"Aku sudah terlalu tua untuk balas dendam, Cosmo sayang. Sebab aku telah belajar bahwa balas dendam tidak pernah terasa senikmat yang kauharapkan." - p. 191
Berkisah tentang 7 anak SD yang memecahkan teka-teki hilangnya seorang wanita tua bernama Teetee—seorang wanita tua unik nan anggun yang selalu membawa tas besar berisi segala macam barang ajaib yang dibutuhkan. Misi itu bernama Parole Teetee.
Novel yang mengingatkanku pada film-film liburan sekolah atau film natal dan tahun baru. Cocok untuk semua umur. Bacaan yang asik dan ringan.
Vibe-nya seperti film home alone, boss baby, ya ... film akhir tahun. Kepolosan dan kejenakaan 7 anak SD kelas 4 ini: Lene, Bene, Cosmo, Stulle, Junis, Sara, dan Saha dalam menyingkap misteri hilangnya Teetee sungguh sangat seru untuk diikuti. Apalagi mereka punya Pusat Komando—tempat rapat dan diskusi untuk strategi penyelamatan—tempatnya di Toko Kelontong Herr Mansur.
Ini adalah pertama kalinya aku membaca novel terjemahan dari bahasa Jerman. Jadi inget pernah belajar bahasa ini—sudah lama dan agak lupa. Frau, Herr, Made, Frauline, kata-kata panggilan "khas" Jerman ini jadi semacam refreshing buat aku.
Ceritanya dari sudut pandang anak SD, jadi jangan harap akan ada misteri yang njelimet. Justru pandangan mereka yang masih polos, membuat orang dewasa sepertiku jadi terenyuh. Apalagi di persoalan tentang persahabatan.
Dia tidak ingin tertidur. Jika dia tertidur, maka hanya dalam sekejap mata, hari ini akan berubah menjadi hari esok. Dia punya seorang teman hari ini. Tetapi, apa yang akan terjadi besok? - p. 76
Selain misi menyelamatkan Teetee, juga ada cerita khas anak SD. Cosmo dengan puisinya, Stulle dengan kesukaannya terhadap burung, Lene terhadap buku, kisah "segitiga" Lene, Stulle, dan Cosmo, lalu Sara-Saha bestie yang bercita-cita ingin jadi influencer—salah satunya dan itu malah mengakibatkan friksi satu sama lain, Bene dan pianonya, Junis—seorang murid baru—dia pindah ke Jerman karena tempat asalnya di Suriah sedang konflik dan berperang.
"Beberapa orang dewasa sungguh sangat bodoh. Mereka membangun sesuatu hanya untuk menghancurkannya lagi,"
"Orang dewasa berperang dan tidak ada yang peduli anak- anak,"
"Mungkin mereka tidak pernah punya orang yang menyayangi mereka," - p. 45
Lalu, hubungan "cinlok" guru-guru mereka yaitu Frau Felgentreff dan Herr Heckman menambah seru bumbu-bumbu di buku ini. Dan yang utama, jelas Teetee. Sudut pandang dan jalan pikirannya sungguh unik dalam menolong orang—apalagi tas "ajaib"-nya.
Terjemahan asik, ada footnote penjelasan di bawahnya. Sedangkan untuk ceritanya, mungkin karena tokohnya banyak, kadang satu paragraf bisa jumping ke paragraf lainnya dengan beda tokoh dan tempat. Jadi kadang agak bingung dengan pergantian adegannya. Meski demikian, tetap bisa diikuti.
Akhir kata, Parole Teetee adalah novel yang bisa dibaca semua umur. Hanya 200~ halaman, bisa dibaca dalam sekali duduk. Ringan dan seru.