Alie Ishala Samantha, 16 tahun, tak pernah mengira hidupnya akan sepelik ini.
Semula, dia hidup dalam keluarga yang penuh cinta, dan rumah yang selalu memeluknya. Namun, sejak dituduh menjadi penyebab meninggalnya Bunda Gianla lima tahun lalu, segalanya berubah dalam semalam. Sebutan "pembunuh" pun disematkan dalam dirinya, dan dia terus mendapatkan penolakan dan rasa sakit dari ayah dan keempat kakaknya: Sadipta, Rendra, Samuel, dan Natta.
Hidup Alie kini terasa bagai neraka. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, malah menjadi tempat penyiksaan bagi fisik dan mentalnya. Pertanyaan ini pun kerap menghampiri Alie: sampai kapan dia harus mengalami ini semua? Akankah rumah ini kelak akan menjadi rumah lagi untuknya?
“Nda, rumah , bahkan dunia, tanpa Bunda benar-benar semengerikan itu...." – Alie
*Bahasa mungkin kurang lembut jadi tolong baca dengan pikiran terbuka
Buat Lenn Liu, aku apresiasi banget kamu bisa menyelesaikan novel ini dan banyak yang suka sama novelnya. Ini bukan masalah selera, bintang yang saya kasih ke kamu memang saya kasih secara objektif sekali.
Masih heran sama yang ngasih bintang 5 karena ini adalah buku yang paling bikin 100k ku sia-sia.
Berharap banyak sama buku ini karena memang semua orang merekomendasikan. Apalagi ada embel-embel bahwa novel ini akan difilmkan. Tapi saat membaca sampai selesai (iya sampai selesai karena aku nggak mau duitku makin sia-sia), perasaanku langsung kesel, kecewa, marah, dan mood berantakan. Bukan, bukan karena kelakuan tokohnya ataupun karena kisah sedih Alie di sini. Berikut hal-hal yang bikin aku ngerasa buku ini nggak worth it:
1. Penulisan berantakan. Aku bisa bayangin gimana editor kamu pontang-panting benerin naskah tulisan kamu. Mau jadi penulis itu baik, tapi lebih baik lagi kalau mau belajar. Jangan sampai karena mendapat tawaran terbit terus merasa udah bagus dan nggak perlu belajar. Penulisan satu novel ini bikin gemesss dan keseel. Apa, sih? Masa ngomong ke saudara kembar baku amat??
Terlalu banyak kata-kata yang pengin dimasukin buat kelihatan cerdas tapi nggak nyambung. Hujan berkoleborasi menghadirkan... HAH? APASIH? 😭 Asli BANYAK kalimat-kalimat yang cringe abis dan nggak sesuai sama interaksi antar-tokohnya.
2. Tokoh yang nggak ada development, nggak ada karakter kuat, dan nggak jelas semua. Kayaknya penulis nulis ini cuma berniat menghadirkan suasana "angst". Pokoknya Alie menderita dan semua orang jahat sama dia. Padahal nggak gitu juga. OVER BANGET bikin 1 ayah dan 4 kakak cowok mukul-mukulin cewek bungsu, terus sampai nenek dan tante-tantenya benci sama Alie. Kayak... Kamu bikin semua tokoh itu nggak pakai perasaan bahwa mereka "hidup". Bahwa dinamika perasaan semua manusia itu beda, aneh banget semua menindas Alie dan ngatain dia pembunuh padahal ya akar alasannya nggak sekokoh itu. Emang orang-orang di situ semua otaknya pada kecil sampai nggak bisa mikir? Kayak... Apa sih lebay amat 5 tahun ngatain pembunuh mulu. Katanya benci Gianla karena pembantu tapi ikut-ikutan ngatain pembunuh. APA SIHH
Tokoh dari Alie, ayah, sama semua kakaknya nggak ada chara development yang dituliskan dengan baik. Tau-tau dadanya perih, tau-tau ngerasa bersalah, tau-tau bla bla bla. Alie juga nggak ada chadev sampai akhir masih ngemis terus tiba-tiba pergi.
3. INI TAHUN BERAPA SIH? Masih zaman ya cerita ngebully anak SMA yang kayak gitu? Iya, kasus pembullyan emang masih banyaaaak banget. Tapi penulis bener-bener bikin semua tokoh hitam putih. Sekali lagi, bikinnya nggak pakai perasaan bahwa mereka harus hidup bagi pembaca. Alie udah disiksa di rumah jadi di sekolah butuh disiksa lagi? Oh gampang, tinggal kasih aja geng pembully yang semua jahat-jahat nggak takut Linked in nya dikorek HRD. Terus jangan lupa kasih Alie dua temen malaikat supeeeeeeeeeer baik yang menjaga dia dari iblis-iblis itu. Hubungan Alie sama dua temennya juga bisa jadi bahasan lagi, tapi nanti makin panjang.
4. Kayaknya keluarga Alie tuh pada korslet semua? Semua sifatnya dan jalan pikirannya pada sama. Mukulin Alie, tapi marah dia jadi pembully? Hah? Habis nangis baca jurnal Alie terus ga peduliin dia? Hah? Pokoknya NGGAK MAKE SENSE lah semua pada kompak pikirannya b3g0. Bukan berarti penulis berhasil sampai aku kesel beneran ke tokoh ya, tapi emang ga jelas ga ada karakternya sama sekali tiap tokohnya.
4. TOLONG KASIH TAU AKU DOKTER YANG NGIZININ ANAK 16 TAHUN HABIS DIGEBUK BALOK KAYU DI KEPALANYA SAMPAI BERDARAH-DARAH BUAT DONOR DARAH 😍 Wow padahal Alie kan katanya tirus, emang berat badannya boleh? Berat badannya cukup aja nggak masuk akal oh atau dokternya lulusan kuliah online? Kenapa sih pengin banget nunjukin Alie rela berkorban dan keluarganya nggak peduliin dia? Sampai nulis adegan yang sinetron aja kayaknya nggak kepikiran. Lagian Alie kan beda ibu dari mereka, kemungkinan buat cuma Alie yang sama goldarnya kayak Dipta tuh kecil dan AAAH POKOKNYA NGGAK MAKE SENSE.
5. NGGAK ADA KPAI? Aku setuju sama review lain yang bilang kalau penulis buku ini belum pernah berbincang sama korban kekerasan. Bener-bener dari awal sampai akhir penulis makai trauma dan kondisi Alie buat pembangun aja biar ceritanya sedih. Nggak ada penjelasan, closure, atau apapun itu. Anak umur 16 tahun bisa gampang dapet obat tidur? Aneh. Terus 5 tahun disiksa dipukulin tiba-tiba TENG! 1 hari memutuskan lepas karena merasa nggak disayang setelah sebelumnya ngemis-ngemis minta dianggap. Asli deh padahal konten yang dibahas SANGAT SANGAT sensitif mulai dari SA, abuse, bullying, dll. Please penulis lain yang baca review ini JANGAN JADIKAN MENTAL ILLNESS PENDOMPLENG CERITA KAMU DAN GAMPANG DIKIT-DIKIT NULIS TRAUMA, BUND1R, DLL!
Sebenernya masih ada beberapa tapi kayaknya udah terlalu banyak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kenapa dia dipersalahkan atas kematian ibunya. 4 orang abangnya salahkan Alie.. itu belum lagi ayah dia
Ayah dia as a pelindung gagal nak jaga anak perempuan sendiri. Salahkan Alie atas pemergian isterinya. Dibelasah Alie cukup². Dan abang² Alie hanya mampu mendengar dan melihat.
Bila Alie dah pergi baru menyesal. F geram! F ingat Alie dah takda.. rupa²nya dia ada. Masih hidup.. masih mencari bahagia
4.50/10 how this book got more than 3 stars in goodreads, god knows.
aku bakal review nyampur bahasa, jd mohon maklum. menurutku this was a sad excuse of a book. this should've stayed in wattpad and not diterbittin samsek.
masalah aku ama buku ini cuma satu, representasi of the sensitive topics mentioned in this book was terrible, and it does more harm than good. - seorang abuse victims seakan2 seseorang yg lemah dan ga bs membela dirinya sendiri, dan sekalinya dia bs hal yg dia pertahanin adalah hal2 yg that isn't the point. obviously the author has never been an abuse victim or spoken to any abuse victims. the research is mediocre. - org yg mengidap depresi smp2 suicidal thoughts, tp digambarkan seakan2 "aku mau mati" is a cheap sentence to pancing us to cry. daripada begitu, suicidal ppl do not want to be pitied, they js want to be understood and this book failed to represent this. - menggambarkan abusers seakan2 org2 yg sebenarnya kesakitan jg. walaupun udh physically abusive, seakan2 kl mereka "lembut" sedikit, tb2 alie lupa kl mrk yg membuat kehidupan dia sengsara. meng-justifikasi perbuatan abusers is not cute.
STOP MENERBITKAN DAN MENJUAL NOVEL AU!!! KARENA ADA HAK CIPTA DARI VISUAL IDOL YANG DIGUNAKAN!!! KAPAN ORANG-ORANG PADA SADAR. CUAN MULU YANG DIKEJAR!!!
PENULISNYA JUGA MALAH MEMBERIKAN TIPS MENULIS AU TERANG-TERANGAN DI IG AGAR MENGGUNAKAN VISUAL IDOL KPOP TERKENAL. OMG!!!
Sekian umpatan dari saya. Lanjut ke review novelnya.
Kok bisa novel seperti ini best seller dan mau difilmkan? Iya, tahu, semua kembali kepada selera pembaca. Namun, RUA menurut saya tidak layak. Bakal banyak minusnya kalau di-review pakai teori pengkajian fiksi.
Tema dan konflik pasaran. Di platform menulis lain banyak cerita serupa. Karakter utamanya terlalu menye-menye, dari awal sampai akhir lemah banget. Alurnya membosankan, mudah ditebak, ada plot hole. Kesedihan Alie mulu yang dibahas. Endingnya tidak fokus pada penyelesaian, justru terkesan memaksa. Ada dialog dia disiksa malah berkata: ya udah Alie salah, Alie bla bla bla. What? Seriously?!
Seringnya pasrah, menerima, nggak ada perlawanan, bikin gedek. Konflik dibenci ayah dan semua saudara serta penyiksaan & pembullyan Alie menurutku tidak masuk akal. Saya punya teman yang orang tuanya abuse banget, tapi dia masih dikasih jatah bulanan dan dipedulikan soal pendidikan dll. Penulis terlalu meromantisasi kekerasan dan kesedihan. Itu malah bikin ceritanya jadi cringe.
Oya, satu lagi. Tokoh yang menyebut namanya sendiri saat berdialog, menurut saya nggak banget dan bikin merinding kalau bukan anak kecil. Kalau kamu kasih novel ini bintang 5, segeralah memeriksakan diri. Jangan-jangan kamu masokis.
Alie, anak bongsu yang dulu sangat disayangi tapi semuanya berubah selepas pemergian ibu. Ayah dan abang-abang dia mula menyalahkan Alie kononnya punca kematian ibu.
Just imagine tinggal serumah dengan orang yang benci kita? Yang sepatutnya jadi tempat paling selama tapi jadi tempat paling menyakitkan💔
Sakitnya jadi Alie lagi-lagi part Alie tak pernah berhenti usaha untuk amik hati keluarga dia, walaupun tak pernah dihargai. Tapi manusia, memang macam tu. Kita selalu tunggu sampai kehilangan baru nak sedar 😢
This book agak heavy dia bukan sekadar cerita sedih, tapi penuh dengan luka emosi, trauma keluarga, dan perjuangan untuk rasa disayangi. Alie melalui hari demi hari dengan orang yang patut jadi pelindung, tapi sebenarnya yang paling banyak menyakiti.
Kalau tengah cari buku yang real, deep dan penuh rasa this one memang berbaloi baca. Pls prepare mental & tisu siap-siap.
Agak bimbang nge-reviewnya. Dari sisi cara tulis dan tata kalimat itu enjoyable buat aku. Tapi plotnya yah cuman begitu begitu aja, tiap hari cuman stress aja karakter alie. Plot nya sederhana, ngak gitu kental, bukan favorit aku.
Watak para karakter, terkadang terasa begitu dangkal karena kebencian mereka. Memang kebencian itu beralasan, tapi masa buta banget kebenciannya. contoh Abimanyu yang sudah dewasa dan lumayan tua ga bisa ngebedain yang baik dan yang benar.
Btw dalam bukunya ada typo plis
Endingnya kurang memuaskan, biarpun nanti pasti ada yang bilang kehilangan Alie itu hukuman terberat buat mereka. Tapi masi ngak ngeh aja, apalagi soal kekerasan yang mereka lakukan. Seperti ngak ada konsekuensinya melakukan tindak kekerasan, padahal harusnya itu bisa ditindak ke kantor polisi sejujurnya. Physical abuse dan juga mental abuse ga boleh dianggap sepele yang kawan kawan. Kayaknya seluruh keluarga Jdoraksa perlu dihukum sih.
gua yakin yg 5⭐ rada masochist
Btw gw mungkin ngak sreg sama ni novel karna gw tipe orang yg ga suka angst yah. Penulisan dan tata kata mantep kok!
This entire review has been hidden because of spoilers.
what i just read... untung nya ini buku hadiah ya, jadi duit ku ga terbuang sia sia. menurut ku buku yg diadaptasi dari au bener bener hancur bgt bahasanya, apalagi khususnya alur buku ini bener bener flat bgt dan gitu" aja
untuk bahasanya masih bisa untuk dinikmati, walau bahasanya agak berantakan. apalagi penulis nya saat itu masih smp, termasuk keren nerbitin buku untuk usia segitu. walau harus di koreksi lagi
alur nya bener" flat dan gitu gitu aja, alie nya yg terus" an sakit hati, di caci maki sama keluarga nya, udah begitu aja sampai muter muter di bab selanjut nya. disini menurut aku alurnya agak sedikit memaksakan? dan bener" ga realistis dengan kehidupan nyata..., anak sma yg sekarat diizinkan untuk donor darah? lalu keluarga yg begitu bejat dan segitu nya nekan alie? seolah olah semua dunia jahat sama Alie hanya karna satu hal.
buku ini overated bgt, serius. aku pikir ini buku bakal bikin sedih, ternyata ga begitu. anak sma yg terlalu ngambil resiko dihidupnya 😫🤚🏻
bahkan aku baca buku ini cukup 1 hari kurang dari 4 jam (aku slow reader) karna pengen cepat" selesaiin aja takut kena reading slump lagi
aku merasa buku dari au harus benar" dikurangkan dari penerbitan, di gramed banyak bgt buku au berjejeran (aku miris lihatnya jujur) krna mmg ga layak..
but good job len liuuu, terus berkarya. kamu keren bgt
Dapat buku ni hadiah dari kawan ofis sebab dia nampak buku ni one of my wishlist. Makasih kawaan 😆
Mengisahkan tentang Alie, yang dibenci oleh seluruh ahli keluarganya kerana menjadi punca kematian ibunya yang terlibat dengan kemalangan jalan raya gara-gara ingin menyelamatkan Alie yang melulu ketika melintas jalan.
Entahlah bagi aku, cerita ni terlalu toksik, kenapa nak salahkan budak umur 10 tahun untuk kematian maknya? Dia sendiri mesti trauma sebab dia nampak mak dia mati depan mata.
Setiap bab wajib ada adegan maki & pukul. Sampai aku rasa nak maki satu keluarga Jdoraksa ni. Korang dah la lelaki. Patut ada satu watak yang boleh bela Alie, Adipta contohnya sebab dia sulung, ni tak, dia terpaling benci adik bongsunya. Patut otak dewasa kau tu boleh fikir la mana baik mana buruk.
Takpun, watak ayah dia yg boleh jadi pelindung Alie. Sepatutnya, dia selalu tegur anak2 dia bila dia ada kat rumah, tp sebab dia busy, abang-abang dia buli Alie, kalau jalan cerita macamtu, make sense sikit. Ni takde. Memang tak simpan langsung rasa ihsan tu. Sampai derma darah pun paksa Alie padahal member tu baru selamat dibedah. Doktor mana yg bagi pesakit derma darah sedangkan ada lagi 3 orang lelaki dewasa masih sihat ye. Yang makan pun cukup. Pergi sekolah pun ada kenderaan sendiri. Aku geram betul part ni 😤
Dah kena dera kat rumah, kena buli kat sekolah. Kesian betul watak Alie ni. Aku ingat ending tu Alie mati. Nah, survive pulak member tu. Hahaha. Pastu takde kifarah pulak kena kat 5 jantan tak guna tu. Patut korang mati terbakar ke, eksiden masa cari Alie ke. Aduhh sakit hati baca buku ni!
Jujur, selama baca buku ini dibikin mikir, "serius ada keluarga sesakit ini?" Kek, apalah keluarga Abimanyu ini 💔
Untuk suasana angst nya sendiri..jujur, saya lebih dibikin geram dan kesal sama perlakuan ayah dan kakak-kakaknya—tapi tentu saja ada rasa kasihan serta iba kepada Alie. Di bagian akhir cerita juga dibikin gantung dengan gimana nasib Alie 🫠
Ohya, penggunaan sebutan Alie kepada keempat kakaknya yang berbeda-beda—Mas, Aa, Abang—terkadang bikin saya bingung 😅 Tapi selalu dibikin sesak dan ikut merasakan sakitnya Alie diperlakukan sekasar itu oleh keluarganya sendiri.
Banyak pesan moral yang bisa diambil dari Rumah untuk Alie sebenarnya.. Seperti, mengikhlaskan kepergian seseorang yang kita cintai. Toh, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Terakhir, semoga di kehidupan nyata kita tidak mengalami hal yang dirasakan Alie ya. Karena rasanya ngga terbayang kalau ada makhluk hidup—apalagi manusia—yang diperlakukan dengan ringan tangan seperti Alie.
jujur aku baru baca, dan nemu kata ganti "cewek itu" jujur kaget untuk sekelas buku yang best seller dan udah difilmkan. gak srek aja bacanya, cewek itu, kenapa gak gadis itu atau apa. terus kenapa di awal gak dijelasin kecelakaan yang jadi penyebab dia dimusuhin sekeluarga? bingung antara lanjut atau ngga, padahal baru aja baca 30 hal. sayang juga udah beli bukunya.
Baik. Disini saya akan membuat beberapa poin mengapa cerita ini pantas mendapat nilai serendah ini.
Poin pertama; Gaya penulisan. Cerita ini berasal dari sebuah AUbdi tiktok. Jujur saya lumayan menyukain AU nya. Karena kualitas yang baik dengan tema yang pasaran. Saya membeli buku ini saat PO pertama karena penasaran dan FOMO. Dari prolog cerita sudah ada sesuatu yang menggelitik saya. Cerita ini ditulis bukan dengan perspektif Alie saja. Sangat boleh menggunakan bahasa yang kekinian tapi tetap tidak nyaman dibaca.
Poin kedua; Cerita yang tidak masuk akal Alie memang tak sengaja mencelakai ibundanya. Keluarga nya marah. Tapi bertahun tahun? Menurutku mereka mungkin sudah punya penyakit mental. Begitu juga dengan Alie. Alie mungkin merasa bersalah, tapi di beberapa bab ia melawan dan menunjukkan bahwa ia di tuduh sebagai pembunuh. Ia mampu melawan namun mengapa diam? Saya mungkin bisa setuju jika mereka marah pada Alie karena mereka juga terkuka. Pada awalnya manusia memang akan menyalakan orang lain atas apa yang mereka alami Tapi yang dilakukan oleh Ayah Alie dan saudara-saudaranya tidak masuk akal. Dan mereka melakukan hal di luar nalar saat mereka sepenuhnya sadar. Dan sikap ayah yang seolah olah menyesal di akhir cerita menurut saya itu bodoh, ia menyesali nya tapi melakukannya? Perihal bully juga. Oh ayolah semua cerita sinetron punya hal ini, tak ada yang spesial. Lagipula kehidupan sekolahnya berjalan dengan baik sebelum ia mulai mendekat dengan abangnya kan? Padahal ia sangat tau perilaku mereka dan tetap ingin dekat. Aneh. Menjelang akhir juga, cukup tak mungkin pula Alie mampu kabur dari rumah sakit yang pastinya ramai dan dijaga perawat itu. Karena tak mungkin juga ia tidak berpakaian seperti pasien. Ia baru selesai operasi, mana mungkin bisa berjalan dalam waktu yang singkat dan kabur dari tempat itu. Hal ini membingungkan dan tidak masuk akal. Penulis menggambarkan keinginan untuk bunuh diri yang dimiliki Alie juga sangat abstrak dan aneh. Menurut pendapat pribadi saya mungkin Alie mengidap gangguan mental sehingga dirinya mampu menerima siksaan itu selama bertahun-tahun. Lebih tidak masuk akal juga karena is tidak dikurung dan ia mampu kabur kapan saja.
Tokoh ayah dan Abang abangnya dibuat terlalu gila dan emosional... Sampai terlihat seperti orang dengan penyakit mental... ini sulit dicerna dan dimengerti...
Saya tidak tau dengan selera orang yang mampu memberi hal ini nilai lebih dari dua. Ini hanyalah rupiah yang di sia sia kan. Membeli bajakan pun tak sudi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dari tiktok shop saya kenal ini novel. Tidak rugi utk membelinya, kerna jalan ceritanya membuat saya penuh emosi marah, sedih dan kesian. Banyak memaki lagi dgn chracter ayahnya alie dan abang2 nya alie.
Bagi saya, alie sepatutnya tidak layak diperlakuan bgtu kerna kematian ibunya alie tidak disengajakan, tpi org rmh nya tdk boleh diterima hakikat nya lalu memberi penderaan fizikal dan emosi kepada alie.
Selain itu, alie juga dibuli oleh geng Hexa disebabkan alie menumpang dgn abgnya samuel dan natta ke sekolah, oleh itu, ketua Hexa, iaitu Najwa terasa tercabar dan cemburu.
Dalam byk2 antagonist, bapa nya alie lah paling teruk characternya. Sepatutnya sebagai bapa lah patut tunaikan tanggungjwab utk menjaga alie.. tpi gara2 kematian bini nya, alie pula dipersalahkan 100%.. Ada satu part, yg mana bapanya alie membawa alie ke bali utk melawat neneknya, rupanya, kehadiran alie di sna hanya utk menjadi org gaji. kesian btl alie diperhinakan disebabkan alie ni lahir dari rahim org gaji, iaitu mamanya alie (pengasuh kpd 4 abgnya). Benda bgini bukan alie yg salah tau, mmg terang2 bapa nya yg kahwin dgn mama nya, tpi alie yg tidak berdosa pula dipersalahkan. mmg bodoh btl bapa alie ni. pttnya defend sja ba si alie. mmg palui bin bodoh. Lagi bikin pns, masa alie dlm keadaan kritikal di ward, gila btl bapanya memarahi alie dan meminta utk alie menderma darahnya kpd abg sulungnya, sadipta, walaupun alie masih di bwah umur. (bodoh tidak tau bersyukur. palui) Masing2 dgn ego yg tinggi melangit. Lepas sdh derma, tiada siapapun yg peduli dgn alie.
Fast track foward, endingnya alie meninggalkan hospital dan mematikan no telefonnya dan socmed supaya abg2nya dan bapanya tidak dpt menghubunginya lgi. Cerita ini tidak berakhir di sini sja, next cerita nya ada dalam novel Rumah Tanpa Cahaya by Lenn Liu.
Dalam process membaca ini cerita, sangatlah beremosi sampai saya beberapa kali menangis dan memaki dgn antagonist dlm cerita ni. Alie seorang budak yg kuat mentalnya kerana tiada siapa yg boleh setahan Alie bila diperlakukan sebegitu selama 5 tahun. 🥺🙏🏻
Giving this 5⭐️ cause this storyline makes me lots of emotion and need a strong heart to read this family abuse🔥🔥
This entire review has been hidden because of spoilers.
Belum baca novelnya, dan ga akan baca kalo sama dengan di film. Awalnya muncul di Netflix dan tertarik dengan judulnya, "Rumah untuk someone" itu menurutku cukup menarik.
Tapi, setelah nonton, dari awal sampai akhir ga dapat menariknya, why?
- Ini masalah umum perfilman Indonesia, soal acting dan cinematography, ntahlah bandingin aja sama film2 lain di luar sana yang udah maju. - Dialog ala film Indonesia kenapa semua pada kaku dan ga alami sama sekali ya? Tiap intonasi, diksi, ekspresi, gerakan, timing, semuanya serba kaku, berasa banget kalo "liat nih ya gw lagi acting" - Karakter utama dibikin menye-menye banget, sering menyalahkan diri sendiri, ga bisa membela diri sama sekali, sekalinya bisa topiknya sedangkal itu. Padahal nungguin outburst nya si MC ini ke semua keluarganya saat lagi di rumah. - Dari kakak sampe bapaknya gada yang bisa mikir waras. Ada sedikit kebaikan yang cuma segede upil diromantisasi seolah-olah itu hal yang besar. Bahkan ketika adiknya kena masalah kakak yg katanya 'baik' ini juga gada crosscheck apa-apa dan langsung main nyalahin doang. - Gurunya juga apa-apaan itu cara menyelesaikan masalahnya? kalo ada Edogawa Conan diketawain kali ya ini dari geng buli sampe gurunya. - Waktu Alie kabur maksa banget tiba-tiba semuanya mau cari bareng, waktu Alie hampir ketabrak kereta aja gada sedikitppun perasaan bersaslahnya. Lebih parah mana sih hampir mati daripada pergi dari rumah? - Bagian kena tabrak sama ditusuk lagi-lagi ga oke banget arrrrggggghh . - Tiap liat si MC kena marah dan diskriminasi gitu sakit banget, tapi kalo liat dialog yang dilontarkan, sama ekspresi muka, jadi ga demen. Mending bayangin di kepala aja adegannya, jadi ngena banget. - Yang paling jleb, masalah hate segede ini gada penyelesaiannya, mulai dari karma kang buli sampe keluarganya, gada. - Ending juga itu si MC malah dibikin hidup lagi di rumah sakit? kasian banget sampe akhir dibikin menderita. - Kesimpulan, script ga mateng, dialog dangkal, acting dan properti seadanya, pengambilan gambar ya gitulah, semua adegannya ntahlah, mau highlight satu scene yg ngena juga gada.
Satu hal yang menarik dari film ini ya itu tadi "Judul" nya.
Format bukunya ngingetin aku sama buku KKPK, baik dari segi setting font sampe desainnya. Entah ini bukunya emang cocok untuk anak-anak remaja aja atau gimana, idk?
Sejujurnya, baru tau kalo buku ini dari au, jadi penilaian ini sangat amat netral. Sebagai orang yang gak baca au-nya, gak melihat buku ini terkesan seperti au. Masih enjoyable untuk dibaca bagi orang yang baru baca versi bukunya. Bahasanya juga enak dan mudah dibaca, bukan yang memaksakan agar dibaca.
Cuma, yang bikin rating buku ini rendah adalah cerita yang menurutku kurang masuk akal. Mungkin di keluarga lain memang ada yang seperti ini, tapi dengan background keluarga yang seharmonis itu, bingung. Karena gak ada satupun yang berpikiran terbuka dengan apa yang terjadi.
Intinya, kalo untuk anak remaja bacaan ini mungkin dibilang bagus karena bikin nangis. Tapi mungkin orang dewasa akan kontra dengan pemikiran anak remaja?
This is the story of a girl named Alie, who was blamed by her brothers and father for the death of their mother… for five whole years. Can you imagine that? Even though they knew it wasn’t her fault , her mother died saving her. but they still chose to make Alie the scapegoat. It doesn’t make any sense. I finished this book in less than two days. And no, I didn’t shed a single tear…not because it wasn’t sad, but because I was too angry. My anger burned for how cruel and heartless her brothers and father were. The endless blame, the emotional abuse, the neglect, all because of pride and ego.
But I’m glad Alie had friends who stood by her side, who supported her, defended her, and reminded her she wasn’t alone. That part made my heart feel a little lighter. Still, I can’t help but think how toxic and illogical it was to blame a 9-year-old child for something like that. A whole five years? Seriously? The pain is unreal. And as for the ending… honestly, I wish they faced some kind of kifarah or consequence. Why do they only feel guilty and “repent” at the very end? I don’t know. I didn’t find it satisfying AHHAHAH😭🙏🏻
oH AND the audacity of one of the brothers to say, “The world is too cruel for you, Alie.” HELLO? YOU are the cruelty she endured.
But overall a good read laaa i rated it 3.9/5🌟 Alie deserved better. Always.
Rumah untuk Alie membawakan tema tentang perundungan yang diterima pada Alie oleh keluarga dan lingkungannya. Alie yang dulu merasakan hidup di keluarga bahagia seketika berubah saat kepergian ibu mereka. Alie menjadi tempat pelampiasan amarah serta dendam para keluarganya setelah ibu mereka meninggal dunia.
Menurut saya, buku ini telah dikemas dengan gaya tulis dan kosa kata yang mudah untuk dicerna anak remaja. Walaupun masih banyak salah ketik (contoh: Bi Inah dan Bi Imah). Alur cerita tidak rumit, memungkinkan buku ini selesai dibaca sekali duduk.
Namun, permasalahan dalam buku ini terasa "repetitif". 90% lebih isi buku ini hanya keluarga Alie serta tokoh pendamping menganiaya Alie berbasis alasan yang cliche. Anda bisa melewati sebagian buku ini dan tetap tidak ada kemajuan apa pun dalam ceritanya. Karakternya tidak memiliki personalitas. Hanya Natta yang "agak" mendingan. Dibanding berfokus pada "seberapa sadis saya harus membuat tokoh utama menderita" sampai mengabaikan inti penting dalam cerita, saya menyarankan untuk mengalihkan fokusnya pada pengembangan penokohan dan perbaikan cerita. Jika memungkinkan, memperdalam risetnya dalam isu yang diambil. Karena saya merasa buku ini bukan bertujuan untuk mengangkat isu perundungan, namun lebih mengarah pada MEROMANTISASI PERUNDUNGAN.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Alie ni sangat sangat sangat penyabar. Sangat kuat. Sangat tabah. Seawal usia 10 tahun dia dah dianggap pembunuh atas kematian Gianla (ibunya). Ibunya meninggal saat kemalangan menyelamatkan Alie waktu Alie ni nak lintas jalan melulu.
Selepas kejadian itu, 4 orang abangnya (Sadipta, Rendra, Samuel & Natta) dan Abimanyu (ayahnya) melampiaskan rasa bencinya pada Alie dengan dera Alie. Pukul Alie. Tak ada satu benda pun yang Alie buat dilayan dengan baik, pasti ada kekerasan yang diberi dan tak tinggal juga kata sini yang menyebut Alie Pembunuh!
Family punya tahap dera ni bukan sikit-sikit ya. Sampai berdarah Alie tu. Bak kata Alie, belum sempat luka lama tu nak sembuh, esoknya pasti akan ada luka baru di atas luka lama tu. Secara tak langsung membuatkan luka lama tu semakin dalam lukanya. Gila memang gila!
Banyak kali Alie suarakan keinginan ke ibunya di atas sana, dia nak ikut Bundanya ke 'sana' sebab di sini yang dianggap rumah ternyata neraka dunia buatnya. Tak ada sesiapa percayakan dia saat dia difitnah membuli kawan sekolahnya (sedangkan kawannya yang jahat tu yang kutuk Gianla ni pelacur). Tak ada siapa juga yang sudi dengarkan ceritanya kecuali Selena & Aji (bff dia). Bahkan keluarga besar yang ada saudara mara dan nenek Alie pun benci Alie & ibunya.
This book is really a good book that portrays one feeling of being blamed by something that is out of your control and the feeling nor the desperation of wanting people to understand your side of the story.
Tho,for me,the author did not do enough justice to it.People like Alie did not want to 'end' themselves like what the author portrays in this book,but,they just want other people to understand their side of the story nor their feelings instead of being blamed.
In this book,there is a lot of moment where Alie think about 'ending' herself and less of moment where she wants to be understand when it supposed to be like that.Like what I said, people like her didn't want to 'end' themselves,they just want to be understand.
One of the things I don't really like is how the author seems to gaslight us into thinking that Alie's brothers and father seems like yang paling 'tersakiti' in the end of the books.Maybe the author didn't even have the intention to portray them that way but the way the author describe it,it is really gaslighting people into thinking that Alie's decision at the end is wrong when it's completely not.
The writing style for that part really get us into having a pity for the same characters that is very cruel and evil at the start of the story.
Nevertheless,it is a good book that portrays Alie's resilience and strength,tho again,for me,the author did not do enough justice to potrays it since she seems very weak at some point,but either way,if you like a sad kind of story,maybe this is for you.
Alie, anak yang dicap sebagai "pembunuh" oleh keluarganya sendiri menjalani hari-hari bagaikan neraka. Akibat ia yang tidak sengaja membuat bundanya celaka, semua orang membencinya. Setiap hari ia harus mendengarkan kata-kata kasar dan perlakuan kasar yang dilakukan oleh abang-abangnya dan ayahnya sendiri. Tanpa ada yang mau tahu, bahwa ia juga sedih kehilangan bundanya, ia juga merasa bersalah setiap hari.
Di sekolah, hidup Alie juga gak bisa tenang karena kerap jadi korban bully. Tidak ada yang perduli apa yang terjadi padanya selain sahabatnya (Selena & Aji). Alie terus menguatkan dirinya untuk bertahan, berharap suatu saat nanti keluarganya akan kembali baik. Namun, harapan itu tak kunjung datang, sampai akhinya Alie sadar bahwa harapan itu sepertinya tidak akan pernah terwujud.
Ceritanya bagus banget, bahasanya enak, menggunakan alur maju mundur. Banyak flashback saat bundanya masih ada dan keluarga mereka bahagia 🥹. Pas flasback terus ke masa sekarang itu berasa nyusss, beda banget perlakuannya 😭.
Baca ini harus siapin tisu banyak-banyak. Aku udah baca berulang kali aja masih tetap nangis 😭.
Tema agak berat: penolakan keluarga, luka emosional, pencarian identiti, yang mungkin sangat relatable bagi remaja atau sesiapa yang pernah rasa “tak diterima”.
Family Alie ni agak toksik sebab dok salahkan Alie jadi punca mak dia meninggal. 4 orang abang, dok tuduh dia pembunuh. Bukan tu je, ayah dia yang sepatutnya melindungi pun join abang-abang dia yg 4 orang tu. Dekat rumah kene sepak terajang, caci maki apa semua, dekat sekolah pun begitu juga, dia jadi mangsa buli, tapi family dia tak ambil peduli.. Mujur la ada kawan baik 2 orang yang selalu percaya dan sokong Alie ni..
Lenn Liu menulis dengan gaya introspektif - banyak monolog dalaman Alie, banyak kenangan masa kecil yang kelam. Ini buat pembaca bukan sekadar “melihat”, tapi masuk dalam kepala watak yang trauma. Bila baca lama-lama, memang rasa drained.
Akhirnya, mesej buku ni kuat - tentang bertahan walaupun dunia sendiri jadi musuh. Alie jadi lambang keberanian untuk bangun semula dari luka, walaupun tanpa sokongan keluarga.
RUMAH UNTUK ALIE yang ditulis oleh LENN LIU yang di terbitkan tahun 2024. aku memilih buku Rumah Untuk Alie karena aku tau Alie ini dari tiktok dan aku langsung tertarik untuk membaca bukunya karna menurut ku ini bakalan seru dan sedih dari awal melihat cover buku nya saja itu sudah sangat menyedihkan. Alie adalah gadis ber umur 16 tahun awal nya ia hidup di keliarga yang penuh cinta dan rumah yang selalu memeluk nya dengan penuh kasih sayang namun setelah kepergian bunda nya ia selalu di tuduh menjadi penyebab meninggalnya bunda fqnya ia selalu di panggil dengan sebutan "pembunuh" oleh ayahnya dan ke empat kakak nya bernama Sadipta, Rendra, Samuel, Natta. Hidup Alie kini terasa seperti Neraka, rumah yang seharus nya menjadi tempat berlindung malah menjadi tempat penyiksaan bagi fisik dan mental nya. Buku nya sangat bagus dan seru dan mengandung bawang aku sangat sedih saat membaca buku nya. Aku berharap Rumah Untuk Alie secepatnya mengeluarkan buku yang ke2 nya
buku ni korang kena baca dengan emosi baru sampai apa yang author ni nak ceritakan.. sebab bila baca rasa marah,sedih,kesian tu semua ada.. okay jugak la sebab penulis cerita setiap situation yg character2 ni rasa, so barula kita tau apa perasaan abang2 dgn ayah dia tu..
TAPIII
kalau baca dengan logik akal, mmg cerita ni agak over and tak logik langsung sebab penderaan family alie terhadap dia tu melampau sangat even dah bertahun tahun berlalu.. selama 5 tahun tu sorang pon takde rasa nak reda dgn apa yg berlaku sgt tak logik.. lepastu budak kurus kering bru lepas kena pukul dekat kepala hilang banyak darah tiba ii kena derma darah dkt abg dia yg kena tikam.. pihak hospital pulak luluskan , so sgt la tidak logik di situu..
apa2 pon gudjob to the author, btw about the film i’m a bit disappointed sbb bosan gila.. semuanya berlaku mcm tibe sgt..
to those yang baru nak baca, saya nasihatkan korang baca la guna emosi sahaja.. jangan guna logik akal sgt nnti tak habis baca 🤣
This entire review has been hidden because of spoilers.
Penulisannya bener bener masuk ke hati, kayak.. kita seolah olah ngerasain apa yang alie rasakan di hidupnya. Terus menurut aku dikehidupan nyata kurang relate sih. Mungkin karena buku novel yah(?) jadi di lebih lebihkan gitu. Tapi mungkin di luar sana juga banyak orang yang dibenci tanpa alasan.. terus aku lihat di luar sana banyak anak sd yang baca novel ini. Menurut aku buat dibaca di usia yang terbilang masih labil novel ini harus dilarang sih. (MY OPINION.) soalnya pas baca adegan kekerasan mereka bakal nyontohin atau bahkan bisa bikin trauma ngga si? Apalagi alie yang udah berkali kali di hajar sama kakak’nya dan ayahnya dan tetep bersikap kaya seolah itu normal pun udah ngga wajar. Kalau aku jadi alie mendingan minta di buang ke panti asuhan aja daripada harus tinggal sm keluarga jahannam kaya mereka🤬🤬
This entire review has been hidden because of spoilers.
people said that the AU was so sad so i decided to straight on buy the book and don't read the AU since i thought it wouldnt be no fun no more if i knew the storyline.
i was thinking that it would be a new fun sensation i would experience, but turns out it wasnt really all that, just some mid sad scenes stuck all together.
the characters are unnecessary and are too evil for a death that isnt even the main character's fault.
NOT TO MENTION THE MAIN CHARACTER IS TOO NAIVE AND DOESNT KNOW HOW TO DEFEND HERSELF.
tho i hope the writer learns more and will be a better writer in the future, publishing a book at the riping age of middle school is already a good accomplishment.
Rumah untuk Alie | Lenn Liu | Kawah Media | 9786230979613 | 300 hlm
🏠Mengisahkan tentang Alie Ishala Samantha, seorang gadis berusia 16 tahun yang hidupnya berubah drastis sejak peristiwa tragis yang terjadi lima tahun sebelumnya, kematian ibu mereka, Bunda Gianla. Sejak saat itu, Alie dituduh sebagai penyebab kematian sang ibu dan menerima perlakuan buruk, penolakan, dan stigma dari ayahnya dan keempat kakaknya yaitu Sadipta, Rendra, Samuel, dan Natta.
🏠Pesan yang Dipelajari : -Jika keluarga menolak cinta, rumah terasa seperti neraka. -Stigma dan penolakan bisa meninggalkan luka batin yang mendalam -Penerimaan diri dan keberanian mencari makna hidup adalah bagian dari proses penyembuhan
🌟4,5/5.Novel tentang perjuangan seorang gadis menghadapi trauma, konflik keluarga, dan pencarian makna rumah sebagai tempat di mana dia merasa diterima dan dicintai.
Saya tak pasti nak komen apa untuk buku "Rumah untuk Alie" karya Lenn Liu ini. Pada awalnya, saya beli buku ni kerana rekomendasi yang tinggi dan hype. Tambahan lagi, saya peminat tegar angst.
Tapi satu sahaja, kesian untuk Alie, dan semuanya kalau diikutkan. Sebab semua terseksa, tapi yang paling terseksa tak dinafikan lagi iaitu Alie. Habis baca buku ni, rasa kosong sangat. Nak je peluk Alie kuat-kuat. Nak peluk sesiapa yang hadapi masalah yang sama.
Just want to say, check on your families, friends, or whoever important to you. They might facing a problem they didn't say, didn't show. Su!c!de awareness are important! Buku ni bukan sekadar karya, tetapi peringatan.
Aku beli versi Bahasa Melayu tapi translation dia tak smooth. Masih banyak perkataan Bahasa Indo. Cover dia tak sama tapi masih cute but dont judge the book by its cover! Toxic betul family Alie ni. Kat sekolah pun sama. Luckily dia masih ada 2 orang kawan yang baik.
Kenapa la Alie ni tak keluar je dari kehidupan toxic ni dari awal? Geram betul la..kalau aku, masa lebam luka berdarah tu la aku terus pegi balai polis buat report. Biar la pun family yang tak boleh move on tu didakwa sebab mendera! Dapatkan bantuan kawan2 dan organisasi luar. Kenapa lemah sangat? 3 bintang pun dah cukup bagus aku rate untuk cerita ni. Aku pula yang sakit hati dengan cerita budak Alie ni!