Bagi generasi milenial, novel ini adalah sebuah nostalgia. Isnan, tokoh utama dalam novel ini, masuk dalam kategori generasi tersebut. Sangat menghangatkan hati bagaimana Isnan kecil mencangkung di rumah tetangga hanya sekadar menonton televisi ramai-ramai, atau bagaimana pertandingan sepak bola di lapangan desa menjadi buah bibir layaknya Timnas, atau bagaimana Isnan berburu berita sepak bola melalui acara-acara teve atau tabloid. Memang seperti itulah keseharian di desa pada tahun 90-an.
Kelebihan Mahfud dari semua novel-novelnya adalah narasi yang mengalir pelan dan sistematis tanpa diksi-diksi sukar. Meski aku belum membaca Ulid, cerita tentang Isnan sebagai adik kandung Ulid beserta konflik keluarganya yang mungkin diceritakan dengan detail dalam novel Ulid mudah dibayangkan. Hal ini juga berlaku pada dua novel Mahfud yang lain: Dawuk dan Anwar Tohari.
Namun, hingga akhir paruh buku, saya masih meraba-raba apa konflik besarnya dan apa pula yang ingin disampaikan penulis melalui tokoh Isnan. Saya dapat bilang, novel Bek hanya murni biografi Isnan, dan sepak bola adalah bagian dari dirinya yang tak dapat dipisahkan sejak balita hingga dewasa. Peristiwa-peristiwa dan tantangan hidup hanya memantul di diri Isnan, sedangkan ia tetap berjalan maju mengarungi waktu. Menurutku, tak ada konflik yang betul-betul milik Isnan selain seluk-beluk sepak bola.
Meski saya tak paham bola sejak belia, saya bisa merasakan bahwa begitu seru mengumpulkan poster dan pin up dari tabloid, atau menonton pertandingan bola antar kampung menjelang maghrib, atau mendengarkan siaran langsung di radio. Yang saya kagumi, Mahfud sangat detail menjelaskan nama-nama acara olahraga teve 90-an lengkap dengan nama panjang presenternya. Dulu, Bapak saya gemar sekali menonton acara itu, dan saya yang hanya nimbrung menonton, ikut menghafal nama presenternya. Tajuk berita olahraga dan nama presenternya mungkin telah mengendap dalam memori inti diri saya, dan novel ini memunculkan kembali nama itu ke permukaan. Secara personal, ini bagian yang memberiku saudade.
Isnan berpikir bahwa struktur dalam sepak bola ibarat sebuah keluarga. Saya senang dan sependapat dengan pengandaian ini. Dalam keluarga, orang tua adalah kiper, yang menjaga martabat tim sekaligus pertahanan terakhir keluarga. Kiper biasanya meneriaki tim lain karena ia yang memiliki pandangan lebih luas dari belakang.
Layaknya sepak bola juga, ada anak yang menjadi penyerang; yang selalu berada di tanah seberang, yang berusaha mencetak gol untuk membuat bangga keluarga, yang menjadi sorotan khalayak. Dia adalah tulang punggung sekaligus definisi dari sebuah keluarga. Tak jarang, nama yang dihafal oleh tetangga adalah nama sang penyerang, nama anggota yang lain kerap tak digubris.
Sebaliknya, ada anak yang menjadi bek. Ia adalah penjaga. Anak yang tak pernah meninggalkan tanah kelahiran, senantiasa menjaga dan merawat kiper, begitu ugahari dalam keseharian. Sang bek jarang disorot karena ia tak menghasilkan gol kebanggaan.
Bagiku, di sini muncul pertentangan. Sang striker terkadang merasa bersalah karena ia selalu melalang buana, jauh di kandang musuh, menikmati pujian dan sanjungan, tapi tak selalu bersama sang kiper. Di sisi lain, mungkin bek juga memiliki kecemburuan bahwa ia hanya selalu berada di bawah bayang-bayang sang penyerang, tanpa sorak sorai dan gegap gempita perayaan gol.
Namun, menurutku tak seharusnya demikian. Keluarga adalah tim sepak bola, dan sebagai tim, keberhasilan adalah tanggung jawab bersama, dan bukan dibebankan pada satu peran saja. Terkadang, bola di kaki sang penyerang tergocek lawan. Ia jatuh tersungkur dalam perantauan. Di rumah, sang bek siap sedia menahan musuh, melindungi bola masalah yang menjajah wilayah keluarga. Mungkin ia pun terjungkal. Bola masalah menembus kotak penalti dan menuntut kecapakan pertahanan terakhir, sang kiper. Malang juga mungkin tak dapat ditolak, sang kiper kebobolan. Tapi, sekali lagi, sebagai tim, tugas orang tua layaknya kiper: melempar bola harapan sejauh mungkin agar anak yang berperan sebagai penyerang menjadikannya gol, dan anak lain yang menjadi bek mengokohkan pertahanan. Tim yang sukses adalah tim yang tahu perannya masing-masing. Dan secara garis besar, novel ini tentang itu.