Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perang Suara : Bahasa dan Politik Pergerakan

Rate this book
Bagaimana cara gagasan modern menggerakan rakyat? Seberapa jauh gagasan dapat mengonsolidasi kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat sehingga melahirkan organisasi politik, pemogokan dan bahkan perlawanan bersenjata? Persoalan bahasa menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bahasa bukan sekadar alat penyampai gagasan yang statis. Lebih dari itu, bahasa adalah medan perang bagi gagasan-gagasan. Pertentangan antara kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat pada kemunculan, perkembangan hingga hilangnya kosakata tertentu.

Di Hindia Belanda abad XX, pertentangan ini mendapat panggung pada surat kabar. Pergolakan sosial dan perkembangan dunia cetak-mencetak akibat kapitalisme menjadi landasan rakyat bumiputra untuk bersuara lewat tulisan. Kekuasaan kolonial pun bereaksi dengan bersenjatakan bahasa. Buku ini menguraikan hubungan antara bahasa, ideologi dan hegemoni politik pada masa pergerakan. Cara rakyat mengartikan persoalan sosial dan posisi mereka sendiri dalam berhadapan dengan persoalan tersebut serta bagaimana sebenarnya gagasan digerakkan di dalam kenyataan dan hubungannya dengan perkembangan politik dijelaskan di dalam buku ini.

140 pages, Paperback

Published January 1, 2024

8 people are currently reading
54 people want to read

About the author

Hilmar Farid

10 books4 followers
Hilmar Farid adalah sejarawan, aktivis, dan pengajar. Ia senang memasak, berenang dan bermusik untuk mengisi waktu senggang. Menyelesaikan studi S-1 di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1993) dengan skripsi tentang politik bahasa kaum pergerakan di masa kolonial. Setelah lulus, dia mendirikan Jaringan Kerja Budaya bersama beberapa orang seniman, pekerja budaya dan peneliti di Jakarta. Dia sempat bekerja dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta (1995-1999), memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia (2002-2007), dan menjadi ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012. Dia aktif dalam Inter-Asia Cultural Studies Society, Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan gerakan kemanusiaan di Indonesia dan Timor Leste.

Tulisannya mencakup ”Kolonialisme dan Budaya: Balai Pustaka di Hindia-Belanda,” untuk majalah Prisma (1991); ”Covering Strikes: Indonesian Workers and Their Media” (1997); ”The Struggle for Truth and Justice in Indonesia: A Survey of Transitional Justice Initiatives throughout Indonesia” (2004); Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (2004); ”The Class Question in Indonesian Social Sciences”, dalam buku berjudul Social Science and Power in Indonesia (2005); ”Indonesia’s Original Sin: Mass Killings and Capitalist Expansion, 1965-66” (2005); dan ”Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A Colonial Antipode” (2008).

Pada 31 Desember 2015, ia dilantik menjadi Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
19 (44%)
4 stars
19 (44%)
3 stars
5 (11%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
2 reviews
February 9, 2025
Mungkin begini ya skripsi yang bagus itu. Dia tidak mengguncang dunia karena menemukan suatu teori baru atau menumbangkan satu teori lama yang sudah ajeg ratusan tahun di bidangnya. Dia cukup mengangkat satu fenomena, menyoroti satu masalah, membaca stuasi di sekitar fenomena itu sehingga membuat pembacanya berkata “oh gitu yaaaa“ atau “ya bisa juga sih dilihat seperti itu“.
Terlepas dari label atau pengakuan dari pembacanya bahwa buku ini pada awalnya adalah “satu skripsi yang bagus“ marilah kita bersyukur bahwa Indonesia pernah punya Dirjen Kebudayaan yang memang pantas menempati posisinya yaitu Hilmar Farid ini💁 Dari skripsinya saja kita sudah bisa belajar banyak, misalnya bahwa sejarah pergerakan Indonesia pada akhir abad 19 dan awal abad 20 begitu dinamis, sangat menarik dan memiliki banyak lapis untuk dibahas. Dalam buku ini Hilmar memberikan gambaran bahwa bahasa adalah penting bagi pembentukan identitas, dunia dan menggerakkan (atau melemahkan) sebuah perjuangan. Kata-kata yang di telinga kita sekarang mungkin terdengar banal seperti: bangsa, rakyat, buruh, kapitalis, kaum, kelas, semua itu ternyata ada jalan perkembangannya, ada kaitannya dengan berbagai peristiwa politik, dari mulai kolonialisme negara-negara Eropa di wilayah Indonesia (dengan nama yang berbeda-beda sesuai perkembangan zaman), PD 1 dan 2, sampai akhirnya menjelang kemerdekaan Indonesia itu sendiri (buku ini ditutup sampai saat sebelum masuknya Jepang).
Bintang 4/5 karena beberapa halimat menurut saya kurang jelas (perlu diedit lebih lanjut), ada salah ketik yang cukup mengganggu dan gaya menulis yang campur antara gaya bicara dan gaya menulis. Saya tak perlu berpanjang-panjang soal kekurangan keterampilan atau redaksi berbahasa ini karena saya sungkan juga sama Hilmar karena dalam bukunya ini dia menyebut-nyebut soal upaya beberapa pihak/orang/lembaga yang suka memaksakan peraturan berbahasa, menyeragamkan apa yang tidak perlu diseragamkan, menjadi otoriter dan mengatur-atur soal bahasa 😅
Profile Image for Willy Alfarius.
95 reviews8 followers
April 2, 2024
Salah satu skripsi terbaik dari jurusan ilmu sejarah yang pernah saya baca. Fay dalam tulisannya ini melakukan semacam eksperimen, alias keluar dari pakem penulisan/penelitian sejarah konvensional (terutama di level S1) yang umumnya mengedepankan rangkaian peristiwa dalam suatu lingkup spasial/temporal yang amat spesifik. Bisa jadi, ini adalah sebentuk keberhasilan penggunaan pendekatan multidimensional yang digaungkan oleh Sartono, yang mana nyaris sedikit berhasil ketika dipraktikkan di level sarjana.

Fay menguraikan perkembangan bahasa dan kaitannya dengan pergerakan kebangsaan Indonesia sepanjang kemunculan gerakan nasionalis di awal abad 20. Bahasa dalam hal ini adalah gagasan, term, dan semua alam pikir yang datang dan dikonsumsi oleh kaum pergerakan, untuk kemudian mereka perkenalkan ke khalayak dan lantas menjadi motor bagi pembentukan tentang sebuah bangsa dan negara nantinya. Yang kemudian ia soroti misalnya: partij, socialisme, kommunist, actie, mogok,kapitalisme, sabotase, revolutie, propagandist, propaganda, proletar, boijkot, sampai demonstratie, dan masih banyak lagi. Kesemuanya, kosa kata beserta alam pikir baru yang dibawanya, mewarnai khazanah bahasa Melayu saat itu yang pada akhirnya turut serta menjadi embrio bagi kemerdekaan Indonesia nantinya.
Profile Image for Anom Parikesit.
40 reviews3 followers
March 21, 2024
Mas Fay merupakan salah seorang alumni yang jenius dari fakultas sejarah Universitas Indonesia. Buku ini, konon tertahan cukup lama sebelum akhirnya dilegalisir karena beliau menolak untuk merevisi skripsinya. Dimana hal ini merupakan bagian dari proses penertiban zaman orde baru.

Buku ini membahas bahasa sebagai salah satu kendaraan perjuangan sebuah bangsa. Perubahan penggunaan istilah, misalnya dari “kaoem kromo” menjadi “boeroeh menjadi sinyal meningkatnya aktivitas pergerakan di kaum pekerja.

Sebagai orang yang bekerja di dunia penerbitan dan percetakan, buku ini juga membahas secara detail bagaimana kedua bidang ini berperan penting dalam menggaungkan semangat pergerakan melalui bahasa yang digunakan dan perwajahan dari redaksinya.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
July 16, 2024
Buku yang mengajak kita menelusuri hubungan kompleks antara bahasa, ideologi, dan politik di masa pergerakan Hindia Belanda pada abad ke-20. Buku ini menawarkan perspektif unik tentang bagaimana bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medan pertempuran gagasan yang dapat menggerakkan rakyat dan membentuk kekuatan sosial.

Hilmar Farid berhasil menggambarkan dengan jelas bagaimana surat kabar di masa kolonial menjadi arena utama bagi rakyat bumiputra untuk bersuara dan mengekspresikan aspirasi mereka. Pergolakan sosial dan perkembangan dunia cetak yang dipengaruhi oleh kapitalisme memberikan fondasi yang kuat bagi munculnya bahasa perlawanan. Reaksi kekuasaan kolonial yang juga menggunakan bahasa sebagai senjata menunjukkan betapa pentingnya peran bahasa dalam konflik sosial dan politik.

Secara keseluruhan, buku ini sangat informatif dan membuka wawasan tentang peran penting bahasa dalam sejarah pergerakan sosial dan politik. Buku ini wajib dibaca bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah, linguistik, dan studi politik, serta bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang dinamika sosial di masa kolonial Hindia Belanda.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books88 followers
October 21, 2025
Buku ini memberikan pengantar yang menarik tentang perkembangan bahasa Indonesia (atau mungkin tepatnya bahasa yang digunakan di Indonesia) dalam kaitannya dengan pergerakan di abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sungguh menarik melihat bagaimana para aktivis pada awalnya memilih menggunakan bahasa Melayu Pasar, dan bagaimana mereka menyerap atau memadankan istilah-istilah pergerakan, politik, dan sosial-ekonomi dari bahasa asing. Saya pun tersenyum pahit memikirkan betapa bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang terlahir di bawah pengaruh besar Balai Pustaka yang mengistimewakan bahasa Melayu Tinggi dan rajin menyensor karya-karya demi kepentingan kolonial.

Ngomong-ngomong, dalam simposium sastra Hindia Belanda di Rangkasbitung belum lama ini, Ibu Sastri dari Pusat Manuskrip Nasional (di bawah BRIN) mengatakan bahwa lembaganya dan Perpustakaan Nasional sedang menggelar proyek menyelamatkan karya-karya sastra Melayu Pasar yang sempat terpinggirkan akibat sensor Balai Pustaka. Semoga dengan demikian, akses kita ke karya-karya tersebut makin terbuka lebar!
Profile Image for luthfia..
142 reviews2 followers
May 17, 2025
⭐️4/5
Buku yang sangat menarik, mengangkat isu terkait peran bahasa dalam politik pergerakan Indonesia kala masa penjajahan Belanda.

Berakar dari pertanyaan ‘mengapa pergerakan bangsa Indonesia baru dimulai pada abad XX, tidak jauh sebelumnya?’, buku ini mengupas bagaimana proses Bahasa Indonesia terbentuk dan apa pengaruhnya bagi perjuangan bangsa dalam melawan penjajahan.

Buku ini cukup memberi wawasan lebih melalui pertanyaan berbobot yang belum pernah ku pikirkan sebelumnya. Kita diajak untuk melihat lagi ke belakang, memahami sejarah perjuangan bangsa dari kacamata yang berbeda: bahasa.

Walau di akhir rasanya menggantung, tapi buku ini cukup jadi bacaan yang menarik untuk menambah insight baru.
Profile Image for Ardhias Nauvaly.
66 reviews3 followers
March 12, 2024
Kapan lagi punya Dirjen Kebudayaan yang bisa bikin skripsi sebagus ini? Menggunakan kelas kategorisasi masyarakat dengan bahasa sebagai unit analisis untuk melihat dinamika kaum pergerakan Indonesia awal abad ke-20. Luar biasa.

Jadi kepikiran. Bahasa seperti apa ya yang membuat masyarakat Indonesia mudah lupa; mudah sekali menukar citra jenderal penjagal dengan kakek tua gemoy? Bahasa seperti apa yang membuat "kaum pergerakan" selalu gagal membangun blok kesepahaman untuk menyampaikan program dan agenda politiknya? Hm.
Profile Image for Sry Puteri.
57 reviews
October 20, 2025
Pertama kali membaca buku Hilmar Farid. Ternyata buku ini adalah skripsi dari Hilmar yang kemudian dijadikan sebuah buku.

Sebuah analisis yang dalam mengenai bagaimana bahasa secara alami berkembang dan bertransformasi di dalam masyarakat. Pemilihan Bahasa Melayu (Melayu Pasar) sebagai bahasa dominan adalah karena adanya kesetaraan dalam penggunaan bahasa dibandingkan dengan bahasa lain yang terbagi-bagi dalam kasta.
5 reviews
January 26, 2025
pak hilmar, ini beneran skripsi kan?? skripsi kann??? ini skripsi??? SKRIPSI???

di sini dijelaskan bahwa isinya lebih ke proses sejarah daripada peristiwa sejarah itu sendiri. bagaimana bahasa adalah suatu yang sangat penting dalam perkembangan pergerakan.
Profile Image for Samantha R.
18 reviews
July 7, 2025
I think it’s GOAT behavior to turn your thesis into a book. This thesis was conducted by Pak Fay around thirty years ago, yet it remains relevant: how languages can move communities against the oppressing regime.
Profile Image for Tsunn.
235 reviews5 followers
January 26, 2025
Menurutku buku ini menarik banget. Sebagai orang yang awam dengan sejarah, rasanya aku lupa menyoroti bahwa bahasa punya andil yang besar dalam peristiwa sejarah kita. Sangat berkesan.
Profile Image for die.
30 reviews
Read
July 22, 2025
marah marah dengan bahasa yang objektif i loved it
Profile Image for Ursula.
305 reviews19 followers
June 30, 2024
This book is based on the bachelor dissertation of Hilmar Farid, a renowned historiographer and activist. It offers an intriguing glimpse into the Indonesian civil movement before independence in his bachelor dissertation.

Due to its nature, this book is packed with archives and its analysis is not particularly groundbreaking. It somewhat resembles a well-sourced and well-documented Twitter thread. Nevertheless, for a dissertation written in 1993, it can be seen as ahead of its time.

It also prompts me to reflect on how certain issues remain the same pre and post independence, particularly within politically aware intellectuals' circles. I'm specifically referring to the disconnect between them and the grassroots. Take, for instance, the language used in educational posts. During the colonial era, there was a debate over whether to use Melayu Kasar, Indonesian, or Dutch. While intellectuals at the time were proficient in Indonesian, Melayu Halus, and even Dutch, the grassroots community was not. This wouldn't pose a problem if the intellectuals were willing and able to initiate a political movement. However, more often than not, it was the grassroots who had the capacity due to their experience and numbers.

Regrettably, we still haven't found the most effective way to unify these two groups towards a common goal.
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
October 20, 2025
Saya tadinya bersikap skeptis saat membaca kata pengantar bahwa buku ini sebenarnya merupakan skripsi Hilmar Farid saat menempuh pendidikan sarjana beliau di jurusan sejarah.

Namun ketika saya membaca helai demi helai penelitian Fay, saya mendapat pencerahan baru, tentang bagaimana bahasa yang kita gunakan sekarang, bermetamorfosa,
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.