Jump to ratings and reviews
Rate this book

Family Constellation

Rate this book
Hubungan dengan keluarga tidak selalu harmonis, kadang malah menimbulkan luka. Kini saatnya menyembuhkan luka batin itu dengan menelusuri akar permasalahan keluarga. Buku ini membahas berbagai hal mengenai trauma dan luka batin keluarga, diantaranya:

✅Mengenali & mengubah generational trauma keluarga
✅Menyembuhkan inner child yang terluka dan mengasuh ulang diri dewasa kita
✅Melepaskan limiting belief
✅Memulihkan & memperbaiki ikatan keluarga & pasangan

352 pages, Paperback

Published May 16, 2023

44 people are currently reading
104 people want to read

About the author

Meilinda Sutanto

2 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (27%)
4 stars
21 (47%)
3 stars
9 (20%)
2 stars
2 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for tnty.
123 reviews2 followers
December 14, 2024
Sering melihat iklan buku ini di Instagram, tapi baru benar-benar tertarik membacanya saat saya mendengarkan siniar Andini Effendi dengan bintang tamunya Meilinda Sutanto, sang penulis. Sebenarnya konsep konstelasi keluarga ini sudah ada sejak tahun 1970an dan diciptakan oleh seorang psikoterapis asal Jerman. Penulis adalah salah seorang yang pernah mengikuti kursus untuk menjadi terapi konstelasi keluarga ini. Kurang lebih menjelaskan permasalahan individu yang tidak lepas dari problema maupun trauma yang diturunkan dari orangtua sampai dengan leluhur sebelumnya. Beberapa bagian di awal buku ini, seperti tentang parentifikasi, sangat menarik dan cukup penting dibaca di era sekarang. Sayangnya, banyak tulisannya seperti ditulis berdasarkan terjemahan dari bahasa asing dan diedit dengan tidak rapi. Selain masalah typo, banyak tulisan yang sulit dipahami meski menggunakan bahasa Indonesia. Ketika cek halaman judul memang tidak tertulis adanya editor atau penyunting buku. Semakin dibaca ke belakang juga seperti upaya hard selling agar pembaca mengikuti terapi konstelasi keluarga dengan penulis.
Profile Image for Adella Nuraisyah.
70 reviews
December 26, 2024
Powerful stuff.

Minusnya agak kaku dan aneh struktur kalimatnya here and there, rasanya hampir seperti terjemahan yang agak ceroboh (plek ketiplek banget diartikannya). Tapi besides that, substansinya life changing.

I literally went to therapy and found the courage to face the people in my family who gave me blockers because of this book. It exposes me to new perspectives that made me more tender and strong at the same time. Easy 4.5⭐️
Profile Image for Gia⁷.
34 reviews2 followers
August 3, 2025
Baca kedua kali buku ini, karena pas baca di awal pasca lahiran which I’m not conscious enough, I guess.

Would like to give it 5/5, karena informasinya sangat penting. Tapi pemilihan diksi, gaya bahasa, dan penulisan seperti membaca buku terjemahan dan terjemahannya sulit diproses.

Buku yang aku sarankan untuk orang-orang baca setidaknya sekali seumur hidup. Karena kita semua terbentuk dari trauma. Bahwa apa yang kita jalani di kehidupan ini, akarnya bukan dari kita, bukan pula orang tua kita, tapi bisa jadi dari beberapa generasi sebelumnya dan kita bertugas untuk memutus rantai itu.
Profile Image for Sheira Sharma.
134 reviews4 followers
July 16, 2025
"orangtua menginginkan yang terbaik, bukan mengetahui yang terbaik."

konstelasi keluarga adalah metode terapeutik yang sangat manjur, ditemukan dan dikembangkan oleh bert hellinger, seorang psikoterapis jerman, dengan menggunakan sejarah keluarga sebagai alat untuk memahami dan memecahkan permasalahan-permasalahan masa kini.

super menarik, banyak banget hal baru yang gue pelajari dari buku ini, salah satunya tentang parentifikasi. topik ini menyita perhatian gue karena lumayan familliar alias banyak terjadi di sekitar—di mana ada sebuah pembalikan peran. jadi dalam urutan khusus, hubungan orangtua dan anak itu konsepnya satu arah, orangtua memberi dan anak menerima, kenapa? karena anak-anak menerima dan mengambil kasih sayang dari orangtua mereka, maka mereka memiliki cukup cinta yang kelak bisa mereka bagikan ke pasangan dan anak-anak mereka. tapi kadang, alih-alih memberikan kasih sayang, orangtua justru mengambil dari anak-anaknya. dalam pembalikan peran ini orangtua melimpahkan tugas terhadap anak (bisa dalam banyak bentuk) anak-anak yang terparentifikasi, tangkinya akan kosong hingga kelak jika sudah dewasa cenderung mencari sosok orangtua di pasangan romantisnya.

familliar banget doang pastinya? di lingkungan kita hal tersebut udah di anggap lumrah dan menjadi bagian dari tugas si anak, contohnya, seorang anak harus siap merawat adik-adiknya kalau orangtua lagi sibuk sama urusan mereka, siap mendengar keluh kesah orangtua tentang berbagai permasalahan yang sebenarnya bukan tanggung jawab mereka, siap membantu pekerjaan rumah tangga demi meringankan beban orangtuanya, dan masih banyak lagi tugas-tugas anak yang katanya "tanggung jawab" padahal hal-hal tersebut dapat menghambat proses tumbuh kembang seorang anak, terutama dalam segi mental atau emosional.

gue adalah satu dari sekian anak yang tidak ter-parentifikasi, gue sadar kalau ini sebuah keistimewaan (meski sebenarnya normal) setelah liat temen-temen gue ketika mulai beranjak remaja. ternyata banyak dari mereka yang tau sama permasalahan orangtua mereka, karena gue dari kecil sampai remaja nggak pernah liat orangtua adu argumentasi di depan muka gue sendiri (setelah dewasa gue baru tau kalau mereka dulu juga banyak masalahnya kok, cuma memang sengaja nggak di liatin di depan anak-anaknya) terus banyak juga yang di suruh ngurus adik-adiknya, gue bingung aja, emang orangtuanya kemana? karena gue sendiri punya dua adik yang jaraknya lumayan jauh, 10 sama 15 tahun, tapi nggak pernah sekali pun gue di bebankan tanggung jawab akan keduanya, apalagi sampai harus mengorbankan kehidupan sosial gue. terus yang terakhir dan yang paling sering, mereka juga di bebankan sama pekerjaan rumah tangga, di suruh masak, bersih-bersih rumah, cuci piring, cuci baju, ngepel, dan lain sebagainya. itu semua tanggung jawab orangtua, tapi banyak di bebankan ke anak, sampai akhirnya si anak ini belajar kalau mengambil alih tugas orangtua adalah cara menjaga kedekatan dan mendapatkan cinta dari mereka.

anak-anak yang nggak terparentifikasi: anak-anak yang aman secara emosional adalah yang kebutuhan fisiknya terpenuhi, mereka kemudian bebas untuk memfokuskan energinya untuk tumbuh, belajar, dan menjadi dewasa. karena ketika anak-anak gue di biarkan menjadi anak-anak, ketika remaja di biarkan menjadi remaja, dan seterusnya, gue jadi punya cukup ruang untuk mencari jati diri, karena gue hanya bertanggung jawab atas diri gue sendiri, gue nggak di pusingkan dengan masalah orangtua gue, nggak di bebankan sama pekerjaan rumah tangga, apalagi sampai di kasih tanggung jawab soal kehidupan adik-adik gue. meski keliatannya sederhana, tapi tanggung jawab yang mereka anggap kecil itu tetap tanggung jawab yang jadi beban pikiran si anak loh, beban itu pula yang akan menghambat anak untuk tumbuh dan berkembang.

dulu orangtua gue sering dapet kritikan, terutama dari keluarga karena katanya terlalu "memanjakan" gue, mereka bilang dengan begitu gue nggak akan belajar bertanggung jawab. padahal, ada garis tipis antara mengajari anak cara bertanggung jawab dan memberi mereka tanggung jawab orang dewasa. orangtua gue bukan mengajari tanggung jawab dengan cara nyuruh gue ambil alih pekerjaan rumah tangga yang sebenernya bukan tugas gue atau nyuruh gue ngurus adik-adik gue sampai mengorbankan kehidupan sosial, tapi mereka mengajari tanggung jawab lewat keputusan-keputusan yang gue ambil, komitmen-komitmen yang gue buat, sampai kepercayaan senantiasa mereka berikan. karena tanggung jawab terbesar itu tanggung jawab ke diri sendiri dan itu yang selalu mereka tekankan.

kalau soal pekerjaan rumah tangga itu lebih ke tutorial bertahan hidup yang nggak perlu latihan seumur hidup, buat nyapu, ngepel, masak, lo nggak perlu iq setinggi oppenheimer, bahkan tanpa di ajarin orangtua pun lo juga pasti bisa. tapi tanggung jawab ke diri sendiri, dari setiap perkataan dan keputusan yang lo ambil itu butuh bimbingan dan pencarian yang matang, nggak bisa instan.

lumayan panjang gue ya gue bahas soal parentifikasi, meski sebenernya masih banyak lagi sih topik-topik menarik tentang trauma antar generasi tapi silakan di baca sendiri, karena sangat menarik dan berpotensi besar membantu kalau lo punya permasalahan serupa.
26 reviews
April 9, 2025
Kenapa baca buku ini? Karena aku mau belajar soal genealogi (keterkaitan, konstelasi) keluarga yang membentuk pola interaksi dan hubungan dalam sebuah keluarga yang menghasilkan implikasi yang cukup signifikan di kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, kita adalah manusia yang merupakan sekumpulan perca dari DNA, karakter, dan pahatan fisik yang diturunkan dari garis keturunan keluarga kita. Termasuk hal yang merugikan kita, padahal kita tidak memulainya, yaitu trauma.

Apa itu konstelasi keluarga? Sebuah terapi yang mengusut pohon sejarah keluarga untuk menemukan titik temu mengapa ada trauma yang terwariskan ke beberapa generasi. Permasalahannya kompleks dan bisa jadi merupakan dampak dari faktor makro dan butuh pengembangan imaginasi sosiologis dalam beberapa derajat analisis. Seperti misalnya, Kakek/Nenek yang merupakan anggota atau korban perang, ibu yang mengalami tekanan diskriminasi gender, budaya Asia yang menekankan kepatuhan buta, dan norma-norma tradisi budaya dan kepercayaan yang membentuk family consciousness. Prinsip-prinsip konstelasi keluarga teridentifikasi pada lima bagian:

1. Pemberian cinta satu arah dari orang tua kepada anak. Hal ini perlu dilakukan agar tangki cinta anak menjadi penuh dan pada gilirannya dapat mencintai orang lain sesuai takaran dan tempatnya dengan penuh kemerdekaan dan tanggung jawab. Jangan biarkan anak mengalami parentifikasi karena akan menimbulkan disfungsi untuk dirinya dalam menjalin hubungan dengan orang lain di kemudian hari.

2. Pemberian cinta yang setara antara pasangan orang tua atau kekasih. Lihatlah kekasih/partner sebagai seseorang yang setara. Jangan lihat dia sebagai sosok ibu/ayah yang hilang dan bertanggung jawab atas kosongnya tangki cinta pada diri sendiri. Karena hal tersebut akan menimbulkan kecenderungan untuk selingkuh atau menjadikan anak sebagai pasangan pengganti yang dibebankan ekspektasi untuk menjadi good boy/good girl dan media/samsak untuk meluapkan kekecewaan pada pasangan.

3. Semua orang mendapatkan hak dan tempat yang setara dan inkulsif di keluarga. Jangan ada pengucilan dan pengecualian terhadap keluarga. Baik yang telah tiada karena keguguran, meninggal, dipenjara, mengalami dismorfia seksualitas, penyandang disabilitas, atau pekaku kriminal. Meskipun tentu tetap dengan beberapa intervensi yang diperlukan. Tetapi jangan dibilangkan dan dibuang dari pohon keluarga, karena akan berimbas kepada generasi selanjutnya yang akan menanggung trauma atas pengucilan leluhurnya.

4. Semua orang menanggung nasibnya sendiri. Tempatkan perasaan trauma, kecewa, ketidakberdayaan, dan kemarahan, serta putus asa pada orang-orang yang seharusnya menanggung perannya. Jangan ambil peran yang bukan milik kita. Supaya kita bisa tetap mencintai dengan setara dan berdaya. Supaya mereka juga belajar dan bertanggung jawab sesuai perannya.

5. Urutan Cinta. Tempatkan pasangan di tempat paling atas dalam daftar urut prioritas cinta. Kemudian anak, kemudian orang tua. Bukan karena mengenyampingkan yang lain. Tapi tak bukan adalah untuk menjaga kestabilan dan equilibrium keharmonisan keluarga dan terpenuhinya tangki cinta untuk semua pihak (terutama anak) serta mencegah absence (ketidakhadiran) sosok yang seharusnya bertanggung jawab sesuai perannya sehingga memungkinkan kita untuk mengambil peran dan tindakan yang bukan milik dan tempatnya.

Konstelasi keluarga diperlukan untuk mengenali trauma yang diwariskan, mengkompensasi masa lalu, memaafkan, dan menerima diri seutuhnya sehingga kita mampu untuk bertranformasi menjadi manusia yang merdeka dalam mencintai dan berperan dengan sepenuh hati.
Profile Image for Azfa.
297 reviews2 followers
May 8, 2025
#temanduduk📚

⚠️ 18+

#FamilyConstellation adalah sebuah metode terapi yang ditemukan dan dikembangkan oleh Bert Hellinger (Psikoterapis Jerman) dengan menggunakan 'sejarah keluarga' sebagai alat untuk memahami dan memecahkan banyak permasalahan seperti kecanduan, kecemasan, depresi, trauma atau luka batin, serta masalah lain yang berbasis hubungan relasi. Metode ini cukup populer, hingga akhirnya digunakan oleh penulis sendiri yang memang sebagai seorang terapis konstelasi keluarga. Nah di dalam buku ini, penulis memaparkan apa itu Family Constellation, bagaimana prinsipnya, mengapa perlu memutus warisan trauma, serta mengapa perlunya menggunakan metode ini.

Sejujurnya, aku tertarik membaca buku ini karena mendapat bocoran kalau di buku ini ada bahasan tentang 'attachment style', yang mana saat ini banyak disuarakan dan cukup sering lewat di berandaku. Siapa sangka, ternyata yang dipaparkan penulis bukan hanya tentang itu, tapi lebih dalam mengapa gaya keterikatan itu bisa terbentuk pada diri manusia dan memang ada hubungannya dengan sejarah keluarga.

Dari apa yang dipaparkan penulis mengenai Prinsip Konstelasi Keluarga, bagiku itu bukan hanya tentang suatu metode tapi juga jawaban yang membantu dalam belajar menerima 'takdir' dan usaha pulih dari luka pengasuhan serta luka masa lalu lainnya.

Adapun pinsip-prinsip konstelasi keluarga itu di antaranya;
1. Orangtua memberi cinta, Anak menerima Cinta. Fenomena yang terjadi, bahkan dari pengalaman diri sendiri memang ya kebanyakan saat ini, prinsip itu berjalan kebalikan, di mana anak yang malah berperan memberi atau istilahnya 'parentifikasi'. 🥲
2. Keseimbangan pada memberi dan menerima.
3. Kewajiban yang inklusif, yaitu setiap anggota keluarga memiliki hak untuk dimiliki dan menjadi bagian (belong) jika tidak terpenuhi makan akan melahirkan belitan² pada sistem keluarga.
4. Setiap orang menanggung nasibnya masing-masing.
5. Urutan cinta. Lebih jelasnya silakan baca sndiri ya 😁

Apa yg penulis paparkan bgiku kbnyakan adl definisi dr mengimani takdir, kita ngga bisa ubah apa yg sudah lewat, tapi Kita bisa memutus hal-hal yang tidak baik itu, demi bisa pulih dengan belajar ikhlas berdamai dengan takdir. Cukup sebatas tahu apa yang terjadi pada sejarah keluarga, bukan untuk menuntut pertanggung jawaban atas luka dan sakit yang diberikan tetapi untuk memberikan pemaafan dan melepas belitan. Cukup membenci sikapnya, namun tetap belajar menghormati keberadaan sosoknya yang memang tidak bisa disembunyikan apalagi diputus ikatannya.

Aku menjadi ingat suatu nasihat yang entah dari siapa tepatnya, utk berhati-hati dalam perkara membenci. Kita boleh membenci kejahatan, ketidak adilan sikap, kekerasan atau kebiadaban yang dilakukan seseorang, tapi jangan pernah membenci orangnya cukup sikapnya saja. Sebab, ketika kita membenci orangnya, berusaha mengganggapnya tidak ada, malah tanpa sadar hal-hal buruk itu justru secara perlahan dilakukan oleh diri sendiri yang membenci. Ada banyak contoh terjadi di depan mata sendiri. 😢

#jejak_sibuku
Profile Image for Aulia Esa.
65 reviews4 followers
November 19, 2025
𝐓𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧𝐝𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐫𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐞𝐝𝐚𝐦𝐚𝐢𝐚𝐧 - 𝐡𝐥𝐦 209

#WorthtoRead Family Constellation - Meilinda Sutanto | Penerbit Elex Media | 352 hlm | Publish 2023

Tertarik baca buku ini dari rekomendasi Ka @mariannerumantir . Denger podcast bersama penulis di youtube @tsmediaid

Aku cukup puas membaca buku ini. Menjawab keingintahuan ku tentang konstelasi keluarga, disfungsi keluarga yang turun temurun dan cara memutus rantai trauma.

⭐️ Studi menunjukkan peristiwa traumatis dapat merubah kimiawi dalam DNA.

Konstelasi keluarga adalah metode terapeutik yang ditemukan dan dikembangkan oleh Bert Hellinger (Psikoterapis Jerman)

Ada 5 prinsip konstelasi keluarga.
■ Prinsip pertama : Orang tua memberi cinta, anak menerima.
■ Prinsip kedua : Keseimbangan pada memberi dan menerima.

Aku mencatat banyak pengetahuan baru dari buku ini
Diantaranya, ada 4 jenis luka batin masa kecil, 4 jenis trauma yang dapat menyebabkan penyakit mental, serta sebab rasa malu dan cara mengatasinya.

"Membantu yang ikhlas mempunyai dua komponen yaitu mau dan bisa" 266

"If you don't like the story you're living in, you are the only one who can change it." 314

Recommended untuk yang mau tahu akar trauma seseorang, memperluas perspektif untuk tidak mudah menghakimi orang lain
Profile Image for Susilo Utomo.
27 reviews
October 10, 2024
Family Constellation - Meilinda Sutanto

Buku yang cukup oke, mengenalkan metode baru untuk mengatasi konflik keluarga. Metode yg dinamakan Family Constellation ini menggabungkan role play dan sesi percakapan terapis, yg seringkali kita tidak dapatkan marena kurangnya kemauan ngobrol antar anggota keluarga, kekecewaan dan trauma pada keluarga.

Di buku ini diusulkan untuk menyelesaikan segala beban dalam keluarga dengan cara mengakui, menerima, memaafkan, lalu memisahkan nasib kita dan nasib keluarga besar, supaya karma mereka tidak mengikuti kita.

Karma memang tergantung kepercayaan, ad yang percaya dibawa diri sendiri, diteruskan keluarga, antar generasi, tpi ad juga yang tidak percaya. Pada akhirnya kembali ke kepercayaan masing². Tidak ada metode yg pasti cocok buat semua org, tpi kita bisa memilah mana yang oke.

Metodenya baru di Indonesia, membuat saya awalnya tertarik. Tapi setelah membaca buku ini, lebih banyak menjelaskan soal metode sehingga terkesan hardsell. Beberapa bagian juga diulang², dan ada yang kelihatan hasil translate yang belum dirapikan. Mungkin karena cetakan pertama, jadi tidak sebagus cetakan² selanjutnya.

Overall 2.5/5

#books #bookstagram #family #selfhelpbooks #familyconstellations #meilindasutanto
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews
December 10, 2025
This is a book that's genuinely difficult to finish-not because it isn't good, but because every page invites deep reflection and contemplation.

One of the most important takeaways for me is the idea that we are shaped by our families and the histories we carry. Because of that, healing often requires us to address unresolved issues within our family. When we choose to avoid them, it's very possible that the same problems will keep appearing in other parts of our lives, such as in friendship, relationship or work

The book also emphasizes that every couple comes from different family backgrounds, which is why understanding your own family dynamics is essential before entering marriage. Although the author isn't a psychologist, this book still makes for a meaningful and insightful popular read.
Profile Image for Wanderbook.
127 reviews40 followers
January 10, 2026
Buku yang menarik buat menelusuri akar permasalahan keluarga. Bagusnya kita bisa pakai dua sudut pandang dalam membaca buku ini. Sudut padang sebagai anak dan Sudut padang sebagai orang tua.

Pasti bakal ikutan refleksi kita ada di kondisi yg mana pada beberapa pembahasan di buku ini. Misalnya attachment style kita dg orang tua gimana, attachment kita ke anak yg mana. Atau ttg peran dalam keluarga apakah kita cenderung anak emas atau pendamai atau kambing hitam dll.

OK buat refleksi tapi harus dalam kondisi OK buat baca. Ada beberapa trigger warning juga dalam buku ini yang ditandai. Di akhir akan ada checklist apakah kita butuh teeapi konstelasi keluarga atau tidak.
Profile Image for betardine.
7 reviews
March 21, 2025
Penulis mengawali buku ini dengan baik, di mana banyak hal-hal yang kontra dari apa yang society sudah ajarkan turun temurun. Namun, di bab-bab terakhir pembahasan jadi tidak terlalu dalam, fokus pada klasifikasi tipe2 anak dan lebih terasa seperti promosi Family Constellation.
Profile Image for Perkarabaca_.
2 reviews
April 27, 2025
Dalam buku ini dijelaskan bagaimana posisi kita pada sebuah keluarga.
Melalui buku ini saya berhasil melalui proses berduka dan menyadari bahwa tugas utama kita sebagai anak ialah memutus keburukan yang diwariskan oleh orang tua dan nenek moyang kita untuk selanjutnya memperbarui dan membentuk pola yang lebih baik. Meski butuh kebesaran hati yang penuh untuk mengakuinya.
Wajib dibaca oleh kamu yang merasa butuh membenahi beberapa hal terkait diri dan pola dalam berkeluarga...
Profile Image for Llima.
75 reviews
April 16, 2025
struktur kalimat dan kata katanya kaku agak susah dipahami, but a very good knowledge
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.