What do you think?


Seks dalam Ketetapan Negara dan Tuhan
Seks sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang tabu, menjijikkan, tetapi juga indah, nikmat, sakral, dan menggairahkan. Seks yang sering dianggap privat dan tersembunyi ini, pada kenyataannya tidak pernah lepas dari kontrol para penguasa.
Buku ini mengurai pemikiran tentang kontrol negara atas tubuh dan seksualitas rakyatnya, khususnya perempuan. Bahkan dogma-dogma beragama dari Tuhan juga seringkali ditafsirkan sebagai alat untuk memenjarakan hak seksual perempuan.
Apakah maksud dari semua kontrol itu? Apa kepentingan penguasa ikut mengontrol tubuh dan seksualitas rakyat lewat regulasinya? Soe Tjen Marching telah menyoroti isu tersebut sejak 20 tahun silam, dan menuliskan gagasannya melalui buku ini.
Buku ini mengurai pemikiran tentang kontrol negara atas tubuh dan seksualitas rakyatnya, khususnya perempuan. Bahkan dogma-dogma beragama dari Tuhan juga seringkali ditafsirkan sebagai alat untuk memenjarakan hak seksual perempuan.
Apakah maksud dari semua kontrol itu? Apa kepentingan penguasa ikut mengontrol tubuh dan seksualitas rakyat lewat regulasinya? Soe Tjen Marching telah menyoroti isu tersebut sejak 20 tahun silam, dan menuliskan gagasannya melalui buku ini.
155 pages, Paperback
Published January 1, 2024
About the author
Soe Tjen Marching
19 books68 followersSoe Tjen Marching (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1971; umur 39 tahun) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Ia memperoleh gelar Ph.D.nya dari Universitas Monash, Australia dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa.
Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne - Australia. Salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan oleh Antipodes, sebuah jurnal sastra terkemuka di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga seorang komponis penting di Indonesia, yang karya-karyanya telah dipagelarkan di Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Sebagai seorang komponis, ia pernah memenangi kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998. Sebuah komposisinya, "Kenang" (2001) diterbitkan sebagai bagian dari sebuah CD, "Asia Piano Avantgarde: Indonesia" yang dimainkan oleh pianis tersohor dari Jerman, Steffen Schleiermacher. CD ini telah beredar di Amerika dan Eropa. Pada Juni 2010, karya musiknya memenangkan kompetisi Internasional avant-garde yang diadakan di Singapura.
Novel Soe Tjen, berjudul Mati Bertahun yang Lalu, diterbitkan oleh Gramedia pada akhir tahun 2010. Novel ini diilhami oleh pengalaman pribadi Soe Tjen terjangkit kanker 3 kali.
Soe Tjen Marching juga sering bekerja sama dengan suaminya, Angus Nicholls, seorang peneliti sastra Jerman di Queen Mary University of London.
Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne - Australia. Salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan oleh Antipodes, sebuah jurnal sastra terkemuka di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga seorang komponis penting di Indonesia, yang karya-karyanya telah dipagelarkan di Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Sebagai seorang komponis, ia pernah memenangi kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998. Sebuah komposisinya, "Kenang" (2001) diterbitkan sebagai bagian dari sebuah CD, "Asia Piano Avantgarde: Indonesia" yang dimainkan oleh pianis tersohor dari Jerman, Steffen Schleiermacher. CD ini telah beredar di Amerika dan Eropa. Pada Juni 2010, karya musiknya memenangkan kompetisi Internasional avant-garde yang diadakan di Singapura.
Novel Soe Tjen, berjudul Mati Bertahun yang Lalu, diterbitkan oleh Gramedia pada akhir tahun 2010. Novel ini diilhami oleh pengalaman pribadi Soe Tjen terjangkit kanker 3 kali.
Soe Tjen Marching juga sering bekerja sama dengan suaminya, Angus Nicholls, seorang peneliti sastra Jerman di Queen Mary University of London.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
April 20, 2025
31 - 2025
Kumpulan esai tulisan Soe Tjen Marching selama beberapa tahun tentang seks, gender, peraturan, negara, agama semuanya. Beberapa tulisan pernah saya baca. Hampir semua kasus saya tau, dan peraturan negara yang dibahas juga lekat dengan yang biasanya jadi obrolan saya dan kawan-kawan.
Menyenangkan membacanya. Kita perlu banyak menuliskan dan ngobrolin hal begini karena penting dan seharusnya tidak lagi menjadi hal tabu.
Kumpulan esai tulisan Soe Tjen Marching selama beberapa tahun tentang seks, gender, peraturan, negara, agama semuanya. Beberapa tulisan pernah saya baca. Hampir semua kasus saya tau, dan peraturan negara yang dibahas juga lekat dengan yang biasanya jadi obrolan saya dan kawan-kawan.
Menyenangkan membacanya. Kita perlu banyak menuliskan dan ngobrolin hal begini karena penting dan seharusnya tidak lagi menjadi hal tabu.
March 26, 2024
Buku ini berisi kumpulan artikel yang ditulis Bu Soe Tjen sejak 20 tahun silam. Secara garis besar, semua artikel tersebut adalah kritik atas intervensi otoritas (negara dan agama) terhadap hal-hal privat masyarakat yang tidak seharusnya dikontrol. Meskipun banyak artikel lawas, namun permasalahan yang diangkat dan gagasan yang dibawa masih sangat relevan dengan status quo Indonesia saat ini. Buku ini ditulis dengan perspektif feminis-sekuler dan dengan bahasa yang provokatif. Jadi, mayoritas orang Indonesia (yang masih konservatif) kemungkinan besar akan menolak gagasan-gagasan dalam buku ini. Terlepas dari polemik tersebut, buku ini sangat layak dibaca dan mudah dipahami karena diksi-diksi yang dipakai cukup sederhana.
March 2, 2026
Seks dalam Ketetapan Negara dan Tuhan karya Soe Tjen Marching, merupakan buku non fiksi yang berisikan artikel-artikel yang menggugat dan mempertanyakan tentang seks yang seharusnya hal tersebut merupakan ihwal yang paling lahiriah dan juga paling privasi dari seorang manusia (terutama dari sudut pandang perempuan), dimana seharusnya negara tidak berhak mengatur sebegitu detailnya. Apalagi seringkali aturan yang sudah dibuat sedemikan rupa kompleksnya, sesungguhnya hanya sedang memberikan kesempatan pihak yang punya kuasa untuk memanfaatkannya.
Artikel dalam buku ini dikumpulkan dalam rentang 20 tahun kepenulisan dari Soe Tjen Marching dan tentunya sudah pernah terbit di berbagai media. Namun, sudah lewat dari 20 tahun pun, isu yang dibicarakan dan dipertanyakan di buku tersebut masih sangat relate dan relevan.
Artikel dalam buku ini dikumpulkan dalam rentang 20 tahun kepenulisan dari Soe Tjen Marching dan tentunya sudah pernah terbit di berbagai media. Namun, sudah lewat dari 20 tahun pun, isu yang dibicarakan dan dipertanyakan di buku tersebut masih sangat relate dan relevan.
April 24, 2025
Suka dengan cara bu Soe Tjen mengkritik tajam tentang bagaimana negara membuat peraturan yang katanya berdasarkan moralitas, sedangkan tidak jarang justru hanya menjadi alat politis yang menguntungkan beberapa pihak.
Buku ini berisikan kumpulan esai bu Soe Tjen yang pernah dipublikasi di beberapa media sejak 2001. Penguraian hasil pemikiran beliau tentang fenomena terkait seksualitas dengan bahasa yang mudah dimengerti bahkan untuk awam.
Tapi ada salah satu bagian yang hampir membuat ingin menyerah buat lanjut baca, pembahasan tentang bagaimana hukum di negara ini yang secara halus melindungi pelaku pemerkosaan dan tidak berpihak kepada korban. Juga bagaimana masyarakat melihat korban yang hina dan turut disalahkan atas pencurian yang terjadi pada tubuhnya.
Buku ini berisikan kumpulan esai bu Soe Tjen yang pernah dipublikasi di beberapa media sejak 2001. Penguraian hasil pemikiran beliau tentang fenomena terkait seksualitas dengan bahasa yang mudah dimengerti bahkan untuk awam.
Tapi ada salah satu bagian yang hampir membuat ingin menyerah buat lanjut baca, pembahasan tentang bagaimana hukum di negara ini yang secara halus melindungi pelaku pemerkosaan dan tidak berpihak kepada korban. Juga bagaimana masyarakat melihat korban yang hina dan turut disalahkan atas pencurian yang terjadi pada tubuhnya.
April 12, 2025
“Seks”, hal yang masih cukup tabu diperbincangkan di masyarakat Indonesia walau sudah memasuki era digitalisasi ini.
Bu Soe menguraikan pemikirannya dibuku ini kepada pembaca yang ingin membuka wawasan terkait seksualitas, terutama pada Perempuan. Banyak sekali hal kompleksitas yang dipaparkan beliau dan disampaikan cukup sederhana. Ada salah satu kalimat yang cukup menohok:
“Struktur sosial, ekonomi dan kesempatan perempuanlah yang harus dibenahi terlebih dahulu.”
I couldn’t agree more Bu🙂
Bu Soe menguraikan pemikirannya dibuku ini kepada pembaca yang ingin membuka wawasan terkait seksualitas, terutama pada Perempuan. Banyak sekali hal kompleksitas yang dipaparkan beliau dan disampaikan cukup sederhana. Ada salah satu kalimat yang cukup menohok:
“Struktur sosial, ekonomi dan kesempatan perempuanlah yang harus dibenahi terlebih dahulu.”
I couldn’t agree more Bu🙂
December 30, 2024
Essay tentang hubungan antara seks dengan negara dan agama yang bisa dibaca dalam sekali duduk.
Dalam buku ini, kita akan berjumpa dengan pemikiran Soe Tjen Marching tentang seksualitas, terutama dalam hal ini adalah perempuan. Dogma masyarakat tentang hubungan seks yang terbentuk karena standar yang dibuat oleh negara menjadi salah satu topik yang menarik dalam buku ini.
Dalam buku ini, kita akan berjumpa dengan pemikiran Soe Tjen Marching tentang seksualitas, terutama dalam hal ini adalah perempuan. Dogma masyarakat tentang hubungan seks yang terbentuk karena standar yang dibuat oleh negara menjadi salah satu topik yang menarik dalam buku ini.
December 20, 2024
me while reading this book: mmmmhm.
September 10, 2025
Membaca esai-esai beliau menurut aku bukan hal yang baru bagiku, selaku salah satu pengikut beliau di Twitter. Ketika ketemu sama beliau di Warung Sastra dan mendengar ucapan-ucapan beliau, aku ketar-ketir bukan main karena beliau sangat berani! Nggak segan ngomongin hal-hal yang nggak disukai negara, dengan lantang, di tengah-tengah permukiman penduduk. Itu kesan yang sangat membekas. Membaca buku ini bikin perasaan merinding yang sama itu kembali. Hal lega yang muncul dalam benakku adalah semacam “syukurlah, akhirnya ada orang yang mendukung semua hal yang juga aku pikirkan, juga menentang semua hal yang aku perdebatkan”. Jika kamu perempuan, pemikir, atau seenggaknya orang yang concern dengan isu-isu perempuan, seksualitas, norma, dan hukum yang menyertainya, bacalah buku ini. Rasakan meriahnya pemikiranmu dirayakan dan diperbincangkan “kebenarannya” bersama beliau dalam bait-bait kalimat yang kontroversial, berani, dan berapi.
May 18, 2026
Bagi saya, baca kumpulan esai atau nonfiksi itu rasanya seperti habis dikuliahi. Kepala penuh catatan tak kasat mata. Banyak hal yang tiba-tiba terasa masuk akal, tapi juga muncul lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Seks itu tabu di masyarakat. Padahal seks adalah bagian dari kebutuhan biologis manusia, seperti halnya makan dan minum. Semua hal yang berpotensi menimbulkan napsu birahi, ditentang oleh masyarakat bahkan negara. Padahal, pelanggaran yang perlu ditentang keras masih banyak; korupsi, kriminal, kekerasan, pelecehan, dll.
Buah pikir Soe Tjen Marching memang harus menjadi renungan bagi semua bangsa kita. Sudah saatnya kita tidak mengurusi apa yang membuat birahi, tapi apa yang dampaknya bisa merusak negeri.
Seks itu tabu di masyarakat. Padahal seks adalah bagian dari kebutuhan biologis manusia, seperti halnya makan dan minum. Semua hal yang berpotensi menimbulkan napsu birahi, ditentang oleh masyarakat bahkan negara. Padahal, pelanggaran yang perlu ditentang keras masih banyak; korupsi, kriminal, kekerasan, pelecehan, dll.
Buah pikir Soe Tjen Marching memang harus menjadi renungan bagi semua bangsa kita. Sudah saatnya kita tidak mengurusi apa yang membuat birahi, tapi apa yang dampaknya bisa merusak negeri.
September 1, 2026
Banyak sekali kutipan menarik dari buku ini yang saya quote sebagai referensi untuk bacaan selanjutnya. Buku yang terlihat berat namun setelah saya baca, analisis dan cara penulisan dari buku ini sebetulnya cukup ringan untuk buku non-fiksi yang membahas tentang seks yang sebetulnya sangat tabu di beberapa negara spesifiknya Indonesia. Buku ini sebetulnya bukan acuan untuk mengerti sepenuhnya siapa yang diuntungkan oleh penabuan seks oleh negara, sehingga pembaca harus membaca langsung beberapa referensi yang ada di buku ini.
April 18, 2025
kumpulan esai yang dapat dibaca dalam sekali duduk. pendek, lugas, dan menggelitik.
Penulis mengartikulasikan pendapatnya tentang seksualitas dalam dunia patriarkis, terutama di Indonesia, bagaimana negara ikut campur dalam seksualitas orang yang seharusnya bersifat intim dan pribadi dengan alasan yg didasari oleh moralitas. Usaha ikut campur ini selalu menyerang eksistensi perempuan dan kelompok LGBTQ+.
respon aku saat baca buku ini:
"mhmmmm"
"gag it"
"period."
"clock"
"clock that tea"
Penulis mengartikulasikan pendapatnya tentang seksualitas dalam dunia patriarkis, terutama di Indonesia, bagaimana negara ikut campur dalam seksualitas orang yang seharusnya bersifat intim dan pribadi dengan alasan yg didasari oleh moralitas. Usaha ikut campur ini selalu menyerang eksistensi perempuan dan kelompok LGBTQ+.
respon aku saat baca buku ini:
"mhmmmm"
"gag it"
"period."
"clock"
"clock that tea"
November 21, 2025
The book that devours everything from sex, identity, discrimination, media propaganda, religions, and nations. It's truly an eye-opening book to read on multiple perspectives especially regarding sexual harassment, laws, social constructivism, and desire.
Thank you @soetjenmarching for writing this incredible piece. Terima kasih juga sudah memperjuangkan hak-hak manusia 🙌
Finished: 10/10/2025 (14:45)
Thank you @soetjenmarching for writing this incredible piece. Terima kasih juga sudah memperjuangkan hak-hak manusia 🙌
Finished: 10/10/2025 (14:45)
April 28, 2025
Sejak baca buku beliau, nggak pernah meragukan hasil karyanya. Tulisan-tulisan di dalam buku ini bikin aku makin yakin kalau kita sebagai perempuan sejatinya bisa mendapatkan perlakuan yang sangat jauh lebih baik daripada yang terjadi sekarang ini. Dan yang paling penting, akar dari permasalahan semua ini adalah manusia yang mengutamakan moral daripada kemanusiaan itu sendiri!
September 25, 2026
Buku ini memuat kumpulan artikel yang diterbitkan oleh Bu Soe Tjen pada tahun 2001 - 2020. Seperti gaya Bu Soe Tjen biasanya, tulisan dan argumen beliau selalu berani. Menyuarakan apa yang memang menurut beliau benar dan dasar-dasar pemikirannya. Saya mendapat banyak sudut pandang baru dari buku ini. Salah satu non-fiksi yang seru dan bersahabat untuk pembaca fiksi seperti saya ini.
July 10, 2025
Membaca buku ini memang perlu meletakkan sejenak perihal Hukum dan Agama. Bagi seseorang yang bukan ahli, sekadar orang yang gemar membahas tentang isu-isu perempuan, buku ini benar-benar luar biasa menyuarakan tentang hak manusia (khususnya perempuan).
October 31, 2025
Singkat, padat, dar der dor.
Fokus utama di buku ini jelas, menggambarkan seks dari kacamata sosial di mana perempuan dan kaum marjinal lainnya seringkali dianggap sebelah mata dalam dunia yang maskulin ini.
Fokus utama di buku ini jelas, menggambarkan seks dari kacamata sosial di mana perempuan dan kaum marjinal lainnya seringkali dianggap sebelah mata dalam dunia yang maskulin ini.
November 2, 2025
Penting untuk dibaca.
Perspektif penulis terlihat jelas, seakan-akan sedang bercerita tentang sakitnya dunia yang dia alami.
Berharap risetnya lebih banyak lagi. Still, every woman need to read this.
Perspektif penulis terlihat jelas, seakan-akan sedang bercerita tentang sakitnya dunia yang dia alami.
Berharap risetnya lebih banyak lagi. Still, every woman need to read this.
June 9, 2026
“Feminisme sering kali tidak hanya menyelamatkan perempuan, tetapi juga lelaki. Paling tidak, feminisme terkadang bisa membantu kesehatan mental lelaki. Karena rasa keangkuhan lelaki yang seringkali dipupuk dalam sistem patriarki dapat membawa bencana bagi diri mereka sendiri.”
This entire review has been hidden because of spoilers.
September 12, 2026
Catatannya cuma satu sebenernya, yaitu beberapa klaim di buku ini gk disertai evidence yang mendasarinya. Tapi kayaknya buku ini tujuannya emang buat "thought provoking" yang ketika dibaca malah bikin tambah bingung😂.
But that's a good thing isn't it? Because in the end, we learn something.
But that's a good thing isn't it? Because in the end, we learn something.
September 19, 2025
this book hv a lot of things that can change the way i think, very worth to read
August 3, 2026
3 stars for me. Not that it’s not good. I just didn’t learn too many things from this book. Might be a good book for people who are not familiar with this topic.
October 10, 2026
Thought-provoking and unapologetically critical, though some arguments can feel dense and require careful rereading.
November 21, 2025
“Bila memang definisi itu tak lagi sesuai dengan manusia, definisi tersebutlah yang harus dipertanyakan, bukan manusia yang harus dipaksa untuk memenuhi persyaratan definisi tersebut.”
This quote reflects how the term “sex” is far more complex than we tend to imagine.
“Seks dalam Ketetapan Tuhan dan Negara” is an essay by Soe Tjen Marching that explores sex not merely as a physical act, but as a layered concept shaped by culture, religion, and the state—especially in the Indonesian context.
I’ve always been drawn to books that touch on topics considered “taboo.” Sex shouldn’t be taboo at all, but—you know—Indonesia. I was also genuinely curious about Soe Tjen Marching’s writing because I’ve been wanting to read Dari Dalam Kubur for so long.
What I love about this essay is how it genuinely opened my eyes. It made me rethink sex, gender, and the dogmas embedded in Indonesian society and religious institutions. Soe Tjen’s critiques feel sharp yet grounded. I was honestly shocked reading about how the state has historically handled issues surrounding sexuality—especially toward women.
But, I do feel that at times Soe Tjen shows her own bias. She uses Indonesia as her reference point, but some of her perspectives feel less relevant to the cultural nuances here—perhaps influenced by her long experience living in the West. Still, her analysis remains valuable. And yes—she even dives into church history at one point, which I didn’t expect at all.
Overall, it’s a good book, though definitely not for everyone. But honestly? Policymakers should read this (and yes, fuck KUHP). Predictably, patriarchal and masculinist groups would probably lose their minds over it—but that kind of proves her point. And the way she mentions groups like FPI had me cackling—I’m with you, Bu Soe.
Anyway, that’s all before I start rambling again.
Just read it. Especially if you think you’re the “alpha” type.
Sex is not just intercourse. Sex is not taboo. It’s a human need.
Three stars from me.
This quote reflects how the term “sex” is far more complex than we tend to imagine.
“Seks dalam Ketetapan Tuhan dan Negara” is an essay by Soe Tjen Marching that explores sex not merely as a physical act, but as a layered concept shaped by culture, religion, and the state—especially in the Indonesian context.
I’ve always been drawn to books that touch on topics considered “taboo.” Sex shouldn’t be taboo at all, but—you know—Indonesia. I was also genuinely curious about Soe Tjen Marching’s writing because I’ve been wanting to read Dari Dalam Kubur for so long.
What I love about this essay is how it genuinely opened my eyes. It made me rethink sex, gender, and the dogmas embedded in Indonesian society and religious institutions. Soe Tjen’s critiques feel sharp yet grounded. I was honestly shocked reading about how the state has historically handled issues surrounding sexuality—especially toward women.
But, I do feel that at times Soe Tjen shows her own bias. She uses Indonesia as her reference point, but some of her perspectives feel less relevant to the cultural nuances here—perhaps influenced by her long experience living in the West. Still, her analysis remains valuable. And yes—she even dives into church history at one point, which I didn’t expect at all.
Overall, it’s a good book, though definitely not for everyone. But honestly? Policymakers should read this (and yes, fuck KUHP). Predictably, patriarchal and masculinist groups would probably lose their minds over it—but that kind of proves her point. And the way she mentions groups like FPI had me cackling—I’m with you, Bu Soe.
Anyway, that’s all before I start rambling again.
Just read it. Especially if you think you’re the “alpha” type.
Sex is not just intercourse. Sex is not taboo. It’s a human need.
Three stars from me.
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
























