“Yang membedakan kita dengan anjing-anjing di luar sana, mereka tidak memiliki wadah yang bisa menyatukan mereka. Kalaupun kita melihat ada anjing berkelompok, yakinlah itu sebenar-benarnya bukan kelompok yang punya visi dan misi jelas. Sedangkan kita, memiliki alamisme, ada tujuan yang hendak dicapai. Oleh itu, serikat amat dibutuhkan sebagai jalan mewujudkan cita-cita alamisme demi tatanan kehidupan yang Bahagia. ...” Semuanya berawal ketika Jon muak menjalani kehidupan sebagai anjing peliharaan. Selanjutnya, ia kabur dari rumah majikan. Ternyata kehidupan liar yang bebas, masih belum cukup membahagiakannya. Dari semua keresahan itulah, Jon akhirnya melahirkan gagasan revolusioner, diberi nama alamisme, kemudian membentuk Serikat Anjing Mandiri.
Ada yang sudah baca fabel ini? Premisnya sedikit mengingatkan pada Animals Farm tapi pesannya tetep berbeda koq. Walau cuma satu jenis binatang yang jadi sorotan (binatangain cuma figuran) tapi konfiknya komplit ada aksi laga, intrik politik, filosofi sampai drama percintaan membaraaaaa (versi guguk tentunya).
Diceritakan dari POV anjing bernama John, nanti di belakang akan ada pov kedua yang lebih baik kau temukan sendiri karena berpotensi spoiler. Gaya narasinya ala terjemahan yang agak kaku ya.
Intinya para anjing di kota itu ingin kebebasan sejati. Pencetusnya adalah Jon, mantan anjing peliharaan yang mengalami pengalaman menyakitkan bersama manusia. Para anjing tidak mau bergantung lagi pada manusia dan mengikuti ideologi baru alamis yang mengangkat kebebasan sempurna. Untuk terwujudnya ideologi ini mereka akan pindah dan hidup bebas dan happy di hutan. Jadi apakah semuanya lancar?
Buku ini juga menyajikan pertanyaan penting apakah meraih kebahagiaan bisa diraih dengan kekerasan? Apakah kebebasan yang didapat sepadan dengan kekerasan dan egoisme untuk mendapatkannya? Ide bagus tapi tidak ada ketegasan dan integritas untuk menopangnya apakah akan tetap baik?
Secara umum aku menyukai buku ini. Ganjalanku adalah romance para anjing yang digambarkan terlalu detail dengan kalimat dewasa yang menurutku tak perlu ada. Hal ini membuatku tak bisa membagikan buku ini pada anakku yang masih dibawah umur walau ide dan pesan moral buku ini menarik.
Buku ini membuat saya sangat................... conflicted.
Satu, bukunya membuat bertanya-tanya sepanjang membaca: "Apakah ini semacam fanfic The Beatles?"
dan
Dua, saya benar-benar sulit menerima harus membaca deskripsi percintaan vulgar dari anjing-anjing yang biasanya saya gemes-gemesin di layar ponsel saking lucunya. I mean....... anjing kintamani putih??? Anjing akita??? Bukankah mereka semua itu lucu banget???
anjing kintamani
anjing akita
Mereka sangat imut dan menggemaskan, kan??? Imej lucu-gemas-polos mereka jadi semacam hancur gegara narasi persetubuhan mereka yang sangat eksplisit dalam buku ini.......
...... di sisi lain, mereka itu literally anjing--yang mana termasuk hewan, fauna, satwa, binatang....... jadi sebetulnya ada adegan ngewe-ngewe gitu ya wajar, namanya juga hewan, emang kerjanya makan-minum-tidur-kawin.
Hufffttt.
Bagian itunya sih yang paling disturbing buat saya. Soal cerita keseluruhannya, well..... sejujurnya ada banyak elemen yang saya nggak suka (otoriternya Jon, liciknya Rin, manipulatifnya Yuko, dan beberapa bagian yang misoginis--penokohan karakter-karakter betina di sini sucks dengan Cinta gagal move on, pasangan Paul bertahan dengan jantannya yang abusif, dan janda Jorj ngemis-ngemis cintanya Jon). Tapi saya cukup penasaran dengan akhir cerita ini, jadi saya terus membaca sampai-sampai menghabiskan bukunya dalam 2 hari saja. Jadi yah, mungkin saya cuma bisa bilang bahwa buku ini sangat segmented, dan sebagaimana buku sastra pada umumnya, memang memberikan perasaan tidak nyaman.
Membaca buku ini mengingatkan saya pada animal farm. Secara garis besar saya ingin menceritakan, buku ini berkisah tentang Jon seekor anjing yang dahulunya anjing peliharaan kesayangan majikan yang mengalami berbagai peristiwa menyakitkan hingga memutuskan untuk pergi menjadi anjing jalanan. Di tengah perjalanannya menjadi anjing jalanan, Jon merumuskan konsep alamisme dimana para anjing berserikat dan membentuk koloni untuk hidup bahagia di hutan.
Dari sinilah Jon mulai menyebarkan paham alamisme kepada anjing-anjing di kota-nya (baik itu anjing peliharaan maupun anjing jalanan). Akhirnya Perserikatan Anjing terbentuk, dengan banyak intrik dan politik yang terjadi diantara Anjing-anjing yang ada. Mulai dari konsep dasar alamisme, strategi pengumpulan makanan, pembentukan kepemimpinan, organisasi, hingga perluasan wilayah hutan yang dikuasai para Anjing.Kelanjutannya silahkan dibaca sendiri. Namun saya hendak mengutip satu ideologi alamisme yang menjadi bagian favorit saya pada buku ini:
"Kehidupan yang kita jalani memanglah membahagiakan, tapi terlalu monoton. Kemonotonan itu sangat riskan mengundang ketidakbahagiaan. Kita akan hidup dalam kebosanan di adang rumput ini. Hidup tidak melulu soal kenyang makan dan bermesra-mesraan bersama pasangan, kebahagiaan tidak sesederhana itu. Yang saya cemaskan bagaimana jika kemonotonan ini membuat alamis merasa terpenjara secara pikiran, akhirnya jatuh pada penyesalan-penyesalan atas keputusannya."
Sekilas, ceritanya mengingatkan saya pada novela klasik Animal Farm karya George Orwell. Serikat Anjing Mandiri dan Animal Farm sama-sama menceritakan tentang sekelompok hewan yang mendirikan komunitas mereka sendiri, agar terbebas dari kekuasaan manusia. Hanya saja, jika di Animal Farm, komunitas itu terdiri dari berbagai jenis hewan; di Serikat Anjing Mandiri, komunitas itu hanya berisi satu jenis hewan saja, yaitu anjing.
Ceritanya bermula dari seekor anjing bernama Jon yang kabur dari rumah majikannya, setelah majikannya itu membunuh temannya, Ema. Setelah teman anjingnya itu mati, Jon berpikir jika kehidupan sebagai binatang peliharaan tidaklah sebaik yang ia pikirkan. Namun, setelah ia pergi dari rumah majikannya dan menjadi anjing jalanan, dia pun mulai merasa jika kehidupan liarnya juga tidak bahagia. Karena itu, ia pun merenungkan hidupnya, hingga akhirnya tercetuslah gagasan Alamisme di dalam benaknya.
Jon ingin mendirikan serikat anjing yang bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada manusia. Pada awalnya, gagasan Jon itu ditolak mentah-mentah oleh para anjing. Hanya ada tiga anjing saja yang dengan senang hati menerima gagasan itu. Mereka adalah Paul, Jorj, dan Rin. Meski sulit, mereka berempat tetap berusaha untuk merekrut anggota, hingga akhirnya jumlah mereka pun mencapai 40 ekor. Mereka membentuk serikat yang mereka beri nama Serikat Anjing Mandiri atau yang selanjutnya disingkat sebagai SEAMAN.
Para Alamis—begitulah julukan mereka—meninggalkan kota dan mulai hidup di hutan. Mereka menguasai daerah padang rumput dan memburu hewan yang berani memasuki wilayah mereka.
Jon berprinsip bahwa Alamisme tidak perlu disebarkan dengan cara kekerasan. Namun, tanpa sepengetahuannya, pasangan betinanya yang bernama Yuko yang ia percaya untuk merekrut anggota baru justru menggunakan jalan kekerasan untuk menambah jumlah SEAMAN. Cara yang Yuko tempuh itu, pada akhirnya mendatangkan bencana pada komunitas mereka.
Pesan moral yang saya tangkap dari cerita ini: kebahagiaan yang dibentuk dari rasa egois, apalagi sampai didapat melalui jalan kekerasan, pada akhirnya akan mengantarkan kita pada jurang kebinasaan (Bjir 😎)
Awal baca buku ini karena tertarik dengan sampulnya yang mengambil referensi dari sampul album Abbey Road karya The Beatles. Rupanya, tidak hanya sampulnya saja, nama-nama tokohnya pun jelas sekali mengambil inspirasi dari The Beatles. Sebut saja:
Jon = John Lennon Paul = Paul McCartney Jorj = George Harrison Rin = Ringo Starr Cinta = Cynthia (mantan istri John Lennon) Yuko = Yoko Ono Jud = "Hey Jude" (salah satu lagu The Beatles)
Setelah melihat sampulnya serta membaca paragraf pembukanya, saya kira The Beatles punya pengaruh besar dalam alur ceritanya. Namun, rupanya, referensi The Beatles hanya ada pada nama tokoh-tokohnya, serta muncul pada kenangan Jon akan majikannya.
Sayangnya, tokoh Paul dan Jorj tidak punya peran menonjol dalam cerita. Padahal, Paul dan Jorj adalah dua anjing yang berperan penting dalam pembentukan SEAMAN. Di tengah-tengah cerita, dua tokoh ini tiba-tiba menghilang. Mereka berdua baru disebut-sebut lagi setelah keduanya sudah tidak bisa berguna untuk perkembangan cerita. Menurut saya, Paul dan Jorj bisa diberi peran sebagai penasihat Jon, serta menengahi benturan keinginan antara Jon dan Rin.
Kisah Jon dan anggota SEAMAN sangat menarik untuk disaksikan. Saya selalu dibuat penasaran akan apa yang terjadi pada SEAMAN selanjutnya saat Jon membuat langkah-langkah dan kebijakan baru. Buku ini cukup membantu saya yang sedang berjuang untuk menghilangkan reading slump.
Berawal dari keresahan dan ketidakbahagiaan Jon sebagai anjing peliharaan yang hidup dalam belenggu dan titah majikan—manusia, Jon pun menyuarakan sebuah pemikiran. Ingin membuat aliansi yang menaungi anjing-anjing untuk bisa mandiri, terbebas dari manusia, dan kembali ke alam—alamisme. Jon lalu merekrut anjing-anjing lain yang telah terdoktrin paham "kebahagiaan" yang ia cetuskan. Perkumpulan itu dinamakan "Serikat Anjing Mandiri" (SEAMAN).
Premisnya bagus, unik, fresh. Di 1/3 bagian sangat menjanjikan. Apalagi bab pertama itu hook banget. Konfliknya pun makin seru. Ketika kebahagiaan bergeser menjadi keegoisan, keserakahan, dan penjajahan dengan kekerasan. Penulisnya secara subtil membuat metafora anjing yang ternyata bisa sangat "manusia".
Tapi, menjelang akhir, malah berasa kayak drama intrik sinetron. Sayang banget di final act malah tetiba ganti "kepala" jadi sudut pandang Cinta. Padahal ingin melihat bagaimana dan apa yang dirasakan oleh Jon, sang lead—founder SEAMAN—di saat [redacted]. Jadi, nggak dapet momen klimaksnya tuh. Dari awal udah Jon, Jon, dan Jon. Lalu, bermanuver. Rin yang aku kira bakal jadi oponen seru, eh penyelesaiannya gitu aja. Pun sama dengan yang terjadi pada Yuko. Build up-nya udah bagus di awal-awal, makin tengah udah makin panas, pas akhir malah hmm.
Sebenarnya nggak tahu maksud penulis memasukkan unsur seks di buku ini. Apa memperlihatkan bahwa ya bagaimana pun mereka tetap anjing jadi ya birahi? Dan kenapa juga oposisi menamai SEAMAN dengan serikat bidah kan bisa aja namanya serikat sesat, kek kenapa bidah? 🤔
Overall, bukunya masih bisa ku selesaikan dengan baik dan cukup seru untuk diikuti.
waktu awal ngelihat buku ini langsung tartarik gitu, tapi ga nyangka kalo judulnya benar-benar literal. Jon, si anjing rumahan kabur dari rumah majikan yang dulu teramat menyayanginya. Tapi ternyata rasa sayang itu bisa berkurang, hingga akhirnya tidak bersisa, ketika sang majikan menikah dan punya anak. Untuk menemani Jon, majikannya mengadopsi seekor anjing peking betina. Namun, Emma akhirnya tewas setelah tanpa sengaja menggigit anak si majikan yang menarik ekornya. Sang majikan marah besar dan memukuli Emma hingga luka berat. yang tidak dijelaskan bagaimana Emma bisa jatuh dari jendela lantai 2 yang menyebabkan kematiannya.
Sejak itu Jon memutuskan untuk pergi dari rumah dan hidup berkelana hingga jauh dari kota yang menyisakan kenangan pahit baginya. Pencerahan datang ketika Jon sedang termenung di kolong jembatan dan mencetuskan cara hidup alamisme di hutan nun jauh dari peradaban manusia.
FYI, buku ini berlabel 21 tahun ya. So, read with caution. Padahal walopun tanpa muatan seksual, gw rasa buku ini juga bisa dinikmati anak-anak remaja, cem animal farm.
Premis ceritanya menarik. Jujur, penasaran banget ending dari bacaan ini. But, I decided not to finish this book due to the following reasons: 1. Banyak unnecessary sex scenes yang bikin ngernyitin dahi 2. Karakter laki-laki (atau dalam hal ini, lebih sesuai disebut pejantan) di sini banyak yang misoginis. What pisses me off the most is waktu Jon bilang "PENASARAN" waktu Cinta nuntut Jon buat ambil tindakan setelah dia mengalami pelecehan, instead of merasa bertanggung jawab. what makes it worse is, Jon sebelumnya menafikkan cerita Cinta (kalau dia mengalami pelecehan). Dan yang muncul di kepala Jon setelah Cinta nyecer untuk ada tindakan tegas dari Jon, bukan rasa tanggung jawab, tapi "penasaran". i rolled my eyes so hard when i read this. ini nunjukkin betapa author bikin Jon gak aware sama perasaan dan trauma yang dialami korban pelecehan seksual.
Sebetulnya masih ada banyak lagi tp gak bakal muat buat nulisin di sini
Akhir kata, it's a solid 2/5.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bacaan yang cukup ringan dengan premis menarik, membolehkan pembaca berimajinasi dan mengambil sudut pandang bagaimana mendirikan sebuah komune sosial baru sekaligus hidup di dalamnya (sebagai anjing beserta sifat-sifat keterbatasannya tentunya). Dunia terbangun menarik seiring terjalinnya hubungan antar karakter, melewati sejumlah permasalahan yang asyik diikuti.
Cerita sangat rapi sampai pada bagian akhir yang menurut saya kurang memuaskan, yaitu kurangnya perspektif tokoh utama Jon dalam konklusi cerita. Saya terikat dengan Jon sejak awal, tapi mengapa nasib akhir Jon dan nasib akhir komune yang begitu pentingnya, hanya ditampakkan dari sisi Cinta, yang notabene sebagai karakter sampingan yang muncul di tengah? Selain itu, saya kurang menyukai sisi seksualitas cerita dalam novel ini yang menurut saya agak berlebihan dan membuat tidak nyaman, akan lebih layak jika dialternatifkan dengan romansa maupun jenis kesetiaan hubungan yang lain (akan sedikit membuang sisi ke-anjing-an tetapi justru mendukung dramatisasi! Lagi pula para anjing sudah dimiripkan akalnya dengan manusia sejak awal)
6.5/10
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Setelah luka dan segala dendam berujung penyesalan, sebaik-baik yang mesti dilakukan adalah berdamai dengan hidup. Hidup yang pahit pun tetap harus dilanjutkan."