Andai saja ia tak jaga malam dan bangun lebih cepat, musibah yang merenggut nyawa istrinya itu tak akan terjadi. Rasa sesal akan tragedi itu terus menggelayuti kepala Sayuti, menciptakan sesak di dada. Belum usai, ia harus mengurus anak perempuan yang tak memiliki ikatan darah dengannya.
Omongan dari keluarga besar sang istri menambah beban di kepala Sayuti. Permintaan dari bapak mertua untuk meninggalkan sang cucu di rumahnya membuat Sayuti terjebak di antara harga diri seorang ayah dan kemampuan finansial yang tak mumpuni. Menjadi lebih susah karena si anak tak mau lepas darinya.
Di benaknya, Sayuti terus menimbang-nimbang: meninggalkan sang anak dan segala tekanan atau mengemban semua tanggung jawab meski ia tak yakin mampu.
Sayuti ditinggal mati oleh istrinya. Kini ia tinggal bersama dengan anak perempuannya—tepatnya anak sambung—yang masih kecil. Ia dilema apakah mesti meninggalkan anak tersebut pada mertuanya atau mengemban tanggung jawab meskipun tak sanggup (dan bukan darah dagingnya juga). Alurnya? Flat. Berangkat ke rumah mertua, singgah di rumah makan, merokok, ngobrol sejenak, mengenang masa lalu dengan alm. istrinya, tersadarkan kembali ke dunia nyata, pulang ke rumah. Muter-muter. Selesai.
4.5/5 stars | . Hangat yang menyakitkan. Begitulah kesimpulanku setelah selesai membaca buku ini. Tidak hanya mengantarkan pembaca untuk merengkuh kisah pilu tentang kehilangan orang tersayang, Baju Tebal juga sedikit mengajak pembacanya bernostalgia akan makna sebuah keluarga. Kisah di buku ini cukup sederhana dan sangat apa adanya, bahkan cenderung dekat dengan kehidupan kita. . Buku ini menceritakan kehidupan Sayuti setelah sang istri yang bernama Inayah meninggal dunia karena kecelakaan. Tidak hanya meninggalkan Sayuti, Inayah juga meninggalkan seorang anak bernama Lani, anak dari suami sebelumnya. Keluarga Inayah meminta Sayuti untuk menyerahkan Lani kepada mereka, tetapi hati Sayuti enggan merelakan hal itu. Lani pun turut melakukan penolakan dengan terus menempel pada Sayuti. Diterpa kekhawatiran dan ketidak pastian, Sayuti mencoba untuk memikirkan bagaimana masa depan Lani kelak jika memilih bersamanya. . Jika dianggap berlebihan, rasanya tidak apa-apa, tetapi aku menilai buku ini membawamu bernostalgia dengan masa-masa indah yang dihabiskan bersama keluarga. Karakter Sayuti benar-benar diperlihatkan secara apa adanya, apalagi ketika membaca bagian kegamangan tokoh ini yang tidak ingin berpisah dengan Lani. Sayuti memang menunjukkan sisi melankolis dan juga realistis. Sebagai penggerak cerita, tokoh Sayuti berhasil memainkan emosi pembaca dari yang mendukung agar Lani tetap bersamanya, hingga kemudian pembaca disadarkan, situasi Sayuti tidaklah semenguntungkan itu. Pembaca bisa merasakan kesedihan, kegelisahan dan ketakutan tokoh Sayuti dari awal hingga akhir cerita. . Baju Tebal tidaklah mengantarkan konflik rumit yang membuat pembaca merasakan adrenalin luar biasa. Sebaliknya, buku ini mengantarkan pembaca untuk menikmati dan juga merenungkan hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang luput dari diri kita. Salah satunya adalah bagaimana anak sekecil Lani harus bertarung melawan egoisme orang dewasa tanpa diberi waktu untuk mendapat kejelasan atau adaptasi lebih dulu. Kepergian sang Ibu, yang nantinya akan disusul oleh perginya Sayuti pasti akan membuat Lani mempertanyakan banyak hal. Orang dewasa belum tentu bisa memberi jawaban yang tepat. . Rasanya tidaklah berlebihan jika buku ini patut mendapatkan apresiasi lebih banyak dari para bookish di luar sana. Barangkali juga, Baju Tebal bisa jadi salah satu alternatif untuk keluar dari era reading slump. Kalian ngga akan menyesal bertemu dengan Sayuti, Lani dan ilustrasi apik di setiap pergantian bab di buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini bukan cerita yang luar biasa tapi cerita yang sederhana dan intim antara ayah dan anak.
Pertama, sudut pandang yang unik bagaimana Ayah bercerita soal kehilangan dan relasi dengan anak. Biasanya Ayah tidak suka bercerita soal hal-hal domestik dan kerentanannya.
Kedua, tentang pemilihan rentang waktu cerita yang menurutku sangat pendek tapi begitu detail. Aku sangat suka adegan warung soto dan kaos partai. Sederhana tapi penuh arti.
Terakhir, ini bisa jadi kritik tapi ini juga kekuatan novel ini yakni soal gaya bahasa. Novel ini mengingatkanku dengan novel yg membahas keluarga di era 60an, terasa lawas tapi sangat dekat dengan keseharian. Mungkin ini alasan novel ini underrated tapi secara pribadi aku merindukan novel macam ini.
#whatsekarreads
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita tentang seorang dari kalangan biasa dengan isi kepala yang tak membuat pembaca serta merta berpihak di sisinya. Cerita singkat, sesingkat beberapa hari berupaya meninggalkan anak perempuan, yang bukan anak kandungnya, di rumah mertua. Tapi tentu tak sederhana dan tak terasa singkat itu. Pilihan kata penulis membuat cerita ini tak membosankan, kalau tak bisa dibilang memilukan.