Jump to ratings and reviews
Rate this book

Setubuh Seribu Mawar

Rate this book
Tahun 2011 Yanusa Nugroho meraih penghargaan Kesetiaan Berkarya dari harian Kompas. Tahun berikutnya, 2012, cerpennya "Salawat Dedaunan" pun meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik dari surat kabar yang sama. Ini adalah antologi berisi 27 Cerpen dari Yanusa yang pernah dimuat di berbagai surat kabar, termasuk Kompas antara tahun 2006-2012.

Kumpulan cerpen yang mempertemukan kita dengan berbagai cerita yang sesungguhnya sederhana. Kisah-kisah tentang keseharian yang amat biasa, yang seringkali luput kita cermati, apalagi dijadikan bahan perenungan.

Ada kisah yang bertolak dari kisah pewayangan; ada yang berangkat dari deskripsi peristiwa yang berlatar kehidupan desa; ada pula yang berpijak pada kondisi sosial dewasa ini. Namun, semua bermuara pada satu pertanyaan mendasar: Apa sesungguhnya makna hidup ini?

Dalam taksonomi kesusastraan Indonesia modern, Yanusa Nugroho masuk dalam kategori sastrawan era 1980-1990-an. Bakat menulisnya tumbuh subur sejak kecil antra lain berkat kegemarannya membaca, terutama cerita-cerita wayang. Kini, Yanusa telah menjadi salah seorang penulis terkemuka yang produktif menulis cerpen, mengotak-atik kata untuk iklan, hingga menulis skenario.

198 pages, Paperback

First published June 3, 2013

1 person is currently reading
28 people want to read

About the author

Yanusa Nugroho

30 books4 followers
Menulis apa saja yang ada di benaknya dan tak segan menembus batas nilai-nilai yang dapat membelenggunya dari kreativitas. Itulah gaya penulisan Yanusa Nugroho. Karya-karya cerpen peraih Anugerah Kebudayaan 2006 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ini sudah menghiasi halaman media massa sejak tahun 80-an.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (22%)
4 stars
9 (33%)
3 stars
10 (37%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (7%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
March 21, 2019
3,5/5
Kisah pewayangan yang diceritakan kembali, ditambah sedikit bumbu sentimen modern, membuat cerpen-cerpen ini sangat sedap dibaca. Beberapa bagi saya terlalu absurd tapi kurang nendang plotnya, nuansa ceritanya rata-rata dari yang jelas nyata di awal, berangsur-angsur makin "edan" dan imajinatif. "Salawat Dedaunan" tetap yang terbaik, dengan narasi yang sangat sederhana, namun sangat menyentuh. Dan bagi saya yang paling menyenangkan adalah cerpen "Tentang Ayam Jantan yang Jatuh Cinta pada Bulan", memang lucu bercermin mengenai kenaifan manusia dari fabel yang polos.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
February 28, 2014
Apa yang terkesan dalam mebaca cerpen, yang habis dalam sekali duduk kurang dari setengah jam?

Ada yang bilang temanya yang membahana. Ada suka dengan bahasa yang lugas dan enak dibaca. Ada yang suka dengan twist ending. Ada yang justru suka dengan alur dan kedalaman karakter tokoh. Semua benar. Di awal ketika mencoba menulis cerita pendek, salah seorang guru mengatakan kalau menulis anggaplah sedang bercerita sebuah kisah kepada teman, menggosip, atau curcol sama kawan sebelah kamar. Ketika berhasil menamatkan buku terbaru Yanusa Nugroho “Setubuh Seribu Mawar”, terbitan Kompas 2013, saya percaya cerita yang baik adalah cerita yang berbahasa sederhana. Ke27 cerpen Yanusa Nugroho ini memiliki kecenderungan tema yang sederhana bahkan kebanyakan adalah intertekstual dengan cerita wayang.

Sejak halaman pertama, Yanusa Nugroho seperti sedang mendongengi pembaca dengan kisah-kisah yang mengalir. Kisah-kisah sederhana yang sebenarnya ada dalam lingkungan kita.

Seperti dalam cerpen Selawat Dedaunan, yang sebagian orang mengatakan itu adalah cerita daerah Madura. Kemudian diceritakan ulang dengan gaya mendongeng yang apik. Kembali pembaca seperti mendengar dongeng dari Yanusa Nugroho.

Tetapi jangan salah, kesederhanaan tutur dalam cerita bukan berarti tidak ada yang membuat kita berpikir tentang kehidupan. Dalam pembukaan cerpen Setubuh Seribu Mawar, Yanusa Nugroho mengawali dengan kalimat:
“Jangan pernah mempercayai kata, sebelum kau mengenali maknanya. Dan jangan pernah beranggapan kau bisa memaknainya, sebelum kau mampu merasakannya.”

Yanusa Nugroho sudah “meneror” sanubari manusia dengan kecakapan memaknai perkataan, bahkan mungkin sebelum menulis ceritanya Yanusa Nugroho sudah dahulu memahamia kata-kata yang akan diuraikan dalam cerita.

Di cerpen kedua, Tentang Ayam Yang Jatuh Cinta Pada Bulan, Yanusa Nugroho kembali bercerita tentang ayam yang rindu kepada bulan padahal matanya selalu rabun ketika senja. Apa itu tidak jauh lebih buruk daripada bongkok yang merindukan bulan? Karena bongkok masih bisa melihat yang dirindukan, kalau ayam? Mana mungkin, karena matanya sudah dirabunkan. Apa mungkin kita juga termasuk golongan ayam? Tidak pernah dilabeli buruk, tetapi sebenarnya kita jauh lebih buruh daripada mereka yang sudah berlabel buruk.

Kembali ke dominasi cerita wayang dalam cerita Yanusa Nugroho. Memang hampir semua memiliki intertekstual dengan dunia pewayangan. Bukan hanya berkutat pada dunia lokal, tetapi dunia modern yang sekali lagi selalu berhubungan dengan dunia pewayangan. Dunia kantor juga bisa berkorelasi dengan dunia wayang, dunia anak-anak juga. Karena memang wayang adalah dunia manusia, disana ada tokoh jahat, baik, munafik bahkan tokoh yang ada dan tidak adanya tidak berpengaruh apa-apa.
Cerpen yang membuat saya tertawa banyak adalah Blarak, cerpen ini seperti benar-benar mendengar dongend kakek sebelum tidur. Seorang sembuh dari penyakit, karena bertemu dengan sosok di desa, yang ternyata sudah mati bertahun-tahun silam. Ya benar, Yanusa Nugroho sedang mendongengi kita.

Saya kembali bangga, bahwa buku ini tidak ada endorsement dari pengarang lain seperti buku-buku cerpen lain. Cukup Yanusa Nugroho menjadi tokoh utama dalam buku ini, meski masih ditemukan beberapa kata yang salah ketik. Mungkin editor sedang lelah, hingga luput mengoreksi typo.

Setelah membaca semua cerita dalam buku ini, muncul pikiran, apa sudah sedemikian enak cerita saya? Apa saya sudah seperti mendongengi pembaca lewat cerpen? Apa bahasa saya sudah sedemikian terang? Tidak bikin pusing pembaca. Itulah PR saya setelah membaca buku ini.

Saya sedang menikmati dongeng-dongeng Yanusa Nugroho. Saya seperti siap-siap tidur karena Yanusa Nugroho sudah mendongengiku. Bagaimana dengan anda?(*)
Profile Image for Eko Setyo Wacono.
83 reviews8 followers
March 29, 2016
saya suka cara pak yanusa dalam menulis cerita2nya di buku kumpuln cerpen ini, membumi dan mempunyai nilai filosofis yang baik. di bukunya ini beliau jg menulis beberapa cerita yang diadopsi dari cerita pewayangan yang ia tulis dengan gayanya sendiri. benar2 sosok yang berkelas. really worth reading.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.