Sejak dipecat, Papa selalu mabuk dan sering memukul Mama dan Kay. Gara-gara itu, Kay menyimpan banyak amarah dalam dirinya dan melampiaskannya ke para adik kelas di sekolah. Kay sampai terancam dikeluarkan dari sekolah. Untungnya Frau Holler, wali kelas Kay, percaya Kay anak baik dan membantunya agar tidak dikeluarkan.
Untuk itu, Kay harus mengurus Greta, murid pindahan berkebutuhan khusus. Kay sebenarnya kesal sekali dengan Greta yang lamban. Kay bahkan bersekongol dengan Sven untuk diam-diam merundung Greta. Namun, ketulusan dan kehangatan Greta mengubah Kay. Saat ini, hanya Greta yang benar-benar menyukai Kay.
Kurasa Jutta Nymphius ini semacam ahli bikin cerita anak yang fokusnya bukan dari kacamata orang dewasa, melainkan anak-anak itu sendiri. Memang ada peran orang dewasa di sini, tapi nggak menutupi gambaran dunia Kay sebenarnya seperti apa. Mau nggak mau aku terhipnotis dengan cara berpikir Kay dan beberapa karakter anak yang dijadikan "kepala".
Ceritanya sederhana, tapi tetap rumit. Yah, latar belakang keluarga dan alasan Kay nakal sering banget kita temui, kok, intinya yang berbeda. Apalagi di sini ada Greta yang berkebutuhan khusus dan bayangkan, ya, Kay menjauhi semua orang diharuskan menjaga seorang teman. Even Greta tidak berkebutuhan khusus bakal sulit buat Kay karena baginya hanya ada dia di dunianya. Kay ini lagi berusaha memanjat karena sudah telanjur terperosok jauh dari kehidupan awalnya.
I like how Kay changed his perspective and attitude after met Greta. Yah, namanya juga anak berandal dan nakal, pasti malu kalau disuruh melakukan hal-hal soft semacam babysitting, but slowly dia bisa memilah mana yang perlu dijauhi, mana yang enggak.
Dan aku pengin berterima kasih sama orang dewasa di buku ini, terutama Frau Holler yang udah mau percaya dengan Kay dan yakin dia bisa berubah. Every child need her, bukan manusia-manusia yang cuma bisa melampiaskan luka masa lalu ke generasi berikutnya dan memilih bersembunyi di balik tuduhan "kamu lemah".
Bacaan bagus yang harus banget direkomendasikan ke cucu, anak, adik, keponakan, dsb.
Walau masuk kategori teenlit, buku ini terbilang cukup 'dark'. 'Nirmala' bercerita tentang Kay, seorang anak laki-laki yang tinggal di rumah dengan masalah KDRT. Permasalahan ini membuat Kay menjadi seorang perundung di sekolah. Guru-gurunya di sekolah sudah hampir menyerah, dan tinggal tersisa Frau Holler yang masih mempercayainya dan justru menjadikan Kay buddy bagi Greta, seorang siswi baru yang berkebutuhan khusus. Buku ini menggambarkan perasaan, pikiran, dan pengalaman anak yang mengalami kekerasan di rumah kemudian menyalurkannya kembali di sekolah. Bukan hanya kesal, pembaca juga akan ikut merasakan kasihan maupun kehangatan yang timbul dari interaksi Kay dan Greta.
Saya teringat pada diskusi dengan tim editor fiksi Gramedia Pustaka Utama yang menceritakan kenapa sekarang sastra anak dan remaja jerman perlahan kembali diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam Bahasa Indonesia. Harus diakui bahwa tema kekerasan dan disabilitas bukan hal yang mudah dibicarakan, namun semakin penting untuk dibicarakan. Pembaca Indonesia saat ini dianggap sudah lebih siap menerima topik-topik yang 'berat'.
Saya akan merekomendasikan 'Nirmala' sebagai bacaan untuk anak - pra-remaja, tapi sebaiknya orang tua juga mendampingi dan siap untuk berdiskusi mengenai isinya.
Dulu, Kay adalah anak biasa yang pintar dan suka bermain gitar. Namun, sekarang Kay menindas anak-anak yang lebih kecil dan berteman dengan Sven yang suka mengomporinya. Guru Kay yang prihatin menyuruh Kay menjadi buddy (teman, pemandu) bagi Greta, murid baru yang memiliki kebutuhan khusus.
Tentu saja Kay tidak suka, tetapi dia juga tidak bisa menolak. Apakah Kay bisa menghadapi Greta dengan sabar? Apa efeknya bagi Kay?
--- Menurutku, buku ini bagus dan mudah dicerna oleh anak. Fonnya gede dan di setiap awal bab ada ilustrasi cantik.
Masih jarang buku yang menceritakan anak berkebutuhan khusus, dan buku ini bisa jadi medium awal untuk berkenalan dengan mereka. Persahabatan antara Kay-Greta sangat manis, tapi selain itu buku ini juga membahas siklus kekerasan yang dialami anak2. Ada konten KDRT yang dialami Kay dan ibunya namun tidak dideskripsikan dengan detail. Mungkin diperlukan pendampingan bagi anak yang lebih muda.
Heartwarm, but not cute. Kecuali untuk Greta <3 Membahas isu bullying... dari seorang anak lelaki yang bahkan belum lulus SD. Namun membawa kemarahan begitu besar dalam dirinya yang dia arahkan ke orang lain.
Wow.. novel teenlit yang ada kesan dark tapi meaningful banget. Bercerita tentang Kay, seorang anak korban broken home. Papanya suka minum dan memukuli mamanya. Sampai-sampai ia harus mengendap-endap tiap pulang sekolah agar tidak bertatap muka dengan papanya. Hal itu berpengaruh pada mental dan perilakunya yang dilampiaskannya lewat merundung adik kelasnya. Kay jadi anak yang nakal, malas, dan rebel. Untungnya gurunya, Frau Holler, masih melihat percikan kebaikan di dalam diri Kay, maka ia pun mencoba menyalakannya melalui Greta.
Aku suka banget! Ceritanya sederhana, hangat, dan berkesan banget. Gaya bahasanya mudah dipahami dan cocok dibaca oleh remaja. Character development-nya Kay juga aku sukaaa. Bagaimana bimbang dan perang hatinya Kay ketika ia melakukan suatu hal yang salah. Dan dan dan, aku amaze sih sama Frau Holler. Biasanya dari pandangan orang biasa, anak berkebutuhan khusus seperti Greta lebih baik dijauhkan dari anak berandal seperti Kay. Tetapi Frau Holler malah sebaliknya, ia mencoba mendekatkan mereka melalui Kay yang diberi tugas sebagai pendamping Greta. Dan terbukti, ternyata hati Kay masihlah baik, hanya saja hatinya dipaksa keras karena keadaan keluarga.
Sepanjang baca aku merasa kasihan pada Kay. Di umurnya yang masih kecil dan labil, ia harus mengalami keadaan yang tidak mengenakkan. Untungnya ada orang dewasa yang masih peduli padanya sehingga ia bisa tertolong sedini mungkin. Bisa jadi pelajaran untuk kita semua untuk selalu mengamati sekitar kita, dan apabila melihat sesuatu yang aneh dan berubah, kita bisa membantu mereka secara tidak langsung dan sehalus mungkin. Terkadang hal seperti itu memang tam terlihat secara fisik, tetapi perilaku bisa mencerminkan masalah yang terjadi dalam keluarga.
Sangat aku rekomendasikan buat remaja, anak-anak, adik, keponakan, dan bahkan orang dewasa juga untuk membaca buku ini. Meaningful banget karena memberi kita pelajaran untuk selalu membantu teman dan menghindari perundungan yang terjadi antarteman. Personal rate dariku 4☆.
Dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini bercerita tentang Kay, seorang anak berusia sepuluh tahun yang menjadi bully di sekolahnya. Bukan tanpa sebab, Kay mulai berulah karena ia juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga sejak Papa dipecat dari pekerjaannya. Wali kelasnya memberikan kesempatan terakhir untuk Kay sebelum surat peringatan dikeluarkan. Kesempatan itu adalah menjadi buddy bagi seorang siswa baru berkebutuhan khusus. Dan sejak saat itu, hidup Kay berubah sedikit demi sedikit.
Melalui tokoh Kay, pembaca akan diajak untuk melihat bagaimana rasa tidak aman yang diterima anak di dalam rumah memberikan dampak yang sangat serius bagi kehidupan anak di luar rumah, terutama di sekolah. Kay yang awalnya baik, bisa berubah menjadi bully dan menyakiti anak lain dengan sangat brutal karena kekerasan yang selalu diterima dari ayahnya.
Di saat-saat seperti ini, tak banyak orang dewasa yang bisa memahami perubahan perilaku Kay, tapi tokoh Frau Holler di novel ini mampu. Frau Holler menunjukkan bahwa memberi kesempatan dengan perlakuan yang tepat kepada seorang anak, bisa mengubah jalan hidup mereka dengan cara yang sangat istimewa....
"... ada orang baik di dalam dirimu. Tapi, Kali ini kau harus membuktikannya." —Frau Holler.
Sebuah kisah heartwarming yet deep and dark tentang Kay—seorang anak SD yang berusia 10 tahun—yang sering merundung temannya. Ia melampiaskan marahnya karena sering mendapatkan perlakuan buruk dari Papanya. Hingga hadir Greta—murid baru berkebutuhan khusus—di sekolah Kay. Dan oleh gurunya, Kay diminta menjadi buddy Greta.
Pengembangan karakter Kay yang awalnya anak badung gemar merundung menjadi seorang "penjaga" Greta, sungguh mengharukan. Aku membaca setiap bab di novel ini terasa—ada yang tersirat maupun tersurat—perubahan karakter Kay.
Adegan yang aku sukai saat di lapangan basket dan saat Greta memberikan gitar kepada Kay. Cute and sweet.
Karena ini dari sudut pandang Kay, jadi penyelesaian KDRT yang ia dan Mamanya alami mungkin tidak dijelaskan dengan rinci. Tapi kata "melakukan" di sana sudah tersirat penyelesaiannya.
Sebuah bacaan ringan—tapi harap perhatian trigger warning—yang "dalam" dan menghangatkan hati.
Siapa sangka novel dengan cover dua anak—laki-laki dan perempuan—warna cerah mengandung dark story.
Puk...puk...Kay. Menjadi Kay tidak mudah. Kehidupan yang penuh warna cerah, ceria serta gembira tiba-tiba menjadi gelap dan sesak. Perubahan sikap Kay tidak lepas dari akumulasi sedih, kecewa, amarah yang mengendap. Kalau di rumah dia tidak bisa melepaskannya, maka di sekolah menjadi tempat pelampiasannya.
Kehadiran Greta seperti nirmala–tanpa cacat cela; bersih; suci; tidak bernoda. Greta yang mungkin membutuhkan perhatian khusus, nyatanya justru punya kejujuran yang tulus. Ia jujur akan perasaannya dan berani menunjukkannya. Meski awalnya terpaksa harus menjaga Greta, Kay pada akhirnya menemukan dirinya yang sebenarnya.
Mungkin ini kisah anak sepuluh tahun, tapi problematika yang dialami Kay menjadi cermin akan keluarga yang retak—broken home. Tidak ada keluarga yang sempurna. Tapi, selagi ada yang masih peduli dan ada kesempatan, retak itu masih bisa diperbaiki.
Kay, seorang anak 10 tahun yang bermasalah dan suka melakukan kekerasan pada adik kelas, dipercayai Frau Holler untuk menjadi buddy anak berkebutuhan khusus bernama Greta.
Mulanya terpaksa, bantuan Kay pada Greta lambat laun membangun hubungan hangat yang turut melembutkan hati Kay.
Meski tidak banyak disorot, aku suka sekali dengan sosok Frau Holler. Agaknya, kita butuh guru-guru yang jeli melihat lebih dekat dan pantang menyerah seeprtinya. Ia menyadari perubahan Kay yang tadinya aktif dan cerdas dan meyakini ada kebaikan hati yang sembunyi, sehingga tidak ragu memberinya kesempatan untuk bebenah. Selalu ada sebab di setiap perubahan, bukan?
Isu yang diangkat dalam buku middle grade ini cukup berat, ada bullying dan kekerasan domestik. Akan tetapi, plotnya tetap fokus pada persahabatan masa kanak yang naik turun dan penuh maaf.
"Greta hangat, lembut, dan sangat bulat. Tidak ada yang boleh menyakitinya. Wanginya seperti bunga kering, tanah, dan musim panas."
Berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Kay yang hidup dalam keluarga yang tidak stabil sejak ayahnya dipecat dan sering mabuk serta kekerasan di rumah. Kay hidup dengan memendam banyak emosi yang membuatnya menjadi perundung di sekolah.
Suatu hari, wali kelasnya, Frau Holler, memberikan tugas penting karena percaya jika Kay sebenarnya anak yang baik. Tugas penting itu adalah menjadi buddy atau pendamping bagi Greta murid baru yang berkebutuhan khusus.
Buku ini ditulis dari sudut pandang anak kecil, Kay, yang membuat pembaca merasakan emosi dan konflik seorang anak. Mengangkat isu yang jarang dibahas dibuku anak yaitu kekerasan dalam rumah tangga.
🌟4,5/5 Nirmala karya Jutta Nymphius adalah novel yang mengajarkan setiap individu tetap memiliki kemampuan memilih jadi baik melalui empati dukungan dan pengalaman positif.
Memiliki halaman cuma 150 an kupikir apakah bisa memuat semua isi cerita sampai tamat. Ternyata isinya cukup padat dan langsung to the point. Cocok buat anak2.
Diambil dari POV anak nakal. Kay berusia 10 tahun seorang berandal sekolah yang suka membully adik2 kelasnya, yang berasal dari keluarga kurang harmonis dimana ayahnya seorang alkoholik dan melakukan KDRT. Kupikir ga bakal seru, ternyata boleh juga ide cerita ini. Dari buku ini, anak nakal hanyalah anak baik yang tersakiti hatinya. Terutama oleh orang tuanya sendiri.
Karna ini bacaan anak2 masalah keluarga Kay ga disorot jauh. Buku ini lebih berfokus tentang datangnya Greta di kehidupan Kay yang mengubah cara pandang Kay terhadap dunia.
cerita berlatar kehidupan anak² tapi banyak makna di dalam nya tentang hubungan keluarga, pertemanan dan banyak hal yang dibahas di buku ini.
memang dengan 150 halaman ini pas sekali. ending pas dan bagus.
alur cerita bener² ngalir dan bagus sekali.
dibalut dengan sederhana tapi makna dalam sekali. banyak pelajaran yg bisa diambil dari cerita ini.
mugkin ada beberapa part yang akan membuat tidak nyaman.
tapi percayalah ini akan membuat sadar soal. orang yang awal keras dan bandel, jangan balik keras.tapi bisa dengan cara lembut dan sabar. mungkin itu bisa jadi pengambaran tokoh kay.
bener² cerita ini bagus sekali. dan rekomend. walau pengambaran tokoh anak, tapi alur cerita agak sedikit dark (karena ada perundungannya) dan banyak sekali insighfull.
Kay dan Ibunya harus jd pelampiasan sang ayah yg down karena kehilangan pekerjaan dan mabuk-mabukan. Kay yg berprestasi di sekolah menjadi preman tukang tindas akibat terusan dari prilaku ayahnya yg memukuli dia dan ibunya.
Kay bertemu Greta, ABK yg peka nan hangat penyuka bunga liar! Kehadiran Greta yg lamban seperti kungkang, sedikit-sedikit melunakan prilaku Kay. Bahkan Greta menjadi titik balik kehidupan baru bagi keluarga Kay. Gak kuat buat nangis waktu Kay nangis, digebukin bapaknya, apa lagi pas dia rindu masa-masa indahnya. Kayanya tiap bab dibikin sedih mulu. Walau ada momen Kay jahat sama temen-temennya, ah gua mah malah sedih, anak sekecil itu harus jadi rebel gara-gara bapaknya.
Jutta Nymphius memang piawai dalam mengangkat tema yang 'berat' bagi middle-grade. Perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, dan inklusifitas dipadukan dalam novel yang hanya setebal 150an halaman. Suatu ketika, Kay, murid yang sering menjadi pelaku perundungan diberikan tugas oleh Frau Holler, satu-satunya guru yang percaya bahwa Kay adalah anak yang baik. Tugas tersebut adalah menjadi Buddy, alias pendamping untuk Greta, murid pindahan yang memiliki kebutuhan khusus. Dinarasikan dengan bahasa sederhana dan terjemahan yang terasa sangat nyaman. Meski diperuntukkan usia 12+ tetap diperlukan pendampingan bagi anak yang membacanya agar dapat menjadi bahan diskusi bersama.
Novel satu ini baaguuusnya ngga ketolong! Perubahan karakternya ituloh sip banget, alias pacing-nya ngga buru-buru; semuanya dibawa pelan-pelan tapi pasti. Novel yang ngga butuh waktu lama buat selesaiin, baca deh kalo kalian lagi pengen cerita manis tapi dengan bumbu-bumbu air mata!
Akibat pemecatan ayahnya, Kay yang dulunya pintar dan aktif berubah menjadi anak yang badung dan suka melampiaskan amarahnya dengan merendahkan adik kelas. Sampai, datanglah Greta, teman baru dikelasnya. Dengan Greta, hidup Kay pelan-pelan kembali tertata.