Jump to ratings and reviews
Rate this book

Journal of Terror #2

Journal of Terror 2: Jelmaan

Rate this book
Nama aku Sukma. Aku mampu melihat alam ghaib, tetapi aku tidak maksudkan makhluk mistik biasa. Alam ghaib bukan sekadar hantu semata-mata. Banyak hal lebih tabu yang tidak terjangkau oleh usiaku.

Sudah lama aku rasakan kemampuanku ini wujud untuk tujuan tertentu. Tujuan yang mungkin lebih besar daripada apa yang aku mampu bayangkan.

Paperback

First published March 16, 2020

16 people are currently reading
212 people want to read

About the author

Sweta Kartika

31 books89 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
84 (40%)
4 stars
93 (44%)
3 stars
24 (11%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 30 of 68 reviews
Profile Image for Szasza.
246 reviews22 followers
October 28, 2022
INI SERU BANGET PLISSSS!!?

Oke jadi buku ini dari premis nya bercerita tentang sukma, iya sukma yang ada di buku sebelumnya, sepupunya prana yang sama sama di kasi peninggalan keris oleh kakek nya.

Menurut aku petualangan sukma di buku ini seru banget, kisah-kisah mistis yang di alami sama dia bukan ke cerita horor yang ngelihat setan and trying to help them yada yada yada kaya di buku sebelumnya its more than that. Mungkin aku suka buku ini karena lebih detail penulisannya, unsur mistis yang di tulis juga lebih luas dan menurut aku character sukma cukup complex jadi lebih menarik aja.


Oh iya di buku ini ada lanjutan kisah keris kembar bareng prana, nanti di jelasin asal usul 5w+1h nya kdbsjajajjsjs. Last but not least I NEED THE THIRD BOOK???? PENASARAN SAMA KISAH LANJUTAN MEREKA??!!!
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
August 7, 2021
• Judul : Journal of Terror - Titisan
• Penulis : Sweta Kartika

• Penyunting : Risma Megawati
• Penerbit : Clover
• Terbit : 16 Maret 2020
• Harga : Rp 89.000,-
• Tebal : 352 halaman
• Ukuran : 13 × 19 cm
• Cover : Soft cover
• ISBN : 9786024809508

"𝘔𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘣𝘢𝘵." (hal. 111)

Kemampuan Sukma melihat makhluk gaib kerap kali membuatnya terganggu. Selain itu Sukma juga dapat menerawang kejadian buruk yang akan terjadi di masa depan. Menjadi anak indigo sebetulnya cukup membebani Sukma secara tidak langsung. Setelah kepergian ibunya akibat penyakit kanker, Sukma kini hanya tinggal berdua bersama ayahnya di sebuah ruko tiga lantai. Sukma sendiri sebenarnya lebih dekat dengan sang ibu ketimbang ayahnya. Di saat dirinya merasa sendiri dan bingung ingin berbagi tentang kemampuannya itu, Sukma selalu menghampiri sahabatnya, Damar. Sama seperti Sukma, Damar pun mempunyai indera keenam. Kemampuan Damar tergolong lebih luas dibanding Sukma. Di balik kondisi fisiknya yang tidak sempurna, Damar dianugerahi kemampuan yang dapat menolong banyak orang. Sukma sendiri merasa lebih nyaman dan terbuka saat berbagi cerita perihal fenomena gaib dengan Damar. Damar selalu dapat mengerti dan memberi solusi di saat Sukma merasa bimbang dan bingung dengan apa yang dilihatnya.

Melalui Damar pula Sukma tahu akan takdir yang sedang menunggunya. Damar seakan memberi sinyal pada Sukma untuk bersiap menghadapi fakta yang akan menghampirinya. Secara mendadak Sukma diajak oleh ayahnya untuk ikut berkumpul bersama keluarga besar di sebuah vila. Entah apa tujuan mereka berkumpul di sana, tapi yang pasti Sukma harus ikut serta. Sesampainya di vila tersebut Sukma langsung dihadapkan dengan banyaknya saudara-saudaranya dari pihak sang ayah. Sebentar lagi pertemuan tersebut akan menguak sebuah kenyataan yang harus Sukma terima. Di antara banyaknya saudara yang ada di sana, ada satu sepupu laki-lakinya yang menarik perhatian Sukma. Nama sepupunya itu adalah Prana. Sukma yakin jika Prana adalah sosok yang sempat Damar sebut sebagai kawan seperjuangannya. Namun, dilihat dari penampilannya, Sukma yakin jika Prana akan sedikit menyusahkannya. Saat semua keluarga tengah berkumpul, tiba-tiba saja listrik di dalam vila tersebut padam. Di balik gelap gulita hadir sosok pria tua bersama dua ajudannya yang akan mendeklarasikan takdir Sukma. Siapa sebenarnya sosok pria tua tersebut? Apa sebenarnya takdir yang akan diemban Sukma?

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘚𝘶𝘬𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘚𝘶𝘬𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯." (hal. 124)

Senang sekali rasanya bisa kembali membaca kelanjutan kisah Prana yang sempat tertunda di buku pertamanya, Journal of Terror - Kembar. Walaupun di buku keduanya ini narasi cerita dibawakan oleh sepupu Prana, Sukma, tapi pada akhirnya mereka akan dipertemukan melalui benang merah yang sama. Sweta Kartika kembali membawa nuansa horor yang masih dapat membuat bulu kuduk merinding. Nuansa horor itu sendiri sudah bisa kita rasakan lewat 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya. Masih satu tema dengan buku pertamanya, 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya kali ini menghadirkan sosok Sukma yang berdiri di depan sebuah pintu kayu ganda dengan tangan raksasa yang muncul di dalamnya. Ilustrasi ini sukses menghadirkan rasa takut yang bikin bergidik. Warna hitam putih yang mendominasi 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya menambah kesan horor yang ada. Apalagi sosok Sukma yang disorot dengan sebuah keris yang tersampir di pinggangnya memberikan kesan etnik dan klenik. Bisa dibilang 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya sangat mewakili nuansa horor dengan unsur budaya yang cukup kental. Penampakan 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang terlihat ciamik dan antik.

Masih bercerita tentang kemampuan supranatural yang dimiliki Prana, tapi kali ini tokoh Sukma yang menjadi sentral ceritanya. Sukma yang mempunyai indera keenam selain mampu melihat makhluk yang tak kasat mata, dia juga bisa menerawang masa depan. Kemampuan Sukma ini terkadang malah menjadi beban bagi dirinya. Namun, untungnya ada sosok Damar, sahabatnya, yang sama-sama memiliki indera keenam. Damar menjadi sandaran dan rekan yang bisa diajak berdiskusi perihal dunia gaib. Keterkaitan Sukma dan Prana juga akan dikupas sedikit di sini, sehingga terlihat benang merah apa yang mempertemukan mereka. Ceritanya bisa dibilang terasa lebih seru dan menantang jika dibandingkan dengan buku pertamanya. Di sini banyak adegan aksi yang bikin deg-degan sekaligus merinding. Cerita tentang palasik menjadi bagian favorit saya. Sweta Kartika bisa memasukkan unsur horor lokal, melalui mitos palasik, ke dalam ceritanya. Sosok kepala melayang dengan berbagi organ tubuh di bawahnya ini sukses bikin bulu roma berdiri. Ditambah dengan eksekusi cerita yang melibatkan Sukma dan Damar semakin menambah intensitas dari keseruan ceritanya. Walaupun singkat, tapi nuansa misterinya terasa kuat dan menonjol di saat yang sama.

Di dalam buku keduanya ini tokoh Sukma berperan menjadi pemain inti. Sukma yang merupakan sepupu Prana digambarkan sebagai sosok gadis yang mandiri, tangguh, dan pemberani. Di balik semua sifatnya tersebut, Sukma mempunyai indera keenam yang dapat membuatnya melihat makhluk gaib serta menerawang masa depan. Sukma sendiri memiliki permasalahan keluarga, khususnya dengan ayahnya, yang cukup memengaruhi karakternya. Saya sendiri dapat dengan mudah menyukai tokoh Sukma dengan segala tindak tanduknya. Selain Sukma, ada satu tokoh pendukung yang tidak kalah penting, yaitu Damar. Damar merupakan sahabat Sukma yang sama-sama memiliki indera keenam. Damar memiliki fisik yang kurang sempurna. Selain menderita 𝘥𝘰𝘸𝘯 𝘴𝘺𝘯𝘥𝘳𝘰𝘮, Damar tidak bisa melihat dan memiliki kulit albino. Namun, di balik kekurangannya itu, Damar memiliki intuisi yang kuat dan mampu menjelajahi dunia astral melalui kemampuan indera keenamnya. Dua tokoh ini mampu menghidupkan jalan ceritanya. Keduanya seakan bisa berkolaborasi membentuk sebuah relasi yang membuat pembaca terkesima dengan aksi-aksi mereka. Walaupun latar belakang kedua tokoh ini kurang banyak digali, khususnya Damar, tapi penulis masih bisa menghidupkan mereka dengan karakter yang kuat dan meyakinkan.

Ada dua sudut pandang yang digunakan di sini, yaitu sudut pandang orang pertama dan ketiga. Namun, penggunaan sudut pandang orang petama mendominasi hampir seluruh jalan ceritanya. Tokoh Sukma dipilih menjadi narator yang membawakan kisah horor kali ini. Sebagai pembaca saya bisa menangkap dan bersimpati dengan perasaan Sukma, khususnya masalah hubungannya dengan ayahnya. Alur ceritanya berjalan maju mundur, karena memang format bukunya dibuat seakan-akan seperti sebuah buku catatan. Meskipun kronologi ceritanya terlihat acak, tapi sebenarnya ada benang merah yang menyatukan setiap bagian ceritanya. Gaya bahasa dan bercerita Sweta Kartika terasa menarik dan berbeda. Banyak sekali majas yang digunakan dalam setiap kalimatnya, seperti majas personifikasi, metafora, hingga hiperbola. Selain itu penggunaan beberapa kalimat dalam bahasa Sunda menambah nuansa daerah yang memang sepertinya ingin ditonjolkan oleh penulis. Terakhir penggunaan kota Bogor sebagai latar tempat masih kurang begitu terasa. Malahan awalnya saya pikir ceritanya berlangsung di kota Bandung.

Di masing-masing bagian cerita terdapat konflik yang beranekaragam. Namun, setiap konflik tersebut memiliki garis besar yang hampir sama. Di antara berbagai macam konflik yang ada, saya paling menyukai konflik saat Sukma dan Damar mencoba menghentikan teror palasik yang terjadi di desa mereka. Entah mengapa sosok palasik atau kuyang yang dihadirkan dalam konfliknya terasa cukup autentik. Kesan klenik dan tradisional yang hadir dalam sosok palasik ini menjadi magnet yang kuat untuk menciptakan konflik yang bikin bergidik. Cara Sukma dan Damar dalam menanggulangi permasalahan ini juga tidak terkesan instan dan terburu-buru. Ada diskusi, penyelidikan, hingga rencana yang mereka buat untuk membantu masyarakat desa terhindar dari ancaman palasik. Konflik dalam cerita berjudul "Pemburu Haus Darah" ini efektif membuat saya menjadi candu untuk tetap mengikuti kisah selanjutnya. Di bagi ke dalam tiga bagian, cerita ini memang layak menjadi cerita yang paling banyak menghabiskan lembar halaman. Etnik, klenik, dan autentik adalah tiga kata yang bisa menggambarkan konflik dalam cerita Pemburu Haus Darah.

Bisa dikatakan jika Journal of Terror - Titisan adalah sebuah sekuel yang "menggairahkan". Baik dari segi cerita, karakter, hingga ilustrasi semuanya dibuat lebih menarik dari buku sebelumya. Banyak adegan horor dan aksi yang tidak hanya membuat bergidik, tapi juga bikin jantung terpompa. Kehadiran dua tokohnya, yaitu Sukma dan Damar menjadi pion yang bisa membuat saya betah selama membacanya. Ilustrasi-ilustrasi yang dihadirkan di halaman awal setiap cerita juga menjadi daya tarik yang tidak hanya menghiasi jalan ceritanya, tapi juga ikut membantu daya imajinasi pembaca. Jujur selain bisa meramu cerita yang menarik, Sweta Kartika pun mampu menghadirkan visual yang mencekam netra. Gaya bahasanya pun menjadi candu yang membuat saya tidak bisa berhenti membalikkan setiap lembar halamannya. Bicara soal kekurangan, mungkin hanya terletak di beberapa hal saja. Salah satunya adalah latar belakang tokohnya, khususnya Damar, yang kurang diceritakan lebih dalam lagi. Ditambah dengan sosok ayah Sukma yang sebetulnya bikin penasaran juga, karena kesannya kayak agak misterius. Secara keseluruhan Journal of Terror adalah novel horor lokal yang mampu menghadirkan nuansa mistik lewat unsur-unsur yang klenik.

"𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘤𝘢𝘮𝘶𝘬 𝘦𝘮𝘰𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯: 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳." (hal. 251)
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
September 3, 2020
Bang Sweta emang paling bener deh, bikin hati ini meleleh dan sedih. Meski ini buku berkisah tentang kejadian horor. Percayalah, narasinya asik dan bikin imajinasi kita melanglang buana. Penokohannya yang mendetil tapi enggak bikin bosan sedikit pun.

Misteri yang disajiin di setiap babnya, sering bikin bertanya-tanya. Dan bener-bener disimpan dengan baik tanpa ada unsur pemaksaan. Maksudnya, kan ada tuh ya buku yang ingin sok misterius, tapi ujung-ujungnya kita dipaksa digantungin.

Ini enggak, berbeda banget. Contoh seperti Sukma bisa melihat penampakan malaikat maut yang berdiri di depan rumahnya. Berbentuk kakek berjubah hitam, menunduk padanya. Ini kita dibuat penasaran, sama seperti si Sukma yang juga penasaran.

Tapi, kita disuruh nunggu dan bersabar sampai kemudian, sahabatnya yang bernama Damar juga menyeritakan hal serupa. Meski enggak ada penjabaran kenapa si kakek berjubah hitam itu tampak sopan padanya. Damar cuma ngasih tahu kalau ada sesuatu yang besar, berbahaya dan tidak beres terjadi di kampung mereka.

Sama kaya di bagian Sukma tersesat saat dikejar Palasik. Dia sampai tersesat di dalam hutan. Ini kita dibuat bimbang dan ikutan bingung kayak Sukma, apakah itu universe yang sama dengan kita atau justru dia dipermainkan ke dunia lain?

Cerita di dalam buku ini tuh ada beberapa. Kaya saat Sukma bertemu bang Salim. Kemudian, menyeritakan tentang perjalanan sang Mama yang pernah menjadi asisten penjahit di ruko. Kemudian, kisah awal mula Mamanya meminta Sukma menuliskan apa saja kejadian yang dialami olehnya di dalam buku jurnal.

Nah, kalau Ipeh berpikir, inilah buku jurnal yang kita baca. Yang ditulis sama Sukma setiap dia mengalami sesuatu yang menyangkut makhluk gaib.

Ada juga kisah kenapa Sukma bertemu dengan sosok orang Jawa. Ini cukup seru karena sebelumnya dibuka dengan kisah Sukma dengan Ibunya yang menjalani ritual adat dari kampung Ibunya. Penasaran sih, kira-kira nanti dibuat tayangan serialnya lagi enggak, ya. Soalnya pengen tahu juga seperti apa upacara adatnya.

Terus di beberapa bagian hampir terakhir, barulah sedikit dikisahkan mengenai titisan ini. Juga penjelasan dari kisah menggantung di bagian akhir buku Journal of Terror pertama di kisah Prana. Kenapa ada si bapak yang tiba-tiba datang. Ternyata ada penjelasan kenapa Sukma tampak digambarkan aneh bagi Prana.

Profile Image for Ainay.
418 reviews77 followers
March 21, 2020
UWOW! Aku menyangka bakal dihadapkan pada lanjutan kisah Prana dari buku sebelumnya. Ternyata, buku yang ini menceritakan dan mengupas tuntas Sukma, sepupu Prana yang muncul di menjelang akhir bab pada buku pertama.

Awalnya kupikir aku bakal kecewa karena kelanjutan perjalanan gaib Prana belum juga dilanjut, ndilalah aku salah besar! Buku ini lebih seru daripada buku sebelumnya! UWOW!

Entah ya, perasaanku pengalaman Sukma nggak sehoror pengalaman Prana, tapi jelas jauh lebih menantang! Keberanian dan watak Sukma membuatku juga jadi pemberani. Aku sama sekali nggak mengkeret tiap ada penampakan muncul, ke WC tengah malam juga aman padahal di sepertiga awal ngomongin palasik dan kuyang haha! Selalu suka dengan tokoh perempuan badass nan berani penuh perjuangan.

Terus, alur di sini juga lebih jelas. Lebih kompleks. Lebih banyak aksi. Lebih lebih lebih dari yang pertama pokoknya! Ditunggu banget buku ketiganya!
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews39 followers
April 11, 2020
*baca di Gramedia Digital
=)

pas baca awal novel agak bingung, karena tokoh utama'y berbeda, padahal ini novel series..
tapiiiii..
pas dipertengahan novel, baru semua'y terungkap..
apalagi pas mau di akhir novel, semua keganjilan pertanyaan pas di novel sebelum'y dan awal novel terungkap..
:D

ditunggu novel selanjut'y..
smoga makin seru..
:p
Profile Image for cintamembaca.
38 reviews
February 16, 2024
Buku yang bagusnya sopan sekali. Dirangkai dengan kata-kata yang indah dan menyajikan alur cerita maha luar biasa. Menceritakan sisi lain dari dunia astral yang tak disangka-sangka. Melalui buku ini, kita akan diajak mengenal Sukma serta takdir hidup yang telah digariskan untuknya. Ada satu bagian di buku ini yang semakin bikin aku segan dengan penulisnya, kak Sweta Kartika.

"Dalam pejaman mata itu, aku berdialog dengannya. Jauh dalam ruang astral, aku merendah serendah-rendahnya, meminta kepada dirinya yang begitu suci untuk turut berjuang, demi keselamatannya dan juga bayi-bayi lain. Setelah sebuah entakan sinyal kecil terkejawantahkan lewat tendangan di dinding perut sang calon ibu, aku membuka mata."

Sangat santun. Membayangkan adegan Sukma berdialog dengan adik bayi dalam kandungan tersebut begitu mengharukan. Terlebih di tengah kemelut situasi yang harus mereka hadapi bersama kala itu.

Akhir ceritanya sendiri mengundang sejuta tanda tanya... jadi makin ngga sabar buat baca buku selanjutnya...



... let's dive down into Prana's story!
Profile Image for Nur Reti Jiwani.
111 reviews27 followers
March 18, 2020
#Number: 28 #Month: March #Year: 2020

Journal of Terror - Titisan, adalah buku kedua (lanjutan) dari novel dengan judul yang kurang lebih sama, Journal of Terror - Kembar yang diterbitkan satu tahun lebih awal dari buku ini. Pada buku pertamanya, Journal of Terror - Kembar Penulis Sweta Kartika bercerita tentang tokoh utama yang bernama Prana. Seorang siswa SMA yang mampu melihat 'makhluk dunia seberang' dari mata saudara kembarnya yang telah meninggal. Buku pertamanya membawa pembaca bersama Prana untuk memecahkan misteri tentang kematian sesosok arwah cantik berbaju sekolah yang menarik hati Prana sejak awal jumpanya.

Ceritanya seram, seru, sekaligus sedih dan menyayat hati. Pilihan diksinya sungguh dipikirkan baik-baik oleh penulis, terkesan 'tinggi' dan tidak asal dibuatnya. Kalau awalnya jujur aku merasa bosan dengan gaya penulisan yang penuh pengandaian, sekarang aku seperti keracunan! Aku butuh lebih. Aku jatuh cinta dengan semesta Journal of Terror.

Jika di buku pertama cerita sangat menggantung dengan kehadiran Sukma sebagai salah satu penerima warisan keris kembar Satriya Pinilih, di buku kedua ini semesta Journal of Terror mulai menampilan sedikit titik terangnya. Tentang siapa Prana dan Sukma sebenarnya.....

Menurutku, hal yang menjadi daya tarik novel ini karena adanya unsur-unsur kearifan lokal dan budaya Indonesia yang diangkat dan dijadikan fondasi ceritanya. Dalam hal ini adalah unsur Kejawen atau hal-hal kepercayaan yang menyangkut suku Jawa, khususnya. Misteri tentang trah keluarga, kekuatan di luar batas nalar dan penggunaan istilah-istilah yang buatku sukses memancarkan aura mistis yang khas Indonesia banget! Disana lah letak daya pikat novel ini.

Kalau kamu tipe pembaca yang menikmati buku-buku dengan cerita seram dan sejenisnya, aku sangat merekomedasikan novel ini. Bukan karena bermanfaat atau menambah pengetahuan, hahaha. Tapi karena ceritanya sangat seru dengan pilihan diksi dan penggambaran yang pasti bikin jantung rasanya lari-larian. Belum lagi di beberapa halamannya kamu akan menemui sekilas ilustrasi potongan cerita.

Juga karena karakter Prana dan Sukma sungguh loveable! Aku tidak sabar menunggu buku ketiga dan menuntaskan rasa penasaranku pada tugas mereka berdua dan rahasia trah Natadiningrat. Haruskah aku menunggu satu tahun lagi? :"
Profile Image for Dyah.
1,110 reviews63 followers
March 16, 2020
Alhamdulillah, lanjutan kisah Journal of Terror muncul juga. Dari akhir buku yang pertama, udah penasaran pengen cepat-cepat baca kelanjutannya. Di buku pertama, Kembar, tokoh utamanya adalah remaja lelaki bernama Prana, yang bisa melihat makhluk gaib. Di buku kedua ini, tokoh utamanya Sukma, sepupu perempuan Prana, yang juga bisa melihat makhluk gaib. Malah bukan sekadar melihat, melainkan juga melawan jika bersilang jalan dengan makhluk yang jahat. Aku memang suka banget dengan tokoh perempuan yang badass (dibuktikan dengan tindakan, ngga cuma omongan). Mungkin juga aku suka tokoh Sukma karena lebih bisa relate sebagai sesama perempuan.

Pokoknya, buku ini lebih seruuuu daripada buku sebelumnya. Ini lebih banyak aksi, sementara buku pertama lebih banyak drama. Aku ngga akan bahas alur cerita terlalu detail ya, biar ngga spoiler. Baca sendiri aja, biar lebih kerasa atmosfer horornya ... Gaya tulisannya Sweta oke kok, antara dialog dan deskripsi porsinya pas, ngga ngebosenin, tapi juga ngga bikin bingung. Kecepatan alur cerita juga pas. Dan yang lebih oke lagi, ada ilustrasi-ilustrasi keren di tiap awal bab 😍

Satu hal yang bikin aku lumayan bete kayaknya ... Bab terakhir. Bukan soal cliffhanger cerita, tapi duh, sumpah tokoh cowok di situ ngeselin. Pengen aku tampar bolak balik itu cowok.

All in all, Journal of Terror adalah salah satu novel horor lokal berkualitas. Meskipun ngga ada embel-embel "kisah nyata", aku harap buku ini larisss dan bisa dilanjutin sampai selesai serinya.
Profile Image for Lila Cyclist.
858 reviews71 followers
April 13, 2020
Pengalaman membaca Journal of Terror terulang lagi. Buku dua ini kembali sukses membuat saya ketakutan setengah mati. Di buku pertama, Journal of Terror—Kembar, saya selalu menghindari membaca jelang malam hari. Jelang Maghrib, saya lebih memilih berhenti sejenak. Untuk menghindari mimpi buruk hahaha… Dan kejadian yang sama terulang lagi di buku ini, dengan menghindari melihat ilustrasi yang terdapat di setiap pergantian bab. Cantik nan indah, memang, tapi tetap saja di beberapa detilnya terasa menyeramkan.

Buku kedua ini focus pada kisah Sukma, kembaran Prana. Meski dikatakan kembar, mereka tidak kembar seperti yang sering dipahami banyak orang. Jika Prana dulu tidak terlahir sebagai anak indigo, Sukma sepertinya memang sudah istimewa sejak kelahirannya. Tanggal lahirnya bertepatan dengan peristiwa bencana besar di Aceh. Di saat banyak orang dirundung kesedihan, Sukma lahir disambut suka cita, terutama sang Mama. Kondisi keluarga yang kurang harmonis membuat Sukma jauh lebih dekat dengan sang Mama. Sayangnya sang Mama tak berumur panjang.

Review lengkap ada di blog
Profile Image for RaLav.
91 reviews21 followers
September 1, 2022
Jarang banget baca buku bergenre horor. But I really like this one! Sebenernya buku ini gak yang serem serem gitu sih. Lebih ke tentang anak yang bisa ngeliat mahluk-mahluk ‘lain’. One thing yang ngebuat buku ini serem itu deskripsi dan penggambaran ceritanya yang detail. Tapi di sisi lain beberapa ceritanya ngebuat aku sedih😔

Misteri yang disajiin dibuku ini menarik banget buat diikuti dan gak bikin bosen. Aku juga suka banget sama penokohan karakter-karakter di sini, plus cerita dibalik nama tokoh utamanya aku suka banget! Tapi satu hal yang paliing aku suka adalah pemilihan diksi atau kata yang digunain sama penulis untuk nyusun buku ini. Soalnya menurutku CAKEPP BGT. Sangat membantu penulis amatiran seperti saya yang lagi punya deadline cerpen (yh smgt buat diri ini). So thankfuly I choose the right book!

By the way, buku ini sendiri merupakan seri kedua dari serial Journal of Terror. Aku belum baca buku ke satunya karena nemu buku ini juga gak sengaja di ipusnas. Dan setelah aku cari, sadly buku pertamanya gak ada di ipusnas. But overall aku masih ngerti ceritanya.

Intinya buku ini recommended buat yang suka horor dan misteri sih. Plus kalau suka narasi yang cakep mungkin buku ini bisa jadi pilihan. Aku kasih 4.5/5⭐ untuk buku ini!
Profile Image for Laura Yuwi.
217 reviews16 followers
December 2, 2023
Journal of Terror yg ke-2 ini menceritakan tentang si gadis indigo bernama Sukma yg menurutku lebih sakti dari si Prana (btw, Sukma dan Prana ini sepupu-an yaa). Kesamaan mereka cuma 1, sama² bisa melihat makhluk halus. Bedanya banyak, contohnya kayak si Sukma gak sendirian tp dia punya sahabat yg sama² indigo bernama Damar. Gak cuma itu, keluarga Prana gak tau si Prana punya indra ke-6, sedangkan keluarga Sukma udah tau kalo Sukma seorang indigo. Petualangan si Sukma ini menurutku lebih seruu, lebih menegangkan dan lebih mengerikan dibanding si Prana. Tentu aja author gak lupa utk menyelipkan beberapa ilustrasi di dalamnya yg membuat Novel ini lebih menarik utk dibaca. Yg suka banget bacaan horror, must read this guyss. Apalagi yg pernah nonton Final Destination, ada tuh part yg kayak begitu. Sesakti itu Sukma bisa liat kecelakaan yg akan terjadi.


NB: Sebelum baca ini, harus baca Journal of Terror: Kembar POV-nya Prana dulu yaa biar nyambung.
Profile Image for Lunar Angel.
79 reviews12 followers
April 26, 2021
THIS SERIES IS TOTALLY FREAKING ME OUTT 😱😱

Di buku kedua ini kita akan diceritakan journal dari sudut pandang Sukma. Siapa itu Sukma dia adalah sepupu Prana (baca buku pertama) , mereka akan adalah titisan dari leluhur yg akan mengemban beban tugas yg berat nan mulia kedepannya.

Menurutku di buku pertama lebih serem sih (kisahnya Prana) sedangkan di buku kedua ( kisahnya Sukma) JAUH LEBIH SERU.

Kayaknya si Sukma ini lebih sakti ya dari Prana yg cluless bgt 😅 Mungkin karena Sukma punya Damar sahabat albinonya yg membantu Sukma di keadaan apapun.

Pada bab awal aja udah disuguhi pertarungan melawan Palasik. Gila seru bgt sih itu.

GAK SABAR NUNGGU-IN BUKU KE-3 AAAAAA 😆😆

Salah satu series horror fav ku makanya aku kasih 5 🌟
Profile Image for veyninda.
152 reviews9 followers
July 12, 2021
Buku yang aku baca di gramedia digital, yang awal bacanya diniati buat ngisi kegabutan malah kebablasan jadi bacaan serius sampai nggak bergerak dari manapun. Eamang seseuru itu.

Oke, buku ke 2 karya kak Sweta yang aku baca dan aku masih tetap konsisten suka sama gaya penulisan kak Sweta yang astetik tapi di saat yang bersamaan menakutkan. Kak Sweta berhasil memilih diksi yang tepat buat menjalin kisah mistis sukma jadi sesuatu yang sangat luar biasa. Sayangnya aku belum pernah baca buku pertamanya (karena aku tak tahu kalau buku ini seri) jadi masih ada bebebrapa hal yang kurang aku pahami. Oke habis ini next baca buku pertamanya deh
Profile Image for Nur Syarifuddin.
26 reviews1 follower
June 21, 2024
Sandekala. Sandhikala. Candhkala. Senjakala. Tiap daerah punya pelafalan yang berbeda untuk menamai peristiwa yang sama. Peristiwa saat siang, senja, dan malam bertemu pada satu ruang peraduan singkat, ketika energi kebaikan di seluruh penjuru semesta tengah menuju puncak penghabisannya. Dan di sisi sebaliknya, energi kegelapan sedang berusaha keluar dari sarang, dipenuhi birahi dan hasrat mencari mangsa.

- Journal of Terror - Titisan, p. 42

Dari sisi Cerita lebih berani dari novel yg pertama, keren banget...
Jg cerita pemburuan palasiknya bikin deg-degan dan gereget...

Please author sweta kartika .. lanjutannya🙏🙏
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Irma Nurhayati.
138 reviews4 followers
October 2, 2021
Takjub sama ceritanya. Ceritanya bukan cuma supranatural biasa. Ada tali takdir yang menghubungkan mereka dengan masa lalu.

Aku denger-denger juga gitu sih, setiap orang yang punya keistimewaan mengemban tugasnya sendiri-sendiri. Termasuk Sukma dan Prana ini.

Semakin terjerembab aku ke dalam plot novel ini, makin menantikan novel selanjutnya.
Profile Image for Tri.
40 reviews
March 20, 2020
Lebih seru daripada buku pertama. Sukma cadasss abissss.

Tapi kalau dari segi horor, lebih asik buku pertama. Mungkin karena Prana agak-agak kagetan anaknya, jadi asik aja liat dia ketakutan. Sedangkan Sukma anaknya kuat dan heroik, jadi ga banyak pake deg-degan, langsung action aja.

Saya masih belum terbiasa dengan gaya bahasanya Sweta, tapi dibanding novel lokal remaja lainnya yang pernah saya baca, bahasanya lebih lancar dan nggak random-random kaku nggak jelas. Paling asik bagian interaksi Sukma dan temen-temennya. I feel like I've had that kind of dialogue before. Somehow di antara semua karakter, saya paling suka Pipit XD
Profile Image for ⠀.
121 reviews35 followers
July 22, 2023
Amat mengecewakan. Amat menghampakan. Ama—

—ran! Mungkin mengandungi spoiler.

Seperti buku yang sebelumnya, tiada apa yang menggerunkan atau menyeramkan dalam buku yang mempunyai perkataan Terror dalam tajuknya. Begitu seksa sekali cuba mahu menghabiskan bacaan.

Pada kali ini, watak lain mengambil alih tempat watak utama. Sementara Prana menerajui buku pertama, buku kedua watak utamanya adalah saudaranya pula, Sukma. Sukma yang memutuskan untuk membenci bapanya tanpa sebab yang agak kukuh dan tidak diteroka dengan mendalam. Dan seperti Prana, Sukma juga mempunyai kebolehan untuk melihat hantu. Tetapi, Sukma juga mempunyai kebolehan tambahan seperti spider sense, mampu mengesan bahaya lebih awal. Semakin banyak pula kelebihan yang muncul dalam buku kali ini sampai macam cerita X-Men pula. Tetapi aku silap, rupa-rupanya kisah sebenarnya adalah pengumpulan ahli-ahli Power Rangers versi supernatural. Jadi, dua buku setakat ini adalah sekadar pengenalan sahaja. Jurnal gerun yang menjadi tajuk bukanlah merujuk kepada kisah-kisah seram secara utamanya.

Kisah kali ini juga lebih banyak babak aksi seperti pertarungan Sukma dengan hantu. Mungkin sepatutnya sedar dari situ bahawa kisah sebenarnya menuju ke arah kisah Power Rangers. Bagaimanapun, penulisan dan penceritaannya tetap tidak aku minati. Secara ringkasnya, gaya penulisannya dangkal dan membosankan. Jalan ceritanya pula terlalu banyak kebetulan dan dimudahkan. Setiap cabaran yang dilalui Sukma biasanya akan menemui jalan selesai dalam halaman yang sama juga. Disebabkan jalan cerita yang terlalu mudah dan ringkas, tiada rasa keterujaan menanti atau tertanya-tanya apa akan jadi seterusnya.

Jadi, secara peribadinya bagi aku yang mengharapkan kisah-kisah hantu yang seram berasa amatlah kecewa. Dan jawapan kepada arah tuju sebenar jurnal gerun ini yang membawa kepada pembentukan pasukan Power Rangers pula amat menghampakan dan tidak berjaya menarik minat aku.
Profile Image for Rea.
25 reviews1 follower
July 31, 2023
Memilih melanjutkan buku ini sampai tamat karena kesal dibangunkan tengah malam lalu tidak bisa tidur lagi.

Ternyata kisahnya masih belum usai, masih belum tereksekusi tugas Sukma dan Prana sebagai "Penjaga". Sepertinya bakal ada buku selanjutnya? Jadi penasaran ㅋㅋㅋ

Ceritanya lumayan bisa ditelan sebagai stand alone, karena ini sepenuhnya dari sisi Sukma, mungkin kelanjutan dari kisah Prana di buku pertama (yang belum kubaca, hehe). Narasinya juga mengalir lugas, enak dibaca dan sesuai tipe yang kusuka.

Walaupun ini horor dan tentang "bisa melihat hantu", sebenarnya bukan cuma itu saja. Kukira ini bakal seperti melihat hantu, mau tidak mau membantu mereka dengan urusan yang belum tuntas, membuka kisah-kisah yang dibaliknya, ternyata tidak! Asal-muasalnya ternyata lumayan rumit dan berkaitan dengan leluhur mereka. Konflik yang dihadapkan disini dibalut kental dengan tradisi ningrat Jawa (dan yang kuingat, Sukma disini punya darah Sunda dari ibunya, apakah itu salah satu untuk menyamarkan?), aku agak kurang paham karena tidak punya darah tersebut, tapi ini sangat menarik dan segar karena aku baru membaca jenis fiksi action dan supernatural, yang dibalut intrik dan kebudayaan lokal (atau dari akunya yang belum mengeksplore lebih jauh). Terlebih lagi yang patut kuapresiasi adalah tidak adanya unsur romance pada pemeran utama disini- di beberapa kesempatan, romansa membantu menyempurnakan dan menyedapkan apabila sesuai porsinya, namun jika berlebihan akan sangat melenceng (apalagi jika ada unsur strength of love; skip sekali, trims), dan disini sesuai dengan porsinya (ikut sedih perihal Taru dan Jani).

Sukma, jujur, menurutku dia keren banget! Sisi manusiawinya ada dan sisi rasionalnya juga ada! Aku suka banget karakternya, digambarkan dengan normal tapi tidak berlebihan. Seperti normalnya remaja SMA yang punya teman, pergosipan, namun di satu sisi juga kuat dan tidak menye. Tidak juga digambarkan seperti kebanyakan pemeran perempuan di fiksi yang sangat Mary Sue. Sifat Sukma sangat masuk akal dan aku suka itu, dia kuat dengan caranya sendiri dan itu karismatik. Salah satu cara dia menghadapi sesuatu dengan sikap "biarkanlah mengalir" meninggalkan impresi, karena biasanya karakter-karakter lain sibuk denial yang tidak perlu.

Sejujurnya, aku SANGAT tertarik dengan latar belakang tentang Damar, peran karakter pendukung seperti dia adalah favoritku. Dimana dia bisa mendapatkan kekuatan itu, perannya sebagai pelindung, dan mungkin kelahirannya termasuk misteri, termasuk atas alasan apa dia menjaga Sukma (apakah ada yang mengirimnya juga atau bagaimana). Aku berharap ada cerita yang mengupas latar belakang Damar karena dia tokoh favoritku.

Aku sedikit berharap Damar ikut berkecimpung saat eksekusi tugas Sukma dan Prana nanti, entah lewat jalur apa, karena di mataku dia sangat keren dengan kemisteriusannya.
Profile Image for Candice.
142 reviews
June 12, 2025
Seri Journal of Teror membawa pembaca menyelami dunia supranatural khas Sweta Kartika dengan tokoh utama Sukma dan Prana yang memiliki keterhubungan batin serta warisan gaib dari leluhur mereka.

Setiap judul memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Misalnya, Para Penjemput terasa terlalu singkat dan kurang dalam dari segi cerita, sementara Pemburu Haus Darah tampil kuat dengan narasi yang seru dan penuh ketegangan. Titisan, yang menjadi buku kedua, memiliki pembukaan yang kuat dengan kisah masa kecil Sukma bersama dua hantu cilik, meski ada bagian yang membingungkan saat Sukma menolong hantu di tengah kegiatan study tour.

Lalu Tanda Lahir menyajikan cerita menarik tentang Sukma yang memiliki kemampuan merasakan kecelakaan lewat tanda lahir di tubuhnya. Cerita ini memberikan nuansa menegangkan sekaligus menyentuh karena keberanian Sukma menyelamatkan orang lain. Namun, Warisan Kembar terasa sedikit repetitif karena mengulang alur dari buku pertama (Prana), hanya saja dari sudut pandang Sukma. Meskipun demikian, pertemuan keduanya menjadi titik penting dalam benang merah cerita.

Bagian penutup, Epilog, menjadi segmen yang menjelaskan asal-usul kekuatan mereka. Kisah Taru dan Jani sebagai nenek moyang Prana dan Sukma memberi latar belakang yang menjawab banyak misteri dan menguatkan akar cerita.

💬 Secara keseluruhan, saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk seri ini. Cerita-cerita di dalamnya tetap menarik untuk diikuti, meskipun ada bagian yang terasa kurang kuat secara logika atau penulisan. Namun, konsep warisan gaib dan ikatan antarkarakter berhasil menjadi benang merah yang utuh dan membuat seri ini layak dibaca.
Profile Image for Nadhira.
199 reviews8 followers
August 3, 2025
📚 Journal of Terror: Titisan
✒️ Sweta Kartika
🎡 iPusnas
🥨 Penerbit Clover
🎖️ 5/5

WAAAAH GILA BUKU KEDUA JAUH LEBIH SERU. Di buku kedua ini alasan Prana dan Sukma jadi titisan akhirnya terkuak. Di buku kedua ini pula juga terselip bagaimana kisah cinta antara Kakek Taru dan Nenek Janitra. Dari segi alur, buku kedua ini jauh lebih padat dan lebih banyak action nya. Di bab-bab awal masih sama seperti buku pertama yang dimulai dengan 3 bab mengenai action mereka membantu menyelesaikan masalah. Bedanya, di buku kedua ini bab selanjutnya langsung masuk ke permasalah utama yaitu alasan mereka jadi titisan.

Seperti biasa, tulisan Kak Sweta bagus banget. Mengalir begitu aja saat membaca. Kagum dengan pemikiran Kak Sweta yang bisa mencocokkan semua kepingan dari buku 1 dan 2 lalu BOOOM bikin kaget wkwkwk. Saling terhubung dan bikin aku yang baca hah heh hoh!

Di buku kedua juga ditunjukkan perbedaan karakter Sukma dan Prana. Sukma yang termasuk easy going dan punya temen yang sama2 punya kekuatan juga berani. Berkebalikan dengan Prana di buku pertaman yang friendless. Tapi, keluarga Prana lengkap. Prana ada bimbingan neneknya. Beda dengan Sukma yang bahkan ditinggal sama Ibunya di usia 14 tahun dan gak terlalu akur sama ayahnya. Menunjukkan bahwa masing-masing pemeran utama di kedua buku tersebut punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sumpah aku gak sabar banget baca kisah Prana sama Sukma waktu mereka menjalankan misi. Kira-kira Kak Sweta ada pikiran untuk melanjutkan series ini gak ya?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rizki Utami.
212 reviews20 followers
July 10, 2020
Actual rate : 4.5 dari 5 bintang

Buku kedua nya ini memperkenalkan karakter utama baru bernama Sukma dan ceritanya kebanyakan diambil dari sudut pandangnya. Karakternya berbeda dengan Prana karena latar keluarga dan lingkungan nya yang lebih keras/dingin. Tapi itu membuat dia lebih keren (di mataku). Senang sekali rasanya buku keduanya ini lebih menarik dan lebih menantang lagi ceritanya. Yang aku suka adalah adanya flashback yang nggak mengacaukan kronologis cerita utama. Nggak bikin bingung. Batasannya jelas. Gaya berceritanya juga mengalir, pas. Nggak kaku dan nggak berlebihan dengan banyak retorika atau bait bait berima gitu.

Kalau aku menyimpulkan, buku ke-1 dan ke-2 ini mewakili karakter utama masing2. Kita bisa melihat buku ke-1 lebih melankolis/emosional yang mencerminkan karakter Prana. Sedangkan di buku ke-2 lebih 'garang' dan penuh aksi mencerminkan karakter Sukma yang terkadang meledak-ledak. Dan.. bagaimanakah nanti dibuku ke-3? Aku sangat menantikannya.

Aku selalu merekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang meminta rekomendasi horror lokal/karya penulis Indonesia karena seri ini bukan buku yang bersifat menakut nakuti dengan banyaknya 'penampakan'. Kita juga bisa menikmati petualangan para tokohnya, perkembangan karakternya, humor yang disisipkan untuk mencairkan suasana.
Profile Image for ileftmybookshere.
226 reviews83 followers
November 2, 2022
Bau halloween masih adakan, aku kali ini bawa review novel horror!! First time baca novel horror, bener-bener keluar dari genre yang usually i read dan ga expect bakalan suka sama genre horror😅 bener kata orang-orang, if you never try..you'll never know! Tapi aslinya kalau doyan baca webtoon horror cuma kalo novel, ini kali pertamaku nyoba.

Aku baca ini karena ini hadiah giveaway dari Rere, salah satu mutualanku di bookstagram (oreo_reads) once again, thanks ya Re udah ngadain GA ❤

Bukunya baru aja sampe kemarin siang dan aku mulai baca pas sore-sore terus udah kelar tadi sore dan jujur ini buku horror pertamaku yang super keren dan page turner banget! Mungkin bisa nih finished in one sitting, cuma karena aku kemarin takut baca malem-malem jadi aku tahan-tahan ga lanjutin bacanya wkwkwk🤣

Btw, ini buku kedua dari serial journal of terror makanya aku ada bingung dikit ketika tokoh Prana muncul karena kisah hidup Prana diceritain di buku pertama sementara di buku kedua lebih berfokus pada kisah hidup Sukma tapi Prana dan Sukma ini nantinya akan terhubung gitu dan ini bakalan jadi kisah di next booknya. Kan jadi gasabar pengen tau kelanjutan petualangan Prana dan Sukma ya walaupun takut tapi tetep pengen tau🤭 so, kayaknya aku bakalan baca journal of terror yang pertama deh abis ini biar aku paham sama jalan ceritanya si Prana ini👍🏻
Profile Image for Bunga Mawar.
1,359 reviews43 followers
July 13, 2020
Nggak seseram yang saya kira semula. Asal jangan mendalami gambar ilustrasinya aja. Saya skip skip skip, aman :)

Di GD yang bisa diunduh ternyata buku kedua dari Journal of Terror, Titisan ini. Buku pertamanya, Kembar, perlu dibeli eceran, dan saya belum pengin beli.

Satu hal ganjil yang saya dapat adalah kesalahan penulisan nama nenek (Nini) Sukma, sebagainya ditulis di nisannya: Rasemi bin ...
Nini kan jelas perempuan, mustinya "binti", bukannya "bin".
Jika hanya satu, saya pikir salah ketik dan luput diperiksa tim penyunting. Ternyata muncul lagi agak di akhir cerita, saat nama sang Nini disebut oleh aki, alias suaminya sendiri. Hmmm, saatnya berpikir bahwa "bin" alih-alih "binti" itu adalah potongan mantra rahasia yg baru akan jelas kegunaannya pada buku ketiga.

Lainnya, pengarang cerita ini senang pakai kata "berkawin" untuk maksud "bersatu" atau "bercampur". Dan tiap kali ada tulisan "palasik", kok saya malah membaca dan membayangkan "palantir" dari cerita LOTR, hehee.
Profile Image for tjieldi.
22 reviews
April 4, 2024
Aaaaaaaa… buku Journal of Terror - Titisan jadi buku horror pertama yg aku baca dan baru tau kalo buku ini tuh series terus Titisan ternyata buku kedua 😭 Sejujurnya aku gak ngeh sampe akhir kalo ini tuh buku kedua karena emang ceritanya dari awal sampe akhir enjoy dan seru banget buat dibaca. Mungkin karena buku pertama dan kedua nyeritain dua karakter yang berbeda kali ya, jadinya langsung dibaca lompat pun gak masalah.

Btw, buku ini menceritakan tentang gadis remaja bernama Sukma yang memiliki kemampuan bisa ngeliat makhluk gaib.
Di buku ini ada dua kisah petualangannya Sukma:
- Ngebasmi Palasik.
- Silsilah keluarganya Sukma.
Cerita yg pertama tuh seru banget, dan yg kedua ANJIR MAKIN SERU!!

Anyway, ini bakalan ada buku ketiganya melanjutkan misi utama Sukma dan Prana di buku kedua ini. Setelah baca epilognya bener-bener bikin penasaran, soalnya menurutku ceritanya jadi masuk ke genre fantasi horror tapi versi hantu2 lokal. Seru bgt pokoknya!!

4/5 stars!
Profile Image for Clover.
1 review
August 31, 2025
bener-bener karya yang bagus banget, aku ngikutin dari buku pertama yang tokohnya namanya prana. di buku kedua, ternyata jauuuh lebih seru, mungkin karena karakter prana dan sukma itu beda. prana cenderung pendiam dan agak banyak overthinking, sementara sukma berani banget.

di buku pertama pun lebih banyak prana menolong dan mencari tahu seluk beluk suatu peristiwa, sementara di buku titisan, sukma melawan banyak makhluk. walau prana dan sukma sama-sama juga pernah ditampakkan yang serem, menurutku sukma strong abis!!!

di buku kedua juga sekaligus akan menjelaskan tentang warisan kembar, yang nyambung dengan buku pertama. awal-awal baca judul, aku kira ini horor, ternyata mistiknya jauh lebih kental dan ada unsur seperti adat gitu.

diksi yang digunakan juga bagus, bukan yang mendayu-dayu lalu sulit dipahami, tapi lugas, indah, dan sangat bikin penasaran di setiap halaman. ga sabar buku ketiganya!!
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
March 23, 2020
Aku membayangkan menikmati cerita ini dalam bentuk media animasi, pasti akan asyik betul. Sekali lagi SK berhasil menuliskan novelnya bukan saja dengan cerita yamg seru abis, horor tegang abis, tp jg dengan sangat deskriptif sehingga pembacanya bisa ditarik masuk dalam penggambaran adegannya. Kwereeen!!

Secara karakter, aku lbh suka Sukma ini yang lebih kompleks dan gahar. Tapi secara cerita, aku lebih suka Prana dan buku 1. Di sana ada lebih banyak cerita perhantuan, sedangkan di buku kedua ini lebih ke makhluk2 halus, dan sedikit lebih fokus menggerakkan cerita besarnya.

Setelah petualangan singkat Prana dan Sukma di akhir kisah dan epilognya, kujadi amat sangat penasaran dengan lanjutannya. Mesti nunggu setahun lagi kah?

#GD
5 reviews
October 16, 2025
Lebih suka yang novel pertama. Buku kedua ini itu kesannya bukan seperti buku hantu tapi seperti petualangan memburu monster (action fantasy), walaupun ceritanya bagus tapi saya lebih ingin cerita hantu yang bisa bikin saya semangat saat baca dan membuat bulu kuduk merinding. Saya hanya suka 2 cerita di buku ini tanda lahir dan sahabat gaib. Terus epilognya menurutku terlalu kompleks karena di tumpuk semua background storynya di satu chapter yang membuat saya aga bingung saat membacanya, jd harusnya di distribusikan dengan rata ceritanya tidak semua di tumpuk di akhir? Sudah 5 tahun dari buku titisan ini di publikasikan tapi buku ke 3 nya kok masih blum muncul y? Saya jelas jelas baca si penulis menulis bahwa dia akan buat buku selanjutnya sebagai petualan awal bagi 2 karakter utamanya, knp masih blum muncul sampai sekarang, di batalkan kah? Tapi yang menurut ku paling mengecewakan di buku ini itu karena ini lbh ke action fantasy bukan horror hantu, saya mau the excitement and the thrilled ghost book usually gives me.Untuk buku pertamanya super keren.
Profile Image for Renov Rainbow.
278 reviews2 followers
November 4, 2023
15.2023

Sepertinya konsep dasar buku ini trilogi (cocoklogi dari review pembaca lain dan karena buku ini adalah buku pertama dari dua buku serial journal of terror yang saya baca).

Dari beberapa fiksi horror yang pernah saya baca, ini yang paling menarik dan bagus dari segi gaya bahasa, dan alur cerita. Tapi memang bisa dibilang lebih berat dari yang saya perkirakan untuk sebuah novel. Terungkapnya “beban” yang remaja ini harus tanggung untuk mengembalikan keseimbangan dunia ini di luar ekspektasi.

Tapi mungkin juga karena kondisi saya yang sakit dan bed rest saat membacanya. Hmmmm jadi perlu baca ulang kah?
Profile Image for Neuraize ˙⋆✮.
3 reviews
December 26, 2025
my brother bought this book for me when i just broke up with my ex LOL and guess what? THIS BOOK IS AWESOME MAKES ME FORGET THAT I HAVE AN ACTUAL EX 😭 im not a pro critique reviewer type shi but aduhhh setiap tulisan dari kak sweta beneran bisa bikin otakku ini mengimajinasikan apa yang sukma rasakan terutama saat di bagian abo*si illegal. sesek ya ikut sesek,,nangis ya ikut nangis
waktu itu di togamas cuman ada yang seri titisan, maybe suatu saat aku akan baca yang titisan!
bahasa yang ringan dan gambar di setiap akhir bab sungguh membantu untuk memahami apa yang sedang terjadi saat itu
cant wait for your another work kak sweta!
Displaying 1 - 30 of 68 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.