow!” butuh perjuangan yang lumayan melelahkan buat bisa namatin nih novel, jujur aja.

Saya beli novel ini udah dari bulan maret sih, langsung say abaca juga karena ga tahan sama penasarannya, tapi baru saya baca sekitar 4 halaman saya udah nyerah duluan. Waaahhh cape gila bacanya! Udah sih tulisannya kecil-kecil kan, bukunya tebel, udah gitu bahasanya susah dimengerti lagi. Waktu itu ya saya mikir ini sebenernya otak saya yang ga nyampe apa gimana? Ya udah saya simpen lagi. Padahal sejujurnya saya penasaran banget sama ceritanya, tapi keburu males duluan gitu ya.

Sampe akhirnya bulan lalu, ada sedikit diskusi di salah satu toko buku online langganan saya, ngebahas tentang Seruak. Di situ saya dapet rekomendasi, mereka bilang novelnya bagus banget. Otomatis semangat saya yang sempet padam baca tuh novel jadi kebakar lagi dong, akhirnya begitu sampe ke kampung halaman, saya buru-buru baca Seruak.

Pas awal-awal saya masih rada bingung, belum terbiasa sama bahasanya yang menurut saya berbelit-belit itu, walaupun begitu ya saya tahan-tahanin aja.. kalah sama rasa penasarannya saya, sebagus apa sih? Sekeren apa?

Mendekati pertengahan buku, lipatan di dahi saya makin tebel, makin bingung aja sama jalan ceritanya. “Maksudnya gimana sih nih?” tapi tetep say abaca sampe akhirnya nemu sedikit pencerahan. Makin cerah, makin cerah, sampe terang benderang.

Kaya yang udah saya bilang sebelumnya, saya nemu sedikit pencerahan di pertengahan halaman. Iya, setelah akhirnya saya ngeh dengan apa yang terjadi di cerita itu selanjutnya saya udah bisa nebak.. ini kayanya gini deh, ini begini deh. Dan nyatanya.. bener. Jujur, yang kaya begitu kurang seru, ngga biasanya tebakan saya bener baca novel thriller, ya nebak juga ngga asal nebak kali, mikir juga. Tapi novel ini tuh terlalu gampang ketebak, jadi abisnya saya nemu titik terang saya udah ngga gitu penasaran lagi jadinya, jadi kurang menarik. Termasuk endingnya yang masih rada gantung, kaya bakal ada lanjutannya gitu, ngga puas banget, padahal segitu aja udah tebel menurut saya.

Terus juga menurut saya ya.. dari segi cerita, emang sih unik. Tapi kalo dipikir-pikir kayanya ngga mungkin ada di kehidupan nyata cerita yang kaya begini ini. Kenapa? Terlalu muluk. Dan terlalu.. apa ya? Kesannya itu dunia kok sempit banget sih? Kalau emang cuma kebetulan kesebelas mahasiswa itu KKN di tempat yang sama, ngga mungkin kan masing-masing dari mereka itu ada “hubungan” sama mahasiswa lainnya? Kalo emang kebetulan saya bilang, itu ga mungkin.

Tapi yang bikin saya berwow-wow dan bermangap-mangapria pas lagi bacanya yaitu cara penulis menggambarkan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi. Ngeri banget ngga sih? Saya bacanya aja ngga sanggup ngebayangin misalnya pas adegan si Yanto ngga sengaja menggeregaji badannya sendiri sampe kebagi jadi dua. Ew~ di situ juga ada ngga masuk akalnya kalo menurut saya, kok bisa sih kecelakaannya itu terjadi secara berturut-turut selama satu hari penuh? Terus.. semuanya itu dilakuin secara “ngga sengaja”. Agak aneh.

Tapi beneran keren lah nih novel. Sampe bikin saya susah tidur selama beberapa hari gara-gara kebayang terus adegan-adegan di novel ini. Dan saya jadi semacam parno sendiri.
Profile Image for Dita Hersiyanti.
1 review
December 27, 2015
Benar-benar sebuah buku yang melampaui ekspektasiku.

Kupikir, ini bakal cuma jadi cerita sekelompok remaja biasa yang kengeriannya diciptakan oleh desa yang mereka tempati selama KKN. Namun ternyata... kepribadian dari masing-masing mereka lah yang menjadai bumbu yang menguatkan rasa mencekam dalam novel ini.

Tapiiii, dengan segala kelebihannya (cerita yang bagiku ga mudah ketebak hingga ke bagian tengah buku), karakter masing-masing tokoh yang dipaparkan begitu detail, pendeskripsian latar ciamik yang langsung membuatku merasa ikutan kepingin 'membebaskan diri' ke Dusun Angsawengi, dan bagian akhir yang diluar dugaan, masih banyak sebenarnya pertanyaan yang bikin aku gemes;



Itu aja sih, kebingunganku. Emang kecil, tapi gemes pengen nemuin jawabannya itu lho >.<.

Secara keseluruhan, semuanya ditata dengan apik, baik jalan cerita, perwatakan, dsb, tapi capek banget membaca beberapa kalimat panjang yang nggak dibubuhin tanda koma, bagaikan kereta api yang terlalu ngebut melaju tanpa rem. Membaca kalimat-kalimat tersebut pun membuatku capek sendiri. Namun, terbayar kok dengan pemilihan diksi & istilah psikologi yang udah pasti bakal menambah wawasan pembicara :D
Profile Image for Lis.
36 reviews90 followers
July 28, 2014
Sebenarnya sudah selesai sejak beberapa hari yang lalu, cuma biasa deh, lupa.

Yang membuat saya melirik novel ini saat berada di toko buki adalah embel-embel 'a psychothriller novel'. Saya baca sinopsisnya, terus terlintas pemikiran kayanya-seru-deh, dan akhirnya saya meminangnya di kasir. Untungnya saya tidak tertipu dengan kesan pertama; novel ini emang seru.

Novel ini memiliki latar yang menarik. Berlatar di sebuah desa utopia-ish yang indah namun menghidari segala bentuk pengeksposan dan dihuni oleh sebuah klan. Anggota klan ini harus mengikuti perintah Nyonya Besar atau Upacara Upeti Indera sebagai konsekuensinya. Mereka semua adalah korban kerasnya kehidupan yang diselamatkan oleh Nyonya Besar untuk diberi keluarga baru dan disembuhkan (bagi yang jiwanya rusak) di desa Mukasekar. Pada dasarnya masalah pada novel ini disebabkan oleh seseorang ayah yang terlalu buruk untuk disebut ayah.

Bagian-bagian awal sampai pertengahan memang menuai tanda tanya walaupun saya sempat membaca spoilernya di review yang lain, seperti sinopsis dengan ceritanya yang awalnya saya pertanyakan kesesuaiannya. Tidak seperti kebanyakan novel yang saya pernah baca, hampir semua pertanyaan berangsur-angsur terjawab di bagian-bagian terakhir.

Terus apa yang belum terjawab?

Bagaimana mereka yang masih hidup menjelaskan extremely horrible deaths anggota yang lain kepada keluarga mereka? Ini memang pertanyaan sepele dan bahkan tidak perlu ada jawabannya, namun inilah poin yang membuat novel ini terlihat mengada-ada dan tidak sesuai dengan dunia nyata. Sebelumnya pelu dijelaskan bahwa ini hanyalah opini pribadi dan cenderung subjektif dan saya tidak suka fiksi seperti itu (siapa peduli?!?). Ini mengganggu saya.

Yah, jadinya 4 bintang deh.
Profile Image for Fatoni M.
367 reviews81 followers
July 20, 2015
Seruak, sebuah novel yg meledak di akhir. Tapi, pembaca harus sabar menunggu karena sumbunya sangaaaaaaat panjang.

Sekelompok mahasiswa Universitas Palagan melakukan KKN di Desa Angsawengi. Namun, ada sesuatu yg mencurigakan di desa ini. Anak kecil botak yg memimpin anjing liar, nenek golok, dan bapak pemotong rumput yg selalu mengintai.

Premis novel sudah mainstream, sekelompok remaja yg terjebak di desa yg berbahaya. Tapi, Seruak berembel-embel psychothriller. Seruak mempunyai penokohan yg kuat. Mereka mempunyai watak masing2 dan Vinca menuliskannya dg konsisten. Novel2 seperti inilah yg saya sangat sukai.

Namun saya kecewa, plot novel berjalan lambat. Tidak ada thriller yg dijanjikan di pertengahan novel. Konfliknya pun tidak bisa membuat saya betah untuk mengikuti. Namun ada beberapa misteri yg disebar untuk diungkap di ending. Jadi, walaupun bosab, bertahanlah.

Saya tadi bilang novel ini meledak di akhir. Benar2 meledak. Thriller dan suspense terjadi di sini. Peran setiap tokoh diungkap. Rahasia desa juga dibeberkan.

Untuk gaya penulisan, huft, melelahkan. Kalimatnya panjang2. Satu kalimat bisa sampai 30 kata. Vinca sering memulai scene dg narasi tentang ilmu psikologi. Sering saya melompati narasi ini dan hanya membaca dialognya saja.

POV di Seruak memang membingungkan. POV orang pertama tapi serba tahu seolah Tuhan. Tapi ini adalah salah satu misteri yg bakal diungkap di akhir.

Hanya 2 poin yg saya kasih, mewakili penokohan dan ending. Untuk yg suka konspirasi, novel ini recommended. Tapi, yg sabar ya. Kalau mau cepet, baca aja bagian awal sampai kalian mengenal tokoh2nya, lalu langsung ke bagian akhir karena misteri dari Seruak dijelaskan seluruhnya dalam 3 halaman saja.
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
October 4, 2014
Idenya bagus banget, sebenarnya. Tapi jujur, saya agak bosan saat membaca monolog-monolog tokoh utama dan alur di depan yang terasa begitu lambat. Komentar-komentar tokoh utama dan perpindahan jiwanya terasa sangat membingungkan dan membuat saya kurang menikmatinya.
Selain itu, saya bingung menemukan fakta bahwa Freya adik Mada hilang 4 tahun yang lalu tapi nyatanya Mada berpamitan pada Freya di samping bus sebelum pergi KKN. Selain itu bagian akhir yang justru tersa sangat cepat karena tahu-tahu terjadi banyak hal sampai akhirnya terjadi tsunami. Dan, kenapa nama Mukasekar berubah menjadi Sukamekar? Jika memang Desa dibangun untuk menyebarkan kebaikan, kenapa konsekuensi yang harus ditanggung saat melakukan pelanggaran harus sedemikian beratnya? Terutama saat istri kades menyerang mereka dengan membabi buta setelah upeti indera..
Profile Image for Annisa Husnusyifa.
Author 7 books116 followers
May 12, 2015
Dear Vinca..
Kalo nggak salah, saya beli novel Seruak ini nggak lama dari tanggal terbitnya. Waktu itu excited banget pas tau bakal ada novel baru dari Vinca, karena sebelumnya saya sempat tertarik sama novel "Semburat Senyum Sore" dan "Dunsa".

Jujur aja, ini novel terlama yang saya baca, selain tebal dan hurufnya kecil-kecil, banyak banget deskripsi yang saya nggak paham.. jadinya saya malas buat bacanya T.T Okelah, ini novel thriller yang mengangkat unsur psikologi, tapi mungkin terlalu berat untuk di cerna buat penikmat novel ringan seperti saya.

Ada yang saya aneh di novel ini, di awal bab Vinca sempat ngebahas soal Freya (adiknya Mada) yang nganter, bahkan sempat ngobrol bareng sebelum Mada berangkat KKNM, tapi di bab selanjutnya dijelasin kalau Freya itu di culik terus meninggal. Lol.. Nggak ngerti T.T

Intinya saya baca novel "Seruak" memakan waktu sebulan lebih :)
Profile Image for Fafa Tejo.
1 review
September 28, 2015
-karakter utama bonie malah yg paling boring
-pov nya ganti2 mulu
-suka gak jelas siapa yang ngomong
-dialog2 nya lebay, alay, sok inggris nya kebanyakan
-semua cewek kayaknya sange smua sama si arbil
-ceritanya kgk jelas, itu 11 murid ngapain seh lama bgt di desa terpencil, dibilang terpencil tapi nyari angkot taxi seenak jidat, ini mau thriller, psychopath, horror hantu, survival ato apaan gak jelas, di sinopsis belakangnya malah udah dispoiler duluan emang ternyata sengaja ditakut takutin iseng sama penduduk desanya halah

+untung si fabyan namanya sama kayak gw, makanya ttp gw baca
+lula sama yanto bener2 minta ditonjok, untung dibuli2 terus sama yg lain, seenggaknya nikmat buat dibaca
+satu2nya buku yg gw bawa di pesawat, mau gak mau harus gw baca terus dari pada duduk doang bosen
Profile Image for Mawari Afifah.
6 reviews4 followers
May 12, 2019
Pada awalnya memang sedikit membingungkan dengan tokoh Bonie yang seakan2 begitu saja dari dalam cerita ketika tokoh Natanina muncul. Begitu pula sebaliknya. Tapi kemudian, ya memang ceritanya agak sedikit berbelit dan butuh pemahaman yang mendalam.
Profile Image for Ainu Athifah.
194 reviews
July 17, 2014
Yah ini novel indonesia dengan genre psycho-thriller yang pertama kali saya baca.

Buku ini bagus. Dari segi genre, cukup jarang novel Indonesia menawarkan cerita dengan genre begini, tapi sayang, masih ada beberapa kekurangan hehe. Sebenarnya, pada awal-awal saya rada bingung sama ceritanya, karena alur dan latar waktu yang tidak terlalu jelas. Tapi, semakin ke belakang, semakin jelas dan menarik. Nah, pengenalan tokoh secara mendetail (dan juga latar belakang keluarga) diceritakan di bagian tengah-tengah. Itu juga membuat saya bingung hehe. Belum lagi penggunaan Bonie/Nina yang (tetep) kadang bikin saya mikir hehe. Tapi untuk ide ceritanya aku suka. Endingnya bisa dibilang nggak keduga karena beda sama cerita psycho-thriller lainnya.

3 bintang untuk buku ini :)
Displaying 1 - 30 of 43 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.