Jump to ratings and reviews
Rate this book

Urang Sunda jeung Basa Sunda

Rate this book

184 pages, Paperback

First published January 1, 2007

5 people are currently reading
79 people want to read

About the author

Ajip Rosidi

137 books55 followers
Ajip Rosidi (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Taman Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.

Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).

Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.

Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Sejak 1981 diangkat menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehi-dupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanahair dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (35%)
4 stars
17 (50%)
3 stars
5 (14%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
142 reviews
July 9, 2010
Pertama, terima kasih buat Erie GRIB yang menghadiahkan buku ini.
Buku ini memenuhi kebutuhan saya untuk memperoleh informai tentang budaya Sunda, hadir tepat pada waktu saya memerlukannya.

Buku ini berisi artikel-artikel Ajip Rosidi yang pernah ditulis di majalah bulanan berbahasa Sunda, Cupumanik. Beberapa artikel mengungkapkan keprihatinan Ajip tentang penggun bahasa Sunda yang semakin berkurang sehingga dikhawatirkan pada suatu hari, alih-alih berkembang, bahasa ini akan punah. Beberapa artikel mengutarakan tentang polemik yang dialaminya dengan lembaga budaya Sunda maupun beberapa tokoh yang menjadi pejabat dalam pengembangan budaya Sunda.

Buku ini membuat mata saya lebih terbuka bukan saja tentang kekayaan bahasa Sunda (bukan saja tentang undak-usuk basa, yang tidak begitu disetujui oleh Ajip karena dipandang sebagai warisan feodalisme ala Jawa dan kerapkali menghambat orang untuk mau berbahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari) melainkan juga tentang banyak hal yang terkait dengan ke-Sunda-an. Bahasa Sunda sehari-hari dengan kekayaan kosa kata dan penuturan yang mengalir dengan diselipi humor segar, yang digunakan Ajip dalam menulis artikel-artikel ini membuat saya seolah sedang mengikuti kursus bahasa Sunda yang menyenangkan. Kalaupun tidak dimaksudkan sebagai humor, kadang membaca kata dalam bahasa Sunda menimbulkan sensasi yang menggetarkan urat-urat senyum, tawa, gelak.
6 reviews
November 3, 2007
Hmmm... ngajawab saha ari urang sunda teh. ti iraha sunda jadi bangsa
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.