Kumpulan 14 tulisan bertema detektif dan kriminalitas yang eranya sempat menghilang dan saat ini kembali lagi. Mancis, sebuah majalah yang diproduksi oleh baNANA dan Studio Batu. Berisi cerpen, esai, puisi, dan lainnya.
“Kami memang ingin bernostalgia, tetapi tak hanya itu. Kami ingin menyaksikan munculnya karya-karya baru dan syukur-syukur hasilnya bisa dinikmati pembaca dengan kelahapan yang sama besarnya seperti ketika orang Hindia pertama kali membaca Sherlock Holmes.”
Azhari dilahirkan di pinggir Banda Aceh, 5 Oktober 1981.
Pernah kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Tahun 1999, ia meraih penghargaan cerpenis terbaik se-Aceh pada 1999, versi Taman Budaya Aceh. Kemudian pada 2003, ia mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik se-Indonesia, versi Departeman Pendidikan Nasional, lewat puisinya ‘Dibalut Lumut’.
Saat ini, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk Komunitas Tikar Pandan, sebuah lembaga yang fokus pada gerakan kebudayaan untuk Aceh.
Sungguh, mengajak masyarakat untuk berpikir kritis ternyata memang membutuhkan proses yang berdarah-darah.
Kumpulan cerpen, essay, resensi buku dan film, comic strip serta TTS edisi perdana yang mengambil tema kriminalitas ini sungguh unik dan langsung jadi buku favoritku tahun ini. Saya suka semua esai yang ditulis di buku ini, menyadarkanku ternyata ada banyak kisah detektif yang ada di Indonesia sejak dulu yang baru saya tahu di buku ini.
Majalah Mancis ini tampaknya adalah semacam proyek senang-senang yang isinya juga menyenangkan! Ya, nggak heran, kontributornya aja para ace di dunia sastra Indonesia, seperti Azhari Aiyub, Eka Kurniawan, mendiang Jokpin, Martin Suryajaya, Yusi Avianto Pareanom, dll. Para kontributor tampil dengan ciri khasnya masing-masing. Tema detektif dan kriminalitas yang diusung di edisi perdana Mancis ini juga dieksekusi dengan fresh banget. Kita bakal ketemu dengan cerita-cerita penyelidikan pembunuhan di perkotaan sampai pencurian celana dalam di sebuah kampung. Ada juga esai tentang karakter fiksi, musik, dan peristiwa-peristiwa "ajaib" dalam lanskap kriminalitas di Indonesia. Saya cuma berharap agar Mancis ini ke depannya konsisten terbit, mungkin dengan tema dan kontributor yang beragam.