Surat-surat perekrutan misterius menghampiri tujuh anak manusia dengan latar belakang berbeda. Surat tersebut datang kepada mereka masing-masing dengan cara yang tak sama. Gitta, Ichan, Tom, Ambar, Dom, Bima, dan Salman. Tujuh orang ini tak pernah menyangka akan dipertemukan dalam suatu ekspedisi besar, dengan divisi sesuai kemampuan mereka masing-masing.
Pertemuan yang mengubah segalanya. Mengubah ritme hidup, mengembalikan masa lalu, dan menghilangkan yang lain. Berbagai kejadian menegangkan dan misteri-misteri mulai bermunculan ketika mereka mencoba menaklukkan sebuah gunung keramat. Rupanya, ada seorang lelaki misterius di balik ekspedisi besar itu. Dan ketika mereka menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka sudah terlambat.
Ketika tim ekspedisi ini mulai solid, satu per satu dari mereka mulai disesaki tragedi. Mereka terpaksa dihadapkan pada pilihan pelik; kehilangan satu orang... atau satu tim sekaligus.
Dapatkah mereka menuntaskan ekspedisi ini? Dan akankah mereka tetap kembali utuh saat pulang?
Ayu Welirang is the author of Go Kory, Go!, Not for IT Folks, Opera Terakhir (short story in Antologi Kasus Sherlock Holmes Fans Indonesia), Double Life, Mata Pena series, Lelaki Bernama Sidik (short story in Antologi Detectives ID 2: Histerical Mystery), Rumah Kremasi, Halo Tifa, 7 Divisi, and Februari: Ecstasy. She is also the Indonesian translator of the first inverted detective story by R. Austin Freeman, entitled The Singing Bone. Her latest thriller book, Jejak Balak was chosen as the 2nd Winner of #LombaThrillerGPU held by Gramedia Pustaka Utama (GPU) and Gramedia Writing Project (GWP). In 2023, Ayu won the Author of the Year award from the Scarlet Pen Awards organized by Detectives ID.
In addition to fiction, she also wrote some light essays about politics, media, music, books, and movie reviews. These essays are published in Harian Pikiran Rakyat, Bandung Music web portal, Serunai.co, Omong-omong.com, and Jakartabeat.Net.
Learn more at www.ayuwelirang.com and connect with Ayu on Twitter or Instagram @ayuwelirang.
Catatan penulis: Covernya cukup memuaskan, meski saya sendiri agak kurang suka kalau yang dipakai gambar gunung yang ini (karena ketika editor dan desainer grafis dari penerbit meminta saran, saya memberikan beberapa opsi foto gunung yang saya miliki). Hehe.
Untuk layout, saya suka, meski judul bab digambarkan terlalu feminin. :| Kesannya jadi seperti novel cinta-cintaan, padahal isinya sama sekali bukan cinta-cintaan. :|
Jadi, akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang membantu proses terbitnya novel ini. Ahahaha. :D
Sebuah pengalaman mengedit yang seru dan menyenangkan. Ceritanya asyik dan bikin penasaran tentang pendakian gunung yang berbalut misteri. Pesan-pesan moral yang disampaikan tentang menjaga alam pun disampaikan dengan oke! Selamat, Ayu, sebagai salah satu pemenang Publisher Search for Authors tahap 2-nya Grasindo! ^^
kalo novel 5cm, jadinya ingin naik ke Semeru. '7 Divisi' bikin saya penasaran dengan Gunung Arcawana, dengan misteri candi di puncaknya, dan mitos hantu di dalamnya. hihihi
7 Divisi merupakan salah satu novel pemenang PSA (Publisher Searching for Authors) yang digelar oleh Grasindo beberapa waktu lalu. Novel ini bergenre petualangan dan misteri. Membaca novel ini mengingatkan saya kepada momen-momen ketika dulu saya mendaki gunung di Jawa Barat bersama teman-teman kuliah saya. Mungkin bedanya, dulu kami adalah pendaki dadakan. Alias sekumpulan orang yang mengaku-aku mencintai alam tanpa melewatkan pelatihan khusus sebelumnya. Kalau di buku ini, ketujuh tokohnya digambarkan sebagai pemuda-pemudi yang terlatih. Ada yang memang anggota pecinta alam di sekolah atau kampus bahkan sampai ada yang sudah menjadi anggota Walagri (saya rasa ini plesetan dari Wanadri).
7 orang tersebut adalah Gitta, Ichan, Tom, Dom, Ambar, Salman, dan Bima. Setiap dari mereka mewakili satu divisi yang biasanya terbentuk jika sekelompok orang ingin mendaki gunung sebagai sebuah tim.
Mereka direkrut dengan cara yang misterius oleh seseorang bernama Rudolf untuk melakukan sebuah ekspedisi yang ternyata tanpa mereka sadari membawa petaka bagi mereka semua.
Buku ini seolah diciptakan khusus bagi siapa saja yang menyukai kegiatan mendaki (seperti halnya sang penulis juga). Semua istilah yang biasa digunakan komunitas pecinta alam disisipkan dan diberi footnote dengan baik, membuat pembaca tidak bingung. Buku ini benar-benar memberikan pengetahuan tentang mountaineering dan sebagainya dan saya jamin tidak menyesatkan. Semakin pro mendaki, mereka justru semakin memikirkan keselamatan jiwa mereka. Bukannya malah semakin tidak peduli terhadap peralatan mendaki dan obat-obatan. Saya juga senang mendapati novel ini ternyata menyinggung masalah budaya nasional dan sedikit sejarah.
Saya juga tidak heran dengan Ichan yang dalam beberapa hari saja sudah bisa menyukai Gitta. Karena memang biasanya kalau di gunung, kita tidak perlu waktu lama untuk mengenal seseorang. Bahkan katanya hanya butuh 3 hari mendaki bersama untuk mengenal kepribadian seseorang dibandingkan dengan mereka yang sudah kenal bertahun-tahun tapi tidak pernah mendaki.
Sebenarnya saya bisa saja memberi buku ini 5 bintang. Tapi sayangnya banyak hal-hal kecil yang sukses mrmbuat penilaian saya drop. Seperti misalnya deskripsi 7 divisi yang tidak ditulis secara explicit oleh penulis. Pembaca diminta memikirkan sendiri kira-kira apa saja 7 divisi itu. Juga ketika tiba-tiba Ichan menjadi ketua tim. Kapan dipilihnya? Tidak dijabarkan. Belakangan saya tahu bahwa karena Ichan berdiri di atas divisi mountaineering, di mana divisi inilah yang membawahi seluruh divisi. Tapi tetap saja, lebih baik dikasih tahu ketimbang disuruh mikir. Iya tho?
Juga waktu awal mereka ditawari melakukan ekspedisi ini. Kayaknya saya ga menemukan penjelasan mereka dibayar berapa sehingga mereka bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka demi ekspedisi ini.
Kalau soal typo, sudahlah saya tidak mau komentar banyak. Sebab di semua buku pastilah kecacatan ini terjadi. Di buku ini pun tidak banyak typo yang mengganggu. Tapi saya kurang sreg dengan kata “haha” atau “hehe” sebagai ungkapan ekepresi tawa alih-alih dijelaskan dengan kalimat “Ia tertawa” atau “Mereka terbahak-bahak”. Untungnya tidak ada “Wkwkwk” ditulis di buku ini.
Menurut saya masih banyak logika yang missed. Namun sebagai debut di dunia kepenulisan dengan penerbit mayor, pemikiran Ayu Welirang patut diacungkan jempol. Penulis berani dan mampu menghadirkan genre baru di tengah ramainya genre romance yang makin hari makin membuat jidat saya mengkerut lantaran sering berjengit heran. Saya harap ke depannya tulisan Ayu bisa lebih rapi. Sebab sayang sekali kalau konsep ceritanya sudah sedemikian fresh namun tidak melalui proses pengeditan yang baik jatuhnya akan jadi buku yang biasa-biasa saja.
Buku dengan sampul warna hijau daun ini (suaraaa dengarkanlah akuuu) mungkin bisa jadi salah satu alasan kenapa buku ini menarik untuk dibaca. Plus cara penulisan judulnya “7 divisi” yang mengingatkan saya pada acara televisi petualangan “Jelajah” dan “Jejak Petualang”. Sangat pas! Hanya saja ukuran buku ini agak sedikit tidak lazim dengan bentuk yang lebih panjang dari buku-buku pada umumnya. Sehingga membuat pembaca tertahan lebih lama pada satu halaman karena lebarnya space yang disesaki oleh kalimat-kalimat dalam cerita, memberi kesan penuh. Entahlah mungkin buku ini ingin menghemat biaya produksi atau bagaimana saya kurang tahu. Yang jelas, saya sebagai pembaca merasa kurang nyaman dengan ukuran buku ini.
Akhir kata, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Semoga ke depannya, buku Ayu bisa lebih rapi lagi. Selamat!
Alam, memang menjadi tempat belajar untuk mengenal pribadi masing-masing. Yang kuat, yang manja, yang tabah, akan diperlihatkan seketika mereka berhadapan dengan alam. Untuk yang sering jalan ke gunung, pasti sifat egois itu makin lama makin terkikis. Ketika di alam, semua adalah satu tim, karena cuma alam dan mungkin kematian yang bisa memisahkan.
Aku bisa merasakan guruh yang menyapu langit Arcawana, berjalan di punggungan-punggungan tipis, menemukan tebing satu-satunya jalan, terpaksa nge-camp di jalur, dari kata-kata yang ditutur Ayu. Bagaimana Gitta menapaki pitch demi pitch di tebing itu, seperti cerita film yang terbayang-bayang di kepalaku. Arcawana dalam bayanganku adalah Argopuro, gunung yang kulihat di latar belakang jauh ketika aku berdiri di menara pandang Taman Nasional Baluran, tak jauh dari Banyuwangi.
Sebenarnya cerita ini bernilai 4* bagiku, jika tidak ada jalur kereta yang salah, atau beberapa penulisan istilah teknis yang salah, jadi agak-agak mengganggu di awal. Demikian juga dengan nama-nama penduduk desa misterius di Arcawana. Namun akhirnya aku bisa menikmati cerita selanjutnya dengan tidak terlalu mengindahkan itu, cuma memberi catatan-catatan khusus.
Ide ceritanya menarik, karena agak jarang buku tentang gunung, yang ditulis oleh pendaki gunung beneran pula. Walaupun perekrutannya agak mirip dengan film 'Now You See Me', tapi cerita keseluruhannya cukup menarik untuk dibaca pembaca remaja yang butuh tema alternatif.
Jadi walaupun turun menjadi 3* tapi akhirnya kukembalikan lagi menjadi 4 karena jika aku kenal penulisnya, pasti aku tambah satu *.
3,5 bintang. Sempat mendiamkan buku ini beberapa lama karena aku merasa percakapan dan adegan-adegan awalnya agak kaku padahal idenya udah keren. Tapi untungnya aku lanjut membacanya hari ini dan sama sekali nggak mengecewakan.
Di pertengahan cerita penulis berhasil menggunakan pengetahuannya tentang segala hal yang berhubungan dengan aktivitas para pecinta alam dengan sangat baik. Tampak jelas kalau Mb Ayu berpengalaman dalam hal itu. Aku suka dengan unsur-unsur magis dan sejarah yang terselip di dalamnya.
Novel ini mulai seru pas mereka udah memulai pendakian. Aku bisa membayangkan medan yang mereka lalui, juga kepanikan yang mereka alami. Dan tentang "ayam hutan" itu bener-bener bikin merinding dan suasananya horor banget.
Aku cuma masih belum bisa menikmati percakapan mereka. Deskripsi tokoh-tokohnya juga masih minim, aku gak bisa membayangkan wajah ataupun postur tubuh mereka. Selain itu selipan unsur romance yang sebetulnya bisa dibikin lebih manis belum terlalu berhasil membuatku tertarik dengan kisah Gitta, Ichan dan Tom.
Tapi di luar itu semua, novel ini udah membuatku degdegan malam ini dan akhirnya aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu singkat. Semoga bisa segera membaca karya penulis berikutnya.
aku sempet setengah bingung antara ngasih 3 / 4 bintang nih
untuk novel pertama, cukup bagus dan bisa menyajikan beberapa pengetahuan yang berhubungan dengan pencinta alam serta gunung yang ada di Indonesia, walau aku kadang bingung sendiri dengan beberapa istilah yang ada
beberapa twist juga muncul di sini seperti
ada beberapa hal misterius juga yang ditunjukkan, sebagian orang Indonesia mungkin senang hal-hal seperti ini *apalagi aku, hehe :D
yang kurang apa ya...
mungkin latar belakang dari tokoh2 pendaki gunung di sini yang belum begitu jelas, sama deskripsi tokoh2 yang kurang detail sedikit
tokoh yang mencuat disini (maksudnya bisa teringat) adalah Ichan, Gitta, Tom, Ambar sama Rudolf
Suka banget novelnya, teh ^_^ Jujur aja saya bukanlah seorang yg suka baca novel, tapi ini novelnya tentang petualangan (ekspedisi) bikin penasaran terus sama kelanjutan ceritanya, dan ada beberapa ilmu sejarahnya. KEREN BANGET >_<
In some point, mungkin ini sebenernya isinya masih bisa dikembangin lagi sih, atau emang udah direncanain ada sequelnya ya? hahaha ditunggu banget kalau gitu.
Sukses terus ya teh, ditunggu banget karya-karya selanjutnya ^_^ So proud to have a senior like you.
Baru baca buku ini karena baru "punya". Saat ini bukunya sudah susah dicari, tetapi mungkin masih ada di beberapa bazar buku yang menjual buku obralan sisa gudang penerbit. Bisa dibilang, ini mungkin karya kedua Ayu Welirang yang saya baca, walau ini adalah karya pertamanya.
Kalau mau dibandingkan dengan Halo, Tifa, karya ini memang masih "raw" banget. Di Halo, Tifa sudah lebih rapi dan runut, serta plotnya tidak bikin jidat mengernyit. Di sini agak gimanaa gitu, tapi memang dari segi genre atau pembahasan, ini cukup fresh.
good enough.. saya suka pembawaannya, kebetulan saya suka misteri. saya juga suka sama novel2 yang bertema adventure. hanya saja ada beberapa hal yang masih harus diperhatikan.. novelnya kurang mencapai 'klimaks', kurangnya perbedaan karakter di novel ini, dan kurangnya beberapa bagian seperti ketika... dan... (ga akan disebutin takut spoiler hehe. tapi keseluruhan novel sudah bagus. sukses terus ka ayu! =)
Terlepas dari kekurangannya, sebetulnya buku ini memiliki adegan-adegan yang menarik, filmis, dan seru. Andai saja deskripsinya bisa diperkuat lagi.
Dan, saya percaya; berdasar ide yang diusung pada debutnya, adegan-adegan yang disajikan, (dan sedikit mengintip) rak bukunya, insya Allah, Ayu Welirang akan menjadi penulis novel petualangan yang hebat suatu saat nanti. Dan, mudah-mudahan suatu saat nanti itu tak perlu menunggu terlalu lama.
Bukunya mengecewakan, terlalu kaku, penulis kurang bisa menggambarkan scene setiap adegan, saya tidak bisa merasakan rasa petualangan dan misteri yang sebenarnya ingin diangkat oleh penulis.
Dari awal baca gue mikir apa ya yang salah, ternyata ini loh, detail2 kayak fisik karakter dan pendalamannya kurang maksimal. Buat keseluruhan cerita kayak petualangan gitu sih seru karena naik gunung terus ada intrik sama masalah. Tapi tata bahasa sama plotnya kurang gimana gitu rasanya, kurang greget. Ringan dan ada banyak mitos sama gabungan budaya tapi hmmm maybe later ya.
pertama baca bukunya malah jadi menilai bukan menikmati. tapi lama lama jd kbawa suasana. banyak tempat yg ga kebayang. jd ingin menjadi penulis, eh maksudnya petualang setelah baca bukunya
Sinopsisnya beneran bikin penasaran sama masalah macam apa yang dihadapi sama ketujuh tokoh. Ide ceritanya menarik. Perpaduan antara misteri dan juga petualangan.
Aku bukan anak gunung jadi kurang ngerti sama istilah-istilah teknis yang biasa dipakai sama pecinta alam. Penjelasan singkatnya soal istilah-istilah itu ngebantu banget buat orang yang awam macam aku.
Ada tujuh tokoh yang punya spesialisasi berbeda, sayangnya karakternya kurang dikembangin. Mungkin karena itu beberapa karakter lain jadi nggak begitu masuk perhatian. Pergulatan batin soal romance bikin beberapa karakter lebih menonjol dari karakter lainnya.
Padahal tema besarnya bukan soal romance tapi tokoh yang punya pergulatan masalah romance malah lebih menonjol.
Bagian yang paling keren di sini adalah proses pendakiannya yang digambarkan begitu seru dan believable. Sungguh menyenangkan membaca tulisan dari orang yang memang mendalami dan menguasai bidang yang ia tulis.
Namun pengembangan karakter dan plotnya banyak memiliki kejanggalan. Lemah di bagian reasoning.
Saya menanti adegan naik gunung yang bikin merinding namun apa daya sensasi itu tidak saya temukan di sepanjang cerita selain sifat arogan dan keangkuhan yang ditunjukkan.