Sesungguhnya wanita yang seiman dengan kamu lebih baik daripada wanita yang tidak seiman dengan kamu, walaupun ia menarik hatimu. Jangan pernah kamu menikah dengan wanita yang tidak seiman hingga mereka seiman denganmu.
Terus, bagaimana jika jatuh cinta itu datang tiba-tiba. Agama tidak mengaturnya, bukan? Selagi bisa dihindari, kenapa nggak? Lebih baik sakit karena diputusin daripada sakit setelah melakukan komitmen bersama seumur hidup, nyatanya sulit untuk dijalankan. Kekuatan cinta, tidak akan pernah semurni dan sekuat pernikahan karena satu iman. Semoga itu bisa jadi pertimbangan kamu.
Tapi cinta sering membuat orang buta. Vanya dan Bagas tetap menjalankannya walau dengan tantangan berat. Entah kenapa, seakan ada hal yang tidak merestui cinta mereka. Bagas yang ingin pergi ke Kota Istanbul, Turki, mengidap kanker yang bersarang di paru-parunya. Cita-citanya itu ingin menjejakkan kaki dari dua benua dan dua agama yang pernah hidup berdampingan.
Lalu, apakah cinta mereka tetap menyatu? Atau, mereka justru terpisahkan oleh keadaan?
Dapet buku ini hasil menang giveaway dari blog tour-nya. Dan terima kasih Tuhan, saya mendapatkan buku ini secara gratis :p
Menurut saya bukunya belum layak terbit, masih setengah jadi. Buku ini cetak ulang dengan kaver dan judul baru kan? Tapi kenapa sinopsisnya nggak diganti? Padahal nama karakter cowok di dalam buku ini Rangga, bukannya Bagas.
Okelah, masalah ceritanya yang dramak, lebayatun dan berlebihan mungkin bisa ditolerir. Anggap saja bukan selera saya. Yang tak bisa ditolerir adalah ini editornya kerjaannya apa sik? Typo di mana-mana, kurang spasi, salah penyebutan nama, dan kesalahan-kesalahan pengetikan lain.
Ada kalimat janggal yang saya kurang paham: "Ini untuk pertama kalinya tangannya disentuh oleh seorang pria yang berbeda iman dengannya. Pikirannya dan hatinya bergejolak tidak jelas. Antara senang namun merasa berdosa." Jadi, maksudnya kalo disentuh tangannya sama cowok seagama nggak berdosa, gitu? Seriusan saya nggak paham dengan maksud kalimat ini. Pun nggak paham dengan maksud buku ini. Maunya apa? Semuanya terasa dipaksakan mulai dari Vanya-Rangga yang langsung nafsu bilang suka padahal baru aja ketemu, sampai endingnya yang (bisa dibilang) tragis.
Beberapa alasan aku cuma kasih buku ini satu bintang :(
1. Konfliknya flat banget, gak ngena. 2. Rangga langsung jatuh cinta sama Vanya pas pertama kali bertemu. Dan langsung nembak beberapa hari kemudian tanpa tedeng aling-aling. Ya, mungkin maksudnya love at the first sight kali ya? But, gak ada deskripsi perasaan keduanya dalam beberapa hari itu. Atau penulis maksudnya surpise? ._. Aku malah langsung melongo heran -_-" 3. Cinta mereka datar, gak dapet feelnya ._. 4. Sinopsisnya buka-bukaan. Pembaca udah tau penyakit Rangga hanya dengan baca sinopsisnya. Gak asyik, kan? 5. Terakhir, typo bertebaran >.<
Basically not my cup of coffee. Eksplorasi isunya lemah dan, menurut co-author saya, quote-nya Rangga semacam versi "lame" dari dialog dalam film cinta beda agama kenamaan, Cin(T)a.