In Vol. 5, the very first episode is titled “Aku Pingin Sakit Flu!”, and the funny thing is, I read it while I was actually sick with the flu. It felt oddly relatable and comforting. Thank you for keeping me company, Miiko 🥲 The slice-of-life element really hits differently when your real life matches the story.
Compared to the previous volume, this one focuses more on friendship than family. There are many stories about Miiko going out and spending time outside her usual environment, so it doesn’t just feel centered around home or school routines. The hangout episodes with her friends are especially fun and refreshing.
Of course, there are still plenty of Miiko × Tappei moments. Some scenes are surprisingly bold, there’s even one that makes Tappei visibly shocked. It’s not a huge dramatic shift, just small moments, but noticeable enough to make you go “wow.” Their dynamic is still shy and sweet, but these little developments make it more exciting.
In my previous review, I mentioned that Miiko seems sensitive to supernatural things. In this volume, it’s clear that it’s not just Miiko, other characters in her world can sense or see unusual things too. But everything is wrapped in humor, so it never feels scary, just playful and light.
Interestingly, the last two episodes don’t feature Miiko at all. They focus on other students in her school environment, even from different classes. I really like that each story clearly shows the class number at the beginning (like Grade 5 or Grade 6), which makes the world feel more structured and connected.
Vol. 5 feels wider in scope, expanding friendships, subtle romance progress, and even the side characters’ lives, while still keeping that warm, funny charm.
Gara-gara Miiko makan donat, jadi pengen donat juga ^^
Sampai vol. 5 ini, jadi lebih ngerti kalau sifat Miiko itu lebih ke mamanya, sedangkan Mamoru ke papanya. Tapi yg paling kalem tetap papanya sih ^_^. Terus scene Miiko jatuhin tiket ke toilet, ngakak banget XD. Pernah pakai baju gitu juga, tapi belum kejadian kayak Miiko atau Ono-sensei sih hahaha :D
Dan lihat umur pembaca, di vol. 5 ini jadi R yang semula SU. Kesannya jadi dewasa komik Miiko. Ini sebelum diganti jadi angka sih ^^v
paling suka chapter miiko ngumpulin poin donat buat tuker lunchbox. hard work nya ada, moral value ada banget, terus tetep ada gemesnya sama tappei 🤪
huhu miiko baik banget mau ngasih poinnya ke anak kecil. bener2 ya tiap baca series ini tuh kyk selalu tertampar dan dibikin sadar diri kalo gw tu manusia egois, harus banyak2 belajar dr miiko 🥲
Miiko ingin sekali punya lunch box seperti Mari-chan yang diperoleh dengan menukarkan kartu poin. Dia berusaha mati-matian supaya bisa terkumpul 10 poin. Semangatttt, Miiko! :D
Komik Hai Miiko 5 ini saya paling suka yang judul "Yoshiki Sang Bintang".
Yoshiki kecewa karena karyanya tidak jadi muncul di tv, padahal ia sudah mengundang teman satu kelas untuk nonton penayangannya di rumah. Karena kecewa stasiun televisi tersebut tidak menayangkan karyanya, Yoshiki memberikan karyanya berupa diorama dinosaurus yang terbuat dari bubur kertas kepada Miiko dan Mari-chan.
Sampai di rumah, Miiko melihat pengumuman di tv, bahwa stasiun tv tersebut esok akan syuting live di taman kota. Miiko punya rencana berasama Mari-chan.
Esok paginya, Miiko sudah ke taman kota bersama Mari-chan membawa karya Yoshiki. Saat kru tv melihat karya yang dibawa mereka, mereka diwawancara, Miiko dan Mari berterus terang bahwa itu karya teman mereka yang kecewa telah diwawancara namun batal ditayangkan. Terjadilah kekacauan syuting live di taman kota. Semua teman kelas Miiko melihat siaran itu termasuk Yoshiki, ia pun senang kembali ceria lagi.
Gambar covernya sedikit promosi di sini, menyebutkan salah satu rumah produksi donat. Hahaha.
Cerita favorit saya, "Yoshiki Sang Bintang." Jadi Yoshiki ini sudah pernah diceritakan di buku sebelumnya (kayaknya) kalo dia itu memang kreatif dan berkeinginan menjadi sutradara.
Suatu hari, Yoshiki membuat patung dinosaurus, yang ternyata diliput dalam suatu acara televisi. Hal ini membuat Miiko heboh (seperti biasa) lalu mengajak teman-temannya untuk beramai-ramai nonton liputan itu bersama di televisi.
Sayangnya, liputan Yoshiki ternyata tidak jadi ditampilkan hari itu karena terlalu banyak anak yang diliput dan waktu penayangan sebentar membuat liputan Yoshiki urung disiarkan.