Kucing-kucing di dongeng ini menurutku seperti dijadikan medium untuk sebuah cerita suram dengan narasi yang mellow. Mereka dipersonifikasi total, dihilangkan karakter khasnya, bahkan kondisi biologisnya ikut berubah. Detail-detail menarik dari mereka seperti purring/mendengkur, manja tapi gengsi, mentingin teritori, dsb, itu lenyap. Sayang sekali, padahal elemen tersebut selalu jadi bagian memikat dari buku-buku bertemakan kucing.
Di sini para kucing saling sapa dengan bersalaman, alih-alih pamer pantat atau saling mengendus. Merapikan bulu dengan sisir, mengeringkan badan dengan handuk, tidak menjilat badan lagi. Kucing berusia satu hari yang kehilangan induk, bisa survive dengan susu formula yang dicolong dari manusia. Faktanya, laktosa bs membahayakan nyawa kucing. Kurang sinkron dengan cerita yang mengangkat kesulitan hidup sebagai "kucing" jalanan. Tapi, yah... ini memang dongeng.
Atmosfer cerita terasa sangat melankolis krn dominan menyoroti emosi dan perasaan, terlebih di bagian awal, terasa repetitif dan didramatisir. Beberapa dialog terasa kurang natural karena kata-kata bijak yg cenderung dipaksakan.
Jalan ceritanya menarik untuk sebuah fabel keluarga, persahabatan, dan petualangan. Dua kucing kakak beradik hitam dan putih yang ada di cover berjuang untuk kembali bersama setelah terpisah imbas kelakuan manusia. Karakternya bukan hanya kucing saja, ada berang-berang, tikus, kecoak, sampai binatang purba ikan raksasa. Dongeng ini mengkritik sikap seenaknya manusia, yang sering melakukan kekerasan terhadap binatang hingga alam yang mereka tinggali.