"kalau nanti tiba-tiba kamu minta aku melupakanmu, aku akan lari ke kantor kelurahan terdekat."
"buat apa?"
"bikin surat keterangan tidak mampu."
tentang trubadur, seorang penyiar radio, yang bertugas menjodohkan sepasang pendengar melalui program bernama yours truly. di salah satu episode, datang calon pasangan bersama tra dan ica. trubadur ragu mereka berdua berhasil bersama, karena salah satu dari mereka menunjukan tanda-tanda tidak suka dan satunya lagi terpaksa jatuh cinta seorang diri. jika hal itu benar-benar terjadi, ia terancam kehilangan pekerjaan karena gagal sebagai mak comblang.
premisnya menarik, sejak awal baca udah di bikin penasaran, apalagi pas di kasih tau kalau keduanya punya perbedaan usia yang lumayan, tra 21 tahun dan ica 29 tahun. background keduanya juga semakin mendukung suasana, seorang janda dengan satu putra dan pemuda yang belum punya pengalaman cinta, sungguh perpaduan yang bikin pembaca bertanya-tanya, emang bisa?
di titik itu, gue beneran penasaran karena keduanya berada di fase kehidupan yang berbeda, dan sependek pengetahuan gue banyak hubungan serupa yang berakhir mengenaskan. masuk akal mengingat banyaknya ujian dan toleransi yang harus di sepakati, gue pribadi belum tentu bisa, karena memang bukan perihal mudah sih menjalin hubungan sama orang yang ada di fase kehidupan berbeda sama kita, salah satunya pasti harus banyak berkorban dan kasih pengertian.
di sini, penulis berhasil menggambarkan ica sebagai sosok yang dewasa, bisa di lihat dari cara dia menanggapi beberapa drama di masa lalunya, juga menanggapi tra yang sedikit kekanakan di beberapa kesempatan. gue suka ketegasan ica yang konsisten dari awal sampai pertengahan, tapi gue merasa dia sedikit goyah di akhir karena terpancing sama gombalan-gombalan basinya tra. aduh, karakter tra ini emang persis kayak anak-anak awal dua puluhan yang masih belum selesai sama permasalahannya di masa remaja, masih bingung juga sama kehidupan orang dewasa, dan nggak tau masa depan mau di bawa ke arah mana. di beberapa kesempatan, gue berhasil melihat kedewasaan dalam karakternya, tapi lama-lama gue sadar kalau itu cuma omon-omon doang, dia masih belum punya prinsip dan nggak papa mengingat dia masih sangat, sangat muda. beberapa pandangan tra sangat bertolak belakang dengan hal-hal yang gue amini, terutama bagaimana cara dia memandang sosok ica, nggak banget sih itu. terus kenapa gue tadi berani bilang dia cuma bisa omon-omon doang, karena beberapa perkataan sama perlakuannya nggak sejalan, dia satu sisi berani menawarkan dunia dan seisinya ke ica, tapi di sisi lain dia masih nggak berani buang barang dari seseorang yang pernah dia anggap berharga, belum selesai sama masa lalu tapi berani coba sama orang baru. mana kayak orang bener banget lagi, langsung pengen ngajak nikah dan lain sebagainya, sedangkan lo aja masih belum selesai sama diri lo sendiri dan mimpi lo yang nggak pernah tercapai itu, belum lagi soal masa lalu lo. tra tra.... lo itu emang masih muda banget.
hal yang gue sayangkan ya tadi, perkembangan karakter ica yang menurun di setiap halamannya. masa iya cewek setegas lo luluh sama cowok kemarin sore? i mean... ayolah ca, gue ngerasa nih karakter deserve better, apalagi setelah banyaknya drama yang di lewati seorang diri. lo butuh seseorang yang udah selesai sama dirinya sendiri, bukan anak kemarin sore yang masih cari jati diri dan lagi berambisi ngejar mimpi. lo nggak butuh gombalan basi, yang lo butuh tuh pasangan sejati dan figur ayah pengganti buat anak lo. tra jelas belum sampai di titik itu, suatu saat mungkin karena manusia kan terus bertumbuh.
kalo secara alur itu gue suka karena padet dan sat set, bisa selesai dalam sekali duduk dan nggak bikin bosan, meski konsepnya sama dari awal sampai penutupan. trubadur kasih 30 sekian pertanyaan ke keduanya dan itu yang akan kalian baca sampai halaman terakhir buku ini, tapi karena semua pertanyaannya menarik dan jawaban dari keduanya juga sama, jadi seru aja bacanya, berasa masuk ke kepala para tokohnya. tapi yang di sayangkan itu konflik selipan yang di suguhkan, terlalu banyak kebetulan dan drama murahan, plot twist di ending pun terlampau kurang karena udah bisa di tebak dari awal. menurut gue, mending fokus aja ke pertanyaan demi pertanyaan dan perkembangan chemistry keduanya, nggak usah lah di selingi konflik aneh begitu, tanpa itu pun, konsep ceritanya udah menarik di tambah gaya penulisannya juga bagus, jadi ngalir banget bacanya.
paling itu aja sih, meski konflik dan endingnya kurang, tapi pengalaman membaca gue seru karena di setiap babnya kita di kasih tau isi kepala kedua tokoh yang sangat berbeda. bisa jadi pilihan kalau butuh bacaan tipis dan ringan, karena cuma sekitar 200an halaman.