Di Nusantara telah berdiri sebuah sekolah sihir yang letaknya di pulau tersembunyi di pusat Segitiga Masalembo. Sekolah itu bernama Archipelagos.
Archipelagos sendiri bercerita tentang 7 anak dari dunia luar dengan masalah yang berbeda-beda. Nala sang penyihir Api. Bastian sang penyihir udara. Drio si penyihir tanah. Tanra si penyihir air. Ayu si penyihir tanaman. Sanja si penyihir binatang. Lexan si penyihir senjata.
Masing-masing ketujuh anak itu, menerima surat yang membawanya ke Archipelagos. Hidup disana dengan penuh kebahagiaan ke dunia yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Sampai guru mereka bernama Encik Mina mengabarkan kalau mereka akan berada dalam misi khusus sebagai Orang Terpilih untuk mengalahkan Berong (musuh jahat yang melakukan eksperimen hidup abadi).
Pertama, aku appreciate penulis fantasi lokal. Harusnya bintang satu, tapi tambah satu lagi karena penulisnya sudah effort research. Aku berharap bisa kasih bintang 5, sayangnya sebagai penulis berpengalaman, rasanya mau muntah ikan setengah-cerna saja saking kesalnya.
Pacing-nya itu, lho. Kakak Sleepinigloo kalau nulis mohon jangan kayak dikejar kereta api. Kakak minggir dulu, baru balik jalan di rel dengan santai pas kereta apinya sudah lewat. Info dump yang... TIDAK BANYAK PENGARUH PADA PLOT!! Mending marketkan saja sebagai buku dokumentasi daripada novel, karena mencari plot di sini bagai mencari jarum di tumpukan jerami.
"Di ruang tengah ada Tanra. Pria itu membawa sebuah tumpukan berkas dan sialnya terjatuh, membuat kertas berhamburan di lantai. Lexan membantunya.
Mereka pergi ke ruangan Techno..."
Naudzubillah min dzalik APA GUNANYA BAGIAN ITU?! NGAPAIN DICERITAIN KALAU TIDAK PENTING?? BAHKAN TIADA DIALOG! Buku ini sekering ikan asin yang dijemur. Aku kira aku sudah gila karena merasa buku ini banyak kekurangan, ternyata di Goodreads banyak juga yg sama opininya denganku.
Ini sangat disayangkan. Padahal covernya secantik Bumi Series, introductionnya menarik! Lihatlah, fantasi lokal nusantara! Buktinya apa? Pening kepala. Sleepinigloo, para pembacamu manusia, bukan perpustakaan di mana kamu menimbun catatan dan catatan dan catatan tanpa membiarkannya mencerna isinya dulu! Bahkan belum setengah buku, aku sudah lupa anak mana masuk asrama mana, ini profesor mana, apalahhh. Kami membaca novel sebagai bentuk istirahat dari buku pelajaran yang isinya monoton dan bikin ngantuk, ini mah dapatnya buku hapalan.
INFO-DUMP IS THE BIGGEST MISTAKE OF THIS BOOK! Tidak ada salahnya dengan worldbuilding yang luas dan spesifik, malah itu bagus—apalagi kalau ada yang mau buat fanfic. Masalahnya, jangan pula hujankan semua informasi itu sekaligus! Bahkan Tere Liye, dengan dunia paralel BumSer-nya yang penuh informasi, secara berangsur-angsur memberi informasi.
Kita pembaca meski di third-person POV, masih berada di mata ketujuh MC yang baru masuk ke dunia baru ini. Come to think of it, kenapa ga bikin series 7 buku aja mengikuti jumlah MC-nya? Maksudku, KHUSUS fokus pada satu MC, sisanya side character tapi masih penting. Gausah panjang-panjang, pendek saja juga bisa selagi TIDAK ADA SCENE TIDAK BERGUNA DAN BERTELE-TELE!!
Dan personality karakternya seperti kertas HVS putih. Ya begitu. Mau diberi warna, eh tintanya berdarah, hasilnya ya seperti kecelakaan mobil. Lihatlah, saking kesalnya ingin sekali aku re-write biar lebih bisa dimengerti.
Aku ingat sekali pernah memiliki fase ini. Hampir sama persis. Aku pernah merencanakan membuat series novel dengan banyak dunia paralel—Negeri-negeri Air, Api, Tanah, Batu, Petir, Es, Angin, Suara... Lalu aku timbun semua perkenalan di awal. Itu ketika aku masih kelas 6 SD.
Saranku, jangan ikuti persis petunjuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia. Struktur cerpen—Orientasi, Konflik, Resolusi—Orientasi bukan berarti memperkenalkan SEMUANYA secara langsung. Orientasi itu hanyalah memperkenalkan "the general gist of it", termasuk protagonis. Untuk meng-hook pembaca, perkenalkan bagian-bagian MENARIK berangsur-angsur.
Inilah kenapa tujuh MC sekaligus adalah ide buruk. Hasilnya apa? Susah fokus pada satu, susah mendalami satu, apalagi bukunya setipis ini, kira-kira cuma berapa puluh ribu kata atau sampai seratus ribu, entahlah, aku sudah DNF.
Kalau aku editor buku ini, sekalian saja aku jadi co-writer saking gregetnya, atau langsung resign saja karena kasihan sekali kedua mataku telrah menyaksikan badai diksi ini. Speaking of editors, entah apa yang dilakukan editor buku ini. Bagaimana bisa mereka membaca novel dengan isi yang begitu "terkejar-setan tapi di dalam mimpi" dan menjentikkan jari sembari menyeru, "Eureka! Good jolly splendid, papa! Marvelous, marvelous!" Palak kali aku.
Dengan penuh hormat dan apresiasi atas effort Sleepinigloo dalam research dan kepengetahuannya tentang dunia nusantara, aku mohon pelajari lagi penulisan yang baik dan banyak baca novel atau fanfiksi di ao3 (tentunya yang age-appropriate) atau Fanfic.net. Sepertinya ini terinspirasi berat dari Harry Potter, jadi di ao3 banyak tuh fanfic HP yang bisa menginspirasi cara penulisan yang lebih penuh kehidupan dan personality. Peace out 🚶🏼
Dua ratus halaman. Aku tidak bisa lagi. Aku tidak MAMPU lagi. Aku tidak KUAT🥰🤪😘
Reading this took years off of my life. Baca fanfiksi 60.000 kata cuma 2 jam, Aru Shah (400 pages) 8 jam, Bumi Series (300 pages) 6 jam. Buku ini? Bahkan aku tidak bisa menyelesaikannya.
Aku benar-benar tidak mencoba mencari-cari kesalahan. Tapi aku tidak bisa mengontrol otakku yang otomatis menunjukkan kesalahan dan perasaan sebalku. Aku juga sudah 6 tahun menulis cerita, jadi gatal sekali ingin ku-scan satu novel ini dan melakukan maintenance di Gdoc.
Karena aku bukan ahli sejarah Nusantara, aku hanya akan berkomentar di penulisan kapal pecah novel ini.
It's clear that igloo did NOT use the "show don't tell" feature on page 25. Aku mau merasakan pengalamannya, bukan cuma tahu apa yang mereka alami. Berikan beberapa indikator indra. Deskripsikan singkat saja setidaknya. Gemericik air, hawa panas, sebesar apa sangkarnya, etc. Mainkan imajinasi!!
Dan di awal, masih susah menemukan "suara Nala". Seperti scene ini:
Kedua bahu Sanja terangkat. "Entahlah. Tetapi nenekku bilang dia percaya kalau Antareja masih hidup."
"Kenapa? Apa nenekmu pernah bertemu dengannya?" tanya Nala.
Har-har. Jenaka. Kamu lucu sekali, Nala... Eh, kamu bercanda atau beneran polos? Entahlah! Igloo tidak memberitahu nada yang Nala gunakan! Ataupun ekspresinya ketika bertanya! Nala ini tipe orangnya seperti apa? Ya, dia keras kepala, berani, temperamental, protective, tapi level humornya bagaimana?
Mereka disambut dengan tarian-tarian dan sorakan dari para senior.
..........Oke? Begitu saja? Lagi, Igloo lupa menaruh deskripsi singkat tentang tariannya. Daya imajinasi visualku benar-benar tidak tergunakan di sini, karena apa yang mau dibayangkan? Aku cuma diberitahu ini, "Oh mereka disambut tarian, sisanya kau bayanginlah sendiri". Ini mah re-cap, macem nyeritain ke temen tentang pengalaman ke festival budaya. Sampai2 kawanku yang memperbaiki:
"Mereka disambut oleh tari-tarian para penari yang memakai baju berwarna cerah serta riasan yang terlihat unik, sorak sorai para senior membahana memenuhi stadion yang bernuansa megah itu." Nah kek gini. Aku terbawa suasana, aku bisa membayangkannya. TIDAK SEPERTI TADI.
Lanjut.
"... Mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan, kalian akan diperkenalkan dengan golongan-golongan di sekolah sihir ini. Kalian akan dibawa ke pemukiman." Mata Nyai Romia beralih ke kiri-kanan. "Kuharap dalam waktu itu para senior tidak mengganggu."
"Bagus," kata Engku Yosua, mengambil alih. "Berikutnya aku akan menjelaskan tentang ekstrakurikuler dan klub."
Selama aku hidup, dari SD, SMP, SMA, di perkantoran, tempat-tempat resmi, perkuliahan, tidak pernah ada orang dewasa di depan kerumunan yang tidak memakai "saya" ketika merujuk pada diri sendiri. TIDAK ADA MURID YANG MEMAKAI "Anda" PADA ORANG YANG LEBIH TUA. SIAPA YANG MENGGUNAKAN ANDA DI KEHIDUPAN SEHARI-HARI????
Di chapter 3 (hal 32, karena Igloo lupa menandai nomor chapter), masa orientasi pengenalan terasa seperti membaca buku paket sekolah. Oke, kita diberitahu ini, diberitahu itu. Tapi ya itu saja. Tidak ada drama, tidak ada yang menonjol. Semua berjalan dengan lancar... Terlalu lancar, sampai membosankan. Rasanya seperti guru bertanya "Apakah kalian mengerti?" dan aku hanya bisa menjawab lemas "Ya... Ya..." sambil menahan kantuk.
Penyihir golongan Dolok terkenal sangat optimis, selalu bersemangat dan humoris. Mereka golongan yang muridnya banyak akrab dengan murid dari golongan lain. Kekurangannya, banyak diantara mereka yang berpura-pura bahagia dan menyembunyikan masalah mereka sendiri. Motto golongan Dolok ...
This could have been worded better. This could have been worded better. All that came to my mind when I read that excerpt was "Wow... So edgy, so teenage angst". Yeah, it's true, tapi ini sedikit merujuk bahwa lingkungan Dolok tidak bahagia. "Banyak" dari mereka yang berpura-pura bahagia, berarti ada yang salah di timur Archipelagos. Kecuali begini dibuat (contoh):
"Penyihir golongan Dolok terkenal sangat optimis, selalu bersemangat dan humoris. Mereka golongan yang muridnya banyak akrab dengan murid dari golongan lain. Kelebihan mereka sayangnya dapat menjadi kekurangan, karena itu membuat mereka mampu menyembunyikan perasaan terdalam—mau itu kesedihan, amarah, ataupun emosi lainnya."
Yeah, not the best I could come up with, tapi itu tidak akan mengundang kesalahpahaman!!
Encik Flo, pembina golongan Enau YANG MERUPAKAN perempuan beraroma teh hijau YANG MERUPAKAN guru termuda di antara semua guru di Archipelagos, membawa murid-murid ke tenggara Archipelagos.
Sekarang kita memakai "yang merupakan" dua kali dalam satu kalimat. Igloo, gunakanlah dosen jurusan bahasa next time sebagai editor naskah. Dan lain kali, jangan malu searching "sinonim kata ini itu" di Google. Atau gunakan "—":
"Encik Flo, pembina golongan Enau yang merupakan perempuan beraroma teh hijau—sekaligus guru termuda di antara semua guru di Archipelagos—membawa murid-murid ke tenggara Archipelagos."
Murid-murid baru masuk ke Bagan melewati pintu besar setinggi 32 kaki.
Indonesia menggunakan metric system🥰 Aku terpaksa search "32 kaki berapa meter" di Google.
Dan Klub Bayangan Hitam? BAYANGAN HITAM? ANAK-ANAK INTROVERT? Wowww, so angsty, so edgy🤩 Entah apa kerjaan mereka di situ, paling nonton anime dalam bentuk wayang.
IGLOO, KAMU LEBIH HEBAT DARI ITU. NAMA MACAM APA "BAYANGAN HITAM"?????????? BLACK SHADOW, KOBISA GA DIKETAWAIN?
Dan beberapa kali kusaksikan Igloo menggantikan koma dengan titik.
Jadi meskipun cuaca sekarang sangatlah terik. Anak-anak itu tetap merasa adem.
Mereka makan puding di Salahata. Toko yang menjual segala jenis kue di pasar Archipelagos.
I'm serious. Di situ titik, bukan koma. Masih banyak lagi contoh but I couldn't even be bothered to go through another Cruciatus Curse session. Juga berkali2 ada typo, lupa titik di akhir kalimat, dll.
"Perkenalan?" jawab Nala lantang tetapi sedikit ragu. "Tidak. Itu sudah terlalu kuno, hanya dilakukan ..."
Bisa tebak berapa orang yang berbicara di satu paragraf di atas? Ya, benar, dua🤩 Tentu saja peraturan dialog di penulisan berkata dalam satu paragraf boleh lebih dari dua karakter, karena pembaca tidak akan kebingungan!🥰
Dan karakter Angela (dan Juita) di sini agak laen. Cuma karena cowo, mereka berantem. Sampai Angela mengancam membunuh Juita dengan kuasanya???? Aku tau itu realistis, tapi dia bodoh. Why the hell are you revealing your cards? Are you simply that daft, Chloe?
And others acted like it's just another day. Like, you think she wouldn't do that? Why aren't you doing something about it? Ini sekolah ARCHIPELAGOS, YOUR POWERFUL SCHOOL CAN MAKE HER PARENTS PARENT HER BETTER.
Membuat aroma parfum yang tak pernah tercium sebelumnya sebagai tugas remedial Encik Flo? Bagus, waktunya memamerkan parfum Rafflesia-ku. Aku akan menyemprotnya ke semua karakter di dalam novel ini.
Dan surprise surprise, si Tanra adalah anak dari raja dan ratu! Seolah semua orang di sirkel ini harus spesial, keluarganya berkuasa, dilarang bagi mereka untuk menjadi anak biasa seperti kita.
And Igloo didn't even bother. Tiba-tiba aja si Tanra ni pangeran????? WHAT????? Perasaan di awal dia cuma dikenal sebagai "Juara Berantai Olim". Kenapa ga dari awal aja? Juara olim, juara olim! Wah, juara olim! HAH PANGERAN????? Plot twist macam apa ini? KENAPA dia harus jadi pangeran?? Apa ga cukup jadi anak CEO atau pejabat? WHY?? KERAJAAN APAAN, EMANG???
Halaman 156. Nala adalah teman terbaik🔥🤩 Ketika ia menangis karena Encik Juria mencemooh ibunya, Ayu dan seluruh sirkel menenangkannya. Ketika Ayu murung dan menangis di kamar karena merasa bersalah, Nala cuma membiarkannya? Bahkan tidak mencoba menenangkannya, cuma pake excuse "Ia merasa kasihan, tetapi ya gimana lagi". Wow, best friend of the year🥳🎉
Hal 185. Sanja dengan mudah memasuki area terlarang untuk memancing hybrid komodo dan siren? Really? Area terlarang? This is not the Forbidden Forest, and even if the latter doesn't really have wards, IT DOESN'T MAKE IT RIGHT. Plot armor karakter di sini kuat sekali, sampai-sampai para guru lupa memasang barrier dan wards di sekitar area2 terlarang. Untuk apa? Bukannya akan ada murid rebel yang ingin menjelajahi sekolah ini. Atau Igloo malas memberi tantangan besar pada para karakter di sini, dia gaboleh kepanjangan bikin cerita, ntar pembaca kebosanan😡 skip aja bagian2 menarik dan relationship growth, ga penting mereka😡
Macam ni:
Ia berenang gaya katak meraih tangan sang kera, namun makhluk misterius itu penuh kebahagiaan bersorak dengan suara melengking dan nyaring. Sang kera dan tuannya akhirnya ditahan dan diikat di bebatuan karang yang gelap.
Thank you, uh, for the generous amount of imagination you've painted in my retinas. NOT.
One moment, they're fighting, and next they're captured? Transisi macam apa ini? Dan orang memanggil ini novel? Lupakan novel, ini lebih ke teks berita.
Kamu tahu, Igloo? Dengan teknik "just tell" ini, imajinasi pembaca tidak terpakai, mereka tidak membayangkan apa-apa karena penulis gada menyampaikan apa yang mau dibayangkan. Alhasil? Yang kami lihat cuma serangkaian tinta hitam di atas kertas ketimbang film epik di kepala. Pada akhirnya, itu menghasilkan kebosanan.
Lucu sekali. Tujuh musuh Berong yang tertakdir memilih berlatih sendiri-sendiri ketimbang barengan. Tidak ada sense of unity/friendship di antara mereka. Individualis semua. Iya, ada beberapa moment of friendship di antara mereka, tapi terasa tidak natural karena gada chemistry yang menunjukkan relationship growth. Shallow semua. Mungkin later on, di sequel, mereka semakin dekat, semakin mau bekerjasama. Tapi aku dah terlanjur DNF.
Seluruh novel ini terasa seperti first draft. MEMANG BEGINILAH first draft. Belum diedit, belum diperbaiki kesalahan dan typonya. Aku memanggil writer-nya Igloo dan bukan nama aslinya, karena aku sedang menahan jeritan Allahu-AKBAAAARRR!!!!!!
Nala, Sanja, dan Ayu membahas soal siapa sosok Pengkhianat itu.
Aku akan tebak Igloo ga nulis bagian trio ini ACTUALLY mendiskusikannya karena ia memang gatau apa yang mau ditulis.
Mereka sepakat dengan sesosok orang yang harusnya mereka curigai sejak awal, yaitu Encik Juria.
Apa ini? What is this? ¿Qué es esto? Что это? Was ist das? ما هذا؟ Naon eta? Opo iki?
Igloo tidak menjatuhkan petunjuk, tidak menunjukkan hal mencurigakan??????? Lalu BAGAIMANA BISA MEREKA SAMPAI KE KONKLUSI ITU?? Di Harry Potter 1, Golden Trio curiga pada Snape karena dia komat kamit macam dukun, bicara ke Quirrel tentang "kesetiaan", membenci Harry Potter (musuh Voldymoldy). Screentime Encik Juria di sini cuma SATU, dan yang kita tahu DIA CUMA BENCI GAYATRI. ITU BUKAN ALASAN YANG CUKUP MENCURIGAKAN! DAN PANAH "SUSPECT" KE ENCIK JURIA, YANG JARANG MUNCUL???
HUUUUHHHH???
KAU NGERTI KETIDAKMENGERTIANKU????
AKU BACA 200 HALAMAN PENUH KEBOSANAN, KEKELABUAN, SISTEM2 SIHIR DAN SEKOLAH TAK MASUK AKAL, KARAKTER DATAR SEDANGKAL KOLAM RENANG ANAK KECIK, HUMOR YANG LEBIH BURUK DARI SKIBIDI SIGMA RIZZ ATAU JOKES MILENIAL JIM CARREY, RERUNTUHAN YANG TIDAK TEREDIT, ONLY TO FIND OUT IT'S JUST HARRY POTTER 1 VERSI INDOMIENESE?????
SIAPAPUN YANG RATING 5 BINTANG BUKU INI, KEDIP DUA KALI KALAU KALIAN DISANDERA.
AKU KIRA AKU ORANG PALING BERUNTUNG KETIKA KAKAK GRAMEDIA BILANG BUKUNYA TINGGAL SATU. TIDAK!!!!!!!
Writing style igloo aneh. Tulisannya seperti banyak yang dihapus. Apakah ini kerjaan editor? Karena aku merasa banyak paragraf yang seolah memiliki kelanjutan, tapi malah terpotong dan lompat ke paragraf lain. Ykwim? Jadi rasanya kurang. (Little did I know...)
Siapapun yang mengaku sebagai editor buku ini udah kek scammer level dewa. KARENA:
Aku BARU skim through versi Wattpadnya yang, mind you, is the no money version, dan... Aku kasihan padamu, Igloo. Dari 60+ chapter ke 20????? PAN! TE! SAN! They did you wrong, the editor did you wrong. Next time, mungkin pilih penerbit lain. JANGAN potong-potong ini itu "biar ga kepanjangan, yang ini ga penting, yang itu ga perlu", karena inilah hasilnya. Replier commentku di TT benar, versi Wattpad lebih bagus. Ini sangat disayangkan. Mungkin someday aku baca versi WPnya AND ACTUALLY FINISH IT WITH MY BLOOD PRESSURE STILL INTACT.
Absolutely preposterous, man. Maybe, probably, most likely, you were ROBBED.
Dan sekali lagi aku dengar "sungguh ajaib", lemari di kamarku akan terbang secara ajaib dan bodyslam orang pertama yang kulihat.
What a fresh concept we've got over here😻 I'm an absolute Harry Potter fan dan first impression waktu baca sinopsis novel ini tuh i was SOO EXCITED.
100 Halaman pertama aku mikir, "oh okay.. masih bisa di build-up" but then i realized i was probably over reacted.
Selama baca novel ini yang aku notice adalah gaada rasa menggebu-gebu sama sekali.
Aku ngerasa penulisan dari satu adegan ke adegan lain SANGAT TERBURU-BURU. Sampe sampe waktu adegan yang seharusnya jadi plot twist tuh cuma kayak angin lewat. "oh tadi plot twist ya? ok so what"
I do appreciate the details but tbh, there's a bunch of unnecessary details yang justru bikin mikir "fungsinya apasih??"
dan lagi, aku ngerasa bener-bener setiap karakter di novel ini punya character development yang.. a bit strange..❓ Cara penggambaran proses mereka mendapat kekuatan masing-masing tuh justru terkesan 'sangat mudah dan cepat' untuk ukuran yang digadang-gadang sebagai orang terpilih. Mungkin karena deskripsi adegan yang ada tuh sangat minim dan lebih mengedepankan imajinasi pembaca aja..
Biasanya, 1 MC membutuhkan bertumpuk-tumpuk lembaran kertas untuk membuat pembaca merasakan perkembangan dari karakter tersebut. Apa jadinya dengan 7 MC? 😞
ada beberapa penceritaan trauma para MC yang membuat aku sedikit "lah..?" Salah satunya saat masuk ke bagian trauma Ayu. Rasanya agak aneh saat Ayu dengan semata mata merasa nyaman untuk bercerita kepada Tanra dengan traumanya yang demikian DAN BAHKAN mengizinkan Tanra melakukan kontak fisik yang sepertinya sangat bertentangan dengan trauma Ayu itu sendiri(?)
I fell in LOVE with the concept but the final result is not really my cup of tea. Really looking forward for the improvement.
aku kasih bintang dua karena bener-bener dari awal baca tuh aku merasa bosan tapi tetep aku paksa karna aku pikir bakal dapet hal menarik, ternyata kek hah? apaan ya? gituu loh. tapi aku sangat mengapresiasi penulisnya karna sudah mau riset dengan berbagai hal yang berhubungan dengan Indonesia. jujur buku ini banyak typo, terkadang beberapa kata dan kalimatnya bikin bingung alias sulit untuk dipahami.
This book looks like: A 7 y.o boy after watch his first harry potter movie and have a dream to make his own fiction, found wattpad as a market and decided to write there, not worth to read.
Yaa, kurasa oke. Riset sama "tebel" nya cerita disini nolong banget sebenernya.
3 bintang. 2,75 sebenernya, karena aku lumayan enjoy sama ceritanya (dan mungkin faktor karena aku jarang baca fantasi, and on top of that, penulis lokal), tapi banyak banget kekurangannya jadi baiklah..
Banyak yang bisa dipuji sebenernya disini. Riset, plot yang "cukup" oke, dsb. Kurasa bagian Tanra, Bastian dan Drio itu bagian terbaik. Walau menurutku Bastian masih diatas yang lain untuk cerita dibanding yang lain. Dan ketolong banget sama halaman 260 sampe 280an kalau ga salah.
Kekurangannya? 1. AKU AGAK EMOSI SAMA EDITORNYA. Aku gatau kenapa, banyak banget penggunaan titik dan koma yang ga dibenerin. Aku gatau gimana kerja editor, dan aku tau editor itu kerjanya susah. Tapi sebagai pembaca, jujur, aku rasanya agak ketrigger gitu ya bacanya. Itu udah -1 poin menurutku.
2. Kenapa ya ceritanya dipaksain? Jadinya, kadang ceritanya terlalu cepat (sekitar beberapa puluh halaman terakhir) atau lambat banget (100+ halaman pertama)
3. Ini mungkin aku yang sedikit ngelunjak, tapi aku gak melihat kegunaan dari map di halaman awal tsb. Andaiii aja, mapnya punya nama, atau sekedar diperbesar, aku ga masalah sama poin 2, karena ada effort lebih di pembangunan dunia. Sayangnya, cukup susah ngebayangin dunia disini.
4. Banyak karakter yang gak didevelop dengan baik. Lala dan Edo cuma hadir sebagai "plot twist", padahal Lala cuma bolak balik nemuin Nala dan Edo cuma muncul 1 kali di scene ketemu Ayu. Gak ada spesialnya. Engku Tarno pun sama aja. Mungkin pikirannya itu "Oh! Harus buat plot twist nih.. tapi deket batas.. Udah deh, pilih siapa aja yang ada di cerita!" (Beneran, versi wattpadnya jauh lebih bagus. Wasted potential, banget.) Cerita setiap penyihir yang udah dibangun dengan baik, dihancurin dengan plot twist yang bahkan karakternya ga megang peran penting. Kalau plot twistnya pasif (contoh, Teka Teki Rumah Aneh karya Uketsu), aku masih bisa terima. Tapi plot twist disini bahkan gabisa diomong plot twist, karena kita bahkan gatau plot dibalik karakter-karakter tersebut. Kayaknya Kak Sleepinigloo terlalu ambisius untuk fokus ke perkembangan 7 karakter utama dan final battle dibanding ngembangin karakter sampingan.
Secara keseluruhan, sebenernya aku enjoy kok sama ceritanya. Tapi ya, bukan sesuatu yang spesial. Semoga Archipelagos 2 bisa lebih baik.
(Edit: Tambahan, kenapa ya bookmarknya jelek banget..? Kenapa ga dibuat kayak tiket.. atau apa gitu (ex. The Architecture of Love (Ika Natassa)). Yang lebih cocok sama suasana Archipelagos. Karena jujur aja, Archipelagos punya bookmark terburuk yang pernah aku liat. 😞)
Revisi #1: Pergantian rating, menyesuaikan dengan Archipelagos 2. (22/07/2025)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sekolah sihir di nusantara?? HAH! Emang beneran ada yaaa? 😜 Yuhu... tentu ada dong! sini-sini aku kasih tau.
Archipelagos. Sekolah sihir yg berlokasi di pulau tersembunyi di pusat Segitiga Masalembo. Bercerita tentang 7 anak terpilih untuk mengalahkan Berong (Penghianat Archipelagos). 7 Anak tersebut (Nala, Bastian, Tanta, Drio, Ayu, Sanja, Lexan) punya kemampuan sihir yang berbeda, diawal mereka bingung, kenapa harus terjebak di dunia sihir ini, lama kelamaan mulai mengerti tentang tujuannya.
Kesan pertama sih cukup menarik ya. cerita fantasi memang selalu bikin penasaran, apalagi cerita ini juga mengangkat budaya di nusantara. Dalam segi narasi fantasinya bikin imajinasi terbang dgn kosa kata yg cukup unik.
Hal yg menjadi kelebihan di novel ini adl banyak mengenalkan budaya nusantara seperti batik, lalu huruf2 jaman dulu seperti lontara dari bugis, dan sanskerta. Terus, kisah2 rakyat nusantara juga sedikit disinggung disini. Menarik!
Tapi, hal yg kurang aku suka adl penulisan deskripsi yg sgt panjang di awal tentang sekolah sihir dari golongan2nya. semua dijabarkan diawal dengan penulisan terlalu monoton. jatuhnya, malah bikin pusing/ overwhelmed karena harus mengingat banyak hal itu dan fokus pada konfliknya tidak terlalu jelas, di hal 100 ke atas bahkan masih belum terlihat bagaimana arah konflik sebenernya karena sibuk mengenalkan tentang hal yg kurang penting. alur cerita jg lambat diawal, tiba-tiba di akhir udah mau melawan berong, jadi kerasa krg mulus apalagi plot twistnya terkesan dipaksakan.
Pesan tersirat yg aku dapatkan yaitu berkacamata dari ke-7 tokoh utama dgn perbedaan yg mencolok serta kemampuan yang dimiliki masing2. seperti manusia, setiap org pasti punya karakter sendiri, punya bakat yg berbeda, namun mencoba untuk saling melengkapi, dan hal itu bisa kita terapkan sebagai makhluk sosial.
Hmm, patut di apresiasi untuk ide ceritanya yang bagus! tapi eksekusinya kurang maksimal. Kabarnya bakal ada series ke-dua nih, Mungkin bisa di kembangkan setelah ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku sudah membacanya hingga halaman ratusan. Entah mengapa terasa sangat melelahkan, lalu aku memutuskan untuk berhenti dan mengganti buku bacaanku sementara.
Can't stop feeling that my time was being robbed all the time I read this. Seriously the worst written book i ever read. Was triggered by the premise. It seems exciting, no, to have a fantasy magical fiction book from Indonesia? But ugh...
Okay, i like the idea. I appreciate all the names, traditions, foods and everything that based on Indonesian culture. But the story? Shallow. Dunno what makes the writer seems like in hurry to tell everything. Even the important things. The character? Shallow. I don't feel engaged with them, no sympathy. And all those ugly sentences, typo...i mean, what did the editor do? Nothing?
I won't read the 2nd book. It's a torture enough for me to read this book
Ceritanya sudah bagus. Seperti judul yang mengambil referensi cerita-cerita rakyat, mitologi, bahkan mitos.
Namun, sangat disayangkan alurnya terlalu cepat. Atau mungkin memang disengaja? Selain itu, masih banyak terdapat kalimat yang sulit dimengerti. Beberapa kata banyak salah penulisannya jadi bikin salah fokus.
Buat aku sendiri ide cerita yang ada di dalam buku ini sudah sangat bagus. Buku ini menampilkan sekolah sihir dengan nuansa Nusantara, sehingga saya dapat menambah pengetahuan mengenai batik, pakaian adat, atau rumah adat yang ada di dalam buku ini.
Saya sangat menyayangkan alur cerita yang diceritakan terlalu cepat sekali. Pada bagian awal semua hal dipapakarkan sehingga saya merasa susah untuk mengingat itu semua. Saya setuju dengan beberapa pendapat yang menyatakan bahwa buku ini bertele-tele, karena buku ini terlalu fokus ke tokohnya, sudah panjang banyak adegan yang dilewati secara paksa dan akhirnya tidak mendapat feel tokohnya. Sehingga konfliknya itu terlalu banyak adegan terlewatnya, tiba-tiba sudah melawan berong saja.
Syukurlah untuk buku ke 2 menurut saya penulisannya sudah lebih baik daripada buku pertama ini. Alur yang disajikan di buku ke 2 juga lebih baik, walaupun masih sedikit bertele-tele. Semoga sang penulis sehat dan semangat untuk membuat lanjutan buku ini yaa
okee.. buku ini secara ide world building-nya bagus menurutku, dari segi arsitektur dan juga budaya yang dihadirkan disini cukup banyak tapi banyak hal yang perlu di improve lagi.. seperti halnya deskripsi yang terkesan repetitif dan monoton.. jalan cerita yang template antara tiap POV karakter.. dan alur cerita yang terlalu terburu buru.. pendalaman karakternya juga panjang tapi ga ngena, kaya kita ga bisa ngerasain emosi dari setiap karakter. (mungkin karena emang deskripsi yang terlalu bertele tele dan panjang).
jujur aku sampe males nyelesaiin novel ini karena saking ngeboseninnya.. wkwkkwkw tp akhirnya kelar juga
secara garis besar novel ini hanya punya poin plus di world building nya, tapi minus di aspek lainnya terutama gaya penceritaannya.
semoga penulis bisa improve lagi hal yang kurang kurang
Berkisah tentang sekolah sihir tersembunyi bernama Archipelagos di pusat Segitiga Masalembo. 💐
Archipelagos sendiri bercerita tentang 7 anak terpilih untuk melawan Berong dari 7 golongan yang berbeda mereka adalah Nala sang penyihir api, Bastian sang penyihir udara, Drio si penyihir tanah, Tanra si penyihir air, Ayu si penyihir tanaman, Sanja si penyihir binatang, dan Lexan si penyihir senjata. 🪄
Dalam cerita ini sungguh mengejutkan karena ternyata Berong yang mereka lawan ternyata adalah Guru Sejarah mereka Engku Tarno.
Dan ada bagian sedihnya saat Encik Juria melindungi Nala dari serangan Berong dan disitu terungkapkan bahwa ternyata Encik Juria mencintai Nala bukan membencinya.
Untuk aku ceritanya bagus, dalam buku ini alurnya agak cepat namun ceritanya tetap enak diikuti, overall semua bagus dan aku menunggu kelanjutan buku berikutnya.🌷🌺
"Ini adalah air magis yang berasal dari mata air terbaik seluruh pelosok Nusantara. Air-air ini akan membantumu mengalirkan ketakutanmu, membuat dirimu sedikit lebih baik. Tetapi mungkin sedikit menyakitkan" -Hal 131-
Terlepas dari bintang/rating yang diberikan, jika bukan kita yang membaca dan memberikan masukan bagi penulis fantasi lokal. siapa lagi? Komen diberikan untuk membangun agar kelak karyanya bisa lebih baik, bukan untuk menjatuhkan.
Actually i reaaallyy love the concept! Aku jadi lebih tau banyak jajanan dan some kind of myth in Indonesia (author risetnya mantep banget). Agak disayangkan alurnya yang lumayan cepet dan agak terburu² menurutku, padahal masih ada banyak part yg bisa diulik. But afterall, i still love the concept. From me it's 3.42 /5. I'll probably read the second book dan semoga alur dan penyampaian ceritanya better than the first onee🙌🙌
Unik. Kenapa unik? Karena ini seperti angin segar. Ide segar begitu kalau dikata. Fantasi sekali. Sihir yang berpadu dengan budaya Indonesia. Meskipun banyak kekurangan yang mungkin bisa diperbaiki. Seperti alur cerita yang terlalu memaksakan. Tiba-tiba ada yang memberi petunjuk. Tiba-tiba masuk klimaks cerita. Banyak yang masih belum terpecahkan. Banyak yang masih dipaksakan menurut saya.
Ide membangun cerita dan universenya bagus banget, unik :) worth to be developed idea nya.
Cuma beneran nih sayang banget, build up character, sama storyny aku pribadi ngebacanya berasa dangkal banget, kayak kurang berkesan, dan aku setuju kalo orang-orang bilang terkesan diburu-buruin :)
This kind of books deserve more pages to describe, explain, and pull in the reader to its world. Kalau nggak efeknya kayak di buku ini menurutku, kayak nggk dapet ikatan emosi sama masing-masing karakternya.
Bayangin aja deh Harpot aja nyeritain 1 MC itu tebelnya seberapa, apalagi ini yg harus nyeritain 7 MC. Sebenernya itu ide bagus pake 7 MC ya, cuma kayak pedang bermata 2, kalau eksekusinya salah jadinya bosenin banget buat dibaca ._.
Overall potensi dr penulisnya masih bisa dikembangin lagi nih, yahhh itung2 support penulisnya ya, siapa lagi yang kasih support ke penulis lokal kalau bukan kita-kita kan :)
Waaa novel keren apa ini?!!! Saya bukan penyuka genre fantasi pun bisa menikmati keseruan cerita tentang sekolah sihir nusantara ini! Kisahnya seru, penjelasan tiap tokohnya rinci dan berurut, dan dapet insight tentang sejarah dan mitologi di nusantara dengan kemasan yang ringan. Keren!