Dayang Noor menerusi Solo di Kuala Lumpur, mengundang kita untuk menyelami jiwa solo (read: janda) di tengah hiruk pikuk kota metropolitan. Novel ini menghadirkan potret hidup 2 wanita, Aini dan Suraya, yang masing - masing membawa beban dan luka masa lalu yang berbeza. Melalui kisah mereka, kita diajak merenung tentang makna kebahagiaan, kehilangan, dan pencarian jati diri.
Orang kata Kuala Lumpur adalah sebuah kota yang tak pernah tidur; ia menjadi saksi bisu perjuangan Aini dan Suraya. Aini, yang terbungkus dalam duka yang mendalam, berusaha mencari erti hidup baru di tengah kesunyian. Suraya pula, hidup dalam ketakutan, berjuang untuk masa depan anaknya. Ketika 2 dunia ini bertembung, konflik dan rahsia tersembunyi mulai terungkap. Ini adalah kisah tentang kekuatan persahabatan, cinta, dan perjuangan untuk bangkit dari kepayahan hidup. Novel ini akan membawa kita menelusuri perjalanan yang penuh liku, di mana kita akan menyaksikan bagaimana luka dapat sembuh dan harapan dapat tumbuh.
Plotnya agak menarik sebenarnya, mengikuti alur 2 karakter yang saling melengkapi. Konflik yang dibangun, terutama seputar masa lalu Suraya, berhasil menciptakan ketegangan yang efektif. It just that, beberapa bahagian, especially ending novel ni agak terburu-buru, menjadikan beberapa plot twist terasa kurang kena pada masa dan tempatnya.
Karakter Aini dan Suraya juga digambarkan dengan cukup kompleks, membawa latar belakang dan permasalahan yang berbeza. Namun, pengembangan karakter masih boleh digali secara lebih mendalam lagi especially beberapa aspek psikologis pada Suraya, masih terasa dangkal, sehingga sulit untuk aku benar-benar memahami motivasi dan tindakan yang dia ambil.
Aku nak puji gaya bahasa Dayang Noor - sangat indah dan mampu menciptakan nuansa yang syahdu dan melankolis. Satu je komen aku - agak repetitive dan monoton at times menjadikan pengalaman pembacaan terasa kurang variatif especially pada awal dan pertengahan plot. Penggunaan metafora dan simbolisme juga terasa kurang eksploratif dan sedikit janggal.
Tema solo, kesunyian, kehilangan, dan pencarian jati diri yang diangkat dalam novel ini aku rasa amat relevan dengan kondisi masyarakat urban saat ini. Cuma executionnya agak klise dan aku boleh tebak tepat.
Overall, it was a! OK read. Yang berhati jiwang karat akan suka novel ini.
2.8 / 5 stars