Jump to ratings and reviews
Rate this book

CICA - 96 Puisi

Rate this book
semakin besar kami menyadari maksud baik orangtua
orang-orang yang ditandai sebagai sapi dan kambing
karena layak diperah dan dimasukkan daftar hitam
adalah orang-orang yang menyerupai kami

sepanjang hidup kami mempersiapkan diri
yang niat sekolah tinggi-tinggi, yang ulet bekerja sampai pagi
yang liat menumpuk harta
supaya semua bisa terbang menyelamatkan diri

di udara, kami melayang-layang bahagia
pesawat yang kami tumpangi membawa ke mana pun kami suka
hanya satu yang orangtua kami rahasiakan
sekali pesawat ini lepas ia tak lagi mendarat

mulailah kami hidup antara langit dan bumi
tak tahu mana kepala mana kaki
senantiasa rindu asal, kepalang pergi
mendoakan tanah yang menyimpan ari-ari kami

CICA berisi 96 puisi yang ditulis sejak 2016 hingga 2020 oleh Cyntha Hariadi. Ada kenangan yang tersimpan, pertanyaan atas identitas, juga peristiwa yang berusaha dihapus oleh kekuasaan dalam larik-larik puisi di buku ini.

163 pages, Paperback

First published May 29, 2024

6 people are currently reading
46 people want to read

About the author

Cyntha Hariadi

12 books33 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (23%)
4 stars
18 (41%)
3 stars
15 (34%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
28 reviews3 followers
December 18, 2025
Rasanya ketika selesai membaca kumpulan puisi Mbak Cyntha, mau peluk erat buat teman-teman Chindo yang aku kenal (gak seberapa banyak, tapi tahu betul ketakutan kolektif mereka). Lucunya, Mbak Cyntha menulis puisi tanpa meromantisasi terlalu dalam sebuah perbedaan identitas yang dia miliki. Yasudah, seperti Cina Benteng pada umumnya saja. Jadi keingat salah satu teman Chindo yang melabeli dirinya Chitato (China tanpa toko) sebagai sindiran bahwa tidak semua Chindo itu punya bisnis.
Semoga aku bisa lebih memahami bahwasanya apapun ras kita, yang membuat salah adalah sistem turun-temurun oleh pemerintah.
Profile Image for owlshell.
64 reviews10 followers
June 12, 2024
siapa aku, mama?
kamu adalah kata orang (hal.66)


Buku puisi CICA terbit setelah aku selesai membaca Mimi Lemon. Langsung dibuat penasaran dan ikutan pra-pesan, siapa tahu akan suka juga dengan isinya. Tapi ternyata engga. Bukan karena tulisannya, tapi karena tema yang diambil. Yaitu keresahan seseorang keturunan cina yang tumbuh sebagai minoritas dan mulai bergulat dengan identitasnya.

usiaku belum genap sepuluh
mulai bertanya-tanya siapa aku
mengaku cina, diledek cina, tapi tidak berbahasa cina (hal.28)


Jujur, aku sama sekali tidak bisa relate dengan tema ini. Selain karena kurangnya informasi dan minimnya pengetahuan soal chindo, aku tidak tumbuh di lingkungan yang ditinggali banyak ras. Hanya tahu dari beberapa tulisan, film, atau artikel berita yang mengangkat isu ini. Meskipun disertakan kamus ciben di halaman terakhir, sepertinya tetap harus dibaca ulang biar bisa lebih mengerti.
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
November 15, 2025
Sebuah pengalaman membaca yang campur aduk; ada pedih, penuh amarah, sekaligus rasa bingung. Lihai sekali Cyntha membuat setiap baitnya padat tapi tetap indah dengan caranya sendiri. Saya sebut padat karena topik-topik yang diangkat bikin saya menikmati sekaligus sibuk mencatat; termasuk perihal identitas, ras, sejarah, serta perasaan teralienasi.

Saya juga jadi belajar bahasa Ciben (Cina Benteng atau Cina Tangerang) yang surprisingly saya paham beberapa katanya karena masih ada campuran Sunda.

Suka sekali dengan puisi-puisi yang personal sekaligus memberikan wawasan seperti yang ada di buku ini. Mungkin akan buat ulasan yang lebih panjang dan terstruktur.
Profile Image for hana.
42 reviews
November 17, 2025
cica meraba bahasanya, bajunya, ibunya, dirinya, anaknya, dan seluruhnya.

kumpulan puisi ini bercerita tentang tarikan nafas panjang perempuan. berlapis-lapis. penuh amarah yang diselimuti ketakutan.

tapi membacanya juga membuat aku menemukan kehangatan yang familiar dari ibu, dari anak-anak perempuan. rasanya meninggalkan jejak mendalam.

terima kasih untuk cyntha hariadi yang sudah menulis cica. buku ini perlu menemui lebih banyak pembaca.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
June 24, 2025
96 puisi itu banyak. Ya, 96 puisi itu banyak dan pembaca mungkin berhenti di tengah perjalanan jika belum juga menemukan konteksnya. Terang benderang dalam keseluruhan buku puisi ini akan kita temukan sebuah identitas: Tionghoa, juga sebuah gender: perempuan, juga sebuah peristiwa: kerusuhan & pemerkosaan Mei 1998. Inilah konteksnya. Inilah sejarahnya. Kita mungkin tidak bisa benar-benar menikmatinya sebab kemungkinan dua hal: 1) tidak tahu sejarah, dan/atau 2) tidak mau tahu sejarah.

Judul "CICA" tidak memberi petunjuk apa pun. Jujur saja, saya membelinya karena ini Cyntha Hariadi. Waktu itu saya ambil buku ini di rak toko buku Makarya yang mereka beri tajuk "Karya Pemenang Penghargaan". Belum sampai setengah jalan, saya kelimpungan dengan kata-kata bukan Bahasa Indonesia yang saya kenal dan yang biasa saya temukan dalam puisi-puisi beliau. Namun, saya tetap melanjutkannya ketika sudah dapat konteks: Mei 1998.

Pembacaan ini menjadi lebih relate setelah baru-baru ini pernyataan Fadli Zon yang mengingkari sejarah pemerkosaan massal Mei 1998 viral. Emosi yang hadir di sisa puisi-puisi yang belum saya baca semakin menjadi-jadi. Simpati & empati saya muncul. Saya mulai menilik lagi pengetahuan tentang Mei 1998 di internet, termasuk salah satunya video YouTube Tempo berjudul "Fakta-fakta Tragedi Pemerkosaan Massal Mei 1998 yang Disangkal Fadli Zon | Bocor Alus Politik" ini.

Ibu Ita Fatia Nadia, pendamping korban kala itu, menceritakan beberapa kasus pemerkosaan yang ia dampingi. Ia menyebut satu nama: Fransiska (lihat menit 32:00), seorang anak perempuan Tionghoa usia 11 tahun di Tangerang. Fransiska adalah korban pemerkosaan Mei 1998 termuda yang ditemukan tim TGPF. Ibu dan kakak perempuannya dibunuh. Fransiska diperkosa lalu dibunuh. Alat kelaminnya rusak.

Saya merinding mendengar ceritanya dan terkejut karena 1 dari 96 puisi Cyntha Hariadi ini menyebut nama Fransiska. Ialah puisi nomor 65. Puisi panjang yang menyayat. Izinkan saya menulis dua bait terakhirnya di sini:

ia datang setiap dua puluh satu mei—lonceng mimpi burukku—berdentang dalam tubuh—kututup telinga semakin kudengar—kututup mata, mengisi setiap pori kulit kepala—ingin kuhantam kepalanya yang goyang-goyang menafikan semua yang kurencanakan—yang ibunya juga impikan dan ia inginkan—usianya sebelas tahun sama dengan kau yang kulahirkan sebelas tahun lalu—putri kepompong yang bergulat mencari setitik terang, itik buruk rupa yang belum tahu bahwa ia menawan, kalau saja diberi usia panjang—kehadirannya adalah kaca paling jernih yang aku punya—gratis sekarang harus dibayar nanti—gada penghancur ilusi yang aku butuhkan—weker rusak yang berdering abadi—kami hanya sebuah kulit: perempuan, cina, katolik—fransiska bau cina karena ayahnya peternak babi di tangerang—fransiska memakai celana pendek dan kaos spice girls—fransiska wangi cina karena punya vagina—negara memperkosanya dengan pecahan mulut botol karena tak punya kontol—

fransiska berhenti menggerak-gerakkan kepala


Saya belum mengonfirmasi Mbak Cyntha langsung apakah Fransiska dalam puisinya merujuk pada Fransiska yang diceritakan Ibu Ita, narasumber Bocor Alus Politik Tempo tersebut. Kalau boleh saya mengira, jawabannya iya! Iya, inilah Fransiska yang dimaksud. Fransiska, anak perempuan Tionghoa korban pemerkosaan Mei 1998.

Bacalah buku puisi ini bersama dengan membaca kembali sejarah kelam yang coba dibungkam negara hari ini. Bacalah sampai habis. Bacalah sampai kamu bisa ngata-ngatain Fadli Zon dan kroninya tanpa secuil pun tanda tanya dan rasa bersalah.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
May 18, 2024
Aku menyukainya.....

sementara itu
mama, i'ih, engkim, o'ok, a'em, ji'em
mulai tidak percaya diri keluar rumah
tanpa selotip mata

mereka terus mengingatkan
aku beruntung lahir dengan lipatan alami

seolah sinar cina
bisa padam dalam lipatan mata
(p.17)


Puisi dengan satu tokoh aku, yakni Cica. Menarasikan sederet sejarah keluarga sebagai ciben, dan bagaimana pergulatan identitas yang terjadi.

usiaku belum genap sepuluh
mulai bertanya-tanya siapa aku
mengaku cina, diledek cina, tapi tidak berbahasa cina
(p.28)


BAGUUUUUUS. MUngkin sebab pergulatan identitas ini menjadi sangat syahdu dan menarik.
BACA dan BACAlah publik sastra Indonesia.
Profile Image for Christmas.
273 reviews1 follower
December 27, 2025
Sebagaimana yang tertulis di cover, buku ini berisikan 96 puisi dari Cyntha Hariadi. Puisi-puisi ini dibagi ke dalam dua bagian dan kedua bagian membahas tentang identitas dan konflik rasial yang terjadi di Jakarta.
Beberapa puisi membuat saya bingung karena tidak mengerti, namun beberapa lainnya membuat saya tercekat dan turut sedih meski tak pernah mengalami hal serupa.

(buku ini merupakan rekomendasi dari Ugoran Prasad, vokalis Majelis Lidah Berduri)
Profile Image for Felicia.
159 reviews
August 16, 2024
mungkin aku yang bacaannya kurang beragam, tapi ini buku puisi pertama yang menggambarkan berbagai keresahan sebagai etnis Tionghoa di Indonesia di era-era sekarang. Granted, saya bukan cina benteng dan beberapa istilah masih spesifik di sana, tapi benar-benar menggambarkan keresahan sehari-hari :”””) good job!
Profile Image for Nike Andaru.
1,648 reviews112 followers
December 28, 2025
101 - 2025

Terasa sekali keresahan penulis sebagai keturunan cina di Indonesia, apalagi dikisahkan sejak tahun 70-an, di mana semua masih mencina-cinakan dan sulit memang menjadi cina saat itu. Mungkin sekarang sudah terasa berbeda, tapi tetap saja ada yang masih membedakan.

Segala keresahan tertangkap jelas dalam puisi-puisi di buku ini. Cica cica…
Profile Image for yulian.
33 reviews2 followers
December 28, 2024
Ini bias karena aku penggemar berat tulisan-tulisan chyntha hariadi meskipun di bagian pertama aku harus bolak-balik kamus bahasa ciben.
Profile Image for Launa.
247 reviews51 followers
July 28, 2024
"62"
⁣⁣
5.⁣⁣
...⁣⁣
tragedi yang kutonton di televisi ternyata fiksi⁣⁣
tak ada yang membicarakannya di sini⁣⁣
⁣⁣
penjarahan dan pembakaran ada bekasnya⁣⁣
pembunuhan ada kuburannya⁣⁣
⁣⁣
tapi yang tubuh ini tahu⁣⁣
tak ada buktinya⁣⁣
...⁣⁣

(Halaman 93)⁣⁣

Memori, refleksi, alienasi. Bagiku, tiga kata ini mewakili kumpulan puisi CICA. CICA memulangkan memori masa kecil saat tinggal di Dili, Timor Timur, bikin berefleksi yang setelahnya berasa kayak ditampar berkali-kali sampai dapat banyak kesadaran, dan alienasi yang semula dirasakan pada akhirnya justru mendatangkan keterhubungan yang gak aku duga.⁣⁣

Awal membaca gak berekspektasi apa-apa karena ini kali pertama menikmati kumpulan puisi kak Cyntha. Selepasnya ternyata aku merasakan dan mendapatkan banyak hal dari 96 puisi CICA. 💜💛 Terima kasih untuk puisi-puisinya, Kak Cyntha. 🤗

Baca selengkapnya: bit.ly/bukuCICA 📺📰⁣
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.