Jump to ratings and reviews
Rate this book

Serenada

Rate this book
New York, New York

Setelah perlawanan usai - sekarang apa?

Nino terasing di New York, kota tua yang dinginnya nyaris mendekati mati. Terpisah dari segala hal yang ia cinta; negeri, kekasih, teman-teman seperjuangan dan almamaternya. Berusaha mencari jalan pulang, merangkum serpihan teka-teki sejak kerusuhan Mei 1998, dan kini ia sendirian.

Perlawanan telah usai - sekarang apa?

Satu per satu kawan berguguran; hilang, mati dan berbalik mengkhianati perjuangan. Ada surat yang tak lagi mampu ia tulis. Ada kartu pos yang tak terkirim, sebab yang terkirim pun tak kunjung berbalas. Seperti nitasi lama yang enggan pulang. Nino pun tak lagi percaya akan alasan untu bertahan.

Hingga seseorang hadir, kembali untuknya, dan berkata: "Souls often more beautiful after a damages, Your's will be, too."

Serenada merupakan sekuel dari novel Notasi: kisah perjuangan yang diceritakan dari sudut pandang Nino sendiri.

238 pages, Paperback

Published May 1, 2024

10 people are currently reading
66 people want to read

About the author

Morra Quatro

7 books159 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (17%)
4 stars
20 (43%)
3 stars
17 (36%)
2 stars
1 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
June 11, 2024
Disclaimer : Berhubung novel ini adalah sekuel dari Notasi, jadi sangat disarankan membaca novel Notasi terlebih dahulu. Karena dalam novel ini sebagian (atau mungkin seluruh) pertanyaan tentang Nino akan terjawab.

Pada novel Notasi (bagi yang pernah membacanya), pembaca sudah tahu kalau Nino dan Nalia terpisah akibat kerusuhan 1998 di Yogyakarta. Nino memukuli salah satu tentara, dan dia "diamankan" oleh keluarganya. Nino berjanji kepada Nalia akan kembali. Surat-surat tanpa alamat yang dikirimkan oleh Nino kepada Nalia malah membuat Nalia semakin nelangsa. Tapi, sampai akhir kisah di Notasi, mereka tidak kembali bersama. Apakah di novel Serenada ceritanya berubah? Tentu tidak!

Pasca dijemput paksa oleh orang-orang suruhan ayahnya, Nino diamankan oleh keluarganya dan dikirim ke Amerika Serikat. Sebelumnya Nino sempat dicekoki narkoba, diisukan bermain perempuan, dan tentu saja tukang demo. Kondisi yang membuatnya akhirnya tidak bisa melawan terhadap orangtuanya. Setelah beberapa bulan di California, Nino pindah ke New York dan bertemu dengan seorang mahasiswa NYU asal Indonesia di sana. Tsar, nama mahasiswa itu yang kemudian menampung Nino di apartemennya. Nino belum bisa melupakan kawan-kawannya dan perjuangan mereka di Yogyakarta, terutama Nalia. Dia bahkan mengirimkan kartu pos kepada Nalia untuk menyatakan kerinduannya. Dia menuliskan alamat Tsar di kartu pos itu, dengan harapan Nalia akan membalasnya. Lama dia menantikan balasan yang tidak kunjung datang.

Sepanjang masa penantiannya, Nino tetap berusaha mencari tahu dan menghudupkan kembali kenangannya. Dia mencari cara bertahan hidup agar bisa kembali pulang ke Indonesia. Termasuk bermain tinju agar mendapatkan uang. Nino tidak lupa mencari tahu seperti apa perjuangan dan kondisi di Indonesia. Dia bahkan bertemu dengan salah satu Profesor cendekiawan asal Indonesia yang masih memiliki lingkaran pertemanan dengan pelaku politik di Indonesia. Ada beberapa kisah yang dia dengar, yang membuatnya kembali bertanya, apakah dia memang hanya mengetahui separuh kebenaran saja.

Kisah pasca reformasi 1998 yang dituturkan lewat perjalanan hidup Nino di US ini menjadi satu poin penting dari novel Serenada. Bagaimana seorang mahasiswa seperti Nino mendapatkan fakta bahwa perjuangannya dan rekan-rekan mahasiswa telah ditunggangi oleh pelaku politik yang ingin menggulingkan Suharto. Nino bahkan hampir putus asa, karena mengetahui dirinya hanyalah salah satu alat saja. Dan perasaan itu mencapai puncaknya saat dia mendapati bahwa dirinya tetap berada dalam pengawasan meski dia sudah berada di negara yang menjunjung kebebasan individual. Tidak heran jika surat Nino yang sampai ke Nalia tanpa alamat, sedangkan kartu pos yang dikirimkan Nino ke Nalia pun tak berbalas.

Saya berusaha memaklumi cetakan pertama dengan typo yang bertebaran, seperti halnya saat membaca Notasi cetakan pertama dulu. Tapi entah mengapa bagi saya, Serenada ini tidak seistimewa Notasi.




This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books201 followers
June 12, 2024
Kelar sambil jaga poli dan kebetulan hari ini gak ada pasien.

Baca buku ini tuh kayak lagi nostalgia karena jarak terbitnya yang cukup jauh dari Notasi, dan Notasi waktu itu kubaca di tengah banyaknya hal yang terjadi dalam hidupku. Makanya kalimat souls are often more beautiful after a damage adalah koentji yang bikin aku (akhirnya) nangis :")

Terasa sangat dekat juga dengan realita sehari-hari bahwa kita harus bisa melepaskan dan merelakan untuk bisa sembuh, dan memulai hari baru bukan sesuatu yang buruk karena mungkin justru dengan itulah kita pelan-pelan bisa kembali menjadi sosok yang kita kenal lagi.
Profile Image for aynsrtn.
521 reviews18 followers
August 8, 2024
"Sebuah nama dapat dibunuh dengan kejam. Agar mereka tak lagi bisa bersuara. Kalau pun bisa suara mereka, tak akan lagi didengar. Kalau pun didengar, mereka tak akan lagi dipercaya. Dan mereka tak bisa membunuhku. Maka, mereka membunuh namaku." —Hal. 79

Satu kata. Sedih.

Membaca sudut pandang Nino di buku ini menimbulkan efek sedih bagiku. Kemana Nino setelah peristiwa itu? Apa yang ia lakukan? Mengapa belum bisa kembali? Semua terjawab di sini.

Aku membaca buku Notasi beberapa hari lalu, kemudian lanjut baca Serenada. Jadi, aku tidak menunggu 11 tahun untuk sekuel ini. Tetapi, meskipun demikian rasanya tetap saja sedih.

"... mereka menjadi apa-apa yang awalnya mereka benci." —Hal. 198

Miris, ya? Ketika dulu berjuang bersama-sama memberontak untuk menurunkan rezim, tetapi kini malah menjadi bagian dari rezim. Seperti itulah pergolakan batin yang Nino rasakan. Dan aku sebagai pembaca ikut terhanyut. Turut merasakan getir, sepi, dan nestapa Nino dalam "pengasingannya" di New York. Di mana ia merasa menemukan kawan, tetapi mereka hanyalah semu dan tameng.

Buku ini sukses membuat perasaan bagaikan berada di wahana rollercoaster. Tetapi, sayangnya tak banyak momen dalam sudut pandang Nino saat ia mengenang Nalia. Apa mungkin karena sudah diceritakan banyak dari sisi Nalia? Tetapi, masih ingin merasakan Nino lebih dalam saat dulu kuliah di UGM, pertama bertemu Nalia, pacaran dan jatuh singkat mereka, sayangnya hanya sekilas dan tidak banyak. Di Serenada lebih fokus ke pemikiran Nino pasca kejadian itu.

Kendati demikian, Serenada tetap buku yang nyaman dibaca. Aku suka karena font-nya besar sehingga mata tidak cepat lelah, hehe. Dan serasa diajak belajar sejarah, meskipun ini adalah buku fiksi. Ceritanya yang "berat", namun dituturkan dengan baik dan rapi.

"Kawan-kawan kami mati berguguran, dan akan terus gugur bahkan setelah perlawanan usai. Bukan karena tewas atau hilang lagi, tapi karena berbalik berpihak pada rezim." —Hal. 200

🚇🌁🗽
Profile Image for nasywarptr.
16 reviews
October 15, 2025
serenada is just as soul-wrenching as notasi :D this book feels like a good closure for both nalia and nino, memang rasanya seperti kurang sekali dan banyak yang belum terjawab— dibandingkan belasan tahun penuh tanda tanya itu, namun sudah cukup, karena sangat realistis. nino even said it himself “Bertempur dalam penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar dengan kenyataan sebelum akhirnya menerima bahwa tak semua pertanyaan ada jawabnya—terutama pertanyaan mengapa.” dan pada akhirnya, aku setuju.

i was actually hoping to get more of nino and nalia’s pacaran moments in ugm, dan bukan hanya flashbacks kejadian di buku notasi, but it’s okay, i kinda think that maybe that’s the whole point, that they only shared those brief, small, yet precious moments in the middle of the battleship. selain ituuu berharap bgt ada special chapter di tahun 2019, seperti yang ada di notasi! i saw from twitter about nino’s letter in 2019 yang sepertinya ada di special bundle cetakan baru notasi—saat dia melihat nalia di semanggi, yang menurutku krusial sekalii and changed my perspective on nino. berharap banget masuk di bagian epilog serenada tp ternyata tidak.

same as notasi, nino’s pov in serenada left me with a great sorrow feelings…what a brief tragic love they had…if only the world were kinder to them. can’t really imagine how the first-line readers managed to wait more than a decade to get the second book T—T i can’t even wait less than 24 hours NO JOKE.

soooo i’m sure i wont shut up about this book (and notasi) like EVER????? and i will forsure re read it sometime in the future whenever i want to add a fresh salt to this wounds ehe :D nalia and nino, we’ll always remember your name.
Profile Image for Hirai.
208 reviews5 followers
March 17, 2025
“Siapa yang bisa dipercaya untuk situasi serba tidak menentu ini?
Hampa, mungkin itu yang saya rasakan ketika menamatkan buku ini sampai tuntas. Narasi-narasi kepiluan yang berasal dari Ingatan tokoh (Nino) beberapa kilas balik mengenai kerusuhan Mei 1998 juga menjadi hal krusial yang menakutkan. Peristiwa yang sangat membekas dan tak mungkin bisa dilupakan begitu saja apalagi luka yang ditinggalkan cukup mendalam bukan hanya untuk Nino dan Nalia namun juga semua pihak yang terlibat di dalamnya. Entah meninggalkan kisah atau berakhir hanya dengan kisah.
Tak semua orang memiliki kemampuan merelakan dengan sepenuh hati dan seolah terjebak di waktu dan rasa yang sama. Semuanya masih menghantui apalagi melihat kanan kiri tak ada yang bisa dipercaya semuanya menjebak, semuanya manipulatif hanya bisa melihat diri sendiri yang semakin terpuruk. Kenyataan pahit dan fakta yang mencekik membuat bulu kuduk merinding. “Mereka menjadi apa-apa yang awalnya mereka benci.”
Penulis mampu mengembangkan suasana dan menyisipkan wawasan daging dari percakapan setiap tokoh di dalamnya walaupun minim dan lebih identik dengan penggunaan narasi penuh. Kisah yang dibalut untuk kita semua tentang cara pulih, melepaskan dan juga merelakan.

Profile Image for Rima.
27 reviews
June 7, 2025
• ‌sudut pandang lain dari peristiwa yang terjadi di Notasi (perkelahian di gang itu dan malam ketika Nino dijemput pulang)
• ‌struggle Nino yang bener-bener sendirian di negara baru, sampe dia harus mempertanyakan memorinya sendiri—is that true or is that only in my head?
• ‌memang Nino dan Nalia nggak bisa berakhir bersama sih :") kartu pos yang Nino kirim ternyata nggak pernah diterima Nalia. kayak, perputaran waktu mereka yang sejalan ya cuma semasa kuliah dulu. itu pun teramat singkat :")
• ‌BANYAK TYPOOOOOOOOO. menyebalkan dan bikin aku terdistrack di beberapa bagian.
‌kalau di Notasi punya suatu saat aku akan kembali, maka Serenada punya I miss you and I'm thinking of you all the time dan you only know half the truth.
• ‌“sebab dialah yang pertama kucintai ketika masih kumiliki diriku seutuhnya.” 😭
• ‌“orang-orang tak tahu betapa banyak hal tentang mereka mampu terungkap ketika sosok mereka membeku dalam gambar. apa yang tampak ketika bahu mereka meregang naik atau merosot turun, atau ketika mata tidak turut tersenyum layaknya bibir mereka, atau pada jarak dengan orang-orang lain dalam sebuah foto bersama.”
Profile Image for Zahra.
30 reviews
June 12, 2025
perasaan ku pas baca buku pertama; marah, kesel, sedih, nyesek.
perasaan ku pas baca buku kedua; marah, kesel, sedih, nyesek, NANGIS.

hal lain yang aku sadari setelah baca dua karya Morra Quatro adalah; gaya penulisan beliau itu lugas, jelas dan nggak bertele-tele. masih sama sih, ada kalimat atau paragraf yang gantung, DAN banyak typo! gak ngerti deh, ini editor nya cuma baca sekilas kah apa gimana?

back to the book, cerita nya sangat realistis sekali. walaupun ending nya Nino dan Nalia gak bersatu, mereka juga udah lega dan ikhlas atas kehidupan masing-masing yang ga alligned, tapi tetep aja sebagai pembaca aku NYESEK banget bahkan sampe NANGIS hiks. i mean, no offense buat Ve, because she's really the one who always there right by Nino's side, tapi gimana ya. kalau mikir aku ada di posisi Nalia, aku gak bisa sih harus legowo ketika tau Nino berakhir sama Ve, bukan sama aku—pov as Nalia—.

tapi, ya gimana lagi, emang bukan jodoh yang ditulis oleh Tuhan—di buku ini, morra Tuhan nya— dan seperti yang aku bilang, bahwa dengan ending yg gitu, yaa berasa bgt realistis nya.

cuma, tetep gak dipungkiri aja kalau ada rasa nyesek dan penyesalan mendalam huhu...
This entire review has been hidden because of spoilers.
37 reviews
Read
June 9, 2025
kalau Notasi adalah POV dari Nalia,
Serenada adalah POV dari Nino.

menurutku, Serenada lebih dark dari Notasi. karena pembahasannya lebih ke gimana Nino survive di negara lain sebagai eksil politik. Nino merasa sebenarnya ia sudah lama mati. yang tersisa cuma raga. jadi di novel ini juga jelasin kalau ga cuma Nalia yang sakit, Nino pun sama. Ia ingin kembali, ia ingin bersama lagi dengan teman-temannya, tapi ia eksil politik yang setiap gerak-geriknya diawasi negara.

sejarah yang diselipin di novel ini pun lebih beragam:
1. Penculikan terhadap demonstran.
2. Gus Dur menandatangani MoU dengan GAM.
3. Perpecahan dan perlawanan diam-diam di era reformasi.
4. Banyak aktivis yang diserap ke pemerintahan dengan harapan bisa memperbaiki kerusakan dari dalam.
5. Stigma negatif masyarakat terhadap mantan aktivis 98.
Dan masih banyak lagi.

secara keseluruhan, Serenada nyeritain kehidupan setelah masa 'kehilangan'. Dan menurutku akan sangat cocok dibaca buat temen-temen yang suka historical fiction.
Profile Image for Danis.
112 reviews2 followers
September 7, 2025
2/5⭐️
Selesai dalam 1 hari setelah baca Notasi biar gak lupa sama cerita sebelumnya.

First of all, kenapa font-nya gede banget?? Like ini harusnya bisa 150 halaman aja, dibuat font gede mungkin agar terlihat bukunya tebel, I guess. Dan seperti biasa, setiap habis 1 kalimat habis itu dibuat 1 kalimat lagi di bawahnya. Bukan sekalian dibuat 1 paragraf.

Dan di buku ini dibahas dari POV Nino, akhirnya aku paham kenapa di Notasi Nino gak se-effort itu. Oh, ternyata mereka sudah gak align—Nalia & Nino. Di sini Nino kasihan banget, masih diawasi seperti napi yang perlu direhabilitasi. Terus dengan narasi anak fkg putih, stop menggunakan asumsi itu di setiap kalimat. Jujur lebih suka Serenada daripada Notasi, tapi yah ada rasa pengen cepet jual buku ini juga.

Banyak kesalahan ketik di buku ini. Hmm, sudahlah font gede masa gak kebaca typo-nya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
20 reviews
June 24, 2024
I always love detailing in Morra's writing. Pas scene kampus di US sekilas berasa lagi baca Break Even---enchanting!

Kisahnya memang tentang Nino yg mempertanyakan tentang segala-galanya. Dia yg frustasi, dia yg kecewa, dan dia yg trauma.

Dalam pencarian untuk kembali ke kehidupan normal yg dirindukannya, dia dipertemukan dengan Profesor Damanik. Obrolan mereka berdua sebenernya full of insight, menarik. Tapi this info-dumping writing style, buat sebagian orang akan terasa jenuh dan boring. Apalagi informasi yg disampaikan termasuk berat, tapi ya susah juga, karena buku ini meski termasuk tipis kisahnya sangat padat dengan kritik sejarah.

Kalau penyampaiannya lebih smooth terutama saat mereka lagi ngobrolin 'hal berat' mungkin experience pembaca jadi jauh lebih oke..

Thumbs up, Kak Mor! Keep writing!
Profile Image for Bayu Permana.
81 reviews3 followers
June 10, 2024
A solid book and sequel for Notasi. Sepanjang buku dibuat tegang dan deg-degan arah ceritanya bakal ke mana. Masih ada beberapa typo. As always, penceritaannya lugas tapi indah, dan realistis, khas Kak Morra
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.