Kedua peribahasa itu mungkin peribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan situasi yang dialami oleh Tomo saat ini. Bahasa nge-trend-nya: MODUS
Pasalnya, setelah melewati penantian yang cukup panjang, ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk bertemu penyanyi idolanya di Tokyo. Tidak hanya itu, kedatangannya di Negeri Sakura akan disambut oleh sahabat penanya yang super kawaii, Kokoro-chan!
"Selama ini cuma bisa ngeliat Kokoro dari balik layar kaca dunia maya. Sekarang bisa ketemu secara langsung, gak pake layar kaca, di dunia nyata! KYAAA!!!" Tomo histeris. Deg-degan bukan main. Kalau selama ini ia cuma bisa mengirimkan pesan-pesan gombalnya via tulisan kepada Kokoro, mulai sekarang ia harus belajar mengutarakannya secara lisan, bahkan dalam bahasa Jepang.
Dengan bermodalkan Yubisashi Guide Book di tangannya, Tomo-kun siap mempelajari jurus-jurus jitu untuk melancarkan aksi
Membaca buku ini karena tayangan dengan judul serupa di sebuah stasiun televisi swasta. Secara garis besar tayangan tersebut ingin memperkenalkan budaya dan teknologi yang tengah berkembang di Jepang, namun dibalit dengan kisah percintaan yang lucu antara dua karakter dan latar belakang budaya yang berbeda, yakni Jepang dan Indonesia.
Gaya Bahasa dan Kosa Kata Karena memang ditujukan kepada kelompok remaja dan mengemban misi memperkenalkan kebudayaan, cara berceritanya menyenangkan, mudah diikuti, ditambah kosa kata yang memang tidk formal. Alias menggunakan percakapan gaul sehari-hari. Kemudahan inilah yang sekaligus membuat guyonan renyahnya enak untuk dinikmati.
Plot Tidak ada yang salah dengan plotnya, karena menggunakan plot maju. Sehingga tidak terlalu membingungkan pembaca
Tokoh Selama cerita ini bergulir, hanya ada dua tokoh utama, yakni si Tomo-kun, lelaki asal Indonesia yang merantau ke Jepang atas nama kesukaannya dengan salah satu penyanyi dan Kokoro-chan, gadis Jepang yang khas Jepang (bacalah, maka kamu akan tahu maksudku). Keduanya memiliki karakter seperti sebagian besar laki-laki Indonesia ataupun Perempuan di Jepang. Karena itulah, kedalaman tokoh tidak terlalu dieksplor. Bayangkan aja, dengan perbedaan antara dua budaya, pastilah sudah menimbulkan beberapa permasalahan kecil. Dan itu uniknya. Karena menurutku, kita selama ini hanya tahu mengenai Jepang dilihat dari produk yang dihasilkan, bukan dari aspek sosial penduduknya.
Yang Menarik Saking ringan dan cukup kocak, aku lumayan menikmati apa yang disampaikan oleh penulis. Diawali dengan perbedaan beberapa derajat ketika membungkukkan badan akan menghasilkan penafsiran berbeda bagi orang Jepang. Hal-hal sepele seperti bahwa di Jepang, pasangan yang masih berpacaran memang membayar sendiri-sendiri, tidak seperti di Indonesia dimana pihak laki-laki selalu gengsi dan membayari semua pengeluaran ketika berkencan. Penjelasan pun juga sampai hal yang di Indonesia sudah sering kita temui, yakni cara memakan sushi yang benar.
Setiap penjelasan selalu dihadirkan bersama dengan ilustrasi lucu dan menarik. Sehingga membuat pembaca setidaknya menangkap pesan penulis. Pada beberapa laman terkahir, penulis lebih memperinci lagi, seperti misalnya ketika kedua tokoh mampir ke salah satu tempat yang penuh robot. Tambahan pula, apabila kamu membeli buku ini, akan ada sebuah buku pendamping mini alias guide book yang berisi kalimat singkat ketika sedang berada di Jepang. Misalnya, kalimat untuk bertanya mengenai arah jalan.
Yang Disayangkan Teknis penulisan. Bukan, aku sih tidak mempersalahkan dengan kosa kata non-formal yang digunakan. Tetapi penggunaan catatan kaki tidak diorganisir dengan baik membingungkan pembaca. Penulis tidak menggunakan angka melainkan hanya tanda bintang. Hal tersebut tidak masalah jika dalam satu halaman hanya ada satu tanda bintang. Bagaimana jika ternyata ada banyak tanda bintang? Bagaimana pembaca bisa memahami maksud dari kata asing tersebut? Tidak lepas juga aku menemukan beberapa kata yang masih salah ketik.
Cerita boleh saja disajikan dengan menarik dan ringan, tetapi jangan sampai hal yang logis diabaikan. Contohnya saja ketika Kokoro-chan bersedia menemani Tomo-kun untuk berkeliling Tokyo. Apakah si Kokoro-chan memang hanya gadis menganggur? Kalau menganggur, dapat uang darimana dia untuk melakukan aktivitas fangirling? Jujur, aku sendiri merasa terganggu. Apalagi di bagian-bagian menuju terakhir, tampak cerita agak dipaksakan untuk menjadi sedikit romantis.
Namun secara keseluruhan sudah cukup menyenangkan, walaupun beberapa informasi yang ditulis sudah pernah aku ketahui sebelumnya. Aku hanya memberi 2 bintang karena buku ini biasa saja dimana aku bisa menghabiskan hanya dalam waktu 2 jam. Ya, aku terganggu oleh kendala teknisnya. Ohya, harganya cukup mahal disebabkan oleh seluruh halaman dicetak dalam keadaan berwarna, ditambah dengan buku saku itu.
Awalnya tertarik membaca buku ini karena suka dgn acara tv nya.buku ini menarik sebagai bacaan yg santai.menggambarkan kehidupan dijepang dari sudut pandang si pembawa acara di tv yg diceritakan sedang berkunjung ke jepang.ditambah dgn bumbu komedi romantis membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca
Mungkin saya telat karena baru membaca buku ini, karena saya sendiri sama sekali nggak tahu ada program televisinya, hehehe.
Saya nggak berharap banyak untuk buku ini, karena buat saya tidak semenarik itu kalau dilihat dari sinopsis sampul belakang. Namun setelah dibaca, lumayan juga. Ada ilustrasi menarik yang membantu pembaca untuk memvisualisasikan cerita. Seperti tutorial membuka onigiri (betul tidak ya? cmiiw), dan lainnya.
Buku ini juga dilengkapi dengan Yubisashi Guide Book, tapi sayangnya karena saya pinjam di Perpusarda, nggak ada deh.
Bisa dibilang ini termasuk bacaan ringan, namun buat saya saking 'ringan'-nya, saya jadi malas-malasan menyelesaikannya, karena datar banget hehehe (imho lho ya.)
Nah, novel ini mengisahkan tentang Tomo dan Kokoro yang bertemu di dunia maya yang pada akhirnya bertemu secara langsung di Jepang.
Yaa kisah pertemanan mereka dihiasi oleh budaya Jepang.
Menariknya sih karena saya tertarik dengan Jepang, buku ini lumayan sukses memberitahu hal-hal yang menarik dari Jepang. Namun saya merasa kurang nyaman dengan cara penulis menuturkan kisah mereka. Memang pertemanan beda negara menggunakan bahasa campur-campur, namun dalam buku ini terkesan kurang natural bagi saya.
Ceritanya beli buku ini karena jarang nonton program televisinya. Tv di rumah selalu disabotase sama adik yang masih kecil jadi saya nggak pernah nonton tv :'D.
Selesai baca buku ini cuma kepikiran satu hal. Kapan saya bisa kayak TOMO?! Umur sepuluh tahun saya punya mimpi pengen ke Jepang, dan sampai sekarang masih memikirkan cara bagaimana bisa ke sana tanpa mengeluarkan banyak uang :D
Someday, I will be there. Dan buku ini bisa menjadi petunjuk buat saya saat mengunjungi Jepang nanti.
Kira-kira bakal ada nggak ya versi di kota lain selain, Tokyo? Kyoto oke banget tuh :3
buku ini mengambarkan sangat hebatnya kota dijepang,kemajuan,keramahan dan semuanya yang mengambarkan masa depan penduduk jepang yang maju semua bisa dirasakan di buku ini. dan yang paling penting masyarakat jepang sangat menghargai warisan leluhurnya.itu di gambarkan dengan banyak sekali tradisi tradisi unik di sana seperti,upacara minum teh dan masih banyak lagi dan yang paling membuat saya kagum tentang jepang adalah rasa semangat dan pantang menyerah.
cerita nya terlalu banyak mengajarkan ttg budaya di Jepang.. jadi daripada menikmati cerita, w merasa w lebih banyak belajar.. alasan w kasi rating 5 stars ya gra" pencitraan Jepang nya yg ketara, dan satu lg ending nya bagus.. sudut pandang orang ke 3 nya lucu bgt..
Kalo baca cerita ini kebayang-bayang pas lagi nonton serialnya di TV. Serunya perjalanan Tomo jalan-jalan sama Kokoro bikin kepengen nyusulin ke Jepang. Bonusnya juga kece, semangaaat nabung buat ke Jepaaaangggg!!!
i love this not-your-standard travel books it's a travel book that comes in form of a novel with the 2 main character, 1 Indonesian guy and 1 Japanese girl involve in an exciting encounter that highlight the city of Tokyo and also the culture of Japanese...
bacaan yg ringan dan cukup membuat kita ngiler pergi ke jepang. Si tomo ini kalo ngayal ga tanggung-tanggung deh..:D tapi justru his sillynesnya tomo ini yang bikin kokoro kangen haha