“Novel ini mengajak para pembacanya untuk merenungkan kembali makna kebenaran dan keyakinan (iman), menyeret mereka ke dalam arusnya yang jauh dan dalam, untuk sampai ke muaranya dalam kondisi yang tercerahkan.” (Ahmadun Yosi Herfanda, redaktur sastra Republika)
Dari judulnya yang sederhana, para pembaca mungkin bertanya-tanya, apa yang istimewa dari novel ini? Ia memang berkisah tentang perjalanan menempuh jalan-Nya yang lurus. Tapi, ini bukan sekedar perjalanan. Novel ini bertutur tentang pengembaraan hidup manusia ... tentang cinta dan pengkhianatan ... tentang persahabatan, persaudaraan, sekaligus pemusuhan ... tentang keluhuran cita-cita dan daya tahan demi menggapainya ... tentang pelurusan dekadensi, berlalunya waktu, dan berulangnya penyimpangan. Novel ini menghadirkan nuansa profetik serta menuangkan renungan-renungan filosofis tanpa terjebak dalam dialog-dialog pelik yang sulit dipahami.
The Straight Path adalah totalitas hidup seorang penempuh jalan … perjalanan menuju puncak cinta dan cita-cita … perjalanan menuju Tuhan. Ia merupakan realitas yang akrab dengan kita, tetapi seringkali kehilangan maknanya yang begitu dalam dan kaya. Melalui cerita yang seru, alur yang tak mudah ditebak, serta gaya bahasa yang menyentuh, novel ini diharapkan mampu menyentak dan menggerakkan para pembaca agar merenungkan kembali hakikat eksistensi mereka di dunia ini.
buat saya, buku ini mengajak untuk menjadi cerdas dan lebih dewasa...
Alwi Alatas has already written 19 books, most of which were published in Indonesia. He started publish book in Malaysia at the beginning of 2010. His books are about history, adolescence, religion, and motivation; fiction and non-fiction. He became head of Forum Lingkar Pena (FLP) Malaysia from 2008 to 2010. At the moment, he is doing PhD at International Islamic University Malaysia (IIUM).
buku ini menceritakan kisah tentang oranh orang yang sedang hijrah ke jalan yang lurus.
novel ini sangat menginspirasi dan lumayan banyak quotes didalamnya. pelajaran yang dapat saya ambil dari buku ini adalah kita tidak perlu menghabiskan waktu didunia hanya untuk bersenang senang, tapi bukan berarti kita dilarang untuk bersenang senang. melainkan kita boleh bersenang senang tetapi masih dalam takaran yang pas atau dalam artian tidak tenggelam dalam maksiat kesenangan. karena kita hidup didunia ini hanyalah sementara dan kehidupan yang abadi hanyalah di akhirat. banyak orang yang mendambakan surga tapi tak mau berkorban untuk mencapainya. dan kita boleh mencintai seseorang asalkan tidak melebihi rasa cinta kita kepada Allah swt. karena cinta yang berlebihan terhadap seseorang atau suatu benda hanya dapat membutakan hati dan pikiran.
buku ini layak dibaca oleh setiap orang, karena akan menguatkan hati untuk mencapai sebuah cita-cita atau impian. Disini digambarkan bagaimana jalan yang ditempuh cukup jauh, tujuan dari perjalanan itu tidak dapat dibayangkan,oleh manusia-manusia yang lemah hatinya dianggap seolah olah tidak nyata. Begitu banyaknya halangan dan rintangan yang dihadapi. Padahal halangan dan rintangan itu adalah bagian dari perjalanan tersebut, selain itu setiap halangan dan rintangan yang dihadapi selalu berbuah hikmah dan kebaikan bagi manusia-manusia tersebut. Yang pada akhirnya mereka mendapati tujuan yang memang nyata dan mendapatkan kebahagian yang abadi.
Buku yang sangat menarik untuk dibaca. Bagi yang belum membaca silahakan membeli di Toko Buku Terdekat (jangan bajakan ya...) Pokoke nyesel ga ngebaca buku ini...