2,5 stars
Umm, baca novel ini karena pernah liat promosinya di salah satu poster penerbit Qanita, dan begitu baca blurb-nya di Goodreads, saya langsung semangan hunting buku ini.
But well.....
Masalahnya adalah, cerita ini punya potensi yang bagus, saya rasa Mr. Milne adalah seorang penggagas yang hebat, sayangnya, menurut saya, dia bukan penulis yang bagus. Kisah ini bercerita mengenai seorang gadis bernama Sophie yang sudah tidak percaya lagi pada kebahagiaan yang bertahan lama, dan setiap mendapat kebahagiaan dia selalu pesimis dan berharap bahwa cepat atau lambat kebahagiaan pasti akan terenggut darinya. Kemalangan terakhirnya, ditinggalkan oleh tunangannya tepat seminggu sebelum hari pernikahan, membuatnya semakin tidak mempercayai kebahagiaan yang berujung pada lahirnya Kue Kemalangan, kue keberuntungan yang memiliki ramalan mengenai segala ketidakberuntungan.
Pada awalnya saya sangat bersemangat ingin membaca buku ini--novel romance dengan kemungkinan pesimisme dan sarkasme, anyone?--dan bahkan sebelum mendapatkan bukunya saya sudah membayangkan sosok Sophie sebagai wanita yang smart-mouthed-pessimistic, witty, no-nonsense, dll--yang, which is, karakter yang selalu saya sukai. Ternyata? Sophie dalam buku ini berakhir menjadi karakter bitter, tanpa humor, bahkan dark humor sekalipun, terjebak dalam self-pity, dan well, berakhir dalam tangisan ketika kemalangan yang diharapkannya benar-benar muncul.
Talk about stereotypes.
Harapan saya untuk melihat sosok tokoh utama wanita yang tegar dan kuat walaupun tetap pesimis mengenai kebahagiaan hancur seketika. Yang saya dapatkan hanyalah sosok stereotip tokoh wanita dalam kisah romansa, lemah, tidak berdaya menghadapi kemalangan, menyalahkan diri sendiri dan menuduh orang lain karena tidak mempercayai kemalangannya, dan tukang menangis. Tukang. Menangis.
Oh God.
Ditambah lagi, seperti yang saya bilang sebelumnya, Mr. Milne bukanlah seorang penulis yang hebat. Kebijaksanaannya dalam mengatur plot terlihat masih sangat kurang, dengan dimasukkannya scene-scene yang menurut saya tidak terlalu penting untuk diceritakan, atau dengan memasukkan scene deskripsi latar belakang yang seharusnya diletakkan di awal cerita untuk memperkuat kehadiran peran tokoh sekunder, tapi ini malah diletakkan di sepertiga akhir cerita. Hal ini seakan-akan dilakukan karena hanya pada bagian itulah penulis ingat kalau tokoh sekunder juga butuh latar belakang peran dan pada awal-awal cerita hanya berfokus pada Sophie dan Sophie dan Sophie, entah siapa itu Ellen dan siapa itu Evelynn, bahkan siapa itu Randy (pembaca baru tahu bagaimana kisah Ellen dan Evelynn bisa berada di kehidupan Sophie setelah 1/3 terakhir buku, bahkan baru pertengahan buku saya tahu kalau Evi adalah saudara angkat Sophie, dan bukannya sahabatnya. Mengenai Randy? Jangan harap. Kehadirannya di buku hanya untuk menghalangi Garret masuk ke dalam toko Sophie). Bayangkan betapa datarnya peran para tokoh sekunder di awal hingga paruh cerita.
Tapi sungguh, yang paling membuat saya terganggu adalah dimasukkannya informasi latar belakang--yang seharusnya bisa dilakukan di awal--di tengah-tengah scene yang serius. Seperti misalnya:
Ellen: Uh, Sophie, wajahmu seperti ingin mengatakan kabar buruk. Apa aku dalam masalah serius?
Sophie: *muka siap meledak* Tentu, Ellen, kau dalam masalah, tapi tunggu, biarkan aku melihat-lihat ke sekeliling rumah dan mengingat bagaimana awalnya aku bisa menjadi anak angkatmu dan menjadi saudara angkar Evi dalam tujuh halaman ke depan!
Ellen: Uh, sudah tujuh halaman dan banyak paragraf panjang, Soph. Aku hampir lupa kalau aku sedang berada dalam masalah dan kau sudah bersiap marah padaku.
Sophie: Nah! Sekarang aku sudah siap membentakmu!
atau ini.
Garret: Jadi, kau akan kencan denganku jika ada 100 surat kebahagiaan di kotak posmu?
Ellen: Ya, tapi aku takkan membiarkannya. Sekarang pergi dan biarkan aku mengingat bagaimana pertama kali kita bertemu, kencan-kencannya yang sebenarnya tidak perlu diingat, hingga saat kau mencampakkanku dalam 200 halaman ke depan.
Maksudnya, hampir 2/3 buku berisi tentang pertemuan Sophie dan Garret, tentang kencan-kencan yang tidak terlalu penting untuk dibahas, dan hanya 1/3 bagian yang benar-benar berurusan dengan masa lalu Sophie dan konflik novel yang sebenarnya! Saran saya, Mr. Milne, potong adegan kencan-kencanan yang tidak ada hubungannya dengan konflik itu, dan pergunakan ruangnya untuk memperdalam konflik dan menjelaskan peran karakter sekunder! Dengan begitu saya rasa kita bisa simpati pada satu atau dua karakter di novel ini.
Tapi yah, terlepas dari semua hal yang saya proteskan di atas, alasan kenapa saya memberinya 2,5 bintang adalah karena saya masih suka tema dan ide besar dari novel ini, dan saya sangat menyukai karakter Garret dan Alex. Sepertinya Mr. Milne lebih hebat dalam meramu tokoh pria daripada tokoh wanita. Well....