Kadang-kadang kita jatuh cinta kepada milik orang, kadang-kadang kepada orang yang berbeda agama. Dan yang ia hadapi adalah keduanya, komplet menjadi satu. Mengapa manusia selalu tergerak hatinya untuk meraih ketidakmungkinan?
Batavia, 1918. Yansen, pemuda Minahasa, hendak mewujudkan mimpi menjadi dokter di tanah air sendiri. Bersama Hilman pemuda Sunda, Sudiro pemuda Jawa, dan Arsan pemuda Minang, Yansen menemukan ikatan persahabatan di STOVIA. Masa lalu masing-masing tokoh turut membayangi perjalanan mereka selama belajar di sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda itu.
Fiksi berlatar Hindia Belanda di awal abad ke-20 ini menceritakan bagaimana keempat sekawan itu saling mendukung kala mereka menghadapi masalah hidup masing-masing, dari soal cinta, keluarga, lingkungan di sekolah, hingga misteri pembunuhan seorang pengusaha Belanda.
Sebenernya konsepnya bagus. Cerita sejarahnya juga cakep. Tapi alurnya meh. Yang bagus cuma 2 bab awal pas latar belakangnya Yansen. Latar belakang tokoh lain dangkal banget. Sayang banget, padahal latar belakang mereka potensial buat digali.
Buku ini tuh kayak nggak tahu bakal dibawa ke mana deh. Mau dibilang dark academia nggak cocok. Misterinya dangkal. Kisah sekolahnya juga. Dikit banget adegan belajar kedokterannya tuh. Lebih cocok soal persahabatan doang ini mah. Emang paling bener jangan berekspektasi lebih... :")
Gaya bahasa oke sih. Mudah dipahami. Narasinya juga nggak ngebosenin. Ada beberapa kalimat yang bermakna juga dan 2-3 bab terakhir sedih banget, sih.
Rada nggak masuk akal nih kisah cintanya Hilman. Nggak pengen spoiler, tapi kalo dibaca dan diingat baik-baik, pasti ada yang narasinya nggak masuk akal sama kesimpulan di bab terakhir. Aku punya teori, jalan cerita dia lupa diedit soalnya nggak sinkron gitu deh.
2.5/5🌟 bercerita tentang 4 orang laki-laki dari beberapa daerah di Indonesia yang bersekolah di STOVIA, bercita-cita menjadi dokter dengan latar belakang keluarga, budaya dan agamanya masing-masing.
salut sama beberapa fakta sejarah yang jadi bagian di buku ini, membuka pengetahuan ku ttg sejarah Indonesia apalagi kedokteran, selain itu pengambilan karakternya yang dari berbagai daerah dan latar belakang merupakan keunikan tersendiri buku ini.
sayangnya, eksekusi ceritanya sangat mengecewakan. di chapter-chapter awal aku sebenarnya cukup enjoy dengan penggambaran karakter Yansen, tapi setelah itu genre dan storyline cerita ini jadi kemana-mana, penyelesaian masalahnya pun nggak jelas, penggambaran karakter lain terlalu dangkal, tema perkelahiannya terlalu cheesy. buku ini kayak ditulis sama penulis amatir saking all over the place ceritanya.
selain itu flashbacknya yg cuman pake dialog bikin aku nggak merasa bersimpati sama sekali. penggunaan beberapa aspek yg menurut ku cukup triggering tidak dijelaskan dan dipakai dengan benar, jadi twnya cuman ada for the sake of writing.
3 main charactersnya unlikeable, cuman Sudiro yang masih bisa ku tolerir.
selama baca buku ini aku pengen banget dnf tapi sayang udah beli versi cetaknya mahal-mahal
risetnya udah bagus tapi writingnya bikin bingungggg, kayak sepotong-sepotong gitu rasanya. build-up bagus dikit ditinggal. udah suspense di-skip. mungkin mau bikin kesan misterius tapi momentumnya selalu ga rapi jadi kurang ngalir gitu selama baca, jatohnya kayak puzzle-puzzle konflik aja.
dari segi penokohan karakter juga mirip-mirip: pinter atau pinter banget, awalnya gaada yang pengen masuk STOVIA, dan semuanya bego karena "cinta." kayak please lah I know it's romance cuma ini semuanya love at the first sight yang tau-tau suka dan tau-tau gini tau-tau gitu dan bikin bertanya-tanya what goes on their mind.....
this book has so much potential (background storynya udah kerasa banget) but lacks in plot execution. kirain buku debut taunya engga juga. sayang padahal udah dapet hype launching di booktwt tapi tidak sesuai ekspektasii
Ok akhirnya bisa baca buku ini setelah tahun lalu kalau ga salah terus beseliweran di media sosial, namun sayangnya tidak sesuai ekspektasi saya ternyata. Konsep yang bagus mengangkat nama STOVIA dimana itu sekolah kedokteran pertama di Indonesia. Namun ternyata eksekusinya masih kurang, maaf banget. Bab pertama sama kedua ok bagus tapi untuk selanjutnya makin ngalor ngidul ini ceritanya 😭😭 tidak fokus mau kemana arahnya ini inti dari bukunya mau menceritakan siapa dan apa. Terlalu banyak waktu loncat-loncat dan banyak yg tidak terselesaikan dan juga banyak yg tibatiba gitu aja :"). Dan karena ini ada stovia kukira akan ada cerita mengenai kedokteran masa itu yang lebib mendalam namun ternyata tidak. Sangat disayangkan ide cerita yang bagus namun eksekusi seperti kurang matang.
Membaca ini mengingatkan kepada buku negeri 5 menara tentang persahabatan juga.
menikmati buku ini cuma 5 bab awal. sisanya menang seru cuma pemilihan diksi-nya kurang berfariasi jadi terkesan diulang-ulang dan keindahan yang dibangun di awal menghilang.
Mungkin buku ini pengen menjadi "Negeri 5 Menara but make it in STOVIA" dengan konflik yang berbeda - sesuai judulnya, romansa. Aku akui memang konflik yang muncul cukup bikin main chara dan sahabatnya bersitegang, tapi Ya Allah aku ga sreg dengan semua konfliknya! Ya mungkin konflik romansa di zaman itu kek gitu kali ya tapi oh please, kalian itu golongan terpelajar tapi kok jadi buta karena cinta sih? Come on. Kalo kalian rakyat biasa aku masih agak maklum. Agak.
Bagaimana dengan kehidupan di STOVIA? Agak minim. Okelah di awal-awal kek cukup kerasa misalnya pas pertama masuk dan pas bulan puasa serta pas di CBZ (cmiiw?), tapi dengan konflik yang ada, termasuk misteri pembunuhan (buset ini beresnya berapa tahun dah?), ditambah lagi time skip yang suka ga menentu bikin aku ga begitu bisa merasakan kehidupan bersekolah disana. Sayang sekali.
Penggunaan PoV 1 mengharuskan main chara untuk "terlibat pada semua konflik" sehingga ya jadinya kek center of the world - apa-apa kudu ikutan. Ya sebenernya ga salah juga, namanya juga main chara, tapi aku tetep kurang sreg. Ini cuma masalah selera, skip.
Penggunaan PoV 1 juga berpotensi menimbulkan kebocoran PoV dan benar kan kejadian, di bab-bab awal (pas nyeritain siapa gitu lupa) narasinya jadi kek tau banyak hal padahal kan PoV 1 itu terbatas (that's why paragraf sebelum ini ada)? Selain itu, ada kejadian yang dialami tokoh lain, supaya hidup jadinya dimasukkan dalam satu dialog. Narasi dan dialog dalam satu dialog panjang. Humm, aku lebih setuju di tengah jalan ada pemisah buat ganti PoV sih. Or at least penulisannya di-italic agak mending (ini dilakukan di kejadian kedua (ya, ada 2 kejadian yang kek gini)(lah kok ga kompak))
Penulisan nama! Selain main chara dan tokoh2 penting, ada nama yang ga konsisten ditulisnya (i'm talking about Latuharhary dan Andreas) kadang nama depan kadang lengkap kan aku bingung. Untung cuma di satu bab yang begitu.
Untung ending buku ini masih kegolong oke walau dari kelulusan ke ending ada time skip lagi (ah elaaaah 😭). Aku ga ngasih bulet 2 juga karena masih ada adegan yang berbau kedokteran walau agak minim. At least, masih ada. Begitu.
Intinya: efek FOMO yang berujung kecewa entah edisi keberapa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
buku ini baru banget terbit, tepatnya akhir bulan lalu. jadi fresh from the oven ceunah 👌 lagi lagi aku baca buku karena fomo, lihat buku ini sering banget seliweran di linimasa twitter. dan ya, mungkin memang bukan seleraku aja.
ceritanya berlatar di awal 1900-an. berpusat pada 4 mahasiswa baru yang memulai kehidupan mereka di stovia (sekolah kedokteran pada zaman itu). mereka adalah yansen, hilman, arsan, dan sudiro. sepanjang cerita, sudut pandangnya dari yansen.
mereka berempat berasal dari daerah yang berbeda beda. di sini nih letak keseruannya, karena kita pembaca akan diajak seolah berkeliling hindia belanda. kita akan menjelajah manado, buitenzorg, padang, dan purworejo.
jujur aku kaget saat tahu bahwa sekolah kedokteran pada waktu itu memakan waktu 9 tahun. setelah dipikir pikir, wajar, karena mereka mulai bersekolah di umur 15 tahun. kalau sekarang kan setara anak baru lulus SMP ya.
aku nggak begitu paham dunia kedokteran, tapi ilmu ilmu kedokteran di sini nggak terkesan seperti tempelan saja. kagum banget sih, tentunya penulis melakukan riset yang mendalam untuk melahirkan cerita ini.
ada kisah misteri juga di sini. kynya ini sih salah satu faktor kenapa aku ngerasa nggak terlalu menikmati ceritanya. karena jadi seperti terasa bingung ceritanya mau dibawa ke mana. dan seingatku bagian ini mengambil bagian yang cukup besar juga ...
mungkin karena ekspektasiku di awal terlalu tinggi, jadi saat ternyata nggak sesuai, aku sangat kecewa. (ada baiknya jangan langsung ikutan baca yang viral viral 🫠)
Hmmm menurutku dengan judul "Stovia" ini agak kurang ya. My expetaction ya menceritakan keluh kisah rasanya sekolah di Stovia trus maybe tata tertib, budaya dll yg ada di Stovia itu di jelasin detail. Sementara disini Stovia ini cuma jadi tempelan pemanis untuk why this book aja sih. Kehidupan yg rill di stovianya ini cuma ada di 2 bab awal aja pdhl udah excited bgt eh kebelakang kok malah kesana kemari.
Dengan latar belakang 90 sebelum merdeka seharusnya ditonjolkan lagi apa yg beda antara sekarang dan sebelumya tp rasa2nya kurang nendang, lagi2 cuma ditonjolkan di awal aja kek masalah sepatu buat anak Jawa.
Di awal sebenernya cukup menarik sih alurnya ala2 detektif2an tp peran Maramis ikut cari tau pembunuhan ini agak dipaksakan rasa2nya, dalam penyelidikan diapun gak punya peran apa2.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menceritakan empat pemuda yang menempuh pendidikan dokter di STOVIA dari awal masuk hingga lulus, yang pada saat itu ditempuh selama sembilan tahun. Ialah Yansen, Sudiro, Arsan, Hilman. Empat orang yang memiliki permasalahan sendiri-sendiri. Yansen dengan cinta pertamanya, Sudiro dengan kehilangan orangtuanya, Arsan dengan peliknya kisah percintaannya, dan Hilman yang menyukai seorang Nyai. Yaa, empat tokoh yang ketiganya ada kisah romansa, dan Sudiro tidak dibahas kisah percintaannya.
Selain empat pemuda itu, tokoh lainnya cukup banyak. Untuk tokoh dengan nama-nama Belanda agak susah dieja apalagi diingat. (Memang begitu, sih). Mungkin karena tokoh yang diceritakan cukup banyak, membuat storyline nya jadi melebar kemana-mana. Tiap cerita seperti berdiri sendiri dan tidak ada korelasinya akan mengarah kemana. Saya merasa ada beberapa penyelesaian yang kurang jelas, juga konflik yang seperti lompat-lompat dan kejadian yang tiba-tiba. Iya maksudnya ingin menceritakan permasalahan dari setiap tokoh utamanya. Namun, justru karena itulah jadi ada part-part yang terkesan dipaksakan.
Mengenai latar waktu, masa pra kemerdekaan memang menimbulkan kesan tersendiri. Bisa membawa kita ke suasana masa itu. Transportasi bendi, kirim surat, pakaian dengan jas atau beskap. Saya cukup puas dengan fakta sejarah yang diceritakan. Terlepas dari pengetahuan di dunia kedokteran, saya juga cukup menyoroti betapa diskriminasi dialami oleh Jawa pada masa itu.
Hanya saja, kesimpulannya saya masih merasa ini seperti ada kebingungan mau dibawa kemana jalan ceritanya, bahkan hingga sampai di ending. Maafkan aku mbak Sania 😭🙏
Menceritakan kisah persahabatan keempat pria bernama Yansen, Arsan, Hilman, Sudiro yang berjuang di sekolah kedokteran STOVIA. mengambil latar belakang tahun 1918 - 1928 di Batavia, Hindia Belanda.
Jadi buku ini menceritakan perjuangan mereka selama 8 tahun belajar di sekolah STOVIA. Dimana perpeloncoan pertama di Hindia Belanda terjadi di sekolah ini.
Memang sebagain besar kisah dibuku ini lebih banyak menceritakan teman-temannya dibanding Yansen sebagai tokoh utama dan POV pertama. Bahkan kisah Yansen sendiri justru tidak banyak diceritakan. Diawal baca agak jenuh, tapi makin mendekati ending, ceritanya makin menarik. Setiap tokoh punya konflik romansanya masing-masing, mulai dari beda agama, beda suku, beda kasta (pribumi-noni Belanda) sampai konflik keluarga yang mengangkat tragedi gempa Wonosobo 1926.
Masih banyak bagian yang kurang pas, seperti pembahasan kedokterannya yg kurang dikupas mendalam, latar 1918-1928 yang kurang penggambarannya selain banyak bahasa Belanda yang dipake, lalu kisah Yansen yang kurang jelas karena tiba-tiba di ending dia bisa menikah (bagian ini ga ada penjelasan lengkapnya). Sedangkan romansa teman-temannya justru diceritakan lebih berat.
Tapi saluuuut sama kekeluargaan mereka bahkan sama sosok guru kesayangan mereka yang bikin saya nangis di akhir cerita.
2.5/5 Undoubtedly the book is easy to read, might be too easy perhaps for some people. Tho there are some parts that I personally like, the vocabulary used is not very rich and repeats few times along the chapters.
Since the setting is on the early 1900s, there are some foreign terms used, mostly in Dutch or the local dialects and terms, and they did a good job in providing the translation in few chapters. But afterwards I have to guess what the words mean, even some of the chapter titles, there are no further explanations on what the words mean and not much context given in the chapters themselves.
Story wise, some parts felt like it was forced to happen for the sake of the storyline. If you're part of a certain ethnicities or age group, there might be few parts of the story that may make you uncomfortable -- perhaps at that time, things do really happen that way and it could be normal at that time. The historical happenings and details are well described, yet it's not the book's main focus. I'd recommend this book for those interested in Indonesian history or those want to start their reading journey in historical fiction, and I'd advise you to keep your expectations low so you won't be too dissapointed.
Satu kesimpulan yg ku dapat setelah baca buku ini adalah cinta emang buta dan bisa bikin gelap mata. Dari mulai romansanya Yansen, Hilman, sampai Arsan.
Lalu, bagian yang nggak aku suka itu yang tiba-tiba ada cerita misteri karena menurutku jadi terkesan sia-sia baca bagian itu. Udah ngikutin sejauh itu penyelidikannya (sampai Yansen tau-tau ikut diajak penyelidikan) tapi penyelesaiannya kayak gitu doang.
Tapi sejauh ini tetap bagus kok. Karena memang ceritanya ngambil latar belakang abad 20 an jadi banyak insight yang didapat tentunya selain tentang STOVIA juga tentang organisasi" zaman dulu seperti Budi Utomo, Sarekat Islam juga lembaga Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium yang sekarang ku tau itu adalah sejarah dari munculnya BMKG.
Temanya bagus karena kayanya jarang banget ada yang mengambil tema penjajahan Belanda. Tapi sayangnya cerita terlalu membosankan dan sedikit aneh. Bab awal lumayan bagus dan membuat penasaran tapi ketika sudah mulai kasus pembunuhan kualitas cerita bener2 turun dan meh banget.
Di pertengahan buku lumayan bingung mau lanjut baca atau dnf aja karena ya bosan banget gitu. Ada kasus misteri ala-ala yang gak tau kegunaan nya apa. Dihilangkan juga gak akan merusak plot. Kisah cinta yang gak ada cinta-cintaanya. Semuanya kaya terlalu dangkal.
Dan endingnya juga lebih ga jelas lagi. Mungkin sebaiknya penulis fokus ke 1 story line gt, masa-masa belajar di stovia atau kisah persahabatan 4 serangkat atau kisah cinta salah satu tokohnya aja. Ini kaya buku palugada di mana gak ada yang membekas sama sekali selain membosankan.
Awal baca berharap ini akan mirip seperti negri 5 menara karena premisnya lumayan mirip tapi ternyata sangat amat jauh dari negri 5 menara
Tertarik membaca buku ini karena premisnya menarik, mengangkat cerita mahasiswa-mahasiswa STOVIA. Bab-bab awal pun cukup meyakinkan. Kita diajak berkenalan dengan karakter dan latar belakangnya yang berbeda-beda. Namun sayangnya plot-nya kurang jelas dan sepotong-potong. Banyak jurang di sana-sini. Tiap cerita berdiri sendiri sehingga tidak terlihat korelasi mengarah ke mana. Penulis menyisipkan banyak konflik di tiap karakter tapi tidak mengarah ke klimaks yang jelas. Resolusi masalah pun buram. Seringnya tiba-tiba. Hal yang ingin diangkat dalam cerita ini pun jadi kabur, apakah mau membahas kondisi sosial politik pada masa itu? apakah ini novel misteri? Terlalu banyak yang ingin diangkat malah jadi tidak fokus/mendalam ke cerita romansa-nya. Karakter-karakter utamanya terlalu sering berganti pasangan, tapi diakhir kita malah kurang mendapatkan sense kedekatan emosional antara karakter utama dengan pasangannya.
Punya premis yang oke, latar belakang waktu yang menarik, kisah persahabatan yang menjanjikan tapi dieksekusi dengan jalan dan cara bercerita yang sedikit kurang.
Ada part tentang tokoh utama yang berpartisipasi dalam investigasi yang menurutku sangat tiba-tiba dan kukira bukunya berubah genre jadi misteri dan detektif.
Namun, aku sangat suka dengan kisah pertemanan Yansen, Sudiro, Hilman, dan Arsan. Membacanya pun sambil membayangkan interaksi mereka as manusia asli. Bagus banget ikatan antar karakternya.
Dan kalau ngomongin masalah tokoh favorite dalam buku, aku akan memilih sudiro. He is the fighter and I like it.
Premisnya menarik sekali makanya saya langsung ikut Pre-Order, tapi sayang eksekusinya tidak sebagus harapan. Rasanya flat dan beberapa bagian terasa seperti diada-adakan saja. Karakternya punya potensi apabila digali lebih dalam, yah sayang sekali. Terlebih lagi ada beberapa penggunaan kata yang sedikit tidak tepat. Sebagai seseorang yang belajar ilmu-ilmu yang para tokoh pelajari itu sedikit mengganggu saya, mungkin untuk orang awam tidak akan terasa. Sedikit kecewa usai menyelesaikan bacaan ini. I rather read my mandatory text books than re-read this.
yes, ga ada plot cerita sama sekali. Semua serba setengah setengah, tapi harus kuakui setting tempat dan waktu nya beneran sukses bikin aku bisa ngebayangin gmn sekolah kedokteran STOVIA di jaman itu, dan gimana situasi orang2 di sana❤️
Tapi ya itu 😅 mau dibilang dark academia enggak bisa, historical romance juga enggak bisa. Mana Yansen sebagai tokoh utama juga ga mencolok. Tetiba ada kasus pembunuhan, Gajelas alurnya mau kemana.
Buku ini jadi pembuka aku suka sama genre fiksi sejarah. Ceritanya ringan, konflik yang disuguhkan juga tidak begitu berat. Pokoknya, yang mau kenalan sama genre fiksi sejarah boleh icip ini dulu.
Romansa Stovia sajikan kisah kwartet yang menempuh pendidikan dokter di masa Hindia Belanda. Buku ini hadir sebagai alternatif hisfic yang tidak harus melulu berujung tragedi
Meskipun ada TW suicide dan murder, tapi nuansa secara keseluruhan tidak sedemikian gelap
Buku ini kisahkan Yansen, pemuda Minahasa, berikut dengan lika-likunya buat jadi seorang dokter lewat STOVIA
Dalam prosesnya, dia beroleh tiga orang sahabat dan menjelma jadi kwartet, lalu jadi saudara. Selain pendidikan, cerita juga berpusar pada soal persahabatan dan asmara—sesuai judulnya
Buku ini ringan saja sebenarnya. Bahasanya mudah dan page turner pula. Dua bab pertama terutama diracik begitu ciamik shg jadi pembuka yg nikmat mengantarkan pembaca masuk ke cerita
Bab pertama langsung menyoal perploncoan dan senioritas—termasuk juga diskriminasi terhadap siswa dari suku tertentu—yang telah melembaga di institusi tersebut. Di timeline cerita, waktu kejadian tertulis 1918. Ironisnya satu abad setelah itu di dunia nyata di tempat yang sama setelah merdeka, masih banyak aduan mengenai kasus tersebut—perundungan dan senioritas
Akan tetapi semua berubah mulai dari bab empat. Rasanya seperti transisi antar plot begitu kasar
Entah adegannya memang dipotong-potong sehingga beberapa bab tidak saling bersambung plotnya. Ku rasa banyak buku yang demikian. Tapi di sini, terkesan seperti tanggung dan bingung mau dibawa kemana
Seolah dengan tergesa, segala hal dalam pikiran termasuk temuan riset penulis ingin dituangkan semua
Di laman biodata penulis, dalam deskripsinya diterangkan bahwa Kak Sania senang membaca buku-buku sastra, sejarah, detektif, hukum, dan kedokteran
Secara tidak langsung itu menjelaskan kesan nano-nano ketika membaca keseluruhan ceritanya. Pasalnya aspek-aspek tersebut memang terasa di dalam novel
Bagi sebagian orang, ke-tak-ajeg-an dan plot yang kerasa campur baur nuansanya itu mungkin saja mengganjal. Selain juga karena menyisakan beberapa plot hole. Tapi bisa jadi, ada sebagian lain yang menyenanginya karena plotnya jadi tidak bikin suntuk dan cenderung dar der dor
Ngomong-ngomong soal riset yang jadi backbone cerita, lumayan menambah insight baru buat mencari informasi terkait. Selain perkembangan STOVIA—tentu saja, ada sedikit pembahasan soal Budi Utomo dan SI. Lain itu dibahas pula mengenai bbrp hal terkait adat dari beberapa suku pada waktu itu—mungkin juga masih terjadi di waktu sekarang.
dan yang menarik adalah soal gempa di Wonosobo pada 1924. Ini bisa jadi pembuka ke banyak aspek buat dicari tahu beres bukunya dibaca, semisal bagaimana BMKG zaman Hindia Belanda dulu, adaptasi bencana lewat model bangunan, kondisi korban kala itu, dll dsb
Tokoh dan penokohannya somehow kurang ada yang menarik simpati. Bahkan walau ada kwartet main char di sini. Dibilang penggalian karakternya kurang dalam ya nggak juga. Kalau ada satu dan sepertinya memang itu satu-satunya, ya cuma Sudiro ku kira.
Entah kenapa karakter tokohnya kebanyakan impulsif. Selain Sudiro: Hilman, Yansen, dan Arsan, dalam beberapa plot menyelesaikan konflik dengan bergelud. Ini terjadi berulang, mirip plot sinetivi Ikatan Cinta. Tapi kalau ditilik lagi, usia tokoh dalam kwartet itu memang masih tergolong muda, bisa jadi belum matang betul dalam mengelola emosi. Jadi masuk akal juga. Selain juga ada pula yang dipantik oleh kasus perundungan seperti disebut di awal
Tapi ketimbang tokoh utama dalam kwartet, ada satu tokoh pembantu bernama Siti Katlina atay Kathelijne yang meski baris narasi dan dialognya sedikit, tapi penggambaran karakternya kuat. Sosoknya yang penuh keterusterangan alih-alih bikin jengah malah timbulkan ketertarikan. Ada satu adegan dirinya bersama Rangkayo yang jatuhnya bikin ketawa lepas hahaha
Terkait adegan yang ditulis dan—mungkin—dimaksudkan sebagai adegan untuk mengundang tawa, tersebar beberapa di buku. Misalnya di halaman 184 dan 199. Tapi entah selera humorku yang kering, alih-alih komikal, baris narasinya malah terasa garing
Oke. Lanjut. Karena judulnya ada kata Romansa, maka kurang lengkap bila nggak membahas aspek asmara dalam cerita. Nah, ini pelik. Love linenya kureng—meskipun sajikan plot twist—dan justru aspek itu yang ku rasa bikin susah buat belonging ke karakter tertentu
Resolusi konflik dalam cerita juga cukup mengganjal. Narasi penceritaan proses terjadinya konflik bagus, tapi ada beberapa proses dari klimaks sampai ke penyelesaian yang kurang well written
Tahu tahu, "loh, kok udah baikan?" Semacam itu lah
Di luar unsur-unsur dalam cerita, desain covernya ni cakep bener. Rasanya jarang ada buku dgn warna cover dominan putih tapi eye catching seperti itu
Satu lagi deng, dialog tokoh yg diverse semisal dengan logat atau bahasa daerah suku tertentu lumayan enak dibaca
Well, i thought that's all. Menurutku ini satu jenis hisfic yang nggak begitu berat dan bisa jadi alternatif buat orang yang pengin masuk ke genre tersebut. Mungkin bisa juga jadi satu buku yang menuntun pembaca baru buat menyelam lebih dalam ke dunia dengan medium tinta dan kertas, sebab narasinya mudah buat dipahami dan page turner pula.
"Berguru kepalang ajar, tanda bunga kembang tak jadi. Belajar hendaknya bersungguh-sungguh, jangan tanggung-tanggung."
Judul buku : Romansa STOVIA Penulis : Sania Rasyid @sania_dora_rasyid Jumlah halaman : 350 Penerbit : @penerbitkpg
Blurb cek slide sebelah 👉
Bercerita tentang empat orang pemuda, Yansen dari Minahasa, Arsan dari tanah Minang, Hilman dari Bandung, dan Sudiro dari Jawa, yg bersekolah di STOVIA, School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau sekolah dokter yg awalnya bernama Sekolah Dokter Jawa.
Perkenalan awal mereka di sekolah tersebut diawali dengan hal yg kurang baik, tapi hal tsb membuat mereka memutuskan untuk bersahabat dan bahkan lama kelamaan persahabatan mereka menjadi sangat kuat dan solid, yg saling bantu dan mendukung satu sama lain, bahkan mengingatkan jika ada dari mereka yg berbuat salah, hingga mereka menganggap masing-masing seperti saudara.
Selain menceritakan tentang persahabatan dan proses mereka belajar di STOVIA, kita juga akan diajak mengenal latar belakang masing-masing tokoh dengan adat istiadat di masing-masing daerah asal mereka.
Dengan latar awal abad ke-20, kita akan melihat potret Indonesia yg dulu masih bernama Hindia Belanda. Bagaimana orang-orang pribumi hidup berdampingan bersama orang-orang Belanda. Walaupun memang ada hal-hal diskriminasi yg masih dialami warga pribumi seperti anak-anak Jawa yg dilarang bersepatu di sekolah. Tapi tidak sedikit juga kebaikan yg diterima warga pribumi dari orang-orang Belanda tsb.
Selain tentang persahabatan, kita juga akan diajak melihat kisah percintaan para tokohnya yg beragam. Mulai dari yg ditentang orang tua, yg berbeda agama, yg ditinggal menikah sampai menyukai orang yg 'terlarang'. Juga ada sedikit unsur misteri yg membuat buku ini semakin berwarna.
Awal baca aku kira karena settingnya di masa-masa penjajahan, temanya bakal seputar itu, ternyata setelah baca tema utamanya lebih ke persahabatan, kekeluargaan, perjalanan meraih mimpi dan cinta tentunya.
Yg aku suka setting masa lampaunya berasa banget, penggambaran suasana, dialog dan bahasa yg digunakan, pakaian dan kendaraan yg dipakai juga penamaan kota dan tempat yg masih memakai bahasa Belanda seperti Kebun Raya Bogor yg dulunya bernama Lands Plantentuin te Buitenzorg, Lapangan Benteng yg dulunya bernama Waterlooplein dll. 🩺 Baca novel ini tug kayak kita bisa sambil belajar sejarah tapi dengan versi yg lebih ringan dan mudah dipahami. 🩺 Beberapa plot twist disini juga lumayan mengejutkan bahkan ada yg lucu dan bikin ketawa. 🩺 Overall aku menikmati baca novel ini, novel young adult berlatar sejarah yg menarik banget buat dibaca. Nah buat yg suka cerita young adult tapi pengen sesuatu yg berbeda, nah bisa coba novel ini yg bersetting masa lampau jadi sekalian belajar sejarah deh. Recommended 👍
Sebenernya kalau boleh jujur, penokohan dan latar belakang buku ini punya banyak potensi. Bab pertama sampai kedua got me hooked, dari bagaimana kisah Yansen sampai pergi ke Batavia, lalu menyaksikan diskriminasi suku terang-terangan di STOVIA, aku berekspektasi empat sekawan tokoh utama ini akan bertarung menghadapi pelik konflik seputar permasalahan tersebut sepanjang buku.
Tapi setelah itu alurnya jadi aneh banget. Pas ada kasus pembunuhan di hotel, aku masih berpikir, "Oh, genre misteri juga, nih, oke lah..." tapi, lho, kok polisinya gampang banget bawa mahasiswa kedokteran buat penyelidikan? agak kurang masuk akal. Terus, cerita tentang penyelidikan ini dibuat panjang dan most of the time seperti kurang ada penemuan yang gong, terus tiba-tiba aja kasusnya ditutup. Like, all of that for what?
Semakin kesana, semakin membingungkan lagi karena isinya kisah-kisah percintaan Hilman dan Arsan. Bagian Arsan melamar Katlina itu juga menurutku aneh.
Terus lanjut lagi.... tiba-tiba gempa bumi di kediaman bapak Sudiro. Ini juga rasanya engga masuk akal aja menurutku. Sudiro dan teman-teman yang diajaknya berangkat dari Batavia tau gimana kondisi bapaknya Sudiro, tapi malah ditinggal sendirian. I get it, mereka mau menjalankan tugas kemanusiaan sebagai calon dokter. Tapi kenapa ga bawa bapaknya Sudiro dekat dengan mereka juga biar lebih mudah diawasi? Atau, biarin aja Sudiro bareng bapaknya, toh masih ada yang lain yang bisa lanjutin bantu-bantu warga? Mana saat Sudiro terpuruk, kata-kata yang dipakai buat menenangkan ya merely, "Ikhlas, dir..." honestly kalau aku jadi Sudiro aku akan berteriak dalam hati "GIMANA GIMANA IKHLASNYA CARANYA GIMANAAA INI DAH GA PUNYA ORTU FLISH ELABORATE"
Rasanya, ini tuh kayak buku yang dimana penulisnya sangat berapi-api dan bersemangat di awal menulis karena punya ide cemerlang, lalu di tengah-tengah menulis dia engga tau bukunya akan dibawa kemana, sehingga jadi buru-buru melanjutkan sisanya karena udah gak mood. Atau, punya terlalu banyak ide, namun bingung harus fokus ke yang mana sehingga semuanya ditumpuk jadi satu. Menurutku, kalau aja buku ini dibiarkan dalam bentuk kumpulan cerpen kisah hidup empat tokoh utama, tanpa maksain semua hal untuk berkaitan satu-sama lain tanpa transisi yang halus, mungkin akan jadi lebih acceptable.
Sekolah kedokteran di Weltevreden, Batavia; STOVIA, menjadi tujuan empat sekawan yang berasal dari beragam latar belakang. Yansen, sinyo tampan dari Manado; Arsan, yang namanya super-duper panjang dari Minangkabau; Sudiro, lantang nan cerdas asal Purworejo; juga Hilman, pemuda Bandung yang pekerja keras sekaligus keras kepala.
Patut diacungi jempol bagaimana Sania Rasyid membangun latar—terutama tempat, dengan sangat rinci sehingga mudah dibayangkan. Catatan kaki mengenai arti kata bahasa Belanda atau Manado pun membantu agar aktivitas membaca berlangsung lancar. Sekilas disisipkan Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium; cikal-bakal BKMG, membuat saya terkikik, teringat lembaga tersebut pernah menjadi subjek tulisan di salah satu tugas kuliah. Hal itu menjadi contoh dari banyak trivia yang menjadi penunjang novel ini.
Daya tarik hubungan antarkarakter, sejalan dengan dinamika mereka sebagai pelajar dan masyarakat Hindia Belanda. Selain tokoh utama, hadirnya Sterren berikut figuran lain menjadi warna yang terus mengajak pembaca untuk membalik halaman. Dibanding romansa, bagian persahabatan mereka lebih menarik dan bisa dipahami.
Di sisi lain, perpindahan latar waktu cukup kasar di beberapa kejadian, seperti dalam pembunuhan Lukas van der Hifft. Memang, jalan keluar seperti dibuat sebagai kejutan menuju akhir cerita, meskipun begitu, transisi fokus cerita menjadi terpotong juga mendadak. Perkembangan tokoh yang coba disusun melalui masalah yang menimpa mereka tidak semuanya berhasil, dalam hal ini inkonsistennya Arsan soal pujaan hati. Hal tersebut juga berlangsung di format kilas balik—mulanya (') lalu contoh lainnya kejadian lampau dimiringkan, sehingga cukup membuat saya bingung, siapa yang bercerita di bagian ini?
Pengulangan kata yang berlebihan, khususnya di bab-bab awal sangat menganggu, yakni "kelak aku tahu ...", sebab narasi tak menggunakan gaya bahasa sesuai latar, saya rasa bukan masalah untuk menggunakan kata atau bentuk serupa.
Romansa Stovia harus diakui merupakan novel dengan riset yang matang, sebagaimana yang terlihat pada keterkaitan latar juga fakta-fakta historisnya—tak sekadar tempelan. Sayangnya, unsur lain seperti alur dan penceritaan seolah menjadi kerikil; 3,5.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini gw beli taun lalu bukan karena rekomendasi dari siapapun tapi liat dari deskripsi buku yang menarik. Latar tempatnya di stovia, sekolah kedokteran yg awal mulanya dibentuk karena ada penyakit menular di Indonesia daripada datengin dokter dari belanda ga efisien jadi bikin sekolah sendiri.
Awal sebelum Yansen do something bad di teras rumah orang masih oke, pengen belajar di stovia, abis itu ekspektasi gw turun. Turun terus sampe ending. Kalo bikin grafik jadinya garis miring dari atas ke bawah jurang. Sempet naik di bagian konflik diskriminasi suku pas maba ini baru masuk, gw pikir bakal seru. Abis itu alurnya gajelas ngalor ngidul bingung sebenernya ini cerita mau dibawa kemana, semua dibahas. Ada politik (kaga jelas jga), ada teka-teki (bagian ini jga aneh, si yansen ikut penyidikan. Helloooo saha maneh sih? Dokter forensik?), ada romance yg ga romance (kaga kerasa tuh cinta-cintaannye), masalah keluarga. Kalo dibikin cerpen pake latar tempat di stovia, Batavia, tahun 1900-an masih oke tanpa berkaitan satu sama lain. Kali ini ga ada benang merah. Bukan alur maju mundur juga. Jadi kayak, ini mau kemana sih? Apa terlalu menggebu gebu jadi semua elemen dimasukin? Tapi kesannya jadi dangkal. Vibes stovia, sekolah kedokterannya, ambisnya bener-bener ga kerasa. Malah bahas hal-hal yang kalo di hapus pun ga ngaruh. Beberapa part it feels like dipaksakan dripada ada sebab akibat. Ga jelas klimaksnya.
Singkatnya ga ada yg membekas, tpi ya dri sini jdi kepo ke si stovia-nya sendiri.
Dan lebih disayangkan ga ada istilah-istilah kedokteran, samsek. Even kayak yg aku twt di atas pas bahas mayat ga pake istilah kadaver, sebenernya bagian ini yg bikin menariq tpi malah ga ada. Flat. Dari segi bahasa juga diksinya kurang rich.
Fiksi sejarahpun kerasa pas penambahan penjelasan yg jumlah persenannya ga sampe 15% dari isi buku, kayak formalitas. Ga ada kesan "oh sekolah kedokteran jaman dulu tuh gini"
sejauh baca buku ini jga ga muncul rasa empati ke tokoh-tokoh yg disebutkan
Bercerita tentang kisah hidup Yansen dan kisah orang-orang disekelilingnya. Kisah cinta, pertemanan, dan pengalaman hidup Yansen sebagai murid di STOVIA. Secara keseluruhan Novel ini bergenre slice of life. Seperti napak tilas kehidupan Yansen pas sekolah di STOVIA.
Hal yang paling unggul di novel ini adalah fakta sejarah yang disajikan dan pengetahuan tentang ilmu kedokteran. Aku akan acungi jempol karna banyak masukin fakta-fakta jaman hindia belanda yg mungkin ga banyak orang tahu. Dan budaya-budaya yang ada di beberapa daerah indo. Ah, iya dan pertemanan empat sekawan. Yansen, Hilman, Arsan, dan Sudiro.
Gaya bahasanya enak dibaca. Aku bisa baca ini dalam waktu sehari semalam.
Karna ini slice of life, maka plot dan konfliknya berasa kurang. Dan untuk genre yg aku pikir adalah slice of life pun juga terlalu banyak dramanya.
Sampai di pertengahan cerita aku masih belum menangkap apa yang akan diceritakan buku ini (tanpa baca sinopsis), apakah kehidupan yansen dan sekolahnya, atau fokus dipertemanannya, atau dikisah cintanya atau bahkan misteri thriller. Tapi ternyata semua itu dibahas cuman sekilas aja layaknya sebuah cerita slice of life.
Aku pikir ini awalnya misteri sejarah. Ternyata bukan. Makin ke akhir aku lebih mikir buku ini bisa di eksplorasi lebih lagi buat dijadikan komedi tragis 🙏 (maap 😭).
Yang bikin bingung itu ketika tiba-tiba ada misteri. Aku udh semangat ngikutin investigasi tahu-tahu ternyata intinya bukan disana.
Bagian yg bikin bingung lagi, tentang Arsan. Pertama kali disebutin kalau dia adalah orang Bukittinggi, tapi penjelasan yang diceritakan tentang background adalah Kota Padang. Walaupun mungkin aja beda domisili dan asal, cuman karna ini novel yang bicara soal sejarah jadinya kayak ada plot hole begitu.
Bagi aku yg orang minang asli baca part Arsan, aku ngerasa ada yg kurang aja.
Novelnya bakal bagus banget sih kalau misal plotnya lebih dimantepin lagi.
Tapi meskipun demikian, bisa tetap dinikmati oleh pembaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Kita kukuhkan saja persahabatan kita ini meskipun kita belum tahu tabiat masing-masing. Hendaklah kita bertahan walau aral melintang di depan nanti." — Sania Rasyid, Romansa Stovia
────⋆⋅☆⋅⋆──
Romansa Stovia, hisfic berlatar Hindia Belanda di awal abad ke-20, yang berkisah tentang 4 sekawan di sekolah kedokteran— STOVIA ; Yansen si Sinyo dari Manado, Hilman dari Bandung, Sudiro dari Purworejo dan si Rangkayo Mudo—Arsan, dari tanah Minangkabau. "Perpeloncoan di kampus tuh pertama kali terjadi di STOVIA." Itu salah satu kalimat yang buat aku tertarik untuk baca buku ini. Dan ternyata, persahabatan dari 4 orang ini dimulai karena kejadian itu. Di hari pertama masuk STOVIA, mereka berempat yang adalah teman sekamar harus menghadapi penindasan yang mengharuskan mereka membela satu sama lain untuk mempertahankan keadilan. Seperti judulnya, novel ini menceritakan 'Romansa' kehidupan mereka berempat as murid Stovia, yang bercita-cita menjadi dokter dengan segala latar kisah hidup dan masa lalu yang nano-nano😇🥲
Buku ini page turner banget jujurr! Dari mulai perjalanan mereka pendidikan di STOVIA, kisah percintaan, kasus pembunuhan, drama keluarga, sampe musibah-musibah yang harus mereka alami tuh disusun apik sama bu Sonia dengan penuturan yang mudah dipahami. Plot twist yang ada juga gak kalah buat kita terkecoh sama isi ceritanya juga gak kalah bikin 'HAH!' Wkwk Dan karena ini hisfic, seperti biasa selalu ada pengetahuan yang bisa dipetik. Kayak misalnya, bagaimana sih culture dan kehidupan di masa itu dari pov orang-orang yang terpelajar, yang sugih, yang punya 'nama' dan 'masa depan'. Lalu, disinggung juga organisasi budi Utomo dan isu-isu seperti diskriminasi yang di terima anak-anak dari suku jawa pada masa itu. And last but not least, yang paling membekas dan aku suka dari buku ini adalah mereka selalu turut membela ketidakadilan itu dan saling toleransi banget. Ikut senang bisa membersamai kisah 4 sekawan dari awal masuk sampe lulus😆🫶🏻 jadi berasa ikut lulus juga dari STOVIA
This entire review has been hidden because of spoilers.
Premisnya unik. Plotnya menarik. Namun, sayang eksekusinya kurang ciamik.
Menceritakan empat sekawan yang bersekolah di STOVIA yaitu Yansen (asal Manado, blasteran Belanda-Minahasa), Arsan (putra asal Minang), Sudiro (anak Jawa), dan Hilman (anak priyayi dari Bandung). Mereka berjuang bersama demi menjadi dokter di masa Hindia Belanda.
-----
Yang aku suka dari novel ini adalah sampulnya. Cantik banget. Lalu, premisnya. Kapan lagi ada novel berlatar sejarah tahun 1918 - 1928 tentang sekolah kedokteran yang dibalut dengan romansa.
Namun, sayang, novel dengan cerita dengan bumbu sejarah serta riset yang bagus ini, tidak diimbangi dengan eksekusinya. Aku merasa semua serba tanggung. Mau jadi dark academia juga tanggung. Ada intrik misteri juga tanggung dengan penyelesaian yang gitu aja.
Aku nggak tahu tujuan dari penulis menjadikan novel ini dengan sudut pandang Yansen itu untuk apa? Apakah karena dia pemeran utamanya? Pada 20% cerita, aku kira begitu. Tapi, makin kesana Yansen hanya sekadar pencerita. Pengganti penulis. Sebab, malah lebih ribet urusan Arsan, Sudiro, dan Hilman. Di beberapa adegan bahkan aku mengira Sudiro lah tokoh utamanya. Kalau mau sebanding, bisa juga pakai sudut pandang keempatnya. Dan sebenarnya lebih baik sudut pandang orang ketiga yang digunakan, menurutku.
Hubungan romansa Yansen dengan Sofia pun nggak diceritakan sama sekali. Malah yang di-highlight malah masa lalunya dan [redacted]. Dan aku nggak tahu sebenarnya novel ini mau dibawa ke mana, klimaksnya yang mana, penyelesaiannya mau yang mana, karena setiap plot tumpang tidih. Dibandingkan dengan "romansa"-nya, malah aku lebih dapet dan ngena persahabatan empat sekawan itu. Dan cerita kedokterannya pun terasa hanya lewat saja. Seakan hanya sekadar mengambil nama tempat sekolah kedokteran itu. Sayang banget, huhu.
-----
Akhir kata, Romansa Stovia tetap bisa dinikmati bagi penyuka novel fiksi-sejarah. Ku juga banyak belajar tentang sejarah pada masa itu dan istilah-istilah Belanda.
Satu kalimat tentang cerita "Romansa Stovia": Perjalanan anak Indo asal Manado, Yansen, menemukan cinta dan cita-citanya bersama sahabat-sahabatnya yang beragam suku di STOVIA (FK UI sekarang) pada 1920-an.
Kenapa diberi latar sejarah? Selain jawaban sederhana "tren fiksi sejarah lagi bagus" dan "penulis suka sejarah", ada jawaban yang agak rumit: dengan fiksi sejarah, pembaca bakal meraba bahwa banyak hal yang terjadi saat ini, toh, sudah pernah terjadi pada masa lampau dalam bentuk yang kurang-lebih serupa, dan dicarikan solusinya dalam bentuk yang kurang-lebih bisa diambil hikmahnya.
Dalam kapasitas fiksi sejarah yang demikian, "Romansa STOVIA" berpeluang jadi makanan pembuka, icip-icip lah istilahnya, untuk calon pembaca yang belum akrab dengan novel-novel, apalagi babon-babon pengetahuan, berlatar masa lampau. Novel ini berfokus pada karakter dan interaksi antar karakter (tentu bumbu cinta dan persahabatan, dan sedikit petualangannya dibikin medhok), bahasa yang sederhana, dan tempo yang cepat (tidak habis waktu di deskripsi detail latar waktu tempat suasana).
Akan tetapi, sayang, peluang hanya peluang. Novel ini terjebak di limbo, ruang kosong di tengah-tengah fiksi sejarah dan pop-romance biasa. Pembaca fiksi sejarah akan mengerenyitkan dahi ketika menjumpai di tahun 1920-an para pemuda STOVIA masih bicara Budi Oetomo sebagai nyaris satu-satunya organisasi (selain Sarekat Dagang Islam---harusnya Sarekat Islam). Di lain pihak, pembaca pop-romance merasa banyak ruang persahabatan dan cinta yang mestinya dirajut lebih sabar, pelan-pelan.
Bukan novel yang buruk, tetapi bukan yang bakal ngontrak lama di otak saya. Setidaknya, novel ini pantas dapat kesempatan dibaca oleh kawan-kawan yang biasa baca pop-romance lalu mau icip fiksi sejarah. Apalagi, gandrung sama "anak, atau dunia, kedokteran".
Judul: Romansa Stovia Penulis: Sania Rasyid Penerbit: KPG Dimensi: vi+353 hal, cetakan pertama Mei 2024 (edisi gramedia digital) ISBN: 9786231342089
Novel ini berkisah tentang empat sekawan dengan latar belakang budaya yang berbeda. Mereka adalah Yansen (Belanda-Manado), Hilman (Bandung), Sudiro (Purworejo), dan Arsan (Padang), yang sama-sama berjuang meraih cita-cita menjadi dokter di tengah gejolak kolonialisme dan perbedaan sosial. Berlatar tahun 1918-1928 di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), persahabatan pun terjalin di hari pertama sebab adanya ketidakadilan, yakni orang Jawa dilarang bersepatu.
Masing-masing tokoh memiliki konflik pribadinya terkait motif bersekolah 9 tahun di STOVIA. Dengan gaya bahasa yang ringan, penulis mampu mengajak pembaca memahami perbedaan pada tiap budaya di masa itu. Sehingga karakter tiap tokoh terasa kuat. Juga deskripsi latar tempat serta suasana politik masa itu membuat saya seakan berada di dalamnya, meski nama beberapa lokasi menggunakan nama belanda, namun mudah menerka jarak hingga keramaian di lokasi yang dimaksud, termasuk bangunannya.
Romansa yang dibangun pun cukup menarik, ditambah sedikit bumbu kisah detektif. Sempat membuat ekspektasi saya agak tinggi mengira akan jadi novel kriminal. Tapi ternyata tidak dilanjut, dan agak berlama-lama di bagian ini. Sedikit membosankan dan membuat saya bertanya untuk apa tokoh pendukung ini ada. Sebab tak mempengaruhi signifikan terhadap alur cerita.
Cocok dibaca oleh kamu yang suka fiksi sejarah, romance dalam persahabatan, dan penasaran dengan sekolah kedokteran di zaman kolonial.