Sedikit background kenapa aku baca buku ini karena aku penasaran apa sih yang terjadi sama kota-kota di luar Pulau Jawa. Sebelum baca ini, aku baru pernah baca tulisan Pram, Ahmad Tohari, Leila, fokusnya kalo ga di Jakarta ya di Pulau Buru.
Trigger warning: buku ini ratenya 19+, jadi hati-hati ya, banyak kejadian kerusuhan dan kekerasa seksual yang digambarkan secara visual. Aku tidak menyarankan untuk dibaca kalau sedang sedih.
Latar waktu novel ini di Oetimu 1998, Lisabon 1974, dan Kupang 1994. Jadi alurnya maju mundur gitu. Tiap bab paling fokusnya 2-3 tokoh ketemu, ga semua tokoh ketemu di 1 bab.
Tokoh utama yang memorable (menurutku)
• Sersan Ipi
• Am Siki
• Romo Yosef
• Maria
• Silvy
Hm, buku ini unik sih cara nulisnya. Kesannya seperti novel stensilan, tapi Felix Nesi berhasil membungkus masalah-masalah agamis dan politis menjadi masalah yang "biasa saja". Ya, sama biasa sajanya kalau orang melihat kasus pelecehan seksual atau kalau orang melihat orang miskin tidak disantuni.
Topiknya disusun dengan sentilan ringan per kejadian, seolah-olah "perang" atau "rusuh"nya hanya ada di background. Kondisi yang digambarkan lebih ke masalah personal yang ada di kehidupan sehari-hari. Cara menulisnya beda sama novel dengan latar sejarah lain yang "wow banget" ditulis soal pemerintahnya. Kalau suka All the Light We Cannot See, mungkin akan suka juga dengan novel ini.
Ada beberapa isu yang diangkat
• Perang sipil. Ada cerita seputar Timor Timur diperebutkan 3 partai, yaitu Indonesia, Portugis, dan yang mau merdeka sendiri. Yang mau merdeka sendiri ini kemudian ditawan sama partai Indonesia.
• Orang kaya benci orang miskin. Ada SMA Santa Helena. Awalnya, sekolah ini menampung orang2 miskin yang anak nelayan dan pekerja serabutan. Tapiii mereka berubah sistem, mau menarik anak-anak pinter doang. Uang sekolah jadi berkali-kali lipat. Jadi ngetrend. Dilematis sih, buat yayasannya mereka jadi lebih ternama. Yang awalnya sekolah disana jadi harus pada pindah sekolah ke kota yang jaraknya jauh atau bahkan berhenti. Beberapa anak cewek malah harus menggoda supir angkotnya biar mau dianter huhu.
• Pembangunan yang Jawa-sentris banget. Pemerintah Indonesia "memaksa" orang-orang Timor buat makan nasi. Akibatnya, nasi jadi mahal banget. Orang-orang dateng bawa singkong buat dituker nasi, soalnya dibilang kalo makan jagung dan singkong bikin bodoh. Saya masih belum nemu referensi propagandanya yang aslinya gimana.
• Kekerasan seksual.Kekerasan seksual yang gabisa diungkap, karena yang berseragam gamau memproses. Bahkan, mereka ngasih tau salah satu tokoh gimana caranya biar membius supaya bisa ditiduri.
• Sex education.Sex education itu penting banget. Ada tokoh yang pinter banget namanya Silvy. Dia belajar sex education dari buku-buku di perpustakaan, digambarkan kalo dia tau gimana cara menghitung masa subur. Sayangnya, ga ada orang-orang / guru-guru yg lebih tua yang bisa membimbing dia. Jadinya waktu dia kena masalah, dia mikir solusi satu-satunya ya nikah.
• Suara dari orang-orang akar rumput. Ternyata apa yang kita bayangkan karena ga selalu sesuai dengan apa yang kita tau. Ini masih berkaitan sama poin soal partai-partai di Timor Timur sih. Kadang2 orang tu ga peduli mereka di bawah pemerintah mana, yang penting masih punya tempat tinggal dan masih bisa makan minum.
• Cerita "pahlawan" ga selalu sesuai sama kejadian sebenernya. Disinformasi / hoax sudah ada banyak dari sebelum adanya internet, bisa juga dari gosip mulut ke mulut. Contohnya ada cerita tentang Am Siki yang melawan Jepang dan menyelematkan Timor Timur. Padahal, Am Siki berantem sama tentara cuma karena dia mau menyelamatkan diri dan kudanya. Dia dikasih tanda medali dari pemerintah Indonesia, tapi dia bilang "ngapain, medali gabisa dimakan". Wkwk
• Simpati pemerintahan.Rasa simpati pemerintah bukan beneran rasa simpati, tapi ya yang penting sekedar mejeng aja. Digambarkan bahwa pemerintah Indonesia udah punya pejabat khusus yang ngasih pidato di pemakaman kalo misalnya ada orang yang meninggal karena ditabrak kendaraan proyek (unimog). Jaman itu, Timor Timur banyak proyek. Yang supirnya sih nyalahin orang katanya ga liat-liat jalan, padahal diliat dari angka kecelakaannya, ya sebanyak itu yang meninggal.
• Kebanyakan birokrasi. Bapaknya Silvy mau jadi TKI demi menyambung hidup. Ngurus suratnya harus dari kelurahan lah, kecamatan lah, pokoknya muter-muter dan butuh uang. Mendingan pake biro jasa pemalsuan dokumen, lebih cepet, dibandingin nyari-nyari dokumen resmi tapi kelamaan.
Kesimpulan: 5/5 lah pokoknya.