What do you think?
Rate this book


261 pages, Hardcover
First published January 1, 1949
Hasan telah tiada. Kepergiannya membuatku mengingat-ingat kembali awal perkenalanku dengannya. Aku ingat ketika dia datang kepadaku untuk memintaku menilai karangannya yang hampir serupa dengan autobiografi.
Kubaca hasil karangannya itu....
Karangan itu bercerita tentang perjalanan hidupnya sendiri. Bagaimana dia menjalani kehidupan dari kecil hingga dewasa dan telah dididik untuk percaya kepada Tuhan serta taat pada agama. Jalan hidupnya mulai berubah ketika bertemu Rusli—kawan masa kecilnya—dan adik angkat Rusli, Kartini. Tak disangkanya bahwa Rusli ini adalah seorang atheis. Ingin menghindar dari Rusli dia sebenarnya. Tapi, pesona Kartini membuatnya tidak mampu melakukannya. Lama-lama jatuh hati lah dia kepada Kartini. Pelan-pelan pula paham atheis merasuki dirinya melalui perantara Kartini. Dan jika Anwar tidak hadir dalam kisah itu, tak mungkin Hasan akan tercebur sepenuhnya ke dalam paham atheis. Tapi, siapa sangka pula bahwa Anwar lah yang kembali menyadarkannya untuk ingat kepada Tuhan—setelah Anwar merusak hubungan rumah tangganya dengan Kartini.
Saya pun sanggup untuk memengaruhi Hasan yang bimbang itu. Saya sanggup mcmpengaruhinya seperti orang-orang yang diceritakannya dalam naskahnya itu. Saya sanggup membimbingnya ke arah sesuatu tujuan menurut faham saya sendiri. (intinya bukan soal agama atau ideologi, tapi Hasan selaku sosok yang mudah terpengaruh)(p.183)
Menarik juga bagiku untuk mengetahui betapa pengaruh pengetahuan setengah-setengah atas pribadi seseorang. (p.188)
"Empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan "pendapat umum", tern tama dengan pendapat para alim-ulama. Aku selalu berhati-hati jangan sampai menjadi noda dalam pandangan umum, alias "klas alim-ulama" itu. (Benar kata Rusli, bahwa tiap orang itu dipengaruhi dan ditetapkan oIeh pendapat dan nilai-nilai yang berlaku di antara golongannya atau klasnya sendiri). Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini." 108