Ladies and gentlemen, Tonight we will watch a boxing match: James” Cinderella Man” Braddock Vs. The Game of Life.. Ya, bukan Max Baer lawan tertangkuh yang harus dihadapi Jim ketika ia menjadi juara dunia kelas berat, tetapi kehidupan itu sendiri adalah lawannya yang terberat, The toughest game is the game of life.
Novel yang dibuat berdasarkan film dengan judul yang sama (Russel Crowe dan Renée Zellweger), dan film yang dibuat berdasarkan kisah nyata, tokoh Jim Braddock benar-benar ada.. Jim “Cinderella Man” Braddock adalah Petinju Irlandia-Amerika pernah mengalami puncak karir gemilang, tetapi tak sampai 5 tahun, cidera tangan kanan dan kekalahan 10 kali berturut-turut menderanya, ia tersungkur dan keluar dari arena tinju. Dan pukulan terberat ia harus hadapi adalah “Great Depression”, yang melanda Amerika, Oktober 1929, membuat apa yang telah di-investasikannya menjadi tak bersisa sama sekali: saham, obligasi, perusahaan taksi dan rumah kesayangannya hilang dan mereka pun jatuh miskin.
Ini bukan hanya cerita mengenai tinju..tetapi lebih dari itu, ini kisah tentang kehidupan untuk tidak menyerah dan tidak takut melawan, mengajarkan untuk selalu ada untuk orang yang kita sayangi, untuk terus mendukungnya dan memberinya semangat berjuang, ini kisah mengenai pengorbanan: pengorbanan seorang ayah Jim, ditengah cidera tangan kanannya, ia memaksa terus bekerja meski harus menggunakan tangan kirinya dan tangan kanan yang masih berbungkus gips mengangkut berkarung-karung bermacam barang dari pelabuhan hanya demi 25 sen, pengorbanan istri dan ibu Mae Broddock yang terus setia disamping suaminya, yang selalu mengkhawatirkan keadaannya ketika Jim habis bertanding dan ketika Jim pulang dari pelabuhan, yang ada disampingnya ketika mereka tinggal di apartemen kumuh satu kamar. dan ini kisah mengenai anak-anak (Jay, Howard dan Rossy) ketiga bersaudara ini sangat meng-idolakan apa yang dikerjakan oleh ayah mereka dan salah satu cara menolong ayah mereka, mendatangi Sam si tukang daging mereka berkata: “Ayahku akan melawan laki-laki yang membuatnya babak-belur saat terakhir mereka bertemu. Steak macam apa yang kau punya?” (steaknya bukan buat dimakan tapi buat dipakai kompres lebam luka habis bertinju).
Kisah yang sangat mengharukan mengenai perjuangan seorang Jim: ia adalah pria yang punya kemampuan, kuat, suka bekerja keras, tapi dunia membuat ia tak berdaya, tak berharga, ia adalah ayah dan suami yang punya harga diri, tapi memergoki dirinya tak sanggup mengurus istri dan keluarga. Jim terpaksa menerima pinjaman dari dinas sosial dan ia menengadahkan tangannya di klub tempatnya berlatih hanya untuk melunasi tagihan listrik dan gas dirumahnya. Dan atas perjuangannya lepas dari belenggu kemiskinan untuk bangkit dan kembali bertanding, orang-orang yang sama senasib sepenanggungan dengan Jim, mereka memberikan julukan kepadanya: Cinderella Man, pria yang mampu bangkit dari keterburukan dan menghadirkan mimpi bahwa harapan akan selalu ada ditengah segala kesulitan hidup.
Ronde Pertama
”Ketika bel berdentang, kau ada disana untuk menang”
-James J.Braddock
Seperti dikutip Peter Helen dalam
In This Corner
Ronde Kedua
”Sang pengantin pria terlihat amat sehat dan tak bermata lebam. Dan, Mae Theresa tak diragukan lagi adalah pengantin wanita yang jelita”
-Ludwig Shabazian, Relief to Royalty
Biografi resmi James J.Braddock
Ronde Ketiga
”Jika memperoleh kesempatan, kau akan berada di sana, kau akan berada di puncak, jika tidak, kau akan berada di dasar”
-James J.Braddock
Seperti dikutip Peter Helen dalam
In This Corner
Ronde Keempat
”Laki-laki yang bergantungan tak berdaya pada tali dengan kaki tak menyentuh tanah, akan dianggap telah takluk”
-The Queensburry Rules
Nomor 5
Ronde Kelima
”Seseorang bisa menanggung banyak cobaan jika masih menyimpan harapan”
-Clyde T.Ellis
Seperti dikutip Studs Terkel di Hard Time: An Oral History of The Great Depression
Ronde Keenam
”Jika salah satu petinju jatuh akibat kelemahan sendiri atau sebaliknya, ia harus bangkit tanpa dibantu..”
-The Queensburry Rules
Nomor 4
Ronde Ketujuh
”Aku tak peduli siapa dan sehebat apa dirimu, kau akan kena pukul.. kau harus bisa mengabaikan rasa sakit”
-Tommy Loughran
Juara Dunia Kelas Berat-Ringan
1927-1929
Ronde Kedelapan
”Aku selalu kurang-lebih menjadi orang yang tidak diperhitungkan. Itu tidak ada pengaruhnya buatku”
-James J.Braddock
Seperti dikutip Peter Helen dalam
In This Corner
Ronde Kesembilan
”Kau memperoleh kekuatan, keberanian dan kepercayaan diri dari setiap pengalaman dan membuat kau benar-benar berhenti merasa takut.. kau harus melakukan sesuatu yang kau pikir tak bisa dilakukan”
-Eleanor Roosevelt
Ronde Kesepuluh
”Jangan samakan petarung-petarung Amerika yang berlatih di sasana dengan mereka yang berlatih di Klub Kebugaran Knightbridge”
-Hugh McIlvanney, The Hardest Game
Ronde Kesebelas
Siapa juri yang lebih baik: publik atau para pakar? Menurutku, publik
-Damon Runyon
Ronde Keduabelas
”Aku ingin menyampaikan kepada penggemar tinju dan publik: aku akan berada di kondisi terbaik yang bisa dicapai atlet manapun untuk pertandingan ini.. Aku tahu makna pertarungaan ini bagiku.. Dan, ini akan menjadi pertarungan yang istimewa”
-James Braddock, 1935
”Aku bersikeras meminta sebuah ambulans di pinggir ring. Jim orang baik, dan aku tak ingin melihatnya mati ditanganku. Ia tak akan bertahan sampai satu ronde”
-Max Baer, 1935
Ronde Ketigabelas
”Baer adalah orang yang bisa melukai kita.. Tapi aku selalu berkeyakinan bahwa Max seharusnya menjadi aktor dan bukan petinju”
-James J. Braddock
Seperti dikutip Peter Helen dalam
In This Corner
Ronde Keempatbelas
“.. Surat berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk Braddock.. sebagian besar dari mereka yang ditinggalkan sendirian di dunia dan dari mereka yang bekerja keras.. tanpa harapan sampai orang ini datang mengayunkan pukulan dari kegelapan untuk memperlihatkan pada mereka bagaimana mengubah kekalahan menjadi kemenangan”
-John D.McCullum
Encyclopedia of World Boxing Champions
Epilog
”..Ketika Baer menjotos daguku dengan pukulan terdahyat dan aku menerimanya, aku menjadi pria paling bahagia di dunia. Tak seorang pun mengetahui makna pertarungan itu bagiku. Uang, keamanan, pendidikan untuk anak-anakku, sokongan keuangan untuk orangtuaku. Jika pernah ada lelaki yang naik ring dengan sesuatu yang diperjuangkan, aku adalah orangnya”
-James J.Braddock, 1935