“Lidah mertua keras, tegak panjang, dan runcing di ujung. Sebagian orang tahu tanaman itu tidak cuma berfungsi sebagai tanaman hias, tanaman itu juga berfungsi menghisap polusi udara….dia bisa mengisap racun dan bau tidak sedap. Termasuk, racun-racun dari mulut tetangga.”
Rumah tangga Rondasih dan Manas sedang tidak baik-baik. Perkara batas tanah dengan tetangga kanan-kiri yang kerap membuatnya gerah, hubungan dengan orangtua dan saudara kandung yang penuh sengkarut, sosok mertua yang pilih kasih, juga dua anak kembarnya—Roman dan Rojaman—ibarat petasan penuh ledakan. Di tengah segala ruwet persoalan hidup, nyatanya kasih dan cinta Rondasih adalah sumur tanpa dasar.
Novel karya Minanto—pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019 sekaligus Tokoh Sastra Majalah Tempo 2020—mengajak untuk mencermati kehidupan rural dengan segala rimbun percekcokan, menghidu aroma bakal jambu, sekaligus menemukan definisi keluarga yang kadang absurd.
Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya karya Minanto merupakan novel yang bercerita tentang Rondasih dan keluarganya yang penuh dengan "kemelut" kusut dan tidak gampang untuk diurai. Ro, yang malang harus "teteg" dan tabah dalam menjalani hari-harinya bersama keluarga besar dan juga tetangga yang selalu saja punya cara untuk mengusik hidupnya. Tidak pernah sebentar saja, ia dibuat tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupan sehari harinya. Berlatar belakang sebuah kampung di Indramayu, kesan "nuansa kampung" sangat begitu terasa dan menjadi sebuah pesona tersendiri dalam buku ini.
Buat saya, pembaca awam. Cerita ini memiliki perspektif yang beragam. Tema yang berangkat dari hal-hal sederhana dan sepele, yang biasanya jadi "gremengan" angin lalu orang-orang disekitar kita mampu penulis tangkap dan ejawantahkan menjadi narasi yang begitu apik dan lugas sehingga menjelma menjadi sebuah pesan penting. Hal itu menunjukkan bahwa hal sepele juga punya magisnya sendiri bila disampaikan dengan cara yang tepat.
Konsistensi penulis dalam membangun karakter juga saya acungi jempol. Beberapa kali saya misuh-misuh kepada karakter tetangga, saudara dan mertua Ro yang begitu gemar men-julit-i kehidupan dan keluarga kecilnya. Betapa kemudian saya menjadi tersadar, banyak isu-isu kecil yang kemudian jadi petaka besar dikemudian hari justru berawal dari "julitan" angin lalu dari orang sekitar.
Hal lain yang menjadikan cerita ini makin pelik namun menarik adalah bagaimana penulis memasukkan isu-isu yang sensitif namun dikemas dengan sedekat mungkin dengan kemungkinan jika hal tersebut terjadi di dunia nyata. Pembaca tidak disuguhi angan-angan yang mengawang. Namun justru didekatkan dengan yang paling memungkinkan.
Bisa jadi ini merupakan paling sederhana dan paling sepele karena bercerita tentang kehidupan seorang Rondasih, perempuan kampung yang serampangan dan banyak kekurangan. Namun barangkali, cerita ini justru merupakan kisah paling mewah buat sebagian orang seperti saya yang lahir dan tumbuh di lingkup perkampungan seperti Rondasih.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih untuk penulis yang telah bersedia menjadikan kisah Rondasih "penting".
Ia benci semua orang. Ia ditinggalkan, ditelantarkan, dan diabaikan. Ia ingin pergi. Ke mana saja asal bukan di sini.
Mula-mula Roman—salah seorang tokoh dalam novel Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya ini—bercerita kepada kedua anaknya. Dari satu malam ke malam lain, ketika mereka menagihnya dengan kisah-kisah macam Malin Kundang dan Timun Mas, Roman mengalihkan cerita itu kepada kisah ini: tentang seorang perempuan, tentang seorang ibu. Sebagai seorang anak, tiap-tiap kita patut menganggap ibu kita sebagai bumi dan langit—tempat hidup, tempat pulang, tempat kita belajar dan merasakan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus.
Mula-mula Roman mengajarkan mereka untuk mendengarkan. Sebab dunia ini terlampau gaduh bila semua orang gemar bicara, dan semakin sedikit yang mendengarkan. Lubang telinga memang kalah besar dibandingkan liang mulut, tapi akan lebih baik bila mereka mengandalkan telinga untuk perlahan-lahan belajar dewasa. Dari satu kisah ke kisah lain, dia ingin mereka paham tentang hidup, tetang bagaimana hidup sering menggiring manusia kepada hal yang itu-itu saja. Itulah takdir. Ia melingkar mengikat.
Bagaimana bisa Roman yang seorang ayah, seorang laki-laki, begitu betah mendongengi anak-anaknya dari malam ke malam? Tidak hanya itu, yang diceritakannya pun adalah kisah seorang perempuan dusun berbadan gemuk-pendek dengan tahi lalat di sudut bibir yang akan bergerak saat ia tersenyum. Sebabnya tak lain karena perempuan itu adalah Rondasih, ibu dari Roman dan saudara kembarnya, Rojaman. Jantung dari dongeng Roman. Ruh dari cerita ini.
Minanto berhasil membuat kening berkerut membaca prosa semesta desa ini. Bukan karena ceritanya membingungkan atau tak masuk akal, tapi karena silang sengkarut begitu banyak tokoh dengan nama-nama yang unik (maksudnya susah diingat) seperti Rondasih, Roman, Rojaman (tiga Ro), Doharoh, Durakman, Darim, Subangi, Manas, Kartamin, Salim, Saliningkem, Darmaji, Daud, Dirja, Marcelinna, Samiratunnasiha, Suhardi, Sri, Sirojudin, Bodin, Tuniati, Sumartini, Husni, Naridi, Golding, Idong, Ngatirah, Halimatussadiah…
Subhanallah! Kalau tokoh-tokoh itu hanya numpang lewat dalam cerita, ya mungkin tak perlu diingat secara detail. Namun, mereka semua merupakan bagian tak terpisahkan dari kemelut kehidupan Rondasih dengan kedua anaknya di Desa Singaraja, Indramayu, yang menjadi inti cerita ini. Mereka punya peran dalam merentang masalah, melempar fitnah, meributkan tahi, memancing benci, mempermainkan birahi, di samping juga memecah tawa, membakar nyali, dan menyalakan empati.
Sebelum Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya ini, Minanto telah menerbitkan tiga novel, yakni Semang (2017), Dulatip Ingin Membenturkan Kepalanya ke Tembok Setiap Kali Diberitahu tentang Orangtua (2018), serta Aib dan Nasib (2020). Novel ketiganya berhasil menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019 sekaligus menjadi buku sastra pilihan Tempo kategori novel tahun 2020, serta nomine penghargaan sastra Kemendikbudristek tahun 2021.
Di luar kerumitan nama-nama tokoh dengan latar sosial-geografis kampung yang bisa dikatakan masuk ke kawasan rural ekonomi , sebenarnya novel ini sederhana. Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan yang hendak memperbaiki nasib, khususnya memperjuangkan kehidupan anak-anaknya supaya tidak bernasib buruk serupa dirinya. Nasib buruk itu berupa ketertinggalan dalam pendidikan, kekurangan makanan bergizi, tak mendapat kesempatan menentukan pilihan, kesulitan pemilikan tanah hak milik, susahnya mendapatkan pekerjaan, dan muaranya adalah kemiskinan yang akrab dengan penghinaan serta perlakuan sewenang-wenang. Awal petaka itu adalah sebuah rumah di Tegalurung. Rondasih berhenti sekolah pada usia sepuluh tahun agar kakak lelakinya Subangi tetap bisa melanjutkan sekolah. Mak Doharoh, ibunya, sangat candu menonton orkes dangdut ke kampung-kampung tetangga sampai lupa pada suami dan anak-anaknya. Rumah pun menjadi neraka yang berbuntut pada perkawinan yang hancur. Kawin-cerai-kawin-cerai. Rondasih ingin menjadi perempuan yang tak seperti ibunya. Di hatinya ada bara amarah ketika bertemu Manas. Kepada pemuda canggung itu dia minta nikah. Minta dibawa pergi dari rumah. “Ke mana saja asal bukan di sini?” begitu permintaannya. Dia ingin membangun rumah sendiri, rumah yang bukan neraka.
Keinginan Rondasih pergi sejauh mungkin dari rumah orang tuanya, ternyata senada dengan harapan terpendam Manas; “Jika kamu ingin keluar dari rumah ini sebab orang tuamu, begitu juga denganku dari rumahku sebab orangtuaku,” (hal 19). Mereka sama-sama ingin menjauh dari orang tua masing-masing. Tapi sialnya mereka belum mandiri secara ekonomi sehingga harus menumpang pada Kartamin, ayah Manas. Hidup Rondasih pun terjebak di sana. Hingga melahirkan anak lelaki kembar, Roman dan Rojaman, anak-anak itu tumbuh, berkembang, menjadi remaja, dewasa… Namun, Rondasih tetap mesti tinggal di sepetak rumah di atas tanah milik Kartamin; bergenang air limbahan tahi dan gunjingan mulut tetangga yang berhati sedengki iblis.
Untungnya, Rondasih bisa menghadapi itu semua meski naik darah setiap hari. Dengan kesabaran yang setipis gorden jendela, dia fokus membesarkan anak-anaknya dengan nafkah dari Manas yang tak seberapa. Perempuan itu begitu nyinyir menyuruh anaknya sekolah, membantu orang tua, dan tidak bersikap nakal. Hal itu membuat si kembar menjadi tidak betah dan ingin pergi dari rumah. Manas pun menasihatinya “bahwa si kembar tidak selamanya anak-anak, bahwa mereka bukan semata milik Ro dan Manas, bahwa mereka milik semesta, dan bahwa mereka pada akhirnya berpisah dan pergi menempuh jalan masing-masing,” (hal. 128).
Menurut Roman, “Hati ibuku lembut, tapi mulutnya tidak,” (hal. 174). Kelembutan hati Rondasih terlihat dari kesediaannya memasak dan merawat sang mertua dan tetap memberi dukungan kepada sang anak yang dituduh sebagai pembuh oleh para tetangga, termasuk membela Roman yang digerebek massa karena kasus asusila. Baginya wajarlah anak-anak berbuat kesalahan yang penting ditegur dan ditunjuki. Bukan membenci, tapi beri kesempatan untuk memperbaiki diri. Itulah sebabnya meski sempat pergi dari rumah, Rojaman tetap kembali pulang, sembari membawa bibit tanaman lidah mertua yang ditanamnya di samping rumah sang ibu, “tanaman itu akan menjadi pengingat ia pernah tumbuh, sedang tumbuh, dan akan tumbuh pada tanah milik mertua ibunya,” (hal. 258). Lidah mertua atau sanseviera adalah tanaman yang tangguh bertahan hidup di lingkungan gersang, mampu memproduksi oksigen sepanjang waktu, dan memberikan kesejukan seperti cinta Rondasih kepada anak-anaknya. []
Keterangan buku:
Judul buku : Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya Penulis : Minanto Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan 1 : April 2024 Tebal : 263 halaman
Waktu tahu ada novel baru Minanto, gue termasuk yang menanti dan mau segera baca. Maklum, terakhir baca “Aib dan Nasib” (novelnya sebelum yang ini) tiga tahun lalu bareng @kebabreadingclub
Kalau dicari persamaan Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya” dengan “Aib dan Nasib”, keduanya sama-sama menceritakan kehidupan masyarakat di desa.
Rondasih diceritakan sebagai anak perempuan, bungsu dari dua bersaudara yang tumbuh besar di desa Singaraja, Indramayu. Lewat cerita Ro (panggilannya), Minanto dengan lihai menunjukkan apa yang biasanya dihadapi masyarakat desa. Apa aja masalah yang jadi “makanan” mereka sehari-hari dikemas dengan narasi yang enak dibaca.
Membaca novel ini mengingatkan gue kalau ada lapisan masyarakat Indonesia, yang kesehariannya udah dibuat pusing dengan omongan tetangga, dibuat lelah dengan sindiran yang tiap hari mampir ke telinga, dibuat was-was karena perkara warisan, tempat tinggal dan batas tanah, lalu dibumbui pula dengan budaya jangan nguntap ke orang yang lebih tua (terlepas seberapa brengsek orang yang lebih tuanya itu).
Ada ibu yang terpaksa ngambil celengan anaknya untuk ngisi toples garam dan micin di rumah. Ada yang membawa trauma dari orang tuanya bahkan sampai dirinya pun menjadi orang tua. Ada juga cerita anak yang udah muak di rumah mendengar keributan yang itu lagi itu lagi.
Cerita-cerita tentang kehidupan bermasyarakat di desa seperti ini berhasil mencerminkan kondisi dan masalah sosial yang ada. Gimana ketimpangan pendidikan, komunikasi di keluarga sendiri yang mampet, tekanan ekonomi, sampai relasi dengan sesama banyak yang nggak semulus jalan tol (walau ada tol MBZ yang alirannya offroad).
Kalau sehari-hari udah mau gila karena drama tetangga, makan ati disuruh-suruh mertua, atau capek di empang dan di sawah, ya mana kepikiran buat cari dan baca informasi tentang berbagai macam perpres yang baru diteken, juga macam2 RUU yg penuh tanda tanya? Yang punya privilese perlu mikir ulang sebelum enteng menyalahkan mereka yang prioritasnya memastikan seisi rumahnya bisa makan. Karena semestinya, ada juga negara yang ambil peran memprioritaskan kesejahteraan dan pendidikan untuk rakyatnya. Mestinya.
The novel tells the story of Rondasih, a child whom I consider so unlucky to be born as the daughter of such terrible parents – Mak Doharoh and her husband. She dropped out of elementary school when she was only ten years old because her parents (especially her mother) wanted her brother to go to school instead. Later, when she was eleven, her mother left her and married another man. After that, her useless father married another woman who was just a pain in Rondasih’s life.
She suffered from trauma due to abandonment, abuse, and neglect because of her worthless parents. Then, when she was around fifteen or sixteen, she met Manas and got pregnant. Her parents forced her to marry Manas, and unfortunately, her life didn’t get any better after that. She gave birth to twin boys, Roman and Rojaman, and tried so hard to give them love and not become like her own parents. But her spineless husband, obnoxious father-in-law, shameless brothers in-law, annoying neighbours, and her childhood trauma all prevented her from being the mother she wanted to be. But man, she really tried. She had such a big heart and so much love for her sons.
I really enjoyed reading this book and even finished it in just one day – something that only happens when I truly love a book. As a mental health nurse who is very concerned about childhood trauma and wants to become a therapist specialising in trauma healing, Rondasih’s story really hit home. It feels like a textbook example of the impact of trauma that has never been healed.
Novel ini mendedah sengkarutnya keseharian masyarakat yang hidup di perkampungan (yang saya rasa enggak cuma di perdesaan melainkan juga terjadi di perkotaan) melalui tokohnya—Rondasih—yang mengalami keruwetan setiap harinya akibat kelakuan tetangga, orang tua dan mertua, ipar dan saudara, sampai anak-anaknya.
Sungguh buku yang bikin saya mengelus dada sebab segala percekcokan dan masalah yang tumpang tindih dan mengentak dari awal hingga akhir cerita.
Meski demikian, buku ini juga menawarkan keteguhan dan kelembutan Rondasih sebagai seorang ibu yang dalam buku ini dilukiskan laksana sumur tanpa dasar berkat kesabarannya, ibarat air di tengah carut marut dan panasnya persoalan.
baca buku ini seakan merasakan hidup di desa, punya tetangga julid seperti tipikal tetangga yang ditweet oleh @SeputarTetangga di X wkwkw hadehh pusing banget jadi Rondasih. Suaminya ngga bisa diajak ngobrol, dua anaknya problematik juga. Kasian, imbas dari stresnya mereka juga. HUFT bikin mikir untuk bener-bener mempersiapkan pernikahan dan kehidupan setelah pernikahan :D
cerita sehari-hari masyarakat indonesia di pedesaan, tapi di kota juga ada sih. cerita yanb berat juga karena nyokap pernah mengalami hal yang sama urusan batas tanah warisan.
Novel ini secara terang-benderang mewartakan betapa masalah orang-orang di kampung atau di pedesaan pun tak kalah rungsing dengan perkara-perkara pelik yang dialami orang-orang di perkotaan.