Klub Jurnalistik Matapena harus memiliki minimal tiga anggota baru agar tidak dibubarkan oleh pihak sekolah. Setelah berkutat dengan berbagai strategi, Mayra mendaftar sebagai School Crew di Snoop. Ia berharap namanya yang tercantum di halaman khusus anak muda Batavia Pos itu akan menarik calon anggota baru Matapena.
Padahal, Mayra sudah kelas XII. Ia harus kucing-kucingan dengan Kak Sonya agar bisa tetap liputan dan berkontribusi menulis. Namun nilai-nilainya jadi turun, persahabatannya dengan Arin dan Yumi terganggu, dan yang paling ia benci: editornya di Snoop, Rig, terus menagih naskah layaknya rentenir.
Menjelang penutupan pendaftaran, aksi publisitas Mayra itu makin membuat semua hal dalam kehidupannya berantakan. Dengan segala konflik yang terjadi, Mayra akhirnya mempertanyakan diri sendiri. Apa sih yang sebenarnya dia cari?
“Because when you lost, look for the stars….” (Hal 267). . Selesaiiiii! Dan sukaaa 😍😍😍. Ini tulisan Kak Hening Swastika pertama yang aku baca. Sejujurnya aku agak bingung dengan isi ceritanya, salahku juga sih pas baca kurang fokus jadi begitulah. Tapi aku suka cara berceritanya manis, bikin baper, bikin senyam-senyum sendiri, hangat juga nyesek sampai hampir mewek. Ada gregetannya juga. Aku baca novel ini karena mau tau cara bercerita Kak Hening Swastika cocok apa nggak dengan aku, ternyata cocok. Meskipun novel ini labelnya teenlit, tapi nggak terlalu kerasa teenlitnya sih menurutku. Aku akan share beberapa kutipannya yang ngena di aku. Jangan lupa baca novel ini yaa 😊. . “Selama cita-cita itu masih bisa diusahakan, usahakan sampai benar-benar mentok. Soalnya, terkadang jalan yang mentok itu cuma ujian. Buat ngetes sejauh mana kita serius sama cita-cita kita. Buat ngukur apakah pijakan kita, niat kita, sudah cukup kuat dan lurus untuk membantu kita melompat lebih tinggi.” (Hal 195). . “…. Ngapain maksa orang bertahan kalau memang keadaannya sudah nggak nyaman? Coba dong, otak cerdasnya dipaksa. Jangan kelamaan mikir pakai hati.” (Hal 112). . “…. Tapi, kalau sudah gitu, gue selalu ingat kata Mas Naren. Hidup itu soal pilihan— and everyone has to make a choice. Kalau lo merasa ragu sama pilihan lo, buktikan aja dengan lo menjalani yang sudah dipilih sebaik mungkin. Sampai akhirnya lo bisa memastikan, bahwa pilihan lo nggak salah.” (Hal 269). . “Kayaknya karena dia terdesak. Gue rasa memang cuma lo deh yang bisa dia andalkan. Hang in there. Setelah magang lo selesai lo nggak bakalan disuruh-suruh lagi kok sama dia.” (Hal 102). . “Bintangnya sih dari dulu di situ-situ aja. Tinggal lo mau memperhatikan atau nggak. Kan kata pepatah, night is always full of magic for those who pay attention.” (Hal 266). . ’A simple hello could lead into million things’. (Hal 41). . “Siapa tahu dia emang tipe manusia durian— Ya, orang yang tajam di luar, but sweet and tender inside.” (Hal 130).
nyeritain ttg seorang anak remaja yg bernama Mayra, yg hobi menulis dan pengen nyelametin klub jurnalistiknya "Matapena" di sekolah. Tp cara nyelametinnya adalah dgn dia gabung jd penulis magang di sebuah redaksi dgn kompartemen khusus remaja yg namanya "Snoop", tp yagitu dia magang disana tuh kucing2an sm kakaknya wkwkw, nah abis itu gmn? ketauan gak?mending baca sendiri aja ahahaha
ceritanya ringan, seru, karakter2nya punya background yg menarik dan semua berkaitan dgn "passion", sekaligus bikin SENYAM SENYUMM sm Rig (editornya Mayra) dan scene2 gemes mereka WKWKWKWK tp jg sedih di bagian Mayra berseteru sm org2 sekitarnya...TP JUGAA TERHARU sm kalimat2 dr karakter disini mengenai passion, salah satunya ini:
"......kamu mungkin lg lupa rasanya berapi-api buat sesuatu yg sangat kamu sukai, tp harus kamu padamkan krn keadaan. Tapi kuharap kamu gak lupa caranya buat punya empati. Nggak enak, Nya, cuma bisa menyaksikan org lain kesulitan mengejar mimpinya, tp kita gak bisa apa-apa..." - Naren, hal. 240
worth to read👍 oh dan buku ini juga ngingetin gw dgn masa2 SMA gw yg ngurusin ekskul jurnalistik gw😭👍
Sebuah novel remaja yang lengkap: persahabatan, cinta, keluarga, passion, pendidikan.
Yang paling aku suka adalah karakter di sini remaja sekali. Hahaha. Saking remajanya sampe nyebelin banget si Mayra tuh. Begitu juga Rig yang pola pikirnya masih terkesan "muda banget" karena memang dia baru kuliah semester lima. Jadi, mereka semua terasa manusiawi dan sesuai gitu.
Bagian yang agak seret menurutku justru di bagian akhir. Aku tahu tujuannya untuk membuat penyelesaian di setiap konflik (yang mana emang banyak), tapi rasanya seret aja gitu karena dibahas satu-satu banget (kayaknya hampir satu bab satu konflik deh). Dan yang kusayangkan justru permasalahan Rig dan Snoop nggak ada jawaban. Maksudnya, setelah Snoop resmi bubar, buat Rig, what's next? (Atau ada tapi aku keskip bacanya ya?)
Ini pertama kali aku baca buku penulis. Seru dan page turner. Jadi penasaran dengan yang Ekspedisi Peksi.
Secara singkat ini kisah tentang Mayra, seorang siswi tingkat akhir yang sedang memperjuangkan eksistensi klub jurnalistik nya, Matapena. Dia bersama dua sahabatnya Arin dan Yumi berusaha mati-matian untuk terus mengusahakan jangan sampai Matapena bubar karena kekurangan anggota di penerimaan siswa baru yang gak bakal lama lagi akan dilaksanakan.
Mulai dari situ dia gigih buat menaikkan popularitas Matapena lewat prestasi-prestasi yang dia capai & menjadi anak magang di salah satu media jurnalistik yg cukup terkenal di kalangan remaja, Snoop. Ia harap dapat menarik minat siswa baru untuk bergabung, ia berharap siswa baru berkata "ih keren ya Matapane punya banyak prestasi, join asik keknya"
Dengan kesibukannya di klubnya, dia bahkan tanpa sadar melalaikan tugas akademis nya, sering meninggalkan kelas yang membuat nilainya turun. Sonya, sang kakak, sangat protektif terhadap adiknya dibuat cemas olehnya. Ia melarang adiknya untuk tidak terlalu fokus terhadap klub & kegiatan jurnalistik nya. Namun, yg sangat disayangkan, Mayra malah relkakak membohongi kakaknya dan masih terus diam-diam menjadi bagian dari Snoop. ---- 300an halaman tidak terasa udah kubaca. Gila, keren bgt asli. Ternyata disini secara tidak langsung mengisahkan konflik 3 generasi sekaligus. 1) Masalah yang sedang dihadapi oleh Mayra dkk itu sendiri, 2) Kehidupan Rig, si mentor Mayra di Snoop yang ternyat berat dan menyayat hati dan 3) Masa lalu Sonya, sang kakak yang ternyata seorang remaja yang bercita-cita menggeluti dunia jurnalistik namun takdir berkehendak lain.
Kagum dengan Mayra, dia berani berjuang untuk apa yg dia cita-citakan. Dia berani mengambil resiko untuk tetap menyelesaikan tugas apa yang sudah dia mulai. Good job, Mayra! Disisi lain, juga diceritakan gimana dia selama ini merasa tertekan, seakan-akan menjadi "beban" di keluarganya.
Rig! Aaaaaaa, kamu keren bgt 😭 Walaupun mulutnya pedes, galak, kritis, suka marah-marah, intinya bikin pengin nabok nih orang, tapi kamu kuat bgt yah. Bertahun-tahun jadi kamu kayaknya aku gak sanggup deh, arghhhh😭 Aku nangis loh pas tau yang sebenarnya. Selamat akhirnya kamu move on dan semoga dapet yang jauh lebih baik! -- Sonya! Kamu kakak yang baik 🤍 Jangan berpikir ini semua salah kamu yah! Bukan! Ini bukan salah kamu. Aku emang bukan anak sulung, tapi sangat paham seorang kakak pasti mau yang terbaik buat adeknya, gak mau sesuatu yang buruk terjadi. Segalak-galaknya kakak, pasti dia orang pertama yang pasang badan buat adeknya. --- Bri! Aku pengin nyekik kamu. Aku pengin nimpuk kamu pake helm!☺🙂 ---- Beberapa hal lain juga yang membuatku suka sama buku ini: 1) Part-nya itu pendek. Pas intip di awal. Auto girang 'yes pendek-pendek' 🤣 2) Baru sadar disini banyak yg alurnya maju mundur. Udah kejadian tapi nanti akhirnya kita dikasih tau kejadiannya sebelumnya dan sebabnya itu apa👏🏻 3) Tidak ada typo sama sekali!🙀 --- Rating pribadi 4/5✨ Sangat rekomendasi buat kamu yang ingin baca mengenai bagaimana memperjuangkan cita-cita, keluarga, persahabatan, masa lalu, dan yeah adegan gemas yang bikin kita salting brutal. Awas diliatin orang karena nyengir sendiri🤣 ---
Mayra harus menyelamatkan Klub Jurnalistik Matapena. Jika anggotanya tidak lebih dari tiga orang klub itu akan dibubarkan oleh pihak sekolah.
Demi mempertahankannya Mayra mengikuti magang sebagai School Crew di Snoop. Berharap dengan namanya terpampang di halaman khusus anak muda Batavia Pos akan banyak menarik anak sekolahnya ikut bergabung ke klub.
Sayangnya harga yang harus dibayar untuk mempertahankan klub ini cukup mahal. Hidupnya jadi berantakan. Masalah datang silih berganti. Mulai dari harus berbohong ke Kak Sonya, persahabatannya meregang, nilai-nilainya turun hingga dia dipanggil. Belum lagi editornya di Snoop yang selalu memberinya banyak kerjaan.
Dengan segala masalah yang ada, akhirnya Mayra mulai mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya dia lakukan? Kenapa dia begitu ingin mempertahankan klubnya? Kenapa dia sangat suka menulis? Apa yang diingkannya? Apa yang dicarinya?
______________________ Akhirnya nemuin novel remaja yang ceritanya gak fokus dicinta-cintaan! 😍
Aku suka banget sama kisah Mayra. Pas kecil dia harus mengalami kehilangan yang berat. Tapi akhirnya menemukan sesuatu yang disukainya dan bertahan buat hidup. 🥹
Karakternya yang penuh energi, ceria, pantang menyerah, walaupun ada sifatnya juga yang egois dan naif tapi rasanya masih wajar ya namanya juga remaja. Tapi diakhir karakternya berubah lebih baik.
Semua tokoh di novel ini punya porsinya masing-masing. Setiap masalah diceritanya relatable. Apa lagi pas Kak Sonya bahas soal passion atau harus realistis rasanya ngena banget.
Romance-nya tipis-tipis doang tapi bikin senyum-senyum dan ikut salting! Itu juga baru muncul menjelang akhir sih. 😆
Overall, aku sangat merekomendasikan novel ini! Cerita tentang keluarga, pertemanan dan mimpi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari
Mayra kalang kabut membagi waktunya. Seharusnya dia mengikuti bimbel yang telah diatur oleh kakaknya. Tapi tugas dari tempat magangnya di Snoop mewajibkannya segera hadir di kantor. Setidaknya itu tersirat dari pesan yang dikirimkan oleh editornya, Rig.
Mayra adalah ketua klub Matapena, kelompok jurnalistik di sekolahnya. Demi menyelamatkan klub-nya itu, dia harus segera merekrut anggota baru. Magang di Snoop adalah salah satu cara yang ditempuhnya. Dia berharap teman-temannya di sekolah bisa tertarik bergabung dengan Matapena jika tahu pemimpinnya adalah kontributor di koran Batavia Pos. Snoop sendiri pernah tenar di masanya. Namun era digitalisasi memang mampu menggerus kepopuleran Snoop.
Sayangnya, magang di Snoop justru membuat nilai-nilai Mayra di sekolah jadi berantakan. Kakaknya, Sonya, menyuruhnya untuk berhenti. Tapi Mayra malah membuat perjanjian rahasia dengan editornya agar semua rencananya bisa terwujud.
Awalnya saya kurang simpatik dengan karakter Mayra. Dia seperti seseorang yang kehilangan pegangan dan arah, yang bertindak apapun demi mewujudkan keinginannya. Dia tidak bisa memprioritaskan kewajibannya sebagai siswa, demi ambisinya sebagai seorang pemimpin klub. Namun seiring berjalannya cerita, gambaran karakter Mayra mulai menunjukkan alasan mengapa Mayra senekat itu mengejar ambisinya.
Lalu ada Rig, redaktur pelaksana di Snoop yang terjebak dengan masa lalunya. Kemarahan di dalam dirinya, situasi-situasi yang dihadapinya, membuat sosok Rig menjadi dewasa. Saya suka interaksinya dengan Mayra. Meski usia mereka tidak terpaut jauh, Rig bisa tampil sebagai sosok yang mengayomi.
Kisah di dalam novel ini tidak hanya berputar di persoalan jurnalistik saja, tapi lebih kepada penerimaan diri, menghadapi luka, meminimalisir beban hidup dan juga menjalani pilihan yang telah diambil.
Perfect. Akhirnya tuntas juga aku membaca novel yang katanya membutuhkan waktu 10 tahun untuk penyelesaiannya. Aku jadi penasaran. Hening Swastika riset apa ya selama 10 tahun itu? Apa soal astronomi yang sempat mewarnai adegan dan dialog paling favoritku di planetarium?
Aku lumayan excited saat itu Snoop di sini sepertinya inspirasinya dari program Deteksi di Jawa Pos tempat Hening Swastika pernah jadi reporter dulu. Sebelum era internet merajalela, aku suka banget ngumpulin kliping lembar Deteksi terutama untuk rubrik anime dan game-nya, haha.
Setiap ada cerita anak sekolah yang digambarkan fokus dengan kegiatan sekolah dan bukannya cinta-cintaan doang, aku salut. Cerita ini mengangkat perjuangan Mayra dalam mempertahankan klub jurnalistiknya yang nyaris dibubarkan karena kekurangan anggota. Penyebabnya karena anak-anak penyuka fotografi dan video di Mata Pena, nama klubnya, berbondong-bondong keluar dari klub dan membentuk klub Oculi di bawah kepemimpinan Jay yang jadi saingan Mayra saat pemilihan ketua Mata Pena.
Mayra dan Jay sebenarnya bersahabat. Sebelum Jay mencalonkan diri, Mayra sudah berjanji akan mendukung Jay. Namun, ia akhirnya maju ke event pemilihan ketua karena dikompori ketua sebelumnya, Bri. Bri menganggap bahwa Mata Pena sudah melenceng dari tujuan awal berdirinya karena lebih didominasi oleh anak-anak penyuka fotografi dan videografi. Prestasi Mayra di bidang jurnalistik sejak SD menjadi pertimbangan Bri untuk mendorong Mayra jadi ketua. Jay jelas merasa dikhianati.
Bri di sini adalah tokoh paling egois. Dia lepas tangan ketika Mayra akhirnya tersudutkan pihak sekolah karena Mata Pena kekurangan anggota. Satu-satunya jasa dia adalah merekomendasilan Mayra menjadi anggota School Crew di Snoop yang dulu sempat jadi program unggulan Batavia Post. Dengan ikut School Crew, Mayra berharap nama Mata Pena jadi terangkat setiap artikelnya dimuat. Namun, ia jadinya malah keteteran dalam pelajaran. Hal ini membuat kakak sepupunya, Sonya, marah, dan menyuruh Mayra mengundurkan diri. Namun, Mayra malah membuat perjanjian dengan editornya, Rig alias Auriga untuk menyembunyikan soal perintah Sonya. Mayra rela dibebani banyak deadline artikel asal Rig mau membantu menyimpan rahasianya.
Rig awalnya digambarkan sebagai sosok menyebalkan yang kesannya tidak mau membantu orang kalau tidak diberi imbalan. Nyesek aku lihat Mayra tersudutkan di sana-sini di sepanjang cerita. Image Rig mulai membaik setelah dia mau membantu Mayra jadi pemateri di kelas menulis jurnalistik yang diadakan Mata Pena untuk menarik anggota baru. Namun, ya awalnya Rig membantu Mayra karena gadis itu rela dibebani lebih banyak tugas membuat artikel. Rig sendiri sebenarnya tak menyangka kalau Mayra benar-benar senekad itu. Benar-benar, ya.
Bri di sini buatku adalah sosok paling egois. Dia tidak hanya membuat hubungan Rig dan Reiji renggang. Hubungan Mayra dan Rig pun juga sempat renggang karena dia. Untungnya Mayra cerdas dan tak terpengaruh dengan topeng Bri yang berusaha baiknya dengannya saat ia berusaha mencari Rig di sekolah selama kelas kepenulisan berlangsung. Bener-bener nih cewek. Bisa dibilang orang seperti Bri ini banyak. Dia gak jahat secara 100%, tapi sifatnya bisa dibilang toksik karena seenaknya sendiri dan suka menyeret orang dalam masalah hanya demi menuhin perasaannya. Menyebalkan.
Masalah Mayra jadi semakin pelik ketika ia akhirnya bertengkar dengan sahabatnya, Arin, karena gadis itu diam-diam pacaran dengan Jay. Dia juga bersitegang dengan Yumi yang menyimpan rahasia Arin. Padahal, hanya Arin dan Yumi yang bisa jadi support system-nya di Mata Pena. Ya Tuhan. Semakin ricuh lagi saat Sonya akhirnya tahu bahwa selama ini Mayra bolos bimbel demi bisa magang di Snoop.
Aku lega dengan resolusi yang dibuat penulis untuk Mayra. Hanya saja, memangnya harus kabur dulu ya biar orang-orang sekitar yang berkonflik dengan kita akhirnya melunak? Soalnya beberapa kali aku baca novel remaja yang tokohnya kudu kabur dan ngilang dulu baru keluarga dan teman yang berkonflik dengannya melunak begitu dia kembali. Haaaaaah... Manusia itu, memang baru sadar sesuatu itu penting setelah hal itu nggak ada.
"Kalau sesuatu yang lo sukai itu malah bikin lo sakit, apa masih layak lo bilang itu kesukaan?" —hal. 174
Mayra, siswi kelas 12, dihadapkan pada dilema antara mempertahankan klub jurnalistiknya yang hampir bubar, nilai akademik sekolahnya, dan hubungannya dengan teman-temannya serta kakaknya.
-----
Kembali membaca teenlit agar tetap ingat euforia masa remaja. Novel ini mengingatkanku pada masa mudaku [sebenarnya masih muda sih sampai sekarang, haha], antara memperjuangkan mimpi atau menyerah pada kenyataan.
"Kamu mungkin lagi lupa rasanya punya semangat, tapi nggak ada jalannya. kamu mungkin lagi lupa rasanya berapi-api buat sesuatu yang sangat kamu sukai, tapi harus padam karena keadaan." —hal. 240
Merasa tertampar. Ini novel apa kisah hidupku?
-----
Mayra, tokoh protagonis di novel ini, sedemikian rupa mempertahankan klubnya, Matapena, yang diambang kepunahan. Dia pun magang di Snoop, salah satu rubrik bertema anak muda di Batavia Pos—yang diambang kepunahan juga—demi meroketkan kredibilitas klub yang dipimpinnya. Dan atas upaya itu, ia bahkan membohongi kakaknya, Sonya. Bilangnya bimbel, nggak tahunya magang jadi reporter, hehe.
Page turner banget. Aku bacanya dalam sehari dan sekali duduk [disambi makan siang, hehe]. Pokoknya nggak bisa berhenti bacanya.
Ceritanya ringan, tapi lingkaran konfliknya buannyyaak banget.
Daftarnya antara lain: 1. Mayra dan kakaknya, Sonya 2. Mayra dan Rig, editornya yang galak tapi care 3. Mayra dengan 2 sahabat karibnya, Yumi dan Arin 4. Mayra dan Jay, rivalnya 5. Rig dengan Bri dan Reiji (cinta segitiga) 6. Sonya dan Naren, pemimpin Snoop
Dengan 6 pusaran konflik itu, maka banyak yang tumpah tindih dan menjelang akhir kerasa dragging sebab semua konflik antar pemeran itu harus dibuat cepat-cepat selesai. Sehingga, ada yang penyelesaiannya heartwarming, ada pula yang sekadar lewat.
Romance-nya pun tipis banget. Ya, ampun, apa nggak sampai jadian aja? haha. Terus berharap banget ada spin off Sonya dan Naren, please mereka gemesin banget 😍
-----
Akhir kata, A Publicity Stunt adalah novel ringan dengan makna dalam, tentang mereka yang bertahan dalam memperjuangkan mimpi.
Setelah sekian lama nggak baca teenlit yang ngasih efek menyenangkan, akhirnya ketemu juga sama A Publicity Stunt. Awalnya yang bikin gue tertarik itu karena tokoh utamanya, Si Mayra ini. Kayak unik gitu lho... punya klub jurnalistik terus dia magang di redaksi khusus rubrik remaja di salah satu koran ternama lah. Ehh... pas baca! Nano-nano ternyata... tapi seru sih. Soalnya, Mayra ini passionate bangeeett dan gue suka itu! Seumuran Mayra itu pasti menggebu-gebu banget kalau punya keinginan, apalagi ada hal yang menjadi trigger buat dia jadi ambis. Gue suka gimana Kak Hening ngebangun karakter dan suasana di tiap babnya sampai akhirnya ada konflik yang ditahan-tahan dan akhirnya meledak. Boom! Wkwkwk (jujur kzl puoooll sama Sonya waktu itu!). Sederhana, tapi rumit dan tokoh utamanya masing-masing rapuh sebenarnya tapi nggak drama! Itu kali yaa yang bikin gue seneng waktu baca buku ini. Ya ada sihh... dikit tapi🤏🏻 Karena ini novel remaja, pasti ada romance gemeshh dan persahabatan dan drama antar sahabat dan buat gue itu justru bikin cerita ini makin hidup. Romance-nya tuh tipis tapi rasanya sampe ubun-ubun! Auriga lo gue tandain yaaa!!! Wkwk... Naren-Sonya juga gemes abis! 😭😭jirr CLBK LAH BURUANN!!! Kalo kalian bosen sama template cerita remaja yang itu-itu aja, plisss banget baca ini!!! Baguusss 😭😭 cocok buat kalian yang ambis, atau punya cita-cita tapi kehalang realita!! Baca deh... siapa tau dapat tips dari Mayra.💛
This entire review has been hidden because of spoilers.
Temanya sangat relate denganku yang menghabiskan masa kuliah dengan dunia jurnalistik, cuma Mayra ini masih sekolah. Novel ini bikin masa-masa itu balik lagi. Ditagih naskah, deadline, excited waktu nulis berita feature.
Kisah keluarga Mayra dan Rig ini dalem banget, sedalem sumur. Namun itulah yang memperdalam karakter mereka di novel ini. Mungkin sebagai orang dewasa, kita akan berpikiran seperti Kak Sonya, ngapain sih Mayra sepeduli itu dengan klub Matapena yang akan bubar? Tapi pikiran remaja itu beda, dan di novel ini juga dijelasin sudut pandang Mayra dan Sonya.
Aku suka juga dengan hubungan Mayra dan Rig. Selalu suka percikan asmara di novel bukan genre romansa. Kayak pas aja takarannya, ga terlalu kemanisan tapi lumayan bikin mesam- mesem wkwk. Novel ini meski karakternya banyak, tapi porsinya pas dalam ceritanya.
"Hidup itu udah sulit, jangan sampai pikiran sendiri bikin makin rumit."
Kalo kamu cari novel remaja yg ceritanya full kehidupan remaja dengan segala permasalahan khas remaja tanpa drama aneh-aneh plus disisipi romansa setipis tisu this one for you !!!
Pertama kali baca tulisan kak Hening dan aku cocok-cocok aja selama baca. Novel ini tuh cukup page turning buatku, jadi ga butuh waktu lama buat aku menyelesaikan novel ini. Disini kita akan melihat bagaimana kehidupan yg Mayra jalani, ambisinya agar klubnya tidak bubar, kucing-kucingan sama kakaknya biar ga ketahuab dia masih magang kakaknya sudah menyuruh dia lebih fokus belajar, persahabatan Mayra dengan Arin dan Yumi juga strugglenya dia sebagai anak magang di Snoop.
Awalnya aku merasa sebel banget sama Mayra ini, dia keliatan banget terlalu ngoyo dan melakukan segala cara biar klubnya yg hidup segan mati tak mau itu tetap bertahan. Aku pikir Mayra ini cuma gengsi karna dia kalah bersaing dari Jay dan klubnya yg merupakan pecahan dari Matapena.
Tapi ternyata ada alasan kenapa Mayra bisa seambisius itu, dan alasan tsb bikin aku ga jadi sebel malah kasian sama Mayra 🥲.
Aku suka dunia jurnalistik yg dibahas disini, gimana hecticnya mereka membuat artikel yg menarik sesuai deadline, layouting bahkan sampe yg harus tiba-tiba ganti artikel di menit-menit akhir. Buat aku yg awam sama dunia jurnalistik ini seru sih, jadi tau kalo artikel yg ada dikoran atau web yg biasa kita baca itu ternyata punya proses panjang sebelum dirilis.
Dengan alur yg maju mundur, kita akan melihat back story dari beberapa tokoh disini, yg membuat kita semakin paham dengan karakter dan keputusan-keputusan yg mereka ambil.
Oh iya aku juga suka sedikit penjelasan ttg rasi bintang dari Rig ke Mayra, ini tuh kayak berhubungan sama Mayra yg jobdesknya nulis horoscop di Snoop. Trus romance nya walaupun tipis tapi tetep bisa bikin salting 😆.
Endingnya cukup memuaskan, semua masalah dan kesalahpahaman dari masing-masing tokohnya terselesaikan dengan baik, walaupun aku masih penasaran nasib Rig setelah dari Snoop itu gimana. Tapi keseluruhan aku suka 😍. 🌂 Overall aku menikmati baca novel ini. Ceritanya cukup seru, page turner dan bisa menambah pengetahuan dibidang jurnalistik. Cocok banget buat dibaca sama remaja, yg bukan remaja juga boleh banget baca novel ini. Recommended 👍👍
Novel debut Kak Hening ini mengingatkanku ke masa-masa SMA-ku. Aku merasa pengalamanku nggak seheboh apa yang dialami Mayra, tokoh utama di novel ini. Tapi itu wajar ya, namanya juga beda generasi. Pasti ada keseruannya masing-masing.
Dalam #thepublicitystunt dikisahkan bagaimana Mayra bela-belain magang jadi jurnalis di Snoop, sebuah divisi anak muda ngehits dari Batavia Pos demi Matapena, klub jurnalistik yang dipimpinnya di sekolah. Matapena terancam dibubarkan karena anggotanya makin tergerus dan sebagai ketua, Mayra nggak rela itu terjadi. Tanpa diduga, ternyata keputusan Mayra itu mendatangkan sekelumit tantangan yang bikin kehidupannya sebagai siswi kelas 12 makin berwarna. Kakaknya, Sonya, nggak setuju dengan keputusan Mayra. Di Snoop, Mayra harus berhadapan dengan Rig, seniornya – tipe cowok landak yang bikin greget. Ada juga Reiji, cowok dari media kompetitor yang pacaran dengan Bri, idola Mayra – keterlibatan pasangan ini pun bikin hidup Mayra makin menarik.
Sebagai novel teenlit, #thepublicitystunt menyajikan cerita dengan unsur remaja dan romansa yang ringan dan menghibur, sehingga mudah untuk diikuti. Konflik yang disajikan relevan dengan kehidupan anak-anak Gen Z yang sepertinya makin ke sini, makin banyak tuntutannya. Tokoh utama kita yang masih SMA cenderung punya reaksi dan sikap yang berbeda dengan orang dewasa – hal wajar, mengingat usia Mayra – dan itu membuatku bertanya-tanya terus sepanjang membaca novel ini.
Di dalam cerita juga terdapat beberapa momen gemez antara tokoh-tokohnya seperti Mayra dan Rig, antara Sonya dan Naren (bos Mayra di Scoop), hingga Mayra dan Reiji. Menurutku itu bikin unsur romansa di novel ini terasa kuat, tapi tidak berlebihan. Persahabatan Mayra dengan dua bestie-nya, Yumi dan Arin yang karib dan menyimpan “rahasia” pun membuat ceritanya semakin seru untuk diikuti. Beberapa tokoh kunci seperti Mayra, Sonya dan Rig pun punya backstories yang membuat pembaca bisa bersimpati terhadap mereka. Dunia jurnalisme yang serba sat-set sebagai elemen latar dalam novel ini turut dijabarkan dengan kadar yang pas dan realistis. Seiring berjalannya cerita, aku bisa melihat bagaimana Mayra dan beberapa tokoh kunci mengalami perkembangan karakter yang berkontribusi pada ending yang dipilih oleh penulis.
Selain dari segi cerita, gaya bahasa dan cara bertutur novel ini pun nyaman untuk diikuti. Latar kota besar membuat beberapa tokoh berbahasa “gado-gado” antara English dan Indonesia, tapi masih dalam level yang mudah dipahami (aku sendiri kalau ngomong gado-gado macam begini). Ada beberapa istilah seperti ceperan atau TJ yang asing bagi non-Jekerdah citizen sepertiku, tetapi lewat googling singkat, aku pun paham artinya.
Akhir kata, aku merekomendasikan novel ini bagi kalian yang tertarik membaca cerita tentang dinamika romansa remaja yang tidak terlalu berat namun masih insightful, dengan sentuhan jurnalisme yang kuat.
Bahagiaku bakal penuh banget karena akhirnya nemu bacaan yang isinya kompleks. Teenlit pula. Padahal biasanya ranah ini agak rawan. Buku ini dieksekusi dengan baik!
Mayra berusaha menyelamatkan klubnya yang hampir bubar. Berbagai cara sudah dia lakukan, termasuk membohongi kakaknya, Sonya. Namun, pertanyaan itu terus kembali pada Mayra; sudah benarkah pengorbanannya ini?
Kayaknya jariku kena sindrom bintang lima, deh. Alias susah menjelaskan dari sisi mana aja buku ini layak dikasih bintang 5. Hmmm, mungkin pertama dari segi premis. Mungkin beberapa fiksi remaja sering memakai klub jurnalistik jadi salah satu latar ceritanya, tapi nggak ada yang sekompleks buku ini. Mungkin di sini porsinya dibahas lebih detail karena yah berpengaruh banget, kan, sama alurnya?
Kedua, perjuangan Mayra somehow mengingatkanku pada masa lalu juga. Melihat gimana effort-nya Mayra sampai rela bohong dan hidup penuh kecemasan begitu jadi ikut kasihan. Mayra jelas punya passion dan usahanya kerasa banget. Agak kaget kondisi klub Matapena yang punya segelintir anggota. Beda dengan ekskulku dulu yang nggak perlu usaha keras buat menggaet anggota karena anggotanya malah jadi yang terbanyak kedua setelah ekskul design graphic.
Yah, bisa dimaklumi, sih. Apalagi memang jurnalistik bukan ekskul yang bisa fit ke semua orang. Semua orang bisa menulis, tapi belum tentu bisa jadi jurnalis. Rasanya super-duper bangga sama apa yang Mayra lakuin. Dan sedikit iri, sih. Andai bisa punya passion sebesar itu juga.
Tapi, waktu tahu latar belakang Mayra mati-matian mempertahankan Matapena dan alasan dia menulis terus-menerus bikin rasa iriku berubah jadi rasa iba. Kepengin puk-puk adik kecil ini :(((
Aku suka banget karakterisasi tokohnya yang nggak berlebihan dan konsisten. Plus, adegan yang seharusnya jadi bagian paling sering kena romantisasi berjalan dengan normal. Thanks to Rig yang beneran paham dan nggak ambil kesempatan dari Mayra. Cinta sama interaksi keduanya. Karakter Mayra yang agak nyentrik, berani, tapi ternyata penakut jelas memberikan kesan tersendiri. Apalagi pas ngerasa badan kayak kesetrum kecil terus nanya ke diri sendiri apakah dia kena strok, hmmm.
The Publicity Stunt bukan soal mempertahankan sesuatu saja, tapi juga bicara soal passion, pengakuan, dan usaha keras merelakan sesuatu. I love Mayra, Rig, Kak Sonya, Kak Naren, anggota Matapena sekaligus sahabat Mayra, dan semua kru Snoop.
Dua kali baca karya Kak Hening, tentu bakal menunggu karya lainnya menetas <3
jujur awal pertama yang bikin aku tertarik dari buku ini adalah cover bukunya yang mirip koran. terus setelah itu adalah tema ceritanya—tentang jurnalistik di SMA.
siapa yang masa SMA-nya sudah ada magang? kalau di SMK kan memang udah terbiasa yaa, dan aku tau itu tapii kalau untuk SMA, aku masih jarang banget dengernya. makanya pas awal juga aku ngira kisah Mayra ini latar belakangnya kayak kuliahan gitu. dan ternyata aku salah.
seperti yang pernah aku sebutkan di story beberapa waktu lalu (sebulan lalu lebih tepatnya) aku baru klik sama ceritanya ketika menjelang pertengahan akhir cerita. karena aku mengira cerita ini hanya akan berfokus kepada Mayra dan klub jurnalistiknya, ternyata masih banyak lagi konflik-konflik yang lain dari orang-orang di sekitar Mayra seperti kisah Rig dengan teman dekatnya, kisah kakaknya Sonya dengan orangtuanya, kisah Mayra dan temannya juga. tapii walau konfliknya jadi padat syukurnya bisa di selesaikan semua tanpa ada plot yang kosong.
untuk karakter tokohnya sendiri juga cukup bagus, aku merasakan ada perkembangan karakter menuju akhir terutama untuk karakter Rig dan Mayra. mereka benar-benar belajar dan berusaha untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang mereka hadapi. selain itu aku juga suka sama twist yang berhubungan dengan Sonya dan Naren kayakkk, kejutan bangettt loh ini. siapa yang menyangka kalau ada benang merah yang menyatukan mereka di masa lalu.
dari buku ini aku belajar kalau kita berhak memperjuangkan mimpi kita walau semesta kadang suka tidak merestui. yang perlau kita lakukan ada mencoba dan melawan tantangan yang ada selama hal itu tidak membawa pengaruh buruk untuk diri kita. karena kalau kita tidak mencoba kita tidak akan pernah tau akhirnya akan bagaimana. dan betapa penting juga sebuah pertemanan yang di dalamnya terdapat keterbukaan dan tidak saling mengkhianati.
terima kasih untuk Mbak Hening yang sudah memperkenalkan aku sama Rig. walau Rig ini sempat nyebelin di awal ternyata dia diam-diam buku baper juga, yaa. apalagi pas menjelang akhir.. duh Rig tiba-tiba jadi idaman wkwk. pokoknya yang mau baca cerita yang nggak cuma fokus sama romansa tapi tetap ada unsur informasi lain terutama seputar jurnalistik apalagi buat pemula, aku rekomendasikan banget buku ini buat di baca oleh teman-teman.
Buku ini entah kenapa bikin aku nostalgia jaman debut di GPU. Mungkin karena covernya sama-sama abu-abu. Atau aroma kertasnya waktu dibuka pertama kali sama. Pokoknya bikin nostalgia. Mana layout isinya cakep bener dan flawless… kayaknya aku gak ketemu tipo dan eror lain yang bikin berhenti baca deh. Bagus amat tim belakang layarnya nih. Well worth the long wait pokoknya.
Aku suka buku-buku yang ngenalin dunia unik remaja kayak gini. Tokoh utamanya, Mayra, magang di Snoop, salah satu cabang surat kabar ternama Batavia Pos yang khusus rubrik remaja. Sayangnya Snoop mau tutup karena gak mampu bersaing di tengah gempuran informasi digital masa kini. Hal ini paralel dengan klub jurnalistik yang diikuti Mayra di sekolah, karena sama-sama mau tutup akibat kekurangan anggota. Jadi Mayra yang sudah kelas 12 berkelahi dengan waktu demi menyelamatkan dua tempatnya bertumbuh ini dari kepunahan.
Akankah Mayra berhasil?
Bri jadi tokoh paling nyebelin di cerita ini. Dia yang mutusin pertemanan Reiji dan Rig. Dia juga yang belah Mata Pena jadi dua. Harusnya dia kena getahnya sih di ending, biar gak ada korban lagi setelah Rig-Reiji dan Mayra-Jay.
Novel ini sangat membuka wawasan terhadap dunia jurnalistik dan publikasi. Penulisannya rapi dan mudah diikuti. Konfliknya juga ringan dan dalam.
Namun, karakternya sangat unlikeable. Sonya benar-benar seperti antagonis, dia otoriter dan emosional. Sementara aku sangat bersimpati sama Mayra sebagai yatim piatu, tapi aku kecewa dia juga emosional kepada teman-temannya. Jay apalagi, aku kira dia bakal dapat redemption arc, juga Arin terasa meninggalkan Mayra. Karakter yang merebut hati malah Rig, meskipun awalnya diniatkan kayak enemy, tapi dia punya alasan. Dia punya potensi besar jika ceritanya diperdalam. Karakter sisanya seperti Mas Naren dan Yumi sangat membantu. Tapi, aku nggak paham fungsi Bri dan Reiji dalam perkembangan Mayra... apakah Rig sebenarnya juga karakter utama? Well, it explained a lot why he was such a loveable character.
Terlepas dari penokohan yang perlu dikembangkan, aku suka karakter-karakternya yang berbakat. Mayra dan Rig duo yang tampaknya bisa diandalkan. Selain itu, interaksi keduanya sangat manis. Aku seperti melayang dan dibawa ke dalam dimensi berbeda—yang di kelilingi bintang di luar angkasa. Aku benar-benar suka!
Awal suka karena baca sampe hal 50 ternyata ga bosenin. Karena udah disuguhi rentetan masalah di awal. Apalagi aku tertarik baca ini karena ada hubungannya sama jurnalistik. Lagi sayang banget sama club jurnalistiku. Makanya aku bisa relate sama Mayra yang dikejar deadline artikel sama editor mulu wkwkwk.
Terus aku suka novel ini karena style nulisnya yang gak kaku tapi tetep ada beberapa kosa kata baru buatku.
Walaupun konflik dari novel ini beruntunan datengnya, tapi gak terlalu berat kok. Justru penulis bisa menyelesaikan konflik ini dengan mulus dan gak klise.
Aku juga suka sama pendalaman karakter tiap tokoh. Punya ceritanya masing-masing dan tetap ngena. Kecuali Bri dan Reiji sih (terlalu kekanak-kanakan sorry).
Yang bikin penasarannya lagi adalah artikel yang dibuat Mayra. Pengen dah baca, tapi gak ada huhu.
What a nice and refreshing read! Udah lama nggak baca cerita berlatar SMA gini, apalagi yang ini berlatar jurnalistik, menarik banget!
Saya suka tema utama yang diangkat novel ini--tentang idealisme mengejar cita-cita. Penyampaiannya juga cukup sederhana dan mudah diterima, pas buat teenlit tapi tetap bisa dinikmati oleh orang-orang yang lebih dewasa :D.
--
"Hidup itu soal pilihan--and everyone has to make a choice. Kalau lo merasa ragu sama pilihan lo, buktikan aja dengan lo menjalani yang sudah dipilih sebaik mungkin. Sampai akhirnya lo bisa memastikan, bahwa pilihan lo nggak salah."
Novel pertama karya Kak Hening yg aku baca, setelah sebelumnya langganan baca cerpen-cerpen beliau.
Tema yang diangkat segar dan khas anak SMA sekali. Narasi dan dialognya mengalir lincah. Tokoh-tokohnya mudah dicintai dan punya backstory masing-masing. Profesi Mayra sebagai jurnalis magang juga diceritakan detail sehingga bukan cuma tempelan. Yang paling aku suka adalah semuanya yang ada di tokoh ini memiliki keterkaitan. Jadi rasanya gak ada tokoh yang mubadzir dihadirkan.
Plotnya seru banget! Dari awal cerita udah ketemu masalah, somehow agak draining waktu klimaks. Tapi karena suka banget sama tokoh Rig, akhirnya aku berhasil nyelesain. Agak gak nyaman sama gaya bercerita yg sering flashback tiba-tiba, aku kurang bisa empati sama beberapa tokoh di dalamnya juga (termasuk tokoh utama) karena mereka punya pola yg mirip yaitu salah memroyeksikan perasaan gara-gara kepusingan sama masalah pribadi. but still, buku ini menyenangkan dibaca terutama buat yg kangen sama masa-masa ambis saat sekolah dengan sedikit romansa. nice book!
Saya benar-benar ngga nyangka. Novel yang saya beli gara-gara covernya bagus, and i didn't even read the summary yet tapi turn on jadi novel bagus yang saya baca di bulan ini. Ceritanya tentang orang yang memperjuangkan mati-matian klub sekolahnya yang mau ditutup, and it worth reading sih. Disini teach me how to look on someone other's prespective dan ngga cuma perspektif seorang aja. Juga banyak advice yang saya ambil diambil dari sini as a hectic student yang kadang lupa diri. Romancenya tipis, tapi kerasa dan mungkin memang buat selingan aja.
suka banget idenya. tentang mayra yang mati2an berusaha menyelamatkan club jurnalistik matapena dan rig+naren yang berusaha menyelamatkan rubrik snoop di batavia pos. konflik2 pendukungnya cukup padat ya. tentang mimpi harus berakhir karena keadaan, merasa bersalah jadi beban kakak sepupunya, temenya jadian sama rival.
sayang ada 1 hal nggak gue like: -harusnya ditampilin hasil artikel mayra minimal 1 halaman -ditunjukin adegan mayra wawancara narasumber
secara topik, universe, dan perjalanan character development, SUKA BANGETTT!! apalagi ini fiksi pertama yang berhasil aku selesaikan tahun ini. mungkin ada beberapa bagian dari alurnya yang terasa terlalu terburu2 penyelesaiannya, tapi overall cukup menghibur. jadi tergerak untuk baca karya lain dari penulisnyaaa hehe. makasih udah nulis cerita yang menghibur yaa, kakak penulis 🫶
3,5/5 Selama baca gelisah banget, takut Kak Sonya tau kelakuan May😭
Somehow ada beberapa bagian yang kok tiba-tiba begini dan ada orang ini, terus ini emang penulis sengaja bikin konfliknya banyak dan bertubi-tubi gini kah? Stres aku bacanya😭