Jump to ratings and reviews
Rate this book

Gender Pluralism: Southeast Asia Since Early Modern Times

Rate this book
Choice Outstanding Academic Title 2009! This book examines three big difference, legitimacy, and pluralism. Of chief concern is how people construe and deal with variation among fellow human beings. Why under certain circumstances do people embrace even sanctify differences, or at least begrudgingly tolerate them, and why in other contexts are people less receptive to difference, sometimes overtly hostile to it and bent on its eradication? What are the cultural and political conditions conducive to the positive valorization and acceptance of difference? And, conversely, what conditions undermine or erode such positive views and acceptance? This book examines pluralism in gendered fields and domains in Southeast Asia since the early modern era, which historians and anthropologists of the region commonly define as the period extending roughly from the fifteenth to the eighteenth centuries.

352 pages, Paperback

First published February 15, 2007

3 people are currently reading
60 people want to read

About the author

Michael G. Peletz

12 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (50%)
4 stars
1 (12%)
3 stars
3 (37%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for c2o library.
14 reviews36 followers
December 21, 2010
Asia Tenggara telah lama dikenal memiliki, mengakui, dan melegitimasi tradisi gender dan seksualitas yang lebih beragam dan pluralistik daripada belahan dunia lainnya. Bukti-bukti sejarah dan etnografis menunjukkan bahwa praktik-praktik dan identitas transgender, serta berbagai macam seksualitas non-heteronormatif, mempunyai sejarah yang panjang dan terhormat di Asia Tenggara dan wilayah Asia Pasifik secara keseluruhan. Namun dalam tiga hingga empat abad terakhir, pluralisme gender ini mengalami banyak penyempitan dan erosi legitimasi.

Gender Pluralism: Southeast Asia Since Early Modern Times secara khusus menyajikan dan mengulas sejarah dan dinamika pluralisme gender dan seksualitas di Asia Tenggara sejak zaman modern awal (sekitar abad ke-15-16) hingga awal abad ke-21. Dibagi menjadi lima bab dengan tambahan epilog, di bab pertama Peletz memberi pengantar latar belakang, metodologi, dan susunan buku, sementara bab-bab berikutnya ditata berdasarkan periode kronologis untuk menjabarkan bagaimana pluralisme gender mengalami perkembangan atau penyempitan, serta situasi dan kondisi seperti apa yang mendukung proses-prosesnya. Wilayah Asia Tenggara di sini dibatasi berdasarkan perbatasan geopolitis zaman sekarang (kecuali Irian Jaya), ditambah dengan sedikit membahas studi kasus diaspora dan transnasional orang-orang Asia Tenggara di Amerika dalam bab penutup. Sebagai kerangka interpretasi, Peletz menggunakan peran transgender sebagai lensa kritis untuk menganalisa pluralisme gender. Menurutnya, perubahan-perubahan situasi dan kondisi transgenderisme menandai proses dalam berbagai domain analitik dan budaya yang saling berkaitan di Asia Tenggara.
Displaying 1 of 1 review