Jump to ratings and reviews
Rate this book

Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur sampai Ba'asyir

Rate this book
Buku karya sosiolog Jepang yang ditulis berdasarkan penelitian tentang seluk-beluk Islam di Indonesia selama lebih dari satu dekade. Berisi hasil wawancara dan analisis dari pendapat sejumlah tokoh Islam dari berbagai aliran.

176 pages, Paperback

First published February 1, 2014

12 people are currently reading
130 people want to read

About the author

Hisanori Kato

9 books18 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (22%)
4 stars
27 (35%)
3 stars
26 (34%)
2 stars
5 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for riizukiii.
120 reviews19 followers
August 23, 2020
Membaca buku ini bikin aku berpikir, jangan-jangan Orang Jepang (Hisanori Kato) yang beragama Buddha ini malah lebih banyak tahu tentang Islam daripada banyak Muslim di Indonesia.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 15, 2014
Aku tidak bisa membayangkan kalau Prof.Hisanori Kato ini bertemu dengan orang yang 'salah' saat mencoba mendiskripsikan islam. Maksud orang salah ini adalah bertemu dengan orang yang sikap dan pemahaman yang komprehensif akan islam. Saya cukup senang dengan sikap Prof.Kato tentang berbagai hal senditif dalam islam saat ini.

Bagaimana Prof.Kato saat bersinggungan dengan Ulil yang dalam islam sendiri sudah menimbulkan kontroversi. Lalu bagaimana Prof.Kato menjelaskan kehalusan budi keluarga Abu Bakar Baasyir yang dalam dunia luar dianggap keras dan fundamental. tetaplah sebagai seorang keluarga yang ramah dan jauh dari kesan itu. Yaaa Prof.Kato seperti memberi jarak sendiri kepada islam, karena memang dia beragama budha dan hanyalah orang luar saat mencoba melihat islam.

Ada beberapa yang menurutku kurang sreg, misalkan bagaimana Prof.Kato kurang mendalam dalam menjelaskan padangannya terhadap islam yang dianggap teroris dan fundamentalis. Tetapi saya juga tidak boleh mengambil kesimpulan islam dari buku ini. Karena ini hanyalah kesan-kesan Prof.Kato terhadap tokoh-tokoh islam yang diwawancarai selama melakukan penelitian.

Dari pada buku sebelumnya Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang Saya lebih suka buku pertama. Prof Kato seperti menelanjangai tetapi memberi peljaran seru. Sedang dalam buku ini Prof.Kato hanya kembali menulis pengalamana dengan tokoh-tokoh muslim. Sooo kurang mendalam. Tetapi perlu dimaklumi karena ini buku bercerita islam, takut hal sensitif menjadi bumerang bagi penulis.

3 bintang cukup!
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 11, 2014
** Books 106 - 2014 **

Buku ini menarik mengupas pemahaman kita mengenai islam lebih dalam.. Hisanori sensei orang jepang yang beragama budha meneliti apa makna islam sesungguhnya.. apa perbedaan dari islam yang fundamental dan liberal..

pemahaman yang salah terhadap islam yg fundamental selalu membuat kita mengambil kesimpulan bahwa islam yg fundamental adalah teroris.. sesungguhnya mereka hanya melaksanakan agama islam dengan seutuhnya.. selain ti, islam yang liberal tidak hanya berpatokan pada ajaran islam tetapi memaksudkan ijtihad atau pemikiran2 yg tidak menentang ajaran agama islam..

kedua islam tersebut disatukan dengan ajaran agama islam dasar yaitu dimana islam adalah memberi kedamaian dan seorang muslim yang baik akan menepati janjinya.. buku ini sangat menarik dan kita bisa mengetahui pandangan pemikiran tentang ajaran islam oleh tokoh2 penting di indonesia.. buku ini layak saya kasih 4 dari 5 bintang! :)
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,963 followers
April 2, 2014
Menyenangkan sekali mendapati bahwa Kato-sensei akhirnya menerbitkan buku lagi dan kali ini yang benar-benar dekat dengan apa yang dipelajarinya. Entah ini hanya pendapatku atau bukan, tetapi apa yang disampaikan melalui buku ini dengan wawancara dengan berbagai tokoh sesungguhnya semua menyerukan hal yang sama yakni bahwa "Islam" adalah agama yang memegang teguh pada perdamaian.

Yang aku suka dari tulisan Kato-san adalah kejenakaan yang diciptakan oleh beliau. Meskipun bahasannya berat, akan tetapi beliau bisa membungkusnya dengan ringan dan bahkan diselipkan humor cerdas.

Aku merekomendasikan untuk siapapun yang berpikiran terbuka (atau yang ingin berpikiran terbuka) untuk melihat bagaimana outsider berbicara mengenai Islam berdasarkan temuan datanya.
Profile Image for Reiza.
189 reviews7 followers
November 21, 2017
Saya mendapati buku ini terasa lebih 'matang' ketimbang buku Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang, buku Kato-san yang pertama. Selain karena isi yang menurut saya lebih menarik, pemakaian tulisan di dalam buku ini juga terasa lebih pas dan mengalir ketimbang buku sebelumnya yang nampaknya terlihat agak kaku serasa membaca buku yang ditujukan kepada khalayak non-Indonesia.

Perkenalan Kato-san terhadap Islam sebenarnya bermula dengan sederhana. Sesederhana ia melihat anak-anak yang melakukan pawai sambil membawa obor ketika Ramadhan, merasa heran melihat kuatnya umat Islam menahan lapar dan dahaga ketika bulan Puasa, dan melihat secara takjub kekuatan yang dapat dilakukan oleh umat Muslim ketika pada tahun 1991, disaat Orde Baru masih berkuasa dengan kuatnya, mahasiswa Muslim melakukan demonstrasi menuju Gedung DPR dalam rangka menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) yang mengandung unsur judi. Kato-san heran melihat apa sebenarnya yang menggerakkan umat Muslim untuk melakukan itu semua. Alasan itulah yang memulai penelitiannya tentang gerakan Islam dan demokrasi di Indonesia.

Kalau dalam buku "Kangen Indonesia", yang diceritakan adalah hasil pengamatannya terhadap orang dan kebudayaan Indonesia secara umum, maka di buku ini, kita akan melihat hasil wawancara yang Kato-san lakukan kepada tokoh-tokoh Islam di Indonesia yang mewakili berbagai spektrum pemikiran. Fundamental, Moderat, dan Liberal. Tokoh-tokoh seperti Bismar Siregar (mantan hakim agung periode Soeharto), Gus Dur (mantan presiden, tokoh NU), Lily Munir (tokoh Muslim perempuan), Mohamad Sobary (budayawan), hingga Ulil Abshar Abdalla (JIL), Ismail Yusanto (HTI), Eka Jaya (FPI), Fadli Zon (politisi) dan Abu Bakar Ba'ashir (MMI) menceritakan pandangan dan gagasannya terkait Islam.

"Anehnya, saya merasakan kehangatan yang sama manakala bertemu dengan orang-orang Islam liberal atau pun orang-orang Islam fundamental. Saya pikir itu karena mereka memahami hakikat ajaran agama Islam."


Melalui buku ini saya belajar bahwa sebenarnya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada dalam pandangan para tokoh ini terkait Islam, mereka sebenarnya berkeinginan sama. Ingin membawa Islam kearah yang lebih baik lagi. Saran dari Kato-san, bahwa dialog antar spektrum pemikiran antar Islam dan juga dengan agama lainnya harus terus dijaga dan ditumbuhkan adalah saran yang tepat. Karena hanya dengan menjaga dialoglah, aliran pemikiran ini dapat dijembatani.

"Mendorong dialog dengan Muslim dan membuang prasangka buruk kepada sesama non-Muslim dan Muslim."


Semoga!
Profile Image for Irfan Habibi.
27 reviews1 follower
January 29, 2025
Mungkin apa yang ditulis Kato dalam buku ini terasa subjektif. Tapi ini memberikan sudut pandang orang yang penasaran tanpa memiliki latar belakang pengetahuan "Islam" yang cukup mendalam. Sehingga benar-benar apa adanya dan memberikan kesan agak membingungkan.

Mungkin kita tahu siapa Abu Bakar Ba'asyir dan apa itu Fron Pembela Islam (FPI). Yang terlintas mendengar kedua itu sebagai orang Islam mungkin akan menakutkan. Terlebih dengan pembingkaian yang dilakukan oleh media.

Namun, Kato dalam buku ini menepis itu dan mengingatkan sebenarnya tujuan mereka baik, mencegah kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan.

Kato juga memberikan gambaran tokoh yang dinilai "keras" ialah muslim yang baik, sesederhana menjamu tamu dan menepati janji.

Tentu poin ini menjadi tamparan bagi umat yang merasa dirinyalah muslim yang baik tetapi hal sesederhana itu sering terabaikan.

Dalam buku ini bukan hanya pandangannya yang didapat tentang Islam dari yang dikenal "keras" tetapi juga aktivis kala itu, Fadli Zon. Di sini memberikan gambaran bagaimana alasan agama dapat menyatukan.

Lalu, tentu saja Gus Dur. Tentu bagian ini tak bisa didebat bagaimana "kesaktian" dalam kesederhanaan Cucu Pendiri NU.

Dalam epilog buku ini, ada beberapa hal yang benar-benar perlu digaris bawahi. Pertama, Kato membagi muslim dalam dua kelompok, Islam Fundamental (yang menjalankan ajaran agama sesuai dengan Hadis dan Quran) dan Islam Liberal (yang menafsirkan sesuai dengan zaman dengan melihat latar belakang dan ijtihad). Keduanya sebenarnya memiliki tujuan yang sama, menjadi lebih baik.

Kedua, orang yang dikenal "keras" belum tentu begitu. Kato sebagai Seorang Budhis dan juga berwaganegara Jepang, mendapatkan perlakuan yang baik daei narasumbernya yang dikenal keras. Dan dialog Kato dan orang-orang itu tampaknya menjawab mengapa mereka melakukan atau pemikiran hal-hal tersebut.

Ketiga, menyadarkan kita untuk berdialog dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda dengan kita. Kato telah membuktikannya. Prasangka buruk seakan ditepis karena dialog dalam damai. Dalam dialog kita bisa saling mengenal. Dari situ kedamaian dapat tercipta.

Islam dalam Bahasa Arab memiliki kata dasar aslama yang berarti damai. Buku yang ditulis Kato ini terasa ingin menunjukkan itu.
Profile Image for Yusuf Ks.
425 reviews53 followers
October 12, 2015
Seorang berkebangsaan Jepang bernama Hisanori Kato pada awalnya datang ke Indonesia dengan tujuan mengajar di suatu sekolah Internasional, sambil menambah pengalaman hidup di berbagai negara apa saja di luar Jepang. Ketika Kato-san sudah menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat Indonesia, perlahan-lahan rasa suka dan rasa ingin tahu apa saja tentang Indonesia mulai muncul. Kato-san menjadi tertarik dengan sifat, budaya, bahkan agama yang dianut oleh umumnya masyarakat Indonesia.

Yang menarik, ketertarikan dan rasa ingin tahu Kato-san terhadap Islam semakin bertambah ketika dia sedang melanjutkan kuliah di Sydney University. Saran dan nasehat Profesor malah membuat Kato-san semakin yakin untuk melakukan penelitian tentang Islam di Indonesia dan menjadikannya sebagai bahan disertasi.

Dalam rangka penelitian, Kato-san datang kembali ke Indonesia dan berusaha untuk melakukan wawancara dengan banyak tokoh Islam terkenal di Indonesia. Mulai dari yang terkenal moderat, liberal, hingga fundamentalis. Pada akhirnya disertasi Kato-san berhasil menyelesaikan pendidikannya di Sydney, namun ini bukanlah akhir cerita yang ingin saya sampaikan.

Pada tahun 2013, Buku Islam di Mata orang Jepang diterbitkan. Buku ini berisikan kumpulan cerita dan pengalaman hasil wawancara Kato-san dengan banyak tokoh Islam terkenal di Indonesia, seperti Bismar Siregar, Abdurrahman Wahid (Gud Dur), Lily Munir, Abu Bakar Ba'asyir, Ulil Abshar Abdalla, Ismail Yusanto, Fadli Zon, dan Eka Jaya.

Banyaknya tokoh terkenal dari berbagai elemen (moderat, liberal, feminis, politisi, dan fundamentalis) yang berhasil diwawancarai Kato-san menandakan bahwa usahanya sangat serius dan cukup maksimal dalam meneliti Islam di Indonesia. Sayang sekali ada tokoh yang sempat Kato-san ingin wawancarai, namun tidak berhasil ditemui, yaitu Habib Rizieq Syihab, meskipun pada akhirnya Kato-san mewancarai anggota FPI (dan ini sudah cukup baik hasilnya), namun hasilnya akan lebih baik seandainya Kato-san berhasil bertemu dan mewawancarai Habib Rizieq. Lalu seandainya Kato-san dapat mewancarai tokoh terkenal Muhammadiyah seperti Amin Rais atau Din Syamsuddin, maka ini akan lebih bagus dan berimbang.

Terlepas dari itu semua, secara umum buku ini bagus dibaca untuk mengetahui apa pandangan seorang Jepang yang beragama Budha mengenai Islam. Siapapun berhak meneliti dan berpendapat, dan itu tidak mesti orang dalam, orang luarpun tidak masalah. Pada akhir resensi ini saya ingin menyampaikan pesan pada penulis buku ini, “Kato-san, jika suatu waktu kembali ke Indonesia dan masih ingin cari tahu atau bertanya apa saja tentang Islam, coba luangkan waktu untuk bertemu dan berdiskusi dengan Prof DR Ali Mustafa Yakub dan DR Ahmad Lutfi Fathullah, mereka dua tokoh ulama Indonesia yang paling saya kagumi, dan saya yakin akan banyak hal bermanfaat yang akan didapat. Dan jika ingin mewawancarai orang asing yang sudah lama memeluk Islam di Indonesia, maka saya sangat merekomendasikan Gene Netto (dari New Zealand), saya yakin jika berkomunikasi akan cocok dan banyak manfaat yang bisa didapat darinya. Silakan datang kembali ke Indonesia kapan saja, Kato-san!”
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
August 19, 2015
Buku ini adalah buku kedua Hisanori Kato yang saya tamatkan. Sebagai seorang Indonesianis, Sato-san tidak hanya melibatkan dirinya hanya sebatas pengamat. Lebih dari itu, ia membaur dan merangkul banyak tokoh dalam penelitiannya ini. Perlu diketahui juga bahwa tokoh-tokoh yang ditulis dalam buku ini juga ditemuinya ketika menulis karyanya yang lain, "The Clash of Ijtihad".

Tulisannya tentang agama Islam di Indonesia menarik sekali untuk jadi bahan diskursus. Terlebih, ia mendatangi sendiri para narasumber dengan berbagai latar belakang yang beragam. Mulai dari tokoh Islam moderat, liberal, hingga fundamental. Perjumpaannya dengan Abu Bakar Baasyir adalah satu hal yang eksepsional dalam buku ini.

Selain bertemu Abu Bakar Baasyir yang seringkali dituduh melakukan serangkaian kegiatan berbau makar, Kato juga menemui tokoh-tokoh lain yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Indonesia. Ia mendatangi Bismar Siregar, mantan Hakim Agung yang terkenal di zaman Orde Baru; dan Mohamad Sobary, peneliti LIPI. Bahan perbincangan dari keduanya, menjadi bahan pengantar memasuki khazanah Islam di Bumi Nusantara.

Selanjutnya, Kato-san menulis pengalamannya ketika berjumpa dengan para tokoh Organisasi Islam. Sato-san menemui pemimpin FPI, Eka Jaya, untuk mencari alasan dibalik aksi-aksi yang dilakukan FPI. Ia juga mendatangi Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia yang berjuang mengembalikan sistem kekhalifahan di Indonesia. Dari sisi lainnya, Kato juga bertemu dengan Ulil Abshar Abdalla yang mengibarkan bendera Islam Liberal.

Untuk menyeimbangkan segenap opini yang berkembang dalam buku ini, Kato-san juga memuat catatan pertemuannya dengan Lily Munir. Tentang bagaimana penafsirannya mengenai agama Islam untuk perempuan. Hubungan antara Islam dan Politik kemudian diungkapnya melalui pertemuan dengan Fadli Zon, aktivis mahasiswa yang saat ini bergabung dengan satu partai politik. Terakhir, dan agak panjang, adalah catatan kecilnya ketika bertemu dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI). Saat itu, ia berteman baik dengan Gus Dur dan bicara banyak soal agama islam lokal dan demokratisasi dalam Islam.

Menutup catatan sudut pandangnya ini, Sato-san juga menulis esai singkat tentang perjalanan panjang menuju Islam. Bahwa tokoh-tokoh yang dijumpainya berjuang dengan caranya masing-masing menemukan Islam sebagai jalan hidup menuju kebenaran. Perdebatan mengenai fundamentalisme, liberalisme, feminisme, sosialisme, hingga demokratisasi dalam buku ini adalah nilai-nilai keragaman pemahaman dan pemaknaan atas Islam di Indonesia.

Dengan demikian, Sato-san telah memberi sumbangan yang amat berarti bagi khazanah Islam di Nusantara. Terutama sejak buku ini berangkat dari tujuan penelitian. Lebih jauh, buku ini merupakan cermin bagi masyarakat Islam di Indonesia. Cermin untuk melihat kembali nilai keislaman kita yang senantiasa kita jalani dan amalkan.
Profile Image for Sentot Gurun Setiawan.
18 reviews3 followers
March 20, 2014
Islam di Indonesia dari kacamata seorang sosiolog Jepang yang sedang melakukan studi di Sidney tentang Islam di Indonesia. Saya suka cara penulisanya yang 'mengalir' dalam mewawancarai tokoh Islam di Indonesia, seperti membaca sebuah jurnal perjalanan :) . Kedekatan dan persahabatan dengan beberapa tokoh Islam di Indonesia terlihat dari tulisan - tulisanya pada beberapa bab. Pandanganya tentang Islam di Indonesia yg positif, walaupun mungkin tidak bisa dibilang lengkap. Tapi mengingat si penulis yang seorang sosiolog dari Jepang dan beragama Budha pandangan - pandanganya cukup menarik untuk disimak. Walaupun saya kurang setuju dengan terminologi yang penulis berikan dalam membagi kelompok - kelompok, aliran, pemikiran dan tokoh Islam di Indonesia hanya kedalam 'aliran' Islam Fundamentalis dan Islam Liberal, saya tidak yakin beberapa tokoh yang dia wawancarai mau/setuju disebut sebagai islam liberal ataupun fundamental, walaupun beliau menggunakan term - term tersebut dalam pemahaman dan arti yang 'moderat' dan 'terbuka'. Latar belakangnya sebagai 'non-muslim' mungkin menjadi salah satu daya tarik buku ini, dengan backgroundnya tersebut memudahkan dia mewawancarai tokoh yang saling berseberangan tanpa tentu saja mungkin adanya prasangka awal yang dapat menghalanginya mewawancarai narasumbernya. Sebuah buku yang menyenangkan dibaca :)
Profile Image for arcadeace.
12 reviews
February 8, 2016
Ternyata isinya adalah penelitian Kato Sensei tentang islam di Indonesia:
ajaran Muhammadiyah dan MUI ataupun nilai-nilai islami yang dianut beberapa tokoh. Padahal saya berharap buku akan benar-benar membahas pandangan orang-orang Jepang di Jepang sana tentang Islam secara umum maupun khusus. Saya sih berharap kalau di masa depan akan ada buku seperti itu yang diterbitkan.

Sebaliknya, buku ini bagus justru untuk orang Jepang yang ingin mengenal Islam di Indonesia. Semoga buku ini juga diterbitkan di Jepang sana yang tentunya dalam edisi Bahasa Jepang....

Sedangkan saya, hanya tertarik membaca sampai halaman 35 saja. Mungkin nanti buku ini akan kembali saya sentuh kalau sudah kehabisan bahan bacaan :p
Profile Image for Antariksa.
79 reviews3 followers
July 7, 2014
Catatan Kato tentang sepuluh tokoh Islam Indonesia ini meskipun objektif tapi tidak lupa memberi kritik atas masing-masing aliran pemikiran yang mereka usung.
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.