Risdianto datang ke perkumpulan sastra Indonesia di Ternate yang didatangi oleh banyak sastrawan. Di sana ia mencari tempat untuk mendapatkan ide membuat puisi, tetapi dari pertapaannya tersebut ia malahan mendapat visi. Visi akan kehidupan sastra Indonesia, baik yang ada di masa lampau maupun di masa depan. Dan dari sini, Risdianto yang nantinya akan dikenal sebagai Anto Labil, paham bahwa cita-citanya sebagai sastrawan Indonesia punya jalan yang sangat terpuruk.
Martin Suryajaya meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengajar pada Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta dan konsultan kebijakan di Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ia juga aktif sebagai youtuber yang menyiarkan pandangan-pandangan tentang filsafat, sastra dan isu-isu kebudayaan dengan penyampaian yang populer.
Beberapa bukunya antara lain Sejarah Estetika (Gang Kabel, 2016) yang memenangkan penghargaan Best Art Publication dari Art Stage 2017 dan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (Banana, 2016) yang memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 serta menjadi Novel Pilihan Majalah Tempo 2016. Beberapa karya terbarunya adalah buku puisi Terdepan, Terluar, Tertinggal (Anagram, 2020) dan Principia Logica (Gang Kabel, 2022) dan Penyair sebagai Mesin (Gang Kabel, 2023).
Sebelum Hancur Lebur atau Kisah 1001 Malam Sastra Indonesia
« Buku ini cocok untuk disalahpahami; lalu disalahgunakan, sebagai kitab cerita. Nama lain dari Kisah 1001 Malam Sastra Indonesia »
Ganas. Sepanas Banaspati. Mawa gentayangan yang membakar semua-semuanya yang kesastra-sastraan, luluh dilumat jadi abu. Baik sastrawan, yang ngaku sastrawan, yang palsu, pura-pura, yang untung dari kesusatraan, yang mempolitisir kesusastraan sampai yang benar-benar penghayat kebatinan sastra.
Novel kritik sarkasme terhadap peradaban Sastra Indonesia secara menyeluruh, seperti nubuat akan hari akhir kesusastraan. Kiamat, yg menenggelamkan hal-hal yg najis dan mengembalikan yg suci hanya untuk yg suci.
Tanpa dituliskan di dalamnya, —sesuai judulnya, Sebelum Hancur Lebur, itu metafor optimisme satirik bahwa bagaimanapun keadaannya Sastra Indonesia masih bisa diselamatkan. Tentu saja —yg terutama & pertama, oleh orang-orang yang mencintainya. Orang-orang yg tak pernah diuntungkan secara duniawi oleh kesusastraan.
Novel ini berkisah seorang penyair yg mengambil jarak dng yg lain, mengasingkan diri & menghilangkan diri utk bertafakur akan makna sastra & mencari penglihatan berbagai jenis orang yg hidup, mati & berjuang demo sastra —demi uang&populeritas.
Risdianto, begitu nama penyair tsb, menyimpulkan bahwa keputusan menulis dan tidak menulis itu sama saja di mata keutamaan sastrawi.
Buku kronologis sastra indonesia yg diparodikan, ditulis oleh lulusan filsafat & pengajar seni. Sebuah percobaan sekaligus terapi untuk dunia sastra dalam bentuk kumpulan kisah kesusastraan Indonesia. Rekomen.
"SASTRA Indonesia adalah gunung uang yang menjulang ke langit. Pada puncaknya yang terbuat dari emas dan bebatuan mulia, akan kautemukan para sastrawan sukses duduk-duduk di atas bongkahan berlian, lantai emas, atau gundukan zamrud. Mereka duduk dalam hening, termanggu dalam Kesumyoan, menikmati Keindahan." hal 103
Semula, membeli buku ini untuk dijadikan bacaan ringan, jenuh membaca buku berat. Dan tentunya kejenuhan membaca aneka laporan kantor yang jelimet. Ternyata..., saya malah sakit kepala terlalu bersemangat membayangkan aneka hal-hal luar biasa yang mungkin terjadi. Bagaimana jika Risdianto tidak membayangkan pulau sebagai perpustakaan dalam "Rusdianto Menemukan bahwa Alasan untuk Menulis Novel Ternyata Sama dengan Alasan untuk Tidak Menulis Novel".. Andai Nurudin Pituin tidak memilih profesi sebagai ojol, apakah ia bisa merampungkan novelnya?
Membaca buku ini membuat saya banyak merenung. Buat saya, jelas buku ini bukan jenis yang bisa dinikmati sekali duduk alias dibaca cepat langsung selesai. Ilustrasinya tak kalah menarik.
Sastra Indonesia jangan takut ada yang begitu mencintaimu dengan cara yang hebat kau pasti akan terus ada. Buku indah tentang gambaran penyair dalam sastra kita ini. Kelewat indah hingga menyentuh titik yang paling sedih. Meski ada beberapa bagian yang sulit untuk dibaca karena sangat absurd dan tiba-tiba secara keseluruhan ini merupakan novel yang dibaca untuk bersama menganggungkan sastra Indonesia.
Sastra Indonesia, novel, puisi, prosa, pulau, sajak, kalimat bijak, pup, pantai, terpencil, kekecewaan sastrawan, pekerjaan ideal, nasib sastrawan, gurauan di tengah ironi, dan berbagai hal-hal samar dan abstrak lainnya mengisi halaman-halaman absurd buku ini.