Kamu seperti hujan yang datang menghapus bau-bau kematian di hatiku yang telah gersang oleh kemarau. (Bait-Bait Hujan – Pringadi Abdi)
Bagaimana kau membayangkan seorang wanita yang menjelma sebatang pohon, hidup selama puluhan tahun, dan tak pernah kembali menjadi manusia? (Sebatang Pohon di Loftus Road – Sungging Raga)
Ada berbagai cerita dalam kumpulan cerita pendek kedua pengarang ini. Menggugah, menggigit, membuatmu mengernyit. Barangkali, seperti kutipan Sungging Raga di bawah ini:
Konon, inilah yang disebut cerita pendek surealis. Segala sesuatu bisa terjadi meski sama sekali tidak masuk akal.
Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Juga mengikuti Makassar International Writers Festival 2014 dan menjadi salah satu penulis terpilih dalam Asean-Japan Residency Program di Asean Literary Festival 2016 nanti. Sekarang, bertugas di Ditjen Perbendaharaan Negara. Hobinya jalan-jalan. Catatan pribadinya bisa dilihat di http://catatanpringadi.com
Bagaimana kau membayangkan seorang wanita yang menjelma sebatang pohon, hidup selama puluhan tahun, dan tak pernah kembali menjadi manusia... (Penggalan cerpen Sebatang Pohon di Loftus Road, Sungging Raga).
PENGGALAN cerpen tersebut merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen (kumcer) Simbiosa Alina. Kumcer Simbiosa Alina yang didalamnya memuat sepuluh cerpen Sungging Raga, dan sepuluh cerpen Pringadi Abdi adalah cerita-cerita apik yang terkadang mendobrak jendela berpikir kita.
Beberapa di antaranya teramat sulit dipahami, apabila kita jarang menyelam ke tengah karya-karya fiksi. Sederhananya, orang tidak mudah menemukan kuatnya karakter suatu tokoh yang dicetak Sungging dan Pringadi, jika mereka tak pernah membaca cerpen. Semuanya berjalan begitu fantastis, dan memukau. Saya pun harus berulang-ulang, dan terkadang membolak-balik halaman demi halaman untuk menemukan maksud si pengarang. Namun, kita tentu juga merasa puas, ketika menemukan beberapa judul yang selalu membuat kita tetap diam dan membacanya sampai selesai. Saya tersentak dan seperti ingin bertemu dengan kedua pengarangnya seraya ingin berkata, “Belajar di mana Mas? Lho kok indah-indah sekali kata-katanya.”
Berdecak kagum dan senyum-senyum sendiri, itulah kesan awal saat membaca cerita demi cerita yang disuguhkan di dalamnya. Lihatlah judul ini: “Senja di Taman Ewood.” Cerpen ini, sejujurnya saya sudah membacanya dalam kumcer Kompas pilihan tahun 2009. Cerpen yang dikarang Sungging Raga tersebut mengeksplorasi perasaan dan senja. Didalamnya, memuat—pertemuan, janji, taman, dan senja—yang tentu teramat biasa dalam bahasa sastra, begitu juga dunia fiksi. Akan tetapi, Sungging yang juga kelahiran Situbondo (Jawa) ini, begitu cakap menempatkannya dengan apik dan indah. Kita seolah duduk sembari meminum kopi di musim dingin dan memandang sepasang kekasih yang keasikan membuat pertemuan dengan segala mimpi-mimpi senjanya.
...Semua wanita di Taman Ewood mengenalmu wanita tanpa nama yang tak pernah absen menikmati jatuhnya matahari kemerah-merahan menuju pekat yang menyambar-nyambar, wanita yang tak henti-hentinya meneteskan air mata di antara kerikil dan rerumputan...
Kalimat di atas termuat di dalam paragraf kedua, “Senja di Taman Ewood”, yang menurut saya hampir kebanyakan pengarang sulit menuliskannya serupa kata-kata yang keluar dalam otak Sungging. Jika harus jujur, saya tentu harus duduk berjam-jam dulu menikmati senja di Halmahera, kemudian menatapnya pelan-pelan, sampai nanti senja itu masuk ke dalam pikiran saya. Berkata-kata itu jangan gegabah, itu menurut Dino Umahuk (Salah satu penyair senior, asal Maluku). Sehingga untuk menulis sebuah “senja” kita tidak perlu dengan cepat mengatakannya sebagai “matahari mulai tenggelam”, “sore telah tiba”, “di langit kemerah-merahan”, begitu seterusnya sehingga membuat kita sendiri yang akan berasa bahwa bahasa yang kita tulis teramat pucat dan klasik.
Lalu, saya harus tertegun kembali, ketika menemukan sebuah cerpen berjudul: “Malam di Cataluna.” Cerpen yang dikarang Pringadi Abdi ini adalah cerpen yang belakangan masih membekas dipikiran saya. Terkadang ketika melihat sepasang kekasih berjalan menggunakan kaos sepak bola yang seragam, saya dengan cepat mengingat cerpen tersebut. Fantastis, dan karismatik. Sebuah cerpen yang sukses adalah sebuah cerpen yang berhasil membuat pembacanya berlarut-larut mengenangnya. Saya sampai lupa, kalau itu sebuah cerpen. Mas Pringadi, hebat sekali menyusun cerita tanpa mengabaikan rasionalitas.
“...Kalau Barcelona menang, aku akan melamarmu, Sayang...”
Salah satu perkataan dalam cerpen “Malam di Cataluna” tersebut akan membuat kita semakin mengerti, bahwa seorang lelaki berjanji pada kekasihnya, apabila tim kebanggaannya menang nanti, maka ia akan kembali membawa lamaran yang telah dinanti-nantikan kekasihnya. Melamar memang identik dengan kemenangan. Namun, apalah daya—Barcelona membawa kabar buruk bagi wanita dambaannya. Proses lamaran harus diadili atas nama kekalahan sebuah tim sepak bola.
Sepasang kekasih menaruh janji di atas lapangan hijau bukanlah hal yang biasa dalam dunia nyata. Meski kita selalu melihat judi perasaan tak pernah luput selama bola digulirkan dari kaki-kaki pesepak bola tersohor, tetapi kita tak pernah tahu betapa keseriusan diadu didalamnya.
Semua ternyata keliru, apabila kita menganggap cerita itu berakhir tragis. Sang kekasih malah pura-pura sedih ketika mendengar kabar kekalahan Barcelona. Dia tiba-tiba tertawa di kamar, memeluk bantal sembari berjingkrak-jingkrak, karena Barcelona ternyata kalah dengan tim kebanggaannya, yakni Arsenal. Saya kaget! Ternyata, diam-diam, wanita pujaannya juga sedang menyaksikan pertandingan tersebut dan mengharapkan agar Barcelona kalah meski proses lamaran dan pernikahan mereka tak berhasil digelar.
Sebagai orang yang lama bermukim di Halmahera, saya sangat merindukan bisa terus membaca cerita-cerita indah dan apik seperti ini. Hampir setiap detik, kami (juga kita) selalu dihimpit persoalan-persolan yang terkadang membuat kita teramat sulit menemukan dunia fiksi. Setidaknya, pagelaran sastra dalam kenyataan yang menyakitkan ini dapat mengobati kerinduan terhadap keindahan-keindahan yang setiap hari terlukis di langit Halmahera.
Saya suka Simbiosa Alina, karena kumcer ini membahagiakan saya dalam kenyataan yang menyakitkan di Halmahera. (*)
Jujur, di awal dapat buku ini kurang suka sama covernya. Tapi ternyata isinya 'ajaib'. Ada 20 cerita pendek yang ditulis oleh 2 penulis. Pembagiannya rata.
Didominasi urusan percintaan. Banyak yang berakhir secara tragis dengan plot twist.
Aku nggak berani ngomentari cerpen pada belahan pertama, punya Sungging Raga. Bisa-bisa abis baca reviews ini dia bakal ngutuk aku jadi sebatang pohon di dekat jamban UGM. Aku nggak mau. Apalagi sudah lama dia menaruh ketidaksukaan secara pribadi kepadaku. So keep calm saja untuk cerpen Sungging Raga. Apalagi dia pernah mengatakan Goodread medan pembantaian. Satu lagi nggak suka dengan sampul buku ini, karena aku termasuk orang yang cerewet masalah sampul, beda dengan keindahan sampulnya "Surga Sungsang"-nya Pak Triyanto. Tetapi aku tidak suka beberapa hal,
1. Posisi penulis yang tiba-tiba masuk dalam alur cerpen yang sudah mengalir. Misal dalam cerpen Simbiosa: Konon, inilah yang disebut cerita pendek surealis.(h.13) Atau di cerpen Biografi Cartesia,Lelaki yang dalam cerita pendek ini tak mau disebutkan namanya pun berpikir sejenak (h.91). Ini mengingatkan kita pada gaya Soji Shimada dalam novel Tokyo Zodiac Murder, dimana penulis tiba-tiba muncul di tengah cerita. 2. Saya tidak suka cerpen Slania, kayae Sungging Raga bisa nulis yang lebih bagus daripada cerpen ini. I trust... 3. Ke10 cerpennya berkisah tentang kenangan, cinta, dan semacam patah hati. Yaaa semacam tema popis dengan dibungkus bahasa sastrawi. Maka sangat tidak sepadan dengan komentar2nya yang "kejam" terhadap cerpen SGA "Aku, Pembunuh Munir!", yang katanya biasa-biasa saja. Yaaa pilihan tema memang pilihan penulis. Semoga Sungging Raga lekas lepas dari kenangan dan patah hati, sehingga cerpennya akan makin oye saja.
Mari lekas pindah ke cerpen2 di belahan kedua.
Dan ternyata di belahan kedua biasa saja. Saya justru merasa ini sepertu curhatnya penulis. Hanya banyak hal yang bersifat pribadi dari penulis yang dapat dirasakan: STAN, penulisnya agamis. Dan ternyata prosa karya penyair memang demikian ya, meliuk-liuk aduhai....
apa ya? :D saya nggak suka kavernya. ahak hak hak. berasa penuh warna gitu dan nggak bakal abadi (tabokin =))). saya yakin, jika buku ini sukses dan dicetak ulang, maka kavernya akan diganti. iya kali yak biar penyegaran. ahak hak hak. tapi begitulah, mungkin. untuk isi, saya suka. nggak terlalu banget karena ngerasa sampai saat ini saya sulit menikmati karya dan mengategorikan kesukaan saya sampai level "suka banget".
yang saya sukai di buku ini, kepiawaian Sungging Raga. orang ini memang menghadirkan sesuatu yang fresh dengan imajinasinya yang hidup itu, yang aneh-aneh tapi bikin senyum-senyum, lalu speechless (ya ampun orang ini!!!) kira-kira begitu. bisa saya bilang bahwa Sungging Raga tampil sedikit jenaka, seperti pada beberapa cerpennya yang sempat saya baca sebelumnya. makanya, agak kurang "mecing" rasanya ketika si Om itu berpasangan sama Pringadi yang cenderung kalem, sendu, dan seperti jauh dari jangkuan.
Pringadi cenderung tanpa emosi jenaka di cerpen-cerpennya dalam Simbiosa Alina. karyanya berkesan lebih serius, baik bahasa maupun konten; seolah-olah lebih berat ketimbang karya "pasangannya" dalam buku ini. tapi bukan bermaksud membandingkan hasil duo ini, saya menyukai hampir semua cerpen di dalamnya. yang paling oke saya rasa, ya dua cerpen yang membentuk judul buku ini; Simbiosa (Sungging Raga) dan Alina (Pringadi).
Tentang sepasang kekasih yang menikmati sore di bangku taman, tentang kakek nenek yang bergenggaman tangan di Stasiun Lempuyangan, tentang dua orang yang berpelukan dan bertukar puisi di tepi tebing curam, tentang hujan yang merontokkan segenap kerinduan.
Bisa dikatakan, Simbiosa Alina bicara melulu soal cinta dan kenangan. Namun dia tidak membosankan? Hebat bukan?
Baru kali ini saya memberi nilai 4 untuk kumpulan cerpen. Biasanya di bawah itu.
Cerpen favorit saya di kumcer ini adalah Pelukis dari St. Mary's. Mungkin karena saya suka dengan Girl with A Pearl Earrings yang juga bercerita tentang lukisan, mungkin juga karena perasaan seorang pekerja seni begitu terasa dalam tiap kata yang terangkai dalam cerpen ini.
ah. kupikir Pringadi menulis cerpen surealis juga (seperti dalam "Dongeng Afrizal"), ternyata tidak. anyway, saya sukses jatuh cinta pada beberapa cerpen milik Sungging Raga. overall, buku ini merupkan karya sastra yang patut diacungi jempol.
Perihal keindahan kata-kata, pilihan saya jatuh pada cerpen-cerpen Sungging Raga (SR). Sementara untuk eksplorasi tema cerpen, bagian Pringabdi Abdi (PA) lebih berani. Saya merasakan terbuai oleh alunan kata-kata yang lembut saat menikmati separuh awal buku ini (SR). Di paruh kedua, beberapa kali saya hampir terkantuk-kantuk karena awal cerita yang terlampau simpel untuk sebuah cerpen sebelum kemudian mendapati diri saya terpesona di penghujung kisah. Cerpen-cerpen SR menurut saya memiliki tempo serta keindahan yang konstan, yang stabil dari awal sampai akhir. Sementara, cerpen-cerpen PA cenderung seperti mendaki gunung. Mudah dan simpel di depan, tetapi terus menanjak sebelum akhirnya menyajikan pemandangan indah di akhir pembacaan.
Sebagaimana mestinya, sebagian besar laki-laki percaya perihal jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara sisanya memilih berpendapat bahwasanya cinta adalah proses, setelah mengalami penjajakan tertentu yang menimbulkan rasa aman,nyaman dan kepercayaan. ~Pringadi Abdi~ dalam cerpen Alina.
Kumpulan cerpen dari dua penulis, masing-masing penulis mempersembahkan 10 tulisan, yang seolah memiliki ciri khas masing-masing sesuai gaya tulisan, sudut pandang dan latar belakang. Namun sama-sama membawa pembaca dalam narasi kebanggaan atas identitas diri serta kenangan yang terperangkap dalam benak mereka.
Cinta … satu kata ribuan kisah takkan habis bila bicara soal cinta dan turunannya. Tentang kepedihan karena cinta yang tiada berkesudahan. Tentang luka karena tak bisa menggenggam cinta, dan masih banyak lagi … Semuanya bisa ditemui dalam dua puluh kisah di buku ini.
Entah apa yang ada di benak Sungging dan Pring ketika menuangkannya dalam rangkaian kata, yang jelas membacanya tak cukup sekali untuk bisa mengerti. Tak melulu, ada beberapa yang memang imajinasiku tak sampai hanya dengan selintas mata.
Ada satu cerpen Sungging yang membuatku haru dan larut. Slania. Mengingatkanku pada satu momen indah di Lempuyangan, saat tahun baru 2011. Kalau saja saat ini aku tidak bersama suamiku, tentulah kubayangkan sepasang kakek dan nenek di sana itu aku dan kekasihku. Seratus dua puluh tahun harapan yang sungguh ajaib. Walau aku kurang begitu suka dengan eksekusi Slania, tetap menyisakan tanya dalam imajinasiku.
Cerpen Pring, kebanyakan berkisah tentang cinta dan kasih tak sampai. Barangkali sebagian besar diangkat dari kisah pribadinya mencari cinta yang sesungguhnya. Ah, andai saja aku tak mengenal sebagian kecil darinya, tentu takkan bisa berkata ini. Pring memang lembut memainkan kata-kata di cerita cintanya. Membacanya seolah sedang berbicara langsung walau hanya lewat telepon seluler.
Aku penyuka kisah romantis, apalagi yang berujung tragis. Bicara selera, aku menyukai racikan kata di kumpulan cerpen ini. Kisah Sungging dalam Sebatang Pohon di Loftus Road dan Kisah Pring dalam Mi Zuerido membekas di hatiku.
Secara keseluruhan, dua puluh cerita di dalam buku ini cukup memuaskan. Walau tak habis satu hari aku membacanya, ia tetap layak dilahap hingga lembar terakhir. Hanya saja, bagiku, Sungging dan Pring sepatutnya membuat yang lebih dari ini. Mengingat beberapa tulisan sebelum ini justru lebih tertanam di benak.
Manis, Legit dan Membuai. Tiga kata inilah ini yang mungkin dapat mewakili penilaian saya terhadap buku kumcer ini. Dengan sampul yang feminin yang cantik cukup membuat saya jatuh hati untuk segera mebacanya. Pada cerpen pertama Simbiosa, saya sudah mulai dibuat terlena dengan dialog-dialognya yang penuh rayuan manis namun legit karena begitu jenaka nan membuai pikiran dan perasaaan. Ah mungkin saya yang terlalu sentimental seperti salah satu tokohnya di cerpen Sebatang Pohon di Taman Elfwood.
Dari tiga cerpen pertama yang saya baca, saya salut atas keunikan Sunging Raga dan Pringabdi Abdi dalam kreativitasnya mengolah alur cerita yang sebenarnya sederhana saja namun dapat ia sajikan secara berbeda dari kebanyakan cerpen dengan sentuhan surealis yang manis nan berfantasi.
Selain itu, hal unik lainnya adalah bahwa Sungging raga dan Pringabdi Abdi membuat semua elemen dalam cerpennya ikut mendapat peran penting dimata pembaca. Bila kebanyakan cerpen drama atau romansa hanya membawa pembaca fokus pada tokoh utama saja, Pringabdi justru ikut memberi kehidupan pada elemen-elemen lain (hewan peliaharaan, bangku kayu, anjing, sungai, yang biasanya terlihat tidak penting malah jadi penting dan terkadang malah ikut jadi tokoh utama namun tidak mengurangi pentingnya tokoh utama dan ceritanya sendiri sehingga semua elemen dalam cerita terasa seimbang. Dalam cerpennya juga, saya merasa bahwa si narrator seolah ikut hidup dan malah menjadi lebih dekat dengan pembaca. VZ
Kumpulan cerpen ini terbagi dua, bagian pertama berjudul Simbiosa yaitu karangan Sungging Raga, dan bagian kedua berjudul Alina yaitu kumpulan cerpen karangan Pringadi Abdi Surya.
Perpaduan cerpen-cerpen di dalamnya selalu bisa membuat saya terenyuh, terutama deskripsi milik Pringadi yang selalu mengingatkan saya pada kata-kata "dua jalan menuju surga".
Buku ini pun bagi saya ada dua jalan menuju "kenikmatan kata"
Saya sering makan sesuatu yang tidak begitu enak dulu, lalu menutupnya dengan makanan yang paling enak. Dan saya pun akhirnya puas ‘melahap’ buku ini karena menggunakan konsep itu.
Masing-masing penulis punya karakter yang berbeda. Cerpen Mas Sungging sarat surealis dan penuh ketegangan. sedangkan cerpen Mas Pring tampak realis. Saya agak kaget saat berpindah dari cerpen Mas Sungging ke Mas Pring.
Saya akhirnya menyerah membaca kumcer ini. Cukup untuk satu alasan bahwa cerpen Senja di Taman Ewood itu tidak hanya terinspirasi oleh cerpennya SGA, tapi nyontek ide. :)