SMA Srikandi dibanjiri rumor-rumor tentang Baswara, siswa yang terus dijauhi oleh banyak orang karena dikenal sebagai cowok kasar, suka merokok, main narkoba, dan berteman dengan preman. Meskipun tak pernah terbukti, tuduhan-tuduhan itu terus mengikuti langkahnya. Ghaniya, seorang siswi yang berpegang pada prinsip harus menjadi siswi baik, bertekad menjauhi Baswara.
Namun, segalanya berubah ketika tugas Sinematografi memaksa Ghaniya dan Baswara untuk bekerja bersama. Dalam waktu tiga minggu, keduanya harus menjalin kerja sama, sebuah situasi yang di luar dugaan bagi Ghaniya. Misteri terbuka perlahan: rahasia Baswara, kesakitan yang merundungnya, dan bagaimana kebersamaan mereka justru mengungkap rahasia tersembunyi. Di tengah pertarungan antara prasangka dan kebenaran, keduanya menemukan hubungan yang tak terduga dan pentingnya sebuah kepercayaan.
Memang ada apa “di bawah” kaki Baswara? Ada rasa bersalah. Ada rasa ingin berteriak. Tanpa Baswara sadari sebenarnya banyak hal di bawah kakinya yang bisa ia gunakan untuk membalikkan keadaan. Baswara baru sadar ketika Ghaniya hadir di hidupnya.
Don’t judge the book by the cover. Ini satu sekolah pada kasih label kalau Baswara itu bermasalah, pecandu narkoba, doyan tawuran, tapi nggak pernah dipanggil oleh guru BK atau disidak sekolah. Kenapa? Karena Baswara pinter, ganteng, beep, beep? Karena semua orang termakan gosip hot issues yang nggak mendasar sih. Termasuk Ghaniya. Dia sama saja dengan satu sekolahnya, bukannya cover both side malah suudzon terus sama Baswara.
Dan Baswara. Ngobrol, Dik! Karakter Baswara ini layernya banyak. Rahasianya banyak. Lalu, diarahkan ke hal-hal yang “menyimpang”, jadi ya semuanya cenderung percaya sama label itu. Tapi, aneh sih kok semua pada percaya gitu aja rumor itu padahal Baswara langganan ikut olimpiade, nilainya juga bagus. Some of act(s) di buku ini kadang memang agak ganjal.
Nggak hanya Baswara yang rumit, Ghaniya juga. Konflik ia dan papanya bikin geram. Definisi orang tua yang gagal pada mimpinya dan nuntut anaknya untuk mewujudkan mimpi itu, tanpa tanya pendapat anaknya. Lalu, ada satu tokoh lagi yang asdfghjkl ini kalau dia nongol bawaannya senewen. Dia itu kek ngerasa paling menderita sedunia pokoknya.
Buku ini terlalu tebal di konflik act kedua, jadi pas act ketiga penyelesaiannya dibuat cepat. Jadi berasa gampang banget baikannya, padahal gelutnya udah ini dan itu.
Meskipun demikian, sebagai buku young-adult, buku ini menyingkap konflik-konflik dan dinamika anak SMA dengan segala kerumitannya dengan cukup baik. Family issues yang diangkat pun cukup dalam.