Akhirnya Nisa memilih 'berhenti' dan memutuskan menerima Bima. "Jujur, Win. Aku sendiri tidak tahu, mengapa aku menerimanya. Mungkin... aku menerima karena memang tidak punya alasan untuk menolak. Setelah sekian lama istikharah, rasanya memang dia jodohku. Lagipula, sekarang aku mencoba mengubah paradigma berpikirku tentang suami dan pernikahan. Aku lebih percaya pada pilihan-Nya. Yeah, we never know what will happen. Trust Him, He'll give me the best. It's enough."
Jangkar telah diangkat dan layar telah dikembangkan... mulailah sebersit keraguan muncul, bahwa kenyataan tidak selalu ideal seperti yang dibayangkan. Salahkah keputusannya menerima Bima sebagai pendamping hidup...?
Mengalir menghanyutkan, begitulah perjalanan Nisa mengarungi pernikahannya melalui berbagai karang kehidupan, sebuah perjalanan memahami arti penerimaan, kenyataan, dan cinta. Ya, bila pernikahan bukan karena mencari ridha Allah,akan begitu mudah menampik manusia dalam hakikat kemanusiaannya, makhluk yang tidak sempurna.
Dan di muara cinta, doa Nisa terlantun, "Ya Allah, tumbuhkanlah cinta kami dari mata air cinta-Mu. Kekalkanlah semangat pernikahan kami sebagai bagian menegakkan kalimat-Mu. Berkahilah hari-hari kami menuju keridhaan-Mu." Sebab aku cinta...
Ceritanya lumayan, pembacaan terasa mengalir saja. Alur dan konflik ceritanya pun sangat tipikal, sudah bisa ditebak. Pesan yang ingin disampaikan pun sangat jelas. Hikmah bahwa kebaikan akan selalu menampakkan wujudnya biar di akhir cerita sekalipun, menghiasi buku ini.
Entahlah, barangkali waktu itu saya memang sedang jatuh cinta pada Annisa. In real world.