Jump to ratings and reviews
Rate this book

Imung #15

Imung: Hari-hari Terakhir Imung

Rate this book

120 pages, Paperback

First published January 1, 1985

Loading...
Loading...

About the author

Arswendo Atmowiloto

127 books156 followers
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!

Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa, seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di penjara, serta sejumlah pengalaman indah yang masih akan dituliskan.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (25%)
4 stars
7 (58%)
3 stars
2 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Novella Dwisri.
213 reviews11 followers
March 26, 2022
Kasus-kasusnya menarik cuma karena ada Nina jadi gak bisa ngasih bintang full..
Paling suka kasus bales dendam Mirna sih, dia otaknya ngeri gitu bagus potensial buat jadi lawannya Imung bikin Imung mikir juga mengasah kemampuan deduksi Imung dalam menyelesaikan kasus ke depannya.
Helena datang cuma gak banyak dialog huhu..
Setelah Tunggadewi yg menurut saya nyebelin ada yg lebih nyebelin ya si Nina itu hadeuh manja banget bikin kesel..
Pasangan yg bisa bantu Imung berpikir nyelesain kasus emang cuma Helena seorang sih menurut saya mah tapi kok ya makin sini muncul Tunggadewi, Nina, & Siane..
Kalo Siane sih gak gitu senyebelin Nina & Tunggadewi ya.. Terus Werdiningsih juga kok keknya ikutan suka Imung(?) Udah Werdiningsih sama Sabeni aja ngapa!
Helena untuk Imung pokoknya selalu Helena ya..
Ine Moi tuh ada hubungan sama Kapten Situmeang kan ya(?)

Di kasus kelima pas Imung terganggu pikirannya itu soal ibunya kan suara terngiang di telinga Imung, "𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘽𝙖𝙥𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞?" itu suara ibunya Imung yg marah bertengkar dng ayahnya Imung sebelum kabur yg didengar Imung? Itu ingatan samar Imung akan pertengkaran ortunya makanya ia tak pernah bertanya soal alasan ibunya kabur pada ayahnya karena gak ingin membuka luka ayahnya?

Kasus penculikan anak yg dng motif lebih baik anak² tanpa perhatian itu bersama si penculik yg akan mengabulkan semua keinginan mereka eh pas anak2 minta pulang ke keluarga masing2 dipecuti juga kan kekerasan itu tetap salah memisahkan anak dari ortunya meski si anak di rumah kurang diperhatikan ortunya atas dasar apa menilai dari luar aja itu penculik ya. Alasan kesepian karena kehilangan anaknya yg tiada bukan berarti mencuri anak orang lain dong, Pak Gus.
Dalam tukar pikiran soal kasus ini Kolonel Suyatman menyentil Imung dng pertanyaan soal kerinduan salah satu ortu yg berpisah dari anaknya sampe menculik buat bersama, kenapa ibunya Imung tidak melakukan hal yg sama seperti menemui Imung lah minimal kalo gak nyulik juga.. Imung dng getir menjawab bahwa sederhana alasan ibunya tidak mampu menculiknya karena keterbatasan biaya.. Kekuasaan ibunya Imung pas²an. Sedih sih kalo inget Imung ditinggalkan Ibunya. Harus ada latar belakang ini ya buat memperkuat karakterisasi tokoh yg kuat?
Displaying 1 - 2 of 2 reviews