Jump to ratings and reviews
Rate this book

Atheis

Rate this book
Apa artinya sesal, kalau harapan telah tak ada lagi untuk memperbaiki segala kesalahan? Untuk menebus segala dosa? akan tetapi hilangkah pula sesal, karena harapan untuk menebus dosa itu telah hilang? ah, bila demikian halnya, barangkali takkan seberat itu segala dosa menekan jiwa Kartini. Manusia suka menghitung waktu dan seluruh hidupnya dikuasai oleh waktu. Memang, adakah sesuatu yang diam? adakah sesuatu yang tidak berubah? tidakkah semua itu berubah-ubah terus? juga kepercayaan manusia? juga keadaan sesuatu bangsa? juga kekuasaan sesuatu stelsel?

261 pages, Hardcover

First published January 1, 1949

133 people are currently reading
2088 people want to read

About the author

Achdiat K. Mihardja

15 books41 followers
ACHDIAT K. Mihardja dilahirkan di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911. Setelah tamat HIS, melanjutkan ke MULO di Bandung, terus ke AMS-A di Bandung juga. Karena bertengkar dengan salah seorang guru, dia pindah ke AMS-A juga di Solo, tetapi mengambil jurusan Ketimuran, sekelas antara lain dengan Tatang Sastrawiria dan Amir Hamzah.

Para siswa yang pada masa itu belajar di Solo banyak yang aktif dalam gerakan kebangsaan. Achdiat pun bersama dengan Amir Hamzah, Armijn Pane, Tatang Sastrawiria, dan lain-lain aktif dalam organisasi "Indonesia Moeda" yang baru didirikan (30 Desember 1930) sebagai realisasi keputusan Kongres Pemuda (1928) yang membubarkan organisasi-organisasi pemuda daerah seperti Jong Java, Sekar Roekoen (organisasi pemuda Sunda), Jong Celebes, Jong Soematera, dan lain-lain. Meskipun secara resmi Indonesia Moeda tidak ikut-ikutan dalam politik, tetapi organisasi itu merupakan persemaian kesadaran rasa kebangsaan para anggotanya. Setamat AMS (1932), Achdiat pindah ke Jakarta. Mula-mula bekerja sebagai guru Taman Siswa, kemudian menjadi editor surat kabar Bintang Timoer dan majalah Penindjauan bersama Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Keduanya milik P.F. Dahler, orang Belanda yang pernah menjadi guru Achdiat di AMS, yang menaruh simpati kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia mengarang novel Atheis yang menjadi salah satu dari kanon sastra Indonesia. Atheis melukiskan konflik kerohanian yang dialami oleh bangsa kita akibat masuknya berbagai paham filsafat dan paham sosial yang berbenturan sesamanya. Pendeknya dalam roman itu Achdiat berhasil memotret dan merekam gejolak masyarakat yang terjadi di Indonesia pada akhir masa penjajahan Belanda sampai zaman Jepang.

Tidak hanya roman Atheis (1949) yang ditulis Achdiat untuk memperkaya sastra Indonesia. Dia pun banyak menulis cerita pendek dan esai. Kumpulan cerita pendeknya Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional dari BMKN (1957). Di samping itu, ada Kesan dan Kenangan (1960) yang juga merupakan kumpulan cerita pendek. Dia juga banyak menulis drama baik asli maupun saduran, antara lain Bentrokan Dalam Asrama (1952), Keluarga Raden Sastra (1954), Pakaian dan Kepalsuan (1956), roman Debu Cinta Bertaburan (1973), Belitan Nasib (1975), Pembunuhan dan Anjing Hitam (1975), dan Pak Dullah in Extremis (1977). Setelah lama tidak mengumumkan tulisan, pada 2005, Achdiat menerbitkan roman pendek Manifesto Khalifatullah.

Dia jugalah yang menyusun Polemik Kebudayaan (1948) yang memuat berbagai pendapat para bapak pendiri bangsa kita seperti Dr. Soetomo, Sanoesi Pane, S. Takdir Alisjahbana, Ki Hadjar Dewantara, Dr. Amir, Dr. Poerbatjaraka, dan lain-lain mengenai kebudayaan nasional dan hari depan bangsa Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
654 (29%)
4 stars
843 (38%)
3 stars
570 (26%)
2 stars
90 (4%)
1 star
32 (1%)
Displaying 1 - 30 of 247 reviews
Profile Image for Mei Hidaningrum.
26 reviews19 followers
November 30, 2013
baca buku ini sewaktu kelas 2 SMA dulu. gara2 suka sama salah seorang teman cowok saya pun kepo kekelasnya mencari tahu dia meresensi apa. dan ternyata sungguh anti-mainstream. dia meresensi sebuah novel dengan settingan tahun 40-an dan cover buku yang terhitung tidak menarik di tahun-tahun ini. terlepas resensiannya itu entah copas ataupun hasil pemikirannya sendiri. saya pun mencari buku ini di perpustakaan SMA. ternyata ada banyak buku ini disana terjejer rapi. dan kelihatan sekali sangat jarang ada anak yang berminat membaca. saya pun meminjam dan membaca buku ini untuk mengetahui seperti apa selera dari teman saya tersebut. dari segi cerita pengambilan sudut pandangnya sangat menarik. berubah-ubah tidak membingungkan dan justru menjadi ciri unik yang (bisa jadi) tidak ada dalam novel lain. imajinasi saya benar-benar harus bermain membayangkan settingan kehidupan kota Bandung di tahun 1940-an. kemudian pada tokoh utamanya si Hasan yang galau tentang kehidupan setelah dia merantau ke kota, walaupun dia dibesarkan dari lingkungan keluarga yang religius. di tempat baruinilah, dia mengenal cinta dari seorang wanita modern, Kartini. Serta temannya yang pemberontak si Anwar. pergulatan batin yang begitu hebat terjadi dalam jalannnya cerita. ketika saya tengah membaca buku ini bahkan saya sempat berfikir bahwa bisa jadi paham atheis ataupun komunis itu ada benarnya. saya sempat berfikir buku ini sepertinya berniat meracuni pikiran pembacanya. namun pendapat itu berubah ketika saya berada di akhir halaman buku ini. saya tercengang dan emosi saya ikut tercampur aduk seolah-olah menjadi tokoh yang hanya bisa menyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa. satu hal yang saya tangkap "lingkungan pertemanan sangat mempengaruhi pola pikir seseorang"
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
February 12, 2022
I'm still trying to make sense of what I just read. "Atheis" (obviously means "atheist" in English) by Achdiat K. Mihardja is considered an Indonesian classic from 1949, the year when Indonesia was officially recognized as an independent nation.

Hasan, the protagonist of the story is born into a devout Muslim family. He grows up respecting his parents and following strict Islamic rituals, which gives him peace of mind. One day, he encounters a childhood friend Rusli and his female friend Kartini. Hasan is fascinated by them; Rusli is well traveled and eloquent, while Kartini is a very modern, free and beautiful woman. He visits them often and soon finds out that they are atheists.

Initially, Hasan tries to convert them back to Islam, but he fails and quickly realizes that he is being influenced by their Marxist-Leninist ideas. On top of that, he meets a friend of Rusli called Anwar. Anwar is an artist and a very convinced atheist. Anwar accuses Hasan of being a double-faced hypocrite. Under Anwar's influence, Hasan's life takes a turn for the worse. He becomes estranged from his parents and sister upon their discovery that he has become an atheist. He marries Kartini, knowing that Anwar has an eye for her too. He becomes a very jealous, angry and wife-beating husband. His mind is confused and chaotic and he contracts tuberculosis.

At this point, I was like, "whoa?! Is this a book advocating for religion?" But then I remembered the foreword and how the novel should reflect Indonesia's transition from a colonial to an independent state, how people are torn between tradition and modern influences of globalization. Religion doesn't seem to be the main focus, but one can easily interpret it that way. Thus, why I removed a star from what could've been a 4-star book.

In my opinion, the strength of this book lies in the realist depiction of human flaws. We really get to see Hasan at his weakest - how he falls deeply in love with Kartini, because she simply resembles his first love, how he is easily influenced by the viewpoints of his peers and how easily he adopts them, and finally, how he allows jealousy to destroy his relationship with Kartini. Maybe the author is trying to tell me more. But I can't seem to figure it out.
Profile Image for Muhammad.
72 reviews33 followers
September 26, 2012
Hasan telah tiada. Kepergiannya membuatku mengingat-ingat kembali awal perkenalanku dengannya. Aku ingat ketika dia datang kepadaku untuk memintaku menilai karangannya yang hampir serupa dengan autobiografi.

Kubaca hasil karangannya itu....

Karangan itu bercerita tentang perjalanan hidupnya sendiri. Bagaimana dia menjalani kehidupan dari kecil hingga dewasa dan telah dididik untuk percaya kepada Tuhan serta taat pada agama. Jalan hidupnya mulai berubah ketika bertemu Rusli—kawan masa kecilnya—dan adik angkat Rusli, Kartini. Tak disangkanya bahwa Rusli ini adalah seorang atheis. Ingin menghindar dari Rusli dia sebenarnya. Tapi, pesona Kartini membuatnya tidak mampu melakukannya. Lama-lama jatuh hati lah dia kepada Kartini. Pelan-pelan pula paham atheis merasuki dirinya melalui perantara Kartini. Dan jika Anwar tidak hadir dalam kisah itu, tak mungkin Hasan akan tercebur sepenuhnya ke dalam paham atheis. Tapi, siapa sangka pula bahwa Anwar lah yang kembali menyadarkannya untuk ingat kepada Tuhan—setelah Anwar merusak hubungan rumah tangganya dengan Kartini.


Karya Achdiat K. Mihardja ini pada awalnya saya kira sebuah novel yang murni berlatar belakang sosial politik. Tapi, ternyata saya keliru. Memang judul novel ini adalah Atheis, sebuah kata yang identik dengan komunis dan paham ini pernah tumbuh subur di republik ini pada masa awal kemerdekaannya. Inilah yang membuat saya mengira-ngira bahwa novel ini bercerita tentang pergerakan sosial politik paham tersebut di masa itu. Namun, begitu membuka halaman pertama buku ini dan di sana tercetak jelas kata “roman”, sadarlah saya bahwa saya keliru mengira-ngira isi novel ini.

Seperti roman pada umumnya, buku ini juga bercerita tentang sebuah kisah percintaan. Dan seperti karya sastra Indonesia angkatan lama pada umumnya, buku ini juga menyajikan sesuatu yang sesuai dengan masa ketika karya sastra tersebut ditulis—entah dalam hal kebudayaan maupun kondisi sosial politik. Dalam karyanya ini Achdiat K. Mihardja mengeset setting waktu ke masa 1940-an ketika Indonesia masih dalam posisi dijajah Belanda dan masa peralihan ketika dijajah Jepang. Dan dalam karyanya ini kita seakan diajak untuk menelusuri bagaimana paham atheis atau komunisme dapat tumbuh di republik ini pada masa itu. Karena karya ini juga merupakan roman maka kita juga akan dibawa untuk mengikuti bagaimana kisah cinta yang terjalin antara Hasan dan Kartini.

Keseluruhan cerita buku ini berpusat pada karakter Hasan. Tapi, dalam buku ini kisah kehidupan Hasan tersebut tidak diceritakan oleh Hasan sendiri, tapi oleh “aku” melalui sebuah karangan autobiografi yang ditulis Hasan. Autobiografi itulah yang menjadi inti cerita buku ini. Jadi alur cerita buku ini kalau boleh saya katakan sebagai alur mundur/flashback. Hasan di sini digambarkan sebagai karakter yang taat pada agama dan sepenuhnya percaya kepada pada Tuhan. Hal itu tidak lepas dari didikan orangtuanya yang memang benar-benar taat pada perintah agama. Apalagi Hasan juga keturunan wedana (raden) sehingga sedikit banyak mempengaruhi karakternya sebagai sosok yang lurus. Seperti yang ditampilkan ringkasan cerita di atas, Hasan kemudian bertemu dengan Rusli ketika sedang bekerja. Pada saat itu Rusli juga membawa serta adik angkatnya yang bernama Kartini dan diperkenalkannya pula kepada Hasan. Nah, mulai di sinilah benih asmara mulai muncul antara Hasan dan Kartini. Kartini sendiri di sini digambarkan sebagai wanita yang memiliki kecantikan khas nusantara yang mengingatkan Hasan pada salah satu cinta masa lalunya. Tapi, Kartini juga memiliki sisi yang kurang pas sebagai wanita di zaman tersebut, seperti suka merokok, bebas, dan berpandangan modern. Selanjutnya kita pun akan mengetahui bahwa Rusli ini adalah seorang atheis. Dia digambarkan sebagai seorang pria yang logis, sangat pandai berbicara, dan pandai membujuk. Paham yang dianut mereka itu sebenarnya membuat Hasan untuk menginsafkan mereka. Tapi, karena Rusli pandai bersilat lidah dan membujuk maka niat itu pun gagal. Lalu Hasan berniat menghindari mereka. Tapi karena rasa cintanya kepada Kartini mulai tumbuh dan Rusli memperlakukan dirinya dengan sangat hormat dan sopan, maka niat itu pupus juga.

Dialog yang terjadi antara Hasan dan Rusli ketika membahas masalah agama dan ketuhanan membuat saya merasakan betapa “ngerinya” orang-orang komunis. Pada bagian ini saya jadi teringat sebuah obrolan dengan bapak saya bahwa orang komunis itu cerdas-cerdas, logika mereka sangat kuat. Mereka hanya percaya pada apa yang mampu dirasakan oleh pancaindra mereka. Karena itu mereka tidak percaya pada hal-hal yang sifatnya gaib, seperti Tuhan contohnya. Dan menurut mereka agama itu hanyalah candu yang tidak akan membawa manusia ke mana-mana melainkan hanya sebuah pelarian saja. Kalimat bapak saya tersebut benar-benar saya rasakan ketika membaca buku ini. Semua hal itu juga dipaparkan di sini. Di sini pun Rusli memaparkan bahwa Tuhan itu ada karena pemikiran manusia. Jadi sebenarnya yang “menciptakan” Tuhan itu ya manusia sendiri dan berujung pada sebuah pernyataan bahwa sebenarnya Tuhan itu adalah aku sendiri. Kuatnya logika dan penyajian fakta-fakta yang tak tergoyahkan tersebut menyebabkan komunis begitu “digdaya” dalam buku ini dan Hasan—yang mewakili kaum agamis—benar-benar tak berdaya menghadapi gempuran-gempuran tersebut. Ditambah lagi dengan perasaannya kepada Kartini semakin membuatnya gelap mata [halaman 108].

Sebenarnya dalam tahap ini Hasan belum sepenuhnya masuk ke dalam paham atheis karena terkadang dia masih menjalankan shalat. Hanya pemikirannya menjadi lebih bebas dan modern. Dia menjadi berani keluar berdua bersama Kartini, seperti menonton di bioskop, ke pasar, dan makan di restoran Tionghoa. Padahal sebelum mengenal Rusli dan Kartini dia sangat menentang hal-hal seperti itu. Semakin “tenggelamnya” Hasan terjadi ketika muncul tokoh Anwar dalam buku ini. Anwar adalah teman Rusli yang juga sama-sama atheis. Anwar ini bisa dibilang garis kerasnya komunis lah. Secara terbuka dia menentang adanya Tuhan dan agama serta kebobrokan dan kekolotan sistem feodal yang masih menjamur di negeri ini. Secara tegas dia menekankan bahwa semua manusia itu sederajat, tidak perlu manusia satu harus “menyembah-nyembah” manusia lain. Melalui tokoh Anwar ini sepertinya Achdiat K. Mihardja ingin menyampaikan kritik sosial terhadap sistem hierarki yang ada pada zaman tersebut.

Hadirnya tokoh Anwar ini memberikan warna lain dalam cerita buku ini. Kehadiran Anwar inilah yang menjadi awal mula “kesengsaraan” titik balik kehidupan Hasan. Anwar lah yang membuat Hasan benar-benar masuk ke dalam paham atheis. Hal itu berujung pada konflik antara Hasan dan orangtuanya yang membuat hubungan mereka menjadi sangat jauh. Tak hanya itu, Hasan pun cemburu kepadanya dan menjadi salah satu penyebab utama hubungan rumah tangganya dengan Kartini menjadi hancur. Dan ajaibnya dalam keadaan hancur lebur seperti itu Hasan justru sadar kembali akan adanya Tuhan dan kembali memohon ampun pada-Nya.

Keseluruhan nilai moral buku ini sebenarnya telah dirangkum sendiri oleh Achdiat K. Mihardja dalam dialog antara “aku” dan Hasan di sepertiga akhir buku. Seperti tugas kita sebagai manusia yang paling penting sejak dilahirkan di dunia ini adalah hidup itu sendiri. Dan bagaimana kita menjalani hidup yang sempurna adalah bagaimana kita menjaga hubungan dengan sesama makhluk, dengan alam, dengan Sang Pencipta, dan yang tidak kalah penting adalah dengan diri sendiri. Selain itu hal yang mampu menyempurnakan hubungan-hubungan itu adalah rasa kemanusiaan yang berlandaskan pada rasa saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai sesama makhluk di dunia ini. Sebab hal-hal itulah dasar kehidupan yang paling utama yang harus ada di dalam hati kita. Jika itu semua sudah terpenuhi selanjutnya kita gunakan alat yang menjadikan kita pembeda dari makhluk lainnya agar hidup ini lebih sempurna, yaitu akal dan pikiran yang sehat [halaman 190-191]. Pesan tersebut mungkin terasa agak “kiri”, tapi memang ada benarnya. Malah semua agama di dunia pun tidak ada yang tidak mengajarkan untuk mengasihi dan menyayangi sesama makhluk. Apalah arti kita sebagai manusia, meskipun kita beragama, tapi tidak memiliki hal tersebut. Sepertinya itu yang ingin ditekankan Achdiat K. Mihardja dalam karyanya ini.

Buku ini memang tidak tebal—hanya 232 halaman saja, tapi benar-benar sarat akan makna dan pelajaran. Saya tidak mempermasalahkan gaya bahasa yang menurut saya terasa “lucu” karena saya hidup di zaman sekarang dan terbiasa dengan EYD terbaru. Ukuran huruf dan jenis huruf serta line spacing yang digunakan juga terasa kunonya—kecil-kecil dan rapat. Tapi, saya memakluminya karena ini adalah karya sastra angkatan lama, diterbitkan pertama kali tahun 1949, dan yang saya baca ini edisi cetakan keduabelas yang terbit tahun 1992. Justru saya malah mendapatkan pengalaman baru karena mengetahui ragam bahasa nasional kita dan kultur negara ini di masa itu. Seolah-olah saya benar-benar dibawa ke masa lalu ketika membaca buku ini. Dan sayangnya gap era yang sangat jauh itu dengan masa kini membuat saya belum benar-benar sepenuhnya memahami buku ini. Oh, ya. Siapkan logika dan iman Anda ketika membaca buku ini. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya orang-orang komunis itu logikanya luar biasa. Selain itu agar kita juga tidak ikut-ikut terjerumus seperti Hasan.
Profile Image for Ageng Indra.
119 reviews24 followers
June 15, 2020
Ia novelis yang baik, tapi penulis yang buruk.

Saya membaca klaim itu pada suatu resensi yang tak bisa saya ingat ditulis siapa dan membahas buku apa. Saya hanya ingat, kalimat itu merujuk penulis yang dianggap cukup cakap dalam merancang struktur novel, tapi juga cukup payah untuk tidak peduli komposisi dan logika penulisan.

Selama membaca Atheis, kalimat itu mondar-mandir di benak saya. Agaknya Achdiat K. Mihardja bersinonim juga dengan klaim itu.

Novel ini adalah rekaman perubahan cara pandang Hasan, khususnya soal agama dan ideologi. Hasan sendiri seorang islam yang taat, tumbuh dari keluarga konservatif yang mungkin juga menganut semacam islam kejawen.

Karena berkawan lagi dengan Rusli, teman masa kecilnya yang sudah jadi marxis, dan naksir Kartini yang pembawaannya terlampau bebas untuk seorang perempuan (menerut ukuran Hasan), maka ia sering menghadapi gaya hidup dan obrolan yang meniadakan tuhan.

Semula ia berontak, mengutuki cara pandang lingkaran pergaulan barunya. Sayangnya ia kurang baca buku sehingga kalah debat melulu. Niat menggebu untuk meluruskan kembali jalan Rusli dan Kartini bersangsur-angsur menciut jadi penolakan dalam diam. Lama-lama, ia ikut berhenti salat juga.

Melihat alurnya, novel ini mudah dijadikan sebagai demonstrasi merusaknya atheisme (atau bahkan marxiseme) secara moral, mengingat bukan saja hubungan Hasan dan ayah-ibunya kemudian hancur karena berselisih paham, melainkan juga kepribadi Hasan sendiri memburuk. Ia jadi mudah marah dan penuh curiga, pikirannya ke mana-mana melihat keakraban Kartini dengan laki-laki lain. Pada satu titik, ia bahkan melakukan kekerasan.

Meski toxic-nya hubungan Hasan-Kartini mudah ditafsir sebagai akibat tidak adanya restu orang tua, Atheis sebetulnya juga membuka peluang pembacaan lain yang tidak normatif. Dan itu dimungkinkan dengan cara Achdiat merancang alur.

Novel ini dibuka dengan kematian Hasan, lalu flashback pada kesan pertama tokoh "saya" saat baru bertemu Hasan. Kisah hidup Hasan sendiri diceritakan lewat draft memoar yang ditulis Hasan sendiri dan dibaca oleh tokoh "saya".

Tokoh "saya" vital dalam narasi karena eksistensinya menarik persoalan Hasan ke sudut pandang yang lebih objektif. Bahwa perubahan sikap Hasan ke arah destruktif, yang diyakini Hasan sendiri sebagai akibat dari mengamini gagasan-gagasan Rusli, pada dasarnya bersumber dari pribadi Hasan sendiri yang terlalu mudah dipengaruhi.

Tak perlu jauh-jauh sampai ke setelah keislamannya luntur, hal buruk sudah terjadi pada Hasan sedari awal ketika ia mengamalkan ajaran agama yang dianut ayahnya dengan berlebihan. Puasa tujuh hari dan mandi sepanjang malam di kali berkali-kali membuatnya selalu tampak pucat dan bahkan kena TBC. Ia pun merasa terasing, sampai kemudian bertemu Rusli dan Kartini.

Membaca naskah Hasan, tokoh "saya" memahami bahwa bukan "ada tidaknya tuhan" yang mengacaukan hidup Hasan melainkan pribadinya yang rapuh. Sampai-sampai "saya" berpikir:

Saya pun sanggup untuk memengaruhi Hasan yang bimbang itu. Saya sanggup mcmpengaruhinya seperti orang-orang yang diceritakannya dalam naskahnya itu. Saya sanggup membimbingnya ke arah sesuatu tujuan menurut faham saya sendiri. (intinya bukan soal agama atau ideologi, tapi Hasan selaku sosok yang mudah terpengaruh)(p.183)


Hasan tak punya kemandirian berpikir yang memadai sehingga ia selalu mencari pandangan orang lain untuk disandarinya sebagai kesimpulan, sekalipun pandangan itu tidak utuh.

Menarik juga bagiku untuk mengetahui betapa pengaruh pengetahuan setengah-setengah atas pribadi seseorang. (p.188)


Di mata tokoh "saya", Hasan tampak seperti akan selalu menjadi "korban dari orang yang dianggapnya lebih tahu". Sayangnya di mata kita, atau setidaknya pembaca yang seperti saya, Hasan juga adalah korban dari kecacatan logika penulis.

Achdiat sebetulnya tampak menguasai rumus tragedi Shakespeare sehingga, sekalipun kita tahu sejak awal bahwa cerita ini berakhir dengan Hasan mati, ia masih bisa menyuguhi kita sesuatu yang lebih tragis ketimbang kematian: hal terakhir yang dipikirkan sebelum mati. Sayangnya, bab terakhir yang begitu dramatis itu gagal menjadi masuk akal karena pilihan kreatif yang keliru.

Bab itu diceritakan dari lini masa setelah bab satu, yakni pascakematian Hasan. Di situ, hari-hari terakhir Hasan diceritakan oleh tokoh "saya" lewat tulisan yang ia susun berdasarkan wawancara dengan orang-orang yang terakhir melihat Hasan. Itu mengganjal, sebab bab ini justru penuh dengan monolog interior Hasan, arus kesadaran yang meruntut perdebatan dengan Rusli, penyesalannya terhadap Kartini, hingga emosinya sepanjang hari.

Isi hati Hasan jelas bukan hal yang bisa didapat lewat wawancara dengan saksi mata, kecuali ada saksi yang kesurupan Hasan saat diwawancara--tapi ini pun tidak ada penjelasannya.

Tentunya ada banyak catatan lain yang mengganggu. Salah satunya adalah penempatan perempuan dalam narasi, baik dalam pembacaan normatif maupun bukan, masih sebagai pemicu kemalangan tokoh utama laki-laki.

Sekalipun mudah terombang-ambing adalah salah Hasan sendiri, motifnya untuk melompat ke hal yang akan membenturnya selalu perempuan. Putus dengan mantan membuat Hasan lari ke praktek beagama yang membuatnya sampai kena TBC. Naksir Kartini digambarkan memperlancar merasuknya gagasan marxis.

"Empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan "pendapat umum", tern tama dengan pendapat para alim-ulama. Aku selalu berhati-hati jangan sampai menjadi noda dalam pandangan umum, alias "klas alim-ulama" itu. (Benar kata Rusli, bahwa tiap orang itu dipengaruhi dan ditetapkan oIeh pendapat dan nilai-nilai yang berlaku di antara golongannya atau klasnya sendiri). Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini." 108


Agaknya memang berlebihan mengharapkan narasi yang lebih feminis dari ini dari novel '70-an yang ditulis laki-laki. Tapi penggambaran tokoh Kartini, serta pengambilan keputusannya, buat saya cukup realistis.

Serealistis Hasan yang kesulitan salat khusyuk. Serealistis mudahnya Hasan dipengaruhi ideologi kiri. Bagi saya, Atheis bukan novel tentang ada tidaknya Tuhan, benar salahnya agama. Atheis adalah novel tentang orang tanpa kemandirian berpikir yang, sekalipun banyak celah, cukup realistis untuk membuat saya sempat merasa sedang baca diari sendiri.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
June 20, 2025
“Kebenaran bukan untuk dipaksakan, melainkan untuk diyakinkan.”

Atheis adalah novel klasik yang terbit pertama kali pada tahun 1949 dan dianggap sebagai salah satu karya sastra penting dalam khazanah literatur Indonesia.

Novel ini mengisahkan Hasan, seorang pemuda puritan yang berasal dari salah satu desa di Jawa Barat. Sebagai anak seorang pensiunan mantri guru yang menjalankan Islam tirakat dengan taat, Hasan tumbuh dewasa menjadi sosok yang memegang teguh ajaran Islam, yang ia yakini sebagai kebenaran sejati dan satu-satunya. Namun, ketika ia pindah ke Bandung, ternyata kota itu tak hanya memberinya pekerjaan, tetapi juga pergolakan iman dan keyakinan.

Suatu hari, Hasan kedatangan Rusli, teman masa kecilnya, yang datang bersama seorang gadis bernama Kartini. Pertemuan penuh kesan itulah yang menjadi titik awal perjalanan Hasan menghadapi konflik batin perihal imannya. Berbeda dengan Hasan yang amat religius, dalam pendewasaannya Rusli justru menganut jalan berpikir Marxisme—yang membawanya pada pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagi Hasan, Rusli adalah seorang ateis.

Bisa dibilang, novel ini sudah melampaui zamannya karena berani mengangkat konflik pertentangan agama dan ideologi sekuler yang saat itu mulai berkembang pada masa kolonialisme Jepang di Indonesia. Novel ini juga menyinggung dilema moral dan sosial di tengah modernisasi masyarakat, di mana seorang mukmin seperti Hasan sangat alergi dengan hadirnya budaya pop—buku, film, musik—yang menurutnya dapat merusak keimanan alih-alih sarana penyebaran ilmu pengetahuan.

Karakter Hasan digambarkan sebagai sosok yang kompleks, mencerminkan friksi antara pemikiran konservatif dan modernisme, sementara Rusli mewakili pandangan progresif yang menantang norma agama secara liberal. Tak jarang interaksi keduanya menghadirkan perdebatan filosofis yang menarik untuk direnungkan kembali secara kritis.

“Dalam kefanatikanmu kau sudah terbelenggu oleh dogma yang tidak memungkinkan kau melihat dunia dan hidup belakang dari pelbagai sudut, dari pelbagai segi. Dalam kefanatikan demikian, kau tidak lepas dari perbuatan atau sikap dan anggapan-anggapan yang tidak adil terhadap sesama makhluk. Padahal engkau menepuk-nepuk dada seolah-olah engkau manusia utama, dan orang-orang lain yang tidak sependirian dengan engkau adalah murtad dan kafir.” — Rusli

“Memang aku tidak pernah merasa tertarik oleh musik dan seni Barat, yang kuanggap sebagai "buah kebudayaan kafir", yang mudah membikin kita pecat iman seperti anak-anak zaman sekarang yang suka sekali berdansa-dansa dan berpeluk-pelukan di muka mata umum.” — Hasan

Sebagai tokoh sentral, memang perkembangan karakter Hasan yang paling kentara di novel ini. Dari yang mulanya terobsesi untuk "mengislamkan kafir modern" ia justru terjerumus ke dalam pusaran konflik batinnya sendiri, terutama saat ia jauh bergaul dengan Rusli, Kartini, dan Anwar. Semua tokoh yang muncul pun berperan sesuai porsinya.

Secara keseluruhan, Atheis adalah karya yang masih relevan hingga kini. Tak hanya menawarkan wawasan tentang dinamika keimanan dan pergulatan eksistensial, novel ini juga secara subtil menggambarkan kondisi politik Indonesia pada masa perjuangan melawan penjajahan. Dan, paling penting, membaca novel ini tak serta merta membuat kita menjadi seorang ateis, tapi lebih mungkin menjauhkan kita dari sikap fanatisme berlebihan.
Profile Image for Henny Sari.
Author 8 books11 followers
October 18, 2012
percakapan (diskusi tentang pemikiran atheism, realisme sosialis, dan hal2 di sekitarnya) yang digulirkan para tokoh di sini mengasyikkan untuk disimak. Tapi.... sayang, tokoh yang atheis, yang sungguh progresif dan terbuka cara berpikirnya, justru di bagian akhir malah menjadi pecundang dalam kehidupan. seolah Tuhan tidak merestui kualitas dan pencapaian dirinya, sehingga harus disingkirkan dari dunia melalui penyakit kelamin syphilis! Ugh! (*marah!). Ada 2 kemungkinan mengapa si penulis membuatnya seperti itu:
1. karena dia takut terhadap reaksi masyarakat kebanyakan dan pemerintah Indonesia yang sangat agamis
2. karena dia menyiasati agar karyanya tetap diterbitkan, tersebar, dan dibaca banyak orang, meskipun dengan ending yang dia sendiri tidak terlalu suka, tapi setidaknya orang membaca diskusi dan perdebatan tentang atheis dengan tokoh2 ilmuwan sosial seperti Karl Marx, dll., sehingga diharapkan bukunya akan 'mengganggu' pembaca untuk mencari tahu lebih jauh dan akhirnya berpikiran lebih terbuka.
3. karena si penulis ini memang bodoh dan puritan (maaf Pak Achdiat! :D). saya tidak tahu yang mana jawaban yang benar. bisakah teman2 kasih pandangan ke saya? terimakasih. (Henny Fullmoon, baca sekitar 1989 atau 1990 gitu sptnya).
Profile Image for Ms.TDA.
236 reviews3 followers
August 13, 2025
Yaelah.. Hasan.. Hasan..
Sampai akhir hayatnya pun iya deh, lo yg paling suci, lo yg paling Islam, lo yang paling Islam!!! Yang lain kafir, yang lain atheis!!

Kadang suka miris sama tipikal pemikiran manusia kaya Hasan, dan ya! Aku pernah menemui beberapa dari sekian juta manusia dg gaya Hasan yg sok suci itu didepan masyarakat tapi busuk pemikirannya!!

Negara dg mayoritas umat muslimnya ko malah belakang sekali pemikirannya, miris👎

Karya lawas dan masih relevan di abad 21 ini :)👏🏻
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
April 2, 2020
Kabarnya ada orang-orang yang mengira bahwa "Atheis" adalah karya yang mempromosikan cara pikir untuk tidak mempercayai Tuhan dan menyarankan orang-orang untuk menghindari membacanya. Padahal, justru sebaliknya, "Atheis"menyampaikan kebingungan pemuda Muslim di awal abad 20 yang harus berhadapan dengan gelombang pemikiran Barat.

"Atheis" menampilkan kehidupan Hasan, seorang pemuda yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman yang sangat taat dan ayahnya adalah seorang pengikut tarekat. Mungkin banyak di antara kita yang memiliki anggapan buruk terhadap tarekat dan mungkin saja hal seperti yang dialami Hasan lah yang membuat salah satu anggapan buruk itu muncul saat ini. Padahal, tidak semua tarekat seperti itu dan simplifikasi justru membuat kita tidak paham hakikat sebetulnya dari hal itu.

Di awal abad 20, Indonesia sedang berada di bawah penjajahan Belanda. Bukan hanya fisik saja yang dijajah, tapi pemikiran-pemikiran Barat pun menjajah fikiran kita. Pemikiran-pemikiran modern itu membuat kita gamang berhadapan dengan agama, apalagi agama dianggap tidak mampu menjelaskan secara rasional pertanyaan-pertanyaan yang penting dalam kehidupan manusia, seperti mengenai Tuhan, manusia, alam, keadilan, kebebasan, atau kebahagiaan.

Pergolakan pertama Hasan dimulai ketika ia diminta untuk menjalankan segala tradisi yang diajarkan oleh tarekatnya, tanpa ada penjelasan. Kemudian pergolakan itu bertambah ketika Hasan bertemu dengan kawan lamanya, Rusli di Bandung. Hasan terkejut melihat perubahan pemikiran Rusli, yang kini ke arah sosialis dan menolak keberadaan Tuhan. Hasan yang awalnya gigih ingin mengajak Rusli kembali ke jalan yang lurus justru terbawa pemikiran Rusli. Apalagi, ia tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis Rusli tentang keyakinan yang dianut Hasan selama ini. Sebenarnya ada satu faktor lagi yang membuat Hasan semakin mudah terbawa pemikiran Rusli yang tampak begitu logis itu. Ia adalah Kartini. Sorang perempuan muda cantik nan mandiri dan berpemikiran modern. Hasan melihat sosok gadis yang pernah dicintainya dulu dalam diri Kartini, sehingga ia selalu mencari jalan untuk dapat bertemu Kartini lagi, yang merupakan kawan dari Rusli. Sementara itu, jika ia bertemu dengan Rusli, maka Rusli akan dengan tekun mengajaknya berdiskusi dengan cara yang begitu halus dan persuasif sehingga Hasan mempertanyakan kembali apa yang selama ini diyakininya.

Berkawan dengan Rusli dan Kartini membuat Hasan mengenal satu sosok bernama Anwar. Jika Rusli berdiskusi dengan gaya yang persuasif dan simpatik, maka Anwar adalah seorang seniman yang menggebu-gebu. Anwar berada di satu sisi ekstrim pemikiran sosialis. Ia adalah seorang komunis. Anwar dapat dikatakan sebagai tokoh antagonis yang kehadirannya menimbulkan konflik dalam diri Hasan. Baik dengan hubungannya dengan diri dan fikirannya, dengan Kartini, maupun dengan keluarganya.

Anwar adalah sosok yang menurut saya sangat kontradiktif. Ia menyerukan kesetaraan tapi selalu bersikap semena-mena kepada orang yang lebih rendah darinya. Ia menyerukan kebebasan kepemilikan, tapi tak suka jika miliknya diambil orang. Ia mengajak orang untuk bebas berfikir tapi tak begitu terima dengan orang yang fikirannya berbeda dengan dia. Dan Anwar memiliki privilege untuk melakukan itu semua, karena ia adalah seorang anak bangsawan. Jika ia tidak memiliki status semacam itu, saya juga ragu apa ia masih berani bertindak seenaknya semacam itu. Mungkin Pak Achdiat memang bermaksud menyampaikan kontradiksi itu sebagai kritiknya terhadap pemikiran ini.

Perubahan karakter Hasan, yang awalnya begitu taat dan sholeh hingga akhirnya terpengaruh pemikiran Barat dan meninggalkan semua hal yang dulu diyakininya disampaikan dengan sangat menarik. Dua hal yang begitu kontras ditampilkan tanpa perlu menggunakan kata-kata yang lugas. Puncak konflik terjadi ketika Hasan mengajak Anwar (padahal sesungguhnya ia tdk gitu suka sama lelaki itu, krn dia tertarik juga sama Kartini) ke kampung halamannya. Di situlah puncak pergolakan batin Hasan atas segala hal yang diyakininya. Dan segala hal yang diragukannya seakan diucapkan melalui mulut Anwar. Namun, apa yang disampaikan Anwar itu sesungguhnya ditolak lagi oleh batin kecilnya. Sayangnya, penolakan itu tak sampai diteruskannya ke dalam sebuah pencarian mencari kebenaran dan dibiarkannya hidupnya berada dalam ketenangan dan kebahagiaan semu.

Sesungguhnya, ketika saya membaca ini, saya merasa agak terkejut karena pertanyaan dan hal-hal yang disampaikan Rusli ternyata bukanlah hal baru. Saya bisa melihat pertanyaan dan diskusi semacam itu dilakukan oleh kawan-kawan saya di kampus dulu. Ternyata kebingungan yang dialami oleh kita sekarang ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh kakek ataupun kakek buyut kita dahulu.

Pertanyaan yang kritis adalah hal yang diperlukan. Dan tampaknya, tak sedikit manusia yang setelah mencapai usia kedewasaan, dalam titik tertentu mempertanyakan kembali apa yang selama ini diyakininya. Namun, apakah pertanyaan-pertanyaan dan argumentasi yang dikeluarkan oleh Rusli maupun Anwar itu, tidak ada jawaban logisnya dari sisi agama? Khususnya di sini agama Islam. Guru saya pernah berkata bahwa kita harus beragama dengan yakin. Yakin itu artinya tak menyisakan celah untuk keraguan. Jika kita mencari dengan tekun, jawaban itu sebenarnya ada dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebenarnya sudah ditanyakan sejak ribuan tahun lalu dan sudah didapatkan pula jawabannya sejak ribuan tahun yang lalu. Meski demikian, memang ada jawaban-jawaban yang memerlukan penyesuaian karena adanya perubahan dalam filsafat Barat saat ini.

Saya ingat suatu waktu pernah mengikuti kuliah umum oleh seorang ahli filsafat Islam dari Turki. Beliau mengatakan bahwa perjalanan diri setiap manusia itu laksana menyusuri sebuah terowongan panjang yang gelap, seorang diri. Saya kemudian membayangkan bahwa bisa saja selama perjalanan itu kita menemukan cahaya-cahaya, yang meski dapat menerangi tapi hanya sementara. Mungkin juga ada cahaya-cahaya palsu yang kita anggap asli karena kita tidak tahu seperti apa yang asli. Namun, jika kita terus berjalan menyusuri, kita akan sampai pada ujung terowongan dan menemukan cahaya mentari. Cahaya mentari itulah ibarat kebenaran dan jawaban yang hakiki dan ketika kita sudah mendapatkannya, maka cahaya-cahaya yang lain (apalagi yang palsu) sudah tidak akan diperlukan lagi.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
October 27, 2017
Seperti baca Dichtung und Wahrheit dan novel otobiografis diri sendiri. Saya jadi kebayang buat memordenisasinya: Hasan yg Islamis jadi suka baca Indoprogress dan Jacobin meski belum nyentuh teks-teks Marxis betulan, Rusli seorang pos-marxis sejati dari garis Baidou dan Zizek yg sering nulis kritik pop culture, Kartini seorang feminis radikal kiri baru, dan Anwar sang anarko-brocialist.
Profile Image for Askell.
81 reviews68 followers
February 18, 2021
Wah ini klasik, dan barangkali semakin relevan dibaca sekarang. Novel ini tidak hanya piawai mengemas pertentangan nilai-nilai filosofis ke dalam interaksi nilai dalam kisah yang hidup, tetapi juga memiliki kedalaman psikologis dalam melukiskan pertentangan jiwa karakternya tersebut.

Siapa, misalkan, yang tidak bisa mengerti pergulatan batin seorang Hasan? Dunia lamanya yang tenteram hancur lantaran adanya internalisasi nilai-nilai baru yang tidak dilakukan secara sehat, meninggalkan dia dalam kebimbangan dan pergulatan hebat dalam dirinya. Nilai-nilai barat yang lebih bersifat materialis merasuk ke dalam dirinya dan merongrong nilai-nilai spiritual yang telah mapan. Hasan, adalah contoh manusia yang tidak mampu mendamaikan pertentangan tersebut, dan akibatnya hancur karenanya.

Novel ini memiliki struktur dan gaya bercerita unik, mengingatkan saya pada Steppenwolf karya Hermann Hesse, novel filosofis yang juga sarat perenungan. Diceritakan dari dua sudut pandang yang berbeda, dan ditulis dalam gaya bercerita yang penuh perenungan, seakan kita diajak masuk ke dalam ikut mempertanyakan diri sendiri.

Yang paling baik adalah karakterisasinya. Penulis mampu menyimbolkan masing-masing nilai asing-barat ke dalam karakter-karakternya dengan sempurna. Rusli, Anwar, dan kawan-kawanya mewakilkan nilai-nilai asing yang bersifat materialis—dengan keunikannya masing-masing, sementara keluarga Hasan membawa nilai-nilai tradisional-spiritual, dan Hasan tepat berada di tengah-tengah dua pertentangan tersebut.

Banyak sekali kritikan tajam yang bisa ditemukan dalam buku ini. Hasan misalkan digambarkan sebagai sosok romantik dan pencari, tetapi hasan tidak dibekali dengan keyakinan diri dan pikiran kritis dalam pencariannya, akibatnya dia hanya menerima semua omongan orang tanpa mampu mencernanya dengan baik. Ini menjadi kritikan sentral bagi pendidikan anak, yang didogma untuk percaya dan tidak bertanya, tapi tidak dididik untuk berpikir kritis sejak kecil.

Saya suka bagaimana penulis menampilkan, sosok-sosok seperti Anwar dan Rusli sekalipun berseberangan dalam nilai, tetapi sama saja dengan keluarga Rusli yang tradisional-spiritual dalam kenyataan, karena menjadikan ideologi semata sebagai tumpangan, dan menganggap dirinya yang paling benar.

Kenalilah dirimu, ada kebenaran di dalamnya. Begitu Sokrates, kira-kira pernah bilang. Barangkali itu juga pesan dari penulis. Tapi Sokrates adalah seorang idealis-esensialis, sementara saya ketemukan pesan penulis adalah untuk meninggalkan metafisika—persoalan Tuhan, surga dan neraka. Yang nyata adalah yang sekarang ini, bukan yang jauh di sana. Eksistensi yang memberi makna pada keberadaan kita, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini, penulis menurut saya meminta kita melupakan persoalan esensi-metafisika, dan fokus pada kenyataan yang dipersepsi indera.

Itu, buat saya tidak cukup mendamaikan jiwa yang terbelah. Seseorang tidak melupakan begitu saja apa yang membuatnya terbelah, semisal Hasan dalam kisah ini yang tidak bisa melupakan bayangan siksaan neraka yang diceritakan sejak kecil padanya. Satu-satunya cara untuk mendamaikan pertentangan itu adalah menemukan satu hal yang merekatkan kembali diri yang terbelah itu, bukan malah menyuruh untuk melupakannya.
Profile Image for Agoes.
512 reviews36 followers
March 2, 2011
Hasan, tokoh utama buku ini, dikisahkan sebagai seorang pria muslim yang alim dan taat beribadah. Isi pikirannya sederhana dan polos. Namun, dia perlahan-lahan berubah setelah dia bertemu dengan teman masa kanak-kanaknya, Rusli. Rusli adalah seorang atheis, dan melalui banyak diskusi serta obrolan, iman Hasan mulai tergoyahkan. Selain memiliki pengetahuan yang luas, Rusli juga sangat sopan dalam berbicara sehingga Hasan tidak merasa tersinggung saat Rusli membahas mengenai pandangannya terhadap agama.

Iman Hasan semakin hilang setelah berkenalan dengan Kartini, seorang wanita yang dijual oleh ibunya kepada seorang Arab sebagai istri keempat (tentu saja Kartini melarikan diri karena dia berpikiran terbuka dan modern). Baik Kartini maupun Rusli sering berkumpul bersama teman-temannya yang sepemahaman, sehingga Hasan pun makin sering terlibat dalam berbagai diskusi yang seru mengenai politik, agama, maupun hal-hal lainnya.

Akan tetapi, kehadiran Anwar (seorang nihilis yang merasa bahwa semuanya itu sia-sia saja sehingga selalu berbuat anarkis) mulai menghancurkan kehidupan Anwar. Meskipun dari awal Hasan sudah tidak suka dengan Anwar, dia tetap tidak memusuhinya karena Anwar juga berteman dengan Rusli dan Kartini. Kebencian Hasan terhadap Anwar memuncak setelah Hasan dibakar oleh api cemburu dan berpikir bahwa Kartini berselingkuh dengan Anwar.

Yang menarik dari novel ini adalah bahwa novel ini sebenarnya merupakan suatu kisah balik (flashback) dan semua cerita di atas itu diceritakan kembali oleh narator yang sedang membaca kisah Hasan yang sudah ditulis dalam bentuk naskah. Selain itu, topik yang dibahas juga sangat menarik, yaitu tentang agama. Novel ini diterbitkan tahun 1949, sehingga pada saat itu (Orde Lama) masih terdapat partai komunis di negara ini. Selain itu, orang-orang yang tidak beragama juga ada cukup banyak dan dapat bergaul dengan orang lain yang beragama sekali pun. Ini merupakan hal yang mencengangkan karena pada saat ini, di tahun 2011, Indonesia bukannya makin maju dalam keberagaman, tetapi malah sering terjadi kekerasan yang dilatarbelakangi masalah agama. Apalagi hal tersebut dilakukan oleh 'perwakilan' dari salah satu agama mayoritas di Indonesia.

Mungkin memang sebaiknya agama itu dilepaskan saja 100% dari masalah kenegaraan. Tapi masalahnya, agama Islam ini pada dasarnya mengajarkan bagaimana cara mengatur sebuah 'negara'. itulah sebabnya para fundamentalis selalu ingin berkuasa di negara ini, toh agamanya sudah mengajarkan demikian. Ditambah lagi mereka berpikir bahwa ajaran agamanya lah yang paling benar dan tidak mau mengakui keterbatasan agamanya (yang sebenarnya tidak asli dari Indonesia toh?).

Sebaiknya buku ini kembali dijadikan sebagai buku bacaan wajib di sekolah. Nggak usah takut, ngeri, atau jijik dengan judulnya. Toh itu cuma sebuah kata. Indonesia butuh generasi muda yang punya pemikiran yang lebih terbuka, jangan sampai isi otaknya hanya kitab yang tidak 100% sesuai dengan konteks sosial Indonesia saat ini.
Profile Image for Trisha.
1 review
December 21, 2014
Tahun kemaren ngeliat buku ini di perpustakaan sekolah, ngeliat judulnya rasanya "ganjil" "creepy".

Tapi setahun kemudian, malah tertarik karena penasaran bagaimana fenomena Atheis jikalau ditumpahkan dalam sebuah novel, dan membuka mata betapa memukaunya novel Atheis ini.

Novel Atheis ini menjadi sentilan sendiri bagi saya, betapa jika kita tidak memahami agama kita dengan sungguh-sugguh pertanggung jawabannya, mau sealim apapun kaya Hasan sebelum dia jadi atheis, maka dengan mudahnya kita bisa terbawa oleh lingkungan menjadi sosok atheis. Walaupun Hasan besar dalam lingkungan religius, Hasan cenderung beragama dengan alur "mengalir", ia dikendalikan lingkungannya karena ia tidak memiliki kendali yang kuat dalam melawan arus.

Bagi saya yang cukup dibesarkan di lingkungan religius, novel ini wajib dibaca bagi yang memiliki latar belakang religius sebagai sentilan, karena penulis ingin menyampaikan betapa walaupun kamu dibesarkan di lingkungan yang religius, tanpa kita tidak bisa memahami agama itu sendiri, ya celakalah kita, jangan jangan selama ini belajar agama hanya formalitas belaka? Yah, jangan sampai seperti Hasan dalam akhir cerita. Yang paling menarik dari novel ini menurut saya tentunya pertarungan ideologi antara theis vs atheis yang ada dalam diri Hasan. Bener-bener seru deh konflik si Hasan ini dalam novel.

Poin gregetnya, tokoh Kartini ini agak ngegantung, entah bagi saya aja haha. Tapi beberapa lakon kartini itu membuat saya binguung dibuatnya, atau entah saya yang terlalu memikirkan sebagai pembaca.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk dibaca :).
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
June 3, 2016
Berkisah mengenai kehidupan kejiwaan dan ideologi seorang pemuda bernama Hasan. Bandung pada zaman pendudukan Belanda dan Jepang menjadi setting novel ini. Hasan adalah seorang pemuda yang berasal dari sebuah kampung bernama Panyeredan di kaki Gunung Talaga Bodas. Garut. Ia dibesarkan dalam lingkungan pendidikan Islam dan tarekat yang kuat dan kental oleh orangtuanya. Menginjak remaja Hasan bersekolah MULO (setingkat Sekolah Menengah) di Bandung dan bekerja sebagai pegawai pemerintahan di Bandung. Disana pula ia berkenalan dengan Rukmini, seorang gadis anak Haji Kosasih yang merupakan saudagar besar di Bandung. Namun orang tua Hasan dan Rukmini tidak merestui hubungan mereka, maka kandaslah hubungan mereka. Rukmini dikawinkan dengan anak ‘menak’ saudagar kaya. Hal tersebut membuat hati Hasan tambah hancur. Untuk mengobati hatinya dan mengalihkan pikirannya dari penderitaan berkepanjangan, dia menuntut ilmu tarekat sampai ia benar-benar menjalani kehidupan yang penuh dengan ritual-ritual mistis. Seringkali Hasan mandi tengah malam sungai Cikapundung dan berpuasa seminggu berturut-turut demi mengamalkan ajaran tarekatnya.
Waktu bergulir, saat dia bekerja di dinas pengairan Kota Bandung, tanpa sengaja ia bertemu dengan teman masa kecilnya bernama Rusli. Rusli adalah seorang akivis marxis yang baru pindah ke Bandung. Hasan kemudian sering berkunjung ke rumah Rusli sekedar bercengkrama dengan kawan lama selepas ia dari kantor. Dari Rusli ia dikenalkan dengan Kartini, seorang janda muda yang juga orang satu pergerakan dengan Rusli. Dahulu ia dinikahkan paksa oleh kedua orangtuanya dengan seorang arab yang sangat tua yang harusnya pantas ia panggil kakek, namun lelaki yang menjadi suaminya tersebut sangatlah kaya, sehingga saat Kartini bercerai dari lelaki tua tersebut, ia membawa banyak warisan. Mulai saat itu pun Kartini berniat untuk menjadi seorang wanita yang tegar dan tangguh. Kartini dan Rusli sangat akrab, namun hanya sebatas hubungan kakak dan adik saja. Kartini menganggap Rusli adalah orang yang dapat melindunginya.Hasan jatuh hati kepada Kartini, ia melihat ada Rukmini di dalam diri Kartini. Banyak kesamaan sikap antara mereka, begitu persaan Hasan. Dan hubungan mereka pun menjadi tambah dekat.
Ketertarikannya terhadap Kartini membuat Hasan semakin sering berkunjung ke rumah Rusli karena memang Kartini sering berkumpul dengan orang-orang pergerakannya disana.. Awalnya ia merasa cemburu dan mengganggap pergaulan antara Rusli dan Kartini bukan hubungan antara kakak dan adik, melainkan lebih. Kini Hasan tahu bahwa Rusli merupakan seorang yang tidak percaya adanya Tuhan. Di setiap pembicaraan mereka Hasan selalu tidak bisa mengedalikan diri saat argumen-argumen yang dikeluarkan Rusli logis adanya. Ia pun sempat emosi terhadap Rusli. Namun, akhirnya ia beertekad untuk membantu Rusli dan Kartini ke jalan yang benar. Namun niat Hasan untuk menginsaykan kawannya malah berbalik arah. Apalagi setelah ia diperkenalkan dengan Anwar, seorang pelukis dan seniman anarkis. Anwar orang yang pintar dalam bicara dan diskusi. Kalau Anwar sudah mengeluarkan pendapat dan argumennya, tidak ada yang bisa menangkal, apalagi Hasan yang hanya memahami agama berdasarkan keimanan buta tanpa logika. Kepandaian Anwar lama-lama mempengaruhi Hasan, ia pun mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan hingga tanpa ia sadari ia pun mulai meninggalkan ritual yang biasa dilakukannya.
Konflik mulai terjadi saat Hasan pulang ke kampungnya. Karena disuruh Anawar, ia berterus terang kepada kedua orangtuanya bahwa sekarang ia tak lagi percaya Tuhan, ia sekarang sudah menjadi atheis. Bagai kiamat besar yang datang, orangtua Hasan mengusinya keluar dari kampung dan tidak menganggap lagi Hasan sebagai anak mereka. Semenjak kejadian tersebut ayah Hasan sakit-sakitan.
Hasan kembali ke Bandung dan menikah dengan Kartini secara diam-diam. Kehidupannya dengan Kartini membuatnya semakin jauh dari agama. Namun, kehidupan rumah tangganya hanya berumur tiga tahun. Setelahnya, pernikahan Hasan dan Kartini selalu diwarnai dengan pertengkaran. Sikap kartini yang menganut faham kebebasan membuat Hasan tidak terima dan menganggap Kartini sebagai seorang wanita yang tidak bisa menghargai suaminya. Ia pun seringkali memukuli Kartini karena kecemburuannya terhadap sikap Kartini yang mulai sering pergi keluar bersama Anwar. Hasan merasa bahwa di belakangnya, istrinya tersebut berselingkuh dengan Anwar. Kartini tetap saja mengelak. Hingga pada akhirnya mereka pun bercerai. Karena persoalan-persoalan inilah Hasan kembali membutuhkan kekuatan Tuhan. Kesadaran inilah yang membuat Hasan merasa berdosa tidak hanya kepada orangtuanya tetapi juga kepada Allah. Ia menyesal telah meninggalkan nilai-nilai keagamaan dalam dirinya.
Setelah ia bercerai dengan Kartini ia pun pulang ke rumahnya. Untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan meminta maaf atas apa yang telah ia perbuat. Ia ingin bersujud di kaki ayahnya yang ternyata tengah sakit parah. Ayahnya tidak sudi dan tidak menerima semua permintaan maaf yang Hasan ucapkan. Ia pun menyuruh Hasan untuk pergi dari rumahnya.
Lalu saat ia pergi ke sebuah hotel dekat stasiun Bandung, ia mendapati fakta bahwa pada hari saat ia dan istrinya bertengkar, dan istrinya kabur dari rumah. Anwar dan Kartini berada dalam satu kamar di hotel tersebut. Hasan mengetahuinya dari buku tamu yang iseng-iseng ia baca. Semakin memuncak kemarahannya Anwar dan ia pun pergi mencari Anwar hingga tengah malam. Ia tidak sadar bahwa saat itu telah terjadi jam malam masa pendudukan Jepang sehingga ia pun tertembak oleh peluru yang menembus punggungnya. Ia pun tewas di tempat kejadian dengan penuh rasa sesal.

Alur dan gaya bahasa
Yang sangat menarik dari novel ini adalah alurnya yang tidak linier. Menurut ahli sastra Indonesia asal Belanda A. Teeuw, plot novel ini menggunakan urutan [C {B (A) B} C]
Huruf A mewakili masa yang dibahas dalam tulisan tokoh Hasan (dari masa kecil sampai bercerai dengan Kartini), huruf B mewakili masa yang diceritakan narator, dan huruf C mewakili waktu Hasan terbunuh. Jadi terdapat 3 sudut pandang penceritaan dalam satu novel yang membuat saya sebagai pembaca mengetahui sosok Hasan dari 3 sisi perspektif berbeda. Hal tersebut semakin menguatkan karakter tokoh-tokoh yang ada didalam benak pembaca.
Diksi dalam Atheis menunjukkan pengaruh bahasa Sunda yang besar dengan bahasa Indonesia yang digunakan kadang-kadang seakan dipaksakan, dengan bentuk kalimat menyimpang dari kebiasaan penulis-penulis Minang yang mendominasi dunia sastra Indonesia pada saat itu.
Maier menulis bahwa roman ini menggunakan "simile dan metafor yang aneh tetapi cocok", dengan gaya yang mirip karya-karya yang sudah ada seperti Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis, Layar Terkembang (1936) karya Sutan Takdir Alisjahbana, dan Belenggu (1940) karya Armijn Pane. Balfas mencatat bahwa ada kemiripan lain dengan karya sebelumnya, termasuk kematian protagonis di puncak cerita, sementara Sastrowardoyo berpendapat bahwa Belenggu malah lebih modern biarpun diterbitkan sembilan tahun sebelum Atheis



Tema dan nilai-nilai
Novel yang terbit tidak lama setelah Indonesia merdeka ini boleh dikatakan sebagai novel yang sangat berani pada masanya yang mengangkat tema ketuhanan dan ideologi. Pada peluncuran novel ini tokoh agama menolak keras karena menggambarkan Hasan, yang mereka menganggap sebagai wakil agama dan orang beriman, sebagai orang yang tidak dapat mengatasi godaan; mereka juga tidak setuju dengan kurangnya pembahasan doktrin agama.Tokoh-tokoh Marxis dan anarkis juga merasa bahwa ideologi mereka kurang dijelaskan, dan menganggap bahwa tokoh Rusli dan Anwar tidak benar-benar mencerminkan pemikiran para filsuf seperti Karl Marx dan Friedrich Nietzsche.Sebagai tanggapan, Achdiat menulis bahwa tokoh-tokoh tersebut dimaksud untuk realistis, dan jarang ada orang di kehidupan nyata yang mempunyai pengetahuan tentang suatu ideologi yang sangat mendalam seperti yang diinginkan para kritikus.Namun, pembaca lain – terutama dari dunia sastra – memuji Atheis, termasuk Pramoedya Ananta Toer dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Saya sebagai pembaca umum novel ini menilai ini adalah sebuah “beautilly composed” novel yang syarat dengan nilai-nilai moral dan keagamaan, meski disampaikan lewat tokoh hasan yang menjadi atheis. Justru disitulah pelajaran yang dapat diambil, bahwa sesungguhnya suatu keimanan tanpa logika dan hanya didasari kefanatikan belaka akan tergerus ketika dihadapkan dengan nilai-nilai yang berdasarkan logika dan pengetahuan. Menurut saya, kematian Hasan justru sebagai simbol bagi kematian atheis yang ingin disampaikan penulis. Terakhir saya memberikan nilai 5/5 untuk roman klasik satu ini.

http://willy-akhdes.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Hardini.
19 reviews8 followers
July 17, 2009
aku baca buku ini pas klas 3 smp,gr2 diwajibkan kumpul buku roman, akhirnya semua buku roman ingin aku baca,sjauh ini aku belum pernah kecewa ma bacaan jenis ini. bahkan berbekas sekali isinya. "atheis" jadi maklum mengapa orang2 yang sempat percaya paham komunis (walaupun secra ktp beragama) susah sekali diajak kembali ke jalan Tuhan. ibarat gelas kosong,(masyarakat kt jaman dulu)jadi disi apa aja masuk dan kebetulan yg diterima mentah2 adalah paham itu. beda dengan hasan (tokoh dalam cerita ini) yang sudah ada bekal agama walau hnya warisan pd awalnya dan dipaksa percaya. bertemu dengan realitas yg menurutnya tidak sesuai, bukan tidak sesuai ternyata. manusia seringkali lupa, setinggi apapun ilmu manusia biarpun setinggi bintang, toh tak ada satupun yang bisa menciptakan rumput. Waww ... keren sebab aku tadinya mulai terbawa cerita ini (dan bingung) kirain aku salah baca buku. ternyata jawabanya ada dibelakang. lega ....
Profile Image for Itsthe_Pra.
47 reviews6 followers
November 1, 2024
Novel Indonesia yang diterbitkan tak lama setelah Negara ini merdeka tidak begitu banyak yang Aku rasa sangat Familiar kecuali yang satu ini. Atheis salah satu novel dengan judul yang cukup berani, dari judulnya yang berbarti tidak beragama. bisa dilihat dari judulnya, Aku bisa tahu apa tema yang akan dibawa dari Novel ini yakni tentang keyakinan, tentang kepercayaan apa yang akan dianut & bagaimana seorang Individu dap at mempengaruhi orang lainnya untuk lebih percaya kepada kepercayaannya. bahkan relevansinya masih berdampak hingga hari ini.

Berkisah pada zaman penjajahan Belanda & Jepang yang dinarasikan narator yang cuma dipanggil 'Saya' Ia bercerita tentang apa yang seorang pemuda kurus & memiliki riwayat penyakit TBC bernama Hasan alami. dari cerita yang dimaksud kita mengetahui lika-liku kehidupan Hasan, ia dulu adalah anak semata wayang yang dilahirkan sebagai orang yang religius, Hasan mengekuni ajaran Islam hingga membuatnya menjadi seseorang yang dipandang suci di kampung halamannya. tapi semua itu bverubah saat ia pindah ke Bandung dimana ia berteman dengan Rusli & Kartini seorang yang katanya memandang dunia ini secara Logis, Hasan mencoba untuk membuat kedua Kakak-adik kafir ini kembali ke jalan yang benar, tetapi malah sebaliknya ia maolah diceramahin bahwa betapa tidak Nyata kehadiran Tuhan & Agama hanyalah sesuatu yang dibuat oleh manusia untuk membawa kesesatan selama ribuan tahun bagai dijajah. ini diperkuat lagi setelah Hasan bertemu dengan Anwar, pria berbakat yang mengakui dirinya ini adalah 'Tuhan' akhirnya makin tersesat lagi Hasan melangkah ke jalan yang gelap karena telah Murtad & menjadi seorang Atheis. beberapa bulan kemudian, Hasan menikah dengan Kartini. selama menjalani kehidupan bagaikan suami-istri ini Hasan merasa ada yang salah dengan Kartini yang hidup bebas, apalagi belakangan ini ia pergi tanpa sosok suaminya. ternyata Kartini telah berselingkuh dengan Anwar walaupun bukan dengan kemauan Kartini sendiri. setelah mengalami kejadian 'gelap' ini Hasan sadar & menyesal atas tindakan/aksi yang ia lakukan yang mengakui dirinya ini seorang Atheis bukan Islam. itulah yang ia sampaikan kepada tokoh 'saya' yang dimana tokoh 'saya' tertarik dengan kisah ini & ingin mengangkatnya menjadi Buku Biografi. setelah bercerita bergitu panjang ke 'saya' Hasan pulang kampung untuk meminta maaf terkait perbuatannya yang salah ini kepada Ayahnya yang sudah sakit keras. tapi, bahkan sampai matipun ia tidak mau mengakui lagi anaknya yang telah melakukan aksi semena2 tersebut. saat pulang ke Bandung, pasukan Jepang semakin berkuasa & membuat penduduk pribumi tidak berdaya atas pengaruh kuat terhadap negara yang lagi dalam situasi Perang dunia ke-2 ini, Hasan bahkan harus bersembunyi2 sampai pada suatu malam, ia pergi ketempat persebumnyian yang merupakan sebuah tempat pengingapan. disana ia melihat yang 'katanya' ditempati oleh Hasan & Kartini. menjadi trerobsesilah Hasan untuk membalaskan dendamnya atas kartini dengan membunuh Anwar, ia lari terbirit2 ke tempat yang gelap yang memicu suara sirene yang membawa pasukan Jepang untuk siaga menyerang & pada akhirnya salah satu dari mereka berhasil menembak mati Hasan yang masih lari di malam yang gelap tersebut. Hasan sempat mengucapkan takbir sebelum maut menjemputnya. dibagian pertama Novel yang sebenarnya merupakan Epilog dari Novel ini, Kartini yang digopong Rusli & 'Saya' hanya bisa merasa sedih & menangis histeris.

Novel Atheis memiliki banyak makna & pesan moral serta pelajaran yang dapat diambil yakni tentang kuatnya iman/kepercayaan yang sudah kita anut semenjak lahir. pemikiran berupa Agama serta Ideologi adalah sebuah prinsip yang kita ambil & diimplementasikan oleh orang2 yang lebih tua & berpengalaman. tetapi hal yang kita telah percayai sejak kecil bisa saja goyah, apa lagi pada orang dewasa alim seperti hasan yang seakan disadarkan oleh teman2-nya yang mengajaknya untuk hidup bebas tetapi hal tersebut malah membawanya ke jalan yang sesat. dari Pengamatankan orang yang memiliki status beragama bahkan juga masih bimbang apakah ia masih percaya Agama atau tidak? bahkan Aku yang beragama Islampun juga masih memperdebatkan apakah hal itu benar/salah serta apakah aku sudah beriman atau tidak? pada akhirnya ini hanyalah Dunia, kehidupan kita ini sementara, tetap percayalah terhadap apa yang dianut dari hidup sampai mati. janganlah sampai kita salah memilih pergaulan yang hanya akan kehidupan kita menjadi suram dengan embel2 Bebas. Sekian Review Saya ini yang masih merasa belum beriman & mencoba untuk menjadei lebih baik seperti Hasan (walaupun gagal) di akhir cerita. Terima kasih
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
February 1, 2024
Sebagai generasi muda terkadang saya menganggap generasi tua rada lebay dengan ketakutan mereka pada ideologi komunis yang tidak mengenal agama.

Buku lawas yang dicetak tahun 1949, 4 tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini ternyata bagus dan membantu saya memahami situasi jaman orde lama, dimana pada saat itu masih banyak orang yang atheis. Banyak dialog teologis dan politik yang membuat saya mendapat gambaran mengapa banyak paham-paham baru kala itu.

Awalnya judul yang singkat membuat saya berpikir buku ini berat. Ternyata ini buku roman namun nuansanya lumayan gelap.

Cerita dibuka oleh tangisan Kartini yang ditinggal mati oleh Hasan, suaminya. Beberapa bulan sebelum meninggal, Hasan memberikan setumpuk kertas kepada tokoh ‘saya’. Isinya semacam otobiografi tentang kegelisahan dan pemikiran Hasan. Mungkin lebih tepatnya semacam buku harian.

Lalu bergulirlah cerita berdasarkan naskah tersebut.

Ketika Hasan diterima kerja dan tinggal di Bandung dia bertemu dengan Rusli, teman sebayanya saat masih tinggal di Tasik. Saat itu Rusli memperkenalkan Kartini sebagai adiknya. Wajah Kartini yang mengingatkannya pada mantan kekasihnya dulu, seketika membuat ia jatuh cinta.

Rusli teman masa kecilnya ternyata sudah berubah. Ia mengagumi ajaran Karl Marx dan Friedrich Englels. Begitu juga Kartini, fashionable, berani mengutarakan pendapat, berpandangan modern, bahkan suka merokok.

Singkat cerita mereka bertiga akhirnya sering bertemu. Saat nongkrong bareng, Rusli dan Kartini sering bicara dengan mencampur kalimat bahasa Indonesia dan Belanda. Kalau jaman sekarang mungkin semacam bahasa anak Jaksel kali ya.

Novel dengan setting tahun 1941 ini merupakan masa dimana Marxisme dan Komunisme sedang hype dan berkembang di mana-mana untuk melawan Liberalisme yang diusung Amerika dan Eropa.

Tidak hanya mereka berdua, dari lingkungan pergaulan Hasan juga mengenal Anwar, seorang pemuda yang berpikiran kritis, anti feodalisme dan tipe pemberontak.

Hasan seorang pemuda yang tumbuh dalam lingkungan muslim yang taat, bahkan penganut ajaran tarekat, diam-diam bertekad untuk mengislamkan mereka, membawa mereka ke jalan yang lurus.

Memang lingkungan pertemanan itu bisa mempengaruhi pemikiran sih ya. Hasan yang fanatik namun kurang ilmu dan jarang membaca, faktanya lebih banyak diam dan menyimak, tidak mampu beragumentasi melawan pemikiran mereka.

Di setiap halaman saya membaca kegelisahan dan pertarungan ideologi antara theis vs atheis dalam hati Hasan. Bahkan saat shalat pun ia tidak mampu konsentrasi, pikirannya riuh berdebat.

Hasan yang tak punya kemandirian berpikir memadai disertai keimanan tanpa logika dan hanya berdasarkan fanatisme, lama-lama tergerus ketika dihadapkan dengan nilai-nilai yang berdasarkan logika dan pengetahuan. Lambat laun pemikiran Hasan menjadi lebih bebas dan modern yang membuatnya perlahan-lahan meninggalkan shalat.

Buku ini bisa menjadi bahan instropeksi bagi generasi muda yang banyak didogma untuk percaya dan tidak dididik untuk bertanya dan berpikir kritis sejak kecil.

Sejak awal cerita ini dibuka dengan kematian Hasan, namun sepanjang saya baca dibuat penasaran apa yang membuat ia mati dan hal terakhir apa yang dipikirkan Hasan sebelum mati. Endingnya wow banget. Semua akan terkuak, Hasan meninggal sebagai muslim atau atheis.

Tanpa ragu saya kasih bintang 5/5.
Profile Image for Clumsy Reader.
10 reviews
May 19, 2023
Melihat gambaran transisi dari cara berpikir yang tradisional ke cara berpikir modern. Buku ini menurutku masih sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang dan sepatutnya dibaca oleh orang-orang Indonesia. Selain karena ini sebuah karya sastra yang harus dikenal tapi juga pelajaran-pelajaran soal berpikir kritis yang digambar melalui para tokohnya.

Tokoh yang kusuka adalah Rusli. Ia tergambar seorang ateis, bahkan sejak kecil ia tidak pernah diceritakan dekat dengan agama. Namun, pemikirannya yang, pada saat itu, modern tidak menjadikannya memandang rendah Hasan (kawan karib sejak kecilnya) yang sangat religius.

Hasan, tokoh utama di cerita ini, adalah pemuda yang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang ketat dalam menjalankan agama. Saya tidak paham ajaran seperti apa yang ia anut, tapi anggaplah ia mewakili sisi religius di sini. Hasan, sejauh yang saya perhatikan selama membaca buku ini, tidak pernah berdiskusi atau bercakap-cakap dengan orang-orang yang berbeda keyakian atau pendapat dengannya. Baru saat bertemu Rusli-lah ia mendengar banyak gagasan baru. Saya merasa, tokoh Hasan yang digambarkan tumbuh bersama dengan orang-orang yang sepaham dengannya, membuat saya tidak bisa menyalahkan dirinya ketika ia terhasut oleh gagasan baru. Gagasan baru seolah menjadi sesuatu hal yang "wah" bagi Hasan dan ia menelannya begitu saja. Saya tidak menyukai Hasan, tapi saya memaklumi penokohannya.

Ajaran yang menurut saya paling harus diambil dari buku ini, terutama dari tokoh Hasan adalah untuk tidak menelan mentah-mentah gagasan baru dan kalau bisa pelajari gagasan baru tersebut jika itu bersumber dari sebuah buku atau orang lain.

Selain penokohan, hal yang saya suka dari buku ini adalah penggambaran suasana dan pemandangan yang ada di buku ini. Penulis mendeskripsikan lingkungan kota Bandung dan pemandangan lainnya dengan sangat sederhana namun berhasil membuat saya terbayang-bayang bagaimana sih kehidupan pada masa itu.

4 bintang untuk buku ini
Profile Image for Yazlina Saduri.
1,547 reviews41 followers
December 3, 2017
Pesan saya untuk diri sendiri, pertamanya, buku ini mesti dibaca sampai tamat, jika berhenti dipertengahan, bimbang terpesong. Sebabnya, hujah-hujah Rusli dan Anwar, sepertinya boleh meyakinkan ramai orang, terutamanya golongan bijak pandai yang fikirnya semua perkara perlu dijelaskan dengan kata-kata, perlu dibuktikan dengan sains, tidak cenderung mahu percaya kepada cerita yang asasnya ghaib, tidak boleh dilihat dengan mata kasar. Cinta itu kan buta dan sering membutakan. Cinta kepada seseorang, harta kekayaan, rasa bahagia dalam hidup.... Kejadian dan cerita bersama Anwar di kampung Hasan penting menerangkan betapa mudahnya pegangan agama seorang yang berhati lembut bisa digoyahkan. Setelah lebih separuh buku ini ditelaah dengan nafas turun naik, saya jadi bina harapan yang tinggi untuk ketahui apa sebenarnya pengakhiran untuk konflik dalam diri Hasan. Iya betul, tahu nanti Hasan akan mati, tapi matinya sebab apa? Saya kecewa. Terasa macam ceritanya masih tergantung. Iya saya orang Malaysia mungkin tidak dapat baca between the lines, saya faham apa yang saya baca saja. Mungkin saya sendiri yang baca tetapi tidak mengerti. Apa jadi pada Kartini. Kenapa mesti Anwar yang dicari Kartini selepas rumah tangganya ditiup ribut. Rusli kenapa tidak lagi menjadi pelindung Kartini. Anwar masih bebas dengan kepura-puraan? Apapun, buku ini bagus untuk saya sedikit faham keadaan sosio kehidupan orang Indonesia khususnya di Bandung waktu pergolakan tahun 1940an.

Nota, kalau ada masa kena kaji, info yang saya baca dari review readers lain, Rusli si komunis dan Anwar si Nihilis....
Profile Image for Hanifati.
99 reviews47 followers
March 26, 2019
Kasihan sekali rasanya mengikuti perjalanan sesosok Hasan ini, meski terlalu banyak hal yang saya kira mirip dengan apa yang pernah saya pikirkan dan rasakan. Sebagai seorang pencari Hasan selalu terombang-ambing dalam kebimbagan dan kesangsian, sialnya lagi Ia bukanlah seorang pencari yang baik. Hanya mengambil informasi setengah-setengah dari orang-orang yang Ia rasa lebih tahu darinya dan bukan pula seorang ahli pikir atau penyelidik yang bisa memeriksa permasalahan ke akar-akarnya. Alih-alih tahu banyak, Ia justru dihantui dan dipenuhi ketakutan akan ke’tahu’annya itu. Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya Ia bertemu seorang yang berniat menolongnya, Ia justru memandang pertolongan itu bagai ‘kue basi’ sebagai pendapat yang telah lama diketahui, meski tak sepenuhnya memahaminya. Sepanjang cerita saya juga merasa pertentangan batin yang dialami Hasan sebagai ‘kue basi’ yang di jaman sekarang sudah banyak wacana konflik batin dan kepercayaan. Namun rupanya memang bukan itu inti utama yang diberikan dalam buku ini. Laiknya Hasan yang memahami secara setangah-setangah, buku inipun tak patut untuk dibaca setengah-setengah.
Profile Image for Irma Setiani.
82 reviews10 followers
July 19, 2025
Salah satu karya sastra klasik Indonesia yang aku suka. Bercerita tentang kegundahan tokoh Hasan akan keimanannya pasca perjumpaannya dengan Rusli, Anwar, serta Kartini yang memiliki pandangan serta keyakinan yang jauh berbeda dari apa yang ia amini sebelumnya. Sepanjang novel ini kita akan melihat perubahan-perubahan karakter Hasan yang terombang-ambing. Novel ini menurutku sangat berani dalam mengangkat isu keimanan, juga membuat pembaca seolah ikut merasakan pergulatan batin tokoh utamanya. Meskipun novel ini terbit di tahun 1949 dengan tatanan bahasa saat itu, tapi masih tetap bisa dinikmati dengan enjoy, malah menimbulkan kesan puitis (bagiku).
Profile Image for gionica.
43 reviews1 follower
October 5, 2025
“Itulah maka (menurut pendapat Rusli pula) nonsens orang mengatakan bahwa orang Indonesia itu "mistisch aangelegd". Orang Indonesia bukan berbakat mistik, melainkan banyak yang merasa terpaksa dirinya mencari hiburan di dalam mistik, karena masyarakatnya terlalu bobrok.”

Profile Image for Reiza.
187 reviews7 followers
October 6, 2024
Salah satu novel klasik Indonesia yang menurutku perlu dibaca oleh generasi sekarang.
Profile Image for Irwan Sukma.
10 reviews3 followers
January 17, 2018
Novel Atheis: Potret Kegelisahan Sosial dan Intelektual "Pemuda Zaman Old"


Sebenarnya saya agak risih tiap melihat judul artikel atau postingan seseorang yang menggunakan istilah "kids jaman now" atau sejenisnya. Gelisah juga jika bahasa dicampur-campur itu menjadi trend diantara para penulis berita maupun netizen. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya ikut-ikutan juga pakai istilah itu didalam tulisan. Termakan propaganda..hehe

Kegelisanan yang sama juga dirasakan juga oleh Hasan, tokoh utama dalam novel Atheis, karya Achdiat K. Miharja. (kalau dilihat dibagian paling belakang novel ini, ternyata beliau adalah kakek dari VJ MTV, Jamie Aditya).

Novel yang merupakan potret kegelisanan sosial dan intelektual "pemuda jaman old" ini berlatar tahun 1930-an sampai masa pendudukan Jepang di Indonesia. Potret dimana pada saat itu pemikiran ideologi dan stelsel itu sangat kental terasa. Mulai dari feodal, borjuis, kapilatis, nasionalis, agamis maupun materialis komunis.

Bercerita tentang Hasan yang berasal dari keluarga feodal dan penganut ajaran tarekat bertemu dengan Rusli teman sebayanya waktu kecil yang mengagumi ajaran Karl Marx dan Friedrich Englels.

Pertemuan terjadi secara sederhana, saat itu Hasan sedang menjaga loket bagian jawatan air dari Kotapraja Bandung, bertemu dengan Rusli dan Kartini.

Kartini diceritakan merupakan "adik" dari Rusli, seorang wanita yang memiliki pengalaman pahit, ketika remaja dipaksa keluar dari sekolah. Ibunya memaksa kawin untuk jadi istri ke empat Arab tua bangka, semata-mata untuk mencari keuntungan semata. Pengalaman pahit itulah yang membuat Kartini menjadi srikandi yang beridelogi tegas dan radikal.

Kehidupan dan pemikiran mereka yang "bebas" membuat Hasan melabeli mereka sebagai kafir modern. Label yang membuat Hasan menggebu-gebu ingin segera kembali "mengislamkan" mereka.

Hasan bertarekat namun tidak memiliki fondasi yang kuat untuk imannya. Amalan yang dia lakukan tidak didasari oleh ilmu dan guru yang bisa menjelaskan dalilnya. Amalan yang pernah Hasan lakukan misalnya puasa7 hari 7 malam, mandi di sungai Cikapundung 40 kali dalam semalam dan mengurung di dalam kamar selama 3 hari 3 malam tanpa makan serta berbicara.

Niat untuk "mengislamkan kafir modern" itupun berkahir sia-sia. Argumen-argumen Rusli meruntuhkan fondasi rapuh Hasan.

Agama dan Tuhan adalah bikinan manusia Akibat dari suatu keadaan masyarakat dan susunan ekonomi pada suatu zaman yang tidak sempurna.Apabila manusia telah sampai puncak kemajuannya, dimana manusia sudah merasa senang dengan keadaanya yaitu apabila segala kebutuhannya lahir batin sudah bisa terpenuhi semua, maka pada saat itulah manusia tidak akan butuh lagi kepada agama, tidak perlu lagi meminta-minta tolong pada sesuatu Tuhan atau Yahwe atau apa saja. (hal. 79)

Atau ucapan Anwar yang mengutip Karl Marx bahwa "Tuhan adalah madat bagi manusia."

Jiwa Hasan terombang ambing. Batin Hasan terbolak balik.

Pikiran dan pandangan Hasan yang setengah-setengah tentang dogma dan fanatisme

Terbentur pandangan baru tenang materialisme komunisme.

Hasan yang tadinya rajin sembahyang kini ingkar.

Hasan yang tadinya mengharamkan bioskop, kini penonton setia.

Hasan pun berubah, Tuhan tidak lagi bersemayam dalam imannya.

Dalam novel Atheis ini, Achdiat K. Miharja lebih menekankan pada karater tokoh dalam cerita. Agak berbeda jika kita membandingkan dengan karya-karya Pramoedya yang banyak menggambakan dengan details suasana atau kondisi dalam alur cerita.

Atheis, lebih banyak membawa kita pada pergolakan sosial, intelektual dan psikologis dari tiap tokoh. Dimana kita bisa merasakan kegalauan batin Hasan, kuatnya cita-cita politik Rusli, kebangkitan Kartini dari pengalaman pahitnya dan juga karakter anarkisme seperti Anwar.

Meskipun kuat dalam penokohan, bukan berarti dinovel ini kita tidak bisa merasakan suasana dan kondisi jaman kolonialisme Jepang. Serangan udara, raungan sirine serta teriakan "Kusyu Keiho! Kusyu Keiho" yang terdengar dilangit Bandung -benar membawa kita pada imajinasi perang.

Meski terjadi kontroversi atau sanggahan baik dari pihak Islam maupun Marxisme mengenai tokoh fiksi novel berbanding kondisi aktul. Tetap saja menurut saya novel Atheis sangat layak untuk diapresiasi.

Pada akhirnya tidak berlebihan pendapat penulis Ahmad Tohari yang mengatakan bahwa Novel Atheis adalah salah satu monumen sastra Indonesia. Novel yang seharusnya dibaca ulang oleh masyarakat Indonesia selain untuk menambah wawasan kesusastraan, juga sebagai bahan refleksi dimana saat ini kids jaman now seolah alergi terhadap dunia politik.
Profile Image for Henry Wijaya.
39 reviews
January 13, 2018
This book is an ambitious project, which tries to discuss multiple ideologies/life perspectives/points of view, but in the end fails to reach its potential premise, leaving some ideas hanging unsatisfactorily and having its most important message obscured by the tragedy of its "unfinished" protagonist.

The book writer excels at offering the readers with different perspectives on how people should value life through different characters in the story. Through the main protagonist, Hasan, and his parents, we see those who see that life is about religion, and religion wholly encompasses life. In these people's belief, there's nothing else to life but practicing religious rituals to obtain heavenly rewards and to avoid hell's eternal torture. Related to this spiritual mindset, there are several minor characters that represent those who believe in mystical world of ghosts and spirits. Through Hasan's friends, we are introduced to different schools of thoughts. There's Rusli—the liberal, radical, and revolutionary—who argues that life should focus on what we are now dealing with—about resolving social, political, and economical issues of our days. Therefore, he dismantles the irrational worship of God and redefines the meaning of God's presence as the weak and suffering men's escape. Then, there's Anwar—the anarchist—who contends that man should be the focus of everything, should be beyond any rules and formalities. Lastly, there's also Kartini—the feminist—who's supposed to represent the more empowered group of women.

I humbly think that to say that the author doesn't offer his own stance is rather misguided. Since the author himself shows that he's a character in the book, the second narrator, he himself actually offers which line of thought he sides with. More in line with Rusli but minus his attitude toward God/religion, the author proposes a more rational and logical attitude that keeps questioning things and searching for answers by ourselves. Thus, I would argue that this is the actual main message that the author would love to send across to the readers: we should not blindly nor irrationally follow something/someone, not even the notion of God/religion, but instead we should be rational.

However, this book/the author fails to emphasize that point by making Hasan as the main character. Firstly, this makes the other perspectives offered by the other characters seem as if they are just the side ideas, less important. Secondly, since the story continues by following Hasan, those people and the ideas associated with them are also left behind later on in the story. Rusli and Kartini who actually represent brilliant ideas just stop existing later on. Worse, Kartini, who's supposed to be a forward-thinking, strong woman ends up becoming a powerless, abused wife. Thirdly, I think the tragedies in Hasan's life (I won't discuss these here to avoid spoiler) would actually shift the readers' attention, making them think that this whole book is about the negative consequences of becoming an atheist. Worst comes to the worst, I can see people use this book as an example/a warning that those who dare to question things/to think liberally/to think rationally/to be critical toward religion will face the same tragedies that Hasan has faced.

All in all, this book is still worth reading, but it's best read with an open, critical mind. Read with a cemented dogmatic, fanatic mindset, this book might become nothing but a further justification for despising those being an atheist, or to be precise, being rational and critical.
Profile Image for Orbita.
12 reviews
January 18, 2022
Suatu hari, saya ke rumah kakek saya yang seorang penggemar buku dan mendapati buku ini terdapat di salah satu rak bukunya. Saya cukup kaget, mengingat kakek saya seseorang yang begitu religius semasa mudanya. Isi rak-rak bukunya juga kebanyakan berisi buku tentang agama seperti tentang hadits, aqidah, sirah, dan sebagainya. Mendapati sebuah buku berjudul "atheis" di rak buku kakek saya membuat saya sedikit terkejut.

Saya membawa pulang buku ini dan membacanya dan.. astaga! Saya jatuh cinta kepada buku ini. Buku yang dapat diinterpretasikan dari banyak sudut pandang. Di satu sisi, buku ini seakan mengajak orang yang religius untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti paham atheis. Namun di sisi yang lain, buku ini seakan mengajak orang yang berpaham atheis untuk menjadi orang yang beragama. Belum pernah kutemui buku yang se-divisive ini sebelumnya!

Tokoh utama kita di buku ini bernama Hasan yang berasal dari keluarga yang sangat religius, namun ketika dewasa ia meninggalkan agama yang begitu diyakininya setelah bertemu seorang gadis yang berpaham atheis bernama Kartini. Awalnya terasa begitu aneh, bukan? Seseorang yang imannya begitu kuat layaknya Hasan bisa-bisanya meninggalkan agamanya hanya demi seorang wanita. Namun, lama kelamaan, paham atheis di buku ini mulai terasa masuk akal. Banyak sekali pembahasan mengenai ketuhanan, keyakinan, serta politik di dalam buku ini yang membuat kita bisa mengerti mengapa orang menjadi atheis, dan juga kenapa seseorang menjadi theis/monotheis.

Ada juga tokoh lainnya seperti Rusli dan Anwar, yang merupakan teman sepaham Kartini. Rusli bersikap lebih tenang dan bijak, sementara Anwar cenderung songong dan keras kepala. Kalau untuk Hasan, sang tokoh utamanya sendiri, kadang saya cukup relate dengannya. Kami sama-sama dibesarkan dalam lingkungan yang religius, serta sama-sama sering mempertanyakan keyakinan sendiri (walaupun saya tidak sampai menjadi atheis seperti Hasan). Kalau untuk karakter Kartini sendiri, saya cukup menyukainya. Ia berasal dari keluarga patriarki yang kemudian bertemu paham atheis, dan merasa bahwa paham itu menyelamatkannya. It sounds kinda stereotypical at some point, but yeah, i still love her character tho. I feel bad for her in the ending. He almost get r4p3d by Anwar, and also constantly get abused by Hasan because of his jealousy. Saya jadi sedikit membenci Hasan, dan terutama Anwar, karena hal ini.

Saya juga menyukai endingnya, di mana Hasan bertobat dan menyesal telah menjadi atheis. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri di akhir ketika ia hampir ditangkap tentara Jepang dan mati di tangan mereka. Menurut saya, ini sangatlah menggambarkan keadaan manusia modern yang bertingkah seakan tak butuh Tuhan ketika di masa kejayaan, lalu berlaku sebagai hamba Tuhan ketika di masa sulit. Sungguh penggambaran metafora serta satire yang luar biasa sekali!

Overall, buku ini sangatlah bagus! Bahkan bisa dibilang ini salah satu novel terbaik yang pernah saya baca seumur hidup. Banyak sekali pembahasan teologis serta politik yang membuat pembaca mendapat gambaran mengenai zaman itu, ketika zaman Indonesia belum merdeka dan masih dijajah Jepang. Zaman itu juga merupakan pergeseran masyarakat Indonesia dari zaman tradisional menuju zaman modern (dan juga itu menjadi alasan mengapa banyak paham-paham baru yang terlahir masa itu). This book is so revolutionary amazing!!! 10/10 peak fiction imo!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
93 reviews2 followers
June 8, 2015
Antara novel yang aku mahu baca dari dulu, dan hanya sekarang baru berpeluang dengan memohon perpustakaan uniku meminjam dari pihak luar.

Novel ini mengisahkan perjalanan spiritual seorang pemuda bernama Hasan, dari seorang yang beragama, menjadi seorang ateis atas pengaruh rakan-rakan komunisnya (dan juga seorang anarkis).

Hasan bukanlah seseorang yang pandai berhujah, mahupun cukup faham tentang agamanya. Maka, dia mudah termakan hujah-hujah kawan-kawannya yang lebih pandai berbicara. Lama-kelamaan, dia meninggalkan agamanya. Dan bermulalah seksaannya dalam 'neraka' jiwanya.

Cara penulis menceritakan penjajahan pemikiran asing terhadap minda Hasan cukup halus sekali. Tidak terlampau mendadak atau dipaksa-paksakan. Bolehlah baca novel ini itu ketahui bagaimana pandangan hidup seseorang boleh diubah.

Walaupun idea-idea tentang anarkisme dan komunisme agak terbatas (dan banyak bertumpu pada hubungan ideologi tersebut dengan Tuhan), namun dialog-dialog itu sarat dengan mesej yang mampu membawa kita untuk berfikir betul-betul samada kita benar-benar yakin dengan pegangan kita, atau kita main taqlid saja dengan fahaman 'default' kita.

Hujah-hujah yang diangkatnya mendalam, meskipun dikeluarkan oleh watak-watak yang ideanya mungkin bertentangan dengan Pak Achdiat. Hujah watak-watak antagonis (seperti Rusli si Komunis, dan Anwar si Nihilis) tidak dijadikan terlampau bodoh supaya pengarang mudah menjawabnya. Pembaca, seperti Hasan, diajak berfikir sekali, dan bukannya disajikan skema jawapan tentang cara dia harus berfikir. Walaupun pada babak-babak akhir ada keterangan pengarang tentang pendapatnya sendiri, 'hujah-hujah antagonis' ini cukup halus untuk pengembangan minda pembaca.
Profile Image for Anisa Rahimah.
37 reviews1 follower
November 30, 2020
Baca buku Atheis gara2 adekku dapat tugas sekolah ngereview buku ini dan ternyata bukunya bagussss! Karakter anwar super menyebalkan sampai2 aku dan adekku marah2 pas bahas dia. Kita roasting si anwar habis2an sampai puas 🤣 Bahkan aku lupa nama tokoh utamanya dan malah ingetnya sama si anwar sang antagonis yg super menyebalkan. Ceritanya sangat menarik karena secara ga langsung pembaca diajak untuk melihat Indonesia yang masih terpengaruh budaya Belanda misalnya percakapan menggunakan bahasa Belanda. Menarik juga mendengar pendapat2 para atheis di buku ini mengenai ide2 parah tokoh atheis terkemuka tentang ketiadaan tuhan. Aku lupa aku baca dimana, ada yg bilang "kalau orang2 menjadi atheis karena mengikuti paham2 Nietzsche dkk sama saja dengan menjadikan Nietzche sebagai nabi mereka." Aku rasa ini pemikiran yang sangat sangat menarik dan relevan dengan buku ini mengingat argumen2 yg dilontarkan si tokoh utama saat menjelaskan mengapa dia memilih menjadi atheis ke orang tuanya. Walaupun tak dijelaskan apa saja argumennya namun sang tokoh utama mengaku banyak mengutip dari tokoh2 itu dan juga dari argumen anwar yang dicomotnya. Namun di akhir hayatnya ketika sang tokoh utama sudah mendekati ajal, dia kemudian merasa bahwa sebenarnya dia tak benar2 menjadi atheis. Bahkan menyalahkan anwar atas keatheisannya. Bisa saja sebenarnya masih ada iman di dalam hati sang tokoh utama. Namun jika kita mengesampingkan masalah iman, menurutku dia benar2 frustrasi dengan kekacauan hidupnya yang menurutnya dipicu oleh pertemanannya dengan anwar sehingga dia menyalahkan anwar atas segala influence buruk di hidupnya termasuk paham atheis ini. Endingnya cukup menyedihkan namun sangat memuaskan. Buku yang bagus.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Anastasia Ervina.
Author 16 books10 followers
June 15, 2013
Novel ini saya baca pas jaman SMP :D

Bayangkan, saya yang masih bocah SMP saat pertama kali membaca novel ini, dengan ajaran agama yang selalu ditanamkan orang tua saya mulai membuka pikiran dan pandangan bahwa wajar saja jika seseorang yang beragama beralih menjadi atheis atau bahkan sejak ia bisa berpikir ia menjadi atheis. Hal ini dikarenakan orang tua pada dasarnya hanya mengajarkan bagaimana anaknya agar selalu 'patuh' dengan ajaran agamanya, menciptakan cerita-cerita mengerikan tentang siksaan neraka dimana memberi pandangan awal bagi anak bahwa Tuhan itu jahat.

Tak heran bila Hasan yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya yang taat menjalankan ibadah beralih menjadi atheis. Karena pola pengajaran untuk dekat akan Tuhan dengan berbagai ancaman tentang kekejian neraka bagi mereka yang tidak taat pada perintah-Nya. Hal ini menjadikan anak-anak dididik sejak usia dini untuk taat menjalankan ajaran agamanya agar tidak masuk ke dalam api neraka. Beribadah kemudian menjadi semacam keharusan bukan kebutuhan bagi tiap manusia. Hati manusia bagaikan gelas-gelas kosong saat sujud menyembah-Nya. Manusia cenderung tak berupaya mengakrabkan diri dengan Tuhan dan menjadikan Tuhan temannya melainkan menyembah Tuhan karena keterpaksaan. Manusia bagai robot-robot yang menyembah Tuhan siang dan malam karena ketakutan akan neraka. Semua ritual ibadah itu tak lebih sebagai rutinitas yang memang seharusnya. Tak ada persahabatan dengan Tuhan. Tak pernah ada percakapan batin yang sejatinya diperlukan dalam hubungan dengan Tuhan.
Profile Image for Lucky.
Author 3 books6 followers
October 11, 2013
Roman ini memuat kisah seorang lelaki yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang agamis, sebelum akhirnya memilih menjadi atheis karena 'salah gaul'. Mengapa saya bilang bahwa ia salah pergaulan? Karena dari awal memang tokoh Hasan ini mengalami kebimbangan, bahkan sampai akhir hayatnya, kembalinya kepercayaannya pada Tuhan semata-mata karena ketakutan, bukan suatu yang telah (atau kembali) ia yakini dan terima dengan lapang.
Dilatarbelakangi Indonesia pada masa kolonial, faktor sosial, pergeseran budaya, dan masuknya pemahaman barat yang tidak diimbangi dengan ketahanan pengetahuan akan ideologi bangsa sendiri terefleksikan pada tokoh-tokohnya; Rusli yang ideologinya cenderung berkiblat pada para filsuf, Kartini yang menentang budaya patriarki, dan Anwar yang menuhankan diri sendiri. Sayangnya penulis senang membangun suasana yang melulu berkutat dengan pikiran-pikiran para tokoh sehingga akan membuat sedikit bosan di beberapa bagian.
Secara garis besar, konflik yang diangkat cenderung pada aspek emosi para tokohnya. Mungkin pembaca akan merasa janggal dengan berubahnya sikap Hasan yang begitu saja, juga pada Kartini yang mulanya digambarkan amat 'menantang' tapi toh tidak melakukan pemberontakan yang berarti.
Dalam penceritaan, yang terasa cukup janggal juga adalah beberapa kalimat yang memadukan saya dan aku sekaligus, kurang lebih seperti kalimat 'saya tidak melanjutkan bicaraku', secara gramatika memang benar namun tidak lazim digunakan.
Terakhir, saya rasa roman ini berhasil menguak luka Indonesia, yang bahkan sampai sekarang terngiang dalam masyarakatnya.
Displaying 1 - 30 of 247 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.