Dari teras balkon sebuah apartemen di lantai tujuh, Agung, bocah tujuh tahun, dan pengasuhnya, Ani, jatuh melayang ke bawah. Ada yang menjatuhkan. Satu-satunya saksi mata, Satpam Barata, yang kebetulan berada di halaman, tidak bisa melihat siapa yang menjatuhkan keduanya. Sebenarnya Barata melihat tiga sosok melayang ke bawah, bukan cuma Agung dan Ani. Sosok satunya lagi sekelebatan dilihatnya berwarna hitam. Ia berhasil menangkap tubuh Agung, hingga anak itu selamat meskipun koma. Tetapi Ani tewas. Sedang sosok ketiga tidak pernah ditemukan. Apakah dia manusia, benda seperti baju hitam, ataukah seekor burung hitam yang bisa terbang tanpa jejak?
Robin, petugas kepolisian yang menyelidiki kasus itu, punya beragam teori dan skenario setelah mempelajari para penghuni apartemen lantai tujuh. Apalagi setelah Ningsih, pembantu salah satu pemilik apartemen di lantai tujuh juga, ditemukan tewas tergantung. Kebetulan Ningsih dan Ani memiliki kekasih yang sama. Dari hasil autopsi pada jasad Ani ditemukan kandungan alkohol dalam kadar cukup tinggi; sedang dari autopsi Ningsih diketahui ia sedang hamil. Ningsih-kah pelaku pembunuhan Ani? Bagaimanapun ia harus meminta Gito, pacar Ani juga, untuk bertanggung jawab atas kehamilannya.
Tapi ketika Agung sadar dari komanya dan mampu mengatasi traumanya, ia mengatakan pelaku yang menjatuhkannya adalah setan item. Dan pernyataan bocah itu mengacaukan skenario yang telah disusun Robin.
V. Lestari dilahirkan di Bogor dan tinggal disana sampai menyelesaikan sekolah menengahnya, sebelum pindah dan menetap di Jakarta. Ia mengkhususkan diri menulis cerita detektif-kriminal, jenis cerita yang memerlukan ketelitian dan keahlian khusus untuk meramunya. Dan yang lebih khas lagi semua novel-novelnya menampilkan tokoh utama wanitanya sebagai "detektif"-nya. Novel pertamanya, Yang Tak Ternilai, terbit tahun 1982. Sejak itu sudah lebih dari 30 novelnya diterbitkan Gramedia.
#bookreview . Ini adalah karya pertama V. Lestari yg saya baca dan dibaca dg teknik baca kilat ala saya 😁 . Ceritanya berpusat di apartemen Srigading. Ada beberapa keluarga yang menjadi bahan cerita. Pak Hendra sbg pengurus apartemen, Barata sang satpam pahlawan, keluarga Wijaya, keluarga Rama, dan satu keluarga lagi yg muncul sesekali sbg pelengkap penderita shg saya lupa namanya 😅 . Suatu pagi, satpam Barata yg sedang bersiap2 ingin pulang setelah menyelesaikan shift malam, dikejutkan dengan 3 sosok yg terjun bebas dari balkon apartemen di lantai 7. Dia mengenali sosok terkecil sbg Agung, anak Pak Rama. Dia segera bertindak dan menangkap tubuh Agung shg mereka terhempas ke tanah. Agung pingsan dan koma, Barata mengalami cedera parah, Ani pengasuh Agung tewas. Sosok ketiga yang berjubah hitam tak ditemukan dimana2. Seminggu kemudian, Ningsih, suster perawat Bu Leoni, mamanya Pak Wijaya, juga ditemukan tewas tergantung di kamarnya. . Buku sepanjang 592 halaman ini berupaya menyajikan cerita ala detektif utk mengungkap siapa pembunuh Ani dan Ningsih. Sayangnya detektif ala ala ini nyebelin banget dan jauh dari kesan serial CSIS bahkan tak bisa mendekati kualitas trio detektifnya Alfred Hitcock (bukan versi Hector Sebastian yak). . Karena, banyak banget kejanggalan di sini. Misalnya, apa iya Robin si detektif gak punya temen diskusi di kantor polisi shg ketika menemukan barang bukti maka si barbuk malahan dibawa ke rumah si satpam Barata buat diselidiki bersama? Helaawww... barbuk pembunuhan bok... mosok dibawa ke rumah satpam 🤦🏻♀️ Atau adegan memancing semut pakai es krim yang dalam sedetik bisa bikin kaki seorang nenek bentol parah, demi memancing apakah si nenek beneran jompo sehingga harus duduk di kursi roda atau sebetulnya bisa berdiri tegak... yaela 🙈 . Banyaklah hal2 macam begitu yang pengen bikin teriak: editor mana editor? . Jadi... kalo saya sih NO. . ⭐️, 592hlm, 2007. . #goodreads #goodreadsindonesia #goodreadschallenge2017 #bookstagram #bookish #bookporn #igbooks #instabooks #bookreviewnoni #novel #buku #vlestari #apartemenlantai7 #bookworm #kutubuku #books #bookshelf #sayabaca
DAAAMNNN lama banget saya baca buku ini. Dua minggu. Dua. Minggu.
Bener bener ngetes iman dan kesabaran saya sebagai manusia. Rasanya capek banget padahal baca juga sambil duduk atau rebahan, nggak sambil lari.
Udah kayak hubungan toxic dimana saya udah mau pergi, tapi saya paksa diri buat lanjut karena ya... udah terlanjur beli bukunya.
Ini pertama kalinya saya baca karya V. Lestari. Iseng aja, biar bacaan misteri saya nggak muter di Mara Gd terus. Saya kan pengen eksplorasi novel misteri indonesia yang lainnya.
Jujur saya nggak tau apakah gaya penulisan V. Lestari memang seperti ini di semua bukunya, atau kebetulan Apartemen Lantai 7 ini adalah... yah... bukan yang terbaik. Karena sepanjang baca, saya ngerasa plotnya tuh all over the place. Berantakan, lompat-lompat, penuh detail nggak penting. Saya kadang bingung: ini mau ngecoh pembaca atau mau bikin pembaca bingung duluan biar nggak sempet nebak pelakunya? Atau biar bukunya keliatan tebel aja? Padahal dari sinopsis sudah menarik sekali.
Kayak penulis pengen masukin semua ide yang numpuk di kepala: drama keluarga? Masuk. plot twist ala ala? Masuk. adegan random? Masuk. info medis sok penting? Masuk. Ada semuanya.
Dan karakter-karakternya... ya Allah...
Saya tau ini fiksi, tapi tetap aja saya nggak yakin manusia real life akan mikir atau bertingkah kayak gitu. Too unserious for a murder case. Polisi/detektifnya tuh kerja kayak lagi jalan-jalan sama bestie. Mampir, ngobrol, gosip, terus pulang ntar telponan. Nggak ada rasa "ini kasus pembunuhan loh pak."
Proses investigasinya pun nggak detail, nggak sistematis, muter-muter. Di novel misteri lain kita disuguhi proses berpikir, investigasi cermat, dan karakter detektif yang... ya sedikit kredibel lah.
Tapi di sini? Polisinya kayak free agent. Kerja sendirian, melibatkan orang sipil seenaknya, ngasih info rahasia. Etika investigasinya? NOL. Investigasi yang dilakukan lebih terasa seperti jalan-jalan keliling apartemen, mampir ke rumah orang, curhat, gosip, pulang, repeat.
maksud saya, kan si Robin tuh polisi ya. instansi resmi negara. masa dia gak punya rekan se-profesi buat mendiskusikan kasus sih, sampe harus melibatkan sipil random yang semuanya serba kebetulan.
Nggak ada SOP, nggak ada otak detektif, nggak ada "hmm ada yang janggal."
Pokoknya vibes-nya: nongkrong, kayak bocah main sherlock-sherlockan. Kerja si polisinya tuh 80% nongkrong, 20% ngasih spoiler kasus ke orang random. Mereka semua adalah manusia dewasa tapi cara kerja mereka mirip Grup Detektif Cilik di anime Detective Conan (even Grup Detektif Cilik masih ditunjukkan proses berpikirnya.)
Lalu bagian medis, hadehhhh. Saya bukan tenaga medis, tapi insting saya menjerit. Banyak hal yang, ya Allah... no comment. Berkali-kali saya harus nutup buku, bengong, atau ngelempar bombastic side kayak orang lagi mengutuk alam semesta.
Musuh utama buku ini sebenernya bukan pembunuhnya, tapi logika medis dan investigasi yang absen entah kemana. Out of this world.
Terus penyelesaian konfliknya... Motif pelakunya berasa dibuat asal jadi. Nggak greget, nggak memuaskan, bikin kesel. Bahkan ceramah no-jutsu ala Mara Gd yang kadang suka muncul tiba-tiba pun rasanya lebih mending daripada ini, wkwk. Sudah capek-capek baca, saya berharap ada payoff, ada sesuatu yang menjelaskan kenapa semua ini terjadi, tapi malah zonk. Nggak ada pesan moral, nggak ada apa-apa, kosong. Kalau yang terakhir itu bisa disebut penjelasan, rasanya kayak selesai makan ubi tapi lupa minum. Seret, garing, dan nggak tau mau ngapain lagi setelahnya.
Saya nggak bisa memutuskan akan membaca buku v lestari yang lainnya atau tidak, tapi saya rasa untuk buku kali ini 2.0 is decent. Setidaknya saya berhasil survive 2 minggu itu, itu sebuah prestasi.
Kmrn ke SMS (Sumarecon Mal Serpong), sekalian ah mampir ke Gramed cari novel. Bosen novel romantis ala metropop, pas kebetulan mata nyangkut di novel V Lestari, Apartemen Lantai 7, yg adanya di bagian Roman Remaja, anehnya...
Ceritanya ada kejadian 2 orang, Ani, seorang pembantu dan Agung, anak majikannya, jatuh dari lantai 7 apartemen Srigading. Fokus ceritanya ke usaha Robin, polisi, yg berusaha mencari tau sebab musabab kecelakaan tersebut. Dia dibantu ama Barata, satpam apartemen yg menagkap tubuh Agung saat jatuh dan sekaligus menjadi satu2nya saksi setelah Agung menjadi koma, juga Nana, tante Agung. Mereka menjadi tiga sekawan yg bekerja sama dlm mengungkap misteri ini dengan menginterogasi para penghuni lantai 7 apartemen. Banyak orang yg bisa menjadi tersangka, tp skenario Robin akhirnya gagal karena tiba2 Agung sadar lalu mengatakan sesuatu yg menjadi kunci misteri ini, Setan Item. My review: Ceritanya lumayan menegangkan. Tapi sayangnya endingnya ga "nendang". Mungkin karena udah bisa kebaca di tengah2 cerita siapa yg dimaksud Setan Item itu. Selesai membaca, gw merasa ada sesuatu yg kurang. Alasan kenapa Setan Item jd jahat, kurang "kena" krn ga ada penjelasannya.
Pas baca sinopsisnya, saya langsung berpikir, "Wah, kelihatannya buku ini menjanjikan." Ide ceritanya sendiri sudah bagus. Cerita khas detektif ala Agatha Christie. Tapi sayang, penuturan V.Lestari kurang menggigit dan membuat saya bosan di tengah jalan. Rasanya terlalu bertele-tele dan malah membuat bingung. Akhirnya, baru memasuki halaman 300an, saya menyerah dan langsung baca bab penyelesaiannya :))
SUDAH GITU.... penyelesaiannya terasa GAK BANGET (baca pake irama lebay). Poin utama kekurangannya terletak di motif. Motif si pelaku tidak jelas dan usaha terbaik menjelaskan motif si pelaku hanyalah karena masalah dorongan semata. What the... Big big minus.
Secara keseluruhan, novel ini memiliki awal yang cukup menarik, hanya saja menjadi berbelit-belit di tengah dan ditutup dengan payah..
Buku ini dibuka dengan adegan demi adegan yang keren dan bener-bener bikin pembaca penasaran akan apa cerita yang ada dihalaman berikutnya. Tapi kemudiaaaan.... Setelah pertengahan buku lewat dan cerita mulai menuju bagian akhirnya... kekerenan dari buku itu lenyap.
Serius. Good beginning, bad ending. Like, really man? Saya kecewa berat sama endingnya. Terlalu gantung, terlalu ga jelas, terlalu mengecewakan. Dari awal udah capek-capek ngebangun feels untuk menggiring pembaca menebak-nebak siapa dan apa motif sang pelaku--dan kemudian, setelah sang pelaku (yang omong-omong, sebenarnya lumayan bisa ditebak) akhirnya diungkap, eeeeeeh main dimetongin gitu aja. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai kenapa dia ngelakuin semua itu.
KENAPA? KENAPA? /jderr
Baiklah, untuk celah super besar di bagian ending, saya rasa tiga bintang sudah lebih dari cukup.
kecewa berat... enak banget ya kalo nulis bisa ngegantung gitu. Gampang ditebak masih bisa diterima, tapi kalau latar belakang perbuatan si tokoh juga gak dijelaskan, dimatikan begitu saja, gimana bisa puas yak? kasian deh mata saya, rugi baca :D