Adakah ungkapan lain di dunia ini yang bertentangan dengan ungkapan “orang baik” dan “orang jahat”? Apakah orang-orang dapat digolongkan sebagai “orang baik” atau “orang jahat”? Selama hidup di dunia ini, kita juga mempunyai “musuh”, bahkan ada yang membenci kita tanpa alasan, tetapi tentu saja akan ada orang yang menyukai kita tanpa alasan. Terkadang, di hidup ini, tidak semua hubungan antar manusia berjalan sesuai dengan yang diinginkan.
Kita juga pernah menjadi orang yang jahat kepada seseorang, bukan? Namun, meskipun kita menjadi jahat kepada orang yang jahat kepada kita, di sisi lain kita menjadi orang baik kepada orang yang baik kepada kita.
Orang-orang yang hidup dalam keputusasaan membutuhkan “jembatan dan jalan”. Melalui “Tidak Ada Manusia Jahat di Dunia Ini”, Won Jaehoon ingin menulis sesuatu dari telapak tangannya sendiri dan ke telapak tangan orang. Inilah yang menjadi alasan tulisan-tulisan di buku ini dan menjadikan karya ini sebagai “novel yang ditulis di telapak tangan”.
Buku ini berisi tulisan-tulisan pendek dan sederhana yang diisi dengan hati yang sungguh-sungguh yang belum sempat ditulis dengan panjang. Penulis ingin menulis sesuatu dari telapak tangannya dan ke telapak tangan orang lain. Penulis juga ingin melihat dunia dengan cara-cara ini: kebaikan dan kerendahan hati di tangan kekerasan, kesalehan dan kemurnian di tangan penganiayaan, cinta dan perdamaian di tangan bom nuklir, dll.
Penulis lebih menginginkan “jembatan dan jalan” daripada “tembok dan pagar”. Itulah cara hidup Penulis , menanggung fenomena sosial yang menyedihkan dan menyedihkan yang sedang populer saat ini: kerakusan, tawa, dan kekerasan.
Buku ini berisi 43 cerita pendek tentang beragam hal, dilihat dari beragam sudut pandang. Terdiri dari 3 bagian utama: Tikus dan Mainan Wind-up, Rumah Pendengar Permohonan, dan Luka Kucing. Awalnya ku kira buku ini berisi kumpulan esai non fiksi, ternyata berisi berbagai cerpen dengan beragam genre. Mulai dari slice of life, romansa hingga fantasi, semuanya dikisahkan dengan sangat menawan! Terjemahannya juga begitu mengalir.
Aku benar-benar dibuat terkesan dengan kisah-kisah dalam buku ini! Sebenarnya kisah yang begitu dekat dengan kita tapi jarang terpikirkan. Begitu disuguhkan di depan mata justru membuat tertegun, menjadi bahan renungan. Tentang harapan, permohonan, cinta, kasih sayang, pengkhianatan, keserakahan, relasi gender, interaksi sosial, kemiskinan, dan banyak hal lainnya. Hal-hal kecil (sederhana) yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dimaknai dengan begitu dalam. Aku kagum dengan cara penulis mengamati, merasakan, memikirkan, hingga menuliskannya dengan begitu indah dalam buku ini🤍
🐈🐈🐈 Cerpen favoritku di bagian Tikus dan Mainan Wind-up adalah 'Tidak Ada Manusia Jahat di Dunia'. Ceritanya dikisahkan dari sudut pandang guk guk🐶 Penggambaran terbalik: jika manusia menjadi hewan peliharaan bagi anjing 😅 Sudut pandang yang unik kan? Tapi dari sini ada banyak sindiran untuk manusia! "Manusia diperdagangkan dengan harga yang lebih tinggi daripada monyet. Alasannya karena manusia memiliki bulu yang lebih sedikit dan terlihat lebih cantik. Selain itu, betina dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada jantan." (h.18)
Selanjutnya, di bagian Rumah Pendengar Permohonan aku juga suka dengan ide ceritanya. Ketika seseorang punya kesempatan untuk mengabulkan permohonan orang lain, tetapi dibuat ragu harus memilih permohonan yang mana. Beberapa orang seakan tak punya harapan dan ingin menyerah. Tapi di saat itu juga, datanglah kebaikan dan harapan yang membuat mereka bertahan🌼 Teruslah bertahan!
Bagian terakhir, Luka Kucing terasa lebih emosional. Tentang perang, amarah, rasa takut terdalam, kesederhanaan hidup, tolong-menolong, kekuatan harapan dan keyakinan, hingga cinta dan luka.
🐈🐈🐈 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Dalam buku ini, penulis banyak menggunakan majas yang indah. Perumpamaan yang digunakan membuat kita semakin dekat dengan setiap ceritanya. Namun itu juga menjadi sedikit kekurangannya. Karena ditulis oleh orang Korea, aku jadi kurang related dalam beberapa bagian yang menceritakan tentang perang antara Korea Selatan dan Utara. Saat menggambarkan tentang pergantian musim panas, gugur, dan dingin, aku juga agak kesulitan membayangkannya. Tapi selebihnya, buku ini sangat keren! Ada banyak pemaknaan dan pelajaran moral di dalamnya ✨
berbagai tulisan dalam buku ini bentuknya gak konsisten, kayaknya ada yang memoar pribadi ada juga yang fiksi. aku juga merasa penulis hanya menulis untuk dirinya sendiri, bukan untuk dibaca orang lain, karena banyak cerita yang "mentah" atau kabur maksud dan tujuannya.
tapi aku suka.
kalimat demi kalimat reflektif dari penulis mengajakku untuk berhenti dan merenung juga. topik-topik yang diangkat adalah hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang luput dari perhatian, perjalanan hidup, juga banyak menekankan hubungan dengan orang-orang.
yang berkesan buatku: Benih Bunga Dandelion, Bunga Morning Glory, Bunga Salju dan Kupejamkan Mata Sejenak dan Tiga Puluh Tahun Telah Berlalu.
Isi buku ini tidak bergerak dalam satu alur cerita yang utuh. Ia lebih seperti rangkaian tulisan pendek yang berbicara tentang kehidupan sehari-hari.
Yang saya tangkap, buku ini ingin mengajak pembaca untuk melihat manusia dengan sudut pandang yang lebih luas. Bahwa di balik sikap yang mungkin menyakitkan, ada cerita yang tidak kita tahu. Bahwa seseorang bisa terlihat dingin, kasar, atau menjauh, bukan karena ia ingin melukai, tapi karena ia sendiri sedang berusaha bertahan.
Sebagai bacaan, buku ini terasa ringan dan cepat selesai, tapi juga tidak selalu meninggalkan kesan yang kuat. Beberapa tulisan terasa repetitif, dengan pesan yang kurang lebih sama diulang dalam bentuk yang berbeda. Jujur bagian awal agak boring, tapi makin kebelakang tulisannya semakin menarik.
Buku ini merupakan kumpulan dari banyak cerita. Menurut saya, cerita-cerita yang ada tidaklah utuh dan masih terasa 'mentah'. Padahal ada banyak potensi yang bisa digali di setiap ceritanya. Karena merasa cerita-cerita tersebut tidaklah utuh, saya tidak memiliki keterlibatan padanya. Pembacaan ini jadi hanya sekadar membaca.
Membaca buku ini ngasih aku sudut pandang baru tentang berbagai hal, baik tentang hubungan antar manusia, cara memerlakukan harapan dan masih banyak lagi. Rasanya untuk menjadi manusia masih ada banyak hal yang harus diperhatikan.