Mereka hilang dalam hitungan detik. suara tawa anak-anak di teras rumah malam itu akan selalu menjadi kenangan paling menyakitkan. Rasanya baru kemarin aku menghabiskan waktu, duduk bersama mereka di teras rumah sambil menyanyikan beberapa lagu untuk mengobati luka di hati kita masing-masing sudah biasa kupastikan bahwa luka yang ada di hati mereka adalah aku penyebabnya.
Alunan gitar yang sesekali kumainkan, menjadi caraku untuk menebus semua kesalahanku selama ini, yang ternyata sama sekali tidak cukup menghapus kesalahanku.
Novel berjudul Merayakan Kesedihan “Laut Pasang 1994” karya kak Airindia Nanda Suryadi atau akrab dipanggil kak Lilpudu, menceritakan tentang kisah seorang bapak dan 2 anaknya yaitu Khalid Mahavir dan Batara Dewangga. Dari 7 putra bapak Purnomo, hanya 2 anak yang masih selamat dari gulungan ombak tsunami yang meratakan semua yang dilewatinya. Cerita disampaikan melalui seriap PoV dari 3 tokoh utama ini, sehingga emosi dari pembaca pun juga semakin mendalam. Saya membaca novel ini harusnya butuh waktu kurang lebih 2-3 jam, tapi setiap halamannya saya membutuhkan 5-8 menit untuk menangis. Hebat sekali kak Lilpudu membawakan setiap kata, kalimat, dan suasana dalam novel ini. Bahkan ketika saya mulai mengetik ini pun masih terasa emosinya. Dimulai dari sudut pandang bapak yang menyesal karena sudah banyak berperilaku kasar pada semua anaknya dan berjanji untuk selalu berusaha menjadi bapak yang lebih baik lagi. Di masa lalu, bapak tidak pernah memberikan peran “bapak” kepada 7 putranya, bahkan melakukan kekerasan fisik yang pastinya melukai mental anak-anaknya. Mereka adalah Khalid Mahavir, Janadi Pranawa, Batara Dewangga, Apta bayuaji Cokroaminoto, Kaesang, Adipati, dan Windu. Setiap sudut pandang dari bapak, Khalid si anak sulung, dan Dewangga si anak ketinga sangat menyentuh hati. Mereka sama-sama tidak ingin terlihat lemah satu sama lain, padahal nyatanya mereka semua korban dan tidak ada yang bisa dilakukan selain saling menguatkan. Masih sangat membekas di ingatan saya, satu jam lebih saya menangis untuk goresan pena halaman 123 saat Apta berkata pada Dewangga “Jangan benci Bapak, Mas..” Di akhir novel ini, ada secercah harapan bahwa Apta - yang jasadnya masih belum ditemukan, sedang berada di rumah sakit kota. Kelanjutannya bagaimana? Mari kita baca seri berikutnya.
Novel ini mengingatkan bahwa ngga semua kehilangan itu bisa diperbaiki, tetapi setiap kehilangan bisa dimaknai. Setelah membaca novel ini, saya berpikir saya harusnya merasa lebih menghargai kehadiran orang-orang terdekat karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan terakhir untuk bersama mereka. Tapi mungkin bagi saya, kekurangnnya sendiri ada di tempo cerita, karena cenderung lambat karena lebih berfokus pada perasaan tokoh.
It tells the story of a family that is no longer perfect, having lost several his children and a wife after a devastating flood—a difficult reality for a father trying to continue with life.
This book is well-written, but unfortunately, there are many paragraphs that are repetitive, which made me feel a bit bored halfway through the chapters.