Mama marah besar karena Michi mau ikut ujian masuk universitas di kota X! Michi dilarang pergi, tapi dia nekat berangkat diam-diam ditemani Levi, sahabatnya. Namun di hari keberangkatan, secara ajaib Mama berubah jadi kucing!
Lewat mimpi aneh di malam sebelumnya, Michi tahu bahwa hanya ciuman cinta sejati dari setiap anggota keluarganya yang bisa mengubah Mama kembali jadi manusia. Bersama Papa dan Levi, mereka berempat memulai perjalanan ke kota X untuk mendatangi Rene, kakak Michi.
Sifat Mama yang keras membuat perjalanan itu tidak mudah. Apalagi di tengah jalan, mereka dikejar-kejar tiga orang misterius yang mengancam nyawa mereka sekeluarga!
Seperti yang sempet kubilang, baca buku ini rasanya nano-nano. Kocaknya ada, terharunya ada, tegang (dikit) juga ada. Dan sebenernya aku juga kepikiran sih kok penulisnya bisa punya ide bikin cerita begini ya?! Tapi serius deh kurasa kak Kai Elian idenya emang ada-ada aja sih wkwkwk ini tuh buku ketiga yang kubaca dan ketiganya tuh punya cerita yang fresh. Teori Tawa ngomongin soal stand up comedy dan salah satu tokohnya tu gabisa ketawa. Lalu Vermilion Rain. Ini sih kyknya vibesnya paling beda dari ketiga novel ini (ya secara genre juga beda sih) tapi sama-sama menarik. Vermilion Rain menceritakan sebuah desa dengan fenomena hujan yang aneh. Hal yang paling kuinget adalah plot twistnya bejibun... terus baru nongol di akhir. Aku pas baca beneran kyk 😧😧😮😮😲
Kemudiann novel ini. Judulnya panjang dan pas ditawarin buat review ini (yes i have to disclose bahwa ini partnership review yah) awalnya aku mikir... ini buku tentang apa ya? Bener-bener gakebayang ceritanya bakalan tentang apa, apakah happy/sad ending, apakah apakah begini begitu?!?!
Ternyata novel dengan plot absurd (in a good way) ini ngomongin generational trauma. Plot secara garis besarnya bisa kalian baca di sinopsis buku ini—bener2 ya emang begitu adanya sih ceritanya. Tapi sebenernya buku ini lebih dari itu. Buku ini ngomongin tentang parenting. Tentang gimana dampak perlakuan orangtua kepada anaknya. Tapi bukan dengan tone mengkritisi apa gimana, buku ini justru nunjukin bahwa tentunya orangtua tuh bisa bikin salah, kan mereka manusia. Hal yang jadi masalah adalah tindak lanjut dari kesalahan tsb—apakah mereka belajar dari kesalahannya atau justru ga merasa itu sbg kesalahan jadi ya diteruskan aja perlakuan itu. Ga hanya itu, buku ini juga ngomongin soal memaafkan. Baik memaafkan orang lain maupun memaafkan diri kita di masa lalu. Selain itu pesan moralnya adalah jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional kalo merasa kurang 'stabil' daripada 'ketidakstabilan' kita justru membahayakan orang.
Itu dulu dehh review benerannya aku bahas di ig aja nanti yaa~ ditungguuww <3
Oiya rate dari aku 4.8/5⭐️ dehh! Very worth to read~
“Ada orang yang bisa melihat yang terbaik dalam situasi terburuk. Tapi ada juga yang hanya melihat hal terburuk dalam situasi paling baik sekalipun.” (Oma). . Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Sepertinya aku tertipu dengan covernya 😖. Masih suka cara berceritanya, lucuuu pasti, hangat juga, suka manisnya nggak banyak tapi ngena, nyeseknya hampir bikin mewek. Novel ini bercerita tentang keluarga Michi. Tentang hubungan antara orangtua dan anak. Tentang kecewa sama kehidupan, komunikasi, memaafkan, tentang keras nggak sama dengan tegas, tentang menyadari kesalahan juga berusaha untuk meminta maaf dan tentang berani berubah menjadi lebih baik lagi. . Aku suka semua tokoh di dalam novel ini. Suka kebaikan Mama Michi. Suka Michi meskipun dia suka nggak tahan dengan Mamanya tapi dia… pokoknya salutlah 👏🏼. Suka Om Allen dan Oma 🥰. Penasaran juga sama rasa mie masakan Oma. Waktu baca ini diingatkan lagi sama kata-kata ini, “Ada hal-hal yang nggak bisa diubah, meskipun kita udah mati-matian berjuang. Don’t be so hard on yourself, ya.” (Om Ben). Pokoknya masukkan novel ini ke dalam bacaan kalian yaa 😊. Thank you Kak Kai Elian sudah menuliskan kisah keluarga Michi. . “Mungkin tujuan hidup Om nggak sehebat orang lain, tapi itu cukup. Kamu sama Rene bikin Om tahu bagaimana rasanya jadi orangtua. It’s the greatest feeling in the world.” (Om Allen). . ‘Ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan hanya sanggup dipahami pakai hati’. (Michi). . “Tante Helen susah mengontrol emosinya,”— “Tapi karena seseorang bikin satu kesalahan, bukan berarti dia orang jahat. Ingat itu, ya, Levi.” (Tante Lina). . “Ini nggak semudah menambal luka pakai plester, Re. Dari dulu, Helen memang agak keras. Kita nggak tahu pasti apa yang dirasakan dan dipikirkan mama kamu. Makanya kita nggak boleh menghakiminya.” (Om Allen). . “Memaafkan mama kamu pasti berat, tapi setidaknya cobalah. Terus memendam dendam dan benci, sama seperti menyimpan sampah di dalam hati. Dan itu yang bikin hati jadi pahit dan keras, seperti hati mama kamu.” (Oma).
Belajar menjadi manusia yang lebih baik dari K̶u̶c̶i̶n̶g̶ Mama Macan.
Apa yang akan kamu lakukan bila Ibu kandungmu berubah jadi kucing? Michi sempat kaget waktu Mamanya yang super bossy & control freak itu berubah jadi kucing yang bertotol seperti macan. Segala upaya dilakukan Michi supaya Mamanya kembali ke wujud aslinya.. darisini petualangan pun di mulai..
#PJJABMM bercerita ttg hubungan orang tua & anak, juga hubungan antara pasangan suami istri tapi dikemas dengan unik. Alih-alih menggurui pembaca, kita justru akan dibawa ke berbagai macam sensasi😆 Di satu momen, kayak lagi diajak petualangan seru.. kejar-kejaran sama waktu & tragedi, tapi di momen yang lain malah kayak lagi lihat drama keluarga, belum lagi emosi yg kurasakan waktu membacanya.. kadang tuh dibikin senyum-senyum, kadang dibuat kesal.. ada momen yg buat aku kepancing emosinya🤣 tapi disatu sisi aku juga haru.. lah di momen lain malah jadi termotivasi😄 buku ini “penuh” dengan caranya sendiri.
Buku ini ditulis dgn POV 1—menggunakan POV dari ketiga tokoh dalam buku ini (Levi, Michi & Rene) meski POV nya campur-campur, tapi aku nggak menemukan kesulitan membedakan suara mereka. Ketiganya jelas berbeda. Bukan sekedar mengubah kata ganti kepada diri sendiri menjadi aku & gue aja.. tapi secara habit, pola pikir & responnya terhadap masalah jelas ketiganya berbeda.
Fokus cerita jg terjaga sampai akhir..nggak melebar kemana-mana. Yang paling aku suka tuh ada background story yang cukup jelas dari masing-masing tokoh dlm buku ini, pemaparan sebab-akibatnya jelas, yes semua tokoh kebagian porsinya. Jadi, sebagai pembaca aku kayak nggak dikasih ruang buat menghakimi, jd kasian gak sih🥲 Apalagi sama Mama Macan.
Buku ini jg mendeskripsikan trauma lintas generasi lewat emosi-emosi yg dirasakan Mama Macan.. ada kerinduan, keputusasaan, kecemburuan, kesepian.. menjadi orang tua itu memang bukan hal mudah.. bahkan untuk sekedar berempati dgn perasaan anak saja perlu loh untuk belajar… pun belajar utk meregulasi emosi kita dihadapan anak… please jgn jd kayak Mama Macan🙏🏻
"ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan hanya sanggup dipahami pakai hati."
mama marah besar saat tau michi mau ikut ujian masuk ke universitas x, padahal michi sudah diterima di universitas bergengsi dengan jurusan kedokteran. tapi michi malah memilih universitas di kota lain, swasta dengan jurusan yang tak sesuai kesepakatan awal pula, hal itu membuat mamanya marah besar dan mati-matian melarang. tapi michi tetap berangkat diam-diam bersama levi, sahabatnya. namun tepat dihari keberangkatan, mamanya berubah menjadi kucing bengal. lewat mimpi dimalam sebelumnya, michi tau kalau hanya ciuman sejati dari setiap anggota keluarga yang bisa membuat mama kembali menjadi manusia. masalahnya, rene, kakak michi sedang tidak ada di kota ini karena bekerja di kota x.
karena itulah, mereka sekeluarga, ditemani oleh levi, memutuskan untuk pergi ke kota x detik itu juga. mereka panik karena menurut kisi-kisi dimimpi, mereka hanya punya waktu sampai tengah malam untuk mengembalikan mamanya menjadi manusia, kalau tidak mamanya akan menjadi kucing untuk selama-lamanya. situasi yang tegang ditambah sifat mamanya yang penuh amarah membuat perjalanan itu sama sekali tak mudah, apalagi ditengah-tengah perjalanan, mobil mereka dikejar oleh tiga orang misterius yang mengancam keselamatan mereka.
drama keluarga dengan unsur magical realism ternyata bisa jadi kombinasi yang unik dan menarik. konflik tentang keluarga yang diangkat terasa dekat, penggambaran karakter helen yang dijuluki mama macan sama anak-anaknya ini persis kayak ibu-ibu asia pada umumnya, gundah gulana yang dirasakan michi sama rene juga gue yakin pasti banyak relatenya sama pembaca. scene pertama yang dekat, semakin diperkuat sama scene drama diawal yang nunjukin tante helen (buset levi lu manggil tante) jadi kucing. gue sangat mengapresiasi reaksi natural yang super local (langsung diasosiasikan sama santet dan disuruh cari dukun) ini keliatan kecil, tapi sebenernya penting, bikin cerita jadi semakin nyata karena dekat sama realita masyarakat kita.
road trip yang super hectic dan chaos sukses bikin gue gabisa berhenti baca, bumbu-bumbu action yang ada bikin ketegangan jadi makin besar, ditambah misteri yang berhasil bikin pembaca penasaran dan diungkap diwaktu yang sangat tepat. selipan adegan flashback itu sebenernya kayak nyebar kepingan puzzle, tugas pembaca adalah nyatuin kepingan itu buat tau alasan kenapa keluarga michi bisa jadi seberantakan ini. kalau buat gue pribadi, nyatuin kepingan puzzle itu bukan tugas yang sulit, gue udah nebak alasan dibalik sifat keras tante helen. cuma cara penulis kasih tau ke pembaca lewat scene-scene yang mengharukan itu tetep kasih efek mematikan.
perasaan gue campur aduk selama baca ini, disatu sisi gue paham perasaan michi dan rene, tapi disisi lain gue juga berempati ke tante helen. ada satu kutipan dari oma yang gue suka, "orangtua juga manusia; seberapa gigih kami mencoba, kami tetap manusia." tapi semua orangtua, terutama ibu, selalu pengen jadi dewa buat anak-anaknya, dia pikir itu cara terbaik untuk melindungi mereka. padahal, seorang anak pengen orangtuanya jadi manusia kayak mereka, biar bisa saling memahami satu sama lain. karena dewa dan manusia itu beda, mungkin itu yang bikin orangtua dan anak nggak pernah bener-bener paham satu sama lain, simply, karena mereka adalah dua species yang berbeda.
sulit untuk menemukan kelemahan dibuku ini, 95% gue sangat menikmati, 5% nya disatu scene akhir yang sebenernya penting banget, tapi gue nggak paham karena terkesan buru-buru, penggambarannya juga nggak gamblang sampe bikin pembaca kayak gue kebingungan. diluar itu, gue suka banget, banget, banget, sama buku yang membawa gue kembali merasakan berbagai elemen perasaan, dari haru, marah, tegang, sampai ngakak kocakpun diterjang (sumpah beberapa humor kacau parah, gue nggak bisa nahan ngakak tengah malem) cocok buat bacaan ringan karena nggak terlalu tebal, cuma 300 sekian halaman, terus konfliknya meski rada berat tapi ketelan. well, drama keluarga meski bawa konflik seklise apapun kalo eksekusinya bagus pasti tetep ngena dihati pembaca, buku ini salah satunya.
Apakah kamu pernah merasa keluarga itu dekat, tetapi rasanya jauh? Aku langsung sedih dari awal buka buku ini. Semacam, aku menduga pola khas dari situasi tertentu. Dari ekspetasiku, aku menuntut penulis berupa penjelasan lebih jauh. Aku meminta adanya sebab-akibat yang jelas. Dan, ternyata, penulis menggenapi tagihan itu. Ada jawabannya. Aku menyimpulkan penulis mempelajari / memberi perhatian pada konflik-konflik keluarga karena kasus seperti ini persis dapat kita temukan terjadi baik dalam wujud yang ringan (tak disadari) maupun berat. Aku sempat terhenti membaca karena membayangkan pola situasi ini bakal ke mana, yakin pasti sedih. Mungkin, itu juga yang bikin aku tidak terlalu terpukul ketika kenyataannya terkuak. Aku sudah mempersiapkan diri. Pun, benar buku ini untuk 17+ karena kurasa pembaca harus melahapnya secara kritis meski masih tetap cocok dalam batasan Young Adult.
Buku “Panduan Jalan-jalan Aman Bersama Mama Macan” (PJJABMM) menjadi karya ketiga dari penulis yang kubaca. Tapi, PJJABMM yang paling kusuka. Buku ini cocok untuk pembaca yang gemar berfokus pada penokohan/psikologi tokoh sambil diselingi ketegangan ringan dan komedi. Terlebih, buku ini rasanya heboh sekali. Oke tokoh A tersakiti, baik tokoh B terluka parah, benar tokoh C terpuruk berat, tentu tokoh D serba salah, tokoh E juga, tokoh F juga~ Aku (sangat) harus menekan perasaan dan pikiranku demi memahami semua orang. Aku dirusuhkan dengan sekian sudut pandang yang sama-sama memiliki alasan.
Sebagai pembaca, kita biasanya berpihak dan memperjuangkan tokoh yang dianggap benar. Tapi di sini, aku (seolah) terikat. Kekusutan yang terjadi di dalam keluarga ini satu sama lain karena setiap mereka yang perlu dipahami. Justru, itu menjadi benang yang acak-acakan. Bukan tentang mana yang menciptakan kondisi buruk, tapi bagaimana kekusutan itu teruraikan. Buatku, bagus banget penulis menggambarkan kepusingan dalam sebuah keluarga. Jadi, seberapa intens kita saling memerhatikan sebenarnya? jangan-jangan jauh?
Siapa sangka cover secantik dan se-color full ini ternyata isinya angst 😭 awal-awal baca buku ini, kerasa bgt nuansa keluarga Michi penuh humor. Apalagi kelakuan bapaknya yang random 🤣 Tapi siapa sangka kalau cerita ini berubah nyesek semenjak mama Michi terkena kutukan.
Plot nya yang absurd, karena tiba-tiba mereka dikejar penjahat, nemu narkoba, digigit ular, dan banyak lagi kejadian rando lain. Lagian ada-ada aja plot nya 🤣
Selama baca ini rasanya campur aduk. Humornya ada, tegangnya ada, sedihnya ada, marahnya apalagi. Aku sempat mengira buku ini semacam fantasy comedy gitu. Tapi ternyata isinya lebiiiiiih dari itu.
Buku ini justru lebih menceritakan keadaan keluarga yang broken home. Bagaimana trauma orang tua sangaaaat berpengaruh terhadap pola asuh anak. Bagaimana tangki cinta sang Mama yang kosong karena kesepian, tekanan dan paksaan di masa lalu membuat emosinya berantakan. Parenting yang salah membuat anak tumbuh dengan perasaan tertekan dan tertahan.
Keadaan keluarga yang diujung tanduk, membuat Michi dan seluruh anggota keluarganya akhirnya mengeluarkan bom waktu. Bom yang menyakiti perasaan sang mama.
Sebagian besar dari kita yang telah terlahir di dunia ini mendapatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman menjadi anak. Dan, sekian tahun kemudian, ketika segalanya berjodoh dengan kehendak Ilahi, para anak ini pun akan merasakan pengalaman menjadi orangtua. Aku termasuk salah satu orang beruntung yang bisa merasakan dua pengalaman tersebut sejauh ini: menjadi anak, dan menjadi orangtua. Saat baru menjadi anak, aku cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang anak; mirip seperti seekor katak yang sedang mendongak. Namun sebagai orangtua, sudut pandang itu pun berubah; kali ini aku harus melihat segalanya dari atas, menyerupai elang yang melihat ke bawah. Hal-hal yang dulu hanya bisa kupahami lewat sudut pandangku sebagai anak, kini terasa berbeda. Meski begitu, perubahan ini membantuku memahami hal-hal dengan lebih menyeluruh. Kini aku bisa melihat kedua sisinya sekaligus — karena bukankah segala sesuatu selalu punya dua sisi?
Dan sungguh, aku pun menyadari bahwa hubungan anak dan orangtua itu nyatanya sesuatu yang rumit. Tidak melulu indah, tentu. Bahkan seringkali dipenuhi "tantangan-tantangan" yang butuh lebih dari satu sudut pandang untuk dipahami dan diterima dengan sepenuh hati.
Itulah alasanku menuliskan cerita ini.
Mungkin ini alasan yang klise, tapi kurasa apa yang ingin kusampaikan lewat cerita ini penting untuk dipahami setiap anak yang (sudah/akan) menjadi orangtua. Bukan topik yang mudah, tetapi bukankah fiksi selalu bisa menjadi wadah untuk menumpahkan segala keluh kesah?
jujur aku suka banget sama buku ini, tapi aku gak bisa kasih bintang lima karena ... sebenernya mungkin keliatan sepele tapi aku bener bener gak suka kalau ada kata "gue" di narasi. aku tetep lanjut baca sampai tamat karena ceritanya menarik 👌
buku ini selang seling pov nya, seingatku sama seperti di dalam buku teori tawa. kita akan dibawa mengikuti kisah michi, rene, dan levi. michi dan rene adalah kakak beradik, levi adalah teman michi.
rene, kakak michi, merantau di kota x. michi mendaftar kuliah di universitas x, namun sang mama nggak setuju. bagi michi dan rene, mama adalah orang yang suka mengontrol segala hal, sampai ke hal kecil. mama bisa mengamuk jika ada hal yang nggak sesuai dengan keinginannya.
kata kata dan tindakan mama kerap kali membuat orang di sekitarnya sakit hati. tiba tiba pada hari michi mau ke kota x untuk ujian masuk kuliah, mama berubah menjadi kucing, tepatnya kucing bengal, kucing dengan loreng mirip macan.
mama macan, mama yang suka mengamuk. jujur aku sempat menghakimi sifat mama karena aku merasa bisa bersimpati pada michi dan rene, mengingat aku mengalami hal yang kurang lebih sama dengan mereka 😌
tapi seiring berjalannya waktu, alasan di balik sikap keras mama terungkap, yaitu trauma lintas generasi. aku harap kalau di masa depan aku punya anak, aku bisa memutus trauma lintas generasi ini.
menurut aku cerita ini paket lengkap. kekeluargaan ada, persahabatan ada, percintaan ada, kesehatan mental ada, fantasi ada, kejar kejaran ala james bond pun ada 😅
aku suka gimana penulis mengakhiri cerita. aku gakpapa kalo baca kalimat gak baku, tapi kalo ada kata "gue" di narasi itu sih ... aku agak kurang suka 🥲
tapi!! terlepas dari itu aku suka banget sama ceritanya 🫶 peluk hangat untuk michi dan rene 🥹
Nggak nyangka dengan sampul se-kiyut ini ternyata premis ceritanya dark. Punya mama galak yang berubah jadi macan, dan cara mematahkan kutukannya dengan ciuman cinta sejati.
Seharusnya mudah ya, karena cinta sejati ini datangnya dari keluarga. Namun, ternyata sifat keras, emosian, pendikte, tidak mau kalah yang dimiliki Mama membuat sulit bagi keluarganya untuk memberikan ciuman cinta sejati.
Diceritakan dari tiga PoV, Michi dan Rene (anak-anak Mama Macan) dan Levi (tetangga sekaligus 'sahabat' Michi); Cerita dari sudut pandang anak-anak ini memberikan gambaran kebingungan dengan kondisi Mama yang labil, kelelahan selalu menuruti keinginan Mama, rasa berontak ingin menjauh; sedangkan dari sudut pandang Levi memberikan warna dalam alur cerita tentang kondisi keluarga Mama Macan dari orang luar. Meski premisnya berat, kekiyutan dan romantisasi dunia remaja sangat kenyal, juga selipan-selipan kekonyolan mereka.
****
Banyak luka-luka yang digoreskan hasil dari rantai luka-luka lama yang 'tetap' dibiarkan perih. Dan, kita yang membacanya, jadi belajar bahwa 'luka-luka' yang dirawat akan menumbuhkan macan di dalam diri kita. Masalahnya, jika pawangnya (akal dan hati) tidak mampu mengendalikan, maka si macan ini akan semakin beringas dan terus menyakiti siapapun yang ada di sekitar, bahkan tumbuh membesar mengalahkan pawangnya sendiri.
Paket lengkap. Cerita keluarga ada. Cerita persahabatan ada. Cerita cinta ada. Bahkan sampai ketegangan karena kejar-kejaran sama penjahat juga ada. Semua dibalut dengan road trip yang mengharu-biru. Layer demi layer ceritanya dikuak perlahan dengan sangat rapi. Tema besar novel ini adalah memaafkan sebagai langkah awal untuk bebas dari trauma lintas generasi.
Oh ya, di cerita ini, Levi diceritakan bekerja di Kafe Ceria untuk membantu kondisi ekonomi keluarganya. Kafe Ceria ini kafe stand up comedy yang ada di buku Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya. Menarik juga crossover-nya. Jadi pingin baca ulang buku itu buat ngecek apa di sana ada Levi hahaha.
Kurangnya cuma satu: seharusnya ilustrator buat sampulnya juga menggambar ilustrasi isinya. Lebih rapi. Ilustrator sampulnya Polamedia ternyata. Gak heran sebagus itu. Ah tapi ilustrator isinya itu penulisnya sendiri ya? Hahaha... Wah susah tergantikan ini hahaha.
Dan hubungan Rene sama Yujin gimana? Berakhir gitu aja karena pindah kota? Ahahaha. Gantung. But I like it that way since I don't support LGBT. Nu-uh!
Astaga... Semoga novel ini bisa difilmkan suatu saat nanti. Tapi kudu rame dulu nih yang baca. Aaaaaa.
Habis ini baca karya Kai Elian yang lain ah: Vermilion Rain.
Dua tema besar cerita ini adalah: keluarga dan mental health. Kalau ada yang tertarik sama dua topik itu, I think this book can be a good choice for your next read.
Hal yang mengena banget buatku adalah tentang gimana Michi nggak merasa ibunya berbeda karena dia terlalu "terbiasa" berhadapan dengan ibunya. Emang kalo kita nggak punya sudut pandang lain, what we face is what we define as normal. My heart goes to Michi 💖💖
Aku suka cerita ini bisa mengolah sesuatu yang berat banget (!) (Stigma tentang mental health, Baby blues, generational trauma, ekspektasi orang tua, luka pengasuhan, sampai hubungan keluarga) dengan cara yang nggak berat-berat amat dan cenderung absurd (karena ibunya berubah jadi macan! Trs tiba2 dikejar penjahat 😭) while the blurb does sounds weird, tapi semuanya penting untuk perjalanan keluarga Michi.
"ada orang yang bisa melihat yang terbaik dalam situasi terburuk. Tapi ada juga yang hanya melihat hal terburuk dalam situasi yang paling baik sekalipun" Hal. 254 . - Menjadi karya ketiga kak Kai yang saya baca dan pada bagian awal disuguhkan pertentangan yang melibatkan Michi dengan mama Helen a.k.a ibunya terkait dengan keinginan Michi untuk berkuliah di Univ X yang jauh dari tempat tinggalnya. Tentu saja, keputusan Michi, adalah pendapat yang tidak akan di ACC oleh Mama Helen. Tapi eh tapi, mengapa selepas pertentangan itu, yang terjadi justru mama Helen berubah wujud? Apakah mama Helen kena kutuk? Atau berubah wujud mengikuti shionya yang mungkin juga khodamnya? OK, sebelum makin ngawur kayak pikiran saya yg menulis ini, saran dari saya, baca novelnya!
- Bagian Michi yang sempat-sempatnya gugling jenis dan harga 'wujud mama Helen' di pasaran, lalu kalimat Michi tentang ibu peri yang belum lulus tes TOEFL, dan dialog ketika seseorang menanyakan nama lengkap Levi, sukses buat saya ngakak. Humor-humor selipan kak Kai, banyak kali membuat saya terkikik sampai ngakak. Bisa yah kak terpikir ide lawakan macam begini? hahaha
- Sejak cerita dimulai, saya merasa tokoh Mama Helen ini begitu memancing perasaan saya tuk berempati dengannya. Saya pikir, ketika sebuah tokoh dalam cerita digambarkan 'jahat' maka bisa saja tokoh tersebut menjadi sosok yang memikul hal berat. Setelah mendapatkan sudut pandang kak Kai terkait sebuah tema yang menurut saya kerap muncul di ketiga novelnya, saya merasa bisa memahami alasan mengapa saya bisa berempati dengan tokoh mama Helen. Apakah ada diantara teman-teman yang sudah membaca novel #PJJABMM ini, yg terpikir bahwa cara mama Helen bertindak dan alur berpikirnya, adalah bentuk dari respon traumanya?
- Kehadiran anak tetangga a.k.a Levi bagi saya pribadi tidak hanya menjadi pelengkap atau sampingan semata, namun lebih dari itu, menambah kesan manis juga menambah warna dengan porsi kemunculannya dalam cerita dan juga keikutsertaannya dalam 'jalan-jalan bersama mama Macan' ini. Livai a.k.a anak tatangga yang namanya jadi favorit saya dalam novel ini, kamu kiyowo bangettt
- Unsur shio yang dihadirkan, meski porsinya sedikit, tetapi buat rasa penasaran saya dengan pengetahuan terkait shio ini menjadi terpantik
- Adegan ketika Michi berada di toilet menjadi salah satu adegan penuh ketegangan yang saya senangi dalam novel ini. Seru!
- Terkait dengan siapa dan motif yang melatarbelakangi 'keikutsertaan' sosok-sosok yang mengintai keluarga Michi ini menurut saya adalah ide yang epik! Saya merasa terkecoh (terbawa pemikiran keluarga mama Helen) terkait alasan mereka diikuti sosok itu, ternyata ada bagian yang saya 'lewatkan' di beberapa bagian awal yang menjadi semacam petunjuk yang dapat menjawab alasan mereka dibuntuti. Aaaa seru!
-Diksi yang kak Kai gunakan bagi saya pribadi selalu menarik. Juga, penulisan beliau menurut saya rapi dan menjadi nilai tambah bagi karyanya. Keren.
- Fakta mengenai salah satu tokoh didalam novel #PJJABMM ini membuat saya tetap terkejut (meskipun sudah kena spill tipis dari penulisnya) meskipun pada satu sisi yang lain, saya merasa dapat memahami bahwa selain tidak mudah berada di posisinya, hal ini terkadang (atau bahkan sering) berdiri diantara batas yang abu-abu, karena ada pertentangan tergantung sudut pandang mana yang kita gunakan untuk melihat. Selain itu, fakta ini mengingatkan saya dengan alasan DSM-V menjadi pro kontra di Indonesia (anak psikologi dan jurusan yang pakai ini sebagai pedoman, harap tidak spill yah? wkwk)
- Konflik yang terjadi dalam novel ini membuat saya berpikir bisa memahami alasan mengapa tokoh Michi berkeinginan untuk masuk jurusan psikologi. alasan Michi menurut saya akan relate dengan beberapa anak-anak yang memilih jurusan psikologi, karena pada beberapa orang termasuk mahasiswa di angkatan saya memilih jurusan psikologi dengan alasan yang kurang lebih sama. Demikian, namun tidak semua memilih atas dasar seperti itu dan tidak semua mahasiswa psikologi akan sepakat dengan alasan seperti itu karena proses didalam jurusan ini wkwk. Atau mungkin kakak penulisnya mau join juga ke jurusan ini dengan alasan seperti Michi? hihi
- Terdapat ilustrasi dalam novelnya, yang kejutan, dibuat sendiri oleh penulisnya. Terasa makin istimewa yah?
- Beberapa ulasan yang saya baca, menurut saya pribadi, beberapa menyoroti bagaimana novel ini kuat memberikan gambaran tentang pola pengasuhan, terutama gambaran pola pengasuhan bergaya VOC parenting. Eum..,mungkin tidak keliru, apalagi melihat cara mama Helen memperlakukan keluarganya. Saya pribadi memiliki pandangan bahwa yang justru tergambar dari novel #PJJABMM ini adalah dampak dari trauma yang melewati lebih dari satu generasi. Meminjam istilah yang selalu dosen saya gunakan, ini semacam skema 'rantai lingkaran setan' yang tidak hanya melibatkan dua pihak. Juga, lewat review ini, saya ingin mencoba menuliskan bahwa respon trauma tidak selalu berbentuk ketakutan/penghindaran ekstrem terhadap sesuatu yang mungkin netral namun memicu ingatan akan peristiwa trauma. Dampak trauma juga bisa berarti kesiagaan yang berlebihan. Dalam kepala saya, perilaku mama Helen mengingatkan dengan salah satu istilah gangguan psikologis dalam literatur, namun disini saya belum memiliki kecakapan maupun wewenang untuk menegakkan diagnosis, selain karena ini adalah bahasan tentang isi novelnya hehe.
- Setuju dengan pendapat kak Sella (kak @claudieslibrary) bahwa penggunaan POV-1 dari ketiga tokoh didalam novel ini tidak membuat bingung dan justru memperlihatkan perbedaan pola masing-masing tokoh didalam merespon masalah yang sama.
- Senang sekali rasanya diberi kesempatan untuk membaca dan mengulas novel ini, dan lebih senang lagi karena novel ini insightfull dan porsi bawangnya nampol. Juga, novel ini membuat saya merenung tentang kata 'sakti' yang sepertinya menjadi salah satu kata yang muncul maupun yang tersirat dalam ketiga novel kak Kai.
Terima kasih sudah menulis ide yang keren dan pesan menghangatkan hati yang dibalut dengan diksi yang tidak kalah bagus ya kak Kai. Menantikan karyanya yang selanjutnya. Kalau bisa segera,hihi :)
"Kalau boleh jujur, sulit sekali untuk menyayangi Mama." —Michi, Hal. 209
Another masterpiece from Kai Elian. Kali ini membahas mental health issue, generational trauma, dan disfungsional keluarga yang dikemas dengan magical realism. Ya, Mamanya tiba-tiba berubah menjadi kucing ala macan dan hanya ciuman sejatilah yang bisa membuatnya kembali menjadi manusia.
-----
Sampulnya begitu lucu dan berwarna, tapi perlu diingat bahwa meski dikemas dengan unsur komedi dan fantasi, namun isinya tidak seberwarna itu. Trauma memang bisa diturunkan, bisa juga dihentikan dengan menyembuhkan diri sendiri agar tidak melukai generasi berikutnya. Begitulah yang ingin disampaikan dalam novel ini.
"Miris sekali kalau dipikir-pikir, bahwa dalam wujud kucing pun Mama masih membuatku terpojok." —Rene, Hal. 149
Karakter Mama di sini yaitu Helen, sukses bikin aku kesel sendiri. Aku kalau jadi Michi dan Rene mungkin udah kabur dari kapan tahun kalau punya Mama kayak macan model Helen. Keras kepala, over protective, suka marah-marah, pengekang, invading privacy dengan dalih harus tahu semua soal anak, dan banyak lagi. Pantes aja dikutuk jadi kucing (baca: macan).
Di sini pun tak hanya membahas peran Mama yang sungguh superior, tetapi bagaimana dampaknya peran Papa jika dia menjadi inferior. Lalu, hubungan dengan nenek dan om yang juga menghiasi dinamika keluarga Michi.
Ps. Tak lupa bahwa ini young adult, tentu ada momen cinta gemes nan tipis antara Michi dan Levi. Akhirnya, ya, setelah di Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya dibuat gantung atas kisah kasih cintanya, tetapi di sini dibuat terpampang jelas meskipun hanya di epilog. Makasih banyak lho 😅
Selain gabungan unsur diatas, hal yang bikin seru novel ini adalah sesuai judulnya. Jalan-jalan bersama Mama Macan yang ternyata penuh drama, emosi, menegangkan, mana ada adegan tembak-tembakan dan balapan ala film fast and furious.
Akhir kata, novel ini banyak mengajarkan aku tentang bagaimana keluarga yang bahagia itu bukan mereka yang berlimpangan harta, tetapi yang paling utama adalah kasih sayang dan memaafkan satu sama lain.
"Luka bisa dibiarkan atau disembuhkan, semuanya tergantung diri kita masing-masing. Cara terbaik untuk menyembuhkan luka adalah dengan memaafkan."
Buku ini lumayan sering seliweran dan banyak dapat review positif, dan akhirnya aku kesampean juga buat bacanya. Novel ketiga dari kak Kai yg aku baca dan aku suka banget. Dari segi judul dan cover yg fun dan full color, isinya lumayan jauh berbeda ya, memang ada unsur fun dan lucunya juga tapi ada bagian-bagian yg lumayan bikin emosi dan nyesek banget pas bacanya.
Mengangkat tema yg cukup berat tentang hubungan antara keluarga juga trauma dari orang tua yg control freak. Walaupun temanya cukup berat tapi diceritakan dengan narasi yg fun dan ada unsur humornya, membuat novel ini jadi enjoyable banget buat dibaca.
Banyak kejadian-kejadian yg lucu, absurd dan menegangkan sepanjang mengikuti petualangan Michi dan keluarga demi bisa mengembalikan mama Helen seperti semula. Juga ada hal yg cukup mengejutkan tentang kakak Michi, yg membuat novel ini semakin berwarna dan menarik untuk dibaca.
Aku cukup terkejut dan nyesek pas baca kisah masa lalunya mama Helen, ternyata dia menyimpan trauma sedalam itu 🥹. Ternyata selama ini dia bersikap keras pada anak-anaknya karena efek trauma yg dialaminya 🥹.
Dari novel ini kita bisa belajar untuk melihat segala sesuatu dari dua sisi, jangan hanya melihat sisi buruknya saja tapi cobaa cari sisi baiknya juga. Lalu jangan menyimpan dendam dan belajar untuk memaafkan, karena memaafkan bukan hanya untuk orang lain, tapi juga agar kita bisa merasa lega dan bisa lepas dari luka.
Overall aku menikmati banget baca novel ino, tulisannya enak dengan narasi yg fun, tema yg diangkat juga menarik serta banyak pelajaran yg bisa diambil dari sini. Rasanya nano-nano banget baca novel ini. Oh iya didalamnya juga ada ilustrasi lucu yg dibuat langsung sama penulisnya 😍. Recommended 👍👍
Tertarik beli dan baca karena judulnya + gambar cover yg rame wkwk. Ini novel karya Kai Elian kedua yang kubaca setelah "Teori Tawa". Overall, novel ini ringan dan menyentuh jiwaku yang masih pengen jadi remaja aja seterusnya🤭 walau awal-awal cerita ada bingungnya, terlebih sama karakter "Rene" kukira dia cewek, ternyata cowok, dan hmmm... aga ada unsur lgbt tipis² di cerita Rene yg udah dewasa, di akhir cerita pun ga ada lanjutan bagaimana hubungan Rene selanjutnya. Yang bikin greget dari novel ini menurutku tentu saja ada di para anggota keluarga Dharmawangsa terutama ibu Helen yg suka menyimpulkan sendiri, adegan kejar-kejaran, apalagi pas nyelonong masuk ruang operasi buat matahin kutukan "macan" wkwk🤣. Salah satu permasalahan tentang Michi yang mau masuk ke unuiversitas X dalam cerita bener-bener hampir sama dengan yang kualami tahun 2025 ini, entah kenapa di akhir-akhir masa sekolah malah banyak sekali muncul drama-drama yg bikin pusing. Andai aku baca novel ini pas masih belum lulus SMA pasti bakal lebih ngena lagi:")
Novel yang remaja-able bgt sih, romance pun tipis² aja 4/5⭐️
Bacaan hari minggu yang menyenangkan. Ada sedih, haru, lucu dan senyum-senyum juga. Bisa-bisanya Kai Elian ada ide begini, berubah jadi kucing hehehe. Petualangan keluarga yang seru. Dan kayaknya yang buat aku suka karena dialognya pakai bahasa sehari-hari yang enak dan berasa langsung sat set cepet gitu ceritanya. To the point.
Buku ini bercerita tentang Michi yang bersikeras untuk kuliah di Universitas X. Namun Helen, mamanya tentu menolak keras hal tersebut. Meski dilarang pergi, Michi tetap nekat berangkat bersama Levi, sahabatnya. Tetapi saat hari keberangkatan, Mama Helen berubah jadi kucing. Melalui petunjuk yang Michi dapat lewat mimpi, hanya ciuman cinta sejati dari setiap anggota keluarganya yang bisa mengubah mama kembali jadi manusia.
Masalahnya Rene, kakak Michi tinggal terpisah dari keluarga. Demi mengembalikan Mama Helen, mereka berempat kemudian pergi ke Kota X. Namun, perjalanan mereka tentu tidak mudah. Selain harus menghadapi sifat keras mama, mereka juga dikejar-kejar tiga orang misterius yang mengancam nyawa.
Buku ini tuh defenisi buku yang beneran bikin pembaca merasa jalan-jalan, tapi diiringi dengan kejadian-kejadian yang menegangkan😱
Di awal baca buku ini, aku lumayan kesel sama sifat mama Helen. Yang tukang ngaturlah, yang hanya mau pendapatnya yang di dengarlah. Tapi lambat laun, aku justru sangat bersimpati karena ternyata sifat tersebut juga memiliki alasan yang menyakitkan.
Ceritanya sendiri dijelaskan melalui tiga sudut pandang, yaitu PoV Michi, Levi, dan Rene, tapi yang dominan adalah PoV Michi. Dengan alur maju yang lumayan cepat bikin buku ini jadi page turner abis. Apalagi ceritanya juga diselingi dengan flashback tokoh-tokohnya yang bikin mataku berkaca-kaca—nangis. Dari flashback ini, aku jadi tau ternyata setiap anggota keluarga di cerita ini punya perasaan sakit yang dipendam. Latar suasana maupun latar tempatnya juga detail banget penjelasannya, yang bikin aku benar-benar bisa merasakan atmosfer ceritanya.
Menariknya, di buku ini diselipi dialog dan narasi yang bikin ketawa banget. Bahkan part yang harusnya menegangkan, berkaitan dengan tiga orang misterius, aku malah ngakak😭 Tapi bagus juga sih biar pembaca gak tegang-tegang banget pas baca buku ini.
Aku suka sekali dengan perkembangan karakter tokoh-tokohnya, terutama mama Helen. Oh iya, di buku ini juga ada romance-nya yang tipis-tipis banget. Jadi bagi yang gak begitu suka dengan romance, menurutku masih aman untuk membaca bukunya.
Isu-isu yang diangkat di dalam buku ini juga terasa dekat dengan kehidupan, antara lain trauma, kesehatan mental, pola asuh orang tua, dan hubungan antar anggota keluarga yang dikemas dengan sangat baik.
Pelajaran yang bisa diambil dari cerita di buku ini, bahwa orang tua sebaiknya tidak memaksakan, mengatur, dan menuntut anak untuk jadi seperti apa yang mereka inginkan. Sebab, hal-hal seperti ini bisa membuat anak sakit, bukan hanya sakit fisik, tapi juga mental.